Tampilkan postingan dengan label Hurt. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hurt. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2016

You Are My Wife

You Are My Wife

Cast      : Kim Jungyeon, Park Jimin.
Genre   : NC, Married Life
Length   : One shoot
Author   : Ms. Childish

Jungyeon POV

“Pakaian ini menyusahkanku.” Umpatku sambil berjalan menuju rumah baruku bersama seorang pria yang sudah sah menjadi suamiku sejak beberapa jam yang lalu. Usiaku memang masih muda. Bahkan terlalu muda untuk menikah. Yah, kalian pasti ingin tau kenapa menikah dengannya.

Beberapa tahun yang lalu saat usiaku masih balita, aku dijodohkan dengan putra dari sahabat ayahku. Aku mengetahui hal itu karena ayah yang menceritakannya padaku saat pertama kali ayah tau aku memiliki kekasih. Usia kami tidak berbeda jauh. Hanya berbeda 5 tahun. Dia sendiri saat ini sudah bekerja. Meneruskan perusahaan ayahnya sebagai presiden direktur. Dia sangat tampan, tinggi yaah walau tidak setinggi pria lainnya, dan… sexy. Kata yang cocok untuknya.

“Aku mau mandi dulu. Kau pasti lelah. Sebaiknya kau tidur duluan.” Ucapku sambil berjalan menuju kamar mandi. Namun beberapa detik kemudian dia menarik tanganku dan memelukku dengan sangat erat.
“Apa kau ingin melewati malam pertama kita? Mungkin kita bisa melakukanya setiap malam. Tapi malam pertama hanya terjadi sekali dalam sebuah pernikahan. Apa kau yakin akan melewati malam pertama ini denganku?” ujarnya. Ia masih memelukku dengan erat. Sungguh ini membuatku sangat risih. Aku tidak nyaman dengan perkataannya. Tapi ibu bilang aku tidak boleh menolak permintaan suamiku. Apapun yang ia minta aku harus menurutinya. Kenapa? “Yeon? Jawab aku.” Ujarnya memanggilku sambil mengusap punggungku pelan. Aku semakin risih.
“Ba-baiklah.” Jawabku terbata-bata. Sungguh aku sangat gugup. Badanku gemetar dan jantungku berdetak semakin cepat. Ini pertama kalinya bagiku.

Sebuah ciuman kini mendarat di bibirku. Bibir tebalnya menyapu bibirku. Aku dapat merasakan hisapan lembutnya terhadap bibir atasku. Ini benar-benar membuat jantungku terasa ingin lepas. Entah sejak kapan aku sudah berada dibawahnya dengan tanpa busana. Aku tidak menyadari semua yang terjadi. aku seakan terbuai dengan setiap perlakuannya. Beberapa saat kemudian aku merasakan bibirnya sudah tidak lagi menempel pada bibirku. Namun jaeak kami masih begitu dekat.
“Kau siap?” tanyanya meyakinkanku. Entah apa itu maksudnya aku tidak mengerti. Benar. Sejauh ini yang aku tau hanya sebatas ciuman. Aku tidak mengerti tentang hal ini.
“Akh!” aku menjerit saat merasakan ada sesuatu yang masuk bagian kewanitaanku. Ini benar-benar sakit. Aku merasakan ada sesuatu yang sobek di dalam sana. Entah apa itu, tapi ini benar-benar sakit. Air mataku mengalir, aku meringis kesakitan sambil memejamkan mataku kuat-kuat.
“Tahanlah Yeon. Ini hanya sesaat. Percayalah padaku kau akan menikmatinya setelah ini.” suara Jimin tidak terlalu jelas di telingaku. Aku hanya bisa menahan rasa sakit itu. Aku bahkan mencengkeram punggung suamiku untuk melampiaskan rasa sakitku. Ini sangat sakit. Suamiku mencoba meredam rasa sakitku dengan menciumku. Perlahan aku mersakan ia mulai menggerakkan pinggulnya pelan-pelan. Sakit. Sangat sakit. Namun seiring berjalannya waktu rasa sakit itu mulai berkurang dan berubah menjadi suatu kenikmatan yang mebuatku selalu menginginkannya. Hingga akhirnya kami mencapai puncak dari perminan ini. “Aku mencintaimu Yeon.” Dia mencium bibirku singkat dan menaikkan selimut untuk menutupi tubuh telanjang kami yang basah dengan keringat.
“Aku juga Jimin oppa.” Jawabku seraya memeluknya. Ini akan menjadi malam yang takkan terlupakan sepanjang hidupku.

Sinar matahari menembus kaca kamar pengantiku hingga membuatku silau. Aku menoleh kesamping kananku. Kosong. Aku mencari Jimin di sekeliling sudut tanpa menggerakkan tubuhku. “Akh!” aku memekik pelan saat aku merasakan sakit yang luar biasa di bagian bawah tubuhku. Aku bahkan lupa kalau saat ini tubuhku hanya ditutupi selimut tebal.
Ceklek
Aku dapat mendengarnya. Suara pintu terbuka dan menampakkan sosok pria tampan yang berotot dan… tampan.
“Kau sudah bangun? Aku membuatkan sarapan untukmu. Mandilah.” Aku tersenyum saat melihatnya mendekatiku. Sungguh ini seperti mimpi. Namun aku menggeleng saat ia menyuruhku mandi. Bagaimana bisa aku mandi? Berjalan pun rasanya aku tidak mampu. “Kenapa? Kau harus mandi.” Lagi-lagi aku menggeleng. Bagaimana aku mengatakannya? Aku malu. Tidak. Aku tidak boleh malu. Dia suamiku.
“Umm… itu… bekas semalam…” ujarku terputus-putus. Bagaimana aku mengatakannya?
“Oh… masih sakit kah? Baiklah. Aku akan membantumu ke kamar mandi.” Jimin menggendongku! Oh tidak! Pipiku terasa panas saat ia mulai mengangkatku dan membawaku ke toilet. “Panggil aku kalau kau sudah selesai.” Aku hanya mengangguk menurutinya.

Sudah seminggu kami menikah. Rasanya baru kemarin aku menikah. Dan sekarang sudah hari ke 7. Hari ini dia sudah kembali bekerja. Dan sepertinya waktuku dengannya akan semakin berkurang dan aku akan selalu merindukannya. “Aku berangkat dulu. Jaga dirimu baik-baik ya.” Pamitnya sambil mencium dahiku.
“Cepatlah pulang oppa. Jangan nakal.” Aku mencubit hidungnya. Sungguh menggemaskan. Aku tidak pernah berpikir akan mendapatkan jodoh sebaik dia.
“Aku tidak nakal. Ya sudah. Aku berangkat. Sampai jumpa.” Jimin pun pergi bekerja.

Hari ini adalah hari ke 30 kami menikah. Terasa begitu cepat. Siang ini aku berencana membawakannya makan siang khusus buatanku. Aku berharap dia akan menyukainya. Saat ini aku sudah berada di depan perusahaan suamiku. Aku mencoba menghubunginya sebelum aku sampai. Dia tidak mengangkat panggilanku. Berkali-kali aku menghubunginya namun tetap saja tidak dijawab. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk datang ke kantornya tanpa berpikir panjang. Sesampainya di depan ruangan Jimin aku melihat tempat sekretaris suamiku kosong. Mungkin dia sedang ada urusan di dalam. Aku mengetuk pintu kantor suamiku. Tidak ada jawaban dan tidak ada juga yang membuka pintu. Aku memutar kenop pintu itu. “Tidak dikunci. Kenapa aku mengetuknya? Aku bodoh.” Rutukku pada diriku sendiri. Aku segera masuk dan betapa kagetnya aku saat aku melihat pakaian wanita berserakan dilantai. Aku juga mendengar sesuatu. Seperti desahan seorang wanita. Dan… dia menyebut nama suamiku? Ada apa ini? Aku melangkah keluar dan membanting pintu. Ku harap Jimin akan mendengar suara pintu itu dan segera keluar. Aku meletakkan rantang yang kubawa di meja sekretaris dan segera pergi.

Aku pergi dari kantor itu. Entah mau kemana aku sekarang. Aku tidak ingin pulang. Aku tidak ingin pulang kemana pun. Tapi aku tidak bisa terus berada diluar rumah. Baiklah. Aku putuskan untuk pulang.

Sesampainya dirumah, aku segera menuju kamarku dan duduk dilantai bersandar pada tempat tidur serta memeluk lututku.
Drrrttt… Ddrrttt….
Ponselku bergetar. Aku mengambilnya dan melihat nama pemanggil. ‘suamiku’ cih. Apakah dia suamiku? Dia bahkan bercinta dengan sekretarisnya sendiri. Aku mengubah nama kontak suamiku menjadi ‘Jimin’ nama yang apa adanya. Aku meletakkan kembali ponselku dan membiarkannya bergetar. Aku menangis, tentu saja. Siapa yang tidak sakit hati jika melihat suaminya bercinta di hadapan istri sahnya? Atau selama ini aku hanya dianggap sebagai pemuas sexnya?

Jimin POV

Saat ini aku sedang menikmati tubuh sexy sekretarisku. Tapi sungguh. Tubuh istriku jauh lebih merangsangku daripada wanita ini.
Jedorr!!!
Suara pintu itu mengagetkanku. Siapa yang menggangguku saat aku sedang bercinta seperti ini? ah? Apakah pintu itu tidak terkunci sejak tadi? Bagaimana jika pegawaiku melihatku? Aku segera melepaskan kontak kami dan aku kembali berpakaian dan melemparkan pakaian sekretarisku. Aku berlari keluar dan menemukan sebuah rantang makanan. Aku segera membukanya. “Yeon? Apakah tadi itu dia? Tidak. Bagaimana bisa dia datang tanpa mengabariku?” gumamku. Aku segera mengambil ponselku dan melihat 10 panggilan tidak terjawab. Dan semuanya dari istriku. Aku mencoba menghubungi istriku. Tidak dijawab. Aku berjalan keluar dan mencari istriku. Mungkin saja ia masih diluar. Tapi tidak. Dia sudah tidak disana. Aku segera menuju perkiran dan mencarinya di rumah.
“Yeon!” teriakku sambil membuka setiap pintu ruangan di rumahku.
“Yeon!” aku membuka pintu kamarku dan disanalah dia berada. Memeluk lututnya dan memendam kepalanya diatara lututnya. Aku dapat mendengar tangisannya. “Yeon…” panggilku lembut.
“JANGAN SENTUH AKU! KAU BUKAN SUAMIKU! MULAI SEKARANG KAU BUKAN LAGI SUAMIKU!” bentaknya sambil menghempaskan tanganku yang barusan menyentuhnya.
“Yeon. Maafkan aku.”
“TIDAK! AKU TIDAK BISA MEMAAFKANMU! SELAMA INI AKU MEMANG BODOH! AKU HANYA KAU ANGGAP SEBAGAI PEMUAS SEXMU! AKU TIDAK PERNAH ADA DIHATIMU! MULAI SAAT INI KITA BUKAN LAGI SUAMI ISTRI! KITA AKAN SEGERA BERCERAI!”
“Yeon. Maafkan aku. Aku berjanji padamu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Aku hanya mencintaimu. Dan kau bukan hanya pemuas nafsuku. Kau istriku. Penghuni hatiku. Percayalah padaku.”
“JANGAN SENTUH AKU! SEKALI KAU MENYENTUHKU AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN DIRIKU HIDUP!!!” lagi-lagi dia berteriak. Aku mencoba untuk tidak terbawa dengan emosiku.
“Baiklah. Tidak ada maaf untukku. Aku menerima semuanya. Lakukanlah apapun yang kau inginkan. Ini memang salahku. Silahkan. Jika kau ingin selingkuh juga. Aku tidak akan melarangmu untuk melakukannya.” aku menunduk. Aku dapat mendengar tangisan Jungyeon yang semakin menjadi. Aku memang pria tidak berperasaan. Harusnya aku tidak melakukannya. Harusnya aku hanya melakukan hal itu dengan istriku. Aku salah. Maafkan aku Yeon.

SKIP

Sudah hampir seminggu Jungyeon tidak menyapaku. Tidak membuatkan sarapan. Tidak mencuci bajuku. Bahkan tidur pun terpisah. Aku sering melihatnya pulang tengah malam. Apa yang ia lakukan? Aku tidak bisa focus pada pekerjaanku. Sejak tadi aku hanya memikirkan Jungyeon. Memikirkan apa yang ia lakukan di luar sana. Pergi pagi dan pulang tengah malam. Haruskah aku mencari tau? Yah, mungkin itu perlu. Aku segera pergi dari kantorku. Pulang. Itu yang aku pikirkan sebelum aku memutuskan untuk pergi mencari Jungyeon.
“Sekretaris Han, hari ini aku ijin. Jika ada yang menanyaiku katakan saja aku sedang ada urusan pribadi.” Pamitku pada sekretaris baruku.
“Ne sajangnim.”

Aku baru saja sampai di depan rumah. Aku segera masuk dan aku melihat sepasang sepatu pria di depan pintu masuk. Aku mempercepat langkahku dan aku menemukan Jungyeon sedang berciuman dengan pria itu. Lancang sekali pria itu menyentuh istriku. Aku mengepalkan kedua tanganku dan segera menjauhkan pria itu dari Jungyeon. Aku memukulnya beberapa kali. “Beraninya kau mencium istriku!” aku memukulnya lagi. Emosiku benar-benar tidak bisa ku kendalikan lagi.
“Jimin?” aku dapat mendengar suara Jungyeon saat aku berhenti memukuli pria itu.
Aku melihat Jungyeon menghampiri pria itu dan membantunya berdiri.
“Bangunlah. Maafkan aku.” Ujarnya pada pria itu. “Aku akan mengobati lukamu di kamar.”
“JUNGYEON!!!” bentakku saat Jungyeon menuntun pria itu menuju ke kamarnya. Istriku mengabaikanku. Seperti inikah perasaannya saat ia melihatku berhubungan intim dengan sekretaris lamaku? Aku benar-benar bodoh.

Tak lama setelah kejadian tadi, Jungyeon dan laki-laki itu keluar dari kamar. Jungyeon mengantarnya hingga depan pintu. Aku menghampiri Jungyeon saat pria itu pergi dari rumahku. Aku menarik Jungyeon ke dalam pekukanku. “Maafkan aku.”
“LEPASKAN AKU!” bentaknya sambil menjauhkan dirinya dari pelukanku.
Aku memeluknya kembali dengan sangat erat. Aku dapat merasakan ia memberontak. Namun setiap kali ia berusaha melepaskan diri aku semakin mempererat pelukanku. “Jungyeon maafkan aku. Aku tau. Aku sudah merasakan semua rasa sakit yang kau rasakan saat itu. Sudah cukup jang dilanjutkan lagi. Sampai kapan kau akan marah padaku? sampai kapan kau akan menyakitiku? Aku sudah tidak berhubungan dengan sekretarisku. Aku bahkan memecat sekretarisku setelah kejadian itu. Maafkan aku. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu. Seperti saat kita masih belum menikah. Maafkan aku.”
“Oh begitu. Jadi jika aku tidak datang ke kantormu saat itu dan mengetahui semuanya kau masih akan terus berselingkuh dengan wanita lain? Kau brengsek Jimin. Jangan dekati aku lagi. Aku tidak ingin melihatmu lagi.” Kenapa ini begitu menyakitkan? Aku sudah meminta maaf padanya. Apakah aku harus melakukan hal yang lebih dari ini? mungkin jika aku melakukannya lagi dia akan bersikap baik padaku dan memaafkanku.
“Benarkah begitu? Apakah setelah ini kau masih tidak akan memaafkanku?” Ucapku sambil menggendongnya ke kamarku. Aku dapat melihatnya terkejut. Ia meronta tapi aku terus membawanya hingga sampai di kamarku. “Aku tidak akan pernah melepaskanmu Yeon.” Aku membaringkannya di kasurku dan menciumnya dengan kasar. Tidak butuh waktu lama. Ia pun membalas ciumanku. ‘Aku tau kau juga menginginkannya Yeon. Aku merindukanmu. Aku merindukan masakanmu dan semuanya.’

SKIP

“Huweek…” samar-samar aku mendengar suara seseorang sedang mual. Aku beranjak dari tidurku dan memakai pakaianku yang tersebar di kamarku. “Huweeek…” aku mendengarnya lagi. Ada apa dengan Jungyeon? Mungkinkah….
“Chagi…” aku memeluk Jungyeon dari belakang. “Aku sangat senang.”
“Apa maksudmu?” tanyanya. Ia sepertinya tidak megerti.
“Sepertinya kau hamil.” Jawabku sambil terus memeluknya.
“Ha-hamil? Be-benarkah itu?” Jungyeon terlihat seperti ketakutan.
“Itu hanya dugaanku. Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit saja dan memeriksakannya dengan benar.”

“Bagaimana keadaannya dokter?” tanyaku saat dokter itu selesai memeriksa istriku.
“Usia kandungannya sudah berjalan 3 minggu. Mual-mual saat awal kehamilan itu wajar. Dan jika istri anda akan meminta sesuatu tolong berikan saja.”
“Be-benarkah aku hamil?” Jungyeon menangis. Kenapa? Apakah dia bahagia? Atau dia belum siap menjadi seorang ibu?
“Iya nyonya Park. Anda harus memeriksakan perkambangan kandungan anda setiap bulan bersama Tuan Park.” Jelas dokter itu.
“Baiklah kalau begitu terima kasih dokter.” Aku berpamitan dan membawa Jungyeon pergi.
Sampai di mobil aku masih melihatnya menangis. aku memberanikan diri untuk bertanya padanya. “Kau kenapa?”
“Oppa. Aku tidak mau hamil.” Jawabnya.
“Wae? Kau belum siap menjadi ibu?” tanyaku lagi.
“Huum. Aku tidak mau menjadi gendut lalu kau mencari wanita lain. Hiks…” yaampun. Istriku benar-benar polos.

“Bagaimana bisa seperti itu? Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji. Lagi pula itu juga hasil perbuatanku sendiri. Aku berjanji padamu. Aku akan menghabiskan waktu bersamamu dan calon bayi kita. Aku mencintaimu Jungyeon.”

Sabtu, 25 April 2015

You Are Not My Destiny





Title     : You Are Not My Destiny
Cast     : Park Ji Yeon, Kim Myungsoo, Bae Suzy, Jessica, JB.
Genre  : Sad, hurt (may be)
Length : Oneshoot
Author : Ms. Childish / Nam Ohyun

Ini FF terinspirasi dari lagu-lagunya Poppy Mercury yang sad-sad. Eh kok malah di bocorin sich? Ketahuan banget klo w bego. ya udh Happy Reading ya…
Mian kalo jelek

Siapa yang tak kenal dengan yang namanya cinta? Semua pasti pernah mempunyai kisah cinta masing-masing. Sama seperti kisah cinta Jiyeon dengan Myungsoo. Mereka sudah menjalani sebuah hubungan ini sejak dua tahun lalu. Seminggu yang lalu Myungsoo pergi ke Jepang bersama orang tuanya. Dia bilang tidak akan lama disana. Malam ini terasa sangat dingin tak seperti biasanya. Hangatnya jaket yang sedang Jiyeon kenakan tak sehangat genggaman tangan Myungsoo. Jiyeon bertanya. Selalu bertanya. ‘Kapan Oppa akan kembali? Aku sangat merindukanmu.’ Kisah cinta yang mereka idamkan penuh dengan suasana suram. Seakan Myungsoo tidak akan kembali lagi kepada Jiyeon. Malam ini langit terasa sangat sunyi tanpa bintang kejora. Bayangan wajah Myungsoo seakan sedang terlukis di air laut yang biru dan berkilauan. Rasa rindu Jiyeon pada Myungsoo kembali datang.
            Tampak seorang gadis dengan balutan jaket berwarna biru sedang duduk memeluk lututnya sendiri di tepi pantai. Wajahnya tampak murung. Sesekali ia memandangi sebuah foto yang ada di genggamannya. Ia sedang mengingat kenangan indah bersama kekasihnya. -Myungsoo-. Mengingat kembali wajah tampan kekasihnya yang meninggalkannya seminggu yang lalu.
“Jiyeon-a? Kau sedang apa?” tanya Jessica. Suara lembutnya berhasil membuyarkan lamunan Jiyeon.
“Ah. Na? tidak ada. Aku hanya merindukan Myungsoo.” Jawab Jiyeon tanpa mengalihkan pandangannya dari kilauan dan keindahan air laut yang sedang berada di hadapannya.
“Kau sudah mengirim surat untuknya?”
“Pyeonji? Oh iya. Bukankah seharusnya aku mengirim surat untuk Myungsoo hari ini?” dengan semangat Jiyeon berlari menuju kamarnya dan mengambil sebuah kertas beserta pulpen biru pemberian Myungsoo. Ia menuliskan seluruh isi hatinya di kertas itu. Sesekali ia tersenyum saat menulisnya.
“Myungsoo ku harap kau segera kembali untukku.” Harap Jiyeon sambil memeluk surat untuk Myungsoo. Jiyeon menyimpan surat itu di bawah bantalnya.
∞∞∞
            Hari ini Jiyeon mengirimkan suratnya untuk Myungsoo. Ia menanyakan kabar Myungsoo dan kapan Myungsoo akan kembali. Ia sangat merindukan kekasihnya itu.
Dua hari kemudian…
            Seseorang dengan beberapa surat datang dan mengetuk pintu rumah yang ditempati Jiyeon dan Jessica. Beberapa saat kemudian Jessica membukakan pintu untuk orang itu. Ia menerima sebuah surat dengan nama pengirim ‘Kim Myungsoo’. Jessica sudah menduga kalau surat itu pasti untuk Jiyeon. Ia segera memberikan surat yang di terimanya kepada Jiyeon. Dengan senang hati Jiyeon membaca surat itu.

To     : My princess Jiyeon
From : your heart prince

        Jiyeon, aku juga merindukanmu. Kau tau, disini aku tidak bisa tenang. Aku selalu memikirkanmu. Aku akan kembali dalam dua bulan. Aku tidak bisa pulang cepat ke Korea sekarang karena appa sedang sibuk. Begitu juga dengan eomma. Jadi maaf kalau aku pulangnya lebih lama.

        Singkat saja, ya. Karena aku sedang sibuk sekarang. Saranghae Jiyeon-a.

Kim Myung Soo

“Baiklah aku akan menunggumu sampai kau datang Myung. Saranghae.” Gumam Jiyeon. Ia segera menuju ke tepi pantai dan meneriakkan nama Kim Myungsoo beberapa kali. Ia sempat mengeluarkan air mata saat berteriak. Ia tidak sabar ingin segera bertemu dengan kekasih hatinya yang sedang berada di Jepang saat ini.
∞∞∞
            Seorang pria sedang sibuk dengan sebuah dokumen yang sedari tadi dipegangnya. Sesekali ia melihat jam tangannya. Ini sudah malam. Ia segera berkemas dan pulang ke rumah.
            Sesampainya di rumah ia melihat seorang wanita berpakaian serba biru muda sedang berkutik dengan peralatan dapur. Pria itu segera menghampirinya dan memeluknya dari belakang. “Kau sedang apa chagi?”
“Kau tidak lihat? Aku sedang memasak. Itu sangat menggangguku Myungsoo oppa. Lepaskan pelukanmu atau aku akan menendangmu.” Ujar wanita bernama Suzy itu. Yah, dia adalah selingkuhan dari Kim Myungsoo. Ah bukan, lebih tepatnya dia adalah tunangan Kim Myungsoo dan mereka akan menikah bulan depan. Jiyeon? Kim Myungsoo hanya mempermainkannya saja.
“Kau berani menendangku?” goda Myungsoo.
“Tentu saja. Kenapa tidak? Kau mau aku menendangmu sekarang?”
“Ah tidak. Ya sudah aku mandi dulu.” Pamit Myungsoo sambil mengecup pipi Suzy sekilas.

∞∞∞
        Myung, kapan kau kembali? Nan neomu bogosipeosseo. Di sini aku menunggu kehadiranmu. Aku menunggumu. Aku akan selalu menunggumu.
            Sudah satu jam Jiyeon duduk di tepi pantai sambil menuliskan sebuah surat untuk Myungsoo. Hari ini cuaca sangat dingin. Namun dinginnya cuaca tak sedingin hati Jiyeon yang sedang merindukan kekasihnya yang selalu menghangatkannya setiap saat. Tak lama kemudian ia melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop bergambar love. Sejak kepergian Myungsoo ke Jepang, ia selalu duduk di tepi pantai setiap malam.  Ia membayangkan air laut sedang melukiskan bayangan wajah tampan Myungsoo.
∞∞∞
            Suzy dan Myungsoo sedang sibuk menuliskan nama di undangan pernikahan mereka. Sedangkan JB menghitung jumlah undangan yang sudah dibuat. Beberapa menit kemudian bel rumah Myungsoo berbunyi. JB segera membukakan pintu. Ia menerima sebuah surat dengan amplop bergambar love. Sudah pasti itu dari Jiyeon untuk Myungsoo.
            “Myung, ada Surat untukmu.” Ujar JB sambil menyerahkan surat itu pada Myungsoo.
“Surat dari Jiyeon lagi?” tanya Suzy pada Myungsoo.
            “JB. antarkan undangan ini pada Jiyeon di Seoul besok lusa.” Perintah Myungsoo.
            “Jiyeon? Tapi…”
            “Turuti saja perintahku JB!” bentak Myungsoo.
            “Baiklah. Aku akan memberikan surat ini pada Jiyeon.” Jawab JB pasrah.
∞∞∞
            “Myung, aku berangkat!” pamit JB pada Myungsoo. Hari ini JB akan mengirimkan undangan pernikahan Myungsoo dengan Suzy untuk Jiyeon. JB tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Jiyeon ketika ia menerima undangan pernikahan itu. Sejuta bayangan kini muncul di benak JB. Jiyeon mencoba bunuh diri karena kisah cintanya yang berakhir begitu saja, Jiyeon patah hati dan tidak mau makan sampai akhirnya ia mati, Jiyeon terlihat murung dan akhirnya menjadi gila, Jiyeon menangis sekeras-kerasnya, dan bayangan terakhir yang terlintas di pikiran JB adalah Jiyeon hanya menerima pernikahan Myungsoo dan melupakan Myungsoo begitu saja. “ah andwae!” gumam JB ketika tersadar dari bayangan-bayangan akan reaksi dari Jiyeon nanti.
            Beberapa jam kemudian JB tiba di Incheon Airport. Ia segera menghentikan taksi dan menuju ke rumah Jiyeon di dekat pantai Eurwangni. Tiba di pantai Eurwangni JB melihat seorang wanita duduk termenung di pinggiran pantai. JB menghampiri wanita itu dan menepuk bahunya dari belakang. “Jiyeon?”
“JB? Mana Myung?” tanyanya sambil melihat-lihat di sekitarku.
            “Myung? Myung masih di Jepang. Bisakah aku ke rumahmu?” tanya JB. Ia merasa bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk memberikan undangan itu. Tapi, undangan itu juga harus ia berikan pada Jiyeon agar Jiyeon tidak mengharapkan Myungsoo lagi.
            “Ada apa sebenarnya kau kemari?” tanya Jiyeon.
            “Sebenarnya aku ke sini ingin mengantarkan ini.” JB menyerahkan sebuah undangan berwarna cokelat yang di ikat dengan pita. Jiyeon pun segera membuka undangan itu dan membacanya. Namun kegiatannya terhenti ketika ia mendapatkan sebuah nama di sana. Kim Myung Soo. Air matanya tak bisa ia bendung lagi. Tubuhnya melemas. Hatinya terasa sakit bagaikan di iris dengan pisau.
            “Aku tidak pernah membayangkan akan seperti ini. Suratku di balas dengan sebuah undangan. Kenapa kau tidak bilang dari awal kalau kau memang tidak pernah mencintaiku? Aku rela kehilanganmu Myung. Aku merestuimu menikah dengan Suzy. tidak apa-apa kalau aku harus sendiri di sini tanpamu. Tanpa kabar dan tanpa dirimu. Aku merelakanmu bersamanya Myung. Jika itu yang terbaik untukmu. Semoga kau bahagia bersamanya.” Jiyeon menggenggam erat undangan pernikahan itu. Air matanya membasahi undangan yang digenggamnya. Ia menangis. Air matanya mengalir sangat deras. Bukan menangis karena ia tidak bisa melupakan Myungsoo. Tapi ia menangis karena ia merasa telah dipermainkan oleh Myungsoo.
            “Jiyeon?! Jiyeon sadarlah! Jiyeon?!” panggil JB sambil merangkul Jiyeon yang mulai tak sadarkan diri.
            “Jiyeon? Kau kenapa?!” teriak Jessica dari pintu. “JB tolong bawa dia ke kamar.” Perintah Jessica.
            Beberapa menit kemudian Jiyeon mulai tersadar. Jiyeon menatap seorang pria yang ada di dekatnya. JB. Yah, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dengannya. Tiba-tiba Jiyeon memeluk pria itu dan menangis dalam pelukannya. Pria itu membalas pelukan Jiyeon dan mencoba menenangkan Jiyeon. “JB” ujar Jiyeon di sela-sela tangisnya.
            “menangislah Ji. Menangislah kapanpun kau mau. Aku siap menjadi pendengar yang baik untukmu.”
            “Gomawoyo JB-a…” Ujar Jiyeon lagi. Pelukannya semakin erat.
∞∞∞
            Pagi yang cerah. Namun tak secerah hati Jiyeon yang masih terluka karena cintanya berakhir begitu saja. Beribu cara ia lakukan untuk melupakan Myungsoo yang akan menikah minggu depan dengan wanita pilihannya. Seiring berjalannya waktu Jiyeon juga semakin dekat dengan JB. Ia merasa tenang dan lupa pada Myungsoo setiap kali ia bersama pria bernama JB itu. Begitu pula dengan JB. Ia semakin menyukai Jiyeon. Tidakkah Myungsoo akan menyesal telah meninggalkan wanita baik seperti Jiyeon?
            “Jiyeon apa kau sudah siap?” tanya JB dari luar kamar Jiyeon.
            “Ne! sebentar lagi aku selesai.” Ujar Jiyeon sambil merapikan pakaiannya. Kemudian ia meraih tas berwarna biru muda yang terletak di tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya. Hari ini Jiyeon akan pergi ke pernikahan Myungsoo bersama JB. Ia tidak yakin akan berhasil melakukan ini. Tapi Jiyeon berusaha untuk melupakan kenangannya bersama Myungsoo sepenuhnya.
            Kedua mempelai telah berjalan diatas altar pernikahan. Mereka menjadi ppusat perhatian para undangan. Termasuk Jiyeon. Ketika mempelai pria mencium kening wanitanya air mata Jiyeon tiba-tiba mengalir. JB yang menyadari hal itu segera menutup mata Jiyeon dengan tangannya agar Jiyeon tidak bertambah sedih.
            Ketika acara selesai JB dan Jiyeon pergi ke arah pasangan Myungsoo dan Suzy. Jiyeon memberikan restu kepada mereka. Jiyeon tampak tersenyum bahagia di depan kedua orang yang ada di hadapannya. “Semoga kalian bahagia.” Satu kalimat yang keluar dari bibir Jiyeon. Kemudian ia berlalu pergi bersama JB.
            “Gomawo JB-a. Gomawo untuk hari ini.”
            “Gwaenchanha. Kau tak perlu berterima kasih padaku. Aku melakukan ini karena aku peduli padamu. Saranghae Jiyeon-a.” ujar JB tanpa sadar.
            “Ne? apa katamu tadi?” Kata Jiyeon memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
            “ah ani. Dwaesseoyo.”
            Setelah beberapa menit dalam perjalanan akhirnya mereka sampai juga di rumah Jiyeon. “Gomawoyo JB-a.”
            “Kau sudah mengatakan hal itu lebih dari tiga kali hari ini Jiyeon-a. masuklah. Jessica pasti sudah menunggumu. See you.”
            “Ne. hati-hati di jalan JB.” Jiyeon melambaikan tanyannya dan memasuki rumahnya.
            “Kau sudah datang? Sudah makan malam?” tanya Jessica.
            “Eo. Aku sudah makan barusan. Kamu?” tanya Jiyeon balik.
            “Aku juga sudah. Tidurlah ini sudah malam. Jaljayo.”
            “Eo. Jaljayo.” Balas Jiyeon tersenyum.
∞∞∞
            Tak terasa tiga bulan telah berlalu. Entah kenapa Myungsoo merasa aneh dengan setiap perlakuan Suzy. ia tak seromantis dulu ketika masih bertunangan. Apakah karena status mereka berubah? Entahlah apa yang ia rasakan benar atau tidak. Setiap hari Suzy pergi keluar rumah dan selalu saja pulang malam. Hal itu semakin membuat Myungsoo curiga.
            Ketika Myungsoo sedang mengadakan makan malam bersama karyawannya ia melihat Suzy bersama dengan seorang pria. Suzy menggandeng tangan pria itu sangat erat. Sesekali ia tersenyum ke arah pria itu.
            “Datang dari mana saja kau? Jam segini baru pulang?” tanya Myungsoo santai. Ia berusaha mengendalikan emosinya. Dan menunggu jawaban dari Suzy.
            “Dari mana lagi? Aku dari rumah chin-guku.” Jawab Suzy santai.
            “Jawab dengan jujur Zy!” teriak Myungsoo. Amarahnya sudah tidak bisa dikendalikan lagi.
            “Wae? Kau cemburu? Bukankah kau dulu juga begitu? Kau bermesraan dengan Jiyeon di Korea sedangkan aku kau tinggal sendirian di sini?”
            “Cukup! Itu dulu Zy! Sekarang aku sudah tidak lagi berhubungan dengannya!” teriak Myungsoo lagi. Kali ini ia benar-benar emosi. “Baiklah katakan apa maumu Zy?”
            “akhirnya pertanyaan yang aku tunggu kau katakan juga. Aku ingin kita bercerai.”
            “m.. mwo? Cerai? Andwae. Aku tidak ingin bercerai denganmu Zy. Kumohon. Putuskan dia dan kita akan hidup bahagia disini.”
            “Tidak Myung. Aku tidak mau mengakhiri hubunganku dengannya. Mulai malam ini, aku tidak akan tinggal lagi di sini bersamamu. Bye.” Jawabnya ketus. Myungsoo hanya menatap kepergian Suzy dengan tatapan kosong. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Harukah ia kembali pada Jiyeon? Tapi itu tidak mungkin baginya. Jiyeon pasti sudah benci padanya. Ia baru menyadari bahwa ditinnggal oleh orang yang sangat ia cintai itu sakit. Sangat sakit. “Jiyeon-a mianhae.” Myungsoo menyesal telah meninggalkan Jiyeon yang sangat mencintai dirinya.
∞∞∞
Hari ini Jiyeon sedang tidak ada kegiatan. Ia merasa bosan di dalam rumah seharian. Ia berdiri ditengah teriknya matahari dengan tangan yang direntangkan. Menikmati kehindahan pantai Eurwangni. Merasakan hembusan angin dan suara ombak yang sangat indah terdengar baginya. Tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. “Kau sedang apa?” tanya pria itu. JB. Yah, dia JB. JB yang selalu membuat Jiyeon merasa tenang sejak hubungannya dengan Myungsoo berakhir. JB yang semakin hari semakin tampan menurut Jiyeon. Jiyeon masih merasakan angin yang seolah sedang menari.
            “Tidakkah kau melihatku? Aku sedang menikmati angin pantai di sini dan suara ombak yang selalu terdengar indah di telingaku.” Jelas Jiyeon singkat.
           “Jiyeon-a. ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.” Kata JB. Tiba-tiba wajahnya berubah sangat serius.
            “Malhaebwa.”
            JB meraih sesuatu dalam saku celananya. Sebuah benda berwarna merah berbentuk love. Sedetik kemudian JB berlutut di hadapan Jiyeon dan membuka benda tersebut secara perlahan. “Narang gyeoreonnae jullaeo?”
            “JB-a…” ujar Jiyeon lirih. Matanya berkaca-kaca. Ia terharu. Sedetik kemudian ia mengangguk menerima lamaran JB. JB meraih cincin yang ada di dalam benda tadi dan memasangkannya di jari manis Jiyeon.
            “Gomawo Jiyeon-a.” ucab JB sambil memeluk Jiyeon erat-erat. Jiyeon merasa bahagia. Ini pertama kalinya ia dilamar oleh pria yang serius dengannya. Tanpa ada proses seperti pacaran.
∞∞∞
Tok… tok… tok…
            Terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah Jiyeon. “Nuguseyo?” tanya Jessica dari dalam. Ia segera membukakan pintu. Jessica kaget ketika mendapati seorang pria tinggi nan tampan berdiri dihadapannya. “Myungsoo?” ujarnya tak percaya. Ternyata ia masih berani datang kemari. Apa lagi yang ia inginkan? Apa ia ingin menyakiti Jiyeon lagi? Beberapa pertanyaan terlintas di pikiran Jessica. “Ada apa kau kesini? Kau mau menyakiti Jiyeon lagi? Bukankah kau sudah menikah? Pergilah. Jiyeon tidak ingin bertemu denganmu.” Brak!!! Jessica membanting pintu itu. Spontan Myungsoo kaget.
            “Sica! Buka pintunya! Biarkan aku masuk! Aku ingin menjelaskan semuanya pada Jiyeon!” teriak Myungsoo dari luar sambil mengetuk pintu berulang kali. Namun kegiatannya terhenti ketika ia mendengar seorang wanita yang bertanya padanya.
            “Mian ahjussi. Kenapa anda berteriak di rumah kami?” tanya Jiyeon dari belakang. Perlahan pria di depannya membalikkan tubuhnya. Seketika Jiyeon kaget melihat Myungsoo berada dihadapannya.
           “Jiyeon-a. Mianhaeyo.” Ujarnya tiba-tiba sambil memeluk Jiyeon. Namun Jiyeon menolak pelukan Myungsoo. Ia sadar bahwa sebentar lagi ia akan menikah dengan JB. Sahabat Myungsoo. “Wae? Bukankah kau bilang kau akan menungguku? Kau mau kan kembali padaku?” tanya Myungsoo.
            “Maaf Myung. Aku tidak bisa. Aku sudah mempunyai tunangan.” Jelas Jiyeon singkat. Myungsoo melihat cincin di jari manis Jiyeon dan JB tak percaya. “relakan aku Myung. Aku lebih memilih JB dari pada kamu. Tapi ku mohon jangan kau benci aku dan JB. Aku bukannya ingin membalas sakit hatiku padamu. Tapi karena dia adalah orang yang selalu ada saat aku sedih, saat aku sakit hati, saat aku sedang kesepian tanpamu. Aku ingin bahagia. Dan kebahagiaanku adalah JB. Bukan kau lagi. Yah, dia adalah sabatmu yang sekarang menjadi tunanganku dan dia melamarku seminggu yang lalu. Bahkan kami akan melaksanakan pernikahan kami satu bulan kedepan. Jadi tolong tinggalkan aku Myung. Lupakan aku.” Jelas Jiyeon panjang lebar. Air matanya mengalir begitu saja. JB hanya memandanginya dari belakang. JB merasa tidak enak pada sahabatnya. Tapi ia bisa mengerti bagaimana keadaan Jiyeon saat ini.
∞∞∞
            “Jiyeon dengarkan aku dulu. Bukankah dulu kau bilang akan menugguku dan selalu menungguku? Paksa Myungsoo sambil menarik Jiyeon ke tepi pantai.
            “Myungsoo-ssi. Tolong jangan ungkit-ungkit masa lalu kita. Percuma. Bukankah dulu kau sendiri yang meminta perpisahan ini terjadi? Kenapa kau datang padaku disaat aku sudah melupakanmu? Kau bilang bahwa Suzy selingkuh. Dan kau bahkan ingin aku kembali padamu. Terlambat Myung. Sudah terlambat kau mengatakannya sekarang. Aku sudah punya tunangan. Jadi tolong jangan ganggu kehidupanku lagi Myung. Enyahlah dari kehidupanku sekarang. Biarkan aku pergi melupakan dukaku yang dulu. Biarkan aku berlari mengejar masa depanku bersama JB. Sudah cukup aku merasakan luka dan sakit hati selama ini. Pergilah Myung. Aku bukanlah kebahagiaanmu. Suzy. hanya dia yang bisa membuatmu bahagia. Bukan aku.”
            “Baiklah kalau itu maumu Jiyeon. Mian aku sudah mengganggumu. Semoga kau bahagia bersama JB.” Ujar Myungsoo sebelum akhirnya ia pergi.
            “Pergilah dan jangan kembali padaku!” teriak Jiyeon kesal.
∞∞∞
            “JB. Aku gugup. Aku takut.” Gumam Jiyeon. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan JB. Tangannya gemetar. Tampak sekali kalau ia sedang gugup. Sesekali JB tersenyum melihat tingkah laku Jiyeon yang seperti ini.
            “Mian. Pendamping mempelai wanitanya sedang berhalangan jadi dia tidak bisa datang.” Ujar seorang wanita berumur dua puluhan sambil mendekati Jiyeon dan JB.
            “Mwo?! Geuraesseo, eotteokhae?” tanya Jiyeon panik.
            “Kalau kalian tidak keberatan, bolehkah aku yang menjadi pendamping mempelai wanitanya?” sambung Myungsoo tiba-tiba.
            “Mwo?”
            “ide yang bagus Myung. Boleh. Tentu saja.” Jawab JB.
            “Geundae JB-a…”
            “Chagi-a, jebal… ne?”
            “geuraeh…” jawab Jiyeon pasrah.

            Seorang wanita tengah berjalan diatas altar penikahan yang digandeng oleh mantan namja chingunya. “Jika saja aku tidak menikah dengan Suzy pasti di tempat JB berdiri itu aku. Aku menyesali semuanya. Tapi terlambat. Kau sudah dimiliki oleh sahabatku sendiri.”
            “Lupakan saja kejadian it Myung. Aku yakin kau akan mendapatkan wanita yang lebih baik dariku dan Suzy.” ujarnya singkat. “Ah, aku terlalu gugup.” Lanjutnya.
            Akhirnya mempelai wanita sampai di hadapan mempelai pria. Myungsoo menyerahkan tangan Jiyeon pada JB. “Jagalah wanita cantik ini JB. Jangan biarkan dia sakit hati seperti dulu. Jangan tinggalkan dia seperti aku meninggalkannya dulu. Semoga kalian bahagia.” Myungsoo memberi sebuah pesan pada JB. Dan akhirnya Myungsoo meninggalkan mereka.
∞∞∞
            Cinta tak selalu identik dengan kebahagiaan. Adakalanya cinta itu menyakitkan. Adakalanya cinta menjadi sebuah hukuman dan sebuah siksaan bagi yang mengalaminya. Tapi percayalah bahwa cinta yang abadi itu ada. Melupakan bukanlah satu-satunya jalan untuk menghindari sakitnya putus cinta. Tapi terkadang merelakan adalah jalan yang terbaik. So, if you fall in love. Cintailah orang itu sewajarnya.






Mian kalo jelek FF nya. cz aku baru belajar buat FF.