Tampilkan postingan dengan label Married Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Married Life. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2016

You Are My Wife

You Are My Wife

Cast      : Kim Jungyeon, Park Jimin.
Genre   : NC, Married Life
Length   : One shoot
Author   : Ms. Childish

Jungyeon POV

“Pakaian ini menyusahkanku.” Umpatku sambil berjalan menuju rumah baruku bersama seorang pria yang sudah sah menjadi suamiku sejak beberapa jam yang lalu. Usiaku memang masih muda. Bahkan terlalu muda untuk menikah. Yah, kalian pasti ingin tau kenapa menikah dengannya.

Beberapa tahun yang lalu saat usiaku masih balita, aku dijodohkan dengan putra dari sahabat ayahku. Aku mengetahui hal itu karena ayah yang menceritakannya padaku saat pertama kali ayah tau aku memiliki kekasih. Usia kami tidak berbeda jauh. Hanya berbeda 5 tahun. Dia sendiri saat ini sudah bekerja. Meneruskan perusahaan ayahnya sebagai presiden direktur. Dia sangat tampan, tinggi yaah walau tidak setinggi pria lainnya, dan… sexy. Kata yang cocok untuknya.

“Aku mau mandi dulu. Kau pasti lelah. Sebaiknya kau tidur duluan.” Ucapku sambil berjalan menuju kamar mandi. Namun beberapa detik kemudian dia menarik tanganku dan memelukku dengan sangat erat.
“Apa kau ingin melewati malam pertama kita? Mungkin kita bisa melakukanya setiap malam. Tapi malam pertama hanya terjadi sekali dalam sebuah pernikahan. Apa kau yakin akan melewati malam pertama ini denganku?” ujarnya. Ia masih memelukku dengan erat. Sungguh ini membuatku sangat risih. Aku tidak nyaman dengan perkataannya. Tapi ibu bilang aku tidak boleh menolak permintaan suamiku. Apapun yang ia minta aku harus menurutinya. Kenapa? “Yeon? Jawab aku.” Ujarnya memanggilku sambil mengusap punggungku pelan. Aku semakin risih.
“Ba-baiklah.” Jawabku terbata-bata. Sungguh aku sangat gugup. Badanku gemetar dan jantungku berdetak semakin cepat. Ini pertama kalinya bagiku.

Sebuah ciuman kini mendarat di bibirku. Bibir tebalnya menyapu bibirku. Aku dapat merasakan hisapan lembutnya terhadap bibir atasku. Ini benar-benar membuat jantungku terasa ingin lepas. Entah sejak kapan aku sudah berada dibawahnya dengan tanpa busana. Aku tidak menyadari semua yang terjadi. aku seakan terbuai dengan setiap perlakuannya. Beberapa saat kemudian aku merasakan bibirnya sudah tidak lagi menempel pada bibirku. Namun jaeak kami masih begitu dekat.
“Kau siap?” tanyanya meyakinkanku. Entah apa itu maksudnya aku tidak mengerti. Benar. Sejauh ini yang aku tau hanya sebatas ciuman. Aku tidak mengerti tentang hal ini.
“Akh!” aku menjerit saat merasakan ada sesuatu yang masuk bagian kewanitaanku. Ini benar-benar sakit. Aku merasakan ada sesuatu yang sobek di dalam sana. Entah apa itu, tapi ini benar-benar sakit. Air mataku mengalir, aku meringis kesakitan sambil memejamkan mataku kuat-kuat.
“Tahanlah Yeon. Ini hanya sesaat. Percayalah padaku kau akan menikmatinya setelah ini.” suara Jimin tidak terlalu jelas di telingaku. Aku hanya bisa menahan rasa sakit itu. Aku bahkan mencengkeram punggung suamiku untuk melampiaskan rasa sakitku. Ini sangat sakit. Suamiku mencoba meredam rasa sakitku dengan menciumku. Perlahan aku mersakan ia mulai menggerakkan pinggulnya pelan-pelan. Sakit. Sangat sakit. Namun seiring berjalannya waktu rasa sakit itu mulai berkurang dan berubah menjadi suatu kenikmatan yang mebuatku selalu menginginkannya. Hingga akhirnya kami mencapai puncak dari perminan ini. “Aku mencintaimu Yeon.” Dia mencium bibirku singkat dan menaikkan selimut untuk menutupi tubuh telanjang kami yang basah dengan keringat.
“Aku juga Jimin oppa.” Jawabku seraya memeluknya. Ini akan menjadi malam yang takkan terlupakan sepanjang hidupku.

Sinar matahari menembus kaca kamar pengantiku hingga membuatku silau. Aku menoleh kesamping kananku. Kosong. Aku mencari Jimin di sekeliling sudut tanpa menggerakkan tubuhku. “Akh!” aku memekik pelan saat aku merasakan sakit yang luar biasa di bagian bawah tubuhku. Aku bahkan lupa kalau saat ini tubuhku hanya ditutupi selimut tebal.
Ceklek
Aku dapat mendengarnya. Suara pintu terbuka dan menampakkan sosok pria tampan yang berotot dan… tampan.
“Kau sudah bangun? Aku membuatkan sarapan untukmu. Mandilah.” Aku tersenyum saat melihatnya mendekatiku. Sungguh ini seperti mimpi. Namun aku menggeleng saat ia menyuruhku mandi. Bagaimana bisa aku mandi? Berjalan pun rasanya aku tidak mampu. “Kenapa? Kau harus mandi.” Lagi-lagi aku menggeleng. Bagaimana aku mengatakannya? Aku malu. Tidak. Aku tidak boleh malu. Dia suamiku.
“Umm… itu… bekas semalam…” ujarku terputus-putus. Bagaimana aku mengatakannya?
“Oh… masih sakit kah? Baiklah. Aku akan membantumu ke kamar mandi.” Jimin menggendongku! Oh tidak! Pipiku terasa panas saat ia mulai mengangkatku dan membawaku ke toilet. “Panggil aku kalau kau sudah selesai.” Aku hanya mengangguk menurutinya.

Sudah seminggu kami menikah. Rasanya baru kemarin aku menikah. Dan sekarang sudah hari ke 7. Hari ini dia sudah kembali bekerja. Dan sepertinya waktuku dengannya akan semakin berkurang dan aku akan selalu merindukannya. “Aku berangkat dulu. Jaga dirimu baik-baik ya.” Pamitnya sambil mencium dahiku.
“Cepatlah pulang oppa. Jangan nakal.” Aku mencubit hidungnya. Sungguh menggemaskan. Aku tidak pernah berpikir akan mendapatkan jodoh sebaik dia.
“Aku tidak nakal. Ya sudah. Aku berangkat. Sampai jumpa.” Jimin pun pergi bekerja.

Hari ini adalah hari ke 30 kami menikah. Terasa begitu cepat. Siang ini aku berencana membawakannya makan siang khusus buatanku. Aku berharap dia akan menyukainya. Saat ini aku sudah berada di depan perusahaan suamiku. Aku mencoba menghubunginya sebelum aku sampai. Dia tidak mengangkat panggilanku. Berkali-kali aku menghubunginya namun tetap saja tidak dijawab. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk datang ke kantornya tanpa berpikir panjang. Sesampainya di depan ruangan Jimin aku melihat tempat sekretaris suamiku kosong. Mungkin dia sedang ada urusan di dalam. Aku mengetuk pintu kantor suamiku. Tidak ada jawaban dan tidak ada juga yang membuka pintu. Aku memutar kenop pintu itu. “Tidak dikunci. Kenapa aku mengetuknya? Aku bodoh.” Rutukku pada diriku sendiri. Aku segera masuk dan betapa kagetnya aku saat aku melihat pakaian wanita berserakan dilantai. Aku juga mendengar sesuatu. Seperti desahan seorang wanita. Dan… dia menyebut nama suamiku? Ada apa ini? Aku melangkah keluar dan membanting pintu. Ku harap Jimin akan mendengar suara pintu itu dan segera keluar. Aku meletakkan rantang yang kubawa di meja sekretaris dan segera pergi.

Aku pergi dari kantor itu. Entah mau kemana aku sekarang. Aku tidak ingin pulang. Aku tidak ingin pulang kemana pun. Tapi aku tidak bisa terus berada diluar rumah. Baiklah. Aku putuskan untuk pulang.

Sesampainya dirumah, aku segera menuju kamarku dan duduk dilantai bersandar pada tempat tidur serta memeluk lututku.
Drrrttt… Ddrrttt….
Ponselku bergetar. Aku mengambilnya dan melihat nama pemanggil. ‘suamiku’ cih. Apakah dia suamiku? Dia bahkan bercinta dengan sekretarisnya sendiri. Aku mengubah nama kontak suamiku menjadi ‘Jimin’ nama yang apa adanya. Aku meletakkan kembali ponselku dan membiarkannya bergetar. Aku menangis, tentu saja. Siapa yang tidak sakit hati jika melihat suaminya bercinta di hadapan istri sahnya? Atau selama ini aku hanya dianggap sebagai pemuas sexnya?

Jimin POV

Saat ini aku sedang menikmati tubuh sexy sekretarisku. Tapi sungguh. Tubuh istriku jauh lebih merangsangku daripada wanita ini.
Jedorr!!!
Suara pintu itu mengagetkanku. Siapa yang menggangguku saat aku sedang bercinta seperti ini? ah? Apakah pintu itu tidak terkunci sejak tadi? Bagaimana jika pegawaiku melihatku? Aku segera melepaskan kontak kami dan aku kembali berpakaian dan melemparkan pakaian sekretarisku. Aku berlari keluar dan menemukan sebuah rantang makanan. Aku segera membukanya. “Yeon? Apakah tadi itu dia? Tidak. Bagaimana bisa dia datang tanpa mengabariku?” gumamku. Aku segera mengambil ponselku dan melihat 10 panggilan tidak terjawab. Dan semuanya dari istriku. Aku mencoba menghubungi istriku. Tidak dijawab. Aku berjalan keluar dan mencari istriku. Mungkin saja ia masih diluar. Tapi tidak. Dia sudah tidak disana. Aku segera menuju perkiran dan mencarinya di rumah.
“Yeon!” teriakku sambil membuka setiap pintu ruangan di rumahku.
“Yeon!” aku membuka pintu kamarku dan disanalah dia berada. Memeluk lututnya dan memendam kepalanya diatara lututnya. Aku dapat mendengar tangisannya. “Yeon…” panggilku lembut.
“JANGAN SENTUH AKU! KAU BUKAN SUAMIKU! MULAI SEKARANG KAU BUKAN LAGI SUAMIKU!” bentaknya sambil menghempaskan tanganku yang barusan menyentuhnya.
“Yeon. Maafkan aku.”
“TIDAK! AKU TIDAK BISA MEMAAFKANMU! SELAMA INI AKU MEMANG BODOH! AKU HANYA KAU ANGGAP SEBAGAI PEMUAS SEXMU! AKU TIDAK PERNAH ADA DIHATIMU! MULAI SAAT INI KITA BUKAN LAGI SUAMI ISTRI! KITA AKAN SEGERA BERCERAI!”
“Yeon. Maafkan aku. Aku berjanji padamu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Aku hanya mencintaimu. Dan kau bukan hanya pemuas nafsuku. Kau istriku. Penghuni hatiku. Percayalah padaku.”
“JANGAN SENTUH AKU! SEKALI KAU MENYENTUHKU AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN DIRIKU HIDUP!!!” lagi-lagi dia berteriak. Aku mencoba untuk tidak terbawa dengan emosiku.
“Baiklah. Tidak ada maaf untukku. Aku menerima semuanya. Lakukanlah apapun yang kau inginkan. Ini memang salahku. Silahkan. Jika kau ingin selingkuh juga. Aku tidak akan melarangmu untuk melakukannya.” aku menunduk. Aku dapat mendengar tangisan Jungyeon yang semakin menjadi. Aku memang pria tidak berperasaan. Harusnya aku tidak melakukannya. Harusnya aku hanya melakukan hal itu dengan istriku. Aku salah. Maafkan aku Yeon.

SKIP

Sudah hampir seminggu Jungyeon tidak menyapaku. Tidak membuatkan sarapan. Tidak mencuci bajuku. Bahkan tidur pun terpisah. Aku sering melihatnya pulang tengah malam. Apa yang ia lakukan? Aku tidak bisa focus pada pekerjaanku. Sejak tadi aku hanya memikirkan Jungyeon. Memikirkan apa yang ia lakukan di luar sana. Pergi pagi dan pulang tengah malam. Haruskah aku mencari tau? Yah, mungkin itu perlu. Aku segera pergi dari kantorku. Pulang. Itu yang aku pikirkan sebelum aku memutuskan untuk pergi mencari Jungyeon.
“Sekretaris Han, hari ini aku ijin. Jika ada yang menanyaiku katakan saja aku sedang ada urusan pribadi.” Pamitku pada sekretaris baruku.
“Ne sajangnim.”

Aku baru saja sampai di depan rumah. Aku segera masuk dan aku melihat sepasang sepatu pria di depan pintu masuk. Aku mempercepat langkahku dan aku menemukan Jungyeon sedang berciuman dengan pria itu. Lancang sekali pria itu menyentuh istriku. Aku mengepalkan kedua tanganku dan segera menjauhkan pria itu dari Jungyeon. Aku memukulnya beberapa kali. “Beraninya kau mencium istriku!” aku memukulnya lagi. Emosiku benar-benar tidak bisa ku kendalikan lagi.
“Jimin?” aku dapat mendengar suara Jungyeon saat aku berhenti memukuli pria itu.
Aku melihat Jungyeon menghampiri pria itu dan membantunya berdiri.
“Bangunlah. Maafkan aku.” Ujarnya pada pria itu. “Aku akan mengobati lukamu di kamar.”
“JUNGYEON!!!” bentakku saat Jungyeon menuntun pria itu menuju ke kamarnya. Istriku mengabaikanku. Seperti inikah perasaannya saat ia melihatku berhubungan intim dengan sekretaris lamaku? Aku benar-benar bodoh.

Tak lama setelah kejadian tadi, Jungyeon dan laki-laki itu keluar dari kamar. Jungyeon mengantarnya hingga depan pintu. Aku menghampiri Jungyeon saat pria itu pergi dari rumahku. Aku menarik Jungyeon ke dalam pekukanku. “Maafkan aku.”
“LEPASKAN AKU!” bentaknya sambil menjauhkan dirinya dari pelukanku.
Aku memeluknya kembali dengan sangat erat. Aku dapat merasakan ia memberontak. Namun setiap kali ia berusaha melepaskan diri aku semakin mempererat pelukanku. “Jungyeon maafkan aku. Aku tau. Aku sudah merasakan semua rasa sakit yang kau rasakan saat itu. Sudah cukup jang dilanjutkan lagi. Sampai kapan kau akan marah padaku? sampai kapan kau akan menyakitiku? Aku sudah tidak berhubungan dengan sekretarisku. Aku bahkan memecat sekretarisku setelah kejadian itu. Maafkan aku. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu. Seperti saat kita masih belum menikah. Maafkan aku.”
“Oh begitu. Jadi jika aku tidak datang ke kantormu saat itu dan mengetahui semuanya kau masih akan terus berselingkuh dengan wanita lain? Kau brengsek Jimin. Jangan dekati aku lagi. Aku tidak ingin melihatmu lagi.” Kenapa ini begitu menyakitkan? Aku sudah meminta maaf padanya. Apakah aku harus melakukan hal yang lebih dari ini? mungkin jika aku melakukannya lagi dia akan bersikap baik padaku dan memaafkanku.
“Benarkah begitu? Apakah setelah ini kau masih tidak akan memaafkanku?” Ucapku sambil menggendongnya ke kamarku. Aku dapat melihatnya terkejut. Ia meronta tapi aku terus membawanya hingga sampai di kamarku. “Aku tidak akan pernah melepaskanmu Yeon.” Aku membaringkannya di kasurku dan menciumnya dengan kasar. Tidak butuh waktu lama. Ia pun membalas ciumanku. ‘Aku tau kau juga menginginkannya Yeon. Aku merindukanmu. Aku merindukan masakanmu dan semuanya.’

SKIP

“Huweek…” samar-samar aku mendengar suara seseorang sedang mual. Aku beranjak dari tidurku dan memakai pakaianku yang tersebar di kamarku. “Huweeek…” aku mendengarnya lagi. Ada apa dengan Jungyeon? Mungkinkah….
“Chagi…” aku memeluk Jungyeon dari belakang. “Aku sangat senang.”
“Apa maksudmu?” tanyanya. Ia sepertinya tidak megerti.
“Sepertinya kau hamil.” Jawabku sambil terus memeluknya.
“Ha-hamil? Be-benarkah itu?” Jungyeon terlihat seperti ketakutan.
“Itu hanya dugaanku. Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit saja dan memeriksakannya dengan benar.”

“Bagaimana keadaannya dokter?” tanyaku saat dokter itu selesai memeriksa istriku.
“Usia kandungannya sudah berjalan 3 minggu. Mual-mual saat awal kehamilan itu wajar. Dan jika istri anda akan meminta sesuatu tolong berikan saja.”
“Be-benarkah aku hamil?” Jungyeon menangis. Kenapa? Apakah dia bahagia? Atau dia belum siap menjadi seorang ibu?
“Iya nyonya Park. Anda harus memeriksakan perkambangan kandungan anda setiap bulan bersama Tuan Park.” Jelas dokter itu.
“Baiklah kalau begitu terima kasih dokter.” Aku berpamitan dan membawa Jungyeon pergi.
Sampai di mobil aku masih melihatnya menangis. aku memberanikan diri untuk bertanya padanya. “Kau kenapa?”
“Oppa. Aku tidak mau hamil.” Jawabnya.
“Wae? Kau belum siap menjadi ibu?” tanyaku lagi.
“Huum. Aku tidak mau menjadi gendut lalu kau mencari wanita lain. Hiks…” yaampun. Istriku benar-benar polos.

“Bagaimana bisa seperti itu? Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji. Lagi pula itu juga hasil perbuatanku sendiri. Aku berjanji padamu. Aku akan menghabiskan waktu bersamamu dan calon bayi kita. Aku mencintaimu Jungyeon.”

[Nappeun Namja Pt.6] Marry You And Happy

Marry You and Happy

Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol
Genre   : NC, Married Life, etc.
Length   : Chapter­­
Author   : Ms. Childish



One Month Later

Jungkook datang menemui Jinsol di rumahnya. Ia menyempatkan diri walau ia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Ia harus membeli gaun pernikahan bersama Jinsol untuk minggu depan.

“Nuna. Aku ingin menemui Jinsol. Bolehkah aku mengajaknya jalan hari ini?” Tanya Jungkook saat istri Hoya menemui Jungkook.
“Baiklah. Silahkan masuk. Aku akan membangunkan Jinsol dulu. Dia tampak sangat lelah setelah kemarin dia syuting seharian.”

Jungkook berjalan melihat foto-foto Sungjong yang terpajang rapi di sekeliling ruang tamu itu. “Nuna. Apakah ini anakku? Benarkah dia anakku?” Tanya Jungkook sambil terus menatap foto Sungjong.
“Benar. Dia sebenarnya anak kandungmu. Jinsol tidak menggugurkannya. Kami pergi ke Amerika untuk menghindari pembicaraan tetangga. Dan kami baru kembali beberapa minggu yang lalu. Dan. Aku juga sudah tau ceritanya. Kau menyurh Jinsol menggugurkan kandungannya saat itu. kenapa?” Istri Hoya mendekati Jungkook dan menatap foto yang sama.
“Saat itu aku masih labil nuna. Aku hanya memikirkan pendidikanku. Dan jika orang tuaku tau bahwa aku mengamili anak orang amaka mereka tidak akan menyekolahkanku. Sekarang. Aku kembali untuknya. Untuk menikahinya. Tapi saat aku melihatnya datang bersama Jimin hyung dan melihatnya bahagia bersamanya, aku mulai putus asa dan menyerah. Aku tidak ingin mengganggunya lagi. Aku memutuskan untuk hidp sebagai orang asing baginya.” Jelas Jungkook.
“Jungkook? Eonni?” Jinsol baru saja turun setelah beberapa saat ia mempersiapkan diri.
Jungkook tercengang melihat penampilan Jinsol yang sangat berbeda dari sebelumnya. Entah apa yang membuatnya merasa berbeda.
“kenapa kau menatapku seperti itu? apa ada yang aneh denganku? Kau tidak menyukainya? Aku akan mengganti pakaianku.”
“jangan.” Jungkook menahan tangan Jinsol saat Jinsol hendak kembali ke kamarnya. “Kau sangat cantik. Aku menyukainya.” Pujinya sambil memeluk Jinsol.
“ehem… kalian. Sebaiknya kalian cepat pergi. Mencari apartemen dan gaun pengantin yang bagus dan nyaman untuk kalian.
“Eonni. Aku berangkat.”
“Iya. Jungkook jaga dia baik-baik. Dan jangan mengulangi kesalahan yang sama.”
“Arasseo nuna.”

Jungkook dan Jinsol sudah tiba di butik gaun pengantin. Jungkook benar-benar memilih yang terbaik untuk Jinsol. Ia mendatangi sebuah butik dari desainer terbaik di Korea. Jungkook melihat setiap gaun pengantin yang ada. Beberapa sudah Jinsol coba namun tak satupun yang membuatnya tertarik. Hingga akhirnya ia memilih sebuah gaun panjang dengan mutiara yang mengelilingi bagian pinggang gaun tersebut. Saat Jinsol mengenakannya Jungkook merasa dirinya benar-benar sedang menikah hari ini. ia beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Jinsol. “Kau sangat cantik saat mengenakan gaun ini.” pujinya. Apa lagi yang akan Jungkook katakan? Dia lebih suka memuji Jinsol. “Setelah ini aku harap kita akan hidup bahagia tanpa ada permasalahan lagi.” Jungkook menarik pinggang Jinsol untuk merapat. Ia mendekatkan kepalanya untuk mencium bibir Jinsol. “Wae?” Tanya Jungkook saat Jinsol menjauhkan kepalanya.
“Ti-tidak. Jangan lakukan itu disini.” Jawab Jinsol sambil menundukkan kepalanya.
“Kalau begitu ayo kita lakukan itu di tempat lain.” Jinsol semakin bergetar saat mendengar ucapan Jungkook barusan.

Hari sudah mulai gelap. Matahari sudah kembali membenamkan sinarnya. Jinsol terlihat sangat lelah setelah ia memilih apartemen dan gaun pengantinnya. Tidak hanya itu, Jungkook tadi mengajaknya bermain di taman.
“Jinsol? Kita sudah sampai.” Jungkook mengayunkan lengan Jinsol beberapa kali namun gadis itu belum juga bangun. Jungkook segera keluar dari mobilnya dan menggendong Jinsol -seperti pangantin- masuk kedalam rumah kakaknya.
“Hyung… Nunaa…” teriak Jungkook dari depan pintu. “Nunaa!!! Hyuuungg!!!” teriak Jungkook sekali lagi. Beberapa saat kemudian pintu rumah itu terbuka.
“Kau sudah pulang? Masuklah dan bawa dia ke kamarnya.” Ujar Hoya.
“Ne. Hyung.” Jungkook membawa Jinsol ke kamarnya. Ia membaringkan gadis itu di tempat tidurnya. Jungkook menatap wajah Jinsol yang sedang tertidur sambil sesekali ia tersenyum. “Maafkan aku karena sudah pernah meninggalkanmu. Aku mencintaimu.” Jungkook mencium pipi kanan Jinsol dan beranjak pergi dari kamar Jinsol.

“Kau mau pulang?” Tanya Hoya yang dibalas dengan anggukan oleh Jungkook. “Menginaplah untuk hari ini. Ini sudah larut. Dan tidurlah di kamar Jinsol.”
“Hyung…”
“Aku mengijinkanmu tidur dengannya. Kau calon suaminya. Kau tunangannya. Tolong jaga dia baik-baik. Jangan tinggalkan dia lagi.” Ujar Hoya. Ia memeluk Jungkook dan mengusap punggung pria itu.


7 Days later
Jinsol tampak sangat cantik dengan gaun pengantin yang ia kenakan hari ini. Di sini. Di sebuah ruangan yang penuhi bunga ia menunggu seseorang yang akan menuntunnya ke altar. Ia ditemani oleh Sungjong. Anak itu dipangkunya di pahanya. Jinsol memeluk anak itu sambil sesekali mencium ujung rambutnya.
“Apakah setelah ini kau akan membawanya bersamamu?” Tanya istri Hoya sambil terus menatap Jinsol.
“Aku dan Jungkook berencana membawanya untuk tinggal bersama. Waeyo?”
“Bisakah kau meninggalkannya bersamaku? Aku akan merawatnya dengan baik. Kau tau aku tidak bisa memiliki anak lagi. Jadi bisakah aku memilikinya?”
“Eonni. Aku tidak akan memaksamu untuk mengembalikannya padaku. Bagaimanapun, kau adalah ibu baginya. Eonni. Dia bukan hanya anakku. Dia juga anakmu. Baginya, aku hanya adik dari appanya.”
“Jinsol.” Hoya memanggil dari pintu. Ia mengulurkan tangannya. Isyarat bahwa Jinsol harus pergi ke altar bersamanya. Jinsol segera menyerahkan Sungjong pada istri Hoya.
“Eonni. Jagalah dia baik-baik.” Istri Hoya mengangguk dan menggendong Sungjong.

Hari mulai gelap. Jinsol dan Jungkook baru saja tiba di apartemen baru yang akan mereka tinggali bersama. “Jungkook tunggu.” Suara Jinsol menghentikan gerakan Jungkook yang hendak membuka pintu mobilnya. Jinsol menatap lurus ke depan. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jungkook. “Aku tidak tega membawa Sungjong bersama kita. Eonni tidak bisa memiliki anak. Dan yang Sungjong tau, ibunya adalah dia. Bukan aku. Bisakah kita meninggalkannya bersama oppa?” Tanya Jinsol.
“Kau ingin meninggalkan anak kita bersama oppamu? Jika itu yang kau inginkan, aku menyetujuinya. Kita akan memiliki anak yang baru setelah ini.” Jungkook mengusap rambut Jinsol sambil tersenyum. Mendengar itu, Jinsol seketika menoleh karah pria itu. Jungkook turun dan membukakan pintu di samping Jinsol. Pria itu menggendong Jinsol sampai di apartemennya.

Kini mereka sudah tiba di depan pintu apartemen. Jinsol membantu Jungkook membukakan pintu. Setelah pintu itu terbuka, Jungkook segera memasuki apartemennya dan membawa Jinsol masuk bersamanya. Jungkook membaringkan Jinsol di sebuah tempat tidur yang sudah ditaburi oleh bunga mawar diatasnya. Jinsol tampak sangat gugup. Walau ia sudah pernah melakukannya, tapi perasaannya masih sama seperti pertama kali ia melakukannya. Jungkook menindih tubuh mungil gadis itu. “Kau cantik. Sangat cantik. Apalagi disaat sepeti ini. Saat kau berbaring dibawahku. Apalagi saat kau mendesahkan namaku 6 tahun yang lalu.” Jungkook membelai rambut Jinsol yang berada di samping wajahnya.
‘Pria ini benar-benar membuatku malu.’ Rutuk Jinsol dalam hatinya saat ia merasakan pipinya mulai panas. ‘Benar-benar memalukan.’
“Malam ini kita akan mengulangnya kembali. Aku akan melakukannya sepanjang malam. Kau tahu? Waktu itu aku tidak ingin meninggalkanmu dan bermain secepat itu. Aku tidak bisa berlama-lama karena aku tidak ingin seorang pun tau apa yang kita lakukan. Jika aku bisa, aku akan bermain denganmu sepanjang malam. Dan malam ini, aku akan melakukannya bersama orang yang sama dengan status yang berbeda. Aku akan menghabiskan malam bersamamu. Aku mencintaimu. Jeon Jinsol.” Jungkook menurunkan kepalanya dan mencium leher Jinsol.
“ngghh..geli Kookhh...” Ujar Jinsol sambil mendorong dada bidang Jungkook. Namun dengan segera Jungkook memegangi lengan Jinsol agar Jinsol tidak bisa memberontak. Jungkook menciumi setiap inci tubuh gadis dibawahnya. Hingga kini ia berada di belahan dada Jinsol. Ia menciumi bagian itu. “Nghh… Kook…” sebuah desahan berhasil lolos dari bibir Jinsol.
“Kau ingin menggodaku sayang?” Jungkook mengangkat kepalanya dan menatap Jinsol. Ia memeluk Jinsol menciumi setiap bagian lehernya, tangannya berusaha membuka resleting baju pengantin yang masih digunakan Jinsol sejak tadi. Jinsol meremas rambut Jungkook untuk meluapkan perasaannya. Entah perasaan apa itu hanya dia yang tau.
Sreek~
Resleting itu dengan mudah Jungkook turunkan hingga full sampai bawah. Jungkook menurunkan pakaian Jinsol dan melemparnya begitu saja. “Kau masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Kau masih sama sexy-nya seperti sebelumnya.” Jinsol mengalihkan pandangannya. Ia tidak bisa menatap Jungkook. Ia terlalu malu untuk menatapnya. Tangan Jungkook meraih pengait bra Jinsol dan melepasnya begitu saja. Ia kemudian menghisap gundukan itu seperti bayi yang sedang kehausan. Tangan kirinya meremas payudara yang lain. Naluri Jungkook benar-benar sudah berada di tingkat paling atas. Adik kecilnya sudah bangkit sejak tadi. “nghh… Kookieehh…” Jinsol tidak berhenti mendesahkan nama Jungkook dari tadi. Kewanitaannya pun sudah mulai basah. Jungkook semakin liar diatas tubuh istrinya. Tangannya mulai nakal. Ia menurunkan celana dalam Jinsol dan mengusap pelan kewanitaan Jinsol. Perlahan ia memasukkan jari tengahnya ke dalam kewanitaan Jinsol yang terasa basah itu. Jinsol meringis kesakitan saat tangan itu mesuk. Pahanya ia rapatkan kembali untuk menahan sakitnya. Jungkook tidak berhenti menyesap gundukan milik Jinsol hingga menimbulkan bercak kemerahan disana. Jungkook benar-benar sudah gila. Ia mengeluar masukkan jarinya dari kewanitaan Jinsol ia bahkan memasukkan 3 jarinya membuat Jinsol meracau tidak jelas. Beberapa saat kemudian cairan hangat keluar dari bagian kewanitaan Jinsol. Jungkook pun menjauhkan kepalanya dari payudara Jinsol dan menghisap semua cairan di kewanitaan Jinsol hingga bersih. “Ahhh….” Jinsol mendesah saat Jungkook menghisap kuat kewanitaannya.
Jungkook beralih ke bibir Jinsol dan mencium gadis di bawahnya. Ia berbagi cairan dimulutnya dengan Jinsol. Jijik. Yah Jinsol tidak pernah berpikir Jungkook akan segila ini. Tak lama, Jinsol mendorong Jungkook hingga ciumannya terlepas. “Kau curang. Pakaianmu masih lengkap. Sedangkan pakaianku sudah kau tanggalkan.” Ujar Jinsol iri.
“Kau iri padaku? baiklah.” Jungkook segera melepas semua pakaiannya hingga mereka sama-sama naked. Jungkook kembali menunduk dan mencium bibir Jinsol. Juniornya yang tegang tidak sengaja bergesekan dengan kewanitaan Jinsol. Terus begitu. Jungkook melebarkan paha Jinsol dengan kakinya.
“Kau…siap?” Tanya Jungkook ragu. Jinsol mengangguk pelan sambil menatap pria diatasnya. Tangannya memegang lengan Jungkook. Perlahan ia merasakan sakit di bagian kewanitaannya.
“Aaaaahh……” Cengkeramannya semakin kuat seiring dengan jeritannya saat junior Jungkook tertanam sempurna di dalam kewanitaannya. Air matanya mengalir dari pelupuk matanya sambil menahan sakit. Ini memang bukan pertama kalinya ia melakukan hubungan intim. Tapi itu terjadi 5 tahun yang lalu. Saat ia masih SMA. Sekarang ia sudah lulus kuliah dan sudah bekerja. Tentu saja semuanya berbeda.
“Sakitkah?” Tanya Jungkook sambil menghapus jejak air mata Jinsol. “Aku akan memulainya.” Lanjutnya. Jungkook mulai menggerakkan pinggulnya. Mengeluar masukkan benda keras miliknya yang berada di dalam tubuh Jinsol. Rasa sakit yang Jinsol rasakan semakin lama berubah menjadi sebuah kenikmatan. Apalagi disaat junior Jungkook mengenai titik terdalam pada dirinya. Racauannya pun semakin menjadi.
“Ahh… Kookkieeehh… deeper..” Racauan Jinsol terdengar jelas di telinga Jungkook. Hal itu semakin membuat naluri Jungkook meningkat. Jungkook semakin mempercepat tumbukannya di kewanitaan Jinsol. “Ahh… mmhh….” Desahan Jinsol memenuhi ruangan itu. tumbukan Jungkok semakin cepat hingga menimbulkan decitan pada tempat tidurnya. Desahan Jinsol dan Jungkook saling bersahutan seolah menjadi melodi yang sangat indah bagi keduanya.
Jungkook merasakan juniornya dijepit kuat di dalam tubuh Jinsol saat ia semakin kuat menumbuk kewanitaan istrinya. Juniornya pun terasa semakin membesar. “Kookiieehhh… aku keluar…” suara Jinsol terdengar semakin bergetar.
“Togetherhh…” jawab Jungkook. Ia mempercepat gerakannya hingga ia merasakan cairannya menyembur di dalam rahim istrinya. Pria itu memeluk Jinsol dan mencium keningnya. “Aku mencintaimu. Aku berjanji padamu. Aku tidak akan pernah pergi lagi darimu. Aku akan menjagamu. Kita akan membesarkan anak kita bersama-sama nanti. Aku berjanji padamu.” Ujar Jungkook. Jinsol menangis mendengarnya. Ia terharu. Jungkook berbeda dengan sebelumnya. Terakhir kali ia bertemu dengan Jungkook sebelum akhirnya mereka pergi dengan kehidupan masing-masing, Jungkook terlihat seperti pria brengsek. Jahat. Tapi sekarang ia merasakan ada sebuah perasaan yang hanya bisa ia mengerti melalui ucapan Jungkook barusan. Pria itu mencintainya. Harapannya sudah dikabulkan. Ayah dari Sungjong sekarang bertanggung jawab atas kesalahannya di masa lalu. Ayah Sungjong menikahinya. Yang ia harapkan hanya sebuah pernikahan dan pengakuan atas Sungjong. Tapi saat ini bukan hanya itu. Jungkook menikahi Jinsol atas dasar cinta dan perasaan. Bukan hanya karena rasa bersalahnya.
“Terima kasih kau sudah kembali. Aku juga merindukanmu. Aku juga mencintaimu. Jangan tinggalkan aku lagi.” Jinsol membalas pelukan Jungkook. Jinsol masih menangis. Tangisan bahagia.
“Tidurlah. Aku akan menemanimu. Mulai saat ini kau tidak akan sendirian lagi. Ada aku di sini.” Jungkook mencium bibir Jisol sekilas dan berbaring disamping Jinsol tanpa melepaskan juniornya dari kewanitaan Jinsol.

Malam itu. Aku merasakan semuanya. Perasaan sakit yang pernah aku berikan padamu dulu. Aku merasakannya. Saat aku meninggalkanmu dalam keadaan hamil. Aku menyesal. Aku menyesal karena saat aku kembali aku tidak menemukanmu. Dan saat kau muncul dihadapanku, kau sudah menjalin hubungan dengan Jimin hyung. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan selalu menemanimu. Aku mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu. Jinsol. -Jungkook-

Aku bersyukur kau kembali. Maafkan aku karena aku bersikap kasar padamu saat itu. Aku masih belum bisa melupakan kejadian di sekolah malam itu. Kau seperti pria brengsek saat kau meninggalkanku dalam keadaan berantakan. Kau seperti pria brengsek saat kau meninggalkanku bersama bayi di rahimku saat itu. Tapi aku bersyukur saat aku tau kau kembali untukku. Untuk menebus semua kesalahanmu. Tapi aku lebih bahagia lagi karena kau menikahiku bukan hanya untuk bertanggung jawab. Tapi karena kau mencintaiku. -Jinsol-

Hiduplah bahagia. Jangan pernah menangis lagi. Aku ada di sini kapan pun kau membutuhkanku. Karena aku adalah sahabatmu. Sahabat kecilmu. Aku akan menemanimu saat kau merasa sendiri. Aku akan menjadi sahabat yang baik. Aku akan menyayangimu. Seperti Yein yang selalu ada untukmu. -Jimin-


END

Senin, 04 April 2016

Because I Born To Be Yours Part 6


Title             : Because I Born To Be Yours Part 6
Main Cast    : MyungYeon Couple
Other Cast   :
-          Park Hyojoon as Jiyeon appa
-          Han Jimin as Jiyeon eomma
-          Kim Sunggyu (Infinite) as Myungsoo appa
-          Song Jihyo as Myungsoo eomma
-          Nam Woohyun (Infinite) as Gyuri appa (Jiyeon appa)
-          Jung Eunji (Apink) as Gyuri eomma (Jiyeon eomma)
-          Nam Gyuri as Jiyeon’s friend and Jiyeon-i dongsaeng
-          Lee Joon (MBlaq) as Myungsoo’s asisten
-          JB / Im Jae Bum (GOT7) as Jiyeon’s friend
-          Henry Lau (Super Junior M) as Jiyeon’s friend
Genre          : Married Life, School Life, and other
Rate             : 17+
Length         : Part
Author         : Nam Ohyun

Kandungan Jiyeon sudah berusia 8 bulan. Satu bulan lagi dia akan melahirkan. Hari ini Jiyeon akan memeriksakan kandungannya ke rumah sakit. Ia mengajak Myungsoo, namun Myungsoo sedang sibuk. Jiyeon terus memaksa agar Myungsoo mau mengantarnya.
“Apakah pekerjaan itu lebih penting dariku dan calon anakku? Atau kau sudah tidak sayang lagi padaku dan anakku?”
“Mwo? Anakmu? Yak!! Itu anakku juga. Aku yang membuatnya. Kalau bukan karena aku kau tidak akan hamil.” Mendengar itu, mata Jiyeon menjadi berkaca-kaca dan akhirnya ia pergi meninggalkan ruangan Myungsoo sambil meneteskan air matanya. “Ya!! Chagi… Maksudku tidak seperti itu. Ya! Ya! Ya!” panggil Myungsoo sambil berteriak. “Lee Joon-a, tolong kau hentikan Jiyeon sekarang. Katakan aku akan mengantarnya.” Ujar Myungsoo melalui sambungan teleponnya. Ia berjalan tergesa-gesa menyusul Jiyeon. Myungsoo sedikit berlari sesampainya di parkiran. Ia melihat Jiyeon yang sedang menangis di dalam mobil. Myungsoo membuka pintu mobil dan mengambil alih kursi kemudi. “Chagi mianhae…” ujar Myungsoo sambil menggenggam tangan Jiyeon. Namun dengan segera Jiyeon menyingkirkan tangannya dari genggaman Myungsoo. “Chagi… aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Jangan marah ne…” ujar Myungsoo. Jiyeon mengalihkan pandangannya menghadap ke luar jendela.
∞∞∞
Mereka telah sampai di depan sebuah rumah sakit. Jiyeon masih marah dengan Myungsoo. Namun perlahan, saat Jiyeon mulai melangkah masuk ia tiba-tiba memeluk lengan Myungsoo. Entah ia hanya ingin terlihat seperti pasangan romantic atau memang itu keinginannya sendiri.
Kini nama Jiyeon telah di panggil. Jiyeon dan Myungsoo melangkah memasuki ruangan dokter yang memang dokter tersebut dulunya adalah teman kuliah Myungsoo. Selang beberapa menit kemudian Myungsoo dan Jiyeon akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit. “Kau mau pulang, atau pergi kerumah orang tuamu?” Tanya Myungsoo santai sambil melihat kearah Jiyeon sekilas.
“Kemana saja asal aku tidak kesepian disana.” Jawab Jiyeon.
“Baiklah, aku akan mengantarmu ke rumah orang tuamu. Disana ada Gyuri yang mau menemanimu.”
∞∞∞
Night
Jiyeon dan Myungsoo kini tengah tertidur. Tiba-tiba saja Jiyeon terbangun dan pergi ke dapur. Ia melangkah mendekati kulkas. Ia mencari sesuatu disana, namun sesuatu yang dicarinya tidak ada disana, dan tidak akan ada disana. Ia kemudian kembali ke kamarnya dan membangunkan Myungsoo. “Oppa… aku ingin Shushi…” ujar Jiyeon. Myungsoo hanya mengeluarkan sebuah lenguhan pelan, tanda bahwa ia baru tersadar dari tidurnya. “Oppa belikan aku shushi…” rengek Jiyeon lagi.
“Ini masih tengah malam chagi… besok saja yah…” Myungsoo mengusap pelan rambut Jiyeon.
“Tapi aku maunya sekarang.”
“Besok aku belikan kamu shushi yang banyak.”
“Ya sudah lah. Aku akan mencarinya sendiri.” Jiyeon berjalan mendekati lemari pakaiannya dan mengambil mantel cokelat. Myungsoo yang melihat itu segera bangun dan menahan tangan Jiyeon agar tidak pergi.
“Chagi, ini masih tengah malam. Besok aku akan membelikanmu shushi.”
“Lepaskan aku oppa. Kau memang tidak pernah sayang padaku dan anakku. Atau kau menikahiku kembali hanya karena kau kasihan padaku? kau hanya tidak ingin anak ini terlahir tanpa ayah. Dan kau-”
“Chagi!” bentak Myungsoo menghentikan ucapan Jiyeon. “Aku mencintaimu. Tulus. Aku menikahimu kembali karena aku masih mencintaimu.” Lanjut Myungsoo lembut. Ia menatap mata Jiyeon. “Aku akan membelikanmu shushi sekarang. Tunggulah hingga aku kembali.” Ujar Myungsoo. Ia mengambil mantel hitamnya dan menyambar kunci mobilnya.
∞∞∞
“Dimana ada orang menjual shushi? Lagi pula ini tengah malam. Ah iya. Tadi kan eomma bilang ia sedang membuat shushi. Sebaiknya aku menghubungi eomma agar aku tidak perlu mencari jauh-jauh.” Gumam Myungsoo sambil melajukan mobilnya menuju kediaman appanya.
“Eomma!!!” teriak Myungsoo dari luar pintu. Ia berteriak beberapa kali hingga akhirnya pintu itu terbuka.
“Tuan Myungsoo? Ada apa tengah malam begini datang kesini?” Tanya seseorang disana.
“Apakah shushi yang eomma buat tadi masih ada? Jiyeon sedang menginginkan shushi.” ucap Myungsoo.
“Ada. Sebentar saya ambilkan dulu.” Wanita itu berjalan menuju ke arah dapur dan mengambil semua shushi yang dibuat nyonyanya tadi. “Ini tuan. Semoga nyonya Jiyeon menukainya.” Ujar wanita itu sambil memberikan rantang berisi shushi. Myungsoo segera berpamitan dan kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, Myungsoo melihat Jiyeon sedang duduk memeluk lututnya.”Oppa? kenapa lama sekali?” tanyanya. Tampak sekali bahwa yeoja itu tengah khawatir.
“Kau kenapa hm? Aku membawakanmu shushi yang kau minta.” Jawab Myungsoo sambil mengangkat rantang yang dibawanya dari rumah orang tuanya. Myungsoo berjalan mendekati Jiyeon di kasurnya dan meletakkan rantang itu di nakas. Jiyeon segera memeluk Myungsoo saat Myungsoo sudah berada dekat dengannya. Jiyeon menangis dalam pelukan lembut suaminya itu. Myungsoo mengusap rambut dan penuh kasih sayang. “Kau kenapa hm? Kenapa menangis?” Tanya Myungsoo.
“Aku ingin berada di sampingmu oppa. Jangan tinggalkan aku lagi. Aku takut sendirian disini.”
“Kau tidak sendirian. Kan masih ada Lee Joon dan ahjumma.”
“Tapi aku ingin bersamamu.”
“Baiklah. Aku tidak akan pergi lagi. Sekarang kau tidur. Ini masih tengah malam.” Myungsoo membaringkan Jiyeon kemudian menaikkan selimutnya hingga menutupi dada Jiyeon.
∞∞∞
^6 Years Later^

“Daddy!” panggil kedua anak kembar sambil berlari menuju orang tuanya.
“Uuh… jagoan daddy. Bagaimana hari ini?” Tanya Myungsoo sambil menggendong anak laki-lakinya yang bernama Kim Taehyung itu.
“Tadi temanku memukul Taehee. Tapi aku melindunginya daddy.” Jawab anak itu dengan suara imutnya.
“Daddy tidak menanyaiku? Daddy tidak sayang padaku?” Tanya anak perempuan Myungsoo. Namanya Kim Taehee. Saudara kembar Taehyung. Myungsoo segera merendahkan dirinya dan menggendong Taehee di sebelah kirinya. “Princess daddy sepertinya sedang cemburu dengan kakaknya sendiri. Bagaimana sekolahmu hari ini?” Tanya Myungsoo pada Taehee.
“Aku tadi bernyanyi bersama V oppa di depan kelas. Ibu guru memberiku ini.” ujar Taehee sambil menunjukkan sebuah jepit rambut yang sangat indah pemberian gurunya.
“Anak-anak daddy mau pulang atau makan dulu?”
“Kami ingin pulang. Kami merindukan mommy.” Jawab kedua anak manis itu bersamaan.
“Baiklah, ayo kita pulang.” Myungsoo pergi menuju mobilnya dan membawa putra putrinya pulang.

“Mommy!” seru Taehee dan Taehyung bersamaan saat tiba di rumah.
“Waah anak-anak mommy sudah pulang? Kalian sudah makan?” Tanya Jiyeon sambil mengusap kedua ujung kepala anak-anaknya. Kedua anak itu menggeleng. “Kami ingin makan masakan mommy.” Jawab keduanya bersamaan. Anak kembar yang menggemaskan, imut, lucu, tampan dan cantik. “Baiklah kalau begitu. Kalian ganti baju dulu ya. Mommy akan menyiapkan makan siang untuk kalian.” Jiyeon tersenyum sambil menatap kepergian anak-anaknya yang sedang menuju ke kamarnya.
“Istri yang hebat. Terima kasih.” Ujar Myungsoo sambil mencium pipi istrinya.
“Aku akan menyiapkan makan siang untuk kalian.”

∞∞∞
             Malam telah tiba. Jiyeon sedang menemani Taehee dan Taehyung tidur. Myungsoo memasuki kamar putra putrinya untuk memastikan kalau Jiyeon tidak tidur bersama mereka. Myungsoo selalu saja cemburu jika Jiyeon tidur bersama putra putrinya. Jiyeon mengisyaratkan pada suaminya untuk tidak bersuara. Beberapa detik kemudian ia turun dari tempat tidur Taehee dan Taehyung. Saat Myungsoo dan Jiyeon tiba di luar, Myungsoo segera menggendong Jiyeon dan membawanya ke kamarnya.
“Terima kasih sudah memberikan aku putra dan putri yang cantik, tampan, imut dan lucu.” Ujar Myungsoo sambil membaringkan Jiyeon di tempat tidurnya.
“Sama-sama suamiku.” Jawab Jiyeon.
“Kau ingin membuatkanku dua anak kembar lagi?” Tanya Myungsoo. Sedetik kemudian ia mencium bibir Jiyeon dan menyentuh istrinya lebih dalam.

-END-

Because I Born To Be Yours Part 5


Title       : Because I Born To Be Yours Part 5
Main Cast    : MyungYeon Couple
Other Cast   :
-          Park Hyojoon as Jiyeon appa
-          Han Jimin as Jiyeon eomma
-          Kim Sunggyu (Infinite) as Myungsoo appa
-          Song Jihyo as Myungsoo eomma
-          Nam Woohyun (Infinite) as Gyuri appa (Jiyeon appa)
-          Jung Eunji (Apink) as Gyuri eomma (Jiyeon eomma)
-          Nam Gyuri as Jiyeon’s friend and Jiyeon-i dongsaeng
-          Lee Joon (MBlaq) as Myungsoo’s asisten
-          JB / Im Jae Bum (GOT7) as Jiyeon’s friend
-          Henry Lau (Super Junior M) as Jiyeon’s friend
Genre          : Married Life, School Life, and other
Rate            : 17+
Length         : Part
Author         : Nam Ohyun

             Jiyeon kini tengah berjalan di trotoar jalan dengan beberapa barang yang dibawanya dari mini market. Ia berencana untuk pergi kerumah orang tua angkatnya. Orang tua yang telah membesarkannya. Jiyeon memasuki sebuah gang sempit yang sangat sepi. Tiba-tiba seseorang membungkam mulutnya dengan sapu tangan yang sudah di beri obat bius.
             Jiyeon mulai tersadar setelah beberapa jam pingsan karena obat bius. Ia merasakan sakit di bagian kepalanya namun tangannya tak mampu memegangi kepalanya yang sakit. Tangan dan kaki Jiyeon sedang diikat di sebuah kursi yang Jiyeon duduki sekarang.

^Nam Family’s House^
             Seorang wanita paruh baya kini sedang mondar mandir di ruang tamu. Ada perasaan khawatir yang menghampirinya. Bagaimana tidak? Buah hatinya yang pernah menghilang belu juga kembali. Ponselnya pun tidak aktif. “Yeobo… kau tenang dulu. Aku sudah melapor ke polisi. Aku yakin polisi akan segera menemukan Jiyeon.” Ujar Woohyun menenangkan. Semua orang tengah berkumpul di rumah itu.
             Ddrrtt… ddrrtt… ddrrtt…
             Ponsel Myungsoo bergetar beberapa kali. Dengan segera, Myungsoo menjawab panggilan dari nomor tak dikenal itu. “Yeoboseyo?” sapa Myungsoo.
             “Oppa, apakah kalian sedang menghawatirkan si cantik Jiyeon? Dia sekarang sedang bersamaku.” Ujar seseorang dari seberang.
             “Ya! Dimana kau menyembunyikan Jiyeon?!”
             “Kau mau Jiyeon selamat? Datang saja ke tempat yang aku kirim. Dan ingatlah, jangan membawa polisi atau teman. Karena aku tidak akan segan-segan untuk membunuhnya jika kau melanggar itu.”
“tuut… tuutt…” orang itu mengakhiri panggilannya.
“Y-ya!!” Myungsoo dengan kesal menutup ponselnya.
             Beberapa saat kemudian, Myungsoo mendapat sebuah pesan. Disana Myungsoo melihat Jiyeon yang sedang diikat di kursi dan tidak sadarkan diri. Ia membaca terusan pesan itu dan segera meraih kunci mobil yang ia letakkan di atas meja.
             “Eomeonim. Aku akan membawa Jiyeon kembali.” Ujar Myungsoo.
             “Tolong bawa Jiyeon kembali dengan selamat Myungsoo.” Pinta Woohyun lirih.
             “Aku ikut.” Ujar Gyuri.
             “Kau jangan ikut. Ini berbahaya. Aku sudah memanggil polisi untuk mengikutiku secara diam-diam. Orang itu mengancamku. Kalau aku tidak datang sendiri, dia akan membunuh Jiyeon.” Ujar Myungsoo. Dengan segera ia pergi keluar menuju alamat yang dikirimkan orang asing yang menculik Jiyeon.
             Di belakang mobil Myungsoo ada beberapa mobil yang mengikuti Myungsoo. Yah, itu mobil polisi. Tak lama, akhirnya Myungsoo tiba disebuah tempat yang terlihat seperti sebuah gudang. Ia meraih ponselnya dan menghubungi orang yang mengirimkan pesan pada Myungsoo tadi. Beberapa saat kemudian dua orang pria datang dan membawa Myungsoo masuk ke dalam gedung tersebut. Myungsoo melihat Jiyeon yang terkulai lemas.
             “Jiyeon!!” teriak Myungsoo sambil melangkah mendekati Jiyeon. Namun langkahnya terhenti saat seorang wanita memanggil namanya dan memeluknya dari belakang. “Ya!! Lepaskan aku Bae Suzy! Aku tidak sudi bersentuhan denganmu!!!” teriak Myungsoo sambil menghempaskan tubuh Suzy hingga pelukannya terlepas.
             “Kenapa hm? Jangan bilang kau mencintai Jiyeon? Bukankah kau menikahi Jiyeon karena hutang ayah angkatnya?!” bentak Suzy.
             “Eo. Aku mencintainya. Dan aku sama sekali tidak menduga bahwa perceraianku dengannya, terjadi karena ulahmu!!!”
             “Oh begitu?! Baiklah. Jika itu maumu.” Suzy berjalan mendekati Jiyeon dan mengeluarkan pisau yang berada di sakunya. Suzy mendekatkan pisau itu di leher Jiyeon.
             “Aaa!!!” Jiyeon berteriak ketakutan. Tiba-tiba tangannya gemetar.
             Myungsoo yang melihat itu dengan segera berjalan mendekati Jiyeon dan Suzy. “Jangan lakukan itu Suzy!” perintah Myungsoo.
             “Wae?! Aku ingin kau menjadi milikku!!! Hanya milikku!!! Aku tidak ingin anak ini menjadi penghalang cinta kita!!!” teriak Suzy. Myungsoo terus melangkah mendekati Jiyeon. “Jangan mendekat!!! Selangkah lagi kau bergerak mendekatiku, aku tidak akan segan-segan membunuh mantan istri tercintamu!!!” ancam Suzy.
             “Oppa!! Tinggalkan aku!! Menikahlah dengan Suzy!! Dia jauh lebih pantas untukmu dari pada aku!!” teriak Jiyeon. Tiba-tiba saja, polisi masuk ke dalam gedung itu dan menangkap Suzy sebelum ia menggoreskan pisaunya di leher Jiyeon.
             “Apa-apaan ini? oppa!! Ini pasti ulahmu!!! Oppa aku tidak mau di penjara lagi! Lepaskan aku!” teriak Suzy. Namun polisi membawa Suzy keluar. Myungsoo segera mendekati Jiyeon yang kini tengah menangis. Myungsoo melepaskan ikatan di kaki dan tangan Jiyeon. Ia kemudian memeluk Jiyeon dengan sangat erat.
             “Mianhae Jiyeon-i. Gara-gara aku kau harus mengalami hal seperti ini.” ujar Myungsoo sambil mempererat pelukannya pada Jiyeon. Jiyeon merasakan sakit yang sangat hebat di bagian kepalanya hingga ia kini tidak sadarkan diri. Myungsoo segera menggendong Jiyeon dan membawanya pulang.
∞∞∞
             “Jiyeon baik-baik saja. Ia hanya shock. Ini aku beri resep obatnya agar Jiyeon cepat sembuh.” Ujar Dongwoo uisa sambil memberikan secarik ketas berisi resep obat.
             “Ne. gomawoyo.” Ujar Woohyun.
             “Kalau begitu aku permisi dulu.” Pamit Dongwoo.
             Myungsoo mengantar Dongwoo keluar dan sesaat kemudian ia kembali lagi ke kamar Jiyeon. “Kau istirahatlah dulu. Kau juga pasti lelah.” Ujar Woohyun pada keponakannya sebelum ia keluar meninggalkan kamar Jiyeon.
             “Ne abeonim.” Jawab Myungsoo. ‘Mianhae Park Jiyeon. Ini semua terjadi karena aku.
Two Month Later
^Incheon Airport^
Jiyeon baru saja lulus dari sekolah Kirin. Jiyeon tidak pernah keluar sendirian semenjak kejadian yang nyaris merenggut nyawanya itu. Saat ini ia sedang bersiap untuk pergi ke Paris. Ia membawa sebuah koper besar dan foto kenangannya bersama Myungsoo yang ia jadikan Wallpaper ponselnya. Jiyeon memasuki pesawat yang akan membawanya terbang ke Paris. Ia mendapat tempat di barisan ke sepuluh didekat jendela. Ia menyamankan duduknya. Beberapa detik kemudian seorang pria berpakaian hitam duduk tepat disampingnya. Jiyeon menoleh kearah pria itu. “Kim Myungsoo?” Ia mengerutkan dahinya. Memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Pria itu menoleh. “Myungsoo oppa.”
“hm?” hanya gumaman kecil yang keluar dari bibir sexy Myungsoo. Jiyeon terus menatap Myungsoo tidak percaya. Jiyeon berpikiran bahwa Myungsoo mengikutinya. Yah, memang benar begitu adanya. Ini adalah rencana para besan. “kenapa kau terus menatapku?” tanya Myungsoo polos.
“Hm? Aniyo. Siapa bilang aku menatapmu. Aku hanya…” kalimat Jiyeon menggantung. Ia memikirkan jawaban yang akan ia lontarkan untuk Myungsoo.
“Hanya apa?”
“Aniyo. Lupakan.” Ujar Jiyeon.
Sudah satu jam Jiyeon berada di pesawat. Ia mulai mengantuk. Perlahan ia memejamkan matanya. Myungsoo menyandarkan kepala Jiyeon dibahunya. Jiyeon yang setengah sadar tiba-tiba terbangun saat merasakan tangan Myungsoo yang memegang kepalanya. “Tidurlah dibahuku.” Ucap Myungsoo singkat. Jiyeon tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menurut. Karena sebenarnya ia sangat menyukainya.
Para penumpang sudah bersiap untuk turun dari pesawat. Jiyeon yang tengah tertidur akhirnya tersadar dan mengerjapkan matanya beberapa kali. “Apakah kita sudah sampai?” tanya Jiyeon.
“Eo. Ghaja.” Ujar Myungsoo sambil mengulurkan tangannya pada Jiyeon.
“Tapi tujuanmu denganku berbeda.”
“Siapa bilang? Aku disini karena appamu menyuruhku menjagamu.” Ujar Myungsoo. Tak butuh waktu lama, Jiyeon meraih tangan Myungsoo dan berjalan di belakang Myungsoo.
“Lalu bagaimana dengan Restoranmu dan perusahaan appamu?”
“Ada appa yang mengurusnya. Lagi pula, aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di Paris.”
∞∞∞
^Paris^
Myungsoo dan Jiyeon kini telah tiba di depan sebuah bangunan yang cukup besar. “tempat apa ini? Apakah ini rumahmu?” tanya Jiyeon. tak heran Jika Myungsoo memiliki sebuah rumah disini, karena appanya sendiri adalah pemilik perusahaan terbesar di Korea. Dan Myungsoo sendiri adalah pemilik restaurant yang juga terkenal dalam beberapa bulan. Apa lagi mengingat dia adalah anak tunggal. Jadi, wajar saja jika Myungsoo memiliki banyak rumah di berbagai Negara.
“Eo. Gayo.” Myungsoo membawa Jiyeon memasuki rumah yang berada dihadapannya. Lagi-lagi Jiyeon mengikuti Myungsoo dari belakang sambil membawa kopernya. “Eumm… Jiyeon-i. mian disini hanya ada satu kamar, jadi kau tidur di kamar dan aku akan tidur disofa.”
“Mwo? Ani. Tak bisakah kita tidur dikamar yang sama dan tempat tidur yang sama? Lagi pula… aku tidak takut lagi dengan apa yang akan terjadi nanti.” Ujar Jiyeon. Myungsoo tertegun mendengar perkataan Jiyeon. ‘Kenapa dia berbeda dengan sebelumnya? Kenapa dia ingin tidur di kamar yang sama denganku?’ tanya batin Myungsoo. Myungsoo melangkah mendekati Jiyeon dan memeluknya.
“Mianhaeyo Jiyeon. Harusnya aku melindungimu.” Jiyeon membalas pelukan Myungsoo.
“Aniyo oppa. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Kita bercerai tanpa persetujuan darimu.”
“Uljimayo. Jebal uljima.” Ujar Myungsoo sambil menghapus jejak air mata Jiyeon. Jiyeon mengangkat wajahnya menatap Myungsoo. “Saranghaeyo Park Jiyeon. ani. Maksudku Nam Jiyeon.” Jiyeon menatap Myungsoo semakin dalam. “Sebenarnya, aku mencintamu sejak kau baru lahir. Aku meminta pada appa untuk menikahkanmu denganku saat aku sudah dewasa. Dan sekarang, akhirnya kita sudah menikah. Walaupun tidak lama tapi setidaknya impianku telah tercapai.” Ujar Myungsoo. “Tidak peduli apakah kau mencintaiku atau tidak, aku hanya ingin bersamamu. Aku ingin selalu berada disampingmu.”
“Myungsoo oppa. Sashileun… nado saranghaeyo. Oppa, bisakah kita memulainya dari awal? Setelah aku pikir kembali, ternyata aku salah besar sudah bercerai denganmu. Semua terasa aneh tanpamu. Walau hanya beberapa bulan, aku bisa menerima semuanya. Tapi, karena Suzy eonni. Aku harus meninggalkanmu.” Jiyeon kembali memeluk Myungsoo.
“Kau istirahatlah lebih dulu. Aku akan segera kembali.” Ujar Myungsoo sebelum ia pergi meninggalkanku. Dia juga sempat membelai pipiku. Membuat semburat merah muncul begitu saja dipipiku. Setelah Myungsoo pergi, aku segera membereskan koperku. Memasukkan semua pakaian yang aku bawa kedalam lemari Myungsoo yang sangat besar.
Kegiatan ini membuatku sangat lelah hingga rasanya badanku terasa remuk. Aku membaringkan tubuhku diatas kasur satu-satunya dirumah ini dan memejamkan mataku.
∞∞∞
Entah berapa jam aku tertidur. Ku lihat jam yang tertera diponselku. 08.00 AM. Mwo? Ini sudah pagi? Saat aku berusaha untuk bangun, kurasakan seseorang menahanku. Ku lihat kesamping kananku. Hah?! Mwoya? Kim Myungsoo? Pikiranku mulai melayang entah kemana. Kulihat dia tertidur dengan keadaan topless sementara tangannya memeluk perutku. Reflex aku menyingkirkan tangannya dari perutku dan tanpa sengaja aku membuatnya terbangun.
“Eunghh…” aku mendengar lenguhannya. Suara yang sering terdengar ditelingaku dulu saat kami masih bersama. Tapi, ada apa ini? Apa aku masih mencintainya? Ya! Pabo! Kau sendiri yang bilang bahwa kau masih mencintai Myungsoo kemaren. “Kau sudah bangun? Jam berapa ini?” tanya Myungsoo polos.
“Hm? Jam delapan pagi.” Jawabku santai.
“Kau tidak kuliah? Ini hari pertamamu.” tanyanya lagi.
Kuliah? Eomeo. Iya. Ini kan hari pertamaku masuk kuliah. Aku segera pergi menuju kamar mandi dan merias wajahku dengan terburu-buru. Ku lihat Myungsoo juga sudah selesai merapikan dirinya. ‘kapan dia mandi? Apa di rumah ini ada kamar mandi yang lain? Atau dia tidak mandi?’ pikirku. Tapi itu tidak penting. Yang terpenting sekarang, aku cepat sampai di kampus.
∞∞∞
Author POV
^Paris^
Tidak terasa seminggu telah berlalu begitu saja. Myungsoo akan kembali ke Korea dua hari lagi.  Bagaimanapun dia harus mengurus restaurantnya. Dia tidak bisa menyuruh appanya mengurus pekerjaannya seterusnya. Myungsoo tidak ingin melewatkan hari yang tersisa berlalu begitu saja. Ia masih belum membawa Jiyeon mengelilingi Paris bersamanya.
“Oppa kau sudah bangun?”tanya Jiyeon yang sedang saik dengan panic-panci didapurnya.
“Um. Sedang apa kau disana?” tanya Myungsoo balik.
“Aku sedang belajar memasak agar aku tidak ketergantungan padamu. Walau bagaimanapun, kau tidak akan bersamaku terus menerus disini kan? Kau harus kembali ke Korea mengurus semua pekerjaanmu.” Ujar Jiyeon penuh senyum. “Nah, sudah selesai. Oppa, karena kau satu-satunya kerabatku disini, aku ingin kau mencobanya.” Ucapnya sambil mendudukkan Myungsoo di kursi meja makan. Jiyeon meletakkan hasil masakannya didepan Myungsoo. “Cobalah.” Ucap Jiyeon. Myungsoo menjamah salah satu masakan Jiyeon. “Eottae?” tanya Jiyeon sambil menopang dagunya.
“Wah… ternyata kau pintar memasak juga. Sebaiknya kau juga mencobanya. Aaa” Myungsoo mencoba untuk menyuapi Jiyeon. sesaat kemudian Jiyeon menyambar makanan yang disodorkan untuk Jiyeon.
“Wah… masitta.” Seru Jiyeon.
“Jiyeon, kau tidak ada kuliah kan hari ini?” tanya Myungsoo.
“Ne. Waeyo?”
“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan.”
“Jeongmalyo? Wah… haruskan aku memakai pakaian yang cantik?” tanya Jiyeon.
“Tidak.” Jawab Myungsoo datar.
“Waeyo?”
“Karena kau memang sudah cantik.” Jiyeon tersipu malu mendengar ucapan Myungsoo. “Ya sudah, kau bersihkan dirimu cepat. Aku akan menunggumu di mobil.” Ujar Myungsoo. Jiyeon segera pergi menuju kamarnya. Tak lama, Jiyeon sudah selesai membersihkan dirinya dan sedikit berias.
“Kita mau kemana oppa?” tanya Jiyeon saat tiba dihadapan Myungsoo. Myungsoo diam. Ia memperhatikan Jiyeon dari bawah hingga ke atas dan pandangannya kini terhenti tepat dibibir Jiyeon. “Waeyo apakah ada yang aneh denganku?” tanya Jiyeon sambil memeriksa pakaiannya.
“Ah aniyo.” Jawab Myungsoo. “Gayo.” Myungsoo kemudian membukakan pintu untuk Jiyeon.
Sudah hampir satu jam Myungsoo membawa Jiyeon tapi mereka masih belum juga tiba di tempat tujuan. “Oppa, kita mau kemana? Apakah perjalanannya masih jauh?” tanya Jiyeon. Myungsoo hanya diam. Tidak ada niatan baginya untuk menjawab pertanyaan Jiyeon. Beberapa menit kemudian Jiyeon sampai disuatu tempat yang sangat ramai. Lampu-lampu jalan yang berwarna-warni membuatnya menganga. Jiyeon menatap tempat itu tidak percaya. “Menara Eiffle” gumaman kecil sukses meluncur dari bibir mungil Jiyeon. “Oppa, aku tidak sedang bermimpi kan?” Tanya Jiyeon sambil menepuk pipinya beberapa kali. “Oppa cubit aku.” Perintah Jiyeon. Myungsoo dengan polosnya mencubit pipi Jiyeon dengan keras. “Aww!!!” pekik Jiyeon.
“Kau tidak sedang bermimpi Park Jiyeon. Ini nyata. Kaja.” Ujar Myungsoo seraya pergi keluar dari mobil dan berjalan beriringan dengan Jiyeon. Myungsoo duduk di salah satu sudut padang rumput yang membentang luas didekat menara eiffle. Jiyeon meraih ponselnya dan mengaktifkan kameranya. Ia ingin mengabadikan moment itu.
“Oppa bisakah kau bantu aku mengambil gambar?” ujar Jiyeon sambil menyerahkan ponselnya pada Myungsoo. Dengan mudahnya Myungsoo meraih ponsel Jiyeon dan mulai mengambil gambar. Jiyeon dengan percaya dirinya bergaya ala model professional. Memang bisa dibilang Jiyeon adalah wanita Multi talent. Hampir semua dia bisa kecuali memasak. Dia masih baru belajar memasak. Walaupun begitu, masakan yang ia buat tidak kalah enaknya dengan masakan chef yang ada di restaurant besar.
Setelah Jiyeon mulai bosan foto sendiri, Jiyeon meraih kembali ponselnya yang dipegang Myungsoo. Jiyeon mengajak Myungsoo untuk foto berdua. “Oppa, ayo foto berdua.” Ujar Jiyeon antusias. Seketika Myungsoo menjadi sangat gugup. Myungsoo jadi bingung harus menggunakan gaya apa. Jepret… belum selesai Myungsoo bergaya Jiyeon sudah mengambil gambar lebih dulu. Jiyeon kecewa dengan hasil gambarnya. “Oppa kenapa kau tidak bergaya?” cetus Jiyeon. Myungsoo semakin gugup. “Hana… Dul…” Myungsoo mulai menatap bibir Jiyeon. Entah kenapa ia menjadi sangat merindukan bibir Jiyeon yang selalu manis saat ia menciumnya. “Set…” cup~ Bersamaan dengan hitungan terakhir Jiyeon, Myungsoo menarik wajah Jiyeon hingga menghadap ke arahnya dan mengecup bibir mungil Jiyeon. Jepret… Momen itu pun akhirnya secara tak sengaja diabadikan oleh Jiyeon. Jiyeon membelalakkan matanya karena ia masih kaget. Namun semakin lama, Jiyeon mulai menutup matanya perlahan. Ia mulai menikmati setiap sentuhan Myungsoo dibibirnya. Sebuah perasaan yang lama menghilang kini kembali lagi. Tiba-tiba jantung Jiyeon berdegup sangat kencang. Begitu pula dengan Myungsoo. Keduanya tidak menyadari bahwa semua orang kini tengah memperhatikan mereka. Memang benar hal seperti ini sudah biasa dilakukan oleh orang-orang barat. Namun, ini berbeda dengan yang mereka lakukan.
“Ehem…” suara dehaman seorang pria sukses membuat MyungYeon melepaskan tautan bibirnya. Jiyeon mengelap bibirnya yang basah karena ulah Myungsoo barusan. Ia menunduk malu. “MyungYeon?” subuah kata yang masih terasa asing ditelinga Myungsoo dan Jiyeon sukses meluncur dari bibir pria yang kini tengah berada didekat mereka.
“JB? Kenapa kau disini?” Tanya Jiyeon mulai mengangkat wajahnya.
“Dasar. Kalian masih sama saja seperti dulu. Jika kalian ingin melakukan hal itu, lakukanlah di kamar hotel kalian.” Ujar JB sambil membuka tutup kaleng minuman yang saat ini dipegangnya.
“Ya… mau apa kau kesini hah? Mengganggu saja.” Cetus Myungsoo sambil menarik tangan Jiyeon pergi. Alhasil, Jiyeon hanya mengikuti Myungsoo tanpa banyak Tanya.
Hari sudah semakin malam. Myungsoo terlihat sangat lelah. “Ayo pulang.” Ujar Myungsoo. Jiyeon menatap wajah Myungsoo. “Kenapa menatapku seperti itu?” Tanya Myungsoo saat menyadari Jiyeon sedang menatapnya.
“Kau terlihat lelah oppa. Sebaiknya kita pulang besok saja. Aku takut akan terjadi apa-apa pada kita nanti.” Ujar Jiyeon. Myungsoo membalas tatapan Jiyeon dan sesaat kemudian mengiyakan permintaan Jiyeon.
“Baiklah. Kita cari hotel dekat sini. Jha.” Myungsoo menggandeng tangan Jiyeon dan membawanya berjalan menuju hotel. Tak jauh dari tempat mereka, Myungsoo melihat sebuah hotel. Mereka pun memasuki hotel itu. Saat itu, hanya tersisa satu kamar hotel saja. Deri ratusan bahkan ribuan kamar hotel yang ada, hanya satu kamar yang kosong disana. Dengan terpaksa, Myungsoo harus menerimanya. “Jiyeon, kau mau? Atau kita mencari di tempat lain saja?” Tanya Myungsoo.
“Gwaenchanha. Lagi pula aku takut sendirian. Ambil saja kuncinya.” Ujar Jiyeon. Yah, Jiyeon hanya menerima keadaan. Entah kenapa beberapa hari ini, dia ingin selalu bersama Myungsoo. Ex-husband nya.
Sesampainya di kamar, Jiyeon menatap interior kamar tersebut. “Aku mandi dulu. Kau bisa tidur duluan.” Ujar Myungsoo sambil berjalan menuju kamar mandi. Jiyeon bercermin sebentar. Memperhatikan bentuk tubuhnya. “Sepertinya ada yang aneh denganku belakangan ini.” gumamnya. Sesaat kemudian dia teringat dengan tanggal hari ini. Ia merogoh ponsel yang ada di saku celananya dan melihat tanggal yang terpampang disana. Jiyeon semakin merasa aneh. “Ini sudah dua bulan dan aku… belum datang bulan.” Dahi Jiyeon mulai mengkerut. “Ah, lupakan. Mungkin aku hanya telat saja. Hal ini biasa terjadi padaku.” Jiyeon kemudian berbaring di tempat tidur dan menaikkan selimut hingga menutupi lehernya. Jiyeon pun akhirnya terlelap dalam tidurnya. Di balik sana, Myungsoo sedang mendengarkan suara Jiyeon. Jelas. Sangat jelas. ‘Kau hamil?’ Tanya batin Myungsoo. Ia kemudian dengan cepat membersihkan tubuhnya dan keluar dengan tenang dari kamar mandi. Ia menatap seseorang yang kini tengah tertidur di hadapannya. Myungsoo duduk tepat di samping Jiyeon.
“Mianhae Jiyeon. Aku tau apa yang terjadi. Kau sedang mengandung anakku kan? Aku janji akan menikahimu sebelum perutmu membesar.” Ujar Myungsoo sambil mengusap pelan dahi Jiyeon. Myungsoo mencium sekilas dahi Jiyeon dan berbaring sambil memeluk Jiyeon dari samping.
∞∞∞
Pagi itu, saat Jiyeon terbangun ia tiba-tiba merasa mual. Ia segera berlari ke wastafle. Myungsoo yang tengah tertidur, tiba-tiba terbangun saat mendengar suara Jiyeon di kamar mandi. Myungsoo dengan segera menyusul Jiyeon. “Jiyeon gwaenchanha?” Tanya Myungsoo.
“Molla. Perutku tiba-tiba terasa tidak enak. Mungkin aku hanya masuk angin saja.” Jawab Jiyeon ‘Kau memang baik-baik saja. Tapi kau sedang hamil. Anakku. Mianhae.’ Ujar Myungsoo dalam hati.
“Ah iya. Bukankah hari ini kau harus bersiap untuk kembali ke Korea?” Tanya Jiyeon setelah membersihkan wajahnya. Ia kemudian merapikan penampilannya.
“Ani. Aku tidak jadi kembali ke Korea. Aku ingin disini bersamamu. Karena kau… sedang mengandung anakku.” Suara Myungsoo tiba-tiba mengecil.
“Apa maksudmu oppa? Aku tidak hamil. Aku hanya masuk angin saja.” Ujar Jiyeon mengelak.
“Kau tidak percaya kalau kau sedang hamil? Baiklah, kau test saja sendiri dengan alat ini.” perintah Myungsoo sambil memberikan sebuah alat kecil pada Jiyeon. Alat test kehamilan.
Jiyeon menuruti perintah Myungsoo dan hasilnya. Dua garis merah. Itu artinya Jiyeon benar-benar sedang hamil. Sesaat kemudian pertahanan Jiyeon runtuh. Tubuhnya terasa lemas. Perasaannya bercampur antara bahagia dan sedih.
Seseorang kini tengah menunggu Jiyeon di depan kamar mandi. “Oppa…” ujar Jiyeon lirih. Air matanya kini tak terbendung lagi. Jiyeon kemudian menyerahkan benda kecil yang dipeganganya dan memeluk Myungsoo erat. Myungsoo memperhatikan benda itu. Dua garis merah. Myungsoo kemudian membalas pelukan Jiyeon. “Aku akan mengatakan hal ini pada appaku dan appamu. Aku akan bertanggung jawab atas kehamilanmu. Bagaimanapun, hal ini terjadi karenaku.” Myungsoo mengusap pelan rambut Jiyeon.
“Gomawo oppa…” ujar Jiyeon disela tangisnya.
“Ya sudah. Sebaiknya kita pulang agar kau bisa istirahat dengan nyaman.” Myungsoo melepas pelukannya dan pergi dari kamar hotel itu.
Selama perjalanan keduanya diam. Tak ada pembicaraan sama sekali. “Kau lapar?” Tanya Myungsoo sambil melirik ke arah Jiyeon. Jiyeon diam tak menjawab. Bahkan bahasa isyarat pun tidak digunakannya untuk menjawab pertanyaan Myungsoo. “Neo uro? Tenanglah... Lagi pula appaku dan appamu ingin kita menikah. Lagi.” Myungsoo menggenggam tangan Jiyeon.
“Tapi oppa akan kembali ke Korea nanti.” Jiyeon menatap wajah Myungsoo.
Myungsoo tersenyum remeh. “Mana mungkin aku akan meninggalkan wanita yang sedang hamil anakku sendirian disini? Kita akan kembali bersama-sama nanti. Aku sudah menyuruh Lee Joon untuk memesankan tiket pesawat untukmu.” Jawab Myungsoo. Jiyeon mengerutkan dahinya.
“Kembali? Lalu bagaimana dengan kuliahku? Aku baru masuk dan… aku tidak mungkin berhenti kuliah.”
“Kau tenang saja. Aku sudah mendaftarkanmu ke Seoul International University.” Ujar Myungsoo tenang.
“M-maksud oppa?” jiyeon mengerutkan dahinya (lagi).
“Aku mendengar gumamanmu semalam. Saat itu juga aku tahu kalau kau hamil. Dan saat kau tertidur, aku menghubungi Lee Joon untuk mendaftarkanmu di Universitas di Korea.”
“Lalu bagaimana testpack yang tadi oppa berikan padaku?” Tanya Jiyeon semakin tidak mengerti.
“Itu? Aku sengaja membawanya karena… aku ingat terakhir kali kita melakukan ‘itu’… aku tidak menggunakan pengaman.” Myungsoo menggaruk pelan tengkuknya yang tidak gatal.
“Oppa… Sebenarnya… aku tidak ingin bercerai denganmu. Tapi waktu itu-”
“Iya aku tau. Suzy memaksamu. Aku sudah tau itu.”
“Ba-bagaimana oppa tahu?”
“Jha… sudah sampai. Kaja. Kita harus bersiap.” ajak Myungsoo sambil mengacak pelan rambut Jiyeon.
∞∞∞
Jiyeon dan Myungsoo sudah sampai di bandara. Keduanya mulai melangkah menuju pesawat secara bersamaan. Jiyeon duduk tepat di sebelah Myungsoo. “Mungkin perjalanan ini akan melelahkan untukmu. Sebaiknya kau tidur saja. Nanti, aku akan membangunkanmu.” Ujar Myungsoo sambil mengusap pelan telapak tangan Jiyeon. Jiyeon hanya mengangguk sebagai jawaban ‘iya’. Dan beberapa detik kemudian, Jiyeon memejamkan matanya dan terlelap.
∞∞∞
Setelah berjam-jam berada di udara, akhirnya pesawat mendarat di Incheon Airport. Jiyeon terbangun dari tidurnya saat Myungsoo hendak membangunkannya. “oh kau sudah bangun? Kaja, kita sudah sampai.” Ujar Myungsoo sambil mengcup singkat pipi Jiyeon.
“Eeuunggh..” lenguhan halus keluar dari bibir mungil Jiyeon sambil meregangkan ototnya. “oppa, aku lapar.” Ujar Jiyeon pada Myungsoo.
“Arra. Sebentar lagi kita pergi ke restaurantku. Kau bisa makan disana.” Setelah penumpang keluar semua dan tidak berdesakan, Jiyeon dan Myungsoo keluar dari pesawat. Sesampainya di luar, Myungsoo dan Jiyeon di hampiri oleh seorang pria dan seorang wanita yang akan membantunya membawa koper masing-masing. Mereka berjalan menuju pintu keluar. Di luar sudah ada mobil yang menunggu Jiyeon dan Myungsoo. Lee Joon membukakan pintu untuk keduanya.
“Selamat atas kehamilanmu nyonya Kim.” Ujar Lee Joon.
“Mwo? Nyonya Kim? Ya… Lee Joon-a jangan panggil aku nyonya. Aku belum resmi kembali menjadi istri Tuan Kim Myungsoo. Arra?” Jiyeon dan Myungsoo memasuki mobil itu bergantian.
“Arasseo nyonya Kim. Eh maksudku nona Park.” Myungsoo terkekeh pelan mendengar obrolan asisten pribadinya dan istrinya.
“Sudahlah, ayo cepat pulang. Aku sudah sangat lapar.” Ujar Jiyeon sambil mengusap perutnya yang masih rata. Lee Joon menutup pintu mobil dan mengemudikan mobil itu.
∞∞∞
Myungsoo dan Jiyeon tengah berdiri di depan sebuah kaca sambil memandangi indahnya bulan dan bintang yang bertebaran di langit. Myungsoo memeluk perut Jiyeon dari belakang. Myungsoo menyandarkan dagunya di bahu Jiyeon sedangkan Jiyeon tengah asik memandangi langit. “Chagi.” Ujar Myungsoo membuka pembicaraan.
“Hm?” gumaman kecil menjadi sebuah sahutan untuk panggilan Myungsoo barusan.
“Kalau seandainya kau tidak hamil, apakah kau mau kembali padaku?” Tanya Myungsoo lembut.
“Kenapa kau Tanya itu?”
“Aku hanya ingin tau saja.”
“Walaupun seandainya aku tidak sedang hamil, aku tetap ingin kembali padamu. Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau akan memintaku untuk kembali padamu walau aku tidak mau?” Tanya Jiyeon kembali.
“Kau tidak perlu menanyakan hal itu. Aku akan menunggumu walaupun seandainya kau takkan penah kembali padaku. Karena kau adalah cinta pertamaku. Dan kau sendiri sudah tahu kalau aku meminta appa untuk melamarmu saat kau baru lahir.”
“Begitukah? Kalau begitu apakah aku menikah denganmu karena aku memang terlahir untuk menjadi milikmu?” Jiyeon tersenyum.
“Umm… mungkin.” Myungsoo tersenyum mendengar kalimat terakhir Jiyeon. “Chagi. Kalau anak kita sudah lahir nanti… kau ingin menamainya siapa?” Tanya Myungsoo.
“Nama? Entahlah aku masih belum memikirkan hal itu.” Jawab Jiyeon. “Bagaimana denganmu?”
“Kalau anak kita perempuan aku ingin menamainya Kim Tae Hee.” Ujar Myungsoo.
“Kim Tae Hee? Bukankah itu nama wanita tercantik di korea?”
“Ne. aku ingin anak kita jadi wanita yang canti dan juga pintar.”
“Lalu kalau laki-laki?”
“Kim Tae Hyung. Nanti nama lainnya V.”
“Tae Hee dan Tae Hyung. Nama yang bagus oppa.”
“Kau suka?”
“Ne.” Jiyeon memejamkan matanya menikmati hembusan angin malam yang masuk melalui celah-celah jendela kamarnya.
∞∞∞
Hari ini adalah hari pernikahan Jiyeon untuk yang kedua kalinya dengan Myungsoo. Teman-teman Jiyeon datang ke acara itu namun tidak dengan JB. JB sedang berada di Paris. Gyuri menghampiri Jiyeon di ruang mempelai wanita. Penampilannya sangat berbeda dengan sebelumnya. Ia terlihat sangat cantik dengan rambut panjangnya yang di urai.
“Eonni!” panggil Gyuri dari arah pintu. Ia sedikit berlari mendekati Jiyeon. “Eonni. Aku sudah dengar semuanya semalam. Eonni sangat cantik hari ini. Dan eonni tidak seperti di pernikahan pertama eonni. Waktu itu eonni menangis di sini. Tapi sekarang eonni terlihat sangat bahagia. Aku ikut bahagia eonni.” Ujar Gyuri sambil berjongkok di depan Jiyeon. “Eonni bolehkah aku foto bersamamu?” Tanya Gyuri yang langsung di jawab dengan anggukan oleh Jiyeon. “Hana… Dul… Set…” jepret! Satu foto berhasil Gyuri abadikan di ponselnya.
“Jiyeon-i…” panggil seorang wanita paruh baya dari pintu. Seketika mata Jiyeon berkaca-kaca. Ada sebuah kebahagiaan yang tak bisa di ungkapkan di dalam hati Jiyeon.
“Eomma…” wanita itu berjalan mendekati Jiyeon dan memeluknya erat. Begitupun dengan Jiyeon. Air matanya berjatuhan. “Eomma mianhae… aku sudah tidak pernah ke rumah eomma lagi selama dua bulan terakhir.” Wanita itu melepas pelukannya sesaat dan menghapus jejak air mata Jiyeon. “Appa mana?” Tanya Jiyeon.
“Appamu ada di luar. Sebentar lagi dia ke sini.” Jawab Han Jimin ibu angkat Jiyeon.
“Jiyeon. Bersiaplah sebentar lagi acara akan dimulai.” Ujar seseorang dari luar.

^Lobi^
“Park Hyojoon?” sapa Woohyun saat melihat Hyojoon sedang berjalan menuju ruang mempelai wanita. Hyojoon menoleh ke arah sumber suara.
“kau Park Hyojoon kan? Appanya Jiyeon?” Tanya Woohyun memastikan.
“ne. nu-nugu seyo?” Tanya Hyojoon bingung. Ia memang belum pernah bertemu dengan Woohyun sebelumnya. Bahkan saat ia meminta Jiyeon tinggal dikediamannya, Woohyun tidak datang karena waktu itu ia ada rapat penting.
“Saya appa kandungnya Jiyeon. Bisa kita berbicara sebentar?” pinta Woohyun ramah.
“Ah ne. silahkan.”
“Begini. Saya ingin, anda menjadi wali Jiyeon. Bagaimanapun, anda yang telah membesarkan Jiyeon selama ia terpisah dengan keluarganya.”
“Tapi kenapa? Bukankah anda appa kandungnya Jiyeon? Saya sama sekali tidak keberatan jika anda mengambil Jiyeon dari saya. Karena memang, Jiyeon bukan anak kandung saya. Anda yang seharusnya menjadi wali Jiyeon. Bukan saya.”
“Tapi anda yang sudah-”
“Tidak apa-apa. Anda yang wajib menjadi wali Jiyeon karena anda appa kandungnya.”
Begitulah obrolan antara Hyojoon dan Woohyun di depan ruang mempelai wanita.
∞∞∞
Mempelai pria telah memasuki ruangan dengan gagahnya. Wajah Myungsoo terlihat sangat bahagia. Beberapa saat kemudian, Jiyeon bersama walinya. Woohyun. Memasuki gedung pernikahan dengan bergandengan tangan. Untuk yang kedua kalinya Jiyeon dan Myungsoo melangsungkan pernikahan. Tak lama, kini Jiyeon telah berdiri tepat di hadapan Myungsoo. Kini perasaan Myungsoo sangat berbeda dengan pernikahannya yang pertama kali. Jantungnya kini mulai berdetak sangat kencang bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Di pernikahan kali ini, Myungsoo tidak merasa bersalah. Karena pernikahan ini terjadi atas dasar cinta dan buah hati yang sedang berada dalam kandungan Jiyeon.
“Myung… samcheon menitipkan Jiyeon padamu. Tolong jaga Jiyeon dan buah hati kalian dengan baik. Jangan lepaskan Jiyeon lagi jika kau benar-benar mencintainya. Arra?” ujar Woohyun seraya menyerahkan tangan Jiyeon dalam genggaman Myungsoo.
“Arasseo abeonim.” Jawab Myungsoo tegas.
“Semoga sukses.” Woohyun menepuk pundak Myungsoo sebelum ia mengambil tempat di sisi pengantin wanita.
∞∞∞
Acara pernikahan berjalan lancar sesuai rencana. Myungsoo dan Jiyeon telah resmi kembali menjadi pasangan suami istri. Myungsoo sedikit kecewa karena malam pertamanya harus tertunda sampai JIyeon melahirkan. Tapi Myungsoo juga senang karena bayi yang dikandung Jiyeon, Jiyeon mau kembali padanya.
Jiyeon baru saja keluar dari kamar mandi. Ia selesai membersihkan dirinya. Seperti biasa, Myungsoo menyuruh Jiyeon menggunakan kemeja kebesaran milik Myungsoo dan hotpants. Namun Jiyeon sendiri sama sekali tidak menolak permintaan Myungsoo yang bisa dibilang aneh itu. Myungsoo menatap Jiyeon tanpa berkedip. ‘Bahkan saat dia hamil, dia masih terlihat sama seperti dulu.’ Gumam batin Myungsoo.
“Kenapa kau menatapku seperti itu? Apakah ada yang aneh?” Tanya Jiyeon sesampai di hadapan Myungsoo. Ia melihat-lihat bagian belakang tubuhnya dan bagian depan juga. “Tidak ada yang aneh.” Gumamnya kemudian. “Ahh!!” pekik Jiyeon saat Myungsoo menariknya untuk duduk di kasur berdampingan dengan Myungsoo. Myungsoo membawa Jiyeon ke dalam pelukannya. Myungsoo melingkarkan tangan kirinya di pinggang Jiyeon sementara tangan kanannya mengusap kepala Jiyeon.
“Bogosipeo…” ucap Myungsoo.
“Nado bogosipeo oppa.” Jawab Jiyeon pelan. Myungsoo diam. “Oppa, kau tidak akan mengajakku bercinta, kan?” Jiyeon melepaskan pelukannya dan menatap Myungsoo.
“Kalau iya kenapa chagi?” jawab Myungsoo sambil menunjukkan senyum evilnya.
“Yakk!! Kau tau? Aku sedang hamil. Kau mau membunuh anakmu?” Jiyeon memukul lengan Myungsoo hingga pria itu kini meringis kesakitan.
“Aniya, aniya. Aku hanya bercanda…” ujar Myungsoo sambil memeluk Jiyeon lagi.
“Oppa, aku lelah. Aku ingin istirahat.” Lirih Jiyeon. Myungsoo pun melepaskan pelukannya dan membaringkan Jiyeon. Myungsoo menaikkan selimutnya hingga menutupi tubuh Jiyeon.
“Jaljayo chagi.” Ujar Myungsoo sambil mengusap ujung kepala Jiyeon. Jiyeon kemudian menutup matanya dan tertidur.

Yeeyy!!! Akhirnya selesai juga part 5 nya.
Next part or stop here?
Jangan lupa tinggalkan jejak.