Tampilkan postingan dengan label NC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NC. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2016

You Are My Wife

You Are My Wife

Cast      : Kim Jungyeon, Park Jimin.
Genre   : NC, Married Life
Length   : One shoot
Author   : Ms. Childish

Jungyeon POV

“Pakaian ini menyusahkanku.” Umpatku sambil berjalan menuju rumah baruku bersama seorang pria yang sudah sah menjadi suamiku sejak beberapa jam yang lalu. Usiaku memang masih muda. Bahkan terlalu muda untuk menikah. Yah, kalian pasti ingin tau kenapa menikah dengannya.

Beberapa tahun yang lalu saat usiaku masih balita, aku dijodohkan dengan putra dari sahabat ayahku. Aku mengetahui hal itu karena ayah yang menceritakannya padaku saat pertama kali ayah tau aku memiliki kekasih. Usia kami tidak berbeda jauh. Hanya berbeda 5 tahun. Dia sendiri saat ini sudah bekerja. Meneruskan perusahaan ayahnya sebagai presiden direktur. Dia sangat tampan, tinggi yaah walau tidak setinggi pria lainnya, dan… sexy. Kata yang cocok untuknya.

“Aku mau mandi dulu. Kau pasti lelah. Sebaiknya kau tidur duluan.” Ucapku sambil berjalan menuju kamar mandi. Namun beberapa detik kemudian dia menarik tanganku dan memelukku dengan sangat erat.
“Apa kau ingin melewati malam pertama kita? Mungkin kita bisa melakukanya setiap malam. Tapi malam pertama hanya terjadi sekali dalam sebuah pernikahan. Apa kau yakin akan melewati malam pertama ini denganku?” ujarnya. Ia masih memelukku dengan erat. Sungguh ini membuatku sangat risih. Aku tidak nyaman dengan perkataannya. Tapi ibu bilang aku tidak boleh menolak permintaan suamiku. Apapun yang ia minta aku harus menurutinya. Kenapa? “Yeon? Jawab aku.” Ujarnya memanggilku sambil mengusap punggungku pelan. Aku semakin risih.
“Ba-baiklah.” Jawabku terbata-bata. Sungguh aku sangat gugup. Badanku gemetar dan jantungku berdetak semakin cepat. Ini pertama kalinya bagiku.

Sebuah ciuman kini mendarat di bibirku. Bibir tebalnya menyapu bibirku. Aku dapat merasakan hisapan lembutnya terhadap bibir atasku. Ini benar-benar membuat jantungku terasa ingin lepas. Entah sejak kapan aku sudah berada dibawahnya dengan tanpa busana. Aku tidak menyadari semua yang terjadi. aku seakan terbuai dengan setiap perlakuannya. Beberapa saat kemudian aku merasakan bibirnya sudah tidak lagi menempel pada bibirku. Namun jaeak kami masih begitu dekat.
“Kau siap?” tanyanya meyakinkanku. Entah apa itu maksudnya aku tidak mengerti. Benar. Sejauh ini yang aku tau hanya sebatas ciuman. Aku tidak mengerti tentang hal ini.
“Akh!” aku menjerit saat merasakan ada sesuatu yang masuk bagian kewanitaanku. Ini benar-benar sakit. Aku merasakan ada sesuatu yang sobek di dalam sana. Entah apa itu, tapi ini benar-benar sakit. Air mataku mengalir, aku meringis kesakitan sambil memejamkan mataku kuat-kuat.
“Tahanlah Yeon. Ini hanya sesaat. Percayalah padaku kau akan menikmatinya setelah ini.” suara Jimin tidak terlalu jelas di telingaku. Aku hanya bisa menahan rasa sakit itu. Aku bahkan mencengkeram punggung suamiku untuk melampiaskan rasa sakitku. Ini sangat sakit. Suamiku mencoba meredam rasa sakitku dengan menciumku. Perlahan aku mersakan ia mulai menggerakkan pinggulnya pelan-pelan. Sakit. Sangat sakit. Namun seiring berjalannya waktu rasa sakit itu mulai berkurang dan berubah menjadi suatu kenikmatan yang mebuatku selalu menginginkannya. Hingga akhirnya kami mencapai puncak dari perminan ini. “Aku mencintaimu Yeon.” Dia mencium bibirku singkat dan menaikkan selimut untuk menutupi tubuh telanjang kami yang basah dengan keringat.
“Aku juga Jimin oppa.” Jawabku seraya memeluknya. Ini akan menjadi malam yang takkan terlupakan sepanjang hidupku.

Sinar matahari menembus kaca kamar pengantiku hingga membuatku silau. Aku menoleh kesamping kananku. Kosong. Aku mencari Jimin di sekeliling sudut tanpa menggerakkan tubuhku. “Akh!” aku memekik pelan saat aku merasakan sakit yang luar biasa di bagian bawah tubuhku. Aku bahkan lupa kalau saat ini tubuhku hanya ditutupi selimut tebal.
Ceklek
Aku dapat mendengarnya. Suara pintu terbuka dan menampakkan sosok pria tampan yang berotot dan… tampan.
“Kau sudah bangun? Aku membuatkan sarapan untukmu. Mandilah.” Aku tersenyum saat melihatnya mendekatiku. Sungguh ini seperti mimpi. Namun aku menggeleng saat ia menyuruhku mandi. Bagaimana bisa aku mandi? Berjalan pun rasanya aku tidak mampu. “Kenapa? Kau harus mandi.” Lagi-lagi aku menggeleng. Bagaimana aku mengatakannya? Aku malu. Tidak. Aku tidak boleh malu. Dia suamiku.
“Umm… itu… bekas semalam…” ujarku terputus-putus. Bagaimana aku mengatakannya?
“Oh… masih sakit kah? Baiklah. Aku akan membantumu ke kamar mandi.” Jimin menggendongku! Oh tidak! Pipiku terasa panas saat ia mulai mengangkatku dan membawaku ke toilet. “Panggil aku kalau kau sudah selesai.” Aku hanya mengangguk menurutinya.

Sudah seminggu kami menikah. Rasanya baru kemarin aku menikah. Dan sekarang sudah hari ke 7. Hari ini dia sudah kembali bekerja. Dan sepertinya waktuku dengannya akan semakin berkurang dan aku akan selalu merindukannya. “Aku berangkat dulu. Jaga dirimu baik-baik ya.” Pamitnya sambil mencium dahiku.
“Cepatlah pulang oppa. Jangan nakal.” Aku mencubit hidungnya. Sungguh menggemaskan. Aku tidak pernah berpikir akan mendapatkan jodoh sebaik dia.
“Aku tidak nakal. Ya sudah. Aku berangkat. Sampai jumpa.” Jimin pun pergi bekerja.

Hari ini adalah hari ke 30 kami menikah. Terasa begitu cepat. Siang ini aku berencana membawakannya makan siang khusus buatanku. Aku berharap dia akan menyukainya. Saat ini aku sudah berada di depan perusahaan suamiku. Aku mencoba menghubunginya sebelum aku sampai. Dia tidak mengangkat panggilanku. Berkali-kali aku menghubunginya namun tetap saja tidak dijawab. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk datang ke kantornya tanpa berpikir panjang. Sesampainya di depan ruangan Jimin aku melihat tempat sekretaris suamiku kosong. Mungkin dia sedang ada urusan di dalam. Aku mengetuk pintu kantor suamiku. Tidak ada jawaban dan tidak ada juga yang membuka pintu. Aku memutar kenop pintu itu. “Tidak dikunci. Kenapa aku mengetuknya? Aku bodoh.” Rutukku pada diriku sendiri. Aku segera masuk dan betapa kagetnya aku saat aku melihat pakaian wanita berserakan dilantai. Aku juga mendengar sesuatu. Seperti desahan seorang wanita. Dan… dia menyebut nama suamiku? Ada apa ini? Aku melangkah keluar dan membanting pintu. Ku harap Jimin akan mendengar suara pintu itu dan segera keluar. Aku meletakkan rantang yang kubawa di meja sekretaris dan segera pergi.

Aku pergi dari kantor itu. Entah mau kemana aku sekarang. Aku tidak ingin pulang. Aku tidak ingin pulang kemana pun. Tapi aku tidak bisa terus berada diluar rumah. Baiklah. Aku putuskan untuk pulang.

Sesampainya dirumah, aku segera menuju kamarku dan duduk dilantai bersandar pada tempat tidur serta memeluk lututku.
Drrrttt… Ddrrttt….
Ponselku bergetar. Aku mengambilnya dan melihat nama pemanggil. ‘suamiku’ cih. Apakah dia suamiku? Dia bahkan bercinta dengan sekretarisnya sendiri. Aku mengubah nama kontak suamiku menjadi ‘Jimin’ nama yang apa adanya. Aku meletakkan kembali ponselku dan membiarkannya bergetar. Aku menangis, tentu saja. Siapa yang tidak sakit hati jika melihat suaminya bercinta di hadapan istri sahnya? Atau selama ini aku hanya dianggap sebagai pemuas sexnya?

Jimin POV

Saat ini aku sedang menikmati tubuh sexy sekretarisku. Tapi sungguh. Tubuh istriku jauh lebih merangsangku daripada wanita ini.
Jedorr!!!
Suara pintu itu mengagetkanku. Siapa yang menggangguku saat aku sedang bercinta seperti ini? ah? Apakah pintu itu tidak terkunci sejak tadi? Bagaimana jika pegawaiku melihatku? Aku segera melepaskan kontak kami dan aku kembali berpakaian dan melemparkan pakaian sekretarisku. Aku berlari keluar dan menemukan sebuah rantang makanan. Aku segera membukanya. “Yeon? Apakah tadi itu dia? Tidak. Bagaimana bisa dia datang tanpa mengabariku?” gumamku. Aku segera mengambil ponselku dan melihat 10 panggilan tidak terjawab. Dan semuanya dari istriku. Aku mencoba menghubungi istriku. Tidak dijawab. Aku berjalan keluar dan mencari istriku. Mungkin saja ia masih diluar. Tapi tidak. Dia sudah tidak disana. Aku segera menuju perkiran dan mencarinya di rumah.
“Yeon!” teriakku sambil membuka setiap pintu ruangan di rumahku.
“Yeon!” aku membuka pintu kamarku dan disanalah dia berada. Memeluk lututnya dan memendam kepalanya diatara lututnya. Aku dapat mendengar tangisannya. “Yeon…” panggilku lembut.
“JANGAN SENTUH AKU! KAU BUKAN SUAMIKU! MULAI SEKARANG KAU BUKAN LAGI SUAMIKU!” bentaknya sambil menghempaskan tanganku yang barusan menyentuhnya.
“Yeon. Maafkan aku.”
“TIDAK! AKU TIDAK BISA MEMAAFKANMU! SELAMA INI AKU MEMANG BODOH! AKU HANYA KAU ANGGAP SEBAGAI PEMUAS SEXMU! AKU TIDAK PERNAH ADA DIHATIMU! MULAI SAAT INI KITA BUKAN LAGI SUAMI ISTRI! KITA AKAN SEGERA BERCERAI!”
“Yeon. Maafkan aku. Aku berjanji padamu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Aku hanya mencintaimu. Dan kau bukan hanya pemuas nafsuku. Kau istriku. Penghuni hatiku. Percayalah padaku.”
“JANGAN SENTUH AKU! SEKALI KAU MENYENTUHKU AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN DIRIKU HIDUP!!!” lagi-lagi dia berteriak. Aku mencoba untuk tidak terbawa dengan emosiku.
“Baiklah. Tidak ada maaf untukku. Aku menerima semuanya. Lakukanlah apapun yang kau inginkan. Ini memang salahku. Silahkan. Jika kau ingin selingkuh juga. Aku tidak akan melarangmu untuk melakukannya.” aku menunduk. Aku dapat mendengar tangisan Jungyeon yang semakin menjadi. Aku memang pria tidak berperasaan. Harusnya aku tidak melakukannya. Harusnya aku hanya melakukan hal itu dengan istriku. Aku salah. Maafkan aku Yeon.

SKIP

Sudah hampir seminggu Jungyeon tidak menyapaku. Tidak membuatkan sarapan. Tidak mencuci bajuku. Bahkan tidur pun terpisah. Aku sering melihatnya pulang tengah malam. Apa yang ia lakukan? Aku tidak bisa focus pada pekerjaanku. Sejak tadi aku hanya memikirkan Jungyeon. Memikirkan apa yang ia lakukan di luar sana. Pergi pagi dan pulang tengah malam. Haruskah aku mencari tau? Yah, mungkin itu perlu. Aku segera pergi dari kantorku. Pulang. Itu yang aku pikirkan sebelum aku memutuskan untuk pergi mencari Jungyeon.
“Sekretaris Han, hari ini aku ijin. Jika ada yang menanyaiku katakan saja aku sedang ada urusan pribadi.” Pamitku pada sekretaris baruku.
“Ne sajangnim.”

Aku baru saja sampai di depan rumah. Aku segera masuk dan aku melihat sepasang sepatu pria di depan pintu masuk. Aku mempercepat langkahku dan aku menemukan Jungyeon sedang berciuman dengan pria itu. Lancang sekali pria itu menyentuh istriku. Aku mengepalkan kedua tanganku dan segera menjauhkan pria itu dari Jungyeon. Aku memukulnya beberapa kali. “Beraninya kau mencium istriku!” aku memukulnya lagi. Emosiku benar-benar tidak bisa ku kendalikan lagi.
“Jimin?” aku dapat mendengar suara Jungyeon saat aku berhenti memukuli pria itu.
Aku melihat Jungyeon menghampiri pria itu dan membantunya berdiri.
“Bangunlah. Maafkan aku.” Ujarnya pada pria itu. “Aku akan mengobati lukamu di kamar.”
“JUNGYEON!!!” bentakku saat Jungyeon menuntun pria itu menuju ke kamarnya. Istriku mengabaikanku. Seperti inikah perasaannya saat ia melihatku berhubungan intim dengan sekretaris lamaku? Aku benar-benar bodoh.

Tak lama setelah kejadian tadi, Jungyeon dan laki-laki itu keluar dari kamar. Jungyeon mengantarnya hingga depan pintu. Aku menghampiri Jungyeon saat pria itu pergi dari rumahku. Aku menarik Jungyeon ke dalam pekukanku. “Maafkan aku.”
“LEPASKAN AKU!” bentaknya sambil menjauhkan dirinya dari pelukanku.
Aku memeluknya kembali dengan sangat erat. Aku dapat merasakan ia memberontak. Namun setiap kali ia berusaha melepaskan diri aku semakin mempererat pelukanku. “Jungyeon maafkan aku. Aku tau. Aku sudah merasakan semua rasa sakit yang kau rasakan saat itu. Sudah cukup jang dilanjutkan lagi. Sampai kapan kau akan marah padaku? sampai kapan kau akan menyakitiku? Aku sudah tidak berhubungan dengan sekretarisku. Aku bahkan memecat sekretarisku setelah kejadian itu. Maafkan aku. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu. Seperti saat kita masih belum menikah. Maafkan aku.”
“Oh begitu. Jadi jika aku tidak datang ke kantormu saat itu dan mengetahui semuanya kau masih akan terus berselingkuh dengan wanita lain? Kau brengsek Jimin. Jangan dekati aku lagi. Aku tidak ingin melihatmu lagi.” Kenapa ini begitu menyakitkan? Aku sudah meminta maaf padanya. Apakah aku harus melakukan hal yang lebih dari ini? mungkin jika aku melakukannya lagi dia akan bersikap baik padaku dan memaafkanku.
“Benarkah begitu? Apakah setelah ini kau masih tidak akan memaafkanku?” Ucapku sambil menggendongnya ke kamarku. Aku dapat melihatnya terkejut. Ia meronta tapi aku terus membawanya hingga sampai di kamarku. “Aku tidak akan pernah melepaskanmu Yeon.” Aku membaringkannya di kasurku dan menciumnya dengan kasar. Tidak butuh waktu lama. Ia pun membalas ciumanku. ‘Aku tau kau juga menginginkannya Yeon. Aku merindukanmu. Aku merindukan masakanmu dan semuanya.’

SKIP

“Huweek…” samar-samar aku mendengar suara seseorang sedang mual. Aku beranjak dari tidurku dan memakai pakaianku yang tersebar di kamarku. “Huweeek…” aku mendengarnya lagi. Ada apa dengan Jungyeon? Mungkinkah….
“Chagi…” aku memeluk Jungyeon dari belakang. “Aku sangat senang.”
“Apa maksudmu?” tanyanya. Ia sepertinya tidak megerti.
“Sepertinya kau hamil.” Jawabku sambil terus memeluknya.
“Ha-hamil? Be-benarkah itu?” Jungyeon terlihat seperti ketakutan.
“Itu hanya dugaanku. Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit saja dan memeriksakannya dengan benar.”

“Bagaimana keadaannya dokter?” tanyaku saat dokter itu selesai memeriksa istriku.
“Usia kandungannya sudah berjalan 3 minggu. Mual-mual saat awal kehamilan itu wajar. Dan jika istri anda akan meminta sesuatu tolong berikan saja.”
“Be-benarkah aku hamil?” Jungyeon menangis. Kenapa? Apakah dia bahagia? Atau dia belum siap menjadi seorang ibu?
“Iya nyonya Park. Anda harus memeriksakan perkambangan kandungan anda setiap bulan bersama Tuan Park.” Jelas dokter itu.
“Baiklah kalau begitu terima kasih dokter.” Aku berpamitan dan membawa Jungyeon pergi.
Sampai di mobil aku masih melihatnya menangis. aku memberanikan diri untuk bertanya padanya. “Kau kenapa?”
“Oppa. Aku tidak mau hamil.” Jawabnya.
“Wae? Kau belum siap menjadi ibu?” tanyaku lagi.
“Huum. Aku tidak mau menjadi gendut lalu kau mencari wanita lain. Hiks…” yaampun. Istriku benar-benar polos.

“Bagaimana bisa seperti itu? Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji. Lagi pula itu juga hasil perbuatanku sendiri. Aku berjanji padamu. Aku akan menghabiskan waktu bersamamu dan calon bayi kita. Aku mencintaimu Jungyeon.”

[Nappeun Namja Pt.6] Marry You And Happy

Marry You and Happy

Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol
Genre   : NC, Married Life, etc.
Length   : Chapter­­
Author   : Ms. Childish



One Month Later

Jungkook datang menemui Jinsol di rumahnya. Ia menyempatkan diri walau ia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Ia harus membeli gaun pernikahan bersama Jinsol untuk minggu depan.

“Nuna. Aku ingin menemui Jinsol. Bolehkah aku mengajaknya jalan hari ini?” Tanya Jungkook saat istri Hoya menemui Jungkook.
“Baiklah. Silahkan masuk. Aku akan membangunkan Jinsol dulu. Dia tampak sangat lelah setelah kemarin dia syuting seharian.”

Jungkook berjalan melihat foto-foto Sungjong yang terpajang rapi di sekeliling ruang tamu itu. “Nuna. Apakah ini anakku? Benarkah dia anakku?” Tanya Jungkook sambil terus menatap foto Sungjong.
“Benar. Dia sebenarnya anak kandungmu. Jinsol tidak menggugurkannya. Kami pergi ke Amerika untuk menghindari pembicaraan tetangga. Dan kami baru kembali beberapa minggu yang lalu. Dan. Aku juga sudah tau ceritanya. Kau menyurh Jinsol menggugurkan kandungannya saat itu. kenapa?” Istri Hoya mendekati Jungkook dan menatap foto yang sama.
“Saat itu aku masih labil nuna. Aku hanya memikirkan pendidikanku. Dan jika orang tuaku tau bahwa aku mengamili anak orang amaka mereka tidak akan menyekolahkanku. Sekarang. Aku kembali untuknya. Untuk menikahinya. Tapi saat aku melihatnya datang bersama Jimin hyung dan melihatnya bahagia bersamanya, aku mulai putus asa dan menyerah. Aku tidak ingin mengganggunya lagi. Aku memutuskan untuk hidp sebagai orang asing baginya.” Jelas Jungkook.
“Jungkook? Eonni?” Jinsol baru saja turun setelah beberapa saat ia mempersiapkan diri.
Jungkook tercengang melihat penampilan Jinsol yang sangat berbeda dari sebelumnya. Entah apa yang membuatnya merasa berbeda.
“kenapa kau menatapku seperti itu? apa ada yang aneh denganku? Kau tidak menyukainya? Aku akan mengganti pakaianku.”
“jangan.” Jungkook menahan tangan Jinsol saat Jinsol hendak kembali ke kamarnya. “Kau sangat cantik. Aku menyukainya.” Pujinya sambil memeluk Jinsol.
“ehem… kalian. Sebaiknya kalian cepat pergi. Mencari apartemen dan gaun pengantin yang bagus dan nyaman untuk kalian.
“Eonni. Aku berangkat.”
“Iya. Jungkook jaga dia baik-baik. Dan jangan mengulangi kesalahan yang sama.”
“Arasseo nuna.”

Jungkook dan Jinsol sudah tiba di butik gaun pengantin. Jungkook benar-benar memilih yang terbaik untuk Jinsol. Ia mendatangi sebuah butik dari desainer terbaik di Korea. Jungkook melihat setiap gaun pengantin yang ada. Beberapa sudah Jinsol coba namun tak satupun yang membuatnya tertarik. Hingga akhirnya ia memilih sebuah gaun panjang dengan mutiara yang mengelilingi bagian pinggang gaun tersebut. Saat Jinsol mengenakannya Jungkook merasa dirinya benar-benar sedang menikah hari ini. ia beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Jinsol. “Kau sangat cantik saat mengenakan gaun ini.” pujinya. Apa lagi yang akan Jungkook katakan? Dia lebih suka memuji Jinsol. “Setelah ini aku harap kita akan hidup bahagia tanpa ada permasalahan lagi.” Jungkook menarik pinggang Jinsol untuk merapat. Ia mendekatkan kepalanya untuk mencium bibir Jinsol. “Wae?” Tanya Jungkook saat Jinsol menjauhkan kepalanya.
“Ti-tidak. Jangan lakukan itu disini.” Jawab Jinsol sambil menundukkan kepalanya.
“Kalau begitu ayo kita lakukan itu di tempat lain.” Jinsol semakin bergetar saat mendengar ucapan Jungkook barusan.

Hari sudah mulai gelap. Matahari sudah kembali membenamkan sinarnya. Jinsol terlihat sangat lelah setelah ia memilih apartemen dan gaun pengantinnya. Tidak hanya itu, Jungkook tadi mengajaknya bermain di taman.
“Jinsol? Kita sudah sampai.” Jungkook mengayunkan lengan Jinsol beberapa kali namun gadis itu belum juga bangun. Jungkook segera keluar dari mobilnya dan menggendong Jinsol -seperti pangantin- masuk kedalam rumah kakaknya.
“Hyung… Nunaa…” teriak Jungkook dari depan pintu. “Nunaa!!! Hyuuungg!!!” teriak Jungkook sekali lagi. Beberapa saat kemudian pintu rumah itu terbuka.
“Kau sudah pulang? Masuklah dan bawa dia ke kamarnya.” Ujar Hoya.
“Ne. Hyung.” Jungkook membawa Jinsol ke kamarnya. Ia membaringkan gadis itu di tempat tidurnya. Jungkook menatap wajah Jinsol yang sedang tertidur sambil sesekali ia tersenyum. “Maafkan aku karena sudah pernah meninggalkanmu. Aku mencintaimu.” Jungkook mencium pipi kanan Jinsol dan beranjak pergi dari kamar Jinsol.

“Kau mau pulang?” Tanya Hoya yang dibalas dengan anggukan oleh Jungkook. “Menginaplah untuk hari ini. Ini sudah larut. Dan tidurlah di kamar Jinsol.”
“Hyung…”
“Aku mengijinkanmu tidur dengannya. Kau calon suaminya. Kau tunangannya. Tolong jaga dia baik-baik. Jangan tinggalkan dia lagi.” Ujar Hoya. Ia memeluk Jungkook dan mengusap punggung pria itu.


7 Days later
Jinsol tampak sangat cantik dengan gaun pengantin yang ia kenakan hari ini. Di sini. Di sebuah ruangan yang penuhi bunga ia menunggu seseorang yang akan menuntunnya ke altar. Ia ditemani oleh Sungjong. Anak itu dipangkunya di pahanya. Jinsol memeluk anak itu sambil sesekali mencium ujung rambutnya.
“Apakah setelah ini kau akan membawanya bersamamu?” Tanya istri Hoya sambil terus menatap Jinsol.
“Aku dan Jungkook berencana membawanya untuk tinggal bersama. Waeyo?”
“Bisakah kau meninggalkannya bersamaku? Aku akan merawatnya dengan baik. Kau tau aku tidak bisa memiliki anak lagi. Jadi bisakah aku memilikinya?”
“Eonni. Aku tidak akan memaksamu untuk mengembalikannya padaku. Bagaimanapun, kau adalah ibu baginya. Eonni. Dia bukan hanya anakku. Dia juga anakmu. Baginya, aku hanya adik dari appanya.”
“Jinsol.” Hoya memanggil dari pintu. Ia mengulurkan tangannya. Isyarat bahwa Jinsol harus pergi ke altar bersamanya. Jinsol segera menyerahkan Sungjong pada istri Hoya.
“Eonni. Jagalah dia baik-baik.” Istri Hoya mengangguk dan menggendong Sungjong.

Hari mulai gelap. Jinsol dan Jungkook baru saja tiba di apartemen baru yang akan mereka tinggali bersama. “Jungkook tunggu.” Suara Jinsol menghentikan gerakan Jungkook yang hendak membuka pintu mobilnya. Jinsol menatap lurus ke depan. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jungkook. “Aku tidak tega membawa Sungjong bersama kita. Eonni tidak bisa memiliki anak. Dan yang Sungjong tau, ibunya adalah dia. Bukan aku. Bisakah kita meninggalkannya bersama oppa?” Tanya Jinsol.
“Kau ingin meninggalkan anak kita bersama oppamu? Jika itu yang kau inginkan, aku menyetujuinya. Kita akan memiliki anak yang baru setelah ini.” Jungkook mengusap rambut Jinsol sambil tersenyum. Mendengar itu, Jinsol seketika menoleh karah pria itu. Jungkook turun dan membukakan pintu di samping Jinsol. Pria itu menggendong Jinsol sampai di apartemennya.

Kini mereka sudah tiba di depan pintu apartemen. Jinsol membantu Jungkook membukakan pintu. Setelah pintu itu terbuka, Jungkook segera memasuki apartemennya dan membawa Jinsol masuk bersamanya. Jungkook membaringkan Jinsol di sebuah tempat tidur yang sudah ditaburi oleh bunga mawar diatasnya. Jinsol tampak sangat gugup. Walau ia sudah pernah melakukannya, tapi perasaannya masih sama seperti pertama kali ia melakukannya. Jungkook menindih tubuh mungil gadis itu. “Kau cantik. Sangat cantik. Apalagi disaat sepeti ini. Saat kau berbaring dibawahku. Apalagi saat kau mendesahkan namaku 6 tahun yang lalu.” Jungkook membelai rambut Jinsol yang berada di samping wajahnya.
‘Pria ini benar-benar membuatku malu.’ Rutuk Jinsol dalam hatinya saat ia merasakan pipinya mulai panas. ‘Benar-benar memalukan.’
“Malam ini kita akan mengulangnya kembali. Aku akan melakukannya sepanjang malam. Kau tahu? Waktu itu aku tidak ingin meninggalkanmu dan bermain secepat itu. Aku tidak bisa berlama-lama karena aku tidak ingin seorang pun tau apa yang kita lakukan. Jika aku bisa, aku akan bermain denganmu sepanjang malam. Dan malam ini, aku akan melakukannya bersama orang yang sama dengan status yang berbeda. Aku akan menghabiskan malam bersamamu. Aku mencintaimu. Jeon Jinsol.” Jungkook menurunkan kepalanya dan mencium leher Jinsol.
“ngghh..geli Kookhh...” Ujar Jinsol sambil mendorong dada bidang Jungkook. Namun dengan segera Jungkook memegangi lengan Jinsol agar Jinsol tidak bisa memberontak. Jungkook menciumi setiap inci tubuh gadis dibawahnya. Hingga kini ia berada di belahan dada Jinsol. Ia menciumi bagian itu. “Nghh… Kook…” sebuah desahan berhasil lolos dari bibir Jinsol.
“Kau ingin menggodaku sayang?” Jungkook mengangkat kepalanya dan menatap Jinsol. Ia memeluk Jinsol menciumi setiap bagian lehernya, tangannya berusaha membuka resleting baju pengantin yang masih digunakan Jinsol sejak tadi. Jinsol meremas rambut Jungkook untuk meluapkan perasaannya. Entah perasaan apa itu hanya dia yang tau.
Sreek~
Resleting itu dengan mudah Jungkook turunkan hingga full sampai bawah. Jungkook menurunkan pakaian Jinsol dan melemparnya begitu saja. “Kau masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Kau masih sama sexy-nya seperti sebelumnya.” Jinsol mengalihkan pandangannya. Ia tidak bisa menatap Jungkook. Ia terlalu malu untuk menatapnya. Tangan Jungkook meraih pengait bra Jinsol dan melepasnya begitu saja. Ia kemudian menghisap gundukan itu seperti bayi yang sedang kehausan. Tangan kirinya meremas payudara yang lain. Naluri Jungkook benar-benar sudah berada di tingkat paling atas. Adik kecilnya sudah bangkit sejak tadi. “nghh… Kookieehh…” Jinsol tidak berhenti mendesahkan nama Jungkook dari tadi. Kewanitaannya pun sudah mulai basah. Jungkook semakin liar diatas tubuh istrinya. Tangannya mulai nakal. Ia menurunkan celana dalam Jinsol dan mengusap pelan kewanitaan Jinsol. Perlahan ia memasukkan jari tengahnya ke dalam kewanitaan Jinsol yang terasa basah itu. Jinsol meringis kesakitan saat tangan itu mesuk. Pahanya ia rapatkan kembali untuk menahan sakitnya. Jungkook tidak berhenti menyesap gundukan milik Jinsol hingga menimbulkan bercak kemerahan disana. Jungkook benar-benar sudah gila. Ia mengeluar masukkan jarinya dari kewanitaan Jinsol ia bahkan memasukkan 3 jarinya membuat Jinsol meracau tidak jelas. Beberapa saat kemudian cairan hangat keluar dari bagian kewanitaan Jinsol. Jungkook pun menjauhkan kepalanya dari payudara Jinsol dan menghisap semua cairan di kewanitaan Jinsol hingga bersih. “Ahhh….” Jinsol mendesah saat Jungkook menghisap kuat kewanitaannya.
Jungkook beralih ke bibir Jinsol dan mencium gadis di bawahnya. Ia berbagi cairan dimulutnya dengan Jinsol. Jijik. Yah Jinsol tidak pernah berpikir Jungkook akan segila ini. Tak lama, Jinsol mendorong Jungkook hingga ciumannya terlepas. “Kau curang. Pakaianmu masih lengkap. Sedangkan pakaianku sudah kau tanggalkan.” Ujar Jinsol iri.
“Kau iri padaku? baiklah.” Jungkook segera melepas semua pakaiannya hingga mereka sama-sama naked. Jungkook kembali menunduk dan mencium bibir Jinsol. Juniornya yang tegang tidak sengaja bergesekan dengan kewanitaan Jinsol. Terus begitu. Jungkook melebarkan paha Jinsol dengan kakinya.
“Kau…siap?” Tanya Jungkook ragu. Jinsol mengangguk pelan sambil menatap pria diatasnya. Tangannya memegang lengan Jungkook. Perlahan ia merasakan sakit di bagian kewanitaannya.
“Aaaaahh……” Cengkeramannya semakin kuat seiring dengan jeritannya saat junior Jungkook tertanam sempurna di dalam kewanitaannya. Air matanya mengalir dari pelupuk matanya sambil menahan sakit. Ini memang bukan pertama kalinya ia melakukan hubungan intim. Tapi itu terjadi 5 tahun yang lalu. Saat ia masih SMA. Sekarang ia sudah lulus kuliah dan sudah bekerja. Tentu saja semuanya berbeda.
“Sakitkah?” Tanya Jungkook sambil menghapus jejak air mata Jinsol. “Aku akan memulainya.” Lanjutnya. Jungkook mulai menggerakkan pinggulnya. Mengeluar masukkan benda keras miliknya yang berada di dalam tubuh Jinsol. Rasa sakit yang Jinsol rasakan semakin lama berubah menjadi sebuah kenikmatan. Apalagi disaat junior Jungkook mengenai titik terdalam pada dirinya. Racauannya pun semakin menjadi.
“Ahh… Kookkieeehh… deeper..” Racauan Jinsol terdengar jelas di telinga Jungkook. Hal itu semakin membuat naluri Jungkook meningkat. Jungkook semakin mempercepat tumbukannya di kewanitaan Jinsol. “Ahh… mmhh….” Desahan Jinsol memenuhi ruangan itu. tumbukan Jungkok semakin cepat hingga menimbulkan decitan pada tempat tidurnya. Desahan Jinsol dan Jungkook saling bersahutan seolah menjadi melodi yang sangat indah bagi keduanya.
Jungkook merasakan juniornya dijepit kuat di dalam tubuh Jinsol saat ia semakin kuat menumbuk kewanitaan istrinya. Juniornya pun terasa semakin membesar. “Kookiieehhh… aku keluar…” suara Jinsol terdengar semakin bergetar.
“Togetherhh…” jawab Jungkook. Ia mempercepat gerakannya hingga ia merasakan cairannya menyembur di dalam rahim istrinya. Pria itu memeluk Jinsol dan mencium keningnya. “Aku mencintaimu. Aku berjanji padamu. Aku tidak akan pernah pergi lagi darimu. Aku akan menjagamu. Kita akan membesarkan anak kita bersama-sama nanti. Aku berjanji padamu.” Ujar Jungkook. Jinsol menangis mendengarnya. Ia terharu. Jungkook berbeda dengan sebelumnya. Terakhir kali ia bertemu dengan Jungkook sebelum akhirnya mereka pergi dengan kehidupan masing-masing, Jungkook terlihat seperti pria brengsek. Jahat. Tapi sekarang ia merasakan ada sebuah perasaan yang hanya bisa ia mengerti melalui ucapan Jungkook barusan. Pria itu mencintainya. Harapannya sudah dikabulkan. Ayah dari Sungjong sekarang bertanggung jawab atas kesalahannya di masa lalu. Ayah Sungjong menikahinya. Yang ia harapkan hanya sebuah pernikahan dan pengakuan atas Sungjong. Tapi saat ini bukan hanya itu. Jungkook menikahi Jinsol atas dasar cinta dan perasaan. Bukan hanya karena rasa bersalahnya.
“Terima kasih kau sudah kembali. Aku juga merindukanmu. Aku juga mencintaimu. Jangan tinggalkan aku lagi.” Jinsol membalas pelukan Jungkook. Jinsol masih menangis. Tangisan bahagia.
“Tidurlah. Aku akan menemanimu. Mulai saat ini kau tidak akan sendirian lagi. Ada aku di sini.” Jungkook mencium bibir Jisol sekilas dan berbaring disamping Jinsol tanpa melepaskan juniornya dari kewanitaan Jinsol.

Malam itu. Aku merasakan semuanya. Perasaan sakit yang pernah aku berikan padamu dulu. Aku merasakannya. Saat aku meninggalkanmu dalam keadaan hamil. Aku menyesal. Aku menyesal karena saat aku kembali aku tidak menemukanmu. Dan saat kau muncul dihadapanku, kau sudah menjalin hubungan dengan Jimin hyung. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan selalu menemanimu. Aku mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu. Jinsol. -Jungkook-

Aku bersyukur kau kembali. Maafkan aku karena aku bersikap kasar padamu saat itu. Aku masih belum bisa melupakan kejadian di sekolah malam itu. Kau seperti pria brengsek saat kau meninggalkanku dalam keadaan berantakan. Kau seperti pria brengsek saat kau meninggalkanku bersama bayi di rahimku saat itu. Tapi aku bersyukur saat aku tau kau kembali untukku. Untuk menebus semua kesalahanmu. Tapi aku lebih bahagia lagi karena kau menikahiku bukan hanya untuk bertanggung jawab. Tapi karena kau mencintaiku. -Jinsol-

Hiduplah bahagia. Jangan pernah menangis lagi. Aku ada di sini kapan pun kau membutuhkanku. Karena aku adalah sahabatmu. Sahabat kecilmu. Aku akan menemanimu saat kau merasa sendiri. Aku akan menjadi sahabat yang baik. Aku akan menyayangimu. Seperti Yein yang selalu ada untukmu. -Jimin-


END

Rabu, 09 Maret 2016

[Nappeun Namja Pt. 1] What Are You Doing?


Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol, Jung Yein
Genre   : NC, School life, other
Length   : Chapter
Author   : Ms. Childish

Sejak kapan dia menjadi sangat seksi? Haruskah aku berusaha memilikinya walaupun dia sudah dimiliki oleh orang lain? -Jeon Jungkook-

Taehyung Oppa! Saranghae! -Lee Jinsol-



School Of Performing Art (SOPA). Sebuah sekolah yang sangat terkenal dan berkualitas. Sekolah itu merupakan sekolah terbesar di Korea Selatan (anggap saja begitu). Dan terbukti beberapa siswa lulusan sekolah itu kini menjadi artis terkenal. Sekolah itu juga menyediakan asrama untuk para siswa. Setiap asrama terdiri dari 2 tempat tidur. Sedangkan semua siswa yang berasrama disana mencapai ratusan bahkan hampir seribu siswa. Sudah terbayang bagaimana besarnya asrama dan luasnya sekolah itu. Belum lagi kelas music, laboratorium, perpustakaan, kantin sekolah dan lain-lain. Seperti biasa pada malam minggu SOPA mengadakan event seperti untuk vocal, dance, rapp, dan masih banyak lagi yang lain. Hal itu bertujuan untuk melatih para siswa agar tidak gagal dalam ujian kelulusan. Tentang ketertiban di SOPA. Tidak ada larangan untuk berpacaran. Akan tetapi, sudah ada waktu dan batasan tersendiri untuk mereka.

Kelas akhir. Bagi sebagian orang kelas akhir adalah hal yang paling mendebarkan dan paling banyak menghabiskan waktu untuk belajar agar mendapatkan nilai yang maksimal. Namun berbeda dengan Jungkook. Dia tidak terlalu serius menghadapai kelas akhir. Seolah semuanya hanya candaan dan untuk hiburan. Namun saat melihat keadaannya saat ini, wajar saja jika dia menganggap kelas akhir ini sepele. Ujian seperti konser. Ujian dimana setiap siswa akan dinilai secara langsung penampilannya diatas panggung. Ujian yang bisa dibilang seperti ajang pencarian bakat. Ujian itu akan mereka hadapi bulan depan.

“Ya! Jeon Jungkook!” teriak Taehyung dari belakang. Jungkook yang sedari tadi asik dengan lagu favoritenya segera menoleh ke arah sumber suara. “Kau tidak katihan?” Tanya Taehyung. Taehyung adalah salah satu pelatih dance di SOPA bersama Suga dan Jimin.
“Aku sedang malas hyung. Kau tau sendiri. Aku tidak suka menghabiskan waktu untuk latihan. Lagi pula latihannya hanya itu-itu saja. Kau latihan sendiri saja. Aku masih banyak urusan.” Jungkook kembali memasang headset nya dan pergi meninggalkan Taehyung.
“Dasar anak kecil. Padahal dia sudah kelas akhir. Bagaimana jika dia tidak lulus ujian nanti? Apa dia tidak memikirkan itu? ckckck” Umpat Taehyung saat Jungkook sudah jauh meninggalkannya.

Jungkook terus berjalan sepanjang koridor sekolah. Ya, saat jam segini memang sekolah sangat sepi. Karena ini bukan jam sekolah. Langkah Jungkook tiba-tiba terhenti saat ia sampai di depan sebuah ruangan yang sangat luas. Pintu ruangan itu terbuka. Entah itu karena memang dibuka atau entahlah Jungkook tidak memikirkan itu. Yang ia perhatikan adalah seseorang yang sedang berada di dalam ruangan tersebut. -Jinsol-. Jungkook melihat gadis itu sedang latihan dance. ‘kenapa pacar V hyung bisa menjadi sangat cantik dan seksi saat ia berkeringat?’ gumam batin Jungkook. Gerakan Jinsol pun akhirnya terhenti. Ia beristirahat sejenak di sudut ruangan. Perlahan, Jungkook memasuki ruangan itu dan menutup pintu yang sedari tadi terbuka.
“Kau sudah datang Oppa?” Tanya Jinsol sambil terus mengelap keringatnya. Namun ia kaget saat yang disapanya bukanlah Taehyung. Melainkan Jungkook. “Eh? Sunbaenim? Ada apa kau kemari? Tidak biasanya kau ingin latihan dance. Biasanya kau selalu menghabiskan waktu untuk bernyanyi dan berpacaran. Apakah kau sudah berakhir dengan Tzuyu?” Tanya Jinsol.
“Tidak. Aku kesini ingin mengajakmu untuk dance bersamaku hari minggu nanti.” Ujar Jungkook sambil mendudukkan dirinya tepat disamping Jinsol.
“Eh? Tapi sunbaenim. Bukankah kau akan dance bersama Yeri?” Tanya Jinsol heran.
“Aku tidak ingin bersama Yeri. Dia terlalu kaku. Aku tidak suka jika haru mengajarkan gadis sepertinya.”
“Aah.. begitu. Baiklah kalau begitu. Aku akan mengatakannya pada V oppa agar dia bisa mengatur jadwal latihan kita nanti.” Ujar Jinsol.
“Bagaimana kalau sekarang saja? Supaya lebih cepat selesai koreografinya.”
“Umm… boleh juga sunbae.” Jawab Jinsol.
Beberapa saat kemudian, Taehyung datang ke ruang dance tempat Jinsol dan Jungkook saat ini. Taehyung mengerutkan alisnya heran. Ia melihat Jungkook dan Jinsol sudah latihan bersama. “Ya! Jeon Jungkook!” Taehyung mematikan music yang mengiringi gerakan Jinsol dan Jungkook. Seketika keduanya menoleh ke arah Taehyung. “Bukankah kau bilang tidak ingin latihan tadi?” Tanya Taehyung.
“Aku malas latihan. Tapi saat aku melihat gerakan Jinsol yang sangat bagus, aku jadi tertarik untuk latihan.” Jawab Jungkook.
“Oppa. Jungkook sunbaenim bilang dia ingin dance bersamaku. Apakah kau mengijinkanku?” Tanya Jinsol dengan wajah memohon.
“Baiklah aku mengijinkanmu. Tapi bagaimana dengan Yeri?”
“Aku sudah menyuruh Yeri mencari pasangan yang baru. Gerakannya begitu kaku. Aku tidak suka.” Jawab Jungkook.
“Ya sudah terserah kau saja.” Ujar V. ia pergi meninggalkan Jinsol dan Jungkook karena ia sudah tau koreografi yang Jungkook buat sudah pasti bagus.

Latihan pertama dan kedua Jungkook biasa saja menghadapi Jinsol. Begitu juga dengan latihan yang ketiga. Hingga latihan kelima. Jinsol dan Jungkook latihan berdua di ruangan yang sama seperti sebelumnya. Jinsol menggerakkan badannya sesuai dengan gerakan-geraan yang sudah direncakan. Tiba-tiba saja Jinsol kehilangan keseimbangannya saat berbalik menghadap Jungkook hingga ia terjatuh tepat diatas pria berbadan kekar itu. Jinsol memejamkan matanya kuat saat Jungkook mulai mendekatkan wajahnya. Seolah ia mengetahui apa yang akan Jungkook lakukan. ‘Oh shit! Kenapa harus sekarang?’ teriak batin Jungkook saat merasakan sesuatu yang aneh di balik celananya. Pria itu mencium bibir Jinsol dan menekan tengkuknya saat gadis di atasnya itu hendak menjauh. Jungkook melumat bibir gadis itu sambil menggesekkan bagian bawahnya dengan milik gadis itu. Jinsol yang merasakan hal itu segera mendorong pria itu kuat-kuat hingga ia terlepas dari ciuman panas yang baru saja mereka lakukan.
“Ma-maafkan aku sunbae.” Jinsol segera bangun dari atas Jungkook dan pergi meninggalkannya sendiri di ruangan yang dikelilingi oleh kaca itu.
Jungkook juga bangun dan duduk saat Jinsol pergi dan menutup pintu ruangan itu dengan kasar. “Arrgh! Sial! Sekarang aku harus menidurkannya sendiri.” Teriak Jungkook sambil mengacak rambutnya kasar. Jungkook memundurkan dirinya dan bersandar pada sebuah kaca yang menjadi dinding ruangan itu. Ia mengeluarkan juniornya yang sudah bangun dari dalam celananya. Jungkook mengocok juniornya sendiri sambil mendesahkan nama Jinsol. Hingga akhirnya cairan putih keluar dari saluran kencingnya. Jungkook mengambil sebuah tisu yang selalu ia bawa di kantong celananya untuk membersihkan cairan di juniornya.

Malam minggu sudah tiba. Seperti biasa, siswa kelas akhir akan mengikuti event mingguan yang diadakan oleh pihak sekolah serta asrama. Jungkook sedang berjalan menuju asrama Jinsol. Jungkook mengetuk pintu asrama yang ada di depannya dan beberapa saat kemudian pintu itu terbuka.
“S-sunbaenim? Ada apa?” Tanya seorang gadis yang membuka pintu asrama itu. -Yein-
“Apakah Jinsol ada di dalam?” Tanya Jungkook kembali.
“Jinsol baru saja pergi ke ruang latihan. Dia bilang, dia akan langsung pergi ke ruang make up untuk event nanti malam.” Jawab Yein.
“Oh baiklah kalau begitu. Terima kasih.” Jungkook segera pergi ke ruang latihan untuk menemui Jinsol. Saat ia tiba di ruang latihan, ia melihat Jinsol sedang duduk . Tak lama kemudian gadis itu beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu. Namun langkahya terhenti saat ia tiba di ambang pintu. “Kau sangat rajin. Semoga sukses untuk nanti.” Ujar Jungkook sambil mengangkat tangannya untuk menyemangati Jinsol.
“Ne. Kau juga. Semoga berhasil.” Jinsol juga mengangkat tangannya sambil tersenyum manis ke arah Jungkook. “Ya sudah kalau begitu. Aku akan bersiap dulu. Tiga puluh menit lagi kita sudah harus selesai.”
“Ne. Bagaimana kalau kita pergi bersama saja?” tawar Jungkook.
“Kedengarannya itu bagus. Baiklah. Ayo pergi bersama.”

30 Menit Kemudian

Jinsol dan Jungkook sudah selesai berias sejak tiga menit yang lalu. Sambil berias, Jungkook dan Jinsol latihan menyanyi.
“Jungkook Jinsol bersiaplah. Satu menit lagi giliran kalian.” Ujar seorang panitia. Jinsol dan Jungkook segera berjalan meninggalkan ruang make up itu. Jinsol menarik napas dalam-dalam dan pergi menaiki panggung yang biasa di gunakan untuk event.

Musik mulai berbunyi. Jungkook dan Jinsol juga mulai menggerakkan tubuhnya seperti gerakan-gerakan mereka saat latihan. Taehyung memperhatikan Jinsol dari salah satu bangku penonton yang berada di barisan paling depan.
Saat lagu sudah hampir selesai dan saat Jinsol berputar mengelilingi Jungkook tangannya tak sengaja menyentuh kejantanan Jungkook. Namun Jinsol tidak menyadarinya. Jungkook terus menggerakkan badannya seolah ia tidak merasakan apa-apa sampai akhirnya music pun terhenti.

“Kerja yang bagus Jinsol.” Ujar Yein saat Jinsol sudah sampai di ruang make up.
“Penampilanku memang selalu bagus. Kau baru menyadarinya?” Tanya Jinsol sambil tertawa kecil.
“Ya sudah. Aku mau ganti baju. Aku ngantuk. Kau cepatlah kembali ke asrama.” Ujar Yein.
“Ne. Arasseo. Tapi sepertinya aku akan menemui V oppa dulu sebelum kembali ke asrama.”
“Ish… kamu ini. ya sudahlah. Jangan sampai melebihi jam 12. Nilaimu akan dikurangi.”
“Iya iya aku mengerti Yein-ku sayang.” Jinsol mencubit pipi Yein gemas. Akhirnya Yein pun pergi meninggalkan Jinsol.

Event sudah selesai. Jinsol pun berpamitan pada V untuk pergi. Karena dirinya masih belum mengganti pakaiannya. “Oppa, aku pergi dulu. Jangan lupa tidur ne.” Pamit Jinsol sambil memberikan sebuah ciuman di bibir V. Hal yang sudah biasa namun selalu manis untuk V.
Ruang ganti sudah sangat sepi. Namun di luar masih banyak siswa yang lewat. Hanya ada Jinsol sendiri di dalam sana. Saat Jinsol sedang mengganti pakaiannya, Jungkook masuk ke ruangan yang dipenuhi kaca dan lampu itu. Jungkook mengunci pintu. Beberapa saat kemudian, Jinsol keluar dari ruang ganti dengan dress mini yang ia kenakan sebelum tampil di panggung. Jungkook berjalan mendekati Jinsol dan menyudutkannya diantara dinding yang bisa dibilang dingin.
“Akh!” Jinsol memekik saat merasakan dirinya menghantam dinding. “Su-sunbae. Apa yang kau lakukan?” Tanya Jinsol heran saat menyadari orang yang menyudutkannya adalah Jungkook.
“Kau sudah dua kali membuat adik kecilku bangun Jinsol. Dan sekarang, kau harus membuatnya tidur kembali.” Bisik Jungkook tepat di telinga Jinsol. Jungkook mulai menjilat telinga gadis itu. Beberapa saat kemudian Jungkook beralih mencium bibir mungil Jinsol. Jinsol meronta, meminta Jungkook agar menghentikan kegiatannya.
“S-sunbae… hentikan…” pinta Jinsol. Namun Jungkook tidak menghiraukannya. Jungkook malah mencium gadis itu lagi dan memperdalam ciumannya.
“Aku tidak bisa berlama-lama disini Jinsol-a.” Bisik Jungkook lagi. Ia kemudian mendudukkan Jinsol di lantai yang sangat dingin. Jungkook kembali mencium bibir gadis itu penuh nafsu. Tangannya menaikkan rok dan meminggirkan celana dalam Jinsol. Ia kemudian melepaskan ciumannya lagi dan menurunkan celana serta dalamannya. Hingga nampaklah juniornya yang sudah tegang. Jinsol memejamkan matanya kuat-kuat. Ia tidak memiliki keberanian untuk melihat apa yang akan terjadi. “Aku akan memulainya.” Ujar Jungkook sambil menarik Jinsol ke dalam pelukannya. Perlahan Jungkook memasukkan juniornya ke kewanitaan Jinsol.
“Aaakh!” Jinsol berteriak saat kepala junior Jungkook mulai memasuki dirinya. Ia meremas bahu pria itu kuat-kuat.
“Jangan berteriak. Kalau ada yang mendengar teriakanmu, kita akan dikeluarkan dari sekolah. Kau tidak ingin itu terjadi bukan?” Bisik Jungkook. Ia kemudian melanjutkan aksinya. Jungkook memasukkan juniornya semakin dalam. Namun Jinsol kembali berteriak. Hingga akhirnya Jungkook menghentakkan juniornya hingga menancap sempurna di miss v Jinsol.
“Aaahhh!!” Jinsol kembali berteriak saat junior Jungkook sudah masuk ke dalam dirinya. Ia merasakan sesuatu mengalir dari miss v nya. Masih gadis. Itu lah yang ada di pikiran Jungkook saat Jungkook juga merasakan darah yang mengalir keluar dari miss v Jinsol. Jungkook mulai menggerakkan pinggangnya hingga membuat Jinsol berteriak beberapa kali. namun teriakan itu perlahan berubah menjadi desahan yang membuat hasratnya untuk menyentuh gadis itu semakin naik. “Ahhh… su-sunbaeehh…” desah Jinsol sambil menikmati setiap perlakuan Jungkook.
“Desahkanhh namaku Jinsol.” Bisik Jungkook.
“J-ju Junghh kook… ahh… lebih cepathh mhh…” pinta Jinsol terbata-bata. Ia tidak bisa menahan desahannya. Jungkook pun mengiyakan permintaan Jinsol dan mempercepat genjotannya. Desahan demi desahan keluar dari mulut Jinsol. Hingga akhirnya Jinsol merasakan sesuatu ingin keluar dari dalam dirinya. “Ju Jung… Kook… mmhh… akuu ahhh… ada yang mau keluarr…” Suara Jinsol mulai bergetar.
“Aku juga Jinsol. Mmhh…” Jungkook mempercepat genjotannya. Ia merasakan juniornya semakin membesar dan berurat.
“Akuuh tidak tahan jungkook ahh.” Suaranya Jinsol semakin bergetar. Ia tidak bisa menahan sesuatu yang ingin keluar dari dalam dirinya. Cairan Jinsol mulai keluar.
“Bersamaa hh…” desah Jungkook. Jungkook akhirnya menyusul Jinsol. Ia mengeluarkan cairannya di dalam miss v Jinsol.
“Aaahhh…” desahan panjang mengakhiri kegiatan mereka saat itu. Jungkook menarik keluar juniornya dari kewanitaan Jinsol.
“Rapihkan penampilanmu. Jangan sampai ada yang mengetahui kejadian ini. dan hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu.” Ujar Jungkook sambil memasukkan kembali Juniornya ke dalam celananya. Ia akhirnya pergi meninggalkan Jinsol di ruangan itu.


TBC