Tampilkan postingan dengan label Gyuri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gyuri. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 April 2016

Because I Born To Be Yours Part 6


Title             : Because I Born To Be Yours Part 6
Main Cast    : MyungYeon Couple
Other Cast   :
-          Park Hyojoon as Jiyeon appa
-          Han Jimin as Jiyeon eomma
-          Kim Sunggyu (Infinite) as Myungsoo appa
-          Song Jihyo as Myungsoo eomma
-          Nam Woohyun (Infinite) as Gyuri appa (Jiyeon appa)
-          Jung Eunji (Apink) as Gyuri eomma (Jiyeon eomma)
-          Nam Gyuri as Jiyeon’s friend and Jiyeon-i dongsaeng
-          Lee Joon (MBlaq) as Myungsoo’s asisten
-          JB / Im Jae Bum (GOT7) as Jiyeon’s friend
-          Henry Lau (Super Junior M) as Jiyeon’s friend
Genre          : Married Life, School Life, and other
Rate             : 17+
Length         : Part
Author         : Nam Ohyun

Kandungan Jiyeon sudah berusia 8 bulan. Satu bulan lagi dia akan melahirkan. Hari ini Jiyeon akan memeriksakan kandungannya ke rumah sakit. Ia mengajak Myungsoo, namun Myungsoo sedang sibuk. Jiyeon terus memaksa agar Myungsoo mau mengantarnya.
“Apakah pekerjaan itu lebih penting dariku dan calon anakku? Atau kau sudah tidak sayang lagi padaku dan anakku?”
“Mwo? Anakmu? Yak!! Itu anakku juga. Aku yang membuatnya. Kalau bukan karena aku kau tidak akan hamil.” Mendengar itu, mata Jiyeon menjadi berkaca-kaca dan akhirnya ia pergi meninggalkan ruangan Myungsoo sambil meneteskan air matanya. “Ya!! Chagi… Maksudku tidak seperti itu. Ya! Ya! Ya!” panggil Myungsoo sambil berteriak. “Lee Joon-a, tolong kau hentikan Jiyeon sekarang. Katakan aku akan mengantarnya.” Ujar Myungsoo melalui sambungan teleponnya. Ia berjalan tergesa-gesa menyusul Jiyeon. Myungsoo sedikit berlari sesampainya di parkiran. Ia melihat Jiyeon yang sedang menangis di dalam mobil. Myungsoo membuka pintu mobil dan mengambil alih kursi kemudi. “Chagi mianhae…” ujar Myungsoo sambil menggenggam tangan Jiyeon. Namun dengan segera Jiyeon menyingkirkan tangannya dari genggaman Myungsoo. “Chagi… aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Jangan marah ne…” ujar Myungsoo. Jiyeon mengalihkan pandangannya menghadap ke luar jendela.
∞∞∞
Mereka telah sampai di depan sebuah rumah sakit. Jiyeon masih marah dengan Myungsoo. Namun perlahan, saat Jiyeon mulai melangkah masuk ia tiba-tiba memeluk lengan Myungsoo. Entah ia hanya ingin terlihat seperti pasangan romantic atau memang itu keinginannya sendiri.
Kini nama Jiyeon telah di panggil. Jiyeon dan Myungsoo melangkah memasuki ruangan dokter yang memang dokter tersebut dulunya adalah teman kuliah Myungsoo. Selang beberapa menit kemudian Myungsoo dan Jiyeon akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit. “Kau mau pulang, atau pergi kerumah orang tuamu?” Tanya Myungsoo santai sambil melihat kearah Jiyeon sekilas.
“Kemana saja asal aku tidak kesepian disana.” Jawab Jiyeon.
“Baiklah, aku akan mengantarmu ke rumah orang tuamu. Disana ada Gyuri yang mau menemanimu.”
∞∞∞
Night
Jiyeon dan Myungsoo kini tengah tertidur. Tiba-tiba saja Jiyeon terbangun dan pergi ke dapur. Ia melangkah mendekati kulkas. Ia mencari sesuatu disana, namun sesuatu yang dicarinya tidak ada disana, dan tidak akan ada disana. Ia kemudian kembali ke kamarnya dan membangunkan Myungsoo. “Oppa… aku ingin Shushi…” ujar Jiyeon. Myungsoo hanya mengeluarkan sebuah lenguhan pelan, tanda bahwa ia baru tersadar dari tidurnya. “Oppa belikan aku shushi…” rengek Jiyeon lagi.
“Ini masih tengah malam chagi… besok saja yah…” Myungsoo mengusap pelan rambut Jiyeon.
“Tapi aku maunya sekarang.”
“Besok aku belikan kamu shushi yang banyak.”
“Ya sudah lah. Aku akan mencarinya sendiri.” Jiyeon berjalan mendekati lemari pakaiannya dan mengambil mantel cokelat. Myungsoo yang melihat itu segera bangun dan menahan tangan Jiyeon agar tidak pergi.
“Chagi, ini masih tengah malam. Besok aku akan membelikanmu shushi.”
“Lepaskan aku oppa. Kau memang tidak pernah sayang padaku dan anakku. Atau kau menikahiku kembali hanya karena kau kasihan padaku? kau hanya tidak ingin anak ini terlahir tanpa ayah. Dan kau-”
“Chagi!” bentak Myungsoo menghentikan ucapan Jiyeon. “Aku mencintaimu. Tulus. Aku menikahimu kembali karena aku masih mencintaimu.” Lanjut Myungsoo lembut. Ia menatap mata Jiyeon. “Aku akan membelikanmu shushi sekarang. Tunggulah hingga aku kembali.” Ujar Myungsoo. Ia mengambil mantel hitamnya dan menyambar kunci mobilnya.
∞∞∞
“Dimana ada orang menjual shushi? Lagi pula ini tengah malam. Ah iya. Tadi kan eomma bilang ia sedang membuat shushi. Sebaiknya aku menghubungi eomma agar aku tidak perlu mencari jauh-jauh.” Gumam Myungsoo sambil melajukan mobilnya menuju kediaman appanya.
“Eomma!!!” teriak Myungsoo dari luar pintu. Ia berteriak beberapa kali hingga akhirnya pintu itu terbuka.
“Tuan Myungsoo? Ada apa tengah malam begini datang kesini?” Tanya seseorang disana.
“Apakah shushi yang eomma buat tadi masih ada? Jiyeon sedang menginginkan shushi.” ucap Myungsoo.
“Ada. Sebentar saya ambilkan dulu.” Wanita itu berjalan menuju ke arah dapur dan mengambil semua shushi yang dibuat nyonyanya tadi. “Ini tuan. Semoga nyonya Jiyeon menukainya.” Ujar wanita itu sambil memberikan rantang berisi shushi. Myungsoo segera berpamitan dan kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, Myungsoo melihat Jiyeon sedang duduk memeluk lututnya.”Oppa? kenapa lama sekali?” tanyanya. Tampak sekali bahwa yeoja itu tengah khawatir.
“Kau kenapa hm? Aku membawakanmu shushi yang kau minta.” Jawab Myungsoo sambil mengangkat rantang yang dibawanya dari rumah orang tuanya. Myungsoo berjalan mendekati Jiyeon di kasurnya dan meletakkan rantang itu di nakas. Jiyeon segera memeluk Myungsoo saat Myungsoo sudah berada dekat dengannya. Jiyeon menangis dalam pelukan lembut suaminya itu. Myungsoo mengusap rambut dan penuh kasih sayang. “Kau kenapa hm? Kenapa menangis?” Tanya Myungsoo.
“Aku ingin berada di sampingmu oppa. Jangan tinggalkan aku lagi. Aku takut sendirian disini.”
“Kau tidak sendirian. Kan masih ada Lee Joon dan ahjumma.”
“Tapi aku ingin bersamamu.”
“Baiklah. Aku tidak akan pergi lagi. Sekarang kau tidur. Ini masih tengah malam.” Myungsoo membaringkan Jiyeon kemudian menaikkan selimutnya hingga menutupi dada Jiyeon.
∞∞∞
^6 Years Later^

“Daddy!” panggil kedua anak kembar sambil berlari menuju orang tuanya.
“Uuh… jagoan daddy. Bagaimana hari ini?” Tanya Myungsoo sambil menggendong anak laki-lakinya yang bernama Kim Taehyung itu.
“Tadi temanku memukul Taehee. Tapi aku melindunginya daddy.” Jawab anak itu dengan suara imutnya.
“Daddy tidak menanyaiku? Daddy tidak sayang padaku?” Tanya anak perempuan Myungsoo. Namanya Kim Taehee. Saudara kembar Taehyung. Myungsoo segera merendahkan dirinya dan menggendong Taehee di sebelah kirinya. “Princess daddy sepertinya sedang cemburu dengan kakaknya sendiri. Bagaimana sekolahmu hari ini?” Tanya Myungsoo pada Taehee.
“Aku tadi bernyanyi bersama V oppa di depan kelas. Ibu guru memberiku ini.” ujar Taehee sambil menunjukkan sebuah jepit rambut yang sangat indah pemberian gurunya.
“Anak-anak daddy mau pulang atau makan dulu?”
“Kami ingin pulang. Kami merindukan mommy.” Jawab kedua anak manis itu bersamaan.
“Baiklah, ayo kita pulang.” Myungsoo pergi menuju mobilnya dan membawa putra putrinya pulang.

“Mommy!” seru Taehee dan Taehyung bersamaan saat tiba di rumah.
“Waah anak-anak mommy sudah pulang? Kalian sudah makan?” Tanya Jiyeon sambil mengusap kedua ujung kepala anak-anaknya. Kedua anak itu menggeleng. “Kami ingin makan masakan mommy.” Jawab keduanya bersamaan. Anak kembar yang menggemaskan, imut, lucu, tampan dan cantik. “Baiklah kalau begitu. Kalian ganti baju dulu ya. Mommy akan menyiapkan makan siang untuk kalian.” Jiyeon tersenyum sambil menatap kepergian anak-anaknya yang sedang menuju ke kamarnya.
“Istri yang hebat. Terima kasih.” Ujar Myungsoo sambil mencium pipi istrinya.
“Aku akan menyiapkan makan siang untuk kalian.”

∞∞∞
             Malam telah tiba. Jiyeon sedang menemani Taehee dan Taehyung tidur. Myungsoo memasuki kamar putra putrinya untuk memastikan kalau Jiyeon tidak tidur bersama mereka. Myungsoo selalu saja cemburu jika Jiyeon tidur bersama putra putrinya. Jiyeon mengisyaratkan pada suaminya untuk tidak bersuara. Beberapa detik kemudian ia turun dari tempat tidur Taehee dan Taehyung. Saat Myungsoo dan Jiyeon tiba di luar, Myungsoo segera menggendong Jiyeon dan membawanya ke kamarnya.
“Terima kasih sudah memberikan aku putra dan putri yang cantik, tampan, imut dan lucu.” Ujar Myungsoo sambil membaringkan Jiyeon di tempat tidurnya.
“Sama-sama suamiku.” Jawab Jiyeon.
“Kau ingin membuatkanku dua anak kembar lagi?” Tanya Myungsoo. Sedetik kemudian ia mencium bibir Jiyeon dan menyentuh istrinya lebih dalam.

-END-

Because I Born To Be Yours Part 5


Title       : Because I Born To Be Yours Part 5
Main Cast    : MyungYeon Couple
Other Cast   :
-          Park Hyojoon as Jiyeon appa
-          Han Jimin as Jiyeon eomma
-          Kim Sunggyu (Infinite) as Myungsoo appa
-          Song Jihyo as Myungsoo eomma
-          Nam Woohyun (Infinite) as Gyuri appa (Jiyeon appa)
-          Jung Eunji (Apink) as Gyuri eomma (Jiyeon eomma)
-          Nam Gyuri as Jiyeon’s friend and Jiyeon-i dongsaeng
-          Lee Joon (MBlaq) as Myungsoo’s asisten
-          JB / Im Jae Bum (GOT7) as Jiyeon’s friend
-          Henry Lau (Super Junior M) as Jiyeon’s friend
Genre          : Married Life, School Life, and other
Rate            : 17+
Length         : Part
Author         : Nam Ohyun

             Jiyeon kini tengah berjalan di trotoar jalan dengan beberapa barang yang dibawanya dari mini market. Ia berencana untuk pergi kerumah orang tua angkatnya. Orang tua yang telah membesarkannya. Jiyeon memasuki sebuah gang sempit yang sangat sepi. Tiba-tiba seseorang membungkam mulutnya dengan sapu tangan yang sudah di beri obat bius.
             Jiyeon mulai tersadar setelah beberapa jam pingsan karena obat bius. Ia merasakan sakit di bagian kepalanya namun tangannya tak mampu memegangi kepalanya yang sakit. Tangan dan kaki Jiyeon sedang diikat di sebuah kursi yang Jiyeon duduki sekarang.

^Nam Family’s House^
             Seorang wanita paruh baya kini sedang mondar mandir di ruang tamu. Ada perasaan khawatir yang menghampirinya. Bagaimana tidak? Buah hatinya yang pernah menghilang belu juga kembali. Ponselnya pun tidak aktif. “Yeobo… kau tenang dulu. Aku sudah melapor ke polisi. Aku yakin polisi akan segera menemukan Jiyeon.” Ujar Woohyun menenangkan. Semua orang tengah berkumpul di rumah itu.
             Ddrrtt… ddrrtt… ddrrtt…
             Ponsel Myungsoo bergetar beberapa kali. Dengan segera, Myungsoo menjawab panggilan dari nomor tak dikenal itu. “Yeoboseyo?” sapa Myungsoo.
             “Oppa, apakah kalian sedang menghawatirkan si cantik Jiyeon? Dia sekarang sedang bersamaku.” Ujar seseorang dari seberang.
             “Ya! Dimana kau menyembunyikan Jiyeon?!”
             “Kau mau Jiyeon selamat? Datang saja ke tempat yang aku kirim. Dan ingatlah, jangan membawa polisi atau teman. Karena aku tidak akan segan-segan untuk membunuhnya jika kau melanggar itu.”
“tuut… tuutt…” orang itu mengakhiri panggilannya.
“Y-ya!!” Myungsoo dengan kesal menutup ponselnya.
             Beberapa saat kemudian, Myungsoo mendapat sebuah pesan. Disana Myungsoo melihat Jiyeon yang sedang diikat di kursi dan tidak sadarkan diri. Ia membaca terusan pesan itu dan segera meraih kunci mobil yang ia letakkan di atas meja.
             “Eomeonim. Aku akan membawa Jiyeon kembali.” Ujar Myungsoo.
             “Tolong bawa Jiyeon kembali dengan selamat Myungsoo.” Pinta Woohyun lirih.
             “Aku ikut.” Ujar Gyuri.
             “Kau jangan ikut. Ini berbahaya. Aku sudah memanggil polisi untuk mengikutiku secara diam-diam. Orang itu mengancamku. Kalau aku tidak datang sendiri, dia akan membunuh Jiyeon.” Ujar Myungsoo. Dengan segera ia pergi keluar menuju alamat yang dikirimkan orang asing yang menculik Jiyeon.
             Di belakang mobil Myungsoo ada beberapa mobil yang mengikuti Myungsoo. Yah, itu mobil polisi. Tak lama, akhirnya Myungsoo tiba disebuah tempat yang terlihat seperti sebuah gudang. Ia meraih ponselnya dan menghubungi orang yang mengirimkan pesan pada Myungsoo tadi. Beberapa saat kemudian dua orang pria datang dan membawa Myungsoo masuk ke dalam gedung tersebut. Myungsoo melihat Jiyeon yang terkulai lemas.
             “Jiyeon!!” teriak Myungsoo sambil melangkah mendekati Jiyeon. Namun langkahnya terhenti saat seorang wanita memanggil namanya dan memeluknya dari belakang. “Ya!! Lepaskan aku Bae Suzy! Aku tidak sudi bersentuhan denganmu!!!” teriak Myungsoo sambil menghempaskan tubuh Suzy hingga pelukannya terlepas.
             “Kenapa hm? Jangan bilang kau mencintai Jiyeon? Bukankah kau menikahi Jiyeon karena hutang ayah angkatnya?!” bentak Suzy.
             “Eo. Aku mencintainya. Dan aku sama sekali tidak menduga bahwa perceraianku dengannya, terjadi karena ulahmu!!!”
             “Oh begitu?! Baiklah. Jika itu maumu.” Suzy berjalan mendekati Jiyeon dan mengeluarkan pisau yang berada di sakunya. Suzy mendekatkan pisau itu di leher Jiyeon.
             “Aaa!!!” Jiyeon berteriak ketakutan. Tiba-tiba tangannya gemetar.
             Myungsoo yang melihat itu dengan segera berjalan mendekati Jiyeon dan Suzy. “Jangan lakukan itu Suzy!” perintah Myungsoo.
             “Wae?! Aku ingin kau menjadi milikku!!! Hanya milikku!!! Aku tidak ingin anak ini menjadi penghalang cinta kita!!!” teriak Suzy. Myungsoo terus melangkah mendekati Jiyeon. “Jangan mendekat!!! Selangkah lagi kau bergerak mendekatiku, aku tidak akan segan-segan membunuh mantan istri tercintamu!!!” ancam Suzy.
             “Oppa!! Tinggalkan aku!! Menikahlah dengan Suzy!! Dia jauh lebih pantas untukmu dari pada aku!!” teriak Jiyeon. Tiba-tiba saja, polisi masuk ke dalam gedung itu dan menangkap Suzy sebelum ia menggoreskan pisaunya di leher Jiyeon.
             “Apa-apaan ini? oppa!! Ini pasti ulahmu!!! Oppa aku tidak mau di penjara lagi! Lepaskan aku!” teriak Suzy. Namun polisi membawa Suzy keluar. Myungsoo segera mendekati Jiyeon yang kini tengah menangis. Myungsoo melepaskan ikatan di kaki dan tangan Jiyeon. Ia kemudian memeluk Jiyeon dengan sangat erat.
             “Mianhae Jiyeon-i. Gara-gara aku kau harus mengalami hal seperti ini.” ujar Myungsoo sambil mempererat pelukannya pada Jiyeon. Jiyeon merasakan sakit yang sangat hebat di bagian kepalanya hingga ia kini tidak sadarkan diri. Myungsoo segera menggendong Jiyeon dan membawanya pulang.
∞∞∞
             “Jiyeon baik-baik saja. Ia hanya shock. Ini aku beri resep obatnya agar Jiyeon cepat sembuh.” Ujar Dongwoo uisa sambil memberikan secarik ketas berisi resep obat.
             “Ne. gomawoyo.” Ujar Woohyun.
             “Kalau begitu aku permisi dulu.” Pamit Dongwoo.
             Myungsoo mengantar Dongwoo keluar dan sesaat kemudian ia kembali lagi ke kamar Jiyeon. “Kau istirahatlah dulu. Kau juga pasti lelah.” Ujar Woohyun pada keponakannya sebelum ia keluar meninggalkan kamar Jiyeon.
             “Ne abeonim.” Jawab Myungsoo. ‘Mianhae Park Jiyeon. Ini semua terjadi karena aku.
Two Month Later
^Incheon Airport^
Jiyeon baru saja lulus dari sekolah Kirin. Jiyeon tidak pernah keluar sendirian semenjak kejadian yang nyaris merenggut nyawanya itu. Saat ini ia sedang bersiap untuk pergi ke Paris. Ia membawa sebuah koper besar dan foto kenangannya bersama Myungsoo yang ia jadikan Wallpaper ponselnya. Jiyeon memasuki pesawat yang akan membawanya terbang ke Paris. Ia mendapat tempat di barisan ke sepuluh didekat jendela. Ia menyamankan duduknya. Beberapa detik kemudian seorang pria berpakaian hitam duduk tepat disampingnya. Jiyeon menoleh kearah pria itu. “Kim Myungsoo?” Ia mengerutkan dahinya. Memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Pria itu menoleh. “Myungsoo oppa.”
“hm?” hanya gumaman kecil yang keluar dari bibir sexy Myungsoo. Jiyeon terus menatap Myungsoo tidak percaya. Jiyeon berpikiran bahwa Myungsoo mengikutinya. Yah, memang benar begitu adanya. Ini adalah rencana para besan. “kenapa kau terus menatapku?” tanya Myungsoo polos.
“Hm? Aniyo. Siapa bilang aku menatapmu. Aku hanya…” kalimat Jiyeon menggantung. Ia memikirkan jawaban yang akan ia lontarkan untuk Myungsoo.
“Hanya apa?”
“Aniyo. Lupakan.” Ujar Jiyeon.
Sudah satu jam Jiyeon berada di pesawat. Ia mulai mengantuk. Perlahan ia memejamkan matanya. Myungsoo menyandarkan kepala Jiyeon dibahunya. Jiyeon yang setengah sadar tiba-tiba terbangun saat merasakan tangan Myungsoo yang memegang kepalanya. “Tidurlah dibahuku.” Ucap Myungsoo singkat. Jiyeon tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menurut. Karena sebenarnya ia sangat menyukainya.
Para penumpang sudah bersiap untuk turun dari pesawat. Jiyeon yang tengah tertidur akhirnya tersadar dan mengerjapkan matanya beberapa kali. “Apakah kita sudah sampai?” tanya Jiyeon.
“Eo. Ghaja.” Ujar Myungsoo sambil mengulurkan tangannya pada Jiyeon.
“Tapi tujuanmu denganku berbeda.”
“Siapa bilang? Aku disini karena appamu menyuruhku menjagamu.” Ujar Myungsoo. Tak butuh waktu lama, Jiyeon meraih tangan Myungsoo dan berjalan di belakang Myungsoo.
“Lalu bagaimana dengan Restoranmu dan perusahaan appamu?”
“Ada appa yang mengurusnya. Lagi pula, aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di Paris.”
∞∞∞
^Paris^
Myungsoo dan Jiyeon kini telah tiba di depan sebuah bangunan yang cukup besar. “tempat apa ini? Apakah ini rumahmu?” tanya Jiyeon. tak heran Jika Myungsoo memiliki sebuah rumah disini, karena appanya sendiri adalah pemilik perusahaan terbesar di Korea. Dan Myungsoo sendiri adalah pemilik restaurant yang juga terkenal dalam beberapa bulan. Apa lagi mengingat dia adalah anak tunggal. Jadi, wajar saja jika Myungsoo memiliki banyak rumah di berbagai Negara.
“Eo. Gayo.” Myungsoo membawa Jiyeon memasuki rumah yang berada dihadapannya. Lagi-lagi Jiyeon mengikuti Myungsoo dari belakang sambil membawa kopernya. “Eumm… Jiyeon-i. mian disini hanya ada satu kamar, jadi kau tidur di kamar dan aku akan tidur disofa.”
“Mwo? Ani. Tak bisakah kita tidur dikamar yang sama dan tempat tidur yang sama? Lagi pula… aku tidak takut lagi dengan apa yang akan terjadi nanti.” Ujar Jiyeon. Myungsoo tertegun mendengar perkataan Jiyeon. ‘Kenapa dia berbeda dengan sebelumnya? Kenapa dia ingin tidur di kamar yang sama denganku?’ tanya batin Myungsoo. Myungsoo melangkah mendekati Jiyeon dan memeluknya.
“Mianhaeyo Jiyeon. Harusnya aku melindungimu.” Jiyeon membalas pelukan Myungsoo.
“Aniyo oppa. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Kita bercerai tanpa persetujuan darimu.”
“Uljimayo. Jebal uljima.” Ujar Myungsoo sambil menghapus jejak air mata Jiyeon. Jiyeon mengangkat wajahnya menatap Myungsoo. “Saranghaeyo Park Jiyeon. ani. Maksudku Nam Jiyeon.” Jiyeon menatap Myungsoo semakin dalam. “Sebenarnya, aku mencintamu sejak kau baru lahir. Aku meminta pada appa untuk menikahkanmu denganku saat aku sudah dewasa. Dan sekarang, akhirnya kita sudah menikah. Walaupun tidak lama tapi setidaknya impianku telah tercapai.” Ujar Myungsoo. “Tidak peduli apakah kau mencintaiku atau tidak, aku hanya ingin bersamamu. Aku ingin selalu berada disampingmu.”
“Myungsoo oppa. Sashileun… nado saranghaeyo. Oppa, bisakah kita memulainya dari awal? Setelah aku pikir kembali, ternyata aku salah besar sudah bercerai denganmu. Semua terasa aneh tanpamu. Walau hanya beberapa bulan, aku bisa menerima semuanya. Tapi, karena Suzy eonni. Aku harus meninggalkanmu.” Jiyeon kembali memeluk Myungsoo.
“Kau istirahatlah lebih dulu. Aku akan segera kembali.” Ujar Myungsoo sebelum ia pergi meninggalkanku. Dia juga sempat membelai pipiku. Membuat semburat merah muncul begitu saja dipipiku. Setelah Myungsoo pergi, aku segera membereskan koperku. Memasukkan semua pakaian yang aku bawa kedalam lemari Myungsoo yang sangat besar.
Kegiatan ini membuatku sangat lelah hingga rasanya badanku terasa remuk. Aku membaringkan tubuhku diatas kasur satu-satunya dirumah ini dan memejamkan mataku.
∞∞∞
Entah berapa jam aku tertidur. Ku lihat jam yang tertera diponselku. 08.00 AM. Mwo? Ini sudah pagi? Saat aku berusaha untuk bangun, kurasakan seseorang menahanku. Ku lihat kesamping kananku. Hah?! Mwoya? Kim Myungsoo? Pikiranku mulai melayang entah kemana. Kulihat dia tertidur dengan keadaan topless sementara tangannya memeluk perutku. Reflex aku menyingkirkan tangannya dari perutku dan tanpa sengaja aku membuatnya terbangun.
“Eunghh…” aku mendengar lenguhannya. Suara yang sering terdengar ditelingaku dulu saat kami masih bersama. Tapi, ada apa ini? Apa aku masih mencintainya? Ya! Pabo! Kau sendiri yang bilang bahwa kau masih mencintai Myungsoo kemaren. “Kau sudah bangun? Jam berapa ini?” tanya Myungsoo polos.
“Hm? Jam delapan pagi.” Jawabku santai.
“Kau tidak kuliah? Ini hari pertamamu.” tanyanya lagi.
Kuliah? Eomeo. Iya. Ini kan hari pertamaku masuk kuliah. Aku segera pergi menuju kamar mandi dan merias wajahku dengan terburu-buru. Ku lihat Myungsoo juga sudah selesai merapikan dirinya. ‘kapan dia mandi? Apa di rumah ini ada kamar mandi yang lain? Atau dia tidak mandi?’ pikirku. Tapi itu tidak penting. Yang terpenting sekarang, aku cepat sampai di kampus.
∞∞∞
Author POV
^Paris^
Tidak terasa seminggu telah berlalu begitu saja. Myungsoo akan kembali ke Korea dua hari lagi.  Bagaimanapun dia harus mengurus restaurantnya. Dia tidak bisa menyuruh appanya mengurus pekerjaannya seterusnya. Myungsoo tidak ingin melewatkan hari yang tersisa berlalu begitu saja. Ia masih belum membawa Jiyeon mengelilingi Paris bersamanya.
“Oppa kau sudah bangun?”tanya Jiyeon yang sedang saik dengan panic-panci didapurnya.
“Um. Sedang apa kau disana?” tanya Myungsoo balik.
“Aku sedang belajar memasak agar aku tidak ketergantungan padamu. Walau bagaimanapun, kau tidak akan bersamaku terus menerus disini kan? Kau harus kembali ke Korea mengurus semua pekerjaanmu.” Ujar Jiyeon penuh senyum. “Nah, sudah selesai. Oppa, karena kau satu-satunya kerabatku disini, aku ingin kau mencobanya.” Ucapnya sambil mendudukkan Myungsoo di kursi meja makan. Jiyeon meletakkan hasil masakannya didepan Myungsoo. “Cobalah.” Ucap Jiyeon. Myungsoo menjamah salah satu masakan Jiyeon. “Eottae?” tanya Jiyeon sambil menopang dagunya.
“Wah… ternyata kau pintar memasak juga. Sebaiknya kau juga mencobanya. Aaa” Myungsoo mencoba untuk menyuapi Jiyeon. sesaat kemudian Jiyeon menyambar makanan yang disodorkan untuk Jiyeon.
“Wah… masitta.” Seru Jiyeon.
“Jiyeon, kau tidak ada kuliah kan hari ini?” tanya Myungsoo.
“Ne. Waeyo?”
“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan.”
“Jeongmalyo? Wah… haruskan aku memakai pakaian yang cantik?” tanya Jiyeon.
“Tidak.” Jawab Myungsoo datar.
“Waeyo?”
“Karena kau memang sudah cantik.” Jiyeon tersipu malu mendengar ucapan Myungsoo. “Ya sudah, kau bersihkan dirimu cepat. Aku akan menunggumu di mobil.” Ujar Myungsoo. Jiyeon segera pergi menuju kamarnya. Tak lama, Jiyeon sudah selesai membersihkan dirinya dan sedikit berias.
“Kita mau kemana oppa?” tanya Jiyeon saat tiba dihadapan Myungsoo. Myungsoo diam. Ia memperhatikan Jiyeon dari bawah hingga ke atas dan pandangannya kini terhenti tepat dibibir Jiyeon. “Waeyo apakah ada yang aneh denganku?” tanya Jiyeon sambil memeriksa pakaiannya.
“Ah aniyo.” Jawab Myungsoo. “Gayo.” Myungsoo kemudian membukakan pintu untuk Jiyeon.
Sudah hampir satu jam Myungsoo membawa Jiyeon tapi mereka masih belum juga tiba di tempat tujuan. “Oppa, kita mau kemana? Apakah perjalanannya masih jauh?” tanya Jiyeon. Myungsoo hanya diam. Tidak ada niatan baginya untuk menjawab pertanyaan Jiyeon. Beberapa menit kemudian Jiyeon sampai disuatu tempat yang sangat ramai. Lampu-lampu jalan yang berwarna-warni membuatnya menganga. Jiyeon menatap tempat itu tidak percaya. “Menara Eiffle” gumaman kecil sukses meluncur dari bibir mungil Jiyeon. “Oppa, aku tidak sedang bermimpi kan?” Tanya Jiyeon sambil menepuk pipinya beberapa kali. “Oppa cubit aku.” Perintah Jiyeon. Myungsoo dengan polosnya mencubit pipi Jiyeon dengan keras. “Aww!!!” pekik Jiyeon.
“Kau tidak sedang bermimpi Park Jiyeon. Ini nyata. Kaja.” Ujar Myungsoo seraya pergi keluar dari mobil dan berjalan beriringan dengan Jiyeon. Myungsoo duduk di salah satu sudut padang rumput yang membentang luas didekat menara eiffle. Jiyeon meraih ponselnya dan mengaktifkan kameranya. Ia ingin mengabadikan moment itu.
“Oppa bisakah kau bantu aku mengambil gambar?” ujar Jiyeon sambil menyerahkan ponselnya pada Myungsoo. Dengan mudahnya Myungsoo meraih ponsel Jiyeon dan mulai mengambil gambar. Jiyeon dengan percaya dirinya bergaya ala model professional. Memang bisa dibilang Jiyeon adalah wanita Multi talent. Hampir semua dia bisa kecuali memasak. Dia masih baru belajar memasak. Walaupun begitu, masakan yang ia buat tidak kalah enaknya dengan masakan chef yang ada di restaurant besar.
Setelah Jiyeon mulai bosan foto sendiri, Jiyeon meraih kembali ponselnya yang dipegang Myungsoo. Jiyeon mengajak Myungsoo untuk foto berdua. “Oppa, ayo foto berdua.” Ujar Jiyeon antusias. Seketika Myungsoo menjadi sangat gugup. Myungsoo jadi bingung harus menggunakan gaya apa. Jepret… belum selesai Myungsoo bergaya Jiyeon sudah mengambil gambar lebih dulu. Jiyeon kecewa dengan hasil gambarnya. “Oppa kenapa kau tidak bergaya?” cetus Jiyeon. Myungsoo semakin gugup. “Hana… Dul…” Myungsoo mulai menatap bibir Jiyeon. Entah kenapa ia menjadi sangat merindukan bibir Jiyeon yang selalu manis saat ia menciumnya. “Set…” cup~ Bersamaan dengan hitungan terakhir Jiyeon, Myungsoo menarik wajah Jiyeon hingga menghadap ke arahnya dan mengecup bibir mungil Jiyeon. Jepret… Momen itu pun akhirnya secara tak sengaja diabadikan oleh Jiyeon. Jiyeon membelalakkan matanya karena ia masih kaget. Namun semakin lama, Jiyeon mulai menutup matanya perlahan. Ia mulai menikmati setiap sentuhan Myungsoo dibibirnya. Sebuah perasaan yang lama menghilang kini kembali lagi. Tiba-tiba jantung Jiyeon berdegup sangat kencang. Begitu pula dengan Myungsoo. Keduanya tidak menyadari bahwa semua orang kini tengah memperhatikan mereka. Memang benar hal seperti ini sudah biasa dilakukan oleh orang-orang barat. Namun, ini berbeda dengan yang mereka lakukan.
“Ehem…” suara dehaman seorang pria sukses membuat MyungYeon melepaskan tautan bibirnya. Jiyeon mengelap bibirnya yang basah karena ulah Myungsoo barusan. Ia menunduk malu. “MyungYeon?” subuah kata yang masih terasa asing ditelinga Myungsoo dan Jiyeon sukses meluncur dari bibir pria yang kini tengah berada didekat mereka.
“JB? Kenapa kau disini?” Tanya Jiyeon mulai mengangkat wajahnya.
“Dasar. Kalian masih sama saja seperti dulu. Jika kalian ingin melakukan hal itu, lakukanlah di kamar hotel kalian.” Ujar JB sambil membuka tutup kaleng minuman yang saat ini dipegangnya.
“Ya… mau apa kau kesini hah? Mengganggu saja.” Cetus Myungsoo sambil menarik tangan Jiyeon pergi. Alhasil, Jiyeon hanya mengikuti Myungsoo tanpa banyak Tanya.
Hari sudah semakin malam. Myungsoo terlihat sangat lelah. “Ayo pulang.” Ujar Myungsoo. Jiyeon menatap wajah Myungsoo. “Kenapa menatapku seperti itu?” Tanya Myungsoo saat menyadari Jiyeon sedang menatapnya.
“Kau terlihat lelah oppa. Sebaiknya kita pulang besok saja. Aku takut akan terjadi apa-apa pada kita nanti.” Ujar Jiyeon. Myungsoo membalas tatapan Jiyeon dan sesaat kemudian mengiyakan permintaan Jiyeon.
“Baiklah. Kita cari hotel dekat sini. Jha.” Myungsoo menggandeng tangan Jiyeon dan membawanya berjalan menuju hotel. Tak jauh dari tempat mereka, Myungsoo melihat sebuah hotel. Mereka pun memasuki hotel itu. Saat itu, hanya tersisa satu kamar hotel saja. Deri ratusan bahkan ribuan kamar hotel yang ada, hanya satu kamar yang kosong disana. Dengan terpaksa, Myungsoo harus menerimanya. “Jiyeon, kau mau? Atau kita mencari di tempat lain saja?” Tanya Myungsoo.
“Gwaenchanha. Lagi pula aku takut sendirian. Ambil saja kuncinya.” Ujar Jiyeon. Yah, Jiyeon hanya menerima keadaan. Entah kenapa beberapa hari ini, dia ingin selalu bersama Myungsoo. Ex-husband nya.
Sesampainya di kamar, Jiyeon menatap interior kamar tersebut. “Aku mandi dulu. Kau bisa tidur duluan.” Ujar Myungsoo sambil berjalan menuju kamar mandi. Jiyeon bercermin sebentar. Memperhatikan bentuk tubuhnya. “Sepertinya ada yang aneh denganku belakangan ini.” gumamnya. Sesaat kemudian dia teringat dengan tanggal hari ini. Ia merogoh ponsel yang ada di saku celananya dan melihat tanggal yang terpampang disana. Jiyeon semakin merasa aneh. “Ini sudah dua bulan dan aku… belum datang bulan.” Dahi Jiyeon mulai mengkerut. “Ah, lupakan. Mungkin aku hanya telat saja. Hal ini biasa terjadi padaku.” Jiyeon kemudian berbaring di tempat tidur dan menaikkan selimut hingga menutupi lehernya. Jiyeon pun akhirnya terlelap dalam tidurnya. Di balik sana, Myungsoo sedang mendengarkan suara Jiyeon. Jelas. Sangat jelas. ‘Kau hamil?’ Tanya batin Myungsoo. Ia kemudian dengan cepat membersihkan tubuhnya dan keluar dengan tenang dari kamar mandi. Ia menatap seseorang yang kini tengah tertidur di hadapannya. Myungsoo duduk tepat di samping Jiyeon.
“Mianhae Jiyeon. Aku tau apa yang terjadi. Kau sedang mengandung anakku kan? Aku janji akan menikahimu sebelum perutmu membesar.” Ujar Myungsoo sambil mengusap pelan dahi Jiyeon. Myungsoo mencium sekilas dahi Jiyeon dan berbaring sambil memeluk Jiyeon dari samping.
∞∞∞
Pagi itu, saat Jiyeon terbangun ia tiba-tiba merasa mual. Ia segera berlari ke wastafle. Myungsoo yang tengah tertidur, tiba-tiba terbangun saat mendengar suara Jiyeon di kamar mandi. Myungsoo dengan segera menyusul Jiyeon. “Jiyeon gwaenchanha?” Tanya Myungsoo.
“Molla. Perutku tiba-tiba terasa tidak enak. Mungkin aku hanya masuk angin saja.” Jawab Jiyeon ‘Kau memang baik-baik saja. Tapi kau sedang hamil. Anakku. Mianhae.’ Ujar Myungsoo dalam hati.
“Ah iya. Bukankah hari ini kau harus bersiap untuk kembali ke Korea?” Tanya Jiyeon setelah membersihkan wajahnya. Ia kemudian merapikan penampilannya.
“Ani. Aku tidak jadi kembali ke Korea. Aku ingin disini bersamamu. Karena kau… sedang mengandung anakku.” Suara Myungsoo tiba-tiba mengecil.
“Apa maksudmu oppa? Aku tidak hamil. Aku hanya masuk angin saja.” Ujar Jiyeon mengelak.
“Kau tidak percaya kalau kau sedang hamil? Baiklah, kau test saja sendiri dengan alat ini.” perintah Myungsoo sambil memberikan sebuah alat kecil pada Jiyeon. Alat test kehamilan.
Jiyeon menuruti perintah Myungsoo dan hasilnya. Dua garis merah. Itu artinya Jiyeon benar-benar sedang hamil. Sesaat kemudian pertahanan Jiyeon runtuh. Tubuhnya terasa lemas. Perasaannya bercampur antara bahagia dan sedih.
Seseorang kini tengah menunggu Jiyeon di depan kamar mandi. “Oppa…” ujar Jiyeon lirih. Air matanya kini tak terbendung lagi. Jiyeon kemudian menyerahkan benda kecil yang dipeganganya dan memeluk Myungsoo erat. Myungsoo memperhatikan benda itu. Dua garis merah. Myungsoo kemudian membalas pelukan Jiyeon. “Aku akan mengatakan hal ini pada appaku dan appamu. Aku akan bertanggung jawab atas kehamilanmu. Bagaimanapun, hal ini terjadi karenaku.” Myungsoo mengusap pelan rambut Jiyeon.
“Gomawo oppa…” ujar Jiyeon disela tangisnya.
“Ya sudah. Sebaiknya kita pulang agar kau bisa istirahat dengan nyaman.” Myungsoo melepas pelukannya dan pergi dari kamar hotel itu.
Selama perjalanan keduanya diam. Tak ada pembicaraan sama sekali. “Kau lapar?” Tanya Myungsoo sambil melirik ke arah Jiyeon. Jiyeon diam tak menjawab. Bahkan bahasa isyarat pun tidak digunakannya untuk menjawab pertanyaan Myungsoo. “Neo uro? Tenanglah... Lagi pula appaku dan appamu ingin kita menikah. Lagi.” Myungsoo menggenggam tangan Jiyeon.
“Tapi oppa akan kembali ke Korea nanti.” Jiyeon menatap wajah Myungsoo.
Myungsoo tersenyum remeh. “Mana mungkin aku akan meninggalkan wanita yang sedang hamil anakku sendirian disini? Kita akan kembali bersama-sama nanti. Aku sudah menyuruh Lee Joon untuk memesankan tiket pesawat untukmu.” Jawab Myungsoo. Jiyeon mengerutkan dahinya.
“Kembali? Lalu bagaimana dengan kuliahku? Aku baru masuk dan… aku tidak mungkin berhenti kuliah.”
“Kau tenang saja. Aku sudah mendaftarkanmu ke Seoul International University.” Ujar Myungsoo tenang.
“M-maksud oppa?” jiyeon mengerutkan dahinya (lagi).
“Aku mendengar gumamanmu semalam. Saat itu juga aku tahu kalau kau hamil. Dan saat kau tertidur, aku menghubungi Lee Joon untuk mendaftarkanmu di Universitas di Korea.”
“Lalu bagaimana testpack yang tadi oppa berikan padaku?” Tanya Jiyeon semakin tidak mengerti.
“Itu? Aku sengaja membawanya karena… aku ingat terakhir kali kita melakukan ‘itu’… aku tidak menggunakan pengaman.” Myungsoo menggaruk pelan tengkuknya yang tidak gatal.
“Oppa… Sebenarnya… aku tidak ingin bercerai denganmu. Tapi waktu itu-”
“Iya aku tau. Suzy memaksamu. Aku sudah tau itu.”
“Ba-bagaimana oppa tahu?”
“Jha… sudah sampai. Kaja. Kita harus bersiap.” ajak Myungsoo sambil mengacak pelan rambut Jiyeon.
∞∞∞
Jiyeon dan Myungsoo sudah sampai di bandara. Keduanya mulai melangkah menuju pesawat secara bersamaan. Jiyeon duduk tepat di sebelah Myungsoo. “Mungkin perjalanan ini akan melelahkan untukmu. Sebaiknya kau tidur saja. Nanti, aku akan membangunkanmu.” Ujar Myungsoo sambil mengusap pelan telapak tangan Jiyeon. Jiyeon hanya mengangguk sebagai jawaban ‘iya’. Dan beberapa detik kemudian, Jiyeon memejamkan matanya dan terlelap.
∞∞∞
Setelah berjam-jam berada di udara, akhirnya pesawat mendarat di Incheon Airport. Jiyeon terbangun dari tidurnya saat Myungsoo hendak membangunkannya. “oh kau sudah bangun? Kaja, kita sudah sampai.” Ujar Myungsoo sambil mengcup singkat pipi Jiyeon.
“Eeuunggh..” lenguhan halus keluar dari bibir mungil Jiyeon sambil meregangkan ototnya. “oppa, aku lapar.” Ujar Jiyeon pada Myungsoo.
“Arra. Sebentar lagi kita pergi ke restaurantku. Kau bisa makan disana.” Setelah penumpang keluar semua dan tidak berdesakan, Jiyeon dan Myungsoo keluar dari pesawat. Sesampainya di luar, Myungsoo dan Jiyeon di hampiri oleh seorang pria dan seorang wanita yang akan membantunya membawa koper masing-masing. Mereka berjalan menuju pintu keluar. Di luar sudah ada mobil yang menunggu Jiyeon dan Myungsoo. Lee Joon membukakan pintu untuk keduanya.
“Selamat atas kehamilanmu nyonya Kim.” Ujar Lee Joon.
“Mwo? Nyonya Kim? Ya… Lee Joon-a jangan panggil aku nyonya. Aku belum resmi kembali menjadi istri Tuan Kim Myungsoo. Arra?” Jiyeon dan Myungsoo memasuki mobil itu bergantian.
“Arasseo nyonya Kim. Eh maksudku nona Park.” Myungsoo terkekeh pelan mendengar obrolan asisten pribadinya dan istrinya.
“Sudahlah, ayo cepat pulang. Aku sudah sangat lapar.” Ujar Jiyeon sambil mengusap perutnya yang masih rata. Lee Joon menutup pintu mobil dan mengemudikan mobil itu.
∞∞∞
Myungsoo dan Jiyeon tengah berdiri di depan sebuah kaca sambil memandangi indahnya bulan dan bintang yang bertebaran di langit. Myungsoo memeluk perut Jiyeon dari belakang. Myungsoo menyandarkan dagunya di bahu Jiyeon sedangkan Jiyeon tengah asik memandangi langit. “Chagi.” Ujar Myungsoo membuka pembicaraan.
“Hm?” gumaman kecil menjadi sebuah sahutan untuk panggilan Myungsoo barusan.
“Kalau seandainya kau tidak hamil, apakah kau mau kembali padaku?” Tanya Myungsoo lembut.
“Kenapa kau Tanya itu?”
“Aku hanya ingin tau saja.”
“Walaupun seandainya aku tidak sedang hamil, aku tetap ingin kembali padamu. Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau akan memintaku untuk kembali padamu walau aku tidak mau?” Tanya Jiyeon kembali.
“Kau tidak perlu menanyakan hal itu. Aku akan menunggumu walaupun seandainya kau takkan penah kembali padaku. Karena kau adalah cinta pertamaku. Dan kau sendiri sudah tahu kalau aku meminta appa untuk melamarmu saat kau baru lahir.”
“Begitukah? Kalau begitu apakah aku menikah denganmu karena aku memang terlahir untuk menjadi milikmu?” Jiyeon tersenyum.
“Umm… mungkin.” Myungsoo tersenyum mendengar kalimat terakhir Jiyeon. “Chagi. Kalau anak kita sudah lahir nanti… kau ingin menamainya siapa?” Tanya Myungsoo.
“Nama? Entahlah aku masih belum memikirkan hal itu.” Jawab Jiyeon. “Bagaimana denganmu?”
“Kalau anak kita perempuan aku ingin menamainya Kim Tae Hee.” Ujar Myungsoo.
“Kim Tae Hee? Bukankah itu nama wanita tercantik di korea?”
“Ne. aku ingin anak kita jadi wanita yang canti dan juga pintar.”
“Lalu kalau laki-laki?”
“Kim Tae Hyung. Nanti nama lainnya V.”
“Tae Hee dan Tae Hyung. Nama yang bagus oppa.”
“Kau suka?”
“Ne.” Jiyeon memejamkan matanya menikmati hembusan angin malam yang masuk melalui celah-celah jendela kamarnya.
∞∞∞
Hari ini adalah hari pernikahan Jiyeon untuk yang kedua kalinya dengan Myungsoo. Teman-teman Jiyeon datang ke acara itu namun tidak dengan JB. JB sedang berada di Paris. Gyuri menghampiri Jiyeon di ruang mempelai wanita. Penampilannya sangat berbeda dengan sebelumnya. Ia terlihat sangat cantik dengan rambut panjangnya yang di urai.
“Eonni!” panggil Gyuri dari arah pintu. Ia sedikit berlari mendekati Jiyeon. “Eonni. Aku sudah dengar semuanya semalam. Eonni sangat cantik hari ini. Dan eonni tidak seperti di pernikahan pertama eonni. Waktu itu eonni menangis di sini. Tapi sekarang eonni terlihat sangat bahagia. Aku ikut bahagia eonni.” Ujar Gyuri sambil berjongkok di depan Jiyeon. “Eonni bolehkah aku foto bersamamu?” Tanya Gyuri yang langsung di jawab dengan anggukan oleh Jiyeon. “Hana… Dul… Set…” jepret! Satu foto berhasil Gyuri abadikan di ponselnya.
“Jiyeon-i…” panggil seorang wanita paruh baya dari pintu. Seketika mata Jiyeon berkaca-kaca. Ada sebuah kebahagiaan yang tak bisa di ungkapkan di dalam hati Jiyeon.
“Eomma…” wanita itu berjalan mendekati Jiyeon dan memeluknya erat. Begitupun dengan Jiyeon. Air matanya berjatuhan. “Eomma mianhae… aku sudah tidak pernah ke rumah eomma lagi selama dua bulan terakhir.” Wanita itu melepas pelukannya sesaat dan menghapus jejak air mata Jiyeon. “Appa mana?” Tanya Jiyeon.
“Appamu ada di luar. Sebentar lagi dia ke sini.” Jawab Han Jimin ibu angkat Jiyeon.
“Jiyeon. Bersiaplah sebentar lagi acara akan dimulai.” Ujar seseorang dari luar.

^Lobi^
“Park Hyojoon?” sapa Woohyun saat melihat Hyojoon sedang berjalan menuju ruang mempelai wanita. Hyojoon menoleh ke arah sumber suara.
“kau Park Hyojoon kan? Appanya Jiyeon?” Tanya Woohyun memastikan.
“ne. nu-nugu seyo?” Tanya Hyojoon bingung. Ia memang belum pernah bertemu dengan Woohyun sebelumnya. Bahkan saat ia meminta Jiyeon tinggal dikediamannya, Woohyun tidak datang karena waktu itu ia ada rapat penting.
“Saya appa kandungnya Jiyeon. Bisa kita berbicara sebentar?” pinta Woohyun ramah.
“Ah ne. silahkan.”
“Begini. Saya ingin, anda menjadi wali Jiyeon. Bagaimanapun, anda yang telah membesarkan Jiyeon selama ia terpisah dengan keluarganya.”
“Tapi kenapa? Bukankah anda appa kandungnya Jiyeon? Saya sama sekali tidak keberatan jika anda mengambil Jiyeon dari saya. Karena memang, Jiyeon bukan anak kandung saya. Anda yang seharusnya menjadi wali Jiyeon. Bukan saya.”
“Tapi anda yang sudah-”
“Tidak apa-apa. Anda yang wajib menjadi wali Jiyeon karena anda appa kandungnya.”
Begitulah obrolan antara Hyojoon dan Woohyun di depan ruang mempelai wanita.
∞∞∞
Mempelai pria telah memasuki ruangan dengan gagahnya. Wajah Myungsoo terlihat sangat bahagia. Beberapa saat kemudian, Jiyeon bersama walinya. Woohyun. Memasuki gedung pernikahan dengan bergandengan tangan. Untuk yang kedua kalinya Jiyeon dan Myungsoo melangsungkan pernikahan. Tak lama, kini Jiyeon telah berdiri tepat di hadapan Myungsoo. Kini perasaan Myungsoo sangat berbeda dengan pernikahannya yang pertama kali. Jantungnya kini mulai berdetak sangat kencang bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Di pernikahan kali ini, Myungsoo tidak merasa bersalah. Karena pernikahan ini terjadi atas dasar cinta dan buah hati yang sedang berada dalam kandungan Jiyeon.
“Myung… samcheon menitipkan Jiyeon padamu. Tolong jaga Jiyeon dan buah hati kalian dengan baik. Jangan lepaskan Jiyeon lagi jika kau benar-benar mencintainya. Arra?” ujar Woohyun seraya menyerahkan tangan Jiyeon dalam genggaman Myungsoo.
“Arasseo abeonim.” Jawab Myungsoo tegas.
“Semoga sukses.” Woohyun menepuk pundak Myungsoo sebelum ia mengambil tempat di sisi pengantin wanita.
∞∞∞
Acara pernikahan berjalan lancar sesuai rencana. Myungsoo dan Jiyeon telah resmi kembali menjadi pasangan suami istri. Myungsoo sedikit kecewa karena malam pertamanya harus tertunda sampai JIyeon melahirkan. Tapi Myungsoo juga senang karena bayi yang dikandung Jiyeon, Jiyeon mau kembali padanya.
Jiyeon baru saja keluar dari kamar mandi. Ia selesai membersihkan dirinya. Seperti biasa, Myungsoo menyuruh Jiyeon menggunakan kemeja kebesaran milik Myungsoo dan hotpants. Namun Jiyeon sendiri sama sekali tidak menolak permintaan Myungsoo yang bisa dibilang aneh itu. Myungsoo menatap Jiyeon tanpa berkedip. ‘Bahkan saat dia hamil, dia masih terlihat sama seperti dulu.’ Gumam batin Myungsoo.
“Kenapa kau menatapku seperti itu? Apakah ada yang aneh?” Tanya Jiyeon sesampai di hadapan Myungsoo. Ia melihat-lihat bagian belakang tubuhnya dan bagian depan juga. “Tidak ada yang aneh.” Gumamnya kemudian. “Ahh!!” pekik Jiyeon saat Myungsoo menariknya untuk duduk di kasur berdampingan dengan Myungsoo. Myungsoo membawa Jiyeon ke dalam pelukannya. Myungsoo melingkarkan tangan kirinya di pinggang Jiyeon sementara tangan kanannya mengusap kepala Jiyeon.
“Bogosipeo…” ucap Myungsoo.
“Nado bogosipeo oppa.” Jawab Jiyeon pelan. Myungsoo diam. “Oppa, kau tidak akan mengajakku bercinta, kan?” Jiyeon melepaskan pelukannya dan menatap Myungsoo.
“Kalau iya kenapa chagi?” jawab Myungsoo sambil menunjukkan senyum evilnya.
“Yakk!! Kau tau? Aku sedang hamil. Kau mau membunuh anakmu?” Jiyeon memukul lengan Myungsoo hingga pria itu kini meringis kesakitan.
“Aniya, aniya. Aku hanya bercanda…” ujar Myungsoo sambil memeluk Jiyeon lagi.
“Oppa, aku lelah. Aku ingin istirahat.” Lirih Jiyeon. Myungsoo pun melepaskan pelukannya dan membaringkan Jiyeon. Myungsoo menaikkan selimutnya hingga menutupi tubuh Jiyeon.
“Jaljayo chagi.” Ujar Myungsoo sambil mengusap ujung kepala Jiyeon. Jiyeon kemudian menutup matanya dan tertidur.

Yeeyy!!! Akhirnya selesai juga part 5 nya.
Next part or stop here?
Jangan lupa tinggalkan jejak.

Because I Born To Be Yours Part 4


Title             : Because I Born To Be Yours Part 4
Main Cast    : MyungYeon Couple
Other Cast   :
-          Park Hyojoon as Jiyeon appa
-          Han Jimin as Jiyeon eomma
-          Kim Sunggyu (Infinite) as Myungsoo appa
-          Song Jihyo as Myungsoo eomma
-          Nam Woohyun (Infinite) as Gyuri appa (Jiyeon appa)
-          Jung Eunji (Apink) as Gyuri eomma (Jiyeon eomma)
-          Nam Gyuri as Jiyeon’s friend and Jiyeon-i dongsaeng
-          Lee Joon (MBlaq) as Myungsoo’s asisten
-          JB / Im Jae Bum (GOT7) as Jiyeon’s friend
-          Hoya Lau (Super Junior M) as Jiyeon’s friend
Genre          : Married Life, School Life, and other
Rate            : 17+
Length         : Part
Author         : Nam Ohyun

^Myungsoo’s House^
             Acara telah selesai. MyungYeon akhirnya pulang kerumah. Tak butuh waktu lama untuk sampai kerumah. Myungsoo melihat rumahnya yang kosong tanpa penghuni. Ahjummanya harus pulang kekampung halamannya karena salah satu anggota keluarganya meninggal. Lee Joon? Dia juga ikut dengan ahjumma. Karena keadaan ahjumma tidak memungkinkan untuk bisa pergi sendiri. Dirumah itu hanya tinggal Myungsoo dan Jiyeon saja.
             “Chagi. Setelah kau lulus, kau mau kuliah dimana?” Tanya Myungsoo pada Jiyeon yang baru saja selesai membersihkan dirinya.
             “Na? Daekyung University.” Jawab Jiyeon. Namun dalam hatinya yang paling dalam sebenarnya ia berencana untuk kuliah di Amerika bersama Gyuri. “Oppa. Besok aku akan sibuk latihan untuk ujian. Jadi, mungkin aku tidak akan pulang kerumah.”
             “Mwo? Ujian macam apa itu sampai kau harus meninggalkan rumah dalam waktu yang cukup lama? Andwae. Aku akan melapor kepada appamu agar tidak diberikan ujian macam itu.” Larang Myungsoo.
             “MYUNGSOO OPPA! APAKAH KAU TIDAK INGIN MELIHATKU BAHAGIA DENGAN TEMAN-TEMANKU? APAKAH KAU HANYA INGIN AKU BERSAMAMU? AKU BOSAN. AKU BOSAN TERUS-MENERUS BERSAMAMU. AKU JUGA INGIN SEPERTI YANG LAINNYA. MENIKMATI MASA REMAJA SEPERTI MEREKA!” tes… air mata Jiyeon sukses terhatuh dari pelupuk matanya. ‘mianhae oppa.’ Batin Jiyeon.
             “Baiklah. Ini semua salahku. Mianhae Jiyeon-a.” ujar Myungsoo sambil memeluk tubuh mungil istrinya.
             “Oppa. Mungkin ini adalah jalan terbaik yang bisa aku lakukan saat ini.” Tiba-tiba ekspresi Jiyeon berubah sangat serius. “Mari kita bercerai.” Lanjut Jiyeon.
             “Andwae. Aku sudah mengatakan padamu sebelumnya kalau aku tidak akan menceraikanmu.” Jawab Myungsoo tegas.
             “Wae? Bukankah kau menikahiku karena kau melunasi hutang orang tua angkatku? Dan sepertinya perlakukanku selama ini sudah cukup untuk melunasi semuanya. Apakah masih ada yang kurang? Ah… apakah kau menginginkan keturunan dariku seperti yang eommamu katakan dulu? Itu bukan hal yang sulit. Aku bisa hamil kapan saja. Lagi pula kelulusanku hanya tinggal beberapa bulan lagi. Bahkan jika aku hamil besok aku masih tetap ingin menceraikanmu.” Tiba-tiba Myungsoo mematung mendengar semua kalimat yang Jiyeon katakan. Ia sama sekali tidak menduga Jiyeon akan melakukan hal ini padanya. Myungsoo menatap Jiyeon dalam. “Wae? Kau ingin membuat anak sekarang? Lakukan saja. Aku tidak akan pernah lagi menolak permintaanmu untuk tidur denganku.”
             ‘Jiyeon apa kau tidak bisa diam? Semua yang kau katakan membuatku tidak bisa bernapas.’ Gumam batin Myungsoo.
             “Ayo lakukan!” bentak Jiyeon lagi.
             ‘tidak. Aku tidak akan melakukannya Jiyeon. Aku takut. Aku takut kalau nanti hal ini akan membuatmu tersiksa.’ Tolak batin Myungsoo lagi.
             Jiyeon merasa kesal. Pria yang berada dihadapannya saat ini tak kunjung bergerak ataupun berbicara. Dengan cepat ia meraih tengkuk pria itu dan menciumnya. Sebenarnya ia tidak ingin melakukan ini. Tapi mungkin ini benar-benar akan menjadi ciuman terakhirnya dengan seorang pria bernama Kim Myungsoo.
             Myungsoo masih terdiam. Membiarkan gadisnya melumat bibir tipisnya. Membiarkan gadis itu memperlakukannya semaunya. Matanya masih terbuka. Kini tangan Jiyeon mulai turun, membuka satu per satu kancing baju Myungsoo tanpa melepaskan ciumannya. ‘Sejak kapan kau menjadi seperti ini Jiyeon?’ Tanya batin Myungsoo. Myungsoo membulatkan matanya saat merasakan tangan Jiyeon bergerak menuju kancing celananya. Seketika Myungsoo melepaskan ciumannya dan mendorong Jiyeon dengan keras. Membuat gadis itu terjatuh keatas kasur empuk yang biasa ia tempati dengan Jiyeon.
             “SEJAK KAPAN KAU MENJADI SEPERTI INI JIYEON?!” Myungsoo marah. Setidaknya itu bisa membuat Jiyeon tersadar atas apa yang baru saja ia lakukan. Myungsoo bahkan sampai lupa memanggilnya dengan sebutan chagi. “WAE? AKU TIDAK AKAN MELAKUKAN HAL ITU BAHKAN SAAT INI PUN AKU TIDAK INGIN MENYENTUHMU! AKU TAHU KAU SUDAH BERHENTI MEMINUM PIL ITU! KENAPA KAU MELAKUKAN INI SAAT AKU SUDAH MENYADARI BAHWA AKU SALAH SUDAH MENYENTUHMU?! AKU TIDAK AKAN MENCERAIKANMU WALAUPUN KAU SUDAH MELAKUKAN HAL INI PADAKU!” Myungsoo menatap Jiyeon kesal. Ia memasang kembali kancing bajunya yang terbuka dan pergi dari ruangan itu meninggalkan Jiyeon sendiri. Apakah Myungsoo melakukan hal yang benar kali ini? Bagaimana kalau Jiyeon marah lagi karena ia sudah membentaknya? Myungsoo tetap focus pada jalannya. Pergi menemui seseorang yang mungkin bisa meredakan amarahnya.
             Jiyeon masih terdiam ditempatnya. Tidak bergerak sedikitpun sejak Myungsoo mendorongnya hingga terjatuh keatas ranjangnya. Lagi-lagi Jiyeon menangis. “Mianhae oppa… jeongmal mianhae…” gumam Jiyeon disela-sela tangisnya. Ia mengubah posisinya, membuatnya berbaring senyaman mungkin. Jiyeon menatap bantal yang ada disebelahnya. Lama, hingga tanpa sadar kini ia tertidur.
∞∞∞
             Matahari telah menampakkan sinarnya membuat gadis yang tengah tertidur lelap terbangun seketika. Matanya sedikit membengkak akibat menangis semalam. Gadis itu menatap tempat kosong disebelahnya. Tempat suaminya tidur. Tempat itu masih sama seperti sebelumnya, bantalnya pun tidak memperlihatkan jejak kalau suaminya tidur disana. Jiyeon segera beranjak dari tempat tidurnya dan pergi menuju kamar mandi. Tak lama, gadis itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Gadis itu meraba bibirnya didepan cermin. Ciumannya semalam masih membekas dibibirnya. Apakah ciuman itu benar-benar akan menjadi ciuman terakhirnya dengan suami tercintanya? Jiyeon melanjutkan kegiatannya. Ia segera menuju kedapur setelah ia selesai berdandan. Biasanya Myungsoo menyiapkan makanan saat ahjumma tidak ada. Sekarang Jiyeon menatap meja makan yang kosong itu sambil tersenyum singkat. Tidak ada makanan yang Myungsoo buat lagi, uang saku pun ia mengambilnya sendiri diruangan Myungsoo. Tiba-tiba terlintas dipikirannya kalau Myungsoo sedang berada dirumah JB. Ia meraih ponselnya dan mencari nama JB dikontaknya. Jiyeon mencoba menghubungi JB.
             “JB-ssi. apakah Myungsoo oppa sedang bersamamu?”
             “Eo. Dia tidur disini semalam.” Dan benar saja tebakan Jiyeon. Myungsoo pergi menemui JB. Entah apa lagi yang Myungsoo bicarakan dengan pria seumuran dirinya itu.
             “Apakah dia baik-baik saja?” Tanya Jiyeon khawatir.
             “Eo. Kau tenang saja. Dia baik-baik saja. Oh iya, kau pergi ke sekolah dengan siapa hari ini?”
             “Aku sedang menunggu bus. Oh itu sudah datang. Aku tutup dulu ya teleponnya. Annyeong.” Jiyeon mengakhiri panggilannya bersamaan dengan bus yang terhenti dihadapannya.
∞∞∞
^Kirin Art High School^
             “Jiyeon, kau sudah menemukan lagu untuk ujian nanti?” Tanya JB sambil menghentikan langkahnya didepan Jiyeon.
             “Eo. Aku sudah menemukannya. Lagu Photograph atau Cool Night. Eottae?” jawab Jiyeon sambil menunjukkan senyum manisnya.
             “Ani Photograph sudah milik Gyuri dan Hoya. Cool Night juga terlalu banyak dibagianku. Bagaimana kalau Smile Boy?”
             “Ya… lagu itu tidak cocok dengan acara kita.”
             “Lalu?” Tanya JB. Keduanya mulai berpikir.
             “Love You Like You.” Ucap keduanya bersamaan.
             “Baiklah. Kita bisa menggunakan lagu itu.” JB tersenyum bahagia sambil menatap Jiyeon. Perasaannya masih sama. Walaupun ia sudah tahu Jiyeon sudah menikah ia masih tetap menginginkan Jiyeon. Dan setidaknya sekarang ia bisa bersama dengan Jiyeon.
             Ddrrtt… ddrrtt…
             Ponsel Jiyeon bergetar beberapa kali. Tanda panggilan masuk. Ia merogoh sakunya dan melihat nama yang tertera dilayar ponselnya. Tidak ada nama disana. Hanya sebuah nomor yang tidak ia kenal.
             “Yeoboseyo?” sapa Jiyeon setelah ia menekan tombol jawab pada layar ponselnya.
             “Ya! Park Jiyeon! Kapan kau akan menceraikan Kim Myungsoo? Ini sudah dua bulan dan kau masih belum juga menceraikannya?” bentak seorang gadis dari seberang. Jiyeon sangat yakin kalau itu adalah Suzy. Mantan tunangan suaminya.
             “Nugu?” Tanya JB saat menyadari tubuh Jiyeon yang tiba-tiba kaku disertai dengan wajahnya yang tampak seperti orang yang sedang ketakutan. Jiyeon hanya diam.
             “Myungsoo sekarang sedang menuju kesekolahmu dan mungkin dia sudah sampai. Sebaiknya kau cari cara agar dia mau menceraikanmu. Arasseo?” lanjut gadis itu. Klik. Gadis itu mengakhiri panggilannya.
             “JB-ssi. Bisakah kau membantuku?” Tanya Jiyeon kemudian.
             “Mwonde?” JB mengerutkan dahinya. Tiba-tiba Jiyeon menarik tangan JB dan membawanya keatap gedung sekolah. “Kenapa kau membawaku kesini?” Tanya JB heran.
             Disisi lain seorang pria dengan setelan berwarna hitam sedang berjalan menuju ruang kelas tiga. Ia sedang mencari seseorang disana. Tapi tidak ada. Ia berjalan menuju kantin, tidak ada juga. Hingga akhirnya ia bertemu dengan sepupunya yang sedang berjalan beriringan dengan Hoya. “Gyuri-a. apakah kau melihat Jiyeon?” Tanya Myungsoo santai.
             “Jiyeon? Aku tadi melihatnya bersama JB pergi keatap. Mungkin mereka sedang latihan bernyanyi.” Jawab Hoya sambil menunjukkan tangannya kearah belakang.
             “Ah… geuraeh. Gomawo.” Myungsoo pergi menyusuri jalan menuju atap sekolah.
             Back To Jiyeon. “Ayolah… aku akan menjelaskannya padamu nanti.” Ujar Jiyeon memohon.
             “Tapi kenapa kau ingin bercerai dengan ahjussi itu? Bukankah kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan jika bersamanya?” Tanya JB.
             “Jebalyo… JB-ssi…”
             “Tidak. Pokoknya aku tidak bisa menuruti permintaanmmu untuk menciummu.” Jawab JB tegas.
             Jiyeon melihat bayangan seseorang yang sedang mendekat kearahnya. Jiyeon tidak bisa terus meminta persetujuan dari JB. “Mianhae.” Ujar Jiyeon. Dengan segera Jiyeon menarik tengkuk JB dan menempelkan bibirnya dengan bibir pria itu. Jiyeon langsung memejamkan matanya dan melumat bibir JB. JB tidak bisa menolak ciuman Jiyeon dan tidak bisa membalas perlakuan Jiyeon.
             Langkah Myungsoo terhenti saat melihat pemandangan yang sedang berada tak jauh darinya saat ini. Ia melihat siswi yang sedang berciuman dengan mesranya dipojok atap tersebut. Myungsoo dapat melihat dengan jelas bahwa siswi itu adalah Jiyeon dan JB. Myungsoo tidak tahan melihat Jiyeon berciuman dengan pria selain dirinya. “Jiyeon!” bentak Myungsoo. Jiyeon seolah tidak mendengar suara Myungsoo. Ia masih menikmati ciumannya. Myungsoo yang semakin tidak tahan dengan situasi panas itu segera berlari dan menarik tubuh Jiyeon. Membuat Jiyeon dan JB terpaksa melepaskan ciuman mereka.
             “WAE OPPA?! WAE?! APAKAH AKU TIDAK BOLEH BERCIUMAN DENGAN ORANG LAIN?! AKU MUAK DENGANMU OPPA! AKU BOSAN TERUS BERSAMAMU! ARASSEO?!” JB mengerutkan dahinya mendengar kalimat Jiyeon yang dilontarkan pada Myungsoo. Sesaat kemudian, Jiyeon pergi meninggalkan JB dan Myungsoo yang masih mematung.
             “GEURAE! JIKA MENURUTMU MEMANG ITU SATU-SATUNYA PILIHAN! MARI KITA BERCERAI!” akhirnya mau tidak mau Myungsoo harus melepaskan Jiyeon. Jiyeon menghentikan langkahnya kemudian berjalan mendekati Myungsoo. “Waeyo? Kau tidak ingin bercerai denganku?” Tanya Myungsoo saat Jiyeon sudah berada didekatnya. Namun, Jiyeon tidak menjawab pertanyaan Myungsoo. Gadis itu melepas sebuah cincin yang ada dijari manisnya dan mengambalikannya pada Myungsoo. Keberatan? Of course. Karena sebenarnya ini bukan kemauan Jiyeon untuk menceraikan Myungsoo. Tapi ini adalah ide gila mantan tunangan Kim Myungsoo. Bae Suzy.
∞∞∞
^Myungsoo’s House^
Myungsoo POV
             “Kau juga akan meninggalkan rumah ini?” Tanyaku pada Jiyeon. Kulihat dia sedang memasukkan barang-barang yang ia bawa sendiri dulu. “Andwae! Aku tidak mengijinkanmu pergi dari rumah ini!” larangku sambil meraih tangan Jiyeon.
             “Oppa lepaskan aku! Kau tidak punya hak atas diriku lagi!” balas Jiyeon sambil menghempaskan tanganku. “Dan aku bukan lagi istrimu! Myungsoo-ssi.” Apa dia bilang tadi? Myungsoo-ssi? Dia memanggilku begitu? Apakah dia benar-benar akan meninggalkanku? Kulihat dia sudah selesai mengemasi barang-barangnya. Dia meletakkan ponselnya diatas meja. “Aku hanya membawa barang yang benar-benar milikku saja. Jadi kau jangan khawatir. Aku tidak membawa barangmu. Satupun.” Ujarnya kemudian. Aku tidak ingin membiarkan Jiyeon pergi dari rumah ini.
             “Tapi kita masih belum resmi bercerai! Aku belum menerima surat cerai darimu!” sahutku saat ia mulai berbalik kearah pintu.
             “Mwo? Ani. Kau bahkan sudah menandatanganinya. Kau lupa? Aku bahkan tidak perlu repot-repot meminta persetujuanmu. Kau langsung menandatanganinya begitu saja. Lihatlah. Surat cerainya sudah kau tanda tangani.” balasnya kemudian menunjukkan surat cerainya.
Saat ia mulai melangkah pergi, aku segera menarik kembali tangannya dan menempelkan bibirku tepat dibibirnya. Dia memberontak, memukulku agar aku melepaskan ciuman ini. Aku memeluknya semakin erat. Menarik tengkuknya dan memperdalam ciuman kami. Perlahan Jiyeon sudah mulai menyerah dan terbawa suasana. Aku terus melumat bibirnya yang selalu terasa manis saat aku menciumnya. Entah keberanian dari mana yang aku dapatkan kali ini. Tanganku mulai bergerak melepaskan kancing baju yang ia kenakan. Tidak ada respon dari Jiyeon. Aku terus melanjutkan pergerakanku tanpa melepaskan ciuman panas yang aku lakukan saat ini. Namun, tiba-tiba Jiyeon mendorongku dengan kasar hingga membuatku terpaksa melepaskan ciumanku.
Plakk!!!
Dia menamparku. Wae? Bukankah kemarin dia ingin melakukannya bersamaku? Kenapa dia marah?
“Kurang ajar.” Ujar Jiyeon tepat didepan wajahku. Apa dia bilang tadi? Kurang ajar? Apa salahku? Dia sendiri kemarin yang memintaku bercinta dengannya. Dengan cepat ia memasang kembali kancing bajunya dengan kasar. Namun aku kembali menahan tangannya dan mendorongnya hingga ia terjatuh ke atas kasur. Aku menindihnya dan memperdekat jarak diantara kami. “Apa yang kau lakukan oppa?” ujarnya lirih. Aku menahan tangannya diatas kepalanya. Dia terus berusaha untuk melepaskan diri. Namun, kali ini aku tidak bisa menahan nafsuku. Setan hitam kini telah menguasai diriku. Aku ingin menikmatinya untuk terakhir kalinya sebelum dia pergi. Dan juga agar aku memiliki alasan untuk membawanya kembali suatu hari nanti.
∞∞∞
Author POV
^JB’s House^
Tok tok tok…
Jiyeon mengetuk pintu rumah JB beberapa kali. Penampilannya sangat berantakan. Bajunya pun tidak serapih biasanya. Rambutnya sedikit kusut dan banyak bekas ciuman di lehernya. Tak lama, pintu itu terbuka.
“Jiyeon? Ada apa kau malam-malam datang ke sini?” Tanya Hoya. Jiyeon tak bisa menahan keseimbangannya. Kepalanya terasa sangat pusing dan akhirnya ia kehilangan kesadarannya. “Jiyeon?!” ujar Hoya panic. Ia menangkap tubuh Jiyeon sebelum Jiyeon terjatuh ke lantai.
“JB!!! JB!!! Palliwa!!” teriak Hoya memanggil JB.
“Wae?” Awalnya JB sangat santai. Namun saat melihat Jiyeon pingsan, JB segera membantu Hoya membawa Jiyeon ke kamar JB.
“Aku sudah menelepon dokter Han. Dia sebentar lagi sampai.” Ujar Hoya.
Beberapa menit kemudian seorang dokter datang dengan beberapa alat medis. “Nona Jiyeon baik-baik saja. Dia hanya kelelahan. Dan… tampaknya dia baru saja melakukan ‘sesuatu’ dan membuatnya kelelahan.” Ujar dokter. Entah, JB dan Hoya menemukan arti lain dari kata ‘sesuatu’. Tampak seperti *** (sensor).
“sebentar lagi Nona Jiyeon akan segera sadar. Dan ini obat untuk menjaga kesehatannya. Diminum tiga kali sehari setelah makan.” lanjut dokter Han sambil menyerahkan obat pada JB.
“Gomawo uisanim.” Ujar JB. Dokter Han pun pergi meninggalkan JB dan Jiyeon. Sementara Hoya mengantar dokter Han keluar. Tak lama, Hoya kembali ke kamar JB.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada Jiyeon? Kenapa Dokter berkata seperti itu tadi?” tanya Hoya.
“Dia bercerai dengan suaminya. Orang yang dulu pernah menginap disini dan bercerita tentang Jiyeon. Masih ingatkah kau dengan orang itu?” Jelas JB. Pandangannya masih focus pada Jiyeon yang masih belum sadar.
“Jadi… gadis yang dinikahi oleh pewaris perusahaan terbesar di Korea itu adalah Jiyeon?” Tanya Hoya tak percaya. JB mengangguk pelan. Sesaat kemudian, JB merasakan tangan Jiyeon bergerak. Sepertinya ia sudah sadar.
“Jiyeon, kau sudah bangun?” Tanya JB.
“JB? Akkhh!!” pekik Jiyeon sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
“Kau jangan banyak gerak dulu. Dokter bilang kau harus istirahat.” Ujar JB sambil membaringkan Jiyeon lagi.
Ponsel JB tiba-tiba bergetar. “Suamimu.” Jiyeon menatap JB lagi.
“Jangan katakan padanya kalau aku disini.” Ujar Jiyeon sebelum JB menjawab panggilan Myungsoo.
“Ne ahjussi.”
“……”
“Anio. Jiyeon tidak disini. Waeyo?”
Tuut…
Myungsoo menutup telepon lebih dulu. JB kembali menatap Jiyeon. “Ini sudah malam. Istirahatlah. Besok, kau jangan sekolah dulu. Biar aku yang membuatkan surat ijin untukmu nanti.” Ujar JB. Ia pergi meninggalkan Jiyeon.
∞∞∞
Two Days Later
^Kirin Art High School^
“Eonni!” panggil Gyuri saat ia melihat Jiyeon sedang berjalan berdampingan dengan JB. Ia berlari kecil menghampiri Jiyeon. “Neo eodiga? Myungsoo Oppa menghubungiku dan menanyakanmu. Wae geurae? Apakah kalian sedang bertengkar?” Tanya Gyuri memborong. Jiyeon hanya diam. Ia menunduk. Ia tidak ingin kerabatnya tahu bahwa ia sudah bercerai dengan Myungsoo. Tapi cepat atau lambat, semua orang pasti akan tahu bahwa mereka telah bercerai.
“Ehem. Gyuri-ssi. Sebaiknya kita tidak membicarakan ini disini. Kita cari tempat yang sepi saja.” Sambung JB. Ia merasa tidak enak melihat Jiyeon yang hanya memilih diam.
Disinilah mereka sekarang. Atap sekolah. JB mengajak Gyuri dan Jiyeon berbicara diatap. “Eonni. Jelaskan padaku. Sebenarnya ada apa dengan keluarga kalian?” Tanya Gyuri.
Dibelakang Gyuri ada sebuah papan besar. Disana tampak seorang siswi sedang duduk santai. -Sulli- Mendengar pertanyaan Gyuri, siswi itu membelalakkan matanya tidak percaya dan terus menguping.
“Mianhaeyo Gyuri-a. Aku dan Myungsoo oppa… sudah bercerai.” Jawab Jiyeon lambat.
“Mwo? Bercerai? Apa maksudnya? Apakah Jiyeon sudah pernah menikah? Dan… siapa dia bilang tadi? Myungsoo? Apakah Kim Myungsoo? Calon pewaris Woollim group sekaligus pemilik KMS restaurant itu? Wah… ini pasti akan menjadi berita yang akan menggemparkan seluruh sekolah bahkan dunia.” Gumam Sulli.
“Mwo? Bercerai? Bagaimana bisa? Jelaskan semuanya padaku. Kenapa kalian bercerai?” Tanya Gyuri. Ia merasa bersalah. Karena bagaimanapun, Jiyeon menikah dengan Myungsoo karena saran dari Gyuri.
“Sebenarnya… aku tidak ingin bercerai dengan Myungsoo oppa. Tapi…” kalimat Jiyeon menggantung. Gyuri tidak sabar ingin mendengar alasan Jiyeon menceraikan Myungsoo. “Tapi… seseorang mengancamku. Jika aku tidak segera menceraikan Myungsoo oppa, dia akan mencelakakan eomma dan appa angkatku. Dan dua hari ini, aku menginap dirumah JB. Aku berencana untuk pulang kerumahmu, tapi aku tidak bisa. Aku takut mengganggu kalian. Gyuri-a. jebal, jangan katakan pada siapapun kalau aku berada dirumah JB. Ne? jebalyo.” Jiyeon memohon pada Gyuri. JB ikut sedih mendengar cerita Jiyeon.
“Jadi ini alasanmu memintaku menciummu kemarin? Karena kau dipaksa untuk bercerai dengan ahjussi itu?” Tanya JB. Jiyeon mengangguk pelan.
“Mwo? Mereka bilang berciuman? Kemarin? Wah… benar-benar berita yang sangat bagus.” Gumam Sulli lagi.
“Baiklah. Eonni. Ayo kita pulang kerumah bersama-sama nanti. Aku yakin, appa tidak akan bertanya panjang lebar. Ne? kalau kau tinggal dirumah JB, bagaimana anggapan orang nanti? Mereka akan mengira kalian bercerai karena kau berselingkuh dengan JB.”
“Ne aku setuju dengan Gyuri. Sebaiknya kau pulang kerumahmu saja. Lagi pula kau akan aman berada disana. Bagaimanapun, aku ini hanya temanmu saja. Tidak kurang dan tidak lebih. Aku tidak ingin orang beranggapan negative terhadapmu.” Sambung JB.
“Jadi begitu. Baiklah. Berita terbaru akan terupdate disekolah hari ini.” ujar Sulli. Ia segera pergi meninggalkan atap.
JB dan Gyuri pergi meninggalkan Jiyeon terlebih dahulu. Jiyeon menangis. Ia teringat dengan pertengkarannya dengan Myungsoo ditempat ini kemarin. Berjam-jam Jiyeon duduk menatap lagit. Ia tidak mengikuti pelajaran hari ini karena semua seonsaeng sedang rapat. Jiyeon sudah mulai bosan duduk diatap, ia memutuskan untuk kembali ke kelas. Saat Jiyeon hendak kembali ke kelas, semua hagsaeng melihat kearahnya dengan tatapan yang menyeramkan. Jiyeon berjalan menunduk. Ia merasa risih dengan pandangan hagsaeng yang ada disana.
Sesampainya dikelas, Jiyeon dikagetkan dengan suara hagsaeng bernama Sulli yang tiba-tiba membentak Jiyeon tepat ditelinganya. “Ya!” Sulli berputar mengelilingi Jiyeon sambil memainkan rambutnya yang panjang. “Park Jiyeon. Istri sah dari calon pewaris Woollim group. Shh… tapi, kudengar sekarang kau bukan lagi istrinya. Benar? Tentu saja. Karena aku mendengarnya sendiri. Seandainya, Tn. Kim Myungsoo tahu kau tinggal bersama seorang pria. Dan pria itu sangat mencintaimu. Menurutmu, apa yang akan dia lakukan? Apakah dia masih akan tetap mencintaimu walaupun sudah bercerai denganmu? Ah, kurasa dia tidak akan pernah sudi mencintaimu. Karena kau adalah saudara sepupunya. Aku sama sekali tidak menduga kalau gadis sepolos kamu ternyata sudah menikah. Dan… eomeo. Apa ini? apakah ini ulah suamimu? Ah mian. Maksudku, mantan suamimu?” Tanya Sulli sambil menekankan kata ‘mantan’ tepat disamping telinga Jiyeon. Jiyeon hanya mematung tidak membalas ataupun menjawab semua pertanyaan Sulli.
“JB!” panggil Hoya dari arah belakang. Ia berlari kearah JB. “ya sebaiknya kau kembali ke kelas sekarang. Sulli, dia mengganggu Jiyeon. Dia sudah tahu bahwa Jiyeon sudah menikah.” Jelas Hoya singkat. Dengan segera JB berlari ke kelas. Sesampainya dikelas. Ia melihat sekerumunan hagsaeng didepan pintu. JB menerobos masuk. Ia melihat Gyuri sedang menjambak rambut Sulli.
“Ya. Kalau kau berani melakukan itu pada eonniku, maka kau akan berurusan denganku dan kepala sekolah karena telah menyebarkan masalah pribadi seseorang. Dan satu hal lagi yang perlu kau tahu. Dalam peraturan sekolah tidak disebutkan bahwa siswi yang sudah menikah harus keluar dari sekolah. Selama siswi itu bisa menjaga sikap, maka dia berhak untuk sekolah di Kirin Art High School ini. arasseo?” jelas Gyuri sambil mendorong kepala Sulli. “Gayo eonni.” Ujar Gyuri sambil menarik tangan Jiyeon pergi dari kelas.
“Jiyeon gwaenchana?” Tanya JB khawatir. “Apakah hagsaeng itu memukulmu tadi?” Jiyeon menggeleng.
“Eonni, perlukah aku mengadu kepada appa agar gadis itu dikeluarkan dari sekolah? Isshh… dasar gadis menyebalkan.” Rutuk Gyuri.
“Dwaesseoyo. Lagipula sebentar lagi kita lulus.” Ujar Jiyeon.
“Oh iya, berbicara tentang kelulusan, nanti kalian akan kuliah dimana? Aku dan JB akan kuliah di Yongin University. Kau tau kan, kami itu seperti perangko. Sekali menempel tidak dapat di lepas lagi.” Tanya Hoya sambil menjawab pertanyaannya sendiri.
“Aku berencana untuk kuliah fashion di amerika. Mungkin aku dan eonniku akan terpisah. Aku akan kuliah di NFS (New York Fashion School).” Jawab Gyuri sambil merangkul bahu Jiyeon.
“Bagaimana denganmu Jiyeon?” Tanya Hoya lagi.
“Na? molla. Sepertinya aku tidak akan melanjutkan sekolahku.” Jawab Jiyeon kecewa.
“Waeyo eonni? Kau pintar, cantik dan kau juga memiliki suara yang bagus. Kenapa eonni tidak kuliah dijurusan music saja? Nanti aku yang akan mengatakannya sama appa.” Sambung Gyuri.
∞∞∞
^Myungsoo’s House^
Sudah dua hari Myungsoo duduk disudut tempat tidur sambil memeluk sebuah figura berwarna putih. Matanya membengkak, dan penampilannya pun acak-acakan. Ia sudah mencoba mencari Jiyeon kemana-mana namun ia tidak menemukan jejak keberadaan mantan istrinya. Walaupun ia sudah bercerai dengan Jiyeon setidaknya ia bisa melihat keadaan mantan istrinya.
Gieokhanayo? Uri hamkke haetdeon sigan L.O.V.E Luv, Seolleinayo han ttaen modeun geosieotdeon L.O.V.E Luv, Ijeneun gakkeum saenggangnaneun geuttae L.O.V.E Luv, Siganeul doedollil suneun eomnayo, Mideul suga eobseo hancham jinabeorin uri yaegi.
Ponsel Jiyeon berdering beberapa kali. Myungsoo yang mendengar deringan itu segera meraih ponsel Jiyeon dan menjawabnya.
“Ya! Park Jiyeon! Kapan kau akan menceraikan Kim Myungsoo? Ini sudah sampai pada waktu yang telah ditentukan. Kenapa kau masih belum menceraikannya? Apakah kau masih memerlukan bantuan lagi? Kurasa rencanaku waktu itu sudah cukup untuk membuat Myungsoo menyerah dan menceraikanmu.” Myungsoo seketika mematung mendengar kalimat penelepon. Suara gadis itu terdengar tidak asing ditelinga Myungsoo. “Ya! Park Jiyeon! Kau tuli? Kenapa kau tidak menjawabku? Ya!” teriaknya lagi. Myungsoo langsung menyadari bahwa Jiyeon bercerai dengannya bukan karena maunya sendiri. Tapi karena ada unsur paksaan dari Suzy. Mantan tunangan Myungsoo.
“Suzy?” Tanya Myugsoo memastikan.
“Nu-nugu seyo?” balas Suzy. “Kim Myungsoo? Ah Mianhae Myungsoo-ssi. Ini tidak seperti yang kau-” tuut. Myungsoo menutup sambungan teleponnya. Ia segera membersihkan dirinya dan pergi ke sebuah tempat. Tempat yang tidak pernah terpikirkan oleh Myungsoo selama dua hari. Berharap dapat menemukan Jiyeon disana.
“Myungsoo-ya? Neo eodiga?” Tanya Jihyo. -Eomma Myungsoo-. Ia baru saja memasuki rumah Myungsoo dengan beberapa tas yang berisi pakaian dan perhiasan untuk Jiyeon. “waeyo? Apakah ada masalah? Ah, mana mungkin. Kalau benar ada masalah, Myungsoo pasti akan memberitahu kami.” Gumam Jihyo. Ia menuju kamar Myungsoo. “Hah?!” Jihyo terbelalak kaget melihat kamar Myungsoo yang tampak berantakan. “Igeo mwoya? Apakah Jiyeon tidak pernah membersihkan kamar ini? aigo…” Jihyo beranjak masuk dan merapikan kamar berantakan itu. Saat Jihyo memindahkan bantal Myungsoo selembar kertas terjatuh ke lantai. “Surat? Dari siapa ini?” Jihyo penasaran dengan isi surat itu. Ia segera membuka lembaran itu dan membacanya. “Mwo?! Jadi mereka sudah bercerai? Waeyo? Bukankah hubungan mereka baik-baik saja sebelumnya?” Jihyo shock membaca surat dari Jiyeon itu. Dengan cepat ia menghubungi suaminya. Kim Sunggyu.
∞∞∞
^Kirin Art High School^
Myungsoo telah sampai ditempat tujuannya. Tak butuh waktu lama untuk sampai ditempat itu. Ia menatap gedung sekolah Kirin sekilas dan meraih ponselnya. Ia menghubungi Gyuri.
Gyuri dan Jiyeon sedang berjalan menuju kantin, diikuti oleh JB dan Hoya dibelakangnya. Gyuri merasakan ponselnya bergetar. Ia segera meraih ponselnya dan melihat neme penelepon. Tertera dengan jelas nama ‘Myungsoo Oppa’ dilayar ponselnya. “Eonni, aku ketoilet dulu sebentar.” Pamit Gyuri seolah tidak ingin Jiyeon tahu bahwa yang meneleponnya adalah mantan suami Jiyeon.
“Ne, oppa?” sapa Gyuri.
“Gyuri-a. apakah Jiyeon sekolah hari ini? apakah dia baik-baik saja?”
“Ne. ah oppa. Eonni sekarang tinggal bersamaku. Dia sudah cerita semuanya padaku dan JB. Termasuk alasannya memintamu menceraikannya. Dia bilang seseorang mengancamnya. Dan kurasa itu adalah Suzy. Mantan tunangan oppa.” Ujar Gyuri.
“Gyuri-a. Bisakah kau membawa Jiyeon keluar nanti malam?”
“Nanti malam? Oppa kerumah saja, nanti appa akan mengadakan makan malam bersama.”
“Gyuri-a.” Sapa Jiyeon. Sontak Gyuri kaget dan menurunkan ponselnya. “nugunde?” Tanya Jiyeon.
“Ah… igeo… euhh… samcheon. Eo. Samcheon.” Jawab Gyuri gugup. “Eo. Samcheon sampai jumpa nanti. Annyeong.” Ujar Gyuri sambil mengakhiri panggilannya. “Gayo Eonni.” ajak Gyuri. Jiyeon hanya menatap Gyuri heran.
Disisi lain, Myungsoo sedang berdiri disamping mobilnya. Setengah jam lagi, bel pulang akan berbunyi. Ia berharap bisa bertemu dengan Jiyeon saat itu juga. Sekilas ia teringat perkataan Suzy tadi. “Kenapa Jiyeon tidak pernah mengatakan itu sebelumnya padaku? Kenapa dia menutupinya dariku? Karena itukah dia menceraikanku? Tapi apa tujuannya mengancam Jiyeon? Dan apa motifnya?” Myungsoo terus saja bergumam sendiri sambil menunggu Jiyeon. Ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. “Ne. Tolong selidiki tentang keberadaan Suzy sekarang juga.” Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Myungsoo. Ia pun mengakhiri panggilannya.
∞∞∞
Jiyeon POV
Bel pulang sudah berbunyi. Seonsaengnim meninggalkan ruang kelas kami. Hari ini aku merasa ada berbeda dengan sebelumnya. Apakah karena statusku yang sekarang sudah bercerai? Entahlah. Mungkin bukan karena itu. Aku segera mengemasi buku yang sejak tadi berada diatas meja kedalam tasku.
Saat aku tiba di depan sekolah, aku melihat seseorang yang tidak asing lagi bagiku. “Kim Myungsoo?” gumamku pelan. Aku mulai berjalan menghindar dari pandangannya. Aku bahkan meninggalkan Gyuri yang sedang bersamaku.
“Park Jiyeon!” panggil Myungsoo. Suara itu bahkan masih terdengar indah ditelingaku. Kenapa aku harus mau menceraikannya? Kenapa aku menceraikannya? Kenapa aku harus mengalah pada orang yang sama sekali tidak Myungsoo sukai? Dan mengapa juga aku harus percaya dengan semua ancaman yang dia berikan padaku? Semua pertanyaan itu terlintas begitu saja dipikiranku.
Aku berlari dan terus berlari. Dan entah bagaimana Myungsoo bisa berada dihadapanku bersama Gyuri. Aku menghentikan langkahku begitu saja. “Jiyeon. Kenapa kau menghindariku? Walaupun kita sudah menikah sebelumnya, kita masih ada ikatan saudara. Dan kau tidak akan bisa menghidar dariku.”
“APA MAUMU KIM MYUNGSOO?! KAU TIDAK TAHU KAU SUDAH SALAH TELAH MELAKUKAN INI PADAKU HAH?!” teriakku terbawa emosi. Oh tidak. Kenapa aku yang marah? Harusnya dia yang marah bukan aku. Karena perceraian ini terjadi karena aku yang memintanya. Walaupun tidak murni permintaanku. Saat ini semua orang tengah memperhatikan kami. Banyak orang yang mengambil gambar kami berdua.
“Lihat itu. Bukankah itu Kim Myungsoo?” Tanya seseorang dari seberang. Aku bahkan masih bisa mendengarnya. Sekarang semua orang akan tahu kalau aku dan Kim Myungsoo calon pewaris Woollim Group telah bercerai. Tapi, jika aku melakukan itu, apakah akan mempengaruhi reputasi perusahaannya?
“Eonni, Oppa, sebaiknya kita bicarakan ini dirumah saja. Orang-orang melihat kita.” Ujar Gyuri lembut. Seakan tidak ingin aku marah. Akhirnya aku memilih untuk diam dan mengikuti Gyuri. Myungsoo membukakan pintu mobil dan memintaku duduk disebelah kursi kemudi. Tapi aku menolak. Aku lebih memilih duduk dibelakang bersama Gyuri. Karena sekarang kami adalah orang asing yang tidak saling mengenal.
∞∞∞
^Nam Family’s House^
“Kenapa kau terus mengikutiku?! Apa yang kau inginkan dariku?! Bukankah aku sudah bilang padamu kalau aku tidak membawa barang satu pun yang sudah kau berikan padaku.” Ujarku ketus.
“Jiyeon dengarkan dulu. Aku ingin bertanya sesuatu padamu.” Ujarnya sambil menarikku memasuki kamarku. Sesampainya dikamar, aku menghempaskan tangan Myungsoo dari tanganku dengan kasar. “Jiyeon. Jawablah pertanyaanku dengan sejujur-jujurnya.” Ujarnya.
“Tanya saja.” Jawabku.
“Apakah ini semua karena ancaman Suzy?” dari mana kau tahu Myungsoo? Dari mana kau tahu itu? Aku takut. Aku takut jika ancaman Suzy benar-benar terjadi. “Kenapa kau diam saja? Benarkah dia yang memaksamu?” tanyanya sekali lagi. Aku tidak bisa menjawabnya. Karena itu semua benar adanya. Memang dia yang memaksaku menceraikan Kim Myungsoo dengan ancamannya. “Kurasa itu adalah jawaban yang berarti Ya. Gayo. Kembali kerumah. Aku janji, aku akan melindungimu. Aku akan memastikan bahwa Suzy tidak akan kembali lagi.” Ujarnya. Aku menatapnya kesal dan pergi dari hadapannya segera. Satu-satunya tempat yang bisa aku tuju saat ini adalah kamar mandi. Aku mengunci pintu rapat-rapat. Didalam sini aku menangis. Aku tidak bisa menjawabnya. Sebenarnya aku ingin kembali bersama Kim Myungsoo. Tapi aku tidak bisa. Bagaimanapun juga aku adalah sepupu Kim Myungsoo.
“Mianhaeyo oppa. Aku bukan lagi istrimu. Aku hanya adik sepupumu. Itu saja. Tidak kurang dan tidak lebih. Sebaiknya kau pergi saja sekarang.” Jelasku. Perlahan dia pergi dari kamarku.
∞∞∞
Author POV
^Jinsung Group^
^Director Room^
Seorang pria berjas hitam tampak sedang asik bercengkrama dengan kerabatnya. Siapa lagi kalau bukan Kim Sunggyu. Pemilik Woollim Group. Mereka tampak sedang merencanakan sesuatu yang sangat penting.
“Woohyun-ssi kau sudah mengetahui semuanya tentang anak kita. Menurutmu bagaimana?” tanya Sunggyu.
“Aku terserah pada Jiyeon. Tapi, sebenarnya aku keberatan kalau dia harus berpisah dengan anakmu. Aku tidak ingin menerima siapapun lagi kecuali bila Myungsoo dan Jiyeon kembali menikah.” Jelas Woohyun penuh perasaan.
“Yah. Baguslah kalau begitu. Apakah kau masih ingat saat istrimu melahirkan Jiyeon? Kau dan aku berencana untuk menjodohkan mereka. Dan sekarang semuanya sudah terjadi tapi mereka harus berpisah. Kalau saja waktu itu aku percaya bahwa Jiyeon akan kembali, pasti kehidupan mereka tidak akan seperti ini. Dan tidak akan pernah ada orang yang bernama Suzy di kehidupan mereka.”
“Kalau begitu… bagaimana kalau kita buat mereka dekat lagi. Masalah ini bukan terletak pada Myungsoo. Tapi Suzy. Setelah kita berhasil membuat Suzy pergi, tinggal kita meyakinkan Jiyeon. apakah dia mau kembali pada Myungsoo atau tidak.”
“Jadi maksudmu… kau ingin mempersatukan mereka kembali?” tanya Sunggyu.
“Eo. Setelah ini, aku berencana untuk mengirim Jiyeon ke Paris. Aku sudah mendaftarkannya di sekolah music terkenal disana. Dengan begitu, Suzy tidak akan mengganggu kehidupan mereka lagi.” Ujar Woohyun.
“Baiklah. Aku akan mengirim Myungsoo pergi ke Paris bersama Jiyeon. Sedangkan Suzy, biar istriku yang mengurusnya.”
“Baiklah. Jadi… kita sepakat?” tanya Woohyun.
“Of course.” Para appa sudah sepakat bahwa mereka akan menyatukan pasangan Myungyeon kembali dengan rencana yang telah mereka susun sedemikian rupa. Bagaimana kelanjutan ceritanya? Apakah rencana tersebut berjalan sesuai dengan keinginan mereka? Nantikan chapter berikutnya.