Tampilkan postingan dengan label Taehyung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taehyung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 April 2016

[Nappeun Namja Pt.3] New Life

Nappeun Namja Pt.3
New Life

Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol, Jung Yein, Lee Hoya
Genre   : Family, Happy (?), etc.
Length   : Chapter
Author   : Ms. Childish



“Ranking 1 pada hari ini. Diraih oleh seorang siswa yang sangat rajin dan terkenal di sekolah. Dan dia berencana untuk melanjutkan study-nya di Amerika. Mungkin siswa ini sudah tidak asing lagi di sekolah ini. Mari ucapkan selamat untuk Jeon Jungkook. Siswa yang selalu menduduki juara 1 disekolah.”
Jinsol bertepuk tangan malas sambil melihat wajah Jungkook. Air mata kini mengalir dari pelupuk matanya. Mengingat statusnya yang akan menjadi orang tua tunggal untuk anaknya. ‘Aku tidak akan menuntut apapun darimu Jungkook. Aku akan berdoa kepada Tuhan semoga kau selalu bahagia. Dan rasa sakit yang kau berikan, takkan pernah bisa aku lupakan. Kau adalah pria terjahat yang pernah aku kenal.’
“Ranking 2 tahun ini. Diraih oleh seorang siswi yang berbakat. Dengan setiap gerakan dance nya yang memukau dan juga suaranya indah. Berilah tepuk tangan untuk siswi kita yang bernama Lee Jinsol.” Jinsol kaget saat mendengar namanya disebut. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri berharap kakaknya akan datang. Ia menarik napasnya dalam-dalam kemudian berdiri dan melangkah ke atas panggung. Ia menerima piala yang diberikan oleh kepala sekolah. Jinsol tersenyum tipis. Di hatinya ia tidak ingin melihat wajah Jungkook. Dengan ekspresi wajah yang datar dan dingin, Jinsol berdiri di sebelah Jungkook.

Acara sudah selesai beberapa menit yang lalu. Jinsol melangkah keluar dengan piala di tangannya. Dengan wajah yang tampak sedih. Namun sesosok pria yang sangat dirindukannya tiba di hadapannya. Membuat senyumnya kembali mengembang. “Oppa!” teriak Jinsol sambil menghambur pelukan pada pria itu. “Oppa, bagaimana bisa kau datang ke Korea? Mana kakak ipar?” Tanya Jinsol.
“Kakak iparmu ada di rumah. Dia tidak bisa ikut.” Jawabnya.
“Oppa, aku bisa meraih juara 2 tahun ini. apa hadiahmu untukku? Apakah kau akan membelikanku mobil baru?” seru Jinsol sambil menunjukkan pialanya.
“Tidak. Aku akan membawamu ke Amerika. Oppa tidak yakin bisa meninggalkanmu di Korea.” Ujar pria itu sambil mengacak rambut Jinsol pelan.
“Baiklah oppa.”
“Ayo pulang. Mana kopermu? Aku akan membawakannya.”
“Tunggu dulu ya oppa. Aku harus mengatakan sesuatu pada seseorang. Oppa pergilah lebih dulu. Aku akan menyusul.” Ujar Jinsol. “Ah iya. Ini tolong bawakan pialaku juga.” Lanjutnya.

Jinsol berjalan menuju ruang latihan. Ia pergi menemui Taehyung disana. Dengan wajah sedihnya ia berjalan memasuki ruangan itu. “Taehyung oppa.” Panggil Jinsol pelan.
“Aku sudah tau semuanya. Aku tau kenapa kau datang kesini. Jungkook sudah memberitahuku. Kenapa? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku sebelumnya?! Kenapa?!” Taehyung mengguncangkan tubuh Jinsol sambil berteriak. “Jelaskan padaku!!” bentak Taehyung.
“Aku… aku tidak tau hal itu akan terjadi. Dan, seharusnya kau memarahinya bukan memarahiku. Karena dia yang memulainya lebih dulu. Dan apakah oppa tau apa yang dikatakannya saat aku mengatakan padanya kalau aku hamil? Dia menyuruhku menggugurkan kandunganku. Oppa. Aku mengerti perasaanmu saat ini. Kau pasti merasa jijik melihatku. Kau pasti tidak ingin melihatku lagi. Setelah hari ini. Aku akan pergi dari sini. Dan menjalani semua yang akan terjadi. Apapun itu. Aku akan melahirkan anak ini walau tanpa ayahnya dan tanpa ada sebuah pernikahan. Mulai saat ini dan seterusnya. Anggaplah kau tidak pernah mengenalku oppa.” Perlahan Jinsol berjalan mundur dan pergi meninggalkan Taehyung yang masih mematung. Gadis itu tidak meluapkan emosinya. Taehyung merasa kasihan pada Jinsol. Ingin dia menikahinya dan bertanggung jawab. Tapi bagaimana jika suatu saat Jungkook datang dan tiba-tiba sadar akan perbuatannya? Pikiran Taehyung kacau. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain merelakan Jinsol pergi.

Meet You Again

Jinsol dan kakaknya sudah sampai di rumah besarnya. Rumah yang Jinsol tinggalkan sejak ia tinggal di asrama. Jinsol menghempaskan tubuhnya di sebuah ranjang putih yang ada di kamarnya. Ia menatap ponselnya sekilas. Jinsol membuka ponselnya dan mengganti wallpaper nya dengan fotonya sendiri.
Tok tok tok
Jinsol mendengar suara ketukan pintu dari luar. Jinsol beranjak dari kasurnya dan membukakan pintu untuk orang itu. “Ada apa eonni?” Tanya Jinsol saat melihat kakak iparnya di depan pintu.
“Aku hanya ingin mengantarkan ini untukmu.” Ujar wanita itu sambil memberikan nampan yang berisi makanan diatasnya pada Jinsol. “Aku tau kau terlalu lelah untuk turun dan makan siang. Sebaiknya kau makan lalu panggil aku kalau sudah selesai. Jangan lupa istirahat.”
“Terima kasih eonni. Aku akan menghabiskannya.”
“Baiklah kalau begitu. Eonni masih ada pekerjaan. Selamat menikmati.”
“Ne eonni.” Jinsol memasuki kembali kamarnya setelah kakak iparnya pergi dari hadapannya. “Anakku. Kau pasti lapar. Tenang saja. Eomma akan memberikanmu makan yang enak setiap hari.” Gumam Jinsol sambil mengelus perutnya yang rata.

Hari demi hari berlalu begitu saja. Sudah lima bulan ia resmi lulus dari SOPA. Perutnya semakin membesar. Ia selalu menggunakan korset untuk menutupi kehamilannya. Asa takut dalam dirinya semakin besar. Bagaimana jika kakaknya tau kala dia hamil? Apa yang akan kakaknya lakukan? Apakah kakaknya akan mengusirnya? Ia sendiri bingung. Terkadang ia berpikir untuk memberitahu yang sebenarnya pada kakaknya. Namun tidak ada keberanian dalam dirinya untuk mengungkapkan itu.
“Jinsol? Kenapa kau melamun?” Tanya Hoya saat menyadari Jinsol sedang melamun dan tidak memakan makanannya.
“Kenapa kau tidak memakan makananmu? Kau sakit?” Tanya istri Hoya.
“T-tidak oppa, eonni. Aku baik-baik saja.” Jawab Jinsol sambil tersenyum kecut.
“Kau yakin baik-baik saja?” Tanya Hoya memastikan. Jinsol mengangguk lagi.

“Bagaimana aku bisa memberitahu oppa? Harusnya aku menggugurkan anak ini. Tapi aku tidak bisamembunuh anakku sendiri. Appa, Eomma. Mianhae. Aku tidak bisa menjadi anak yang baik. Kalian pasti sangat sedih. Tapi aku tidak ingin membunuh anak ini. Aku bukan seorang pembunuh.” Gumam Jinsol sebelum ia tertidur lelap.

Matahari sudah menjulang tinggi. Jinsol masih belum bangun dari mimpi indahnya.
“Apakah Jinsol belum bangun?” Tanya Hoya pada istrinya yang sedang menata makanan di atas meja.
“Kurasa belum. Aku akan membangunkannya.”
“Jangan. Kau selesaikan saja dulu pekerjaanmu. Biar aku yang membangunkannya.” Ujar Hoya sambil mengacak pelan rambut istrinya.

Sesampainya dikamar Jinsol, Hoya dikagetkan dengan sesuatu yang ada dihadapannya. Ia melihat Jinsol sedang mengusap perutnya yang membesar.
“Oppa?” Jinsol juga kaget saat oppanya tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.
“Apa-apaan ini Jinsol?!” Tanya Hoya geram. Jinsol terlihat kebingungan.
“Oppa aku bisa jelaskan ini.” Jawab Jinsol sambil mendekati oppanya.
“Bayi siapa itu?!” teriak Hoya.
“Ini… oppa. Maafkan aku.”
“Katakan padaku anak siapa itu?!” Bentak Hoya lagi sambil mengguncangkan tubuh Jinsol.
“Ada apa chagi? Kenapa kau berteriak?” Tanya istri Hoya yang baru tiba di kamar Jinsol.
“Apa itu anak dari seseorang yang bernama Taehyung itu?” Tanya istri Hoya pelan.
“Bu-bukan. Ini anak Jungkook oppa. Maafkan aku. Ini bukan salahku. Aku dipaksa oppa.” Jelas Jinsol sambil menangis.
“Jungkook? Siswa juara satu yang sangat berbakat itu?” Tanya istri Hoya. Jinsol mengangguk pelan.
“Dia sekarang pergi ke luar negeri. Aku tidak tau dia akan pergi ke mana.” Jelas Jinsol dengan suara pelan.
“Ikutlah denganku.” Ujar Hoya sambil menarik tangan adiknya keluar dari kamar.
“Oppa… kau akan membawaku kemana?” Tanya Jinsol.
“Gugurkan kandunganmu agar kita tidak menanggung malu. Kau tidak berpikir apa yang akan orang katakan saat melihatmu melahirkan tanpa suami?”
“Tidak oppa. Aku tidak akan menggugurkannya. Sampai kapan pun. Dia anakku. Kau tidak bisa membunuhnya oppa.” Jinsol memeluk perutnya sambil menangis.
“Chagi… Jangan paksa dia menggugurkan kandungannya. Aku yang akan membesarkannya. Aku akan membesarkannya sebagai anakku. Jangan membunuhnya. Cukup aku saja yang pernah kehilangan bayiku. Jangan melenyapkan bayi tidak berdosa itu. ku mohon…” pinta istri Hoya.
“Kau yakin? Baiklah. Aku tidak ingin menjadi pembunuh. Kita tidak bisa seterusnya tinggal disini. Aku akan mengurus kepindahan kita ke Amerika. Dan kita akan kembali lagi setelah anak itu sudah cukup besar.” Ujar Hoya.

1 Year Later

6 bulan yang lalu, Jinsol melahirkan bayi pertamanya. Bayi yang laki-laki yang sangat lucu. Ia memberinya nama Lee Sungjong. Ia berharap anaknya akan menjadi anak yang baik dan tidak seperti Jungkook. Ayahnya. Banyak harapan Jinsol pada Sungjong. Tepat saat Jinsol usai melahirkan, Hoya menyuruh Jinsol melanjutkan sekolahnya. Ia berencana mendaftarkan Jinsol di Universitas yang berada tak jauh dari rumah yang Hoya tempati dengan keluarganya. Setidaknya Jinsol bisa menyelesaikan sekolahnya. Jinsol mengiyakan rencana kakaknya. Jinsol juga berharap, ia akan menjadi seorang penyanyi terkenal diseluruh dunia.

4 Years Later

Acara wisuda telah selesai. Jinsol, Sungjong, Hoya dan istrinya duduk dalam sebaris kursi. Jinsol tersenyum senang sambil memangku Sungjong. Senyum Jinsol mengembang saat namanya di sebut sebagai pemenang juara 2 di universitas internasional tempatnya kuliah. Sungguh sebuah keberuntungan baginya. Sungjong membuatnya semakin bersemangat untuk belajar dan meraih cita-citanya sebagai pemusik. Namun sekarang, dia tidak lagi ingin menjadi seorang pemusik. Ia ingin menjadi seorang penyanyi terkenal di seluruh jagad raya.
“Oppa, terima kasih sudah merawat Sungjong dengan baik. Dan maafkan aku tidak bisa menjadi adik yang baik untukmu.” Ujar Jinsol sambil memeluk kakaknya.
“Nunaa… aku juga mauu…” rengek Sungjong dengan wajah lucunya.

‘Welcome to Seoul’
Jinsol tersenyum senang saat ia tiba di tanah kelahirannya. Setelah 5 tahun ia berada di Amerika bersama dengan kakaknya. Di depan, sudah ada sebuah mobil mewah yang menunggunya dan keluarganya. Ia pulang dengan membawa piala kebanggannya di kopernya. Tak jauh dari tempatnya berada saat ini, Jinsol melihat seorang wanita melambaikan tangan ke arahnya. Jinsol menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas wajah wanita itu. “YEIN!!” teriak Jinsol seketika. Jinsol berlari dengan cepat dan memeluk Yein dengan erat. “Aku merindukanmu Yein…”
“Kau terlihat semakin cantik. Ah iya. Kau tau Park Jimin? Teman kecil kita sekaligus tetangga yang dulu pernah menyatakan cinta padamu. Kau ingat?” Tanya Yein.
“Jimin yang imut-imut itu? Tentu saja aku ingat. Kenapa?”
“Kau tau? Sekarang dia menjadi seorang member boyband terkenal di Korea. Bahkan International. Mungkin.” Jelas Yein.
“Aku sudah tau itu.” Seru Jinsol dengan wajah cerianya. “Ah tunggu sebentar.” Ujar Jinsol sambil merogoh sakunya dan mengambil ponsel pink miliknya yang sudah berdering sejak beberapa detik yang lalu. “Oppa, aku akan pulang dengan Yein. Oppa pulanglah lebih dulu. Aku sudah meletakkan koperku di mobil. Aku tidak akan pulang terambat hari ini. Aku pastikan jam 2 aku sudah tiba di rumah. See you oppa. Jinsol mencintai Jongie.” Ujar Jinsol dengan cepat dan mematikan ponselnya.
“Kau masih sama seperti dulu. Kita mau kemana?” Tanya Yein.
“Tunggu dulu. Seseorang akan datang sebentar lagi.” Jinsol menahan tangan Yein dan melihat ke sekitarnya mencari seseorang yang akan datang menjemputnya. “Jimin!!” teriak Jinsol sambil melampaikan tangannya pada seseorang berkaca mata hitam dan memakai masker. Tidak jelas wajahnya tapi Jinsol bisa mengenal pria itu dengan baik. Seketika semua orang melihat kearahnya saat ia menyebutkan nama Jimin. “Ups!” Jinsol menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Seketika Jinsol menarik tangan Yein mendekati Jimin. “Sebaiknya kita mencari tempat yang aman untukmu Jimin.” ujar Jinsol saat tiba di dekat Jimin.

Disinilah mereka. Di sebuah rumah makan yang berada di dekat kota Seoul. “Bagaimana kabarmu Jinsolku?” Tanya Jimin sambil meminum jus pesanannya.
“Seperti yang kau lihat Jiminku.” Jawab Jinsol.
“Jiminku? Jinsolku? Kalian berpacaran?” Tanya Yein.
“Ssst… iya. Kami berpacaran sejak 2 tahun yang lalu. Maaf aku tidak memberitahumu.” Jawab Jimin.
“Um… Jinsol. Aku harus pergi dulu. Aku tidak bisa berlama-lama disini. Nanti managerku akan marah. Jimin. Tolong kau antar dia pulang nanti. Sampai jumpa.” Pamit Yein. Ia pergi meninggalkan Jimin dan Jinsol.
“Ne. Hati-hati dijalan Yein.” Ujar Jinsol.
“Umm… Jinsol. Apa besok kau ada waktu kosong? Aku ingin membawamu ke Dorm. Aku akan mengenalkanmu pada member BTS yang lain.” Ujar Jimin.
“Kurasa besok aku free. Karena jadwal syutingku masih minggu depan. Aku akan ikut. Tapi… bolehkan aku membawa Sungjong?”
“Kau ingin membawa Sungjong? Lalu siapa yang akan menjaganya?” Tanya Jimin.
“Kurasa Taehyung oppa bisa menjaganya dengan baik. Dia kan suka anak kecil.” Jawab Jinsol sambil tersenyum.
“Kau masih menyukai Taehyung? Katakan saja kalau kau gagal move on darinya.” Jimin terlihat kesal saat Jinsol menyebutkan nama Taehyung di hadapan Jimin.
“Apa salahnya hanya menitipkan Sungjong pada Taehyung? Aku hanya mencintaimu kau tau? Jangan pernah berpikiran seperti itu lagi Jimin. aku hanya mencintaimu. Hanya kamu. Kamu. Dan kamu.” Jinsol menggenggam tangan Jimin sangat erat sambil menunjukkan senyum manisnya yang selalu membuat Jimin tersepona setiap kali melihatnya.

Next Day
Pagi ini Jinsol terlihat sangat cantik dengan dress pink selutut miliknya. Dengan sepatu berwarna putih dan dengan riasan wajah yang terlihat natural. Dari jendela kamarnya ia melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Jinsol segera meraih ponselnya dan mengirimi Jimin sebuah pesan agar Jimin meminta ijin pada oppanya. Beberapa saat kemudian kakak ipar Jinsol memanggilnya untuk turun menemui Jimin. Dengan wajah penuh senyuman Jinsol segera mendekati oppanya.
“Pergilah.” Ujar Hoya.
“Benarkah? Terima kasih oppaaa” Jinsol segera menghamburkan pelukannya pada Hoya. “Ayo Sungjong. Oppa aku berangkat.” Pamit Jinsol.

Dorm BTS
Beginilah suasana dorm. Ramai. Gaduh karena semua member sedang berkumpul. Ditambah lagi hari ini mereka bebas dari segala kegiatan. Jinsol sedang berjalan disamping Jimin sedangkan Sungjong sedang digendong oleh Jimin.
“Ini ruang latihan BTS. Kau akan bertemu dengan member BTS disini.” Ujar Jimin pada Sungjong. Perlahan Jimin membuka pintu itu dan nampaklah semua orang yang sedang bersenda gurau di dalamnya.
“Jimin datang.” Ujar salah satu member BTS.
“Anak keciiil!” Ujar taehyung sambil meraih Sungjong dari gendongan Jimin. Ia segera membawanya berkumpul bersama member yang lain. Jungkook terlihat sangat menyukai balita itu. Ia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa ia ungkapkan melalui kata-kata pada anak itu.
“Mber. Aku ingin mengenalkan pacarku pada kalian.” Ujar Jimin. “Jinsol.”
Mendengar nama ‘Jinsol’ Jungkook terhenti dengan kegiatannya. Ia berharap itu bukan Jinsol yang dulu pernah ia perkosa di sekolah.

Jinsol perlahan memasuki ruangan itu dan langkahnya terhenti saat ia melihat Jungkook. ‘Jungkook?’ ujar batin Jinsol.

Senin, 04 April 2016

[Nappeun Namja Pt.2] Graduation School




Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol, Jung Yein
Genre   : School life, other
Length   : Chapter
Author   : Nuril Fania Farid Mahfud

Rasa sakit yang kau berikan, takkan pernah bisa aku lupakan. Kau adalah pria terjahat yang pernah aku kenal. -Lee Jinsol-

Jinsol berjalan menuju asramanya sambil menahan sakit di bagian selangkangannya sesekali ia meringis kesakitan. Asrama sudah sangat sepi. Karena ini sudah waktunya tidur. Asrama Jinsol sudah tak jauh dari tempatnya saat ini. Jinsol terus berjalan. Dengan langkah hati-hati ia membuka pintu asramanya. Ia memasuki kamarnya dan mengunci pintu. Jinsol segera menuju tempat tidurnya. Ia melihat Yein tidur tanpa selimut. Jinsol kemudian menaikkan selimut Yein hingga menutupi lehernya. ‘Yein maafkan aku. Ini salahku. Seharusnya aku tidak mendekatinya.’ Gumam batin Jinsol sambil mengusap kepala Yein pelan. Air mata Jinsol tak bisa dibendung lagi.

Nappeun namja Pt. 2

Hari sudah pagi. Semua siswa sudah siap untuk berangkat ke kelas. Bahkan ada yang sudah sampai sejak tadi. Jinsol dan Yein baru saja keluar dari asrama. Tak lupa mereka mengunci pintu sebelum pergi. Mereka melewati koridor sekolah. Dari jauh Jinsol melihat Jungkook berjalan dengan santai sambil mendengarkan musik. Penampilan yang biasa namun bisa membuat semua gadis disekolah itu tertarik padanya.

Jinsol dan Yein terus saja melangkah. Begitu juga dengan Jungkook. Hingga kini Jungkook semakin dekat dengan dirinya. Jinsol berharap Jungkook akan meminta maaf atas perbuatannya semalam. Namun semua tak berjalan seperti apa yang Jinsol harapkan. Jungkook melewatinya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jinsol. ‘Kau pria jahat Jungkook!’ rutuk Jinsol dalam hatinya.

Jam pelajaran sudah di mulai sejak 45 menit yang lalu. Jinsol dan Yein duduk bersebelahan. Hari ini mereka ada pelajaran melukis. Dengan tema wajah seseorang yang disukai. Yein melihat Jinsol sedang melamun. Perlahan Yein menyentuh lengan Jinsol.”Jinsol-a? kau akan menggambar wajah siapa? Aku akan menggambar wajah Jungkook. Yang keren, tampan, dan seperti malaikat.” Seru Yein sambil memuji Jungkook. Yah, Yein menyukai Jungkook. Sejak pertma kali ia masuk di sekolah ini. namun Yein tidak pernah merasa cemburu saat Jungkook berdekatan atau bahkan berpacaran dengan gadis lain. Yein tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Baginya, harga diri lebih penting dari pada perasaannya. “Hei Jinsol.” Panggil Yein sambil mencolek lengan Jinsol. Seketika Jinsol tersadar dari lamunannya.
“Eh iya? Maaf aku kurang sehat hari ini. Jadi aku kurang fokus. Maafkan aku.” Ujar Jinsol.
“Kau sakit? Kau baik-baik saja tadi pagi.”
“Tidak. Aku tidak apa-apa. Kau ini. aku hanya bercanda.” Jawab Jinsol sambil tertawa pelan.
“Jinsol, Yein! Apakah tugas kalian sudah selesai?” Tanya guru pengajar.
“Belum ssaem.” Jawab Jinsol dan Yein bersamaan. Mereka akhirnya mengerjakan tugas bersama.

Ini sudah dua minggu sejak kejadian antara Jungkook dan Jinsol malam itu. Jinsol sudah jarang menghubungi Taehyung. Dengan alasan ia ingin fokus pada ujian yang akan dihadapinya 2 minggu lagi. Jinsol sengaja menjauhi Taehyung karena ia tidak ingin Taehyung mengetahui kejadian buruk yang sudah dialaminya. Sedangkan Jungkook. Dia semakin dekat dengan Yein. Sahabatnya. Ia ingin menjauhkan Jungkook dari Yein karena ia tidak ingin kejadian yang dialaminya akan terjadi pada sahabatnya. Namun disisi lain, Jinsol tidak ingin merenggut kebahagiaan sahabatnya. Saat ini ia benar-benar bingung.

Jinsol baru saja keluar dari ruang latihan. Ia melihat Taehyung sedang menunggunya di depan ruang latihan. “Oppa? Kenapa kau disini?” Tanya Jinsol.
“Tidak. Aku hanya ingin melihat wajah cantik pacarku.” Ujar Taehyung sambil mengusap pipi Jinsol.
“Dasar.” Ujar Jinsol sambil mencubit pinggang Taehyung.
“Oh iya, aku membawakan makan siang untukmu.” Taehyung mengangkat rantang yang dibawanya. “Aku menyuruh eomma untuk memasakkan ini. Tapi aku tidak bilang kalau ini untukmu. Kau mau makan ini bersamaku dikantin?” sedetik kemudian Jinsol mengangguk dan pergi ke kantin bersama Taehyung.

Saat di perjalanan menuju kantin, Jinsol melihat Jungkook dari kejauhan. “Hyung!” panggil Jungkook. Taehyung segera berjalan mendekati Jungkook begitu juga dengan Jungkook. Namun tidak dengan Jinsol. Ia berjalan dengan sangat pelan. Senyumnya seketika luntur. Rasa takut kini sedang menghantui perasaannya. Kejadian malam itu terlintas kembali di pikirannya.
“Jinsol?” panggil Taehyung sambil menarik Jinsol. “Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat.” Taehyung kemudian menyentuh dahi gadis itu dengan punggung tangannya. “Kau sakit? Aku akan mengantarmu ke asrama.” Jinsol masih menunduk. Wajahnya menjadi pucat karena bayangan yang ada di pikirannya. “Jungkook, aku akan mengantar Jinsol dulu. Kau bisa menungguku di taman belakang.” Pamit Taehyung. Ia akhirnya mengantarkan Jinsol kembali keasramanya.

Sesampainya di asrama…
“Yein!” pangil Taehyung sambil mengetuk pintu asrama.
“Aku bisa masuk sendiri oppa. Yein mungkin sedang latihan.” Jinsol menyentuh lengan pria itu dan akhirnya Taehyung pergi meninggalkan Jinsol.
“Cepat sembuh ne. kau harus mengikuti ujian nanti.” Ujar Taehyung sambil memberikan kecupan di bibir Jinsol.
‘Mianhae oppa. Aku tidak bisa mengatakan yang sejujurnya padamu sekarang. Tapi suatu saat nanti aku akan membeitahumu yang sebenarnya terjadi. aku janji.’ Gumam batin Jinsol.
“Jinsol?” panggil Yein yang sedang berjalan menuju kearah Jinsol. “Tidak biasanya kau kembali lebih dulu. Kau kenapa? Apakah kau sakit? Wajahmu pucat.”
“Yein. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu di dalam.” Ujar Jinsol. Ia membuka kenop pintu dan masuk lebih dulu ke dalam asrama itu. Yein pun mengikutinya.
“Ada apa?” Yein mengunci pintu asramanya dan duduk di sebelah Jinsol.
“Yeiin…” Jinsol memeluk Yein dengan erat. Dan saat itu juga air matanya berjatuhan.
“Kenapa? Cerita padaku. Kau ada masalah dengan pacarmu?” Ujar Yein sambil mengusap pelan punggung Jinsol.
“Yein… Aku dan Jungkook… Aku… aku sudah tidak suci lagi.” Jinsol menangis dalam pelukan Yein. Ia takut. Ia takut jika Yein akan membencinya dan menjauhinya.
“Maksudmu, Jungkook memperkosa dirimu gitu?” Tanya Yein. Jinsol hanya mengangguk. “Bagaimana bisa itu terjadi? Apa Jungkook menyukaimu? Ini tidak bisa dibiarkan. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya padamu.” Ujar Yein. Dia segera beranjak dari tempat tidur Jinsol dan hendak pergi menemui Jungkook. Namun Jinsol menahan tangan Yein.
“Ku mohon. Jangan lakukan itu. Jika kau mengatakannya sekarang semua orang akan tau dan aku akan dikeluarkan dari sekolah.”
“Tapi aku tidak suka dia memperlakukanmu seperti ini Jinsol. Aku juga wanita sama sepertimu. Jika aku yang mengalami itu apa kau akan diam saja? Tidak kan? Aku tidak bisa membiarkan dia hidup tenang setelah dia membuatmu menderita Jinsol. Kau lebih penting untukku daripada perasaanku Jinsol. Biarpun aku menyukainya dan bahkan kami sudah mulai dekat sekarang, aku akan menjauhinya untukmu. Aku kecewa padanya. Dia murid yang pintar, tampan dan seperti malaikat. Tapi hatinya jauh dari kata baik.” Ujar Yein. Jinsol kemudian berlutut dihadapan Yein dan memohon padanya agar dia tidak mengatakan itu.
“Yein aku mohon padamu. Jangan katakan ini pada siapa pun. Aku tidak ingin dia marah Yein.”
“Kenapa harus dia yang marah? Harusnya kau yang marah bukan dia. Ini salah dia bukan salahmu.”
“Yein… berjanjilah padaku kau tidak akan mengatakan ini pada siapa pun. Hm?” Ujar Jinsol.
“Baiklah. Sekarang berdiri. Kau tidak boleh berlutut dihadapanku. Aku sahabatmu dan aku akan selalu memaafkan kesalahanmu. Aku akan selalu ada untukmu seperti kamu selalu ada untukku.” Yein membangunkan Jinsol dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
“Maafkan aku. Karenaku, kau jadi membenci Jungkook.”
“Aku lebih percaya padamu Jinsol. Dia sudah berbuat kesalahan yang sangat besar. Dia sudah menghancurkan masa depanmu. Untuk apa aku menyukai orang sepertinya? Sudahlah. Sebaiknya kita belajar saja. Aku ingin kita lulus dari sekolah ini dan membangun sebuah keluarga. Aku, kau dan calon anakmu jika kau hamil. Aku akan membantumu. Aku janji padamu.”

EXAM

Ujian akan di mulai hari ini. Itu artinya, aku akan segera lulus dari sekolah ini. gumam batin Jinsol sambil menatap dirinya yang terpantul di kaca.
“Jinsol, setelah kita lulus dari sekolah ini. aku ingin kita tinggal bersama. Appa bilang, dia sudah membelikan rumah untukku.” Ujar Yein sambil memegang bahu Jinsol.
“Ne. Terima kasih Yein.”
“Apa kau satu ruangan dengan Jungkook?” Tanya Yein. Jinsol hanya mengangguk. “Kau pasti bisa Jinsol. Aku akan selalu mendukungmu.” Ujar Yein sambil mengusap rambut Jinsol. “Ayo. Ujian akan segera dimulai.” Ajak Yein.

@Class

Ujian sudah dimulai sejak satu jam yang lalu. Jinsol mengerjakan soal ujian dengan lancar. Bahkan ia sudah hampir selesai. Tiba-tiba saja ia merasa pusing. Jinsol segera menyelesaikan soalnya. Dan ijin untuk pergi ke toilet. Saat ia tiba di ambang pintu, ia kehilangan kesadarannya. Jungkook yang melihat itu segera menghampiri Jinsol dan membawanya ke UKS. Guru pengawas sudah mengijinkan Jungkook untuk menemani Jinsol di UKS.
Beberapa saat kemudian, Jinsol mulai tersadar. “Kau… sudah bangun?” Tanya Jungkook. Jinsol hendak menjawab namun ia merasa mual. Jinsol segera berlari menuju toilet dan meninggalkan Jungkook. “Ada apa dengannya? Apa dia hamil? Secepat itukah?” gumam Jungkook. Ia kemudian menyusul Jinsol ke toilet. “Kau baik-baik saja?” Tanya Jungkook saat Jinsol keluar dari toilet. “Apakah kau hamil?” tanyanya lagi. Jinsol mengangguk. Ia kemudian menyerahkan test pack pada Jungkook. Ia menunduk. Tidak ada keberanian dari dalam dirinya untuk menatap pria itu. Jinsol hanya bisa menangis. “Maafkan aku. Setelah ini aku harus belajar ke luar negeri. Jadi sebaiknya kau gugurkan saja kandunganmu.”
Mendengar itu, seketika tubuh Jinsol bergetar. Dan sedetik kemudian pukulan yang cukup keras mendarat dipipi mulus Jungkook. “Semudah itukah kau mengatakannya? Ini benihmu dan kau dengan mudah mengatakan itu? Kau yang melakukannya. Kau harus bertanggung jawab atas anak ini Jungkook.” Air mata Jinsol menetes. Di depan pria itu dan mengemis untuk meminta pertanggung jawaban darinya. Sungguh harga dirinya telah jatuh saat ini.
“Cih. Aku bilang gugurkan saja anak itu Jinsol. Aku tidak akan menikahimu. Jika aku menikahimu, bagaimana dengan masa depanku nanti?” Ujar Jungkook penuh penekanan disetiap kata-katanya.
“Masa depanmu kau bilang? Lalu bagaimana denganku? Kau yang merusak masa depanku Jungkook! Inikah yang akan kau lakukan setelah aku menghubungimu bahwa aku hamil? Aku tidak menduga hal ini. aku benar-benar tidak menduga bahwa murid pandai sepertimu, ternyata kelakuannya seperti ini. Jika suatu saat nanti kau membutuhkanku, jangan pernah lagi datang padaku. Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi.”

Jinsol berjalan menuju asramanya. Dengan langkah yang terburu-buru sambil menghapus jejak air mata di wajahnya. “Jinsol? Kau dari mana? Aku dengar kau tadi pingsan di kelasmu. Aku mencarimu di UKS tapi aku tidak menemukanmu. Dan… kenapa kau menangis?” Tanya Yein.
Seketika Jinsol memeluk sahabatnya dengan erat. “Yein… aku… hamil.” Ujar Jinsol.
“Apa? Jinsol kau jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda Yein. Aku serius. Yeiin…” Jinsol menangis lagi dipelukan Yein.
“Kau sudah memberitahu Jungkook tentang ini?” Tanya Yein sambil memegang bahu Jinsol. Jinsol hanya mengangguk. “Lalu?” Tanya Yein lagi.
“Dia menyuruhku menggugurkan kandunganku. Tapi aku tidak mau melakukan itu.” jawab Jinsol sambil menunduk.
“Kenapa?”
“Yein, aku sudah salah melakukan itu dengannya. Dan apakah aku harus melenyapkan bayi tidak berdosa yang sedang ada di dalam kandunganku? Yein. Aku tidak ingin menjadi seorang pembunuh dengan melenyapkan anak ini. Minggu depan ada pengumuman kelulusan. Semoga saja Jungkook akan berubah pikiran dan bertanggung jawab atas anak ini.” Jelas Jinsol.
“Tuhaan… ujian apa yang kau berikan pada sahabatku? Ini bukan hanya ujian materi. Tapi Kau memberikannya ujian rohani juga. Jinsol. Semoga hidupmu selalu bahagia.” Yein memeluk Jinsol dengan penuh kasih sayang. “Aku berjanji akan membantumu. Aku berjanji akan selalu ada bersamamu. Kapan pun kau membutuhkanku datanglah padaku.” Ujar Yein disela-sela pelukannya.
“Aku juga Yein. Aku akan membantumu meraih mimpimu. Aku yakin, suatu saat nanti aku akan berhasil dan mencapai mimpiku menyusul kesuksesanmu.”

Hari demi hari berlalu begitu saja. Nafsu makan Jinsol meingkat karena kehamilannya. Ia juga sudah tidak mual lagi. Wajahnya tampak ceria. Sepertinya ia sudah melupakan masalahnya dengan Jungkook. Lalu bagaimana dengan Taehyung?

Dua hari setelah ujian selesai, Taehyung datang ke asrama Jinsol. Ia tidak bisa datang karena ia harus mengikuti casting untuk film baru. Dan yang pasti akan menghabiskan waktunya dengan syutingnya daripada dengan Jinsol. Jinsol masih diam dan tidak berani mengungkapkan kehamilannya pada Taehyung. Ia berencana akan memberitahu Taehyung setelah ia dinyatakan lulus dan keluar dari asrama.

“Jinsol!” Panggil Yein mengagetkan Jinsol. “Ayo cepat. Sebentar lagi acaranya akan dimulai.” Yein menarik tangan Jinsol agar ia berjalan lebih cepat.
“Yein aku tidak yakin kali ini.” Ujar Jinsol. Yein tidak mempedulikan perkataan Jinsol dan terus melajutkan langkahnya hingga ia tiba di sebuah ruangan yang sangat ramai. Ia menduduki sebuah kursi tepat disebelah ayah Yein. Jinsol sendiri tidak memiliki orang tua. Ia hanya memiliki seorang kakak laki-laki yang sudah menikah. Dan saat ini tidak memungkinkan untuk datang karena ia sedang ada pekerjaan di Amerika.
“Annyeong ahjussi.” Sapa Jinsol saat melihat ayah Yein.
“Jangan panggil aku ahjussi. Anggap saja aku appamu.” Ujar ayah Yein.
“Ah ne appa.” Jawab Jinsol dengan penuh senyum.

Acara sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu. Saat ini adalah pengumuman tentang juara sekolah yang akan dihadiahi dengan sbuah agency dan sejumlah uang dari sekolah.
“Ranking 1 pada hari ini. Diraih oleh seorang siswa yang sangat rajin dan terkenal di sekolah. Dan dia berencana untuk melanjutkan study-nya di Amerika. Mungkin siswa ini sudah tidak asing lagi di sekolah ini. Mari ucapkan selamat untuk Jeon Jungkook. Siswa yang selalu menduduki juara 1 disekolah.”
Jinsol bertepuk tangan malas sambil melihat wajah Jungkook. Air mata kini mengalir dari pelupuk matanya. Mengingat statusnya yang akan menjadi orang tua tunggal untuk anaknya. ‘Aku tidak akan menuntut apapun darimu Jungkook. Aku akan berdoa kepada Tuhan semoga kau selalu bahagia. Dan rasa sakit yang kau berikan, takkan pernah bisa aku lupakan. Kau adalah pria terjahat yang pernah aku kenal.’


-TBC-

Rabu, 09 Maret 2016

[Nappeun Namja Pt. 1] What Are You Doing?


Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol, Jung Yein
Genre   : NC, School life, other
Length   : Chapter
Author   : Ms. Childish

Sejak kapan dia menjadi sangat seksi? Haruskah aku berusaha memilikinya walaupun dia sudah dimiliki oleh orang lain? -Jeon Jungkook-

Taehyung Oppa! Saranghae! -Lee Jinsol-



School Of Performing Art (SOPA). Sebuah sekolah yang sangat terkenal dan berkualitas. Sekolah itu merupakan sekolah terbesar di Korea Selatan (anggap saja begitu). Dan terbukti beberapa siswa lulusan sekolah itu kini menjadi artis terkenal. Sekolah itu juga menyediakan asrama untuk para siswa. Setiap asrama terdiri dari 2 tempat tidur. Sedangkan semua siswa yang berasrama disana mencapai ratusan bahkan hampir seribu siswa. Sudah terbayang bagaimana besarnya asrama dan luasnya sekolah itu. Belum lagi kelas music, laboratorium, perpustakaan, kantin sekolah dan lain-lain. Seperti biasa pada malam minggu SOPA mengadakan event seperti untuk vocal, dance, rapp, dan masih banyak lagi yang lain. Hal itu bertujuan untuk melatih para siswa agar tidak gagal dalam ujian kelulusan. Tentang ketertiban di SOPA. Tidak ada larangan untuk berpacaran. Akan tetapi, sudah ada waktu dan batasan tersendiri untuk mereka.

Kelas akhir. Bagi sebagian orang kelas akhir adalah hal yang paling mendebarkan dan paling banyak menghabiskan waktu untuk belajar agar mendapatkan nilai yang maksimal. Namun berbeda dengan Jungkook. Dia tidak terlalu serius menghadapai kelas akhir. Seolah semuanya hanya candaan dan untuk hiburan. Namun saat melihat keadaannya saat ini, wajar saja jika dia menganggap kelas akhir ini sepele. Ujian seperti konser. Ujian dimana setiap siswa akan dinilai secara langsung penampilannya diatas panggung. Ujian yang bisa dibilang seperti ajang pencarian bakat. Ujian itu akan mereka hadapi bulan depan.

“Ya! Jeon Jungkook!” teriak Taehyung dari belakang. Jungkook yang sedari tadi asik dengan lagu favoritenya segera menoleh ke arah sumber suara. “Kau tidak katihan?” Tanya Taehyung. Taehyung adalah salah satu pelatih dance di SOPA bersama Suga dan Jimin.
“Aku sedang malas hyung. Kau tau sendiri. Aku tidak suka menghabiskan waktu untuk latihan. Lagi pula latihannya hanya itu-itu saja. Kau latihan sendiri saja. Aku masih banyak urusan.” Jungkook kembali memasang headset nya dan pergi meninggalkan Taehyung.
“Dasar anak kecil. Padahal dia sudah kelas akhir. Bagaimana jika dia tidak lulus ujian nanti? Apa dia tidak memikirkan itu? ckckck” Umpat Taehyung saat Jungkook sudah jauh meninggalkannya.

Jungkook terus berjalan sepanjang koridor sekolah. Ya, saat jam segini memang sekolah sangat sepi. Karena ini bukan jam sekolah. Langkah Jungkook tiba-tiba terhenti saat ia sampai di depan sebuah ruangan yang sangat luas. Pintu ruangan itu terbuka. Entah itu karena memang dibuka atau entahlah Jungkook tidak memikirkan itu. Yang ia perhatikan adalah seseorang yang sedang berada di dalam ruangan tersebut. -Jinsol-. Jungkook melihat gadis itu sedang latihan dance. ‘kenapa pacar V hyung bisa menjadi sangat cantik dan seksi saat ia berkeringat?’ gumam batin Jungkook. Gerakan Jinsol pun akhirnya terhenti. Ia beristirahat sejenak di sudut ruangan. Perlahan, Jungkook memasuki ruangan itu dan menutup pintu yang sedari tadi terbuka.
“Kau sudah datang Oppa?” Tanya Jinsol sambil terus mengelap keringatnya. Namun ia kaget saat yang disapanya bukanlah Taehyung. Melainkan Jungkook. “Eh? Sunbaenim? Ada apa kau kemari? Tidak biasanya kau ingin latihan dance. Biasanya kau selalu menghabiskan waktu untuk bernyanyi dan berpacaran. Apakah kau sudah berakhir dengan Tzuyu?” Tanya Jinsol.
“Tidak. Aku kesini ingin mengajakmu untuk dance bersamaku hari minggu nanti.” Ujar Jungkook sambil mendudukkan dirinya tepat disamping Jinsol.
“Eh? Tapi sunbaenim. Bukankah kau akan dance bersama Yeri?” Tanya Jinsol heran.
“Aku tidak ingin bersama Yeri. Dia terlalu kaku. Aku tidak suka jika haru mengajarkan gadis sepertinya.”
“Aah.. begitu. Baiklah kalau begitu. Aku akan mengatakannya pada V oppa agar dia bisa mengatur jadwal latihan kita nanti.” Ujar Jinsol.
“Bagaimana kalau sekarang saja? Supaya lebih cepat selesai koreografinya.”
“Umm… boleh juga sunbae.” Jawab Jinsol.
Beberapa saat kemudian, Taehyung datang ke ruang dance tempat Jinsol dan Jungkook saat ini. Taehyung mengerutkan alisnya heran. Ia melihat Jungkook dan Jinsol sudah latihan bersama. “Ya! Jeon Jungkook!” Taehyung mematikan music yang mengiringi gerakan Jinsol dan Jungkook. Seketika keduanya menoleh ke arah Taehyung. “Bukankah kau bilang tidak ingin latihan tadi?” Tanya Taehyung.
“Aku malas latihan. Tapi saat aku melihat gerakan Jinsol yang sangat bagus, aku jadi tertarik untuk latihan.” Jawab Jungkook.
“Oppa. Jungkook sunbaenim bilang dia ingin dance bersamaku. Apakah kau mengijinkanku?” Tanya Jinsol dengan wajah memohon.
“Baiklah aku mengijinkanmu. Tapi bagaimana dengan Yeri?”
“Aku sudah menyuruh Yeri mencari pasangan yang baru. Gerakannya begitu kaku. Aku tidak suka.” Jawab Jungkook.
“Ya sudah terserah kau saja.” Ujar V. ia pergi meninggalkan Jinsol dan Jungkook karena ia sudah tau koreografi yang Jungkook buat sudah pasti bagus.

Latihan pertama dan kedua Jungkook biasa saja menghadapi Jinsol. Begitu juga dengan latihan yang ketiga. Hingga latihan kelima. Jinsol dan Jungkook latihan berdua di ruangan yang sama seperti sebelumnya. Jinsol menggerakkan badannya sesuai dengan gerakan-geraan yang sudah direncakan. Tiba-tiba saja Jinsol kehilangan keseimbangannya saat berbalik menghadap Jungkook hingga ia terjatuh tepat diatas pria berbadan kekar itu. Jinsol memejamkan matanya kuat saat Jungkook mulai mendekatkan wajahnya. Seolah ia mengetahui apa yang akan Jungkook lakukan. ‘Oh shit! Kenapa harus sekarang?’ teriak batin Jungkook saat merasakan sesuatu yang aneh di balik celananya. Pria itu mencium bibir Jinsol dan menekan tengkuknya saat gadis di atasnya itu hendak menjauh. Jungkook melumat bibir gadis itu sambil menggesekkan bagian bawahnya dengan milik gadis itu. Jinsol yang merasakan hal itu segera mendorong pria itu kuat-kuat hingga ia terlepas dari ciuman panas yang baru saja mereka lakukan.
“Ma-maafkan aku sunbae.” Jinsol segera bangun dari atas Jungkook dan pergi meninggalkannya sendiri di ruangan yang dikelilingi oleh kaca itu.
Jungkook juga bangun dan duduk saat Jinsol pergi dan menutup pintu ruangan itu dengan kasar. “Arrgh! Sial! Sekarang aku harus menidurkannya sendiri.” Teriak Jungkook sambil mengacak rambutnya kasar. Jungkook memundurkan dirinya dan bersandar pada sebuah kaca yang menjadi dinding ruangan itu. Ia mengeluarkan juniornya yang sudah bangun dari dalam celananya. Jungkook mengocok juniornya sendiri sambil mendesahkan nama Jinsol. Hingga akhirnya cairan putih keluar dari saluran kencingnya. Jungkook mengambil sebuah tisu yang selalu ia bawa di kantong celananya untuk membersihkan cairan di juniornya.

Malam minggu sudah tiba. Seperti biasa, siswa kelas akhir akan mengikuti event mingguan yang diadakan oleh pihak sekolah serta asrama. Jungkook sedang berjalan menuju asrama Jinsol. Jungkook mengetuk pintu asrama yang ada di depannya dan beberapa saat kemudian pintu itu terbuka.
“S-sunbaenim? Ada apa?” Tanya seorang gadis yang membuka pintu asrama itu. -Yein-
“Apakah Jinsol ada di dalam?” Tanya Jungkook kembali.
“Jinsol baru saja pergi ke ruang latihan. Dia bilang, dia akan langsung pergi ke ruang make up untuk event nanti malam.” Jawab Yein.
“Oh baiklah kalau begitu. Terima kasih.” Jungkook segera pergi ke ruang latihan untuk menemui Jinsol. Saat ia tiba di ruang latihan, ia melihat Jinsol sedang duduk . Tak lama kemudian gadis itu beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu. Namun langkahya terhenti saat ia tiba di ambang pintu. “Kau sangat rajin. Semoga sukses untuk nanti.” Ujar Jungkook sambil mengangkat tangannya untuk menyemangati Jinsol.
“Ne. Kau juga. Semoga berhasil.” Jinsol juga mengangkat tangannya sambil tersenyum manis ke arah Jungkook. “Ya sudah kalau begitu. Aku akan bersiap dulu. Tiga puluh menit lagi kita sudah harus selesai.”
“Ne. Bagaimana kalau kita pergi bersama saja?” tawar Jungkook.
“Kedengarannya itu bagus. Baiklah. Ayo pergi bersama.”

30 Menit Kemudian

Jinsol dan Jungkook sudah selesai berias sejak tiga menit yang lalu. Sambil berias, Jungkook dan Jinsol latihan menyanyi.
“Jungkook Jinsol bersiaplah. Satu menit lagi giliran kalian.” Ujar seorang panitia. Jinsol dan Jungkook segera berjalan meninggalkan ruang make up itu. Jinsol menarik napas dalam-dalam dan pergi menaiki panggung yang biasa di gunakan untuk event.

Musik mulai berbunyi. Jungkook dan Jinsol juga mulai menggerakkan tubuhnya seperti gerakan-gerakan mereka saat latihan. Taehyung memperhatikan Jinsol dari salah satu bangku penonton yang berada di barisan paling depan.
Saat lagu sudah hampir selesai dan saat Jinsol berputar mengelilingi Jungkook tangannya tak sengaja menyentuh kejantanan Jungkook. Namun Jinsol tidak menyadarinya. Jungkook terus menggerakkan badannya seolah ia tidak merasakan apa-apa sampai akhirnya music pun terhenti.

“Kerja yang bagus Jinsol.” Ujar Yein saat Jinsol sudah sampai di ruang make up.
“Penampilanku memang selalu bagus. Kau baru menyadarinya?” Tanya Jinsol sambil tertawa kecil.
“Ya sudah. Aku mau ganti baju. Aku ngantuk. Kau cepatlah kembali ke asrama.” Ujar Yein.
“Ne. Arasseo. Tapi sepertinya aku akan menemui V oppa dulu sebelum kembali ke asrama.”
“Ish… kamu ini. ya sudahlah. Jangan sampai melebihi jam 12. Nilaimu akan dikurangi.”
“Iya iya aku mengerti Yein-ku sayang.” Jinsol mencubit pipi Yein gemas. Akhirnya Yein pun pergi meninggalkan Jinsol.

Event sudah selesai. Jinsol pun berpamitan pada V untuk pergi. Karena dirinya masih belum mengganti pakaiannya. “Oppa, aku pergi dulu. Jangan lupa tidur ne.” Pamit Jinsol sambil memberikan sebuah ciuman di bibir V. Hal yang sudah biasa namun selalu manis untuk V.
Ruang ganti sudah sangat sepi. Namun di luar masih banyak siswa yang lewat. Hanya ada Jinsol sendiri di dalam sana. Saat Jinsol sedang mengganti pakaiannya, Jungkook masuk ke ruangan yang dipenuhi kaca dan lampu itu. Jungkook mengunci pintu. Beberapa saat kemudian, Jinsol keluar dari ruang ganti dengan dress mini yang ia kenakan sebelum tampil di panggung. Jungkook berjalan mendekati Jinsol dan menyudutkannya diantara dinding yang bisa dibilang dingin.
“Akh!” Jinsol memekik saat merasakan dirinya menghantam dinding. “Su-sunbae. Apa yang kau lakukan?” Tanya Jinsol heran saat menyadari orang yang menyudutkannya adalah Jungkook.
“Kau sudah dua kali membuat adik kecilku bangun Jinsol. Dan sekarang, kau harus membuatnya tidur kembali.” Bisik Jungkook tepat di telinga Jinsol. Jungkook mulai menjilat telinga gadis itu. Beberapa saat kemudian Jungkook beralih mencium bibir mungil Jinsol. Jinsol meronta, meminta Jungkook agar menghentikan kegiatannya.
“S-sunbae… hentikan…” pinta Jinsol. Namun Jungkook tidak menghiraukannya. Jungkook malah mencium gadis itu lagi dan memperdalam ciumannya.
“Aku tidak bisa berlama-lama disini Jinsol-a.” Bisik Jungkook lagi. Ia kemudian mendudukkan Jinsol di lantai yang sangat dingin. Jungkook kembali mencium bibir gadis itu penuh nafsu. Tangannya menaikkan rok dan meminggirkan celana dalam Jinsol. Ia kemudian melepaskan ciumannya lagi dan menurunkan celana serta dalamannya. Hingga nampaklah juniornya yang sudah tegang. Jinsol memejamkan matanya kuat-kuat. Ia tidak memiliki keberanian untuk melihat apa yang akan terjadi. “Aku akan memulainya.” Ujar Jungkook sambil menarik Jinsol ke dalam pelukannya. Perlahan Jungkook memasukkan juniornya ke kewanitaan Jinsol.
“Aaakh!” Jinsol berteriak saat kepala junior Jungkook mulai memasuki dirinya. Ia meremas bahu pria itu kuat-kuat.
“Jangan berteriak. Kalau ada yang mendengar teriakanmu, kita akan dikeluarkan dari sekolah. Kau tidak ingin itu terjadi bukan?” Bisik Jungkook. Ia kemudian melanjutkan aksinya. Jungkook memasukkan juniornya semakin dalam. Namun Jinsol kembali berteriak. Hingga akhirnya Jungkook menghentakkan juniornya hingga menancap sempurna di miss v Jinsol.
“Aaahhh!!” Jinsol kembali berteriak saat junior Jungkook sudah masuk ke dalam dirinya. Ia merasakan sesuatu mengalir dari miss v nya. Masih gadis. Itu lah yang ada di pikiran Jungkook saat Jungkook juga merasakan darah yang mengalir keluar dari miss v Jinsol. Jungkook mulai menggerakkan pinggangnya hingga membuat Jinsol berteriak beberapa kali. namun teriakan itu perlahan berubah menjadi desahan yang membuat hasratnya untuk menyentuh gadis itu semakin naik. “Ahhh… su-sunbaeehh…” desah Jinsol sambil menikmati setiap perlakuan Jungkook.
“Desahkanhh namaku Jinsol.” Bisik Jungkook.
“J-ju Junghh kook… ahh… lebih cepathh mhh…” pinta Jinsol terbata-bata. Ia tidak bisa menahan desahannya. Jungkook pun mengiyakan permintaan Jinsol dan mempercepat genjotannya. Desahan demi desahan keluar dari mulut Jinsol. Hingga akhirnya Jinsol merasakan sesuatu ingin keluar dari dalam dirinya. “Ju Jung… Kook… mmhh… akuu ahhh… ada yang mau keluarr…” Suara Jinsol mulai bergetar.
“Aku juga Jinsol. Mmhh…” Jungkook mempercepat genjotannya. Ia merasakan juniornya semakin membesar dan berurat.
“Akuuh tidak tahan jungkook ahh.” Suaranya Jinsol semakin bergetar. Ia tidak bisa menahan sesuatu yang ingin keluar dari dalam dirinya. Cairan Jinsol mulai keluar.
“Bersamaa hh…” desah Jungkook. Jungkook akhirnya menyusul Jinsol. Ia mengeluarkan cairannya di dalam miss v Jinsol.
“Aaahhh…” desahan panjang mengakhiri kegiatan mereka saat itu. Jungkook menarik keluar juniornya dari kewanitaan Jinsol.
“Rapihkan penampilanmu. Jangan sampai ada yang mengetahui kejadian ini. dan hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu.” Ujar Jungkook sambil memasukkan kembali Juniornya ke dalam celananya. Ia akhirnya pergi meninggalkan Jinsol di ruangan itu.


TBC