Tampilkan postingan dengan label Jimin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jimin. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2016

You Are My Wife

You Are My Wife

Cast      : Kim Jungyeon, Park Jimin.
Genre   : NC, Married Life
Length   : One shoot
Author   : Ms. Childish

Jungyeon POV

“Pakaian ini menyusahkanku.” Umpatku sambil berjalan menuju rumah baruku bersama seorang pria yang sudah sah menjadi suamiku sejak beberapa jam yang lalu. Usiaku memang masih muda. Bahkan terlalu muda untuk menikah. Yah, kalian pasti ingin tau kenapa menikah dengannya.

Beberapa tahun yang lalu saat usiaku masih balita, aku dijodohkan dengan putra dari sahabat ayahku. Aku mengetahui hal itu karena ayah yang menceritakannya padaku saat pertama kali ayah tau aku memiliki kekasih. Usia kami tidak berbeda jauh. Hanya berbeda 5 tahun. Dia sendiri saat ini sudah bekerja. Meneruskan perusahaan ayahnya sebagai presiden direktur. Dia sangat tampan, tinggi yaah walau tidak setinggi pria lainnya, dan… sexy. Kata yang cocok untuknya.

“Aku mau mandi dulu. Kau pasti lelah. Sebaiknya kau tidur duluan.” Ucapku sambil berjalan menuju kamar mandi. Namun beberapa detik kemudian dia menarik tanganku dan memelukku dengan sangat erat.
“Apa kau ingin melewati malam pertama kita? Mungkin kita bisa melakukanya setiap malam. Tapi malam pertama hanya terjadi sekali dalam sebuah pernikahan. Apa kau yakin akan melewati malam pertama ini denganku?” ujarnya. Ia masih memelukku dengan erat. Sungguh ini membuatku sangat risih. Aku tidak nyaman dengan perkataannya. Tapi ibu bilang aku tidak boleh menolak permintaan suamiku. Apapun yang ia minta aku harus menurutinya. Kenapa? “Yeon? Jawab aku.” Ujarnya memanggilku sambil mengusap punggungku pelan. Aku semakin risih.
“Ba-baiklah.” Jawabku terbata-bata. Sungguh aku sangat gugup. Badanku gemetar dan jantungku berdetak semakin cepat. Ini pertama kalinya bagiku.

Sebuah ciuman kini mendarat di bibirku. Bibir tebalnya menyapu bibirku. Aku dapat merasakan hisapan lembutnya terhadap bibir atasku. Ini benar-benar membuat jantungku terasa ingin lepas. Entah sejak kapan aku sudah berada dibawahnya dengan tanpa busana. Aku tidak menyadari semua yang terjadi. aku seakan terbuai dengan setiap perlakuannya. Beberapa saat kemudian aku merasakan bibirnya sudah tidak lagi menempel pada bibirku. Namun jaeak kami masih begitu dekat.
“Kau siap?” tanyanya meyakinkanku. Entah apa itu maksudnya aku tidak mengerti. Benar. Sejauh ini yang aku tau hanya sebatas ciuman. Aku tidak mengerti tentang hal ini.
“Akh!” aku menjerit saat merasakan ada sesuatu yang masuk bagian kewanitaanku. Ini benar-benar sakit. Aku merasakan ada sesuatu yang sobek di dalam sana. Entah apa itu, tapi ini benar-benar sakit. Air mataku mengalir, aku meringis kesakitan sambil memejamkan mataku kuat-kuat.
“Tahanlah Yeon. Ini hanya sesaat. Percayalah padaku kau akan menikmatinya setelah ini.” suara Jimin tidak terlalu jelas di telingaku. Aku hanya bisa menahan rasa sakit itu. Aku bahkan mencengkeram punggung suamiku untuk melampiaskan rasa sakitku. Ini sangat sakit. Suamiku mencoba meredam rasa sakitku dengan menciumku. Perlahan aku mersakan ia mulai menggerakkan pinggulnya pelan-pelan. Sakit. Sangat sakit. Namun seiring berjalannya waktu rasa sakit itu mulai berkurang dan berubah menjadi suatu kenikmatan yang mebuatku selalu menginginkannya. Hingga akhirnya kami mencapai puncak dari perminan ini. “Aku mencintaimu Yeon.” Dia mencium bibirku singkat dan menaikkan selimut untuk menutupi tubuh telanjang kami yang basah dengan keringat.
“Aku juga Jimin oppa.” Jawabku seraya memeluknya. Ini akan menjadi malam yang takkan terlupakan sepanjang hidupku.

Sinar matahari menembus kaca kamar pengantiku hingga membuatku silau. Aku menoleh kesamping kananku. Kosong. Aku mencari Jimin di sekeliling sudut tanpa menggerakkan tubuhku. “Akh!” aku memekik pelan saat aku merasakan sakit yang luar biasa di bagian bawah tubuhku. Aku bahkan lupa kalau saat ini tubuhku hanya ditutupi selimut tebal.
Ceklek
Aku dapat mendengarnya. Suara pintu terbuka dan menampakkan sosok pria tampan yang berotot dan… tampan.
“Kau sudah bangun? Aku membuatkan sarapan untukmu. Mandilah.” Aku tersenyum saat melihatnya mendekatiku. Sungguh ini seperti mimpi. Namun aku menggeleng saat ia menyuruhku mandi. Bagaimana bisa aku mandi? Berjalan pun rasanya aku tidak mampu. “Kenapa? Kau harus mandi.” Lagi-lagi aku menggeleng. Bagaimana aku mengatakannya? Aku malu. Tidak. Aku tidak boleh malu. Dia suamiku.
“Umm… itu… bekas semalam…” ujarku terputus-putus. Bagaimana aku mengatakannya?
“Oh… masih sakit kah? Baiklah. Aku akan membantumu ke kamar mandi.” Jimin menggendongku! Oh tidak! Pipiku terasa panas saat ia mulai mengangkatku dan membawaku ke toilet. “Panggil aku kalau kau sudah selesai.” Aku hanya mengangguk menurutinya.

Sudah seminggu kami menikah. Rasanya baru kemarin aku menikah. Dan sekarang sudah hari ke 7. Hari ini dia sudah kembali bekerja. Dan sepertinya waktuku dengannya akan semakin berkurang dan aku akan selalu merindukannya. “Aku berangkat dulu. Jaga dirimu baik-baik ya.” Pamitnya sambil mencium dahiku.
“Cepatlah pulang oppa. Jangan nakal.” Aku mencubit hidungnya. Sungguh menggemaskan. Aku tidak pernah berpikir akan mendapatkan jodoh sebaik dia.
“Aku tidak nakal. Ya sudah. Aku berangkat. Sampai jumpa.” Jimin pun pergi bekerja.

Hari ini adalah hari ke 30 kami menikah. Terasa begitu cepat. Siang ini aku berencana membawakannya makan siang khusus buatanku. Aku berharap dia akan menyukainya. Saat ini aku sudah berada di depan perusahaan suamiku. Aku mencoba menghubunginya sebelum aku sampai. Dia tidak mengangkat panggilanku. Berkali-kali aku menghubunginya namun tetap saja tidak dijawab. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk datang ke kantornya tanpa berpikir panjang. Sesampainya di depan ruangan Jimin aku melihat tempat sekretaris suamiku kosong. Mungkin dia sedang ada urusan di dalam. Aku mengetuk pintu kantor suamiku. Tidak ada jawaban dan tidak ada juga yang membuka pintu. Aku memutar kenop pintu itu. “Tidak dikunci. Kenapa aku mengetuknya? Aku bodoh.” Rutukku pada diriku sendiri. Aku segera masuk dan betapa kagetnya aku saat aku melihat pakaian wanita berserakan dilantai. Aku juga mendengar sesuatu. Seperti desahan seorang wanita. Dan… dia menyebut nama suamiku? Ada apa ini? Aku melangkah keluar dan membanting pintu. Ku harap Jimin akan mendengar suara pintu itu dan segera keluar. Aku meletakkan rantang yang kubawa di meja sekretaris dan segera pergi.

Aku pergi dari kantor itu. Entah mau kemana aku sekarang. Aku tidak ingin pulang. Aku tidak ingin pulang kemana pun. Tapi aku tidak bisa terus berada diluar rumah. Baiklah. Aku putuskan untuk pulang.

Sesampainya dirumah, aku segera menuju kamarku dan duduk dilantai bersandar pada tempat tidur serta memeluk lututku.
Drrrttt… Ddrrttt….
Ponselku bergetar. Aku mengambilnya dan melihat nama pemanggil. ‘suamiku’ cih. Apakah dia suamiku? Dia bahkan bercinta dengan sekretarisnya sendiri. Aku mengubah nama kontak suamiku menjadi ‘Jimin’ nama yang apa adanya. Aku meletakkan kembali ponselku dan membiarkannya bergetar. Aku menangis, tentu saja. Siapa yang tidak sakit hati jika melihat suaminya bercinta di hadapan istri sahnya? Atau selama ini aku hanya dianggap sebagai pemuas sexnya?

Jimin POV

Saat ini aku sedang menikmati tubuh sexy sekretarisku. Tapi sungguh. Tubuh istriku jauh lebih merangsangku daripada wanita ini.
Jedorr!!!
Suara pintu itu mengagetkanku. Siapa yang menggangguku saat aku sedang bercinta seperti ini? ah? Apakah pintu itu tidak terkunci sejak tadi? Bagaimana jika pegawaiku melihatku? Aku segera melepaskan kontak kami dan aku kembali berpakaian dan melemparkan pakaian sekretarisku. Aku berlari keluar dan menemukan sebuah rantang makanan. Aku segera membukanya. “Yeon? Apakah tadi itu dia? Tidak. Bagaimana bisa dia datang tanpa mengabariku?” gumamku. Aku segera mengambil ponselku dan melihat 10 panggilan tidak terjawab. Dan semuanya dari istriku. Aku mencoba menghubungi istriku. Tidak dijawab. Aku berjalan keluar dan mencari istriku. Mungkin saja ia masih diluar. Tapi tidak. Dia sudah tidak disana. Aku segera menuju perkiran dan mencarinya di rumah.
“Yeon!” teriakku sambil membuka setiap pintu ruangan di rumahku.
“Yeon!” aku membuka pintu kamarku dan disanalah dia berada. Memeluk lututnya dan memendam kepalanya diatara lututnya. Aku dapat mendengar tangisannya. “Yeon…” panggilku lembut.
“JANGAN SENTUH AKU! KAU BUKAN SUAMIKU! MULAI SEKARANG KAU BUKAN LAGI SUAMIKU!” bentaknya sambil menghempaskan tanganku yang barusan menyentuhnya.
“Yeon. Maafkan aku.”
“TIDAK! AKU TIDAK BISA MEMAAFKANMU! SELAMA INI AKU MEMANG BODOH! AKU HANYA KAU ANGGAP SEBAGAI PEMUAS SEXMU! AKU TIDAK PERNAH ADA DIHATIMU! MULAI SAAT INI KITA BUKAN LAGI SUAMI ISTRI! KITA AKAN SEGERA BERCERAI!”
“Yeon. Maafkan aku. Aku berjanji padamu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Aku hanya mencintaimu. Dan kau bukan hanya pemuas nafsuku. Kau istriku. Penghuni hatiku. Percayalah padaku.”
“JANGAN SENTUH AKU! SEKALI KAU MENYENTUHKU AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN DIRIKU HIDUP!!!” lagi-lagi dia berteriak. Aku mencoba untuk tidak terbawa dengan emosiku.
“Baiklah. Tidak ada maaf untukku. Aku menerima semuanya. Lakukanlah apapun yang kau inginkan. Ini memang salahku. Silahkan. Jika kau ingin selingkuh juga. Aku tidak akan melarangmu untuk melakukannya.” aku menunduk. Aku dapat mendengar tangisan Jungyeon yang semakin menjadi. Aku memang pria tidak berperasaan. Harusnya aku tidak melakukannya. Harusnya aku hanya melakukan hal itu dengan istriku. Aku salah. Maafkan aku Yeon.

SKIP

Sudah hampir seminggu Jungyeon tidak menyapaku. Tidak membuatkan sarapan. Tidak mencuci bajuku. Bahkan tidur pun terpisah. Aku sering melihatnya pulang tengah malam. Apa yang ia lakukan? Aku tidak bisa focus pada pekerjaanku. Sejak tadi aku hanya memikirkan Jungyeon. Memikirkan apa yang ia lakukan di luar sana. Pergi pagi dan pulang tengah malam. Haruskah aku mencari tau? Yah, mungkin itu perlu. Aku segera pergi dari kantorku. Pulang. Itu yang aku pikirkan sebelum aku memutuskan untuk pergi mencari Jungyeon.
“Sekretaris Han, hari ini aku ijin. Jika ada yang menanyaiku katakan saja aku sedang ada urusan pribadi.” Pamitku pada sekretaris baruku.
“Ne sajangnim.”

Aku baru saja sampai di depan rumah. Aku segera masuk dan aku melihat sepasang sepatu pria di depan pintu masuk. Aku mempercepat langkahku dan aku menemukan Jungyeon sedang berciuman dengan pria itu. Lancang sekali pria itu menyentuh istriku. Aku mengepalkan kedua tanganku dan segera menjauhkan pria itu dari Jungyeon. Aku memukulnya beberapa kali. “Beraninya kau mencium istriku!” aku memukulnya lagi. Emosiku benar-benar tidak bisa ku kendalikan lagi.
“Jimin?” aku dapat mendengar suara Jungyeon saat aku berhenti memukuli pria itu.
Aku melihat Jungyeon menghampiri pria itu dan membantunya berdiri.
“Bangunlah. Maafkan aku.” Ujarnya pada pria itu. “Aku akan mengobati lukamu di kamar.”
“JUNGYEON!!!” bentakku saat Jungyeon menuntun pria itu menuju ke kamarnya. Istriku mengabaikanku. Seperti inikah perasaannya saat ia melihatku berhubungan intim dengan sekretaris lamaku? Aku benar-benar bodoh.

Tak lama setelah kejadian tadi, Jungyeon dan laki-laki itu keluar dari kamar. Jungyeon mengantarnya hingga depan pintu. Aku menghampiri Jungyeon saat pria itu pergi dari rumahku. Aku menarik Jungyeon ke dalam pekukanku. “Maafkan aku.”
“LEPASKAN AKU!” bentaknya sambil menjauhkan dirinya dari pelukanku.
Aku memeluknya kembali dengan sangat erat. Aku dapat merasakan ia memberontak. Namun setiap kali ia berusaha melepaskan diri aku semakin mempererat pelukanku. “Jungyeon maafkan aku. Aku tau. Aku sudah merasakan semua rasa sakit yang kau rasakan saat itu. Sudah cukup jang dilanjutkan lagi. Sampai kapan kau akan marah padaku? sampai kapan kau akan menyakitiku? Aku sudah tidak berhubungan dengan sekretarisku. Aku bahkan memecat sekretarisku setelah kejadian itu. Maafkan aku. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu. Seperti saat kita masih belum menikah. Maafkan aku.”
“Oh begitu. Jadi jika aku tidak datang ke kantormu saat itu dan mengetahui semuanya kau masih akan terus berselingkuh dengan wanita lain? Kau brengsek Jimin. Jangan dekati aku lagi. Aku tidak ingin melihatmu lagi.” Kenapa ini begitu menyakitkan? Aku sudah meminta maaf padanya. Apakah aku harus melakukan hal yang lebih dari ini? mungkin jika aku melakukannya lagi dia akan bersikap baik padaku dan memaafkanku.
“Benarkah begitu? Apakah setelah ini kau masih tidak akan memaafkanku?” Ucapku sambil menggendongnya ke kamarku. Aku dapat melihatnya terkejut. Ia meronta tapi aku terus membawanya hingga sampai di kamarku. “Aku tidak akan pernah melepaskanmu Yeon.” Aku membaringkannya di kasurku dan menciumnya dengan kasar. Tidak butuh waktu lama. Ia pun membalas ciumanku. ‘Aku tau kau juga menginginkannya Yeon. Aku merindukanmu. Aku merindukan masakanmu dan semuanya.’

SKIP

“Huweek…” samar-samar aku mendengar suara seseorang sedang mual. Aku beranjak dari tidurku dan memakai pakaianku yang tersebar di kamarku. “Huweeek…” aku mendengarnya lagi. Ada apa dengan Jungyeon? Mungkinkah….
“Chagi…” aku memeluk Jungyeon dari belakang. “Aku sangat senang.”
“Apa maksudmu?” tanyanya. Ia sepertinya tidak megerti.
“Sepertinya kau hamil.” Jawabku sambil terus memeluknya.
“Ha-hamil? Be-benarkah itu?” Jungyeon terlihat seperti ketakutan.
“Itu hanya dugaanku. Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit saja dan memeriksakannya dengan benar.”

“Bagaimana keadaannya dokter?” tanyaku saat dokter itu selesai memeriksa istriku.
“Usia kandungannya sudah berjalan 3 minggu. Mual-mual saat awal kehamilan itu wajar. Dan jika istri anda akan meminta sesuatu tolong berikan saja.”
“Be-benarkah aku hamil?” Jungyeon menangis. Kenapa? Apakah dia bahagia? Atau dia belum siap menjadi seorang ibu?
“Iya nyonya Park. Anda harus memeriksakan perkambangan kandungan anda setiap bulan bersama Tuan Park.” Jelas dokter itu.
“Baiklah kalau begitu terima kasih dokter.” Aku berpamitan dan membawa Jungyeon pergi.
Sampai di mobil aku masih melihatnya menangis. aku memberanikan diri untuk bertanya padanya. “Kau kenapa?”
“Oppa. Aku tidak mau hamil.” Jawabnya.
“Wae? Kau belum siap menjadi ibu?” tanyaku lagi.
“Huum. Aku tidak mau menjadi gendut lalu kau mencari wanita lain. Hiks…” yaampun. Istriku benar-benar polos.

“Bagaimana bisa seperti itu? Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji. Lagi pula itu juga hasil perbuatanku sendiri. Aku berjanji padamu. Aku akan menghabiskan waktu bersamamu dan calon bayi kita. Aku mencintaimu Jungyeon.”

Senin, 25 April 2016

[Nappeun Namja Pt.5] Truth

Nappeun Namja Pt.5
TRUTH

Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol, Lee Hoya
Genre   : Family, Happy (?), etc.
Length   : Chapter
Author   : Ms. Childish


Pagi ini para member BTS sedang bersiap menuju Daegu. Mereka akan mengadakan fanmeeting. Jungkook dan hyung-hyungnya terlihat sangat senang. Apalagi Jimin. menurutnya ini adalah kesempatan untuk bertemu dengan Jinsol.

Jinsol tampak sedang tidak senang. Sarapannya belum ia cicipi sejak tadi. Hoya memperhatikan ekspresi Jinsol yang tapak sedih. “Kau kenapa Jinsol? Kenapa kau tidak memakan makananmu? Apa kau ada masalah?” Tanya Hoya.
“Oppa. Setelah ini aku ini aku ingin berbicara dengan oppa.”
“baiklah kalau begitu.”

Jinsol sedang berdiri dihadapan Hoya. Ia memainkan jarinya karena kegelisahannya. “Kau kenapa? Apakah pekerjaanmu tidak cocok? Aku akan memindahkanmu ke kantorku jika kau tidak nyaman menjadi selebriti.” Ujar Hoya.
“Tidak oppa. Bukan itu. Ini… tentang Jungkook.”
“Jungkook? Ada apa dengannya? Apa dia mengganggumu lagi?” Tanya Hoya.
“Dia… kemarin dia datang menemuiku di lokasi syuting. Dan… dia bertanya tentang Sungjong. Sepertinya dia tau tentang Sungjong. Oppa. Aku sudah melupakannya tapi kenapa dia muncul lagi?” Tanya Jinsol. Butiran air mata berjatuhan dari pelupuk matanya.
“Jinsol. Aku mengerti perasaanmu. Sekarang. Jangan kau sia-siakan Jimin. Dia pria baik-baik. Berbeda dengan Jungkook. Aku juga tidak akan membiarkannya menyakitimu lagi.”

Drrtt… Drrtt…
“Jimin. aku akan menjawabnya dulu oppa.” Pamit Jinsol. Ia berjalan keluar dan menjawab panggilan dari Jimin.
“Ne oppa.”
“……”
“Ne? Jinjja? Arasseo. Aku segera kesana.” Jinsol segera kembali ke ruangan kakaknya dan meminta ijin untuk menyusul Jimin ke Daegu. Hoya mengiyakannya. Ia selalu mengijinkan adiknya itu untuk pergi kemana saja yang ia mau asalkan tidak untuk pergi minum bersama siapapun. Hoya melarang keras akan hal itu. ia tidak ingin kesalahan yang sama terjadi dua kali pada Jinsol.

“Oppa!” panggil Jinsol dari kejauhan. Jinsol segera berlari mendekati Jimin dan memeluk pria itu. “Apakah aku terlambat?” Tanya Jinsol sambil menormalkan nafasnya yang terengah-engah.
“Jinsol? Terima kasih kau sudah datang. Hari ini aku akan pergi ke Daegu. Dan aku akan kembali besok pagi. Tunggu aku dan jangan selingkuh. Aku akan merayakan hari pertunangan kita setelah aku pulang dari Daegu.”
“Aku tau itu. aku tidak akan selingkuh. Percayalah padaku oppa.” Jawab Jinsol.

Acara Fanmeet telah selesai. Semua member BTS telah meninggalkan tempatnya dan pergi ke hotel untuk istirahat. Jungkook. Seperti biasa ia menuliskan semua kejadian yang terjadi di buku merahnya. Jungkook tampak sangat lelah hingga tanpa sadar ia tertidur begitu saja. Tanpa menutup bukunya. Tanpa mengenakan selimut. Dan tanpa mengganti bajunya.
Jimin baru saja kembali setelah mengantar Jinsol sampai depan gerbang hotel. Ia memasuki kamar Jungkook. Memang dia satu kamar dengan Jimin. Saat Jimin hendak berbaring, ia melihat buku catatan harian Jungkook yang terbuka. Jimin merasa tertarik untuk membaa buku bersampul merah itu. Dimulai dari halaman pertama.

Senyumnya. Tariannya. Wajahnya. Masih aku ingat hingga saat ini. lima tahun sudah berlalu tapi kenapa aku semakin merindukannya?

Jimin tertawa kecil sambil membaca kalimat itu. “Kekanakan sekali.” Gumam Jimin. ia kemudian membalik halaman berikutnya.

Kenapa rasa bersalahku kini semakin besar? Perasaan itu semaki menghantuiku. Dimana kau? Aku mencarimu. Maafkan aku karena aku tidak sempat bertanggung jawab atas kesalahanku. Awalnya aku hanya ingin bersenang-senang denganmu. Tapi kenapa perasaan itu sekarang berubah? Tolong kembalilah.

“Kesalahan? Kesalahan apa yang dilakukan anak ini?” Jimin terus membalik lembaran-lembaran itu. Hingga ia tiba di sebuah halaman yang penuh dengan tulisan tangan Jungkook. Cerita yang cukup panjang.

Kau semakin cantik. Kau juga terlihat semakin dewasa. Kau menjadi wanita yang kuat. Membesarkan anak kita sebagai keponakan itu sulit. Aku menyesal telah meninggalkanmu di masa lalu. Kau terlihat sangat bahagia tadi. Bersama Jimin hyung. Kurasa aku harus menjauh darimu. Dan tetap menjadi orang asing bagimu. Aku tidak ingin menjadi pengacau hidupmu. Selamanya. Kau hanya mimpiku. Biarkan perasaan ini ku pendam sendiri. Walau terasa begitu sakit. Walau ada rasa kecewa di dalam hati. Walau sedih dan tangis mengiringi ingatanku denganmu di masa lalu. Aku. Hanya PENGACAU bagimu. Aku senang melihatmu tersenyum bersama Jimin hyung. Jinsol. Maafkan aku atas kesalahan terbesarku. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan mengganggumu bersama Jimin. Semoga kau bahagia.

“Apa ini?” tangan Jimin gemetar saat ia menemukan nama Jinsol dan namanya disana. Ia segera mengambil ponselnya dan mengambil gambar tulisan tangan Jungkook itu. ia ingin menyerahkannya pada Jinsol dan ia juga ingin mempersatukan Jungkook dengan Jinsol. “Apa ini yang membuat Jungkook sakit waktu itu? tapi bagaimana bisa ia menyembunyikan ini dariku? Dan Sungjong. Benarkah dia anak Jungkook? Aku akan menanyakan ini pada Jinsol.”
‘Jinsol. Temui aku besok di taman dekat rumahmu.’ Jimin baru saja mengirimi Jinsol pesan singkat. Ia berharap bahwa ia akan menemukan jawaban yang sebenarnya besok.

BTS sedang perjalanan kembali ke Seoul. Jimin terus saja memandangi layar ponselnya. Setelah beberapa jam, akhirnya mereka tiba di Seoul. Besok adalah hari pertunangannya dengan Jinsol. Bagaimana bisa ia menerima seorang wanita yang sudah pernah hamil? Tidak masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah karena Jinsol pernah mengandung anak Jungkook. Yang sekarang menjadi keponakannya. Sungjong.

Jinsol menunggu kehadiran Jimin di sebuah kursi panjang. Ia mencari sosok Jimin. Jinsol segera berlari saat ia menemukan Jimin sedang berjalan bersama teman-temannya. “Oppa.” Panggil Jinsol sambil tersenyum kearah Jimin.
“Jinsol? Hyung aku akan menemuinya dulu. Kalian kembalilah lebih dulu.” Ujar Jimin. ia berjalan menuju arah Jinsol.

Jimin dan Jinsol sedang berada di café dekat bandara. Mereka sedang menikmati kopi bersama. Romantic bukan? Di musim dingin ini mereka minum kopi berdua. “Bagaimana pekerjaanmu kemarin? Kau pasti sangat lelah. Oppa sebaiknya istirahat saja. Besok kan hari pertunangan kita.” Jinsol memulai permbicaraan.
“Jinsol. Aku ingin menanyaan sesuatu padamu.” Ujar Jimin dengan wajah seriusnya.
“Tanyakan saja oppa. Tidak biasanya oppa meminta ijin dulu padaku untuk bertanya.” Jawab Jinsol sambil tersenyum.
“Apakah benar kau pernah hamil sebelumnya?” Tanya Jimin.
Seketika Jinsol kaget dan menatap Jimin. senyumnya luntur. Hatinya terasa seperti ditusuk dengan jarum. Tidak. Lebih dari itu. Air bening sedang mengambang di matanya. “Kenapa kau menanyakan hal itu?” bukanlah sebuah jawaban yang Jinsol berikan. Namun sebuah pertanyaan.
“Jawab aku. Apa kau pernah memiliki hubungan dengan Jungkook?” Jimin berusaha mengontrol emosinya. Ia tidak ingin dirinya marah dan membuat Jinsol malu. “Jawab aku Jinsol.” Lagi. Jimin menuntut sebuah jawaban. Perlahan kepala Jinsol mengangguk. “Apakah kau mencintai pria itu?” Tanya Jimin lagi. “Apa benar Sungjong itu bukan keponakanmu melainkan anakmu?” lanjutnya.
“Oppa. Darimana oppa tau sedetail itu? apakah Jungkook yang memberitahunya padamu? Atau..” belum selesai Jinsol berbicara, Jimin memotongnya denga kalimatnya sendiri.
“Baca ini.” jimin menyerahkan ponselnya dan menunjukkan foto dari catatan harian Jungkook. Dari halaman terdepan hingga akhir. Air mata Jinsol mengalir. Lagi.
‘Kau menyesalinya? Jadi selama ini kau mencariku? Tapi kenapa? Waktu itu kau menyuruhku menggugurkan kandunganku. Kenapa kau baru menyesalinya sekarang?’ Tanya batin Jinsol.
“Menikahlah dengannya. Aku yakin kau akan lebih bahagia bersamanya. Dia bukanlah pria jahat seperti dulu. Di dorm, dia yang paling peduli pada semua member selain Taehyung. Dia juga pintar. Dan… ku mohon. Jika kau benar menyayangiku, menikahlah dengannya.” Jimin menggenggam tangan Jinsol dengan erat.

Next day

Hari ini hari pertunangan Jimin dan Jinsol. Semua orang menghadiri acara tersebut. Termasuk Jungkook dan member BTS yang lainnya. Acara pertunangan ini terlihat seperti acara pernikahan. Namun tidak ada pendeta di tempat itu.
Jinsol sedang menunggu diruang kamarnya. Ia menatap dirinya. Dengan wajah datar. Pikirannya tidak focus pada acara pertunangannya. Ingatannya pada masa lalunya kembali menghantui pikiran gadis itu. Saat Jungkook meninggalkannya diruang make up dengan penampilan kacau. Wajah Jungkook saat ia menyuruh gadis itu menggugurkan kandungannya.
Berbeda dengan Jinsol. Jimin sedang memikirkan tentang perasaan Jungkook. Jungkook selalu bersikap baik pada Jimin. member yang paling peduli dan menyayanginya. Setidaknya itu yang Jimin percaya. Bagaimana pun Jimin tidak bisa memisahkan Jungkook dengan anaknya. Walaupun tidak untuk Jinsol. Setidaknya Jungkook bisa bahagia karena bisa memiliki haknya sebagai ayah dari Sungjong.
“Jimin. Para tamu sudah menunggumu. Sebaiknya kau temui mereka.” Ujar leader pada Jimin.
“Ne hyung.” Jimin sudah menentukan apa yang ia lakukan hari ini.
Jimin berjalan dengan percaya dirinya diatas altar. Kemudian disusul oleh Jinsol. Saat tiba pertukaran cincin. Jimin menghentikan gerakannya. Ia menggenggam tangan Jinsol. Ia berbalik kearah para tamu. “Pertunangan ini. Aku tidak berhak untuk memiliki gadis cantik dan baik yang sedang berdiri di sampingku saat ini. Ada seseorang lagi yang lebih berhak dariku. Seseorang yang lebih mencintainya. Menyayanginya. Dan dia juga jauh lebih baik dariku. Pria itu adalah sahabatku sendiri. Adik para member BTS. Jungkook.”
“Oppa…” gumam Jinsol. Jimin tersenyum kearah Jinsol.
Semua orang kini memusatkan perhatiannya pada Jungkook. Jimin perlahan berjalan dan mendekati Jungkook. Menggenggam tangan pria itu dan membawanya berada di samping kiri Jimin. sedangnkan Jinsol dengan berdiri di sebelah kanan Jimin. “Aku ingin kalian menjadi pasangan yang bahagia.” ujar Jimin.
“Hyung… apa yang kau lakukan?” Tanya Jungkook pelan.
“Kumohon. Lakukan ini untukku Kook. Kau lebih berhak untuk memilikinya.” Jimin menyerahkan sebuah cincin ke tangan Jungkook. Meminta pria itu memasangkan cincin pada gadis dihadapannya. Jimin turun dan menduduki sebuah kursi tamu yang tadinya menjadi tempat Jungkook. ‘seperti inikah perasaanmu setiap kali aku bersama Jinsol? Dan seperti inikah perasaanmu saat kau melihatku bersama Jinsol disana tadi? Aku sudah merasakannya Jungkook. Aku harap kau akan bahagia bersamanya.’ Gumam batin Jimin.
“Kau hebat Jimin.” Ujar Taehyung sambil menepuk pundak Jimin.

Acara pertunangan itu sudah selesai. Jinsol berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang sangat cepat. Ia segera memasuki kamarnya dan menangis.
“Jinsol… kenapa kau menagis? Bukankah seharusnya kau bahagia karena Jungkook mau bertanggung jawab atas kejadian dimasa lalumu?” Tanya istri Hoya sambil mengusap rambut Jinsol. Jinsol bangun dan memeluk erat kakak iparnya.
“Aku memang menginginkannya unn. Tapi bukan sekarang. Aku sudah melupakannya. Tapi… Jimin. bagaimana dengannya? Dia pasti sakit.”
“Lalu bagaimana dengan perasaan Jungkook? Siapa yang tahu tentang perasaannya? Apakah Taehyung pernah menceritakan perasaan Jungkook padamu? Tidak kan? Apakah Jimin juga pernah menceritakan perasaan Jungkook padamu? Tidak kan? Tidak ada yang tau perasaannya Jinsol. Dan. Bukankah jika kau menikah dengannya kau akan bahagia dan hidup bersama dengan Sungjong?”
“eonni… aku tidak menginginkan pertunangan ini. Dia yang menghancurkan hidupku dulu. Dia juga yang membuatku terpuruk. Tapi Jimin. dia sahabat kecilku. Dia teman sekolahku. Dia juga orang yang sangat mengerti diriku.”

“Tapi dia hanya sahabatmu Jinsol. Jangan tempatkan cinta diatas persahabatan jika kau tidak ingin hubungan itu hancur. Cobalah untuk menerimanya. Dia pantas menikahimu. Ingatlah. Suatu hari nanti Sungjong akan mengetahui yang sebenarnya. Dan itu akan lebih baik jika kau memberitahu yang sebenarnya terjadi sejak saat ini.” Jinsol diam. Jinsol hanya mendengarkan nasihat kakak iparnya dan mengangguk. “Ya sudah. Gantilah bajumu dan temui Jungkook bersama teman-temannya di ruang makan.”

[Nappeun Namja Pt. 4] That's My Little Brother


Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol, Park Jimin
Genre   : Family, Happy (?), etc.
Length   : Chapter
Author   : Ms. Childish


Benarkah dia anakku? Aku merindukanmu Jinsol. Apakah ini anak kita? Dia sudah tumbuh besar dan sangat baik. Dia tampan sama sepertiku. Bisakah aku memilikimu suatu hari? Aku ingin menebus semua kesalahanku. –Jeon Jungkook-

“Hei lihat Jungkook. Dia mirip sepertimu.” Ujar J-Hope sambil mencubit gemas pipi Sungjong.
“Siapa nama anak ini?” Tanya Taehyung. “Dia sangat imut dan lucu.” Lanjut Taehyung sambil mencubit pelan pipi Sungjong.
“Dia keponakan pacarku. Namanya Sungjong. Jangan cubit dia Taehyung!” bentak Jimin saat melihat Taehyung mencubit Sungjong.
“Hyung. Bolehkah aku menggendongnya?” Tanya Jungkook.
“Tidak boleh! Dia anakku.” Larang Taehyung. Seketika semua member BTS yang ada disana tertawa melihat tingkah Taehyung.
“Mber. Aku ingin mengenalkan pacarku pada kalian.” Ujar Jimin. “Jinsol.”
‘Jinsol?’ tanya batin Jungkook saat Jimin menyebutkan nama Jinsol. Beberapa detik kemudian seorang gadis cantik masuk dan berdiri di sebelah Jimin. ‘Benarkah itu Jinsol temanku? Dia masih sama seperti dulu. Lalu apakah balita ini anakku? Anakku bahkan sudah sebesar ini.’ Gumam batin Jungkook.
“Annyeong. Oppadeul. Namaku Lee Jinsol.” Ujar Jinsol sambil menebarkan senyumannya.
“Jinsol. Kenalkan. Yang itu Jin hyung. Itu Rapmon hyung. Jihop hyung. Syuga hyung. Taehyung dan yang ituu…” Ujar Jimin sambil menunjuk satu persatu member BTS dan ucapannya terhenti pada Jungkook. “Yang itu… panggil saja Kookie.”
“Hyung. Aku titipkan Sungjong pada kalian ya. Aku akan pergi bersama Jinsol.” Pamit Jimin.
‘Dia tidak mengenalku? Apa dia sudah melupakanku? Atau perubahan wajahku sangat jauh dengan dulu? Ini aneh.’

Some Hour Later

Jimin dan Jinsol masih belum kembali sejak tadi. Sungjong menangis. sepertinya ia ingin tidur. Taehyung mencoba untuk membuat Sungjong tidur namun balita itu tetap saja menangis.
“Hyung. Biarkan aku yang menggendongnya.” Ujar Jungkook. Taehyung mengerti dengan perasaan Jungkook. Ia segera menyerahkan Sungjong kedalam gendongan Jungkook. Dan beberapa saat kemudian balita itu sudah berhenti menangis dan terlelap dalam gendongan Jungkook. “Hyung aku akan menemaninya di kamarku.” Pamit Jungkook.

‘Apakah kau anakku? Aku tidak tahu kau anakku atau memang benar keponakan Jinsol. Jika kau anakku. Maafkan aku nak. Aku berjanji padamu. Aku akan menebus semua kesalahan yang pernah aku lakukan pada kalian berdua. Aku akan bertanggung jawab atas dirimu dan ibumu.’ Jungkook bergumam dalam hatinya. Memang beberapa bulan terakhir, ia merasa bersalah pada Jinsol. Ia ingin mencari Jinsol dan menikahinya. Tapi saat ia melihat Jinsol tersenyum di samping Jimin, ia mengurungkan niatnya untuk menikahi Jinsol. Ia berpikir Jinsol akan membencinya jika gadis itu tau bahwa Kookie yang menjadi member kesayangan Jimin adalah seseorang yang nyaris merusak masa depan Jinsol.

“Hyung. Mana Sungjong?” Tanya Jimin saat ia baru saja sampai di dorm.
“Ah. Dia sedang bersama Kookie di kamarnya. Sepertinya anak itu menyukai Kookie. Dia langsung tertidur saat Kookie menggendongnya.” Jawab Namjoon.

Jimin tiba di depan pintu kamar Jungkook. Ia melihat Sungjong dan Jungkook sedang tidur bersebelahan. Jimin memperhatikan keduanya sambil tersenyum. ‘bagaimana bisa mereka begitu mirip? Apa mereka adalah saudara yang terpisah?’ beberapa pertanyaan tiba-tiba muncul begitu saja di pikiran Jimin. Jimin menggendong Sungjong dan membawanya kembali bersama Jinsol.
“Hyung. Aku akan mengantarnya pulang dulu.” Pamit Jimin.

Malam telah tiba. Jungkook sedang berdiri di balkon kamarnya. Menikmati keindahan langit, sambil merenungkan segala kesalahannya. Ia sedang memegang buku tulis dengan sampul warna merah. Buku yang baru ia beli bulan lalu. Ia menjadikannya sebagai buku hariannya. Semua isi hati yang tidak pernah bisa ia ungkapkan pada orang lain ia tulis disana. Termasuk semua ingatan tentang kesalahannya dimasa lalu.

Kau semakin cantik. Kau juga terlihat semakin dewasa. Kau menjadi wanita yang kuat. Membesarkan anak kita sebagai keponakan itu sulit. Aku menyesal telah meninggalkanmu di masa lalu. Kau terlihat sangat bahagia tadi. Bersama Jimin hyung. Kurasa aku harus menjauh darimu. Dan tetap menjadi orang asing bagimu. Aku tidak ingin menjadi pengacau hidupmu. Selamanya. Kau hanya mimpiku. Biarkan perasaan ini ku pendam sendiri. Walau terasa begitu sakit. Walau ada rasa kecewa di dalam hati. Walau sedih dan tangis mengiringi ingatanku denganmu di masa lalu. Aku. Hanya PENGACAU bagimu. Aku senang melihatmu tersenyum bersama Jimin hyung. Jinsol. Maafkan aku atas kesalahan terbesarku. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan mengganggumu bersama Jimin. Semoga kau bahagia.

“JUNGKOOK!” teriak Taehyung dari pintu kamarnya. Pria itu menghampiri Jungkook tatkala dirinya melihat orang yang dicarinya sedang berdiri di balkon.
Dengan segera Jungkook menutup bukunya dan meletakkannya di dalam bajunya. “Wae hyung?” Jungkook berbalik.
“Sedang apa kau?” Taehyung menepuk pundak Jungkook.
“Hyung.” Jungkook memeluk Taehyung dengan erat. “Hyung aku menyesal.” Air matanya mengalir. Satu-satunya orang yang mengetahui masa lalunya adalah Taehyung. Mantan kekasih Jinsol.
“Kau kenapa Kook? Apa ini karena Jinsol? Kau cemburu?” Tanya Taehyung.
“Aku menyesal hyung. Dia… dia anaknya. Bukan keponakannya. Aku tau itu. Hyung. Aku adalah pria terjahat di dunia ini. Aku tidak ingin meninggalkannya. Tapi, jika aku tidak pergi orang tuaku akan curiga dan… aku tidak bisa menjadi artis terkenal seperti sekarang. Hyung. Aku bekerja dan kembali untuknya. Aku ingin memilikinya. Tapi… dia sudah bahagia bersama Jimin hyung. Dan… bulan depan mereka akan bertunangan. Aku benar-benar menyesal hyung.” Masih banyak kalimat yang Jungkook ungkapkan pada Taehyung. Rasa menyesalnya. Semuanya. Taehyung menemani Jungkook hingga pria itu tertidur.

Seminggu telah berlalu begitu cepat. Kondisi Jungkook saat ini sedang tidak baik. Sejak hari itu nafsu makan Jungkook berkurang. Ia juga tidak focus pada latihannya di dorm hingga sang leader menegurnya beberapa kali.
Saat ini Jungkook sedang beristirahat di kamarnya. Leader dan member tertua menyuruhnya istirahat untuk sementara waktu hingga ia merasa tenang.
“Jungkook.” Panggil Taehyung. Jungkook hanya menoleh menatap Taehyung dengan matanya yang membengkak dan merah. “Sampai kapan kau seperti ini? Mana semangatmu? Katakan padanya jika kau memang benar-benar mencintainya. Katakan padanya jika kau menyesal. Jangan putus asa seperti ini. Ini. Aku sudah mendapatkan nomor ponsel Jinsol. Jangan Tanya aku mendapatkannya dari mana.” Taehyung menyerahkan secarik kertas yang berisi nomor ponsel Jinsol pada Jungkook. “Bicaralah dan ajak dia bertemu saat kau sudah sembuh. Sekarang kau harus istirahat.” Taehyung mengacak rambut Jungkook. Pria itu tersenyum. Semangatnya seolah telah kembali. Lagi-lagi Jungkook harus beristirahat.

Esoknya, Jungkook terlihat sudah membaik. Jungkook menatap kertas pemberian Taehyung kemarin. Jungkook meraih ponselnya dan menyimpan nomor ponsel Jinsol. Pria itu berjalan menuju suatu tempat. Sebuah taman di dekat tempat syuting Jinsol. Jungkook merogoh ponselnya. Dengan perasaan ragu, Jungkook menekan tombol panggil di ponselnya. Tuuuut… panggilannya telah tersambung.

Jinsol sedang beristirahat setelah syutingnya berakhir. Syuting film pertamanya. Jinsol menghentikan aktivitasnya saat ia mendengar getaran ponselnya.
“Hallo?” sapa Jinsol.
“Apa ini Jinsol?” Tanya Jungkook memulai pembicaraan.
“Iya. Saya sendiri. Kau siapa?”
“Ini aku. Jungkook.” Jinsol tampak kaget begitu pria itu menyebutkan dirinya kalau ia Jungkook.
“J-Jungkook? Ke-kenapa kau menghubungiku?” Jinsol mencoba untuk tidak menjatuhkan air matanya. Ia menutup mulutnya dengan tangan kiri.
“Temui aku di taman”
“Tapi…” belum selesai Jinsol berbicara Jungkook sudah mematikan sambungannya lebih dulu.
Dengan segera Jinsol berjalan menuju taman. Sebenarnya ia tidak yakin bahwa taman yang dimaksud adalah taman di dekat tempat syutingnya. Tapi ia tetap saja berjalan menuju tempat itu. Jinsol mencari-cari keberadaan Jungkook saat ia tiba di taman.
“Jinsol.” Panggil Jungkook dari belakang. Seketika Jinsol menoleh ke arah sumber suara. Pria itu membawa Jinsol ke tempat yang begitu sepi. Hingga tak seorang pun yang bisa melihatnya.
“Ko-kookie? Bukankah kau Kookie?”
“Ini aku Jungkook. Kau sudah lupa padaku?” Tanya Jungkook.
“Tidak. Ini tidak mungkin. Kenapa kau datang lagi? Apa maumu?” Tanya Jinsol.
“Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu. Ini tentang… anak kita.” Ujar Jungkook memulai pembicaraan.
“anak kita? Cih. Kau bilang anak kita? Anak kita sudah mati.” Jawab Jinsol penuh emosi.
“Tidak. Anak yang kau bawa ke dorm saat itu. Dia bukan keponakanmu. Dia anakku kan?”
“Apa maksudmu itu anakmu? Dia, keponakanku. Anak kita sudah mati! Bukankah kau sendiri yang menyuruhku menggugurkan kandunganku saat itu?! kau ingin pergi ke Amerika dan-” Ucapan Jinsol tiba-tiba terhenti saat Jungkook mendaratkan ciumannya di bibir Jinsol. Plakk! Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi mulus Jungkook saat pria itu melepaskan ciumannya. “Kau! Pria paling brengsek yang pernah aku temui!” Jinsol marah. Ia meninggalkan Jungkook sendirian di tempat itu.

Drrt… drrttt… ponsel Jinsol bergetar. Jinsol menatap nama pemanggil itu.
“Ne oppa. Aku sedang menuju kesana.”
“…”
“Ne.” Jinsol meletakkan kembali ponselnya di saku mantelnya.
“Jinsol! Aku menyesali semuanya. Aku ingin bertanggung jawab! Tapi jika kau ingin aku pergi, maka aku akan pergi! Semoga kau bahagia bersama Jimin hyung!” teriak Jungkook dari jauh. Jinsol mendengarnya dengan jelas. Ia menangis tapi ia tidak berbalik. Ia tidak memiliki niatan untuk berbalik.

Malam telah tiba. Jinsol berdiri menatap bintang melalui jendela kamarnya. “Kenapa kau kembali saat aku sudah aku melupakanmu? Dimana kau saat aku berharap kau mencariku? Kau bahkan tidak mempedulikan masa depanku. Kau hanya mempedulikan dirimu sendiri. Kenapa kau kembali ke dalam kehidupanku? Apa alasanmu menanyakan anakku? Kau ingin merebutnya? Semoga itu tidak terjadi. Aku tidak ingin itu semua terjadi.” Jinsol bergumam sambil terus menatap bintang di langit.
“Nuna~” panggil seorang anak kecil dari belakang Jinsol. Jinsol segera berbalik dan memeluk anak kecil itu.
“Ada apa Sungjong? Dimana ayah dan ibumu?” Tanya Jinsol.
“Aku tidak bisa tidur… aku ingin tidur bersama nuna.” jawab anak itu sambil terus memeluk mainannya.

“Baiklah. Nuna akan menemanimu tidur. Jha.” Jinsol menggendog Sungjong dan membaringkannya di samping dirinya. Beberapa saat kemudian Sungjong dan Jinsol terlelap bersama-sama.

Sabtu, 16 April 2016

[Nappeun Namja Pt.3] New Life

Nappeun Namja Pt.3
New Life

Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol, Jung Yein, Lee Hoya
Genre   : Family, Happy (?), etc.
Length   : Chapter
Author   : Ms. Childish



“Ranking 1 pada hari ini. Diraih oleh seorang siswa yang sangat rajin dan terkenal di sekolah. Dan dia berencana untuk melanjutkan study-nya di Amerika. Mungkin siswa ini sudah tidak asing lagi di sekolah ini. Mari ucapkan selamat untuk Jeon Jungkook. Siswa yang selalu menduduki juara 1 disekolah.”
Jinsol bertepuk tangan malas sambil melihat wajah Jungkook. Air mata kini mengalir dari pelupuk matanya. Mengingat statusnya yang akan menjadi orang tua tunggal untuk anaknya. ‘Aku tidak akan menuntut apapun darimu Jungkook. Aku akan berdoa kepada Tuhan semoga kau selalu bahagia. Dan rasa sakit yang kau berikan, takkan pernah bisa aku lupakan. Kau adalah pria terjahat yang pernah aku kenal.’
“Ranking 2 tahun ini. Diraih oleh seorang siswi yang berbakat. Dengan setiap gerakan dance nya yang memukau dan juga suaranya indah. Berilah tepuk tangan untuk siswi kita yang bernama Lee Jinsol.” Jinsol kaget saat mendengar namanya disebut. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri berharap kakaknya akan datang. Ia menarik napasnya dalam-dalam kemudian berdiri dan melangkah ke atas panggung. Ia menerima piala yang diberikan oleh kepala sekolah. Jinsol tersenyum tipis. Di hatinya ia tidak ingin melihat wajah Jungkook. Dengan ekspresi wajah yang datar dan dingin, Jinsol berdiri di sebelah Jungkook.

Acara sudah selesai beberapa menit yang lalu. Jinsol melangkah keluar dengan piala di tangannya. Dengan wajah yang tampak sedih. Namun sesosok pria yang sangat dirindukannya tiba di hadapannya. Membuat senyumnya kembali mengembang. “Oppa!” teriak Jinsol sambil menghambur pelukan pada pria itu. “Oppa, bagaimana bisa kau datang ke Korea? Mana kakak ipar?” Tanya Jinsol.
“Kakak iparmu ada di rumah. Dia tidak bisa ikut.” Jawabnya.
“Oppa, aku bisa meraih juara 2 tahun ini. apa hadiahmu untukku? Apakah kau akan membelikanku mobil baru?” seru Jinsol sambil menunjukkan pialanya.
“Tidak. Aku akan membawamu ke Amerika. Oppa tidak yakin bisa meninggalkanmu di Korea.” Ujar pria itu sambil mengacak rambut Jinsol pelan.
“Baiklah oppa.”
“Ayo pulang. Mana kopermu? Aku akan membawakannya.”
“Tunggu dulu ya oppa. Aku harus mengatakan sesuatu pada seseorang. Oppa pergilah lebih dulu. Aku akan menyusul.” Ujar Jinsol. “Ah iya. Ini tolong bawakan pialaku juga.” Lanjutnya.

Jinsol berjalan menuju ruang latihan. Ia pergi menemui Taehyung disana. Dengan wajah sedihnya ia berjalan memasuki ruangan itu. “Taehyung oppa.” Panggil Jinsol pelan.
“Aku sudah tau semuanya. Aku tau kenapa kau datang kesini. Jungkook sudah memberitahuku. Kenapa? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku sebelumnya?! Kenapa?!” Taehyung mengguncangkan tubuh Jinsol sambil berteriak. “Jelaskan padaku!!” bentak Taehyung.
“Aku… aku tidak tau hal itu akan terjadi. Dan, seharusnya kau memarahinya bukan memarahiku. Karena dia yang memulainya lebih dulu. Dan apakah oppa tau apa yang dikatakannya saat aku mengatakan padanya kalau aku hamil? Dia menyuruhku menggugurkan kandunganku. Oppa. Aku mengerti perasaanmu saat ini. Kau pasti merasa jijik melihatku. Kau pasti tidak ingin melihatku lagi. Setelah hari ini. Aku akan pergi dari sini. Dan menjalani semua yang akan terjadi. Apapun itu. Aku akan melahirkan anak ini walau tanpa ayahnya dan tanpa ada sebuah pernikahan. Mulai saat ini dan seterusnya. Anggaplah kau tidak pernah mengenalku oppa.” Perlahan Jinsol berjalan mundur dan pergi meninggalkan Taehyung yang masih mematung. Gadis itu tidak meluapkan emosinya. Taehyung merasa kasihan pada Jinsol. Ingin dia menikahinya dan bertanggung jawab. Tapi bagaimana jika suatu saat Jungkook datang dan tiba-tiba sadar akan perbuatannya? Pikiran Taehyung kacau. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain merelakan Jinsol pergi.

Meet You Again

Jinsol dan kakaknya sudah sampai di rumah besarnya. Rumah yang Jinsol tinggalkan sejak ia tinggal di asrama. Jinsol menghempaskan tubuhnya di sebuah ranjang putih yang ada di kamarnya. Ia menatap ponselnya sekilas. Jinsol membuka ponselnya dan mengganti wallpaper nya dengan fotonya sendiri.
Tok tok tok
Jinsol mendengar suara ketukan pintu dari luar. Jinsol beranjak dari kasurnya dan membukakan pintu untuk orang itu. “Ada apa eonni?” Tanya Jinsol saat melihat kakak iparnya di depan pintu.
“Aku hanya ingin mengantarkan ini untukmu.” Ujar wanita itu sambil memberikan nampan yang berisi makanan diatasnya pada Jinsol. “Aku tau kau terlalu lelah untuk turun dan makan siang. Sebaiknya kau makan lalu panggil aku kalau sudah selesai. Jangan lupa istirahat.”
“Terima kasih eonni. Aku akan menghabiskannya.”
“Baiklah kalau begitu. Eonni masih ada pekerjaan. Selamat menikmati.”
“Ne eonni.” Jinsol memasuki kembali kamarnya setelah kakak iparnya pergi dari hadapannya. “Anakku. Kau pasti lapar. Tenang saja. Eomma akan memberikanmu makan yang enak setiap hari.” Gumam Jinsol sambil mengelus perutnya yang rata.

Hari demi hari berlalu begitu saja. Sudah lima bulan ia resmi lulus dari SOPA. Perutnya semakin membesar. Ia selalu menggunakan korset untuk menutupi kehamilannya. Asa takut dalam dirinya semakin besar. Bagaimana jika kakaknya tau kala dia hamil? Apa yang akan kakaknya lakukan? Apakah kakaknya akan mengusirnya? Ia sendiri bingung. Terkadang ia berpikir untuk memberitahu yang sebenarnya pada kakaknya. Namun tidak ada keberanian dalam dirinya untuk mengungkapkan itu.
“Jinsol? Kenapa kau melamun?” Tanya Hoya saat menyadari Jinsol sedang melamun dan tidak memakan makanannya.
“Kenapa kau tidak memakan makananmu? Kau sakit?” Tanya istri Hoya.
“T-tidak oppa, eonni. Aku baik-baik saja.” Jawab Jinsol sambil tersenyum kecut.
“Kau yakin baik-baik saja?” Tanya Hoya memastikan. Jinsol mengangguk lagi.

“Bagaimana aku bisa memberitahu oppa? Harusnya aku menggugurkan anak ini. Tapi aku tidak bisamembunuh anakku sendiri. Appa, Eomma. Mianhae. Aku tidak bisa menjadi anak yang baik. Kalian pasti sangat sedih. Tapi aku tidak ingin membunuh anak ini. Aku bukan seorang pembunuh.” Gumam Jinsol sebelum ia tertidur lelap.

Matahari sudah menjulang tinggi. Jinsol masih belum bangun dari mimpi indahnya.
“Apakah Jinsol belum bangun?” Tanya Hoya pada istrinya yang sedang menata makanan di atas meja.
“Kurasa belum. Aku akan membangunkannya.”
“Jangan. Kau selesaikan saja dulu pekerjaanmu. Biar aku yang membangunkannya.” Ujar Hoya sambil mengacak pelan rambut istrinya.

Sesampainya dikamar Jinsol, Hoya dikagetkan dengan sesuatu yang ada dihadapannya. Ia melihat Jinsol sedang mengusap perutnya yang membesar.
“Oppa?” Jinsol juga kaget saat oppanya tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.
“Apa-apaan ini Jinsol?!” Tanya Hoya geram. Jinsol terlihat kebingungan.
“Oppa aku bisa jelaskan ini.” Jawab Jinsol sambil mendekati oppanya.
“Bayi siapa itu?!” teriak Hoya.
“Ini… oppa. Maafkan aku.”
“Katakan padaku anak siapa itu?!” Bentak Hoya lagi sambil mengguncangkan tubuh Jinsol.
“Ada apa chagi? Kenapa kau berteriak?” Tanya istri Hoya yang baru tiba di kamar Jinsol.
“Apa itu anak dari seseorang yang bernama Taehyung itu?” Tanya istri Hoya pelan.
“Bu-bukan. Ini anak Jungkook oppa. Maafkan aku. Ini bukan salahku. Aku dipaksa oppa.” Jelas Jinsol sambil menangis.
“Jungkook? Siswa juara satu yang sangat berbakat itu?” Tanya istri Hoya. Jinsol mengangguk pelan.
“Dia sekarang pergi ke luar negeri. Aku tidak tau dia akan pergi ke mana.” Jelas Jinsol dengan suara pelan.
“Ikutlah denganku.” Ujar Hoya sambil menarik tangan adiknya keluar dari kamar.
“Oppa… kau akan membawaku kemana?” Tanya Jinsol.
“Gugurkan kandunganmu agar kita tidak menanggung malu. Kau tidak berpikir apa yang akan orang katakan saat melihatmu melahirkan tanpa suami?”
“Tidak oppa. Aku tidak akan menggugurkannya. Sampai kapan pun. Dia anakku. Kau tidak bisa membunuhnya oppa.” Jinsol memeluk perutnya sambil menangis.
“Chagi… Jangan paksa dia menggugurkan kandungannya. Aku yang akan membesarkannya. Aku akan membesarkannya sebagai anakku. Jangan membunuhnya. Cukup aku saja yang pernah kehilangan bayiku. Jangan melenyapkan bayi tidak berdosa itu. ku mohon…” pinta istri Hoya.
“Kau yakin? Baiklah. Aku tidak ingin menjadi pembunuh. Kita tidak bisa seterusnya tinggal disini. Aku akan mengurus kepindahan kita ke Amerika. Dan kita akan kembali lagi setelah anak itu sudah cukup besar.” Ujar Hoya.

1 Year Later

6 bulan yang lalu, Jinsol melahirkan bayi pertamanya. Bayi yang laki-laki yang sangat lucu. Ia memberinya nama Lee Sungjong. Ia berharap anaknya akan menjadi anak yang baik dan tidak seperti Jungkook. Ayahnya. Banyak harapan Jinsol pada Sungjong. Tepat saat Jinsol usai melahirkan, Hoya menyuruh Jinsol melanjutkan sekolahnya. Ia berencana mendaftarkan Jinsol di Universitas yang berada tak jauh dari rumah yang Hoya tempati dengan keluarganya. Setidaknya Jinsol bisa menyelesaikan sekolahnya. Jinsol mengiyakan rencana kakaknya. Jinsol juga berharap, ia akan menjadi seorang penyanyi terkenal diseluruh dunia.

4 Years Later

Acara wisuda telah selesai. Jinsol, Sungjong, Hoya dan istrinya duduk dalam sebaris kursi. Jinsol tersenyum senang sambil memangku Sungjong. Senyum Jinsol mengembang saat namanya di sebut sebagai pemenang juara 2 di universitas internasional tempatnya kuliah. Sungguh sebuah keberuntungan baginya. Sungjong membuatnya semakin bersemangat untuk belajar dan meraih cita-citanya sebagai pemusik. Namun sekarang, dia tidak lagi ingin menjadi seorang pemusik. Ia ingin menjadi seorang penyanyi terkenal di seluruh jagad raya.
“Oppa, terima kasih sudah merawat Sungjong dengan baik. Dan maafkan aku tidak bisa menjadi adik yang baik untukmu.” Ujar Jinsol sambil memeluk kakaknya.
“Nunaa… aku juga mauu…” rengek Sungjong dengan wajah lucunya.

‘Welcome to Seoul’
Jinsol tersenyum senang saat ia tiba di tanah kelahirannya. Setelah 5 tahun ia berada di Amerika bersama dengan kakaknya. Di depan, sudah ada sebuah mobil mewah yang menunggunya dan keluarganya. Ia pulang dengan membawa piala kebanggannya di kopernya. Tak jauh dari tempatnya berada saat ini, Jinsol melihat seorang wanita melambaikan tangan ke arahnya. Jinsol menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas wajah wanita itu. “YEIN!!” teriak Jinsol seketika. Jinsol berlari dengan cepat dan memeluk Yein dengan erat. “Aku merindukanmu Yein…”
“Kau terlihat semakin cantik. Ah iya. Kau tau Park Jimin? Teman kecil kita sekaligus tetangga yang dulu pernah menyatakan cinta padamu. Kau ingat?” Tanya Yein.
“Jimin yang imut-imut itu? Tentu saja aku ingat. Kenapa?”
“Kau tau? Sekarang dia menjadi seorang member boyband terkenal di Korea. Bahkan International. Mungkin.” Jelas Yein.
“Aku sudah tau itu.” Seru Jinsol dengan wajah cerianya. “Ah tunggu sebentar.” Ujar Jinsol sambil merogoh sakunya dan mengambil ponsel pink miliknya yang sudah berdering sejak beberapa detik yang lalu. “Oppa, aku akan pulang dengan Yein. Oppa pulanglah lebih dulu. Aku sudah meletakkan koperku di mobil. Aku tidak akan pulang terambat hari ini. Aku pastikan jam 2 aku sudah tiba di rumah. See you oppa. Jinsol mencintai Jongie.” Ujar Jinsol dengan cepat dan mematikan ponselnya.
“Kau masih sama seperti dulu. Kita mau kemana?” Tanya Yein.
“Tunggu dulu. Seseorang akan datang sebentar lagi.” Jinsol menahan tangan Yein dan melihat ke sekitarnya mencari seseorang yang akan datang menjemputnya. “Jimin!!” teriak Jinsol sambil melampaikan tangannya pada seseorang berkaca mata hitam dan memakai masker. Tidak jelas wajahnya tapi Jinsol bisa mengenal pria itu dengan baik. Seketika semua orang melihat kearahnya saat ia menyebutkan nama Jimin. “Ups!” Jinsol menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Seketika Jinsol menarik tangan Yein mendekati Jimin. “Sebaiknya kita mencari tempat yang aman untukmu Jimin.” ujar Jinsol saat tiba di dekat Jimin.

Disinilah mereka. Di sebuah rumah makan yang berada di dekat kota Seoul. “Bagaimana kabarmu Jinsolku?” Tanya Jimin sambil meminum jus pesanannya.
“Seperti yang kau lihat Jiminku.” Jawab Jinsol.
“Jiminku? Jinsolku? Kalian berpacaran?” Tanya Yein.
“Ssst… iya. Kami berpacaran sejak 2 tahun yang lalu. Maaf aku tidak memberitahumu.” Jawab Jimin.
“Um… Jinsol. Aku harus pergi dulu. Aku tidak bisa berlama-lama disini. Nanti managerku akan marah. Jimin. Tolong kau antar dia pulang nanti. Sampai jumpa.” Pamit Yein. Ia pergi meninggalkan Jimin dan Jinsol.
“Ne. Hati-hati dijalan Yein.” Ujar Jinsol.
“Umm… Jinsol. Apa besok kau ada waktu kosong? Aku ingin membawamu ke Dorm. Aku akan mengenalkanmu pada member BTS yang lain.” Ujar Jimin.
“Kurasa besok aku free. Karena jadwal syutingku masih minggu depan. Aku akan ikut. Tapi… bolehkan aku membawa Sungjong?”
“Kau ingin membawa Sungjong? Lalu siapa yang akan menjaganya?” Tanya Jimin.
“Kurasa Taehyung oppa bisa menjaganya dengan baik. Dia kan suka anak kecil.” Jawab Jinsol sambil tersenyum.
“Kau masih menyukai Taehyung? Katakan saja kalau kau gagal move on darinya.” Jimin terlihat kesal saat Jinsol menyebutkan nama Taehyung di hadapan Jimin.
“Apa salahnya hanya menitipkan Sungjong pada Taehyung? Aku hanya mencintaimu kau tau? Jangan pernah berpikiran seperti itu lagi Jimin. aku hanya mencintaimu. Hanya kamu. Kamu. Dan kamu.” Jinsol menggenggam tangan Jimin sangat erat sambil menunjukkan senyum manisnya yang selalu membuat Jimin tersepona setiap kali melihatnya.

Next Day
Pagi ini Jinsol terlihat sangat cantik dengan dress pink selutut miliknya. Dengan sepatu berwarna putih dan dengan riasan wajah yang terlihat natural. Dari jendela kamarnya ia melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Jinsol segera meraih ponselnya dan mengirimi Jimin sebuah pesan agar Jimin meminta ijin pada oppanya. Beberapa saat kemudian kakak ipar Jinsol memanggilnya untuk turun menemui Jimin. Dengan wajah penuh senyuman Jinsol segera mendekati oppanya.
“Pergilah.” Ujar Hoya.
“Benarkah? Terima kasih oppaaa” Jinsol segera menghamburkan pelukannya pada Hoya. “Ayo Sungjong. Oppa aku berangkat.” Pamit Jinsol.

Dorm BTS
Beginilah suasana dorm. Ramai. Gaduh karena semua member sedang berkumpul. Ditambah lagi hari ini mereka bebas dari segala kegiatan. Jinsol sedang berjalan disamping Jimin sedangkan Sungjong sedang digendong oleh Jimin.
“Ini ruang latihan BTS. Kau akan bertemu dengan member BTS disini.” Ujar Jimin pada Sungjong. Perlahan Jimin membuka pintu itu dan nampaklah semua orang yang sedang bersenda gurau di dalamnya.
“Jimin datang.” Ujar salah satu member BTS.
“Anak keciiil!” Ujar taehyung sambil meraih Sungjong dari gendongan Jimin. Ia segera membawanya berkumpul bersama member yang lain. Jungkook terlihat sangat menyukai balita itu. Ia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa ia ungkapkan melalui kata-kata pada anak itu.
“Mber. Aku ingin mengenalkan pacarku pada kalian.” Ujar Jimin. “Jinsol.”
Mendengar nama ‘Jinsol’ Jungkook terhenti dengan kegiatannya. Ia berharap itu bukan Jinsol yang dulu pernah ia perkosa di sekolah.

Jinsol perlahan memasuki ruangan itu dan langkahnya terhenti saat ia melihat Jungkook. ‘Jungkook?’ ujar batin Jinsol.

Sabtu, 25 April 2015

My Love From Indonesia

Title      :My Love From Indonesia
Cast       :Lee Jinsol, Park Jimin, and other
Length   :oneshoot
Genre    :Romance (May be), school life
Author   : Nam Ohyun



“Mama, Papa, aku berangkat dulu ya....” pamit seorang yeoja bernama Jinsol pada ayah dan ibunya. Hari ini ia akan berangkat ke tempat yang selama ini ia idamkan. Korea Selatan. Tentunya ia pergi untuk melanjutkan sekolahnya disana. Ia segera menaiki pesawat yang akan membawanya ke Korea Selatan. Selama perjalanan ia hanya membaca buku dan diam, memikirkan apa yang akan ia lakukan selama berada di Korea Selatan. Sesekali ia memandang foto keluarga yang ia selipkan dibukunya.
Beberapa jam kemudian, akhirnya ia sampai di bandara Incheon. Ketika ia sedang berjalan menuju pintu keluar tak sengaja ia di tabrak oleh seorang namja berambut pirang.
.
@Incheon Airport
“Aww!!!” pekik Jinsol.
“Mian. Mianhae, jeongmal mianhae.” Kata namja itu meminta maaf dan berlalu begitu saja tanpa membatu Jinsol bangun.
“Hey!!!” teriaknya. “Aduh, kakiku...” pekiknya sambil memegang pergelangan kakinya yang sakit. Ia pun segera bangun dan melanjutkan jalannya dengan kaki pincang.
“Nona Jinsol!” panngil seorang namja yang merupakan teman ayah Jinsol. “Gwaenchanha?”
“I’m okay uncle.” jawab Jinsol singkat. Ia tidak mengerti banyak tentang bahasa Korea. Kemudian mereka segera menuju ke mobil milik Paman Jeon.
“Terima kasih paman. Maaf, kalau saya merepotkan.” Ucap Jinsol.
“Tidak. Kamu sama sekali tidak merepotkan. Paman malah senang kamu datang ke negeri ini. Nah, kita sudah sampai. Ayo turun.” Akhirnya mereka berdua pun turun dari mobil itu.
“Waaahh...” Jinsol kaget melihat pemandangan yang sedang ada di hadapannya. Ternyata rumah pamannya jauh lebih besar dari rumahnya.
“Hey Jinsol. Sampai kapan kau akan berdiri disana? Ayo masuk...” ajak paman Jeon.
“Oh ne” Jinsol merasa sangat kedinginan karena ia terbiasa dengan udara panas di Indonesia. Ia segera memasuki rumah besar milik pamannya itu. Di dalam sudah ada seorang yeoja yang tak lain adalah istri Paman Jeon dan putranya yang bernama Jeon Jungkook.
“Hey Jinsol, kamu sudah datang?” sapa bibi Jeon.
“Ya tante.” Jawab Jinsol segera.
“Jungkook kenalkan ini Jinsol.” Kata Paman Jeon sambil memperkenalkan Jinsol pada Jeon Jungkook.
“Annyeong haseyo. Jeon Jungkook Imnida. You can call me Jungkook.” Sapa Jungkook yang di balas dengan anggukan dari Jinsol.
“Jungkook, Dia datang dari Indonesia untuk melanjutkan kuliah disini. Dan mulai besok kamu akan berangkat sekolah bersamanya.”
“Ne appa.” jawab Jungkook pasrah.
“Oh iya. Jungkook antar Jinsol ke kamarnya.” Perintah Paman Jeon.
“Ne appa.” Jungkook pun mengantarkan Jinsol ke kamarnya.
“Umm... Oppa! You can speak Indonesia?” tanya Jinsol.
“Of course saeng. Karena appa menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari.”
“Oh, kalau begitu, aku tidak perlu menggunakan bahasa Inggris kan kalau berbicara dengan Oppa?”
“Iya... ya sudah mandi dan istirahatlah. Kamu pasti lelah. Apalagi besok kamu sudah mulai sekolah.”
“Iya... makasih Oppa.” Jinsol pun segera mengunci pintu dan segera mandi. Selesai mandi Jinsol tidak lupa mengirimkan sebuah pesan kepada keluarganya di Indonesia kalau ia sudah sampai dengan selamat, kemudian tidur.
.
“Saeng, apa kau yakin akan berpenampilan seperti itu ke sekolah?” tanya Jungkook.
“Why? Aku suka dengan penampilanku. Lagipula kalau aku berpenampilan seperti semalam, aku takut. Takut ada yang suka sama aku. Hehe...” jawab Jinsol sangat percaya diri.
“kamu... bisa aja buat aku ketawa....” ujar Jungkook sambil sedikit tertawa.
“Appa, Eomma, aku berangkat dulu. Annyeong...” pamit Jungkook sambil melambaikan tangan. Berbeda dengan Jinsol yang terbiasa dengan mencium tangan Paman, dan bibi Jeon.
“Paman, Bibi, Jinsol berangkat ya...” pamit Jinsol.
“Iya. TTDJ ya...”
“Iya” “Ne” jawab Jinsol dan Jungkook bersamaan.
.
Daekyung University
“Awww!!!” pekik Jinsol. Ia tertabrak lagi oleh seorang namja yang kemarin menabraknya di Bandara.
“Neo...!” “You?!” ucap keduanya kompak.
“You are in bandara yesterday, right?!” tanya Jinsol memastikan. Namun pertanyaan Jinsol tak di hiraukan oleh Jimin. Ia berlalu begitu saja. Sama seperti kemarin.
“Jinsol, are you okay?” tanya Jungkook yang tadi sempat meninggalkannya karena jalan Jinsol sangat lambat.
“Oh.. I’m okay oppa.” Jawab Jinsol.
.
@Class
“Students. Kita kedatangan siswi baru dari Indonesia. Jinsol silahkan masuk.” Ujar saem sambil mempersilahkan Jinsol masuk.
“Hy all. Let me introduce my self. My name is Lee Jinsol. I came from Indonesia.”
“Ya! Hyung ireona... ada siswi baru.” Bisik Taehyung.
“Ah.. biarin. I don’t care.” Jawab Jimin malas dan tanpa menoleh sedikitpun pada Taehyung.
“Oke Jinsol, kamu bisa duduk di sebelah Jimin. Kamu tidak keberatan kan kalau duduk dengan namja?” Jinsol mengangguk dan tanpa banyak bicara Jinsol pun segera menuju bangku Jimin.
“Hyung dia menuju ke bangku kita. Palli ireona Hyung...” akhirnya Jimin bangun dan ia kaget melihat siswi baru yang Taehyung maksud.
“Tto? Aish... kenapa dia selalu muncul di hadapanku?” gerutu Jimin.
“Wae?” tanya Taehyung.
“Dia yeoja yang aku maksud kemarin V... culun banget kan?” Jimin menutup wajahnya dengan sebuah buku yang ada dihadapannya.
“Excuse me...” sapa Jinsol. Jinsol sebenarnya sudah tau kalau namja disebelahnya itu adalah namja yang menabraknya tadi dan kemarin. Tak lama kamudian dia membuka mulut. “Sampai kapan kau akan menutupi wajahmu seperti itu Park Jimin? Aku sudah tau kalau kamu yang menabrakku di bandara dan di koridor tadi.” Ujar Jinsol tanpa menoleh pada Jimin yang masih berusaha menyembunyikan wajahnya dari Jinsol.
‘darimana dia tau? Apa dia mengikutiku? Ah mana mungkin? Bukannya tadi dia langsung ke kantor? Arrhhgg.... molla...’ gerutu batin Jimin. Akhirnya perlahan Jimin menurunkan buku yang menutupi wajahnya dengan perlahan dampai akhirnya ia menampakkan wajahnya. “mian.”
“For what?” tanya Jinsol.
“Yesterday.” Kawab Jimin singkat.
“Oh, I’ve forgive you.”
“Are you Jungkook’s daughter?” tanya Jimin ragu.
“Yes. That’s right. But, how do you know about it?”
“Jungkook yang mengatakannya padaku.”
“Oh” jawab Jinsol singkat.
‘what? Just ‘Oh’? nothing another respon? Heuh... udah culun, belagu lagi...’ gerutu batin Jimin.
.
“Oppa!” panggil Jinsol pada Jungkook yang sedang berkumpul dengan para member BTS.
“Jamsimannyo” pamit Jungkook pada chingudeulnya. Ia segera mendekati Jinsol.
“Nugunde? Sepertinya dia bukan orang Korea.” Tanya Jin.
“Emang bukan, dia campuran santara Korea dan Indonesia.” Jawab Jimin tanpa memalingkan wajahnya dari minuman yang ada dihadapannya.
“Oh ya? Dari mana kau tau?” tanya J-Hope nyambung.
“Ya tau lah... secara.. dia itu teman sekelas sekaligus teman sebangkuku. You know?” semua member kecuali Jungkook *kan gak ada Jungkook ceritanya* menggeleng sebagai jawaban tidak tau.
“Oh iya? Kenalin aku dong Jimin...” rengek Jin.
“Ya! Hyung seleramu rendah banget sih. Dia itu kan culun, jelek lagi. Ish. No banget kalo aku.”
“Ya! Cantik atau jelek gak ngaruh. Yang penting setia. Arasseo?” jawab Jin tegas.
“Eh, jangan-jangan Hyung suka sama dia. Makanya dia bilang begitu padamu.... keutji?” goda Taehyung.
“Begini saja. Bagaimana kalau kita taruhan saja. Aku akan mentraktirmu sebulan penuh plus mobil baruku kalau kamu bisa mencium Jinsol di depan kita.” Tantang Jin.
“Haha... dia pasti takut. Iya kan Jimin?” Ejek Rapmon.
“Ani. Aku akan terima tantanganmu hyung. Jangankan didepan kalian. Di depan semua siswa pun aku berani.” Jawab Jimin tegas.
“Jjinjayo? Baiklah aku beri kau waktu dua minggu.” Lanjut Jin.
“Ah, Hyung itu terlalu lama. Bagaimana kalau seminggu saja?” tawar Suga.
“Ide yang bagus. Sepertinya akan lebih menarik tuh. Baiklah seminggu.” Jin menyetujui tawaran Suga.
“Mwo? Seminggu?” tanya Jimin kaget.
“Eo. Kenapa? Kau keberatan? Ya sudah.” Ujar Jin.
“Eh, lagi bicarain apa sih?” tanya Jungkook yang baru kembali dari pertemuannya dengan Jinsol.
“Mana Jinsol?” tanya Suga.
“Dia sudah pulang.” Jawab Jungkook seadanya.
“Oh ya sudah. Ayo ke ruang latihan.” Ajak Rapmon.
.
“Waaahhh!!! BTS!!!” teriak sekerumunan yeoja yang menyambut kedatangan para member BTS. Jinsol yang sudah terbiasa dengan wajah tampan seperti mereka hanya duduk, diam dan berusaha fokus pada novel yang sedang dibacanya. Kemudian tiba-tiba seorang namja duduk disebelahnya dan bertanya. “Kenapa kau tidak ikut menyambut kedatangan BTS?”
“Tidak. Karena aku tau mereka pasti tidak akan melihat kearahku. Apalagi Jimin. Walau kami sebangku, kami tidak pernah mengobrol kalau tidak penting.” Jawab Jinsol tanpa menoleh ke arah namja itu.
“Begitukah?” tanya namja itu.
“Tentu saja. Dan kau tau, dia itu juga sering me-“ tiba-tiba kalimat Jinsol terhenti ketika ia mendapatkan sosok Park Jimin di sampingnya.
“kenapa berhenti? Ayo teruskan. Aku sering me- apa?” tanya Jimin.
“Nothing. Hehe.. sorry.” Dengan segera Jinsol pergi meninggalkan Jimin.
.
Hari ini perasaan Jinsol terasa tidak nyaman. Entah kenapa ia merasa sangat malas pergi ke sekolah. Namun, ia memikirkan perjuangan orang tuanya di Indonesia untuk menyekolahkannya di Universitas impiannya. Jadi, mau tidak mau ia harus pergi kuliah. Hari ini Jinsol berangkat ke sekolah sendiri sementara Jungkook sudah berangkat duluan karena hari ini ia ada latihan pagi bersama para member BTS.
“Ya! Jimin-i! Ini sudah tujuh hari. Kenapa kau masih belum melakukannya?” tanya Jin.
“Hyung tunggu saja nanti. Aku akan menciumnya dihadapan kalian.” Jawab Jimin santai.
@Kantin
“Ya, Jimin-i itu Jinsol. Cepat, lakukan.” Tanpa banyak bicara Park Jimin mendekati Jinsol dan duduk di sebelahnya.
“Jinsol-ssi.” Tiba-tiba Jimin merasa gugup dan canggung. Tidak seperti biasanya. Jantungnya berdegup kencang.
“Apa? Ada apa?” tanya Jinsol tanpa menoleh ke arah Jimin.
“Look at me please Jinsol.” Jimin memegang dagu Jinsol agar menoleh ke arahnya.
“Hey!” teriak Jinsol kesal.
“I Love You Jinsol. Will u be my girlfriend?” Ucap Jimin singkat.
“Sorry, I haven’t time for answer it Jimin. Bye.” Jinsol segera beranjak dari tempat duduknya. Namun Park Jimin menahan tangan Jinsol kemudian menariknya.
“Hey! Lepaskan Jimin!” perintah Jinsol kasar. Namun Jimin tidak mempedulikan perintah Jinsol itu dan CHU~ ia mencium Jinsol. Segera Jinsol mendorong Jimin kemudian Plakk!! Sebuah tamparan mendarat dengan mulus di pipi Jimin. Jinsol sangat tidak menduga hal ini akan terjadi. Memang ia mengidolakannya namun ia tetap ingin menjaga kesucian bibirnya dan first kissnya.
“Ya! Jinsol ssi!” Park Jimin berusaha mengejar Jinsol namun ia terlambat.
.
@Jeon Family’s House
“Jinsol, what happen? Kenapa kamu pulang lebih awal? Dan... kau menangis?” tanya Nyonya Jeon. Namun Jinsol mengabaikan pertanyaan itu. Ia langsung menuju kekamarnya dan menguncinya rapat-rapat.
.
Ini sudah jam tujuh malam, tapi Jinsol belum juga keluar dari kamarnya. Dia bahkan belum makan sejak siang tadi. Jinsol terus saja menangis.
Tok tok tok
“Jinsol, open the door please....” Jungkook terus memanggil Jinsol dan memohon agar Jinsol membuka pintu kamarnya. Tapi Jungkook tidak mendengar jawaban Jinsol. “Jinsol, kamu belum makan sejak tadi. Ayo makan bersamaku.”
“Nggak! Kalian jahat! BTS jahat!” terak Jinsol dari dalam.
“Baiklah, aku atas nama Park Jimin dan member BTS lainnya meminta maaf atas apa yang telah terjadi. Okay?”
“U r late Oppa. Semuanya sudah terlambat!”
“Sebenarnya ada apa Jungkook? Kenapa Jinsol mengurung diri?” tanya Nyonya Jeon.
.
@Jungkook’s Room
“Tadi Jimin hyung menciumnya. Dan parahnya lagi, dia mencium Jinsol hanya untuk mendapatkan mobil baru Jin hyung.” Jelas Jungkook singkat
“Oh no.... kamu tahu kan Jungkook kalau Jinsol sangat sensitif dengan yang namanya berciuman?”
“Iya aku tau itu eomma. Tapi, aku sama sekali tidak tahu kalau Jimin hyung akan melakukannya. Aku takut. Aku takut Jinsol akan kembali ke Indonesia dan tidak mau lagi datang ke Korea eomma.”
“Apa kamu sudah menyuruh Jimin meminta maaf sama Jinsol atas perbuatannya?”
“Sudah, dan dia mengabaikan perintahku.”
.
Pagi ini Jinsol masih sangat kesal pada Jimin. Ia merasa dilecehkan, ia malu untuk pergi kuliah. Hari ini pagi-pagi sekali Jinsol mengemasi pakaiannya dan berencana untuk kembali ke Indonesia. Dengan terpaksa Jinsol harus berhenti mengejar impiannya. Saat ia keluar dari kamarnya semua orang melihatnya.
“Jinsol kamu mau kemana? Dan... kenapa kamu juga membawa koper?” tanya Jungkook.
“Ini gara-gara Jimin hyung di kantin kemarin kan?” tanya Jungkook curiga.
“Nggak Oppa, bukan. Paman, Bibi, Oppa, terima kasih sudah membiarkanku untuk tinggal disini walau hanya tujuh hari. Aku harus kembali ke Indonesia. Aku tidak bisa berlama-lama disini. Maaf kalau aku merepotkan kalian. Annyeonghi gaseyo.” Perlahan Jinsol melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu. Paman dan Bibi Jeon sangat sedih atas kepergian Jinsol dari rumah itu. Sementara Jungkook, ia sibuk menghubungi Jimin agar ia minta maaf pada Jinsol atas perbuatannya kemarin.
“Annyeonghi gaseyo.” Jinsol pamit pergi dan segera ia memasuki taksi yang sudah menunggunya.
.
@Incheon airport
Terima kasih Korea sudah memberiku banyak pengalaman baru. Aku tidak akan melupakan apa yang terjadi selama tujuh hari terakhir. Tapi ciuman itu. Ciuman itu membuat harga diriku terasa terinjak-injak. Gomawo Korea. Good Bye. –Jinsol-
.
2 Years Later
“Ya! Jimin-i! Neo wae? Sejak Jinsol pergi dua tahun lalu kau selalu menyendiri bahkan hampir tidak pernah latihan. Kalau kau memang mencintainya seharusnya kau datang saat dia akan pergi dan meminta maaf atas apa yang kau lakukan waktu itu. Bukan seperti ini.” Jin mulai mengoceh. Bagaimana tidak? Jimin sudah dua tahun menyendiri seperti ini dan tak sedikitpun muncul sebuah senyuman dari bibirnya.
“Benar. Dan seandainya aku berada di posisimu, aku akan menyusulnya ke Indonesia dan membawanya kembali.” Jawab Suga nyambung.
“Eo. Aku dengar Jungkook akan pergi ke Indonesia untuk merayakan birthday partynya Jinsol tanggal 4 Desember nanti.” Mendengar hal itu Jimin segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari ruangan itu.
.
@Jinsol’s House
“Jinsol!” panggil mama Jinsol.
“Iya ma!” Jinsol segera menuju ke kamar mamanya. “Ada apa ma?”
“Tanggal 4 Desember nanti, Jungkook dan orang tuanya akan datang kesini.”
“Oh ya? Asik, akhirnya aku bisa ketemu Jungkook oppa lagi.”
.
4 Desember 2015
Hari ini adalah hari ulang tahun Jinsol yang ke 20. *anggap saja umurnya segitu* Ia sangat senang karena Jungkook dan keluarga yang sangat ia cintai akan datang ke Indonesia.
.
@Juanda Airport
“Oppa! Na yeogi isseo!” teriak Jinsol ketika melihat Jungkook. “Oppa, aku sangat merindukanmu.” Ucap Jinsol sembari memeluk Jungkook.
“Saengil chukha hamnida.” Ucap Jungkook.
“Gamsahamnida. Oh iya mana Paman dan bibi Jeon?”
“Mereka tidak bisa datang. Karena masih banyak pekerjaan. Mereka menitipkan ini untukmu.” Jungkook memberi bingkisan kepada Jinsol. Kado ultah dari Paman dan Bibi Jeon.
“Ya sudah, ayo pulang.” Ajak Jinsol. Mereka pun akhirnya pergi dari bandara itu dan menuju rumah Jinsol.
“Penampilanmu masih seperti di Korea. Kenapa?”
“Molla. Tiba-tiba aku tertarik dengan penampilan ini.”
.
Birthday Party
“Kook, ternyata Jinsol itu sangat cantik yah. Jinsol terlihat seperti princess malam ini.” Ujar Jimin.
“Jimin, kau tau kenapa dia berpenampilan culun sewaktu ia masih di Korea?” Tanya Jungkook. Jimin hanya menggeleng. “karena dia tidak ingin ada orang yang mencintainya karena penampilannya. Dan satu lagi. Kau tau siapa yang paling ia idolakan diantara kita bertujuh?”
“Uri? Bangtan? Nugu?”
“Hyeong-iya.” Mata Jimin membulat ketika ia mendengar bahwa Jinsol sangat mengidolakannya.
“Naega?”
“Um. Hyeong. Dia pergi ke Korea melanjutkan sekolah bersama kita karena dia ingin melihat secara langsung idolanya. Tapi, ternyata idolanya malah mengecewakannya dan membuatnya marah. Bukankah aku sudah bilang kalau dia tidak suka seperti itu?”
“mianhae Kook. Aku salah. Seharusnya aku tidak melakukan itu.” Kedua insan tersebut terus saja memperhatikan Jinsol yang sedang bersenda gurau dengan teman-temannya. Jungkook meletakkan gelas minumannya dan mendekati Jinsol. “Kookie eodigayo?” tanya Jimin. Jungkook tetap berjalan dan tidak menghiraukan pertanyaan Jimin.
“Jinsol. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Dia sangat merindukanmu dan dia juga menggalau selama dua tahun terakhir.” Ujar Jungkook.
“Huumm... aku tau maksud oppa siapa. Jimin kan? Oppa jebal, aku ingin melupakan hal itu dan melupakan orang itu.” Jawab Jinsol.
“Tapi saeng kamu harus melihatnya. Dia... dia ingin meminta maaf padamu.” Paksa Jungkook
“Bilang saja aku sudah memaafkannya.” Jawabnya cuek.
“Jinsol maaf kalau aku punya salah sama kamu.” Tiba-tiba Jinsol menjauh ketika Park Jimin mendekatinya. Namun dengan segera Park Jimin mengejar Jinsol. “Jinsol dengarkan aku. Tolong maafkan aku. Maafkan aku sudah lancang menciummu waktu itu. Jinsol, aku sudah tidak sanggup lagi memendam perasaanku. Aku ingin mengungkapkannya padamu. Jinsol, saranghaeyo. Nan neomu neomu neomu saranghaeyo.”
“Jimin-ssi?” Jinsol menatap mata Jimin. Mencari kebohongan dibalik sana. Namun hasilnya nihil, ia hanya melihat kebenaran. Jinsol tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Seolah ia bisu.
“Jinsol-ssi. Nae yeoja chingu ga dwae o jullae?” tanya Jimin.
“Jimin-ssi?” Jinsol kembali bertanya karena ia masih tidak percaya.
“Nan jeongmalyo. Jebal. Beri aku kesempatan untuk bersamamu dan menjalani semuanya bersamamu. Aku merasa sangat kehilanganmu dan aku menyesal. Aku menyesal sudah melakukannya Jinsol. Jebal, kembalilah ke Korea.” Ajak Jimin sambil menggenggam tangan Jinsol.
“Jimin maaf. Tapi aku sudah tidak percaya lagi sama kamu. Kamu membujukku untuk membawaku kembali ke Korea karena kamu menginginkan sesuatu dari member BTS yang lain kan? Aku nggak mau.” Kini Jinsol sepertinya sudah kehilangan kepercayaannya untuk Jimin.
“Jinsol jebal. I’m serious. Aku benar-benar tulus mengajakmu kembali ke Korea bukan karena ada tujuan lain.” Ucap Jimin sambil mengeratkan pegangannya.
“Jimin! Tolong jangan paksa aku!” Teriak Jinsol sambil menghempaskan tangan Jimin. Jinsol berlari menuju kamarnya dan menguncinya. Jimin tidak tinggal diam. Dia ikut memasuki rumah milik Jinsol dan menggedor-gedor pintu kamarnya.
“baiklah kalau kamu benar-benar tidak menyukaiku. Aku tidak akan memaksa. Kalau begitu aku pergi. Good bye. Maaf sudah mengganggumu.” Ucap Jimin dari luar kamar. Jinsol bersandar ke pintu dan menangis. Ia bingung. Selama ini ia hanya menghayal tentang Jimin dan menjadi pacarnya. Tapi saat dia benar-benar telah menjadi kenyataan dia malah berhenti memimpikan Jimin hanya karena satu hal. Satu hal yang tidak bisa ia lupakan walau sudah terjadi dua tahun yang lalu saat ia masih di korea.
“Jinsol. It’s me. Jungkook. Open the door please.” Ucap Jungkook lembut sambil mengetuk pintu. Jinsol menghapus air matanya dan membukakan pintu untuk Jungkook. “Bolehkan aku masuk?”
“Oh ne.” Ucap Jinsol dan menutup kembali pintu itu setelah Jungkook masuk.
“Kamu kenapa? Eum? Jawab oppa. Kenapa?” tanya Jungkook lembut sambil memegangi lengan Jinsol. Jinsol diam. Air matanya kembali mengalir. “Bukankah kamu ingin menjadi pacar Jimin? Bukankah kamu selalu bilang kalau kamu ingin Jimin jadi kenyataan dalam hidupmu? Kenapa kamu seperti ini? Jinsol answer me.”
“Oppa... sebenarnya aku juga mencintainya. ah tidak aku sangat mencintainya. Sebenarnya aku tidak ingin jauh darinya. Tapi sejak kejadian itu, aku merasa harga diriku terinjak-injak.”
“Jinsol dengar. Cinta sejati itu hanya datang sekali. Kamu tau kan kalau dia melakukannya dengan tulus. Jimin bilang padaku kalau dia melakukannya dengan tulus. Dia bahkan tidak menerima barang yang telah di janjikan oleh Jin Hyung. Karena ia merasa bahwa barang itulah yang membuatnya kehilanganmu. Jinsol, sebaiknya kau pikir-pikir kembali. Ikutilah kata hatimu. Dan kejarlah dia sebelum dia pergi jauh darimu.” Jinsol menatap mata Jungkook. Ia merasakan sesuatu yang berbeda saat mendengar ucapan Jungkook tadi. “Mungkin kamu lelah. Sebaiknya kamu tidur.” Jungkook pun akhirnya keluar dari kamar Jinsol.
.
Jinsol sedang menyisir rambutnya yang berantakan. Jungkook mengetuk pintu pelan dan meminta ijin kepada Jinsol untuk masuk.
“Jinsol, apa kau benar-benar akan membiarkan Jimin pergi sendiri? Apa kau yakin kau akan baik-baik saja setelah Jimin pergi? Dua puluh menit lagi Jimin akan kembali. Ku harap kau benar-benar mengikuti kata hatimu.” Mendengar hal itu, Jinsol segera beranjak dari duduknya dan pergi mengemudikan mobilnya menuju hotel tempat Jimin berada. Jinsol diberi tau oleh Jungkook tentang hotel tempat Jimin menginap semalam. Ia segera memasuki lift dan mencari kamar Jimin. Namun pintunya terkunci rapat. Ia segera kembali dan menuju bandara berharap Jimin masih disana.
.
@Juanda Airport
“Jinsol, maafkan aku atas semua yang telah aku lakukan padamu. Aku benar-bena menyesal telah melakukannya padamu saat kamu masih bersamaku. Mungkin ini akan jadi yang pertama dan terakhir kali aku berkunjung ke rumahmu. Good bye Surabaya.” Saat Jimin membalikkan badannya.
“Jimin!” suara seseorang yang tak asing lagi bagi Jimin terdengar sangat kencang memenuhi setiap sudut bandara. “hosh hosh hosh.... Jimin.”
“Waeyo kook?” tanya Jimin heran. Bagaimana tidak? Jungkook datang dengan napas yang tidak teratur dan ekspresinya terlihat sedih.
“Jinsol! Jinsol kecelakaan. Dan sebaiknya kau tunda dulu keberangkatanmu.” Jelas Jungkook.
“Mianhae Kook. Tapi Jinsol tidak ingin menemuiku lagi.” Jimin terlihat sedih.
“Aniyo. Tidak seperti itu. Jimin. Kau bilang kau sangat mencintai Jinsol? Tapi apakah ini yang dilakukan oleh orang yang saling mencintai?” Jungkook memberikan kode untuk Jimin.
“Maksudmu? Saling mencintai?” tanya Jimin tidak mengerti.
“Iya. Jinsol mengakui semuanya semalam padaku kalau dia juga sangat mencintaimu. Dan sebaiknya kamu tunda dulu keberangkatanmu.” Akhirnya Jimin dan Jungkook pun pergi kerumah sakit mengunjungi Jinsol.
@Hospital
Jimin menangis sambil menggenggam tangan Jinsol. Air matanya tidak berhenti mengalir. Ia terus menangis menunggu Jinsol sadar. Perlahan jari tangan Jinsol bergerak dan matanya juga mulai terbuka.
“Jinsol?” panggil Jimin lembut. Ia senang Jinsol telah sadar. Dengan segera Jimin memeluk Jinsol erat.
“Mianhae Jimin.” Air mata Jinsol mulai mengalir.
“Jinsol saranghae. Nan jeongmal saranghaeyo.”
“Nado Jimin. Nado.” Jinsol melepas pelukan Jimin. Keduanya tersenyum sekilas dan kembali berpelukan. “Jimin, apakah kata-katamu waktu itu masih berlaku?” tanya Jinsol yang masih berada dalam pelukan Jimin.
“Yang mana?”
“Saat kau memintaku menjadi yeoja chingumu.”
“Tentu. Itu berlaku sampai kapanpun. Karena aku sangat mencintaimu.”
“Semalam aku belum menjawab pertanyaanmu. Jadi, bolehkah aku menjawabnya sekarang?”
“Tidak perlu. Kau tidak perlu menjawabnya. Karena aku tau jawabanmu.”
“Bagaimana bisa kau tau?”
“Karena aku bisa membaca kata hatimu.” Keduanya tersenyum dalam pelukan. Jimin semakin mengeratkan pelukannya.
“Ehem... maaf mengganggu...” ucap Jungkook sambil berdeham.
“Hehehe....” ketiga insan tersebut tertawa bersama.
.
7 Days Later
Hari ini Jinsol, Jimin dan Jungkook akan kembali ke Korea. Jinsol yang sudah lulus kuliah karena kepandaiannya sekarang bekerja di Big Hit Entertainment bersama Park Jimin namja chingunya.
“Mama, papa, Jinsol berangkat ya...” pamit Jinsol.
“Ahjumma, ahjussi, aku kembali dulu ya...” pamit Jungkook.
“ehem... Ayah mertua, ibu mertua, saya pamit pergi ya...” pamit Jimin. Ia merasa gugup saat bertatap muka dengan kedua orang tua Jinsol.
“Ya!” teriak Jinsol tepat di telinga Jimin.
“Wae? Bukankah setelah ini kita akan menikah?”
“Kau kira aku mau menikah denganmu?” Tanya Jinsol.
“Sepertinya begitu. Hehehe….”
“Ya! Jimin! Saeng! Sampai kapan kalian akan disana. Ghaja palli pesawatnya sudah mau berangkat.” Teriak Jungkook.
“Bye Pa... Bye Ma...” Jinsol, Jungkook dan Jimin melambaikan tangan ke arah orang tua Jinsol.

-End-