Tampilkan postingan dengan label Yein. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yein. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2016

Lollipop

Lollipop

Cast      : Jinsol, Wonwoo, Kei, Tzuyu, Sinbi, Somi, Yerim, etc.
Genre   : School life, Friendship
Length   : Oneshoot
Author   : Ms. Childish

Cerita ini aku ambil berdasarkan pengalaman pribadiku. Tapi tidak di endingnya. Ku harap aku tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. Maaf kalau alurnya terlalu cepat dan feelnya kurang dapet. Happy reading -_^ -Author-

“Selamat pagii…” sapa seorang gadis mungil saat ia sampai di kelasnya. Gadis itu dikenal sebagai gadis yang sangat ceria dan kekanak-kanakan. Senyumnya tak pernah luntur. Siswi kelas 1 SMA itu bernama Jinsol. Seharusnya ia kelas 2 SMA tahun ini. Tapi karena ia berhenti dari sebuah sekolah berasrama sebelum ujian kenaikan kelas, ia harus mengulang semua dari awal. Dengan teman baru dan suasana yang baru. Stop. Kita lanjutkan ceritanya.

“Chagi. Ayo ke perpus.” ajak Jinsol kepada 3 sahabatnya. Tzuyu, Sinbi, dan Somi. Diantara ketiga sahabatnya, Jinsol sangat akrab dengan Tzuyu. Saat ada pekerjaan kelompok, mereka selalu bersama.
“Chagi. Tugas bahasa inggrisnya bagaimana? Kau ingin mengerjakannya di rumahku atau dimana?” Tanya Sinbi sambil terus berjalan menuju perpustakaan.
“Entahlah. Kau tau sendiri bukan? Orang tuaku tidak pernah mengijinkanku keluar.” Garis bawahi ini. Jinsol tidak pernah diijinkan keluar rumah dengan siapa pun kecuali orang tuanya. Menyedihkan bukan? Entah karena alasan apa orang tuanya tidak mengijinkannya keluar. Jangankan untuk bepergian. Ke rumah tetangganya pun ia tidak diijinkan.
“Baiklah. Kita kerjakan tugasnya di rumahmu saja.”
“Selamat pagi saem.” Sapa Jinsol saat ia memasuki ruang perpustakaan. Sepi. Selalu begitu. Karena perpustakaan dianggap sebagai tempat membosankan. Berbeda dengan Jinsol dan kawan-kawan. Bagi mereka, perpustakaan adalah tempat yang sangat nyaman untuk bersantai saat istirahat maupun saat jam kosong.
“Jinsol Jinsol!” seru Somi saat ia baru masuk ke dalam perpustakaan.
“Apasih Somi? Jangan menggangguku.” Jawab Jinsol kesal.
“Ikut aku.” Somi menarik lengan Jinsol dan membawanya keluar menemui seorang siswa kelas 3.
“Apa?” Tanya Jinsol sadis.
“Ini kan sunbae?” Tanya Somi. Sunbae itu mengangguk. Ia menyuruh Somi masuk dan meninggalkan Jinsol berdua dengannya. Namun tangan Jinsol menahan Somi untuk tetap bersamanya.
“Ada apa sunbae? Kenapa Somi harus pergi? Katakan saja apa yang ingin kau katakan.”
“Jinsol. Maukah kau menjadi pacarku?” Tanya Sunbae itu.
“Pa-pacar? Aku bahkan belum mengenalmu. Bagaimana bisa aku menerimamu begitu saja sunbae?” Jinsol memang seperti itu pada setiap pria yang berusaha mendekatinya. Tidak peduli, cuek, dingin, dan tidak peduli.
“Ah iya. Kenalkan. Aku Jeon Wonwoo dari kelas 12 Sains.” Jawab kakak kelas itu apa adanya.
“Ayo masuk Somi. Aku masih belum selesai membaca buku.”
“Sunbae. Aku akan membujuknya untuk menerimamu.” Ujar Somi sebelum ia masuk.

Next Day
Seperti biasa, jam 6.15 pagi Jinsol sudah tiba di kelasnya. Setiap pagi ia melihat salah satu teman sekelasnya berpacaran di kelas. Sahabat sunbae yang kemaren menyatakan perasaannya pada Jinsol.
“Jinsol.” Panggil Wonwoo dari arah pintu.
“Dia lagi.” Gumamnya. “Apa?” Jinsol berjalan menuju ke arah Wonwoo.
“Apa kau akan menerimaku?”
“Kau memaksa? Baiklah. Aku menerimamu.” Jawab Jinsol apa adanya. Ia benar-benar tidak ada niat untuk memiliki pacar. Orang tuanya pun tidak pernah mengijinkannya berpacaran. “Sudah? Aku masih ada tugas. Sebaiknya kau pergi.” Usir Jinsol. Benar-benar gadis keras kepala.
“Sunbae? Bagaimana?” Tanya Somi pada Wonwoo.
“Gomawo.”
“Cheonma.”

Seminggu telah berlalu. Wonwoo sering mengunjungi Jinsol saat istirahat tiba. Dia juga selalu membawakan permen lollipop untuk Jinsol. Setiap kali istirahat. Namun, 2 hari ini pria itu tidak menunjukkan batang hidungnya. “Mana Wonwoo sunbae?” Tanya Jinsol pada sahabat Wonwoo. Joshua.
“Aku tidak tau. Dia hanya menitipkan ini untukmu.” Ujarnya.
“Lolipop lagi? Baiklah. Terima kasih.” Ujar Jinsol. Jinsol tidak memakan lollipop itu sendiri. Ia membagikannya pada 3 sahabatnya. Selalu seperti itu. karena menurutnya, apa yang ia miliki itu juga milik sahabatnya. Kecuali pacar dan barang berharga lain miliknya.

1 Year Later
Sudah satu tahun. Entah hubungan Jinsol dengan Wonwoo bagaimana. Tidak ada kata putus. Wonwoo meninggalkannya begitu saja. Jinsol pun tidak peduli dengan pria itu. Saat ini ia sudah duduk di kelas 2 SMA. Berpisah dengan ketiga sahabatnya memang berat. Tapi setiap kali istirahat tidak pernah ia lewatkan untuk selalu bersama di perpustakaan. Sayangnya itu hanya terjadi beberapa minggu saja. Setelah 3 bulan ia berada di kelas 2, Somi tidak pernah menyapanya. Walaupun mereka saling berpapasan. Di kelas 2, Jinsol mendapatkan beberapa teman yang sama baiknya seperti Tzuyu dan Sinbi.
“Lollipop?” Tanya salah satu teman sekelasnya. Jinsol hanya memandang lollipop yang dijual di kanti sekolah.
“Aku jadi flashback saat melihat lollipop itu.” gumam Jinsol sambil meminum minumannya.
“Siapa? Mantanmu? Memangnya mantanmu siapa?” Tanya Yerim.
“Aku tau. Wonwoo sunbae kan?” Sambung Kei teman sekelasnya sejak kelas 1 SMA. Jinsol mengangguk.
“Sekolah disini? Kok bisa putus?” Tanya Yerim mulai mewawancara. Jinsol hanya tersenyum kecut.
“Iiih… kamu tidak tau Wonwoo sunbae? Itu loh temannya Joshua sunbae.” Jawab Kei lagi. Yah, dia tau semuanya tentang hubungan Wonwoo dan Jinsol.
“Kok bisa putus?” Tanya Yerim lagi.
“Entah. Tidak ada kata putus. Dia meninggalkanku begitu saja.” Jinsol mulai mengangkat bicara.
“Bukan gitu Jinsol. Kamu tau? Somi bilang sama dia kalau kamu tidak akan diijinkan keluar dengan Wonwoo. Dan saat itu juga Wonwoo meninggalkanmu. Apa kau tau apa yang terjadi? Somi mendekatinya.”
“Somi? Somi yang…” kalimat Yerim menggantung.
“Iya Somi yang itu.”
“Sahabat macam apa itu? sudah nanti kamu jangan deketin dia lagi. Masih banyak pria di luar sana. Lupakan masa lalu. Lupakan soal lollipop itu.” Sambung Yerim. Jinsol hanya tersenyum kecut sambil terus memandangi lollipop yang tadi.

2 Years Later

Jinsol sudah lulus dari SMA-nya. Ia meneruskan sekolah di Daekyung University. Hari pertamanya masuk kuliah. Ia menarik napas dalam-dalam dan melangkahkan kaki kanannya menuju kelasnya. Ia kaget saat seseorang menghentikan langkahnya dan memberikannya lollipop yang pernah Wonwoo berikan dulu. Dan benar saja, itu adalah Wonwoo. Wonwoo yang meninggalkannya 2 tahun lalu.
“sunbae?”
“Hai sayang. Kau masih mengingatku?” sapanya.
“Aku ada kelas. Minggirlah.”
“Tidak sebelum kau menjawab pertanyaanku.”
“Apa?” Jinsol masih sama seperti dulu. Dingin. Tidak ada yang berubah darinya.
“Maukah kau kembali padaku?”
“Untuk apa? Aku dan kamu tidak ada hubungan apa-apa lagi. Sejak saat itu, hubungan kita sudah berakhir. Kau meninggalkanku untuk Somi. Kau mendekatiku agar kau tidak sendirian jika pergi dengan teman-temanmu. Semua sudah jelas. Kei sudah menjelaskannya padaku.”
“Kau salah paham Jinsol.”
“Sudah. Aku ada kelas. Minggir sebelum aku berteriak.” Ancam Jinsol. Ia mendorong Wonwoo dan masuk ke kelasnya.

Benarkah itu? kau tidak bohong kan? Aku masih sayang padamu. Tapi jika kau menemuiku untuk menyakitiku lagi sebaiknya jangan kembali.

Kelas telah berakhir. Jinsol keluar untuk pergi ke kantin.
“Ehem.” Wonwoo duduk di sebelah Jinsol sambil memberikan segelas minuman ke hadapannya. Jinsol tidak mendengarnya. Tentu saja begitu. Ia sedang mendengarkan lagu favoritnya dengan headset. Wonwoo membuka sebelah headsetnya dan memasangnya ke telinganya sendiri.
“Su-sunbae? Sejak kapan kau ada disini?” Jinsol beranjak dari tempat duduknya. Namun Wonwoo menariknya agar ia duduk kembali.
“Bukankah ini menyenangkan?” Tanya Wonwoo sambil merangkul pinggang Jinsol.
“Sunbae singkirkan tanganmu.” Ujar Jinsol. Ia tampak risih dengan hal itu. ini pertama kalinya ia duduk bersama seorang pria dengan jarak yang saling berdekatan.
“Aku benar-benar tidak ada apa-apa dengan Somi. Somi yang menggodaku saat itu. mungkin benar dia mendekatiku. Tapi aku tidak pernah tergoda dengannya. Dan… aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku hanya focus pada ujian. Maafkan aku.”
“Be-benarkah itu?”
“Aku tidak berbohong. Aku serius. Aku hanya menguji seberapa baik Somi. Dan ternyata dia bukan teman yang baik untukmu. Maukah kau memaafkanku dan kembali padaku?” Tanya Wonwoo lagi.
“Aku memaafkanmu. Tapi jika untuk kembali, aku tidak bisa. Orang tuaku akan melaarangku kuliah jika mereka tau anaknya memiliki seorang pacar.”
“Jadi kau tidak diijinkan berpacaran?” Tanya Wonwoo kaget. Jinsol hanya mengangguk. “Baiklah. Kita akan menjadi sahabat. Aku akan membantumu saat kau ada tugas. Dan maukah kau tetap bersamaku setiap kelasmu berakhir?” Lagi-lagi Jinsol hanya mengangguk. “Terima kasih. Ini lollipop untukmu.” Jinsol menatap lollipop itu dan segera meraihnya. “Mulai sekarang, lollipop ini bukan tanda cintaku lagi. Tapi tanda persahabatan kita. Jangan pernah lupakan aku.” Ujar Wonwoo.
“Kau terlalu banyak bicaara sunbae.” Sekalinya Jinsol berbicara. Kalimatnya begitu menyakitkan hingga membuat Wonwoo salting.

Aku akan memendam perasaanku padamu. Dan mungkin aku salah dulu pernah meninggalkanmu. Tapi sekarang, aku akan melindungimu sebagai sahabatmu. -Wonwoo-


Jangan pernah bosan memberiku lollipop setiap kali kita bertemu. -Jinsol-

Sabtu, 16 April 2016

[Nappeun Namja Pt.3] New Life

Nappeun Namja Pt.3
New Life

Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol, Jung Yein, Lee Hoya
Genre   : Family, Happy (?), etc.
Length   : Chapter
Author   : Ms. Childish



“Ranking 1 pada hari ini. Diraih oleh seorang siswa yang sangat rajin dan terkenal di sekolah. Dan dia berencana untuk melanjutkan study-nya di Amerika. Mungkin siswa ini sudah tidak asing lagi di sekolah ini. Mari ucapkan selamat untuk Jeon Jungkook. Siswa yang selalu menduduki juara 1 disekolah.”
Jinsol bertepuk tangan malas sambil melihat wajah Jungkook. Air mata kini mengalir dari pelupuk matanya. Mengingat statusnya yang akan menjadi orang tua tunggal untuk anaknya. ‘Aku tidak akan menuntut apapun darimu Jungkook. Aku akan berdoa kepada Tuhan semoga kau selalu bahagia. Dan rasa sakit yang kau berikan, takkan pernah bisa aku lupakan. Kau adalah pria terjahat yang pernah aku kenal.’
“Ranking 2 tahun ini. Diraih oleh seorang siswi yang berbakat. Dengan setiap gerakan dance nya yang memukau dan juga suaranya indah. Berilah tepuk tangan untuk siswi kita yang bernama Lee Jinsol.” Jinsol kaget saat mendengar namanya disebut. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri berharap kakaknya akan datang. Ia menarik napasnya dalam-dalam kemudian berdiri dan melangkah ke atas panggung. Ia menerima piala yang diberikan oleh kepala sekolah. Jinsol tersenyum tipis. Di hatinya ia tidak ingin melihat wajah Jungkook. Dengan ekspresi wajah yang datar dan dingin, Jinsol berdiri di sebelah Jungkook.

Acara sudah selesai beberapa menit yang lalu. Jinsol melangkah keluar dengan piala di tangannya. Dengan wajah yang tampak sedih. Namun sesosok pria yang sangat dirindukannya tiba di hadapannya. Membuat senyumnya kembali mengembang. “Oppa!” teriak Jinsol sambil menghambur pelukan pada pria itu. “Oppa, bagaimana bisa kau datang ke Korea? Mana kakak ipar?” Tanya Jinsol.
“Kakak iparmu ada di rumah. Dia tidak bisa ikut.” Jawabnya.
“Oppa, aku bisa meraih juara 2 tahun ini. apa hadiahmu untukku? Apakah kau akan membelikanku mobil baru?” seru Jinsol sambil menunjukkan pialanya.
“Tidak. Aku akan membawamu ke Amerika. Oppa tidak yakin bisa meninggalkanmu di Korea.” Ujar pria itu sambil mengacak rambut Jinsol pelan.
“Baiklah oppa.”
“Ayo pulang. Mana kopermu? Aku akan membawakannya.”
“Tunggu dulu ya oppa. Aku harus mengatakan sesuatu pada seseorang. Oppa pergilah lebih dulu. Aku akan menyusul.” Ujar Jinsol. “Ah iya. Ini tolong bawakan pialaku juga.” Lanjutnya.

Jinsol berjalan menuju ruang latihan. Ia pergi menemui Taehyung disana. Dengan wajah sedihnya ia berjalan memasuki ruangan itu. “Taehyung oppa.” Panggil Jinsol pelan.
“Aku sudah tau semuanya. Aku tau kenapa kau datang kesini. Jungkook sudah memberitahuku. Kenapa? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku sebelumnya?! Kenapa?!” Taehyung mengguncangkan tubuh Jinsol sambil berteriak. “Jelaskan padaku!!” bentak Taehyung.
“Aku… aku tidak tau hal itu akan terjadi. Dan, seharusnya kau memarahinya bukan memarahiku. Karena dia yang memulainya lebih dulu. Dan apakah oppa tau apa yang dikatakannya saat aku mengatakan padanya kalau aku hamil? Dia menyuruhku menggugurkan kandunganku. Oppa. Aku mengerti perasaanmu saat ini. Kau pasti merasa jijik melihatku. Kau pasti tidak ingin melihatku lagi. Setelah hari ini. Aku akan pergi dari sini. Dan menjalani semua yang akan terjadi. Apapun itu. Aku akan melahirkan anak ini walau tanpa ayahnya dan tanpa ada sebuah pernikahan. Mulai saat ini dan seterusnya. Anggaplah kau tidak pernah mengenalku oppa.” Perlahan Jinsol berjalan mundur dan pergi meninggalkan Taehyung yang masih mematung. Gadis itu tidak meluapkan emosinya. Taehyung merasa kasihan pada Jinsol. Ingin dia menikahinya dan bertanggung jawab. Tapi bagaimana jika suatu saat Jungkook datang dan tiba-tiba sadar akan perbuatannya? Pikiran Taehyung kacau. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain merelakan Jinsol pergi.

Meet You Again

Jinsol dan kakaknya sudah sampai di rumah besarnya. Rumah yang Jinsol tinggalkan sejak ia tinggal di asrama. Jinsol menghempaskan tubuhnya di sebuah ranjang putih yang ada di kamarnya. Ia menatap ponselnya sekilas. Jinsol membuka ponselnya dan mengganti wallpaper nya dengan fotonya sendiri.
Tok tok tok
Jinsol mendengar suara ketukan pintu dari luar. Jinsol beranjak dari kasurnya dan membukakan pintu untuk orang itu. “Ada apa eonni?” Tanya Jinsol saat melihat kakak iparnya di depan pintu.
“Aku hanya ingin mengantarkan ini untukmu.” Ujar wanita itu sambil memberikan nampan yang berisi makanan diatasnya pada Jinsol. “Aku tau kau terlalu lelah untuk turun dan makan siang. Sebaiknya kau makan lalu panggil aku kalau sudah selesai. Jangan lupa istirahat.”
“Terima kasih eonni. Aku akan menghabiskannya.”
“Baiklah kalau begitu. Eonni masih ada pekerjaan. Selamat menikmati.”
“Ne eonni.” Jinsol memasuki kembali kamarnya setelah kakak iparnya pergi dari hadapannya. “Anakku. Kau pasti lapar. Tenang saja. Eomma akan memberikanmu makan yang enak setiap hari.” Gumam Jinsol sambil mengelus perutnya yang rata.

Hari demi hari berlalu begitu saja. Sudah lima bulan ia resmi lulus dari SOPA. Perutnya semakin membesar. Ia selalu menggunakan korset untuk menutupi kehamilannya. Asa takut dalam dirinya semakin besar. Bagaimana jika kakaknya tau kala dia hamil? Apa yang akan kakaknya lakukan? Apakah kakaknya akan mengusirnya? Ia sendiri bingung. Terkadang ia berpikir untuk memberitahu yang sebenarnya pada kakaknya. Namun tidak ada keberanian dalam dirinya untuk mengungkapkan itu.
“Jinsol? Kenapa kau melamun?” Tanya Hoya saat menyadari Jinsol sedang melamun dan tidak memakan makanannya.
“Kenapa kau tidak memakan makananmu? Kau sakit?” Tanya istri Hoya.
“T-tidak oppa, eonni. Aku baik-baik saja.” Jawab Jinsol sambil tersenyum kecut.
“Kau yakin baik-baik saja?” Tanya Hoya memastikan. Jinsol mengangguk lagi.

“Bagaimana aku bisa memberitahu oppa? Harusnya aku menggugurkan anak ini. Tapi aku tidak bisamembunuh anakku sendiri. Appa, Eomma. Mianhae. Aku tidak bisa menjadi anak yang baik. Kalian pasti sangat sedih. Tapi aku tidak ingin membunuh anak ini. Aku bukan seorang pembunuh.” Gumam Jinsol sebelum ia tertidur lelap.

Matahari sudah menjulang tinggi. Jinsol masih belum bangun dari mimpi indahnya.
“Apakah Jinsol belum bangun?” Tanya Hoya pada istrinya yang sedang menata makanan di atas meja.
“Kurasa belum. Aku akan membangunkannya.”
“Jangan. Kau selesaikan saja dulu pekerjaanmu. Biar aku yang membangunkannya.” Ujar Hoya sambil mengacak pelan rambut istrinya.

Sesampainya dikamar Jinsol, Hoya dikagetkan dengan sesuatu yang ada dihadapannya. Ia melihat Jinsol sedang mengusap perutnya yang membesar.
“Oppa?” Jinsol juga kaget saat oppanya tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.
“Apa-apaan ini Jinsol?!” Tanya Hoya geram. Jinsol terlihat kebingungan.
“Oppa aku bisa jelaskan ini.” Jawab Jinsol sambil mendekati oppanya.
“Bayi siapa itu?!” teriak Hoya.
“Ini… oppa. Maafkan aku.”
“Katakan padaku anak siapa itu?!” Bentak Hoya lagi sambil mengguncangkan tubuh Jinsol.
“Ada apa chagi? Kenapa kau berteriak?” Tanya istri Hoya yang baru tiba di kamar Jinsol.
“Apa itu anak dari seseorang yang bernama Taehyung itu?” Tanya istri Hoya pelan.
“Bu-bukan. Ini anak Jungkook oppa. Maafkan aku. Ini bukan salahku. Aku dipaksa oppa.” Jelas Jinsol sambil menangis.
“Jungkook? Siswa juara satu yang sangat berbakat itu?” Tanya istri Hoya. Jinsol mengangguk pelan.
“Dia sekarang pergi ke luar negeri. Aku tidak tau dia akan pergi ke mana.” Jelas Jinsol dengan suara pelan.
“Ikutlah denganku.” Ujar Hoya sambil menarik tangan adiknya keluar dari kamar.
“Oppa… kau akan membawaku kemana?” Tanya Jinsol.
“Gugurkan kandunganmu agar kita tidak menanggung malu. Kau tidak berpikir apa yang akan orang katakan saat melihatmu melahirkan tanpa suami?”
“Tidak oppa. Aku tidak akan menggugurkannya. Sampai kapan pun. Dia anakku. Kau tidak bisa membunuhnya oppa.” Jinsol memeluk perutnya sambil menangis.
“Chagi… Jangan paksa dia menggugurkan kandungannya. Aku yang akan membesarkannya. Aku akan membesarkannya sebagai anakku. Jangan membunuhnya. Cukup aku saja yang pernah kehilangan bayiku. Jangan melenyapkan bayi tidak berdosa itu. ku mohon…” pinta istri Hoya.
“Kau yakin? Baiklah. Aku tidak ingin menjadi pembunuh. Kita tidak bisa seterusnya tinggal disini. Aku akan mengurus kepindahan kita ke Amerika. Dan kita akan kembali lagi setelah anak itu sudah cukup besar.” Ujar Hoya.

1 Year Later

6 bulan yang lalu, Jinsol melahirkan bayi pertamanya. Bayi yang laki-laki yang sangat lucu. Ia memberinya nama Lee Sungjong. Ia berharap anaknya akan menjadi anak yang baik dan tidak seperti Jungkook. Ayahnya. Banyak harapan Jinsol pada Sungjong. Tepat saat Jinsol usai melahirkan, Hoya menyuruh Jinsol melanjutkan sekolahnya. Ia berencana mendaftarkan Jinsol di Universitas yang berada tak jauh dari rumah yang Hoya tempati dengan keluarganya. Setidaknya Jinsol bisa menyelesaikan sekolahnya. Jinsol mengiyakan rencana kakaknya. Jinsol juga berharap, ia akan menjadi seorang penyanyi terkenal diseluruh dunia.

4 Years Later

Acara wisuda telah selesai. Jinsol, Sungjong, Hoya dan istrinya duduk dalam sebaris kursi. Jinsol tersenyum senang sambil memangku Sungjong. Senyum Jinsol mengembang saat namanya di sebut sebagai pemenang juara 2 di universitas internasional tempatnya kuliah. Sungguh sebuah keberuntungan baginya. Sungjong membuatnya semakin bersemangat untuk belajar dan meraih cita-citanya sebagai pemusik. Namun sekarang, dia tidak lagi ingin menjadi seorang pemusik. Ia ingin menjadi seorang penyanyi terkenal di seluruh jagad raya.
“Oppa, terima kasih sudah merawat Sungjong dengan baik. Dan maafkan aku tidak bisa menjadi adik yang baik untukmu.” Ujar Jinsol sambil memeluk kakaknya.
“Nunaa… aku juga mauu…” rengek Sungjong dengan wajah lucunya.

‘Welcome to Seoul’
Jinsol tersenyum senang saat ia tiba di tanah kelahirannya. Setelah 5 tahun ia berada di Amerika bersama dengan kakaknya. Di depan, sudah ada sebuah mobil mewah yang menunggunya dan keluarganya. Ia pulang dengan membawa piala kebanggannya di kopernya. Tak jauh dari tempatnya berada saat ini, Jinsol melihat seorang wanita melambaikan tangan ke arahnya. Jinsol menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas wajah wanita itu. “YEIN!!” teriak Jinsol seketika. Jinsol berlari dengan cepat dan memeluk Yein dengan erat. “Aku merindukanmu Yein…”
“Kau terlihat semakin cantik. Ah iya. Kau tau Park Jimin? Teman kecil kita sekaligus tetangga yang dulu pernah menyatakan cinta padamu. Kau ingat?” Tanya Yein.
“Jimin yang imut-imut itu? Tentu saja aku ingat. Kenapa?”
“Kau tau? Sekarang dia menjadi seorang member boyband terkenal di Korea. Bahkan International. Mungkin.” Jelas Yein.
“Aku sudah tau itu.” Seru Jinsol dengan wajah cerianya. “Ah tunggu sebentar.” Ujar Jinsol sambil merogoh sakunya dan mengambil ponsel pink miliknya yang sudah berdering sejak beberapa detik yang lalu. “Oppa, aku akan pulang dengan Yein. Oppa pulanglah lebih dulu. Aku sudah meletakkan koperku di mobil. Aku tidak akan pulang terambat hari ini. Aku pastikan jam 2 aku sudah tiba di rumah. See you oppa. Jinsol mencintai Jongie.” Ujar Jinsol dengan cepat dan mematikan ponselnya.
“Kau masih sama seperti dulu. Kita mau kemana?” Tanya Yein.
“Tunggu dulu. Seseorang akan datang sebentar lagi.” Jinsol menahan tangan Yein dan melihat ke sekitarnya mencari seseorang yang akan datang menjemputnya. “Jimin!!” teriak Jinsol sambil melampaikan tangannya pada seseorang berkaca mata hitam dan memakai masker. Tidak jelas wajahnya tapi Jinsol bisa mengenal pria itu dengan baik. Seketika semua orang melihat kearahnya saat ia menyebutkan nama Jimin. “Ups!” Jinsol menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Seketika Jinsol menarik tangan Yein mendekati Jimin. “Sebaiknya kita mencari tempat yang aman untukmu Jimin.” ujar Jinsol saat tiba di dekat Jimin.

Disinilah mereka. Di sebuah rumah makan yang berada di dekat kota Seoul. “Bagaimana kabarmu Jinsolku?” Tanya Jimin sambil meminum jus pesanannya.
“Seperti yang kau lihat Jiminku.” Jawab Jinsol.
“Jiminku? Jinsolku? Kalian berpacaran?” Tanya Yein.
“Ssst… iya. Kami berpacaran sejak 2 tahun yang lalu. Maaf aku tidak memberitahumu.” Jawab Jimin.
“Um… Jinsol. Aku harus pergi dulu. Aku tidak bisa berlama-lama disini. Nanti managerku akan marah. Jimin. Tolong kau antar dia pulang nanti. Sampai jumpa.” Pamit Yein. Ia pergi meninggalkan Jimin dan Jinsol.
“Ne. Hati-hati dijalan Yein.” Ujar Jinsol.
“Umm… Jinsol. Apa besok kau ada waktu kosong? Aku ingin membawamu ke Dorm. Aku akan mengenalkanmu pada member BTS yang lain.” Ujar Jimin.
“Kurasa besok aku free. Karena jadwal syutingku masih minggu depan. Aku akan ikut. Tapi… bolehkan aku membawa Sungjong?”
“Kau ingin membawa Sungjong? Lalu siapa yang akan menjaganya?” Tanya Jimin.
“Kurasa Taehyung oppa bisa menjaganya dengan baik. Dia kan suka anak kecil.” Jawab Jinsol sambil tersenyum.
“Kau masih menyukai Taehyung? Katakan saja kalau kau gagal move on darinya.” Jimin terlihat kesal saat Jinsol menyebutkan nama Taehyung di hadapan Jimin.
“Apa salahnya hanya menitipkan Sungjong pada Taehyung? Aku hanya mencintaimu kau tau? Jangan pernah berpikiran seperti itu lagi Jimin. aku hanya mencintaimu. Hanya kamu. Kamu. Dan kamu.” Jinsol menggenggam tangan Jimin sangat erat sambil menunjukkan senyum manisnya yang selalu membuat Jimin tersepona setiap kali melihatnya.

Next Day
Pagi ini Jinsol terlihat sangat cantik dengan dress pink selutut miliknya. Dengan sepatu berwarna putih dan dengan riasan wajah yang terlihat natural. Dari jendela kamarnya ia melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Jinsol segera meraih ponselnya dan mengirimi Jimin sebuah pesan agar Jimin meminta ijin pada oppanya. Beberapa saat kemudian kakak ipar Jinsol memanggilnya untuk turun menemui Jimin. Dengan wajah penuh senyuman Jinsol segera mendekati oppanya.
“Pergilah.” Ujar Hoya.
“Benarkah? Terima kasih oppaaa” Jinsol segera menghamburkan pelukannya pada Hoya. “Ayo Sungjong. Oppa aku berangkat.” Pamit Jinsol.

Dorm BTS
Beginilah suasana dorm. Ramai. Gaduh karena semua member sedang berkumpul. Ditambah lagi hari ini mereka bebas dari segala kegiatan. Jinsol sedang berjalan disamping Jimin sedangkan Sungjong sedang digendong oleh Jimin.
“Ini ruang latihan BTS. Kau akan bertemu dengan member BTS disini.” Ujar Jimin pada Sungjong. Perlahan Jimin membuka pintu itu dan nampaklah semua orang yang sedang bersenda gurau di dalamnya.
“Jimin datang.” Ujar salah satu member BTS.
“Anak keciiil!” Ujar taehyung sambil meraih Sungjong dari gendongan Jimin. Ia segera membawanya berkumpul bersama member yang lain. Jungkook terlihat sangat menyukai balita itu. Ia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa ia ungkapkan melalui kata-kata pada anak itu.
“Mber. Aku ingin mengenalkan pacarku pada kalian.” Ujar Jimin. “Jinsol.”
Mendengar nama ‘Jinsol’ Jungkook terhenti dengan kegiatannya. Ia berharap itu bukan Jinsol yang dulu pernah ia perkosa di sekolah.

Jinsol perlahan memasuki ruangan itu dan langkahnya terhenti saat ia melihat Jungkook. ‘Jungkook?’ ujar batin Jinsol.

Senin, 04 April 2016

[Nappeun Namja Pt.2] Graduation School




Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol, Jung Yein
Genre   : School life, other
Length   : Chapter
Author   : Nuril Fania Farid Mahfud

Rasa sakit yang kau berikan, takkan pernah bisa aku lupakan. Kau adalah pria terjahat yang pernah aku kenal. -Lee Jinsol-

Jinsol berjalan menuju asramanya sambil menahan sakit di bagian selangkangannya sesekali ia meringis kesakitan. Asrama sudah sangat sepi. Karena ini sudah waktunya tidur. Asrama Jinsol sudah tak jauh dari tempatnya saat ini. Jinsol terus berjalan. Dengan langkah hati-hati ia membuka pintu asramanya. Ia memasuki kamarnya dan mengunci pintu. Jinsol segera menuju tempat tidurnya. Ia melihat Yein tidur tanpa selimut. Jinsol kemudian menaikkan selimut Yein hingga menutupi lehernya. ‘Yein maafkan aku. Ini salahku. Seharusnya aku tidak mendekatinya.’ Gumam batin Jinsol sambil mengusap kepala Yein pelan. Air mata Jinsol tak bisa dibendung lagi.

Nappeun namja Pt. 2

Hari sudah pagi. Semua siswa sudah siap untuk berangkat ke kelas. Bahkan ada yang sudah sampai sejak tadi. Jinsol dan Yein baru saja keluar dari asrama. Tak lupa mereka mengunci pintu sebelum pergi. Mereka melewati koridor sekolah. Dari jauh Jinsol melihat Jungkook berjalan dengan santai sambil mendengarkan musik. Penampilan yang biasa namun bisa membuat semua gadis disekolah itu tertarik padanya.

Jinsol dan Yein terus saja melangkah. Begitu juga dengan Jungkook. Hingga kini Jungkook semakin dekat dengan dirinya. Jinsol berharap Jungkook akan meminta maaf atas perbuatannya semalam. Namun semua tak berjalan seperti apa yang Jinsol harapkan. Jungkook melewatinya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jinsol. ‘Kau pria jahat Jungkook!’ rutuk Jinsol dalam hatinya.

Jam pelajaran sudah di mulai sejak 45 menit yang lalu. Jinsol dan Yein duduk bersebelahan. Hari ini mereka ada pelajaran melukis. Dengan tema wajah seseorang yang disukai. Yein melihat Jinsol sedang melamun. Perlahan Yein menyentuh lengan Jinsol.”Jinsol-a? kau akan menggambar wajah siapa? Aku akan menggambar wajah Jungkook. Yang keren, tampan, dan seperti malaikat.” Seru Yein sambil memuji Jungkook. Yah, Yein menyukai Jungkook. Sejak pertma kali ia masuk di sekolah ini. namun Yein tidak pernah merasa cemburu saat Jungkook berdekatan atau bahkan berpacaran dengan gadis lain. Yein tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Baginya, harga diri lebih penting dari pada perasaannya. “Hei Jinsol.” Panggil Yein sambil mencolek lengan Jinsol. Seketika Jinsol tersadar dari lamunannya.
“Eh iya? Maaf aku kurang sehat hari ini. Jadi aku kurang fokus. Maafkan aku.” Ujar Jinsol.
“Kau sakit? Kau baik-baik saja tadi pagi.”
“Tidak. Aku tidak apa-apa. Kau ini. aku hanya bercanda.” Jawab Jinsol sambil tertawa pelan.
“Jinsol, Yein! Apakah tugas kalian sudah selesai?” Tanya guru pengajar.
“Belum ssaem.” Jawab Jinsol dan Yein bersamaan. Mereka akhirnya mengerjakan tugas bersama.

Ini sudah dua minggu sejak kejadian antara Jungkook dan Jinsol malam itu. Jinsol sudah jarang menghubungi Taehyung. Dengan alasan ia ingin fokus pada ujian yang akan dihadapinya 2 minggu lagi. Jinsol sengaja menjauhi Taehyung karena ia tidak ingin Taehyung mengetahui kejadian buruk yang sudah dialaminya. Sedangkan Jungkook. Dia semakin dekat dengan Yein. Sahabatnya. Ia ingin menjauhkan Jungkook dari Yein karena ia tidak ingin kejadian yang dialaminya akan terjadi pada sahabatnya. Namun disisi lain, Jinsol tidak ingin merenggut kebahagiaan sahabatnya. Saat ini ia benar-benar bingung.

Jinsol baru saja keluar dari ruang latihan. Ia melihat Taehyung sedang menunggunya di depan ruang latihan. “Oppa? Kenapa kau disini?” Tanya Jinsol.
“Tidak. Aku hanya ingin melihat wajah cantik pacarku.” Ujar Taehyung sambil mengusap pipi Jinsol.
“Dasar.” Ujar Jinsol sambil mencubit pinggang Taehyung.
“Oh iya, aku membawakan makan siang untukmu.” Taehyung mengangkat rantang yang dibawanya. “Aku menyuruh eomma untuk memasakkan ini. Tapi aku tidak bilang kalau ini untukmu. Kau mau makan ini bersamaku dikantin?” sedetik kemudian Jinsol mengangguk dan pergi ke kantin bersama Taehyung.

Saat di perjalanan menuju kantin, Jinsol melihat Jungkook dari kejauhan. “Hyung!” panggil Jungkook. Taehyung segera berjalan mendekati Jungkook begitu juga dengan Jungkook. Namun tidak dengan Jinsol. Ia berjalan dengan sangat pelan. Senyumnya seketika luntur. Rasa takut kini sedang menghantui perasaannya. Kejadian malam itu terlintas kembali di pikirannya.
“Jinsol?” panggil Taehyung sambil menarik Jinsol. “Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat.” Taehyung kemudian menyentuh dahi gadis itu dengan punggung tangannya. “Kau sakit? Aku akan mengantarmu ke asrama.” Jinsol masih menunduk. Wajahnya menjadi pucat karena bayangan yang ada di pikirannya. “Jungkook, aku akan mengantar Jinsol dulu. Kau bisa menungguku di taman belakang.” Pamit Taehyung. Ia akhirnya mengantarkan Jinsol kembali keasramanya.

Sesampainya di asrama…
“Yein!” pangil Taehyung sambil mengetuk pintu asrama.
“Aku bisa masuk sendiri oppa. Yein mungkin sedang latihan.” Jinsol menyentuh lengan pria itu dan akhirnya Taehyung pergi meninggalkan Jinsol.
“Cepat sembuh ne. kau harus mengikuti ujian nanti.” Ujar Taehyung sambil memberikan kecupan di bibir Jinsol.
‘Mianhae oppa. Aku tidak bisa mengatakan yang sejujurnya padamu sekarang. Tapi suatu saat nanti aku akan membeitahumu yang sebenarnya terjadi. aku janji.’ Gumam batin Jinsol.
“Jinsol?” panggil Yein yang sedang berjalan menuju kearah Jinsol. “Tidak biasanya kau kembali lebih dulu. Kau kenapa? Apakah kau sakit? Wajahmu pucat.”
“Yein. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu di dalam.” Ujar Jinsol. Ia membuka kenop pintu dan masuk lebih dulu ke dalam asrama itu. Yein pun mengikutinya.
“Ada apa?” Yein mengunci pintu asramanya dan duduk di sebelah Jinsol.
“Yeiin…” Jinsol memeluk Yein dengan erat. Dan saat itu juga air matanya berjatuhan.
“Kenapa? Cerita padaku. Kau ada masalah dengan pacarmu?” Ujar Yein sambil mengusap pelan punggung Jinsol.
“Yein… Aku dan Jungkook… Aku… aku sudah tidak suci lagi.” Jinsol menangis dalam pelukan Yein. Ia takut. Ia takut jika Yein akan membencinya dan menjauhinya.
“Maksudmu, Jungkook memperkosa dirimu gitu?” Tanya Yein. Jinsol hanya mengangguk. “Bagaimana bisa itu terjadi? Apa Jungkook menyukaimu? Ini tidak bisa dibiarkan. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya padamu.” Ujar Yein. Dia segera beranjak dari tempat tidur Jinsol dan hendak pergi menemui Jungkook. Namun Jinsol menahan tangan Yein.
“Ku mohon. Jangan lakukan itu. Jika kau mengatakannya sekarang semua orang akan tau dan aku akan dikeluarkan dari sekolah.”
“Tapi aku tidak suka dia memperlakukanmu seperti ini Jinsol. Aku juga wanita sama sepertimu. Jika aku yang mengalami itu apa kau akan diam saja? Tidak kan? Aku tidak bisa membiarkan dia hidup tenang setelah dia membuatmu menderita Jinsol. Kau lebih penting untukku daripada perasaanku Jinsol. Biarpun aku menyukainya dan bahkan kami sudah mulai dekat sekarang, aku akan menjauhinya untukmu. Aku kecewa padanya. Dia murid yang pintar, tampan dan seperti malaikat. Tapi hatinya jauh dari kata baik.” Ujar Yein. Jinsol kemudian berlutut dihadapan Yein dan memohon padanya agar dia tidak mengatakan itu.
“Yein aku mohon padamu. Jangan katakan ini pada siapa pun. Aku tidak ingin dia marah Yein.”
“Kenapa harus dia yang marah? Harusnya kau yang marah bukan dia. Ini salah dia bukan salahmu.”
“Yein… berjanjilah padaku kau tidak akan mengatakan ini pada siapa pun. Hm?” Ujar Jinsol.
“Baiklah. Sekarang berdiri. Kau tidak boleh berlutut dihadapanku. Aku sahabatmu dan aku akan selalu memaafkan kesalahanmu. Aku akan selalu ada untukmu seperti kamu selalu ada untukku.” Yein membangunkan Jinsol dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
“Maafkan aku. Karenaku, kau jadi membenci Jungkook.”
“Aku lebih percaya padamu Jinsol. Dia sudah berbuat kesalahan yang sangat besar. Dia sudah menghancurkan masa depanmu. Untuk apa aku menyukai orang sepertinya? Sudahlah. Sebaiknya kita belajar saja. Aku ingin kita lulus dari sekolah ini dan membangun sebuah keluarga. Aku, kau dan calon anakmu jika kau hamil. Aku akan membantumu. Aku janji padamu.”

EXAM

Ujian akan di mulai hari ini. Itu artinya, aku akan segera lulus dari sekolah ini. gumam batin Jinsol sambil menatap dirinya yang terpantul di kaca.
“Jinsol, setelah kita lulus dari sekolah ini. aku ingin kita tinggal bersama. Appa bilang, dia sudah membelikan rumah untukku.” Ujar Yein sambil memegang bahu Jinsol.
“Ne. Terima kasih Yein.”
“Apa kau satu ruangan dengan Jungkook?” Tanya Yein. Jinsol hanya mengangguk. “Kau pasti bisa Jinsol. Aku akan selalu mendukungmu.” Ujar Yein sambil mengusap rambut Jinsol. “Ayo. Ujian akan segera dimulai.” Ajak Yein.

@Class

Ujian sudah dimulai sejak satu jam yang lalu. Jinsol mengerjakan soal ujian dengan lancar. Bahkan ia sudah hampir selesai. Tiba-tiba saja ia merasa pusing. Jinsol segera menyelesaikan soalnya. Dan ijin untuk pergi ke toilet. Saat ia tiba di ambang pintu, ia kehilangan kesadarannya. Jungkook yang melihat itu segera menghampiri Jinsol dan membawanya ke UKS. Guru pengawas sudah mengijinkan Jungkook untuk menemani Jinsol di UKS.
Beberapa saat kemudian, Jinsol mulai tersadar. “Kau… sudah bangun?” Tanya Jungkook. Jinsol hendak menjawab namun ia merasa mual. Jinsol segera berlari menuju toilet dan meninggalkan Jungkook. “Ada apa dengannya? Apa dia hamil? Secepat itukah?” gumam Jungkook. Ia kemudian menyusul Jinsol ke toilet. “Kau baik-baik saja?” Tanya Jungkook saat Jinsol keluar dari toilet. “Apakah kau hamil?” tanyanya lagi. Jinsol mengangguk. Ia kemudian menyerahkan test pack pada Jungkook. Ia menunduk. Tidak ada keberanian dari dalam dirinya untuk menatap pria itu. Jinsol hanya bisa menangis. “Maafkan aku. Setelah ini aku harus belajar ke luar negeri. Jadi sebaiknya kau gugurkan saja kandunganmu.”
Mendengar itu, seketika tubuh Jinsol bergetar. Dan sedetik kemudian pukulan yang cukup keras mendarat dipipi mulus Jungkook. “Semudah itukah kau mengatakannya? Ini benihmu dan kau dengan mudah mengatakan itu? Kau yang melakukannya. Kau harus bertanggung jawab atas anak ini Jungkook.” Air mata Jinsol menetes. Di depan pria itu dan mengemis untuk meminta pertanggung jawaban darinya. Sungguh harga dirinya telah jatuh saat ini.
“Cih. Aku bilang gugurkan saja anak itu Jinsol. Aku tidak akan menikahimu. Jika aku menikahimu, bagaimana dengan masa depanku nanti?” Ujar Jungkook penuh penekanan disetiap kata-katanya.
“Masa depanmu kau bilang? Lalu bagaimana denganku? Kau yang merusak masa depanku Jungkook! Inikah yang akan kau lakukan setelah aku menghubungimu bahwa aku hamil? Aku tidak menduga hal ini. aku benar-benar tidak menduga bahwa murid pandai sepertimu, ternyata kelakuannya seperti ini. Jika suatu saat nanti kau membutuhkanku, jangan pernah lagi datang padaku. Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi.”

Jinsol berjalan menuju asramanya. Dengan langkah yang terburu-buru sambil menghapus jejak air mata di wajahnya. “Jinsol? Kau dari mana? Aku dengar kau tadi pingsan di kelasmu. Aku mencarimu di UKS tapi aku tidak menemukanmu. Dan… kenapa kau menangis?” Tanya Yein.
Seketika Jinsol memeluk sahabatnya dengan erat. “Yein… aku… hamil.” Ujar Jinsol.
“Apa? Jinsol kau jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda Yein. Aku serius. Yeiin…” Jinsol menangis lagi dipelukan Yein.
“Kau sudah memberitahu Jungkook tentang ini?” Tanya Yein sambil memegang bahu Jinsol. Jinsol hanya mengangguk. “Lalu?” Tanya Yein lagi.
“Dia menyuruhku menggugurkan kandunganku. Tapi aku tidak mau melakukan itu.” jawab Jinsol sambil menunduk.
“Kenapa?”
“Yein, aku sudah salah melakukan itu dengannya. Dan apakah aku harus melenyapkan bayi tidak berdosa yang sedang ada di dalam kandunganku? Yein. Aku tidak ingin menjadi seorang pembunuh dengan melenyapkan anak ini. Minggu depan ada pengumuman kelulusan. Semoga saja Jungkook akan berubah pikiran dan bertanggung jawab atas anak ini.” Jelas Jinsol.
“Tuhaan… ujian apa yang kau berikan pada sahabatku? Ini bukan hanya ujian materi. Tapi Kau memberikannya ujian rohani juga. Jinsol. Semoga hidupmu selalu bahagia.” Yein memeluk Jinsol dengan penuh kasih sayang. “Aku berjanji akan membantumu. Aku berjanji akan selalu ada bersamamu. Kapan pun kau membutuhkanku datanglah padaku.” Ujar Yein disela-sela pelukannya.
“Aku juga Yein. Aku akan membantumu meraih mimpimu. Aku yakin, suatu saat nanti aku akan berhasil dan mencapai mimpiku menyusul kesuksesanmu.”

Hari demi hari berlalu begitu saja. Nafsu makan Jinsol meingkat karena kehamilannya. Ia juga sudah tidak mual lagi. Wajahnya tampak ceria. Sepertinya ia sudah melupakan masalahnya dengan Jungkook. Lalu bagaimana dengan Taehyung?

Dua hari setelah ujian selesai, Taehyung datang ke asrama Jinsol. Ia tidak bisa datang karena ia harus mengikuti casting untuk film baru. Dan yang pasti akan menghabiskan waktunya dengan syutingnya daripada dengan Jinsol. Jinsol masih diam dan tidak berani mengungkapkan kehamilannya pada Taehyung. Ia berencana akan memberitahu Taehyung setelah ia dinyatakan lulus dan keluar dari asrama.

“Jinsol!” Panggil Yein mengagetkan Jinsol. “Ayo cepat. Sebentar lagi acaranya akan dimulai.” Yein menarik tangan Jinsol agar ia berjalan lebih cepat.
“Yein aku tidak yakin kali ini.” Ujar Jinsol. Yein tidak mempedulikan perkataan Jinsol dan terus melajutkan langkahnya hingga ia tiba di sebuah ruangan yang sangat ramai. Ia menduduki sebuah kursi tepat disebelah ayah Yein. Jinsol sendiri tidak memiliki orang tua. Ia hanya memiliki seorang kakak laki-laki yang sudah menikah. Dan saat ini tidak memungkinkan untuk datang karena ia sedang ada pekerjaan di Amerika.
“Annyeong ahjussi.” Sapa Jinsol saat melihat ayah Yein.
“Jangan panggil aku ahjussi. Anggap saja aku appamu.” Ujar ayah Yein.
“Ah ne appa.” Jawab Jinsol dengan penuh senyum.

Acara sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu. Saat ini adalah pengumuman tentang juara sekolah yang akan dihadiahi dengan sbuah agency dan sejumlah uang dari sekolah.
“Ranking 1 pada hari ini. Diraih oleh seorang siswa yang sangat rajin dan terkenal di sekolah. Dan dia berencana untuk melanjutkan study-nya di Amerika. Mungkin siswa ini sudah tidak asing lagi di sekolah ini. Mari ucapkan selamat untuk Jeon Jungkook. Siswa yang selalu menduduki juara 1 disekolah.”
Jinsol bertepuk tangan malas sambil melihat wajah Jungkook. Air mata kini mengalir dari pelupuk matanya. Mengingat statusnya yang akan menjadi orang tua tunggal untuk anaknya. ‘Aku tidak akan menuntut apapun darimu Jungkook. Aku akan berdoa kepada Tuhan semoga kau selalu bahagia. Dan rasa sakit yang kau berikan, takkan pernah bisa aku lupakan. Kau adalah pria terjahat yang pernah aku kenal.’


-TBC-