Tampilkan postingan dengan label Jungkook. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jungkook. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2016

[Nappeun Namja Pt.6] Marry You And Happy

Marry You and Happy

Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol
Genre   : NC, Married Life, etc.
Length   : Chapter­­
Author   : Ms. Childish



One Month Later

Jungkook datang menemui Jinsol di rumahnya. Ia menyempatkan diri walau ia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Ia harus membeli gaun pernikahan bersama Jinsol untuk minggu depan.

“Nuna. Aku ingin menemui Jinsol. Bolehkah aku mengajaknya jalan hari ini?” Tanya Jungkook saat istri Hoya menemui Jungkook.
“Baiklah. Silahkan masuk. Aku akan membangunkan Jinsol dulu. Dia tampak sangat lelah setelah kemarin dia syuting seharian.”

Jungkook berjalan melihat foto-foto Sungjong yang terpajang rapi di sekeliling ruang tamu itu. “Nuna. Apakah ini anakku? Benarkah dia anakku?” Tanya Jungkook sambil terus menatap foto Sungjong.
“Benar. Dia sebenarnya anak kandungmu. Jinsol tidak menggugurkannya. Kami pergi ke Amerika untuk menghindari pembicaraan tetangga. Dan kami baru kembali beberapa minggu yang lalu. Dan. Aku juga sudah tau ceritanya. Kau menyurh Jinsol menggugurkan kandungannya saat itu. kenapa?” Istri Hoya mendekati Jungkook dan menatap foto yang sama.
“Saat itu aku masih labil nuna. Aku hanya memikirkan pendidikanku. Dan jika orang tuaku tau bahwa aku mengamili anak orang amaka mereka tidak akan menyekolahkanku. Sekarang. Aku kembali untuknya. Untuk menikahinya. Tapi saat aku melihatnya datang bersama Jimin hyung dan melihatnya bahagia bersamanya, aku mulai putus asa dan menyerah. Aku tidak ingin mengganggunya lagi. Aku memutuskan untuk hidp sebagai orang asing baginya.” Jelas Jungkook.
“Jungkook? Eonni?” Jinsol baru saja turun setelah beberapa saat ia mempersiapkan diri.
Jungkook tercengang melihat penampilan Jinsol yang sangat berbeda dari sebelumnya. Entah apa yang membuatnya merasa berbeda.
“kenapa kau menatapku seperti itu? apa ada yang aneh denganku? Kau tidak menyukainya? Aku akan mengganti pakaianku.”
“jangan.” Jungkook menahan tangan Jinsol saat Jinsol hendak kembali ke kamarnya. “Kau sangat cantik. Aku menyukainya.” Pujinya sambil memeluk Jinsol.
“ehem… kalian. Sebaiknya kalian cepat pergi. Mencari apartemen dan gaun pengantin yang bagus dan nyaman untuk kalian.
“Eonni. Aku berangkat.”
“Iya. Jungkook jaga dia baik-baik. Dan jangan mengulangi kesalahan yang sama.”
“Arasseo nuna.”

Jungkook dan Jinsol sudah tiba di butik gaun pengantin. Jungkook benar-benar memilih yang terbaik untuk Jinsol. Ia mendatangi sebuah butik dari desainer terbaik di Korea. Jungkook melihat setiap gaun pengantin yang ada. Beberapa sudah Jinsol coba namun tak satupun yang membuatnya tertarik. Hingga akhirnya ia memilih sebuah gaun panjang dengan mutiara yang mengelilingi bagian pinggang gaun tersebut. Saat Jinsol mengenakannya Jungkook merasa dirinya benar-benar sedang menikah hari ini. ia beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Jinsol. “Kau sangat cantik saat mengenakan gaun ini.” pujinya. Apa lagi yang akan Jungkook katakan? Dia lebih suka memuji Jinsol. “Setelah ini aku harap kita akan hidup bahagia tanpa ada permasalahan lagi.” Jungkook menarik pinggang Jinsol untuk merapat. Ia mendekatkan kepalanya untuk mencium bibir Jinsol. “Wae?” Tanya Jungkook saat Jinsol menjauhkan kepalanya.
“Ti-tidak. Jangan lakukan itu disini.” Jawab Jinsol sambil menundukkan kepalanya.
“Kalau begitu ayo kita lakukan itu di tempat lain.” Jinsol semakin bergetar saat mendengar ucapan Jungkook barusan.

Hari sudah mulai gelap. Matahari sudah kembali membenamkan sinarnya. Jinsol terlihat sangat lelah setelah ia memilih apartemen dan gaun pengantinnya. Tidak hanya itu, Jungkook tadi mengajaknya bermain di taman.
“Jinsol? Kita sudah sampai.” Jungkook mengayunkan lengan Jinsol beberapa kali namun gadis itu belum juga bangun. Jungkook segera keluar dari mobilnya dan menggendong Jinsol -seperti pangantin- masuk kedalam rumah kakaknya.
“Hyung… Nunaa…” teriak Jungkook dari depan pintu. “Nunaa!!! Hyuuungg!!!” teriak Jungkook sekali lagi. Beberapa saat kemudian pintu rumah itu terbuka.
“Kau sudah pulang? Masuklah dan bawa dia ke kamarnya.” Ujar Hoya.
“Ne. Hyung.” Jungkook membawa Jinsol ke kamarnya. Ia membaringkan gadis itu di tempat tidurnya. Jungkook menatap wajah Jinsol yang sedang tertidur sambil sesekali ia tersenyum. “Maafkan aku karena sudah pernah meninggalkanmu. Aku mencintaimu.” Jungkook mencium pipi kanan Jinsol dan beranjak pergi dari kamar Jinsol.

“Kau mau pulang?” Tanya Hoya yang dibalas dengan anggukan oleh Jungkook. “Menginaplah untuk hari ini. Ini sudah larut. Dan tidurlah di kamar Jinsol.”
“Hyung…”
“Aku mengijinkanmu tidur dengannya. Kau calon suaminya. Kau tunangannya. Tolong jaga dia baik-baik. Jangan tinggalkan dia lagi.” Ujar Hoya. Ia memeluk Jungkook dan mengusap punggung pria itu.


7 Days later
Jinsol tampak sangat cantik dengan gaun pengantin yang ia kenakan hari ini. Di sini. Di sebuah ruangan yang penuhi bunga ia menunggu seseorang yang akan menuntunnya ke altar. Ia ditemani oleh Sungjong. Anak itu dipangkunya di pahanya. Jinsol memeluk anak itu sambil sesekali mencium ujung rambutnya.
“Apakah setelah ini kau akan membawanya bersamamu?” Tanya istri Hoya sambil terus menatap Jinsol.
“Aku dan Jungkook berencana membawanya untuk tinggal bersama. Waeyo?”
“Bisakah kau meninggalkannya bersamaku? Aku akan merawatnya dengan baik. Kau tau aku tidak bisa memiliki anak lagi. Jadi bisakah aku memilikinya?”
“Eonni. Aku tidak akan memaksamu untuk mengembalikannya padaku. Bagaimanapun, kau adalah ibu baginya. Eonni. Dia bukan hanya anakku. Dia juga anakmu. Baginya, aku hanya adik dari appanya.”
“Jinsol.” Hoya memanggil dari pintu. Ia mengulurkan tangannya. Isyarat bahwa Jinsol harus pergi ke altar bersamanya. Jinsol segera menyerahkan Sungjong pada istri Hoya.
“Eonni. Jagalah dia baik-baik.” Istri Hoya mengangguk dan menggendong Sungjong.

Hari mulai gelap. Jinsol dan Jungkook baru saja tiba di apartemen baru yang akan mereka tinggali bersama. “Jungkook tunggu.” Suara Jinsol menghentikan gerakan Jungkook yang hendak membuka pintu mobilnya. Jinsol menatap lurus ke depan. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jungkook. “Aku tidak tega membawa Sungjong bersama kita. Eonni tidak bisa memiliki anak. Dan yang Sungjong tau, ibunya adalah dia. Bukan aku. Bisakah kita meninggalkannya bersama oppa?” Tanya Jinsol.
“Kau ingin meninggalkan anak kita bersama oppamu? Jika itu yang kau inginkan, aku menyetujuinya. Kita akan memiliki anak yang baru setelah ini.” Jungkook mengusap rambut Jinsol sambil tersenyum. Mendengar itu, Jinsol seketika menoleh karah pria itu. Jungkook turun dan membukakan pintu di samping Jinsol. Pria itu menggendong Jinsol sampai di apartemennya.

Kini mereka sudah tiba di depan pintu apartemen. Jinsol membantu Jungkook membukakan pintu. Setelah pintu itu terbuka, Jungkook segera memasuki apartemennya dan membawa Jinsol masuk bersamanya. Jungkook membaringkan Jinsol di sebuah tempat tidur yang sudah ditaburi oleh bunga mawar diatasnya. Jinsol tampak sangat gugup. Walau ia sudah pernah melakukannya, tapi perasaannya masih sama seperti pertama kali ia melakukannya. Jungkook menindih tubuh mungil gadis itu. “Kau cantik. Sangat cantik. Apalagi disaat sepeti ini. Saat kau berbaring dibawahku. Apalagi saat kau mendesahkan namaku 6 tahun yang lalu.” Jungkook membelai rambut Jinsol yang berada di samping wajahnya.
‘Pria ini benar-benar membuatku malu.’ Rutuk Jinsol dalam hatinya saat ia merasakan pipinya mulai panas. ‘Benar-benar memalukan.’
“Malam ini kita akan mengulangnya kembali. Aku akan melakukannya sepanjang malam. Kau tahu? Waktu itu aku tidak ingin meninggalkanmu dan bermain secepat itu. Aku tidak bisa berlama-lama karena aku tidak ingin seorang pun tau apa yang kita lakukan. Jika aku bisa, aku akan bermain denganmu sepanjang malam. Dan malam ini, aku akan melakukannya bersama orang yang sama dengan status yang berbeda. Aku akan menghabiskan malam bersamamu. Aku mencintaimu. Jeon Jinsol.” Jungkook menurunkan kepalanya dan mencium leher Jinsol.
“ngghh..geli Kookhh...” Ujar Jinsol sambil mendorong dada bidang Jungkook. Namun dengan segera Jungkook memegangi lengan Jinsol agar Jinsol tidak bisa memberontak. Jungkook menciumi setiap inci tubuh gadis dibawahnya. Hingga kini ia berada di belahan dada Jinsol. Ia menciumi bagian itu. “Nghh… Kook…” sebuah desahan berhasil lolos dari bibir Jinsol.
“Kau ingin menggodaku sayang?” Jungkook mengangkat kepalanya dan menatap Jinsol. Ia memeluk Jinsol menciumi setiap bagian lehernya, tangannya berusaha membuka resleting baju pengantin yang masih digunakan Jinsol sejak tadi. Jinsol meremas rambut Jungkook untuk meluapkan perasaannya. Entah perasaan apa itu hanya dia yang tau.
Sreek~
Resleting itu dengan mudah Jungkook turunkan hingga full sampai bawah. Jungkook menurunkan pakaian Jinsol dan melemparnya begitu saja. “Kau masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Kau masih sama sexy-nya seperti sebelumnya.” Jinsol mengalihkan pandangannya. Ia tidak bisa menatap Jungkook. Ia terlalu malu untuk menatapnya. Tangan Jungkook meraih pengait bra Jinsol dan melepasnya begitu saja. Ia kemudian menghisap gundukan itu seperti bayi yang sedang kehausan. Tangan kirinya meremas payudara yang lain. Naluri Jungkook benar-benar sudah berada di tingkat paling atas. Adik kecilnya sudah bangkit sejak tadi. “nghh… Kookieehh…” Jinsol tidak berhenti mendesahkan nama Jungkook dari tadi. Kewanitaannya pun sudah mulai basah. Jungkook semakin liar diatas tubuh istrinya. Tangannya mulai nakal. Ia menurunkan celana dalam Jinsol dan mengusap pelan kewanitaan Jinsol. Perlahan ia memasukkan jari tengahnya ke dalam kewanitaan Jinsol yang terasa basah itu. Jinsol meringis kesakitan saat tangan itu mesuk. Pahanya ia rapatkan kembali untuk menahan sakitnya. Jungkook tidak berhenti menyesap gundukan milik Jinsol hingga menimbulkan bercak kemerahan disana. Jungkook benar-benar sudah gila. Ia mengeluar masukkan jarinya dari kewanitaan Jinsol ia bahkan memasukkan 3 jarinya membuat Jinsol meracau tidak jelas. Beberapa saat kemudian cairan hangat keluar dari bagian kewanitaan Jinsol. Jungkook pun menjauhkan kepalanya dari payudara Jinsol dan menghisap semua cairan di kewanitaan Jinsol hingga bersih. “Ahhh….” Jinsol mendesah saat Jungkook menghisap kuat kewanitaannya.
Jungkook beralih ke bibir Jinsol dan mencium gadis di bawahnya. Ia berbagi cairan dimulutnya dengan Jinsol. Jijik. Yah Jinsol tidak pernah berpikir Jungkook akan segila ini. Tak lama, Jinsol mendorong Jungkook hingga ciumannya terlepas. “Kau curang. Pakaianmu masih lengkap. Sedangkan pakaianku sudah kau tanggalkan.” Ujar Jinsol iri.
“Kau iri padaku? baiklah.” Jungkook segera melepas semua pakaiannya hingga mereka sama-sama naked. Jungkook kembali menunduk dan mencium bibir Jinsol. Juniornya yang tegang tidak sengaja bergesekan dengan kewanitaan Jinsol. Terus begitu. Jungkook melebarkan paha Jinsol dengan kakinya.
“Kau…siap?” Tanya Jungkook ragu. Jinsol mengangguk pelan sambil menatap pria diatasnya. Tangannya memegang lengan Jungkook. Perlahan ia merasakan sakit di bagian kewanitaannya.
“Aaaaahh……” Cengkeramannya semakin kuat seiring dengan jeritannya saat junior Jungkook tertanam sempurna di dalam kewanitaannya. Air matanya mengalir dari pelupuk matanya sambil menahan sakit. Ini memang bukan pertama kalinya ia melakukan hubungan intim. Tapi itu terjadi 5 tahun yang lalu. Saat ia masih SMA. Sekarang ia sudah lulus kuliah dan sudah bekerja. Tentu saja semuanya berbeda.
“Sakitkah?” Tanya Jungkook sambil menghapus jejak air mata Jinsol. “Aku akan memulainya.” Lanjutnya. Jungkook mulai menggerakkan pinggulnya. Mengeluar masukkan benda keras miliknya yang berada di dalam tubuh Jinsol. Rasa sakit yang Jinsol rasakan semakin lama berubah menjadi sebuah kenikmatan. Apalagi disaat junior Jungkook mengenai titik terdalam pada dirinya. Racauannya pun semakin menjadi.
“Ahh… Kookkieeehh… deeper..” Racauan Jinsol terdengar jelas di telinga Jungkook. Hal itu semakin membuat naluri Jungkook meningkat. Jungkook semakin mempercepat tumbukannya di kewanitaan Jinsol. “Ahh… mmhh….” Desahan Jinsol memenuhi ruangan itu. tumbukan Jungkok semakin cepat hingga menimbulkan decitan pada tempat tidurnya. Desahan Jinsol dan Jungkook saling bersahutan seolah menjadi melodi yang sangat indah bagi keduanya.
Jungkook merasakan juniornya dijepit kuat di dalam tubuh Jinsol saat ia semakin kuat menumbuk kewanitaan istrinya. Juniornya pun terasa semakin membesar. “Kookiieehhh… aku keluar…” suara Jinsol terdengar semakin bergetar.
“Togetherhh…” jawab Jungkook. Ia mempercepat gerakannya hingga ia merasakan cairannya menyembur di dalam rahim istrinya. Pria itu memeluk Jinsol dan mencium keningnya. “Aku mencintaimu. Aku berjanji padamu. Aku tidak akan pernah pergi lagi darimu. Aku akan menjagamu. Kita akan membesarkan anak kita bersama-sama nanti. Aku berjanji padamu.” Ujar Jungkook. Jinsol menangis mendengarnya. Ia terharu. Jungkook berbeda dengan sebelumnya. Terakhir kali ia bertemu dengan Jungkook sebelum akhirnya mereka pergi dengan kehidupan masing-masing, Jungkook terlihat seperti pria brengsek. Jahat. Tapi sekarang ia merasakan ada sebuah perasaan yang hanya bisa ia mengerti melalui ucapan Jungkook barusan. Pria itu mencintainya. Harapannya sudah dikabulkan. Ayah dari Sungjong sekarang bertanggung jawab atas kesalahannya di masa lalu. Ayah Sungjong menikahinya. Yang ia harapkan hanya sebuah pernikahan dan pengakuan atas Sungjong. Tapi saat ini bukan hanya itu. Jungkook menikahi Jinsol atas dasar cinta dan perasaan. Bukan hanya karena rasa bersalahnya.
“Terima kasih kau sudah kembali. Aku juga merindukanmu. Aku juga mencintaimu. Jangan tinggalkan aku lagi.” Jinsol membalas pelukan Jungkook. Jinsol masih menangis. Tangisan bahagia.
“Tidurlah. Aku akan menemanimu. Mulai saat ini kau tidak akan sendirian lagi. Ada aku di sini.” Jungkook mencium bibir Jisol sekilas dan berbaring disamping Jinsol tanpa melepaskan juniornya dari kewanitaan Jinsol.

Malam itu. Aku merasakan semuanya. Perasaan sakit yang pernah aku berikan padamu dulu. Aku merasakannya. Saat aku meninggalkanmu dalam keadaan hamil. Aku menyesal. Aku menyesal karena saat aku kembali aku tidak menemukanmu. Dan saat kau muncul dihadapanku, kau sudah menjalin hubungan dengan Jimin hyung. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan selalu menemanimu. Aku mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu. Jinsol. -Jungkook-

Aku bersyukur kau kembali. Maafkan aku karena aku bersikap kasar padamu saat itu. Aku masih belum bisa melupakan kejadian di sekolah malam itu. Kau seperti pria brengsek saat kau meninggalkanku dalam keadaan berantakan. Kau seperti pria brengsek saat kau meninggalkanku bersama bayi di rahimku saat itu. Tapi aku bersyukur saat aku tau kau kembali untukku. Untuk menebus semua kesalahanmu. Tapi aku lebih bahagia lagi karena kau menikahiku bukan hanya untuk bertanggung jawab. Tapi karena kau mencintaiku. -Jinsol-

Hiduplah bahagia. Jangan pernah menangis lagi. Aku ada di sini kapan pun kau membutuhkanku. Karena aku adalah sahabatmu. Sahabat kecilmu. Aku akan menemanimu saat kau merasa sendiri. Aku akan menjadi sahabat yang baik. Aku akan menyayangimu. Seperti Yein yang selalu ada untukmu. -Jimin-


END

Senin, 25 April 2016

[Nappeun Namja Pt.5] Truth

Nappeun Namja Pt.5
TRUTH

Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol, Lee Hoya
Genre   : Family, Happy (?), etc.
Length   : Chapter
Author   : Ms. Childish


Pagi ini para member BTS sedang bersiap menuju Daegu. Mereka akan mengadakan fanmeeting. Jungkook dan hyung-hyungnya terlihat sangat senang. Apalagi Jimin. menurutnya ini adalah kesempatan untuk bertemu dengan Jinsol.

Jinsol tampak sedang tidak senang. Sarapannya belum ia cicipi sejak tadi. Hoya memperhatikan ekspresi Jinsol yang tapak sedih. “Kau kenapa Jinsol? Kenapa kau tidak memakan makananmu? Apa kau ada masalah?” Tanya Hoya.
“Oppa. Setelah ini aku ini aku ingin berbicara dengan oppa.”
“baiklah kalau begitu.”

Jinsol sedang berdiri dihadapan Hoya. Ia memainkan jarinya karena kegelisahannya. “Kau kenapa? Apakah pekerjaanmu tidak cocok? Aku akan memindahkanmu ke kantorku jika kau tidak nyaman menjadi selebriti.” Ujar Hoya.
“Tidak oppa. Bukan itu. Ini… tentang Jungkook.”
“Jungkook? Ada apa dengannya? Apa dia mengganggumu lagi?” Tanya Hoya.
“Dia… kemarin dia datang menemuiku di lokasi syuting. Dan… dia bertanya tentang Sungjong. Sepertinya dia tau tentang Sungjong. Oppa. Aku sudah melupakannya tapi kenapa dia muncul lagi?” Tanya Jinsol. Butiran air mata berjatuhan dari pelupuk matanya.
“Jinsol. Aku mengerti perasaanmu. Sekarang. Jangan kau sia-siakan Jimin. Dia pria baik-baik. Berbeda dengan Jungkook. Aku juga tidak akan membiarkannya menyakitimu lagi.”

Drrtt… Drrtt…
“Jimin. aku akan menjawabnya dulu oppa.” Pamit Jinsol. Ia berjalan keluar dan menjawab panggilan dari Jimin.
“Ne oppa.”
“……”
“Ne? Jinjja? Arasseo. Aku segera kesana.” Jinsol segera kembali ke ruangan kakaknya dan meminta ijin untuk menyusul Jimin ke Daegu. Hoya mengiyakannya. Ia selalu mengijinkan adiknya itu untuk pergi kemana saja yang ia mau asalkan tidak untuk pergi minum bersama siapapun. Hoya melarang keras akan hal itu. ia tidak ingin kesalahan yang sama terjadi dua kali pada Jinsol.

“Oppa!” panggil Jinsol dari kejauhan. Jinsol segera berlari mendekati Jimin dan memeluk pria itu. “Apakah aku terlambat?” Tanya Jinsol sambil menormalkan nafasnya yang terengah-engah.
“Jinsol? Terima kasih kau sudah datang. Hari ini aku akan pergi ke Daegu. Dan aku akan kembali besok pagi. Tunggu aku dan jangan selingkuh. Aku akan merayakan hari pertunangan kita setelah aku pulang dari Daegu.”
“Aku tau itu. aku tidak akan selingkuh. Percayalah padaku oppa.” Jawab Jinsol.

Acara Fanmeet telah selesai. Semua member BTS telah meninggalkan tempatnya dan pergi ke hotel untuk istirahat. Jungkook. Seperti biasa ia menuliskan semua kejadian yang terjadi di buku merahnya. Jungkook tampak sangat lelah hingga tanpa sadar ia tertidur begitu saja. Tanpa menutup bukunya. Tanpa mengenakan selimut. Dan tanpa mengganti bajunya.
Jimin baru saja kembali setelah mengantar Jinsol sampai depan gerbang hotel. Ia memasuki kamar Jungkook. Memang dia satu kamar dengan Jimin. Saat Jimin hendak berbaring, ia melihat buku catatan harian Jungkook yang terbuka. Jimin merasa tertarik untuk membaa buku bersampul merah itu. Dimulai dari halaman pertama.

Senyumnya. Tariannya. Wajahnya. Masih aku ingat hingga saat ini. lima tahun sudah berlalu tapi kenapa aku semakin merindukannya?

Jimin tertawa kecil sambil membaca kalimat itu. “Kekanakan sekali.” Gumam Jimin. ia kemudian membalik halaman berikutnya.

Kenapa rasa bersalahku kini semakin besar? Perasaan itu semaki menghantuiku. Dimana kau? Aku mencarimu. Maafkan aku karena aku tidak sempat bertanggung jawab atas kesalahanku. Awalnya aku hanya ingin bersenang-senang denganmu. Tapi kenapa perasaan itu sekarang berubah? Tolong kembalilah.

“Kesalahan? Kesalahan apa yang dilakukan anak ini?” Jimin terus membalik lembaran-lembaran itu. Hingga ia tiba di sebuah halaman yang penuh dengan tulisan tangan Jungkook. Cerita yang cukup panjang.

Kau semakin cantik. Kau juga terlihat semakin dewasa. Kau menjadi wanita yang kuat. Membesarkan anak kita sebagai keponakan itu sulit. Aku menyesal telah meninggalkanmu di masa lalu. Kau terlihat sangat bahagia tadi. Bersama Jimin hyung. Kurasa aku harus menjauh darimu. Dan tetap menjadi orang asing bagimu. Aku tidak ingin menjadi pengacau hidupmu. Selamanya. Kau hanya mimpiku. Biarkan perasaan ini ku pendam sendiri. Walau terasa begitu sakit. Walau ada rasa kecewa di dalam hati. Walau sedih dan tangis mengiringi ingatanku denganmu di masa lalu. Aku. Hanya PENGACAU bagimu. Aku senang melihatmu tersenyum bersama Jimin hyung. Jinsol. Maafkan aku atas kesalahan terbesarku. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan mengganggumu bersama Jimin. Semoga kau bahagia.

“Apa ini?” tangan Jimin gemetar saat ia menemukan nama Jinsol dan namanya disana. Ia segera mengambil ponselnya dan mengambil gambar tulisan tangan Jungkook itu. ia ingin menyerahkannya pada Jinsol dan ia juga ingin mempersatukan Jungkook dengan Jinsol. “Apa ini yang membuat Jungkook sakit waktu itu? tapi bagaimana bisa ia menyembunyikan ini dariku? Dan Sungjong. Benarkah dia anak Jungkook? Aku akan menanyakan ini pada Jinsol.”
‘Jinsol. Temui aku besok di taman dekat rumahmu.’ Jimin baru saja mengirimi Jinsol pesan singkat. Ia berharap bahwa ia akan menemukan jawaban yang sebenarnya besok.

BTS sedang perjalanan kembali ke Seoul. Jimin terus saja memandangi layar ponselnya. Setelah beberapa jam, akhirnya mereka tiba di Seoul. Besok adalah hari pertunangannya dengan Jinsol. Bagaimana bisa ia menerima seorang wanita yang sudah pernah hamil? Tidak masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah karena Jinsol pernah mengandung anak Jungkook. Yang sekarang menjadi keponakannya. Sungjong.

Jinsol menunggu kehadiran Jimin di sebuah kursi panjang. Ia mencari sosok Jimin. Jinsol segera berlari saat ia menemukan Jimin sedang berjalan bersama teman-temannya. “Oppa.” Panggil Jinsol sambil tersenyum kearah Jimin.
“Jinsol? Hyung aku akan menemuinya dulu. Kalian kembalilah lebih dulu.” Ujar Jimin. ia berjalan menuju arah Jinsol.

Jimin dan Jinsol sedang berada di café dekat bandara. Mereka sedang menikmati kopi bersama. Romantic bukan? Di musim dingin ini mereka minum kopi berdua. “Bagaimana pekerjaanmu kemarin? Kau pasti sangat lelah. Oppa sebaiknya istirahat saja. Besok kan hari pertunangan kita.” Jinsol memulai permbicaraan.
“Jinsol. Aku ingin menanyaan sesuatu padamu.” Ujar Jimin dengan wajah seriusnya.
“Tanyakan saja oppa. Tidak biasanya oppa meminta ijin dulu padaku untuk bertanya.” Jawab Jinsol sambil tersenyum.
“Apakah benar kau pernah hamil sebelumnya?” Tanya Jimin.
Seketika Jinsol kaget dan menatap Jimin. senyumnya luntur. Hatinya terasa seperti ditusuk dengan jarum. Tidak. Lebih dari itu. Air bening sedang mengambang di matanya. “Kenapa kau menanyakan hal itu?” bukanlah sebuah jawaban yang Jinsol berikan. Namun sebuah pertanyaan.
“Jawab aku. Apa kau pernah memiliki hubungan dengan Jungkook?” Jimin berusaha mengontrol emosinya. Ia tidak ingin dirinya marah dan membuat Jinsol malu. “Jawab aku Jinsol.” Lagi. Jimin menuntut sebuah jawaban. Perlahan kepala Jinsol mengangguk. “Apakah kau mencintai pria itu?” Tanya Jimin lagi. “Apa benar Sungjong itu bukan keponakanmu melainkan anakmu?” lanjutnya.
“Oppa. Darimana oppa tau sedetail itu? apakah Jungkook yang memberitahunya padamu? Atau..” belum selesai Jinsol berbicara, Jimin memotongnya denga kalimatnya sendiri.
“Baca ini.” jimin menyerahkan ponselnya dan menunjukkan foto dari catatan harian Jungkook. Dari halaman terdepan hingga akhir. Air mata Jinsol mengalir. Lagi.
‘Kau menyesalinya? Jadi selama ini kau mencariku? Tapi kenapa? Waktu itu kau menyuruhku menggugurkan kandunganku. Kenapa kau baru menyesalinya sekarang?’ Tanya batin Jinsol.
“Menikahlah dengannya. Aku yakin kau akan lebih bahagia bersamanya. Dia bukanlah pria jahat seperti dulu. Di dorm, dia yang paling peduli pada semua member selain Taehyung. Dia juga pintar. Dan… ku mohon. Jika kau benar menyayangiku, menikahlah dengannya.” Jimin menggenggam tangan Jinsol dengan erat.

Next day

Hari ini hari pertunangan Jimin dan Jinsol. Semua orang menghadiri acara tersebut. Termasuk Jungkook dan member BTS yang lainnya. Acara pertunangan ini terlihat seperti acara pernikahan. Namun tidak ada pendeta di tempat itu.
Jinsol sedang menunggu diruang kamarnya. Ia menatap dirinya. Dengan wajah datar. Pikirannya tidak focus pada acara pertunangannya. Ingatannya pada masa lalunya kembali menghantui pikiran gadis itu. Saat Jungkook meninggalkannya diruang make up dengan penampilan kacau. Wajah Jungkook saat ia menyuruh gadis itu menggugurkan kandungannya.
Berbeda dengan Jinsol. Jimin sedang memikirkan tentang perasaan Jungkook. Jungkook selalu bersikap baik pada Jimin. member yang paling peduli dan menyayanginya. Setidaknya itu yang Jimin percaya. Bagaimana pun Jimin tidak bisa memisahkan Jungkook dengan anaknya. Walaupun tidak untuk Jinsol. Setidaknya Jungkook bisa bahagia karena bisa memiliki haknya sebagai ayah dari Sungjong.
“Jimin. Para tamu sudah menunggumu. Sebaiknya kau temui mereka.” Ujar leader pada Jimin.
“Ne hyung.” Jimin sudah menentukan apa yang ia lakukan hari ini.
Jimin berjalan dengan percaya dirinya diatas altar. Kemudian disusul oleh Jinsol. Saat tiba pertukaran cincin. Jimin menghentikan gerakannya. Ia menggenggam tangan Jinsol. Ia berbalik kearah para tamu. “Pertunangan ini. Aku tidak berhak untuk memiliki gadis cantik dan baik yang sedang berdiri di sampingku saat ini. Ada seseorang lagi yang lebih berhak dariku. Seseorang yang lebih mencintainya. Menyayanginya. Dan dia juga jauh lebih baik dariku. Pria itu adalah sahabatku sendiri. Adik para member BTS. Jungkook.”
“Oppa…” gumam Jinsol. Jimin tersenyum kearah Jinsol.
Semua orang kini memusatkan perhatiannya pada Jungkook. Jimin perlahan berjalan dan mendekati Jungkook. Menggenggam tangan pria itu dan membawanya berada di samping kiri Jimin. sedangnkan Jinsol dengan berdiri di sebelah kanan Jimin. “Aku ingin kalian menjadi pasangan yang bahagia.” ujar Jimin.
“Hyung… apa yang kau lakukan?” Tanya Jungkook pelan.
“Kumohon. Lakukan ini untukku Kook. Kau lebih berhak untuk memilikinya.” Jimin menyerahkan sebuah cincin ke tangan Jungkook. Meminta pria itu memasangkan cincin pada gadis dihadapannya. Jimin turun dan menduduki sebuah kursi tamu yang tadinya menjadi tempat Jungkook. ‘seperti inikah perasaanmu setiap kali aku bersama Jinsol? Dan seperti inikah perasaanmu saat kau melihatku bersama Jinsol disana tadi? Aku sudah merasakannya Jungkook. Aku harap kau akan bahagia bersamanya.’ Gumam batin Jimin.
“Kau hebat Jimin.” Ujar Taehyung sambil menepuk pundak Jimin.

Acara pertunangan itu sudah selesai. Jinsol berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang sangat cepat. Ia segera memasuki kamarnya dan menangis.
“Jinsol… kenapa kau menagis? Bukankah seharusnya kau bahagia karena Jungkook mau bertanggung jawab atas kejadian dimasa lalumu?” Tanya istri Hoya sambil mengusap rambut Jinsol. Jinsol bangun dan memeluk erat kakak iparnya.
“Aku memang menginginkannya unn. Tapi bukan sekarang. Aku sudah melupakannya. Tapi… Jimin. bagaimana dengannya? Dia pasti sakit.”
“Lalu bagaimana dengan perasaan Jungkook? Siapa yang tahu tentang perasaannya? Apakah Taehyung pernah menceritakan perasaan Jungkook padamu? Tidak kan? Apakah Jimin juga pernah menceritakan perasaan Jungkook padamu? Tidak kan? Tidak ada yang tau perasaannya Jinsol. Dan. Bukankah jika kau menikah dengannya kau akan bahagia dan hidup bersama dengan Sungjong?”
“eonni… aku tidak menginginkan pertunangan ini. Dia yang menghancurkan hidupku dulu. Dia juga yang membuatku terpuruk. Tapi Jimin. dia sahabat kecilku. Dia teman sekolahku. Dia juga orang yang sangat mengerti diriku.”

“Tapi dia hanya sahabatmu Jinsol. Jangan tempatkan cinta diatas persahabatan jika kau tidak ingin hubungan itu hancur. Cobalah untuk menerimanya. Dia pantas menikahimu. Ingatlah. Suatu hari nanti Sungjong akan mengetahui yang sebenarnya. Dan itu akan lebih baik jika kau memberitahu yang sebenarnya terjadi sejak saat ini.” Jinsol diam. Jinsol hanya mendengarkan nasihat kakak iparnya dan mengangguk. “Ya sudah. Gantilah bajumu dan temui Jungkook bersama teman-temannya di ruang makan.”

[Nappeun Namja Pt. 4] That's My Little Brother


Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol, Park Jimin
Genre   : Family, Happy (?), etc.
Length   : Chapter
Author   : Ms. Childish


Benarkah dia anakku? Aku merindukanmu Jinsol. Apakah ini anak kita? Dia sudah tumbuh besar dan sangat baik. Dia tampan sama sepertiku. Bisakah aku memilikimu suatu hari? Aku ingin menebus semua kesalahanku. –Jeon Jungkook-

“Hei lihat Jungkook. Dia mirip sepertimu.” Ujar J-Hope sambil mencubit gemas pipi Sungjong.
“Siapa nama anak ini?” Tanya Taehyung. “Dia sangat imut dan lucu.” Lanjut Taehyung sambil mencubit pelan pipi Sungjong.
“Dia keponakan pacarku. Namanya Sungjong. Jangan cubit dia Taehyung!” bentak Jimin saat melihat Taehyung mencubit Sungjong.
“Hyung. Bolehkah aku menggendongnya?” Tanya Jungkook.
“Tidak boleh! Dia anakku.” Larang Taehyung. Seketika semua member BTS yang ada disana tertawa melihat tingkah Taehyung.
“Mber. Aku ingin mengenalkan pacarku pada kalian.” Ujar Jimin. “Jinsol.”
‘Jinsol?’ tanya batin Jungkook saat Jimin menyebutkan nama Jinsol. Beberapa detik kemudian seorang gadis cantik masuk dan berdiri di sebelah Jimin. ‘Benarkah itu Jinsol temanku? Dia masih sama seperti dulu. Lalu apakah balita ini anakku? Anakku bahkan sudah sebesar ini.’ Gumam batin Jungkook.
“Annyeong. Oppadeul. Namaku Lee Jinsol.” Ujar Jinsol sambil menebarkan senyumannya.
“Jinsol. Kenalkan. Yang itu Jin hyung. Itu Rapmon hyung. Jihop hyung. Syuga hyung. Taehyung dan yang ituu…” Ujar Jimin sambil menunjuk satu persatu member BTS dan ucapannya terhenti pada Jungkook. “Yang itu… panggil saja Kookie.”
“Hyung. Aku titipkan Sungjong pada kalian ya. Aku akan pergi bersama Jinsol.” Pamit Jimin.
‘Dia tidak mengenalku? Apa dia sudah melupakanku? Atau perubahan wajahku sangat jauh dengan dulu? Ini aneh.’

Some Hour Later

Jimin dan Jinsol masih belum kembali sejak tadi. Sungjong menangis. sepertinya ia ingin tidur. Taehyung mencoba untuk membuat Sungjong tidur namun balita itu tetap saja menangis.
“Hyung. Biarkan aku yang menggendongnya.” Ujar Jungkook. Taehyung mengerti dengan perasaan Jungkook. Ia segera menyerahkan Sungjong kedalam gendongan Jungkook. Dan beberapa saat kemudian balita itu sudah berhenti menangis dan terlelap dalam gendongan Jungkook. “Hyung aku akan menemaninya di kamarku.” Pamit Jungkook.

‘Apakah kau anakku? Aku tidak tahu kau anakku atau memang benar keponakan Jinsol. Jika kau anakku. Maafkan aku nak. Aku berjanji padamu. Aku akan menebus semua kesalahan yang pernah aku lakukan pada kalian berdua. Aku akan bertanggung jawab atas dirimu dan ibumu.’ Jungkook bergumam dalam hatinya. Memang beberapa bulan terakhir, ia merasa bersalah pada Jinsol. Ia ingin mencari Jinsol dan menikahinya. Tapi saat ia melihat Jinsol tersenyum di samping Jimin, ia mengurungkan niatnya untuk menikahi Jinsol. Ia berpikir Jinsol akan membencinya jika gadis itu tau bahwa Kookie yang menjadi member kesayangan Jimin adalah seseorang yang nyaris merusak masa depan Jinsol.

“Hyung. Mana Sungjong?” Tanya Jimin saat ia baru saja sampai di dorm.
“Ah. Dia sedang bersama Kookie di kamarnya. Sepertinya anak itu menyukai Kookie. Dia langsung tertidur saat Kookie menggendongnya.” Jawab Namjoon.

Jimin tiba di depan pintu kamar Jungkook. Ia melihat Sungjong dan Jungkook sedang tidur bersebelahan. Jimin memperhatikan keduanya sambil tersenyum. ‘bagaimana bisa mereka begitu mirip? Apa mereka adalah saudara yang terpisah?’ beberapa pertanyaan tiba-tiba muncul begitu saja di pikiran Jimin. Jimin menggendong Sungjong dan membawanya kembali bersama Jinsol.
“Hyung. Aku akan mengantarnya pulang dulu.” Pamit Jimin.

Malam telah tiba. Jungkook sedang berdiri di balkon kamarnya. Menikmati keindahan langit, sambil merenungkan segala kesalahannya. Ia sedang memegang buku tulis dengan sampul warna merah. Buku yang baru ia beli bulan lalu. Ia menjadikannya sebagai buku hariannya. Semua isi hati yang tidak pernah bisa ia ungkapkan pada orang lain ia tulis disana. Termasuk semua ingatan tentang kesalahannya dimasa lalu.

Kau semakin cantik. Kau juga terlihat semakin dewasa. Kau menjadi wanita yang kuat. Membesarkan anak kita sebagai keponakan itu sulit. Aku menyesal telah meninggalkanmu di masa lalu. Kau terlihat sangat bahagia tadi. Bersama Jimin hyung. Kurasa aku harus menjauh darimu. Dan tetap menjadi orang asing bagimu. Aku tidak ingin menjadi pengacau hidupmu. Selamanya. Kau hanya mimpiku. Biarkan perasaan ini ku pendam sendiri. Walau terasa begitu sakit. Walau ada rasa kecewa di dalam hati. Walau sedih dan tangis mengiringi ingatanku denganmu di masa lalu. Aku. Hanya PENGACAU bagimu. Aku senang melihatmu tersenyum bersama Jimin hyung. Jinsol. Maafkan aku atas kesalahan terbesarku. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan mengganggumu bersama Jimin. Semoga kau bahagia.

“JUNGKOOK!” teriak Taehyung dari pintu kamarnya. Pria itu menghampiri Jungkook tatkala dirinya melihat orang yang dicarinya sedang berdiri di balkon.
Dengan segera Jungkook menutup bukunya dan meletakkannya di dalam bajunya. “Wae hyung?” Jungkook berbalik.
“Sedang apa kau?” Taehyung menepuk pundak Jungkook.
“Hyung.” Jungkook memeluk Taehyung dengan erat. “Hyung aku menyesal.” Air matanya mengalir. Satu-satunya orang yang mengetahui masa lalunya adalah Taehyung. Mantan kekasih Jinsol.
“Kau kenapa Kook? Apa ini karena Jinsol? Kau cemburu?” Tanya Taehyung.
“Aku menyesal hyung. Dia… dia anaknya. Bukan keponakannya. Aku tau itu. Hyung. Aku adalah pria terjahat di dunia ini. Aku tidak ingin meninggalkannya. Tapi, jika aku tidak pergi orang tuaku akan curiga dan… aku tidak bisa menjadi artis terkenal seperti sekarang. Hyung. Aku bekerja dan kembali untuknya. Aku ingin memilikinya. Tapi… dia sudah bahagia bersama Jimin hyung. Dan… bulan depan mereka akan bertunangan. Aku benar-benar menyesal hyung.” Masih banyak kalimat yang Jungkook ungkapkan pada Taehyung. Rasa menyesalnya. Semuanya. Taehyung menemani Jungkook hingga pria itu tertidur.

Seminggu telah berlalu begitu cepat. Kondisi Jungkook saat ini sedang tidak baik. Sejak hari itu nafsu makan Jungkook berkurang. Ia juga tidak focus pada latihannya di dorm hingga sang leader menegurnya beberapa kali.
Saat ini Jungkook sedang beristirahat di kamarnya. Leader dan member tertua menyuruhnya istirahat untuk sementara waktu hingga ia merasa tenang.
“Jungkook.” Panggil Taehyung. Jungkook hanya menoleh menatap Taehyung dengan matanya yang membengkak dan merah. “Sampai kapan kau seperti ini? Mana semangatmu? Katakan padanya jika kau memang benar-benar mencintainya. Katakan padanya jika kau menyesal. Jangan putus asa seperti ini. Ini. Aku sudah mendapatkan nomor ponsel Jinsol. Jangan Tanya aku mendapatkannya dari mana.” Taehyung menyerahkan secarik kertas yang berisi nomor ponsel Jinsol pada Jungkook. “Bicaralah dan ajak dia bertemu saat kau sudah sembuh. Sekarang kau harus istirahat.” Taehyung mengacak rambut Jungkook. Pria itu tersenyum. Semangatnya seolah telah kembali. Lagi-lagi Jungkook harus beristirahat.

Esoknya, Jungkook terlihat sudah membaik. Jungkook menatap kertas pemberian Taehyung kemarin. Jungkook meraih ponselnya dan menyimpan nomor ponsel Jinsol. Pria itu berjalan menuju suatu tempat. Sebuah taman di dekat tempat syuting Jinsol. Jungkook merogoh ponselnya. Dengan perasaan ragu, Jungkook menekan tombol panggil di ponselnya. Tuuuut… panggilannya telah tersambung.

Jinsol sedang beristirahat setelah syutingnya berakhir. Syuting film pertamanya. Jinsol menghentikan aktivitasnya saat ia mendengar getaran ponselnya.
“Hallo?” sapa Jinsol.
“Apa ini Jinsol?” Tanya Jungkook memulai pembicaraan.
“Iya. Saya sendiri. Kau siapa?”
“Ini aku. Jungkook.” Jinsol tampak kaget begitu pria itu menyebutkan dirinya kalau ia Jungkook.
“J-Jungkook? Ke-kenapa kau menghubungiku?” Jinsol mencoba untuk tidak menjatuhkan air matanya. Ia menutup mulutnya dengan tangan kiri.
“Temui aku di taman”
“Tapi…” belum selesai Jinsol berbicara Jungkook sudah mematikan sambungannya lebih dulu.
Dengan segera Jinsol berjalan menuju taman. Sebenarnya ia tidak yakin bahwa taman yang dimaksud adalah taman di dekat tempat syutingnya. Tapi ia tetap saja berjalan menuju tempat itu. Jinsol mencari-cari keberadaan Jungkook saat ia tiba di taman.
“Jinsol.” Panggil Jungkook dari belakang. Seketika Jinsol menoleh ke arah sumber suara. Pria itu membawa Jinsol ke tempat yang begitu sepi. Hingga tak seorang pun yang bisa melihatnya.
“Ko-kookie? Bukankah kau Kookie?”
“Ini aku Jungkook. Kau sudah lupa padaku?” Tanya Jungkook.
“Tidak. Ini tidak mungkin. Kenapa kau datang lagi? Apa maumu?” Tanya Jinsol.
“Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu. Ini tentang… anak kita.” Ujar Jungkook memulai pembicaraan.
“anak kita? Cih. Kau bilang anak kita? Anak kita sudah mati.” Jawab Jinsol penuh emosi.
“Tidak. Anak yang kau bawa ke dorm saat itu. Dia bukan keponakanmu. Dia anakku kan?”
“Apa maksudmu itu anakmu? Dia, keponakanku. Anak kita sudah mati! Bukankah kau sendiri yang menyuruhku menggugurkan kandunganku saat itu?! kau ingin pergi ke Amerika dan-” Ucapan Jinsol tiba-tiba terhenti saat Jungkook mendaratkan ciumannya di bibir Jinsol. Plakk! Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi mulus Jungkook saat pria itu melepaskan ciumannya. “Kau! Pria paling brengsek yang pernah aku temui!” Jinsol marah. Ia meninggalkan Jungkook sendirian di tempat itu.

Drrt… drrttt… ponsel Jinsol bergetar. Jinsol menatap nama pemanggil itu.
“Ne oppa. Aku sedang menuju kesana.”
“…”
“Ne.” Jinsol meletakkan kembali ponselnya di saku mantelnya.
“Jinsol! Aku menyesali semuanya. Aku ingin bertanggung jawab! Tapi jika kau ingin aku pergi, maka aku akan pergi! Semoga kau bahagia bersama Jimin hyung!” teriak Jungkook dari jauh. Jinsol mendengarnya dengan jelas. Ia menangis tapi ia tidak berbalik. Ia tidak memiliki niatan untuk berbalik.

Malam telah tiba. Jinsol berdiri menatap bintang melalui jendela kamarnya. “Kenapa kau kembali saat aku sudah aku melupakanmu? Dimana kau saat aku berharap kau mencariku? Kau bahkan tidak mempedulikan masa depanku. Kau hanya mempedulikan dirimu sendiri. Kenapa kau kembali ke dalam kehidupanku? Apa alasanmu menanyakan anakku? Kau ingin merebutnya? Semoga itu tidak terjadi. Aku tidak ingin itu semua terjadi.” Jinsol bergumam sambil terus menatap bintang di langit.
“Nuna~” panggil seorang anak kecil dari belakang Jinsol. Jinsol segera berbalik dan memeluk anak kecil itu.
“Ada apa Sungjong? Dimana ayah dan ibumu?” Tanya Jinsol.
“Aku tidak bisa tidur… aku ingin tidur bersama nuna.” jawab anak itu sambil terus memeluk mainannya.

“Baiklah. Nuna akan menemanimu tidur. Jha.” Jinsol menggendog Sungjong dan membaringkannya di samping dirinya. Beberapa saat kemudian Sungjong dan Jinsol terlelap bersama-sama.

Sabtu, 16 April 2016

[Nappeun Namja Pt.3] New Life

Nappeun Namja Pt.3
New Life

Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol, Jung Yein, Lee Hoya
Genre   : Family, Happy (?), etc.
Length   : Chapter
Author   : Ms. Childish



“Ranking 1 pada hari ini. Diraih oleh seorang siswa yang sangat rajin dan terkenal di sekolah. Dan dia berencana untuk melanjutkan study-nya di Amerika. Mungkin siswa ini sudah tidak asing lagi di sekolah ini. Mari ucapkan selamat untuk Jeon Jungkook. Siswa yang selalu menduduki juara 1 disekolah.”
Jinsol bertepuk tangan malas sambil melihat wajah Jungkook. Air mata kini mengalir dari pelupuk matanya. Mengingat statusnya yang akan menjadi orang tua tunggal untuk anaknya. ‘Aku tidak akan menuntut apapun darimu Jungkook. Aku akan berdoa kepada Tuhan semoga kau selalu bahagia. Dan rasa sakit yang kau berikan, takkan pernah bisa aku lupakan. Kau adalah pria terjahat yang pernah aku kenal.’
“Ranking 2 tahun ini. Diraih oleh seorang siswi yang berbakat. Dengan setiap gerakan dance nya yang memukau dan juga suaranya indah. Berilah tepuk tangan untuk siswi kita yang bernama Lee Jinsol.” Jinsol kaget saat mendengar namanya disebut. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri berharap kakaknya akan datang. Ia menarik napasnya dalam-dalam kemudian berdiri dan melangkah ke atas panggung. Ia menerima piala yang diberikan oleh kepala sekolah. Jinsol tersenyum tipis. Di hatinya ia tidak ingin melihat wajah Jungkook. Dengan ekspresi wajah yang datar dan dingin, Jinsol berdiri di sebelah Jungkook.

Acara sudah selesai beberapa menit yang lalu. Jinsol melangkah keluar dengan piala di tangannya. Dengan wajah yang tampak sedih. Namun sesosok pria yang sangat dirindukannya tiba di hadapannya. Membuat senyumnya kembali mengembang. “Oppa!” teriak Jinsol sambil menghambur pelukan pada pria itu. “Oppa, bagaimana bisa kau datang ke Korea? Mana kakak ipar?” Tanya Jinsol.
“Kakak iparmu ada di rumah. Dia tidak bisa ikut.” Jawabnya.
“Oppa, aku bisa meraih juara 2 tahun ini. apa hadiahmu untukku? Apakah kau akan membelikanku mobil baru?” seru Jinsol sambil menunjukkan pialanya.
“Tidak. Aku akan membawamu ke Amerika. Oppa tidak yakin bisa meninggalkanmu di Korea.” Ujar pria itu sambil mengacak rambut Jinsol pelan.
“Baiklah oppa.”
“Ayo pulang. Mana kopermu? Aku akan membawakannya.”
“Tunggu dulu ya oppa. Aku harus mengatakan sesuatu pada seseorang. Oppa pergilah lebih dulu. Aku akan menyusul.” Ujar Jinsol. “Ah iya. Ini tolong bawakan pialaku juga.” Lanjutnya.

Jinsol berjalan menuju ruang latihan. Ia pergi menemui Taehyung disana. Dengan wajah sedihnya ia berjalan memasuki ruangan itu. “Taehyung oppa.” Panggil Jinsol pelan.
“Aku sudah tau semuanya. Aku tau kenapa kau datang kesini. Jungkook sudah memberitahuku. Kenapa? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku sebelumnya?! Kenapa?!” Taehyung mengguncangkan tubuh Jinsol sambil berteriak. “Jelaskan padaku!!” bentak Taehyung.
“Aku… aku tidak tau hal itu akan terjadi. Dan, seharusnya kau memarahinya bukan memarahiku. Karena dia yang memulainya lebih dulu. Dan apakah oppa tau apa yang dikatakannya saat aku mengatakan padanya kalau aku hamil? Dia menyuruhku menggugurkan kandunganku. Oppa. Aku mengerti perasaanmu saat ini. Kau pasti merasa jijik melihatku. Kau pasti tidak ingin melihatku lagi. Setelah hari ini. Aku akan pergi dari sini. Dan menjalani semua yang akan terjadi. Apapun itu. Aku akan melahirkan anak ini walau tanpa ayahnya dan tanpa ada sebuah pernikahan. Mulai saat ini dan seterusnya. Anggaplah kau tidak pernah mengenalku oppa.” Perlahan Jinsol berjalan mundur dan pergi meninggalkan Taehyung yang masih mematung. Gadis itu tidak meluapkan emosinya. Taehyung merasa kasihan pada Jinsol. Ingin dia menikahinya dan bertanggung jawab. Tapi bagaimana jika suatu saat Jungkook datang dan tiba-tiba sadar akan perbuatannya? Pikiran Taehyung kacau. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain merelakan Jinsol pergi.

Meet You Again

Jinsol dan kakaknya sudah sampai di rumah besarnya. Rumah yang Jinsol tinggalkan sejak ia tinggal di asrama. Jinsol menghempaskan tubuhnya di sebuah ranjang putih yang ada di kamarnya. Ia menatap ponselnya sekilas. Jinsol membuka ponselnya dan mengganti wallpaper nya dengan fotonya sendiri.
Tok tok tok
Jinsol mendengar suara ketukan pintu dari luar. Jinsol beranjak dari kasurnya dan membukakan pintu untuk orang itu. “Ada apa eonni?” Tanya Jinsol saat melihat kakak iparnya di depan pintu.
“Aku hanya ingin mengantarkan ini untukmu.” Ujar wanita itu sambil memberikan nampan yang berisi makanan diatasnya pada Jinsol. “Aku tau kau terlalu lelah untuk turun dan makan siang. Sebaiknya kau makan lalu panggil aku kalau sudah selesai. Jangan lupa istirahat.”
“Terima kasih eonni. Aku akan menghabiskannya.”
“Baiklah kalau begitu. Eonni masih ada pekerjaan. Selamat menikmati.”
“Ne eonni.” Jinsol memasuki kembali kamarnya setelah kakak iparnya pergi dari hadapannya. “Anakku. Kau pasti lapar. Tenang saja. Eomma akan memberikanmu makan yang enak setiap hari.” Gumam Jinsol sambil mengelus perutnya yang rata.

Hari demi hari berlalu begitu saja. Sudah lima bulan ia resmi lulus dari SOPA. Perutnya semakin membesar. Ia selalu menggunakan korset untuk menutupi kehamilannya. Asa takut dalam dirinya semakin besar. Bagaimana jika kakaknya tau kala dia hamil? Apa yang akan kakaknya lakukan? Apakah kakaknya akan mengusirnya? Ia sendiri bingung. Terkadang ia berpikir untuk memberitahu yang sebenarnya pada kakaknya. Namun tidak ada keberanian dalam dirinya untuk mengungkapkan itu.
“Jinsol? Kenapa kau melamun?” Tanya Hoya saat menyadari Jinsol sedang melamun dan tidak memakan makanannya.
“Kenapa kau tidak memakan makananmu? Kau sakit?” Tanya istri Hoya.
“T-tidak oppa, eonni. Aku baik-baik saja.” Jawab Jinsol sambil tersenyum kecut.
“Kau yakin baik-baik saja?” Tanya Hoya memastikan. Jinsol mengangguk lagi.

“Bagaimana aku bisa memberitahu oppa? Harusnya aku menggugurkan anak ini. Tapi aku tidak bisamembunuh anakku sendiri. Appa, Eomma. Mianhae. Aku tidak bisa menjadi anak yang baik. Kalian pasti sangat sedih. Tapi aku tidak ingin membunuh anak ini. Aku bukan seorang pembunuh.” Gumam Jinsol sebelum ia tertidur lelap.

Matahari sudah menjulang tinggi. Jinsol masih belum bangun dari mimpi indahnya.
“Apakah Jinsol belum bangun?” Tanya Hoya pada istrinya yang sedang menata makanan di atas meja.
“Kurasa belum. Aku akan membangunkannya.”
“Jangan. Kau selesaikan saja dulu pekerjaanmu. Biar aku yang membangunkannya.” Ujar Hoya sambil mengacak pelan rambut istrinya.

Sesampainya dikamar Jinsol, Hoya dikagetkan dengan sesuatu yang ada dihadapannya. Ia melihat Jinsol sedang mengusap perutnya yang membesar.
“Oppa?” Jinsol juga kaget saat oppanya tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.
“Apa-apaan ini Jinsol?!” Tanya Hoya geram. Jinsol terlihat kebingungan.
“Oppa aku bisa jelaskan ini.” Jawab Jinsol sambil mendekati oppanya.
“Bayi siapa itu?!” teriak Hoya.
“Ini… oppa. Maafkan aku.”
“Katakan padaku anak siapa itu?!” Bentak Hoya lagi sambil mengguncangkan tubuh Jinsol.
“Ada apa chagi? Kenapa kau berteriak?” Tanya istri Hoya yang baru tiba di kamar Jinsol.
“Apa itu anak dari seseorang yang bernama Taehyung itu?” Tanya istri Hoya pelan.
“Bu-bukan. Ini anak Jungkook oppa. Maafkan aku. Ini bukan salahku. Aku dipaksa oppa.” Jelas Jinsol sambil menangis.
“Jungkook? Siswa juara satu yang sangat berbakat itu?” Tanya istri Hoya. Jinsol mengangguk pelan.
“Dia sekarang pergi ke luar negeri. Aku tidak tau dia akan pergi ke mana.” Jelas Jinsol dengan suara pelan.
“Ikutlah denganku.” Ujar Hoya sambil menarik tangan adiknya keluar dari kamar.
“Oppa… kau akan membawaku kemana?” Tanya Jinsol.
“Gugurkan kandunganmu agar kita tidak menanggung malu. Kau tidak berpikir apa yang akan orang katakan saat melihatmu melahirkan tanpa suami?”
“Tidak oppa. Aku tidak akan menggugurkannya. Sampai kapan pun. Dia anakku. Kau tidak bisa membunuhnya oppa.” Jinsol memeluk perutnya sambil menangis.
“Chagi… Jangan paksa dia menggugurkan kandungannya. Aku yang akan membesarkannya. Aku akan membesarkannya sebagai anakku. Jangan membunuhnya. Cukup aku saja yang pernah kehilangan bayiku. Jangan melenyapkan bayi tidak berdosa itu. ku mohon…” pinta istri Hoya.
“Kau yakin? Baiklah. Aku tidak ingin menjadi pembunuh. Kita tidak bisa seterusnya tinggal disini. Aku akan mengurus kepindahan kita ke Amerika. Dan kita akan kembali lagi setelah anak itu sudah cukup besar.” Ujar Hoya.

1 Year Later

6 bulan yang lalu, Jinsol melahirkan bayi pertamanya. Bayi yang laki-laki yang sangat lucu. Ia memberinya nama Lee Sungjong. Ia berharap anaknya akan menjadi anak yang baik dan tidak seperti Jungkook. Ayahnya. Banyak harapan Jinsol pada Sungjong. Tepat saat Jinsol usai melahirkan, Hoya menyuruh Jinsol melanjutkan sekolahnya. Ia berencana mendaftarkan Jinsol di Universitas yang berada tak jauh dari rumah yang Hoya tempati dengan keluarganya. Setidaknya Jinsol bisa menyelesaikan sekolahnya. Jinsol mengiyakan rencana kakaknya. Jinsol juga berharap, ia akan menjadi seorang penyanyi terkenal diseluruh dunia.

4 Years Later

Acara wisuda telah selesai. Jinsol, Sungjong, Hoya dan istrinya duduk dalam sebaris kursi. Jinsol tersenyum senang sambil memangku Sungjong. Senyum Jinsol mengembang saat namanya di sebut sebagai pemenang juara 2 di universitas internasional tempatnya kuliah. Sungguh sebuah keberuntungan baginya. Sungjong membuatnya semakin bersemangat untuk belajar dan meraih cita-citanya sebagai pemusik. Namun sekarang, dia tidak lagi ingin menjadi seorang pemusik. Ia ingin menjadi seorang penyanyi terkenal di seluruh jagad raya.
“Oppa, terima kasih sudah merawat Sungjong dengan baik. Dan maafkan aku tidak bisa menjadi adik yang baik untukmu.” Ujar Jinsol sambil memeluk kakaknya.
“Nunaa… aku juga mauu…” rengek Sungjong dengan wajah lucunya.

‘Welcome to Seoul’
Jinsol tersenyum senang saat ia tiba di tanah kelahirannya. Setelah 5 tahun ia berada di Amerika bersama dengan kakaknya. Di depan, sudah ada sebuah mobil mewah yang menunggunya dan keluarganya. Ia pulang dengan membawa piala kebanggannya di kopernya. Tak jauh dari tempatnya berada saat ini, Jinsol melihat seorang wanita melambaikan tangan ke arahnya. Jinsol menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas wajah wanita itu. “YEIN!!” teriak Jinsol seketika. Jinsol berlari dengan cepat dan memeluk Yein dengan erat. “Aku merindukanmu Yein…”
“Kau terlihat semakin cantik. Ah iya. Kau tau Park Jimin? Teman kecil kita sekaligus tetangga yang dulu pernah menyatakan cinta padamu. Kau ingat?” Tanya Yein.
“Jimin yang imut-imut itu? Tentu saja aku ingat. Kenapa?”
“Kau tau? Sekarang dia menjadi seorang member boyband terkenal di Korea. Bahkan International. Mungkin.” Jelas Yein.
“Aku sudah tau itu.” Seru Jinsol dengan wajah cerianya. “Ah tunggu sebentar.” Ujar Jinsol sambil merogoh sakunya dan mengambil ponsel pink miliknya yang sudah berdering sejak beberapa detik yang lalu. “Oppa, aku akan pulang dengan Yein. Oppa pulanglah lebih dulu. Aku sudah meletakkan koperku di mobil. Aku tidak akan pulang terambat hari ini. Aku pastikan jam 2 aku sudah tiba di rumah. See you oppa. Jinsol mencintai Jongie.” Ujar Jinsol dengan cepat dan mematikan ponselnya.
“Kau masih sama seperti dulu. Kita mau kemana?” Tanya Yein.
“Tunggu dulu. Seseorang akan datang sebentar lagi.” Jinsol menahan tangan Yein dan melihat ke sekitarnya mencari seseorang yang akan datang menjemputnya. “Jimin!!” teriak Jinsol sambil melampaikan tangannya pada seseorang berkaca mata hitam dan memakai masker. Tidak jelas wajahnya tapi Jinsol bisa mengenal pria itu dengan baik. Seketika semua orang melihat kearahnya saat ia menyebutkan nama Jimin. “Ups!” Jinsol menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Seketika Jinsol menarik tangan Yein mendekati Jimin. “Sebaiknya kita mencari tempat yang aman untukmu Jimin.” ujar Jinsol saat tiba di dekat Jimin.

Disinilah mereka. Di sebuah rumah makan yang berada di dekat kota Seoul. “Bagaimana kabarmu Jinsolku?” Tanya Jimin sambil meminum jus pesanannya.
“Seperti yang kau lihat Jiminku.” Jawab Jinsol.
“Jiminku? Jinsolku? Kalian berpacaran?” Tanya Yein.
“Ssst… iya. Kami berpacaran sejak 2 tahun yang lalu. Maaf aku tidak memberitahumu.” Jawab Jimin.
“Um… Jinsol. Aku harus pergi dulu. Aku tidak bisa berlama-lama disini. Nanti managerku akan marah. Jimin. Tolong kau antar dia pulang nanti. Sampai jumpa.” Pamit Yein. Ia pergi meninggalkan Jimin dan Jinsol.
“Ne. Hati-hati dijalan Yein.” Ujar Jinsol.
“Umm… Jinsol. Apa besok kau ada waktu kosong? Aku ingin membawamu ke Dorm. Aku akan mengenalkanmu pada member BTS yang lain.” Ujar Jimin.
“Kurasa besok aku free. Karena jadwal syutingku masih minggu depan. Aku akan ikut. Tapi… bolehkan aku membawa Sungjong?”
“Kau ingin membawa Sungjong? Lalu siapa yang akan menjaganya?” Tanya Jimin.
“Kurasa Taehyung oppa bisa menjaganya dengan baik. Dia kan suka anak kecil.” Jawab Jinsol sambil tersenyum.
“Kau masih menyukai Taehyung? Katakan saja kalau kau gagal move on darinya.” Jimin terlihat kesal saat Jinsol menyebutkan nama Taehyung di hadapan Jimin.
“Apa salahnya hanya menitipkan Sungjong pada Taehyung? Aku hanya mencintaimu kau tau? Jangan pernah berpikiran seperti itu lagi Jimin. aku hanya mencintaimu. Hanya kamu. Kamu. Dan kamu.” Jinsol menggenggam tangan Jimin sangat erat sambil menunjukkan senyum manisnya yang selalu membuat Jimin tersepona setiap kali melihatnya.

Next Day
Pagi ini Jinsol terlihat sangat cantik dengan dress pink selutut miliknya. Dengan sepatu berwarna putih dan dengan riasan wajah yang terlihat natural. Dari jendela kamarnya ia melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Jinsol segera meraih ponselnya dan mengirimi Jimin sebuah pesan agar Jimin meminta ijin pada oppanya. Beberapa saat kemudian kakak ipar Jinsol memanggilnya untuk turun menemui Jimin. Dengan wajah penuh senyuman Jinsol segera mendekati oppanya.
“Pergilah.” Ujar Hoya.
“Benarkah? Terima kasih oppaaa” Jinsol segera menghamburkan pelukannya pada Hoya. “Ayo Sungjong. Oppa aku berangkat.” Pamit Jinsol.

Dorm BTS
Beginilah suasana dorm. Ramai. Gaduh karena semua member sedang berkumpul. Ditambah lagi hari ini mereka bebas dari segala kegiatan. Jinsol sedang berjalan disamping Jimin sedangkan Sungjong sedang digendong oleh Jimin.
“Ini ruang latihan BTS. Kau akan bertemu dengan member BTS disini.” Ujar Jimin pada Sungjong. Perlahan Jimin membuka pintu itu dan nampaklah semua orang yang sedang bersenda gurau di dalamnya.
“Jimin datang.” Ujar salah satu member BTS.
“Anak keciiil!” Ujar taehyung sambil meraih Sungjong dari gendongan Jimin. Ia segera membawanya berkumpul bersama member yang lain. Jungkook terlihat sangat menyukai balita itu. Ia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa ia ungkapkan melalui kata-kata pada anak itu.
“Mber. Aku ingin mengenalkan pacarku pada kalian.” Ujar Jimin. “Jinsol.”
Mendengar nama ‘Jinsol’ Jungkook terhenti dengan kegiatannya. Ia berharap itu bukan Jinsol yang dulu pernah ia perkosa di sekolah.

Jinsol perlahan memasuki ruangan itu dan langkahnya terhenti saat ia melihat Jungkook. ‘Jungkook?’ ujar batin Jinsol.

Senin, 04 April 2016

[Nappeun Namja Pt.2] Graduation School




Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol, Jung Yein
Genre   : School life, other
Length   : Chapter
Author   : Nuril Fania Farid Mahfud

Rasa sakit yang kau berikan, takkan pernah bisa aku lupakan. Kau adalah pria terjahat yang pernah aku kenal. -Lee Jinsol-

Jinsol berjalan menuju asramanya sambil menahan sakit di bagian selangkangannya sesekali ia meringis kesakitan. Asrama sudah sangat sepi. Karena ini sudah waktunya tidur. Asrama Jinsol sudah tak jauh dari tempatnya saat ini. Jinsol terus berjalan. Dengan langkah hati-hati ia membuka pintu asramanya. Ia memasuki kamarnya dan mengunci pintu. Jinsol segera menuju tempat tidurnya. Ia melihat Yein tidur tanpa selimut. Jinsol kemudian menaikkan selimut Yein hingga menutupi lehernya. ‘Yein maafkan aku. Ini salahku. Seharusnya aku tidak mendekatinya.’ Gumam batin Jinsol sambil mengusap kepala Yein pelan. Air mata Jinsol tak bisa dibendung lagi.

Nappeun namja Pt. 2

Hari sudah pagi. Semua siswa sudah siap untuk berangkat ke kelas. Bahkan ada yang sudah sampai sejak tadi. Jinsol dan Yein baru saja keluar dari asrama. Tak lupa mereka mengunci pintu sebelum pergi. Mereka melewati koridor sekolah. Dari jauh Jinsol melihat Jungkook berjalan dengan santai sambil mendengarkan musik. Penampilan yang biasa namun bisa membuat semua gadis disekolah itu tertarik padanya.

Jinsol dan Yein terus saja melangkah. Begitu juga dengan Jungkook. Hingga kini Jungkook semakin dekat dengan dirinya. Jinsol berharap Jungkook akan meminta maaf atas perbuatannya semalam. Namun semua tak berjalan seperti apa yang Jinsol harapkan. Jungkook melewatinya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jinsol. ‘Kau pria jahat Jungkook!’ rutuk Jinsol dalam hatinya.

Jam pelajaran sudah di mulai sejak 45 menit yang lalu. Jinsol dan Yein duduk bersebelahan. Hari ini mereka ada pelajaran melukis. Dengan tema wajah seseorang yang disukai. Yein melihat Jinsol sedang melamun. Perlahan Yein menyentuh lengan Jinsol.”Jinsol-a? kau akan menggambar wajah siapa? Aku akan menggambar wajah Jungkook. Yang keren, tampan, dan seperti malaikat.” Seru Yein sambil memuji Jungkook. Yah, Yein menyukai Jungkook. Sejak pertma kali ia masuk di sekolah ini. namun Yein tidak pernah merasa cemburu saat Jungkook berdekatan atau bahkan berpacaran dengan gadis lain. Yein tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Baginya, harga diri lebih penting dari pada perasaannya. “Hei Jinsol.” Panggil Yein sambil mencolek lengan Jinsol. Seketika Jinsol tersadar dari lamunannya.
“Eh iya? Maaf aku kurang sehat hari ini. Jadi aku kurang fokus. Maafkan aku.” Ujar Jinsol.
“Kau sakit? Kau baik-baik saja tadi pagi.”
“Tidak. Aku tidak apa-apa. Kau ini. aku hanya bercanda.” Jawab Jinsol sambil tertawa pelan.
“Jinsol, Yein! Apakah tugas kalian sudah selesai?” Tanya guru pengajar.
“Belum ssaem.” Jawab Jinsol dan Yein bersamaan. Mereka akhirnya mengerjakan tugas bersama.

Ini sudah dua minggu sejak kejadian antara Jungkook dan Jinsol malam itu. Jinsol sudah jarang menghubungi Taehyung. Dengan alasan ia ingin fokus pada ujian yang akan dihadapinya 2 minggu lagi. Jinsol sengaja menjauhi Taehyung karena ia tidak ingin Taehyung mengetahui kejadian buruk yang sudah dialaminya. Sedangkan Jungkook. Dia semakin dekat dengan Yein. Sahabatnya. Ia ingin menjauhkan Jungkook dari Yein karena ia tidak ingin kejadian yang dialaminya akan terjadi pada sahabatnya. Namun disisi lain, Jinsol tidak ingin merenggut kebahagiaan sahabatnya. Saat ini ia benar-benar bingung.

Jinsol baru saja keluar dari ruang latihan. Ia melihat Taehyung sedang menunggunya di depan ruang latihan. “Oppa? Kenapa kau disini?” Tanya Jinsol.
“Tidak. Aku hanya ingin melihat wajah cantik pacarku.” Ujar Taehyung sambil mengusap pipi Jinsol.
“Dasar.” Ujar Jinsol sambil mencubit pinggang Taehyung.
“Oh iya, aku membawakan makan siang untukmu.” Taehyung mengangkat rantang yang dibawanya. “Aku menyuruh eomma untuk memasakkan ini. Tapi aku tidak bilang kalau ini untukmu. Kau mau makan ini bersamaku dikantin?” sedetik kemudian Jinsol mengangguk dan pergi ke kantin bersama Taehyung.

Saat di perjalanan menuju kantin, Jinsol melihat Jungkook dari kejauhan. “Hyung!” panggil Jungkook. Taehyung segera berjalan mendekati Jungkook begitu juga dengan Jungkook. Namun tidak dengan Jinsol. Ia berjalan dengan sangat pelan. Senyumnya seketika luntur. Rasa takut kini sedang menghantui perasaannya. Kejadian malam itu terlintas kembali di pikirannya.
“Jinsol?” panggil Taehyung sambil menarik Jinsol. “Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat.” Taehyung kemudian menyentuh dahi gadis itu dengan punggung tangannya. “Kau sakit? Aku akan mengantarmu ke asrama.” Jinsol masih menunduk. Wajahnya menjadi pucat karena bayangan yang ada di pikirannya. “Jungkook, aku akan mengantar Jinsol dulu. Kau bisa menungguku di taman belakang.” Pamit Taehyung. Ia akhirnya mengantarkan Jinsol kembali keasramanya.

Sesampainya di asrama…
“Yein!” pangil Taehyung sambil mengetuk pintu asrama.
“Aku bisa masuk sendiri oppa. Yein mungkin sedang latihan.” Jinsol menyentuh lengan pria itu dan akhirnya Taehyung pergi meninggalkan Jinsol.
“Cepat sembuh ne. kau harus mengikuti ujian nanti.” Ujar Taehyung sambil memberikan kecupan di bibir Jinsol.
‘Mianhae oppa. Aku tidak bisa mengatakan yang sejujurnya padamu sekarang. Tapi suatu saat nanti aku akan membeitahumu yang sebenarnya terjadi. aku janji.’ Gumam batin Jinsol.
“Jinsol?” panggil Yein yang sedang berjalan menuju kearah Jinsol. “Tidak biasanya kau kembali lebih dulu. Kau kenapa? Apakah kau sakit? Wajahmu pucat.”
“Yein. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu di dalam.” Ujar Jinsol. Ia membuka kenop pintu dan masuk lebih dulu ke dalam asrama itu. Yein pun mengikutinya.
“Ada apa?” Yein mengunci pintu asramanya dan duduk di sebelah Jinsol.
“Yeiin…” Jinsol memeluk Yein dengan erat. Dan saat itu juga air matanya berjatuhan.
“Kenapa? Cerita padaku. Kau ada masalah dengan pacarmu?” Ujar Yein sambil mengusap pelan punggung Jinsol.
“Yein… Aku dan Jungkook… Aku… aku sudah tidak suci lagi.” Jinsol menangis dalam pelukan Yein. Ia takut. Ia takut jika Yein akan membencinya dan menjauhinya.
“Maksudmu, Jungkook memperkosa dirimu gitu?” Tanya Yein. Jinsol hanya mengangguk. “Bagaimana bisa itu terjadi? Apa Jungkook menyukaimu? Ini tidak bisa dibiarkan. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya padamu.” Ujar Yein. Dia segera beranjak dari tempat tidur Jinsol dan hendak pergi menemui Jungkook. Namun Jinsol menahan tangan Yein.
“Ku mohon. Jangan lakukan itu. Jika kau mengatakannya sekarang semua orang akan tau dan aku akan dikeluarkan dari sekolah.”
“Tapi aku tidak suka dia memperlakukanmu seperti ini Jinsol. Aku juga wanita sama sepertimu. Jika aku yang mengalami itu apa kau akan diam saja? Tidak kan? Aku tidak bisa membiarkan dia hidup tenang setelah dia membuatmu menderita Jinsol. Kau lebih penting untukku daripada perasaanku Jinsol. Biarpun aku menyukainya dan bahkan kami sudah mulai dekat sekarang, aku akan menjauhinya untukmu. Aku kecewa padanya. Dia murid yang pintar, tampan dan seperti malaikat. Tapi hatinya jauh dari kata baik.” Ujar Yein. Jinsol kemudian berlutut dihadapan Yein dan memohon padanya agar dia tidak mengatakan itu.
“Yein aku mohon padamu. Jangan katakan ini pada siapa pun. Aku tidak ingin dia marah Yein.”
“Kenapa harus dia yang marah? Harusnya kau yang marah bukan dia. Ini salah dia bukan salahmu.”
“Yein… berjanjilah padaku kau tidak akan mengatakan ini pada siapa pun. Hm?” Ujar Jinsol.
“Baiklah. Sekarang berdiri. Kau tidak boleh berlutut dihadapanku. Aku sahabatmu dan aku akan selalu memaafkan kesalahanmu. Aku akan selalu ada untukmu seperti kamu selalu ada untukku.” Yein membangunkan Jinsol dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
“Maafkan aku. Karenaku, kau jadi membenci Jungkook.”
“Aku lebih percaya padamu Jinsol. Dia sudah berbuat kesalahan yang sangat besar. Dia sudah menghancurkan masa depanmu. Untuk apa aku menyukai orang sepertinya? Sudahlah. Sebaiknya kita belajar saja. Aku ingin kita lulus dari sekolah ini dan membangun sebuah keluarga. Aku, kau dan calon anakmu jika kau hamil. Aku akan membantumu. Aku janji padamu.”

EXAM

Ujian akan di mulai hari ini. Itu artinya, aku akan segera lulus dari sekolah ini. gumam batin Jinsol sambil menatap dirinya yang terpantul di kaca.
“Jinsol, setelah kita lulus dari sekolah ini. aku ingin kita tinggal bersama. Appa bilang, dia sudah membelikan rumah untukku.” Ujar Yein sambil memegang bahu Jinsol.
“Ne. Terima kasih Yein.”
“Apa kau satu ruangan dengan Jungkook?” Tanya Yein. Jinsol hanya mengangguk. “Kau pasti bisa Jinsol. Aku akan selalu mendukungmu.” Ujar Yein sambil mengusap rambut Jinsol. “Ayo. Ujian akan segera dimulai.” Ajak Yein.

@Class

Ujian sudah dimulai sejak satu jam yang lalu. Jinsol mengerjakan soal ujian dengan lancar. Bahkan ia sudah hampir selesai. Tiba-tiba saja ia merasa pusing. Jinsol segera menyelesaikan soalnya. Dan ijin untuk pergi ke toilet. Saat ia tiba di ambang pintu, ia kehilangan kesadarannya. Jungkook yang melihat itu segera menghampiri Jinsol dan membawanya ke UKS. Guru pengawas sudah mengijinkan Jungkook untuk menemani Jinsol di UKS.
Beberapa saat kemudian, Jinsol mulai tersadar. “Kau… sudah bangun?” Tanya Jungkook. Jinsol hendak menjawab namun ia merasa mual. Jinsol segera berlari menuju toilet dan meninggalkan Jungkook. “Ada apa dengannya? Apa dia hamil? Secepat itukah?” gumam Jungkook. Ia kemudian menyusul Jinsol ke toilet. “Kau baik-baik saja?” Tanya Jungkook saat Jinsol keluar dari toilet. “Apakah kau hamil?” tanyanya lagi. Jinsol mengangguk. Ia kemudian menyerahkan test pack pada Jungkook. Ia menunduk. Tidak ada keberanian dari dalam dirinya untuk menatap pria itu. Jinsol hanya bisa menangis. “Maafkan aku. Setelah ini aku harus belajar ke luar negeri. Jadi sebaiknya kau gugurkan saja kandunganmu.”
Mendengar itu, seketika tubuh Jinsol bergetar. Dan sedetik kemudian pukulan yang cukup keras mendarat dipipi mulus Jungkook. “Semudah itukah kau mengatakannya? Ini benihmu dan kau dengan mudah mengatakan itu? Kau yang melakukannya. Kau harus bertanggung jawab atas anak ini Jungkook.” Air mata Jinsol menetes. Di depan pria itu dan mengemis untuk meminta pertanggung jawaban darinya. Sungguh harga dirinya telah jatuh saat ini.
“Cih. Aku bilang gugurkan saja anak itu Jinsol. Aku tidak akan menikahimu. Jika aku menikahimu, bagaimana dengan masa depanku nanti?” Ujar Jungkook penuh penekanan disetiap kata-katanya.
“Masa depanmu kau bilang? Lalu bagaimana denganku? Kau yang merusak masa depanku Jungkook! Inikah yang akan kau lakukan setelah aku menghubungimu bahwa aku hamil? Aku tidak menduga hal ini. aku benar-benar tidak menduga bahwa murid pandai sepertimu, ternyata kelakuannya seperti ini. Jika suatu saat nanti kau membutuhkanku, jangan pernah lagi datang padaku. Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi.”

Jinsol berjalan menuju asramanya. Dengan langkah yang terburu-buru sambil menghapus jejak air mata di wajahnya. “Jinsol? Kau dari mana? Aku dengar kau tadi pingsan di kelasmu. Aku mencarimu di UKS tapi aku tidak menemukanmu. Dan… kenapa kau menangis?” Tanya Yein.
Seketika Jinsol memeluk sahabatnya dengan erat. “Yein… aku… hamil.” Ujar Jinsol.
“Apa? Jinsol kau jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda Yein. Aku serius. Yeiin…” Jinsol menangis lagi dipelukan Yein.
“Kau sudah memberitahu Jungkook tentang ini?” Tanya Yein sambil memegang bahu Jinsol. Jinsol hanya mengangguk. “Lalu?” Tanya Yein lagi.
“Dia menyuruhku menggugurkan kandunganku. Tapi aku tidak mau melakukan itu.” jawab Jinsol sambil menunduk.
“Kenapa?”
“Yein, aku sudah salah melakukan itu dengannya. Dan apakah aku harus melenyapkan bayi tidak berdosa yang sedang ada di dalam kandunganku? Yein. Aku tidak ingin menjadi seorang pembunuh dengan melenyapkan anak ini. Minggu depan ada pengumuman kelulusan. Semoga saja Jungkook akan berubah pikiran dan bertanggung jawab atas anak ini.” Jelas Jinsol.
“Tuhaan… ujian apa yang kau berikan pada sahabatku? Ini bukan hanya ujian materi. Tapi Kau memberikannya ujian rohani juga. Jinsol. Semoga hidupmu selalu bahagia.” Yein memeluk Jinsol dengan penuh kasih sayang. “Aku berjanji akan membantumu. Aku berjanji akan selalu ada bersamamu. Kapan pun kau membutuhkanku datanglah padaku.” Ujar Yein disela-sela pelukannya.
“Aku juga Yein. Aku akan membantumu meraih mimpimu. Aku yakin, suatu saat nanti aku akan berhasil dan mencapai mimpiku menyusul kesuksesanmu.”

Hari demi hari berlalu begitu saja. Nafsu makan Jinsol meingkat karena kehamilannya. Ia juga sudah tidak mual lagi. Wajahnya tampak ceria. Sepertinya ia sudah melupakan masalahnya dengan Jungkook. Lalu bagaimana dengan Taehyung?

Dua hari setelah ujian selesai, Taehyung datang ke asrama Jinsol. Ia tidak bisa datang karena ia harus mengikuti casting untuk film baru. Dan yang pasti akan menghabiskan waktunya dengan syutingnya daripada dengan Jinsol. Jinsol masih diam dan tidak berani mengungkapkan kehamilannya pada Taehyung. Ia berencana akan memberitahu Taehyung setelah ia dinyatakan lulus dan keluar dari asrama.

“Jinsol!” Panggil Yein mengagetkan Jinsol. “Ayo cepat. Sebentar lagi acaranya akan dimulai.” Yein menarik tangan Jinsol agar ia berjalan lebih cepat.
“Yein aku tidak yakin kali ini.” Ujar Jinsol. Yein tidak mempedulikan perkataan Jinsol dan terus melajutkan langkahnya hingga ia tiba di sebuah ruangan yang sangat ramai. Ia menduduki sebuah kursi tepat disebelah ayah Yein. Jinsol sendiri tidak memiliki orang tua. Ia hanya memiliki seorang kakak laki-laki yang sudah menikah. Dan saat ini tidak memungkinkan untuk datang karena ia sedang ada pekerjaan di Amerika.
“Annyeong ahjussi.” Sapa Jinsol saat melihat ayah Yein.
“Jangan panggil aku ahjussi. Anggap saja aku appamu.” Ujar ayah Yein.
“Ah ne appa.” Jawab Jinsol dengan penuh senyum.

Acara sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu. Saat ini adalah pengumuman tentang juara sekolah yang akan dihadiahi dengan sbuah agency dan sejumlah uang dari sekolah.
“Ranking 1 pada hari ini. Diraih oleh seorang siswa yang sangat rajin dan terkenal di sekolah. Dan dia berencana untuk melanjutkan study-nya di Amerika. Mungkin siswa ini sudah tidak asing lagi di sekolah ini. Mari ucapkan selamat untuk Jeon Jungkook. Siswa yang selalu menduduki juara 1 disekolah.”
Jinsol bertepuk tangan malas sambil melihat wajah Jungkook. Air mata kini mengalir dari pelupuk matanya. Mengingat statusnya yang akan menjadi orang tua tunggal untuk anaknya. ‘Aku tidak akan menuntut apapun darimu Jungkook. Aku akan berdoa kepada Tuhan semoga kau selalu bahagia. Dan rasa sakit yang kau berikan, takkan pernah bisa aku lupakan. Kau adalah pria terjahat yang pernah aku kenal.’


-TBC-

Rabu, 09 Maret 2016

Love You Senior

Tittle     : Love You Senior (Saranghae Sunbaenim)
Cast     : Myungyeon couple, Suzy, Hyorin, Jungkook, Chanyeol.
Genre   : School Life
Author  : Nam Ohyun / Ms. Childish

Jiyeon. Seorang siswi baru yang sangat polos. Ia bersekolah di Anyang High School. Sekolah paling bergengsi di Korea Selatan. Hari itu, Jiyeon hendak meminta tanda tangan pada salah satu anggota OSIS yang sedang duduk di pinggir lapangan basket. “Kau mau tanda tanganku? Cium dulu kapten basket yang sedang bermain disana.” Ujar OSIS itu sambil menunjuk namja tinggi yang sedang bermain basket bersama ketiga temannya.
“Me-mencium? Apakah tidak bisa diganti dengan yang lain?” tawar Jiyeon. Ia sangat gugup. OSIS itu menggeleng cepat. Dengan pasrah, Jiyeon menghampiri namja yang dimaksud dan mencium pipinya.
“Kenapa kau menciumku?” Myungsoo kaget. Seketika ia menoleh ke arah Jiyeon dan mengerutkan dahinya.
“Tidak tahu. Sunbae yang menyuruhku.” Jiyeon mendongakkan kepalanya dan menatap Myungsoo.
“Aku menyuruhmu?” Myungsoo mengangkat alisnya sebelah.
“Maksud Jee, sunbae yang it-“ Jiyeon menunjuk kearah OSIS yang tadi menjaili Jiyeon, tapi mereka tiba-tiba menghilang.
Myungsoo tak sengaja melihat teman-temannya yang sedang menertawai Jiyeon. Myungsoo menggeleng pelan dan menatap Jiyeon lagi. “Mana Sunbae itu?” ujar Myungsoo sambil pura-pura melihat ke sekelilingnya.
“J-Jee tidak tahu…” Jiyeon menunduk. Gugup, takut, malu. Semua menjadi satu. Tiba-tiba pipi Jiyeon memerah. Ia melihat ke sekelilingnya lagi.
“Wah… gadis kecil itu cuku berani juga” ujar salah seorang teman Myungsoo bernama Chanyeol.
Myungsoo membalas melihat Chanyeol dan mengangguk. “Iya. Dia sangat berani.” Pandangan Myungsoo beralih lagi pada Jiyeon yang kini sedang menunduk karena takut. “Tidak ada siapapun kan disini?” Tanya Myungsoo.
“Umm… tapi sungguh Jee bukan sengaja menciummu oppa.” Jiyeon menahan rasa malunya karena ditertawakan oleh teman-teman Myungsoo. “Jee harus pergi.” Ujar Jiyeon singkar. Ia kemudian pergi. Namun Myungsoo menahan tangan Jiyeon agar tak pergi.
“Apakah kau marah padaku? Bukankah harusnya aku yang marah padamu?” ujar Myungsoo. Jiyeon bebalik dan menatap Myungsoo.
“Kalau begitu… marahlah. Jee tidak marah. Jee hanya malu.” Jiyeon kembali menunduk sambil melihat teman-teman Myungsoo takut.
Myungsoo menggeleng pelan dan mengacak pelan rambut Jiyeon. “Aku tidak akan marah. Maafkan teman-temanku yah. Sebaiknya kau kembali ke tempat teman-temanmu. Lain kali jangan minta tanda tangan sendirian.” Ujar Myungsoo mensehati.
“Oppa tidak marah? Kalau begitu, Jee kembali dulu. Maafkan soal kejadian tadi oppa.” Ujar Jiyeon penuh senyum. Ia kemudian berlari menuju kelasnya.
“Apa dia barusan memangggilmu oppa? Wah ternyata kalian sangat dekat.” Ujar Jungkook menggoda Myungsoo.
Myungsoo menggelang. “Tidak. Aku tidak mengenalnya sama sekali.” Myungsoo kembali melihat kearah bolanya. “Kaja main lagi.” Ujar Myungsoo.
∞∞∞
Jam istirahat telah tiba. Jiyeon pergi ke perpustakaan. Ia mengambil sebuah novel dan duduk di sebuah bangku yang ada dipojok ruangan.
“Kenapa kau tak menciumku juga?” Tanya salah seorang namja yang tiba-tiba menghampiri Jiyeon.
“Sejak kapan kau disini? Mana mungkin? Aku juga tidak mengenalmu. Aku tidak semurahan itu.”
“Oh benarkah? Tapi tadi dengan mudahnya kau mencium rekanku.” Ujarnya sambil mendekatkan wajahnya dengan Jiyeon.
“Menjauh Dariku!” Bentak Jiyeon sambil memukulkan buku tebal yang dipegangnya pada namja yang menggodanya itu. Jiyeon kemudian lari dari perpustakaan.
Myungsoo sedang berjalan dikoridor sekolah bersama teman-temannya. Ia hanya diam sambil mendengarkan temannya yang sedang bergurau dibelakangnya. Ia kemudian tersenyum dan menggeleng. “Bisakah kalian tidak bergurau? Ini koridor. Kekanak-kanakan sekali.
Jiyeon masih berlari dari arah perpus. Ia tidak melihat Myungsoo dan teman-temannya. Bukk!! Jiyeon tal sengaja menabrak Myungsoo hingga ia sendiri terjatuh. Myungsoo menghampiri Jiyeon terjatuh dan membantunya berdiri. “Gwaenchanha?” Myungsoo melihat kearah Jiyeon. “Eh? Kau lagi?” Myungsoo menikkan sebelah alisnya.
Jiyeon melirik kesamping. “Ah pabo. Ini kedua kalinya Jee berbuat salah padamu oppa. Gwaenchanhayo.” Jiyeon kemudian kembali berlari saat melihat teman Myungsoo keluar dari perpustakaan.
Myungsoo melihat temannya yang baru saja keluar dari perpustakaan. “Kau? Tumben sekali dari perpustakaan.” Myungsoo meaikkan sebelah alisnya “Apa yang kau lakukan dengannya?”
“Bukan urusanmu.” Jawab namja itu dan berjalan meninggalkan Myungsoo dan kawan-kawan.
‘Dia kenapa?’ pikir Myungsoo. Ia mengangkat bahunya dan jalan ke kantin skolah bersama teman-temannya.
∞∞∞
Jiyeon berjalan dikoridor sekolah. “huh, melelahkan sekali semua kejadian sial hari ini. gara-gara eonni-eonni (sunbae) itu.” Gerutu Jiyeon sambil berjalan menuju kelasnya.
“Kau sedang membicarakanku?” tiba-tiba Suzy datang menghampiri Jiyeon. “Sebentar lagi kau akan menjadi pusat cemoohan disekolah ini… kau tau siapa namja yang kau cium tadi? Kau kira orang-orang tak melihatmu menciumnya tadi hah?! Dasar anak kecil!” tiba-tiba sekawanan Suzy datang dan melempari Jiyeon dengan telur.
‘Sial! Kenapa Jee harus mengalami hal ini? pabo!’ rutuk Jiyeon dalam hati.
∞∞∞
Myungsoo masih duduk di kantin sambil menikmati minumannya. Tiba-tiba ia ia mendengar suara siswi lain. “Sepertinya ada keributan.” Ujar Jungkook.
“Lebih baik kita Tanya.” Sambung Chanyeol. Ia kemudian menghentikan salah satu siswi yang sedang lewat di dekat mereka.
“Kau tahu yeoja yang tadi menciummu? Dia sedang dibully sama Suzy dan teman-temannya.” Ujar Siswi tersebut. Ia kembali meneruskan langkahnya melihat keributan itu. Myungsoo seketika membulatkan matanya kaget.
“Lebih baik kita kesana.” Ujar Myungsoo. Ia pun pergi menghampiri Jiyeon.
Didepan koridor, Myungsoo melihat Jiyeon menunduk tak berkutik dan hanya meneteskan airmatanya.
“Lihatlah gadis kecil ini! sungguh menyedihkan.” ejek Suzy tepat di depan wajah Jiyeon.
“Apakah dia menangis?” Tanya Hyorin. “Simpanlah air matamu cantik. Tidak ada orang yang mengasihani gadis tidak tahu malu sepertimu! Berani-beraninya kau mencium namja yang kami sukai!” bentak Hyorin sambil memukul kepala Jiyeon.
“Tapi sun-” ucapan Jiyeon terpotong karena Suzy melempari wajah Jiyeon dengan telur dan sepatu fantofel yang dipakainya.
“Tutup mulutmu!” teriak Suzy.
Myungsoo tidak tahan hanya melihat Jiyeon. Ia segera berlari dan melewati kerumunan banyak siswa
“Hey Hentikan itu!” teriak Jungkook.
Myungsoo menghampiri Jiyeon dan membuka jasnya. Ia memakaikan jasnya di bahu Jiyeon. “Gwaenchanha?” Tanya Myungsoo khawatir. Jiyeon hanya menunduk sambil menangis. “Kenapa kalian mem-bully-nya!” teriak Myungsoo pada Suzy dan teman-temannya.
Suzy dan teman-temannya kaget dan menahan amarahnya karena Jiyeon ditolong oleh Myungsoo. Jiyeon kembali menunduk. “Tanyakan saja pada gadis murahan itu” jawab Hyorin ketus.
“Isshh” Myungsoo mendesah kesal. Ia merangkul tubuh Jiyeon dan membawanya pergi dari hadapan Suzy dan kawan-kawan. “Jha, bersihkan tubuhmu.” Ujar Myungsoo.
“Bukankah OSIS itu yang tadi menyuruhnya mencium Myungsoo? So, bukan salah Jiyeon kalau Jiyeon mencium Myungsoo.” Ujar Chanyeol.
“Sudahlah. Ayo pergi.” Ujar Myungsoo pada teman-temannya.
Setibanya di depan kamar mandi, Jiyeon bercermin di sebuah cermin yang tertempel di dinding. Bibirnya lecet dan mengeluarkan sedikit darah.
“Untuk yang ketiga kalinya aku merepotkanmu. Mianhae oppa.” Ujar Jiyeon merasa bersalah.
“Gwanchanha. Ini juga salahku.” Myungsoo mengusap sudut bibir Jiyeon yang terluka dengan sapu tangan yang dipegangnya. “Bersihkan tubuhmu.”
“Gomawo” ujar Jiyeon.
Myungsoo melihat baju Jiyeon yang sangat kotor “Apa kau bawa baju ganti?” Tanya Myungsoo. Jiyeon menggeleng.
“Aku tidak membawanya. Aku tidak tahu hari ini akan seperti ini.”
“ya sudah. Aku ambil baju gantiku. Kau dapat memakainya. Tapi aku hanya punya kemejanya saja. Dan mungkin, kemeja itu kebesaran untukmu.” Ujar Myungsoo sebelum ia pergi mengambil seragamnya dikelas.
“Itu sudah lebih dari cukup. Gomawo oppa.” Jiyeon tersenyum. ‘ternyata dia baik juga. Ku kira da sama seperti namja lainnya.’ Pikir Jiyeon. Ia memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Myungsoo mengambil bajunya diloker. Ia sempat melihat kearah teman-temannya. “Aku akan memberikan ini dulu pada Jiyeon. Setelah itu aku akan kembali.” Ujar Myungsoo.
Jiyeon sudah membersihkan dirinya. Jiyeon menunggu Myungsoo datang membawakan pakaian untuknya. Jiyeon mengeringkan rambutnya yang basah.
Myungsoo tiba didepan toilet. “seragamnya aku letakkan didepan pintu ya. Aku harus kembali ke kelas.” Ujar Myungsoo.
“Ne. Jeongmal gomawo oppa. Maaf sudah merepotkanmu.” Setelah Myungsoo pergi, Jiyeon mengambil seragam Myungsoo didepan pintu. Ia memakai kemeja kebesaran itu dan meminta ijin untuk pulang.
∞∞∞
Besok harinya, Jiyeon tidak masuk sekolah karena orang tuanya memindahkan Jiyeon ke sekolah biasa setelah kejadian kemarin. Sedangkan Myungsoo berjalan dikoridor dengan wajah datarnya. Ia pergi menuju kelasnya.
“L!” Teriak seseorang dari belakang Myungsoo. Dia terlihat sedang terburu-buru. “Hosh… hosh…” namja itu berlari dengan cepat kearah Myungsoo.
“Ada apa?” Tanya Myungsoo. Ekspresinya masih datar.
“Itu… Jiyeon…”
“Jiyeon?” Myungsoo mengerutkan dahinya tidak mengerti.
“Yeoja polos yang kemarin menciummu. Dia keluar dari sekolah. Orang tuanya memindahkannya kesekolah lain karena kejadian kemarin.” Ujar Jungkook sangat cepat dan tanpa bernapas.
“Jeongmalyo?” Ekspresi Myungsoo yang tadinya datar, kiri berubah seketika menjadi khawatir. “Kau tahu dia pindah kemana?” Tanya Myungsoo.
“Hyehwa High School for girl.” Jawab Jungkook. Myungsoo dengan cepat pergi meninggalkan sekolah. “L! Neo eodiga!” teriak Jungkook.
∞∞∞
Jiyeon sedang berjalan menuju kelasnya. Ia berharap akan menemukan ketenangan disekolah barunya kali ini. Saat ia berjalan di koridor kelas, seseorang tiba-tiba memanggilnya. “Jee!!!” suara yang tidak asing di telinga Jiyeon. Ia membalikkan badannya dan semua siswi melihat kearah namja itu. Benar saja. Dia orang yang kemarin sudah menolong Jiyeon di semua masalah yang dihadapi Jiyeon. ‘Ish… kenapa oppa itu ada disini? Ini kan sekolah khusus untuk yeoja. Kalau saem tau, dia bisa diusir.’ Gerutu Jiyeon dalam hati. Akhirnya Jiyeon memutuskan untuk menghampiri namja itu dan membawanya keluar.
“Oppa. Kenapa oppa ada disini? Kalo saem tahu-”
“Aku bisa di usir.” Potong Myungsoo. “Aku cuma mau minta sama kamu. Tolong kembali ke Anyang High School.” Myungsoo menggenggam tangan Jiyeon. Jiyeon menunduk. Ia meneteskan air matanya. Ia kembali teringat kejadian kemarin. “Uljima. Aku akan melindungimu. Aku janji padamu. Suzy tidak akan menjailimu lagi.” Jiyeon mendongakkan kepalanya menatap Myungsoo. “Saranghae Jee.”
‘apa dia bilang barusan? Apakah dia serius mengucapkannya?’ gumam batin Jiyeon. “Oppa…” ujar Jiyeon lirih.
“Saranghae Park Jiyeon.” Myungsoo mengulangi kalimatnya. Air mata Jiyeon kembali mengalir. Namun perasaannya kali ini berbeda. Jiyeon merasa sangat bahagia, terharu, dan rasanya ingin loncat-loncat. “Maukah kau menjadi yeoja chinguku?” deg! Jantung Jiyeon mulai berdebar kencang, wajahnya memerah, dan… tangannya mulai terasa dingin.
“Kenapa oppa mencintai yeoja polos dan tidak tahu malu seperti Jee?” Tanya Jiyeon.
“Aku suka yeoja polos dan bodoh sepertimu. Jee mau kan jadi pacar oppa?” Tanya Myungsoo sekali lagi. Sedetik kemudian sesungging senyuman terukir dengan sempurna di bibir manis Jiyeon. Jiyeon mengangguk cepat. Cup! Sebuah ciuman singkat tiba-tiba mendarat dengan mulus di bibir Jiyeon. Seketika senyuman Jiyeon memudar menjadi datar.
“Oppa… itu first kiss-ku.” Ujar Jiyeon dengan wajah polosnya. Senyuman Myungsoo ikut luntur.
“Mian.” Satu kata yang keluar dari bibir Myungsoo.
“Gwanchanha. Oppa, Jee masuk kelas dulu. Sebentar lagi bell masuk.” Ujar Jiyeon.
“Andwae. Sekolahmu bukan disini. Sekolahmu di Anyang High School. Kaja.” Myungsoo menarik tangan Jiyeon menuju ke mobilnya. “Sepertinya kita sudah terlambat. Bagaimana kalau kita bolos saja?” ujar Myungsoo.
“Yak! Oppa! Jee tidak mau bolos.” Teriak Jiyeon. Myungsoo melajukan mobilnya menuju sekolah.
∞∞∞
Sesampainya disekolah, Myungsoo dan Jiyeon dikejutkan dengan keadaan sekolah yang sangat ramai. “Apa hari ini ada acara?” Tanya Jiyeon pada Myungsoo. Myungsoo hanya mengangkat bahunya.
“L!” Chanyeol memanggil Myungsoo dari kejauhan. “Jiyeon? Kau disini juga?” Chanyeol menatap Jiyeon tidak percaya. Sahabatnya benar-benar hebat.
“Ada apa itu? Kenapa ramai sekali?” Tanya Myungsoo pada Chanyeol.
“Kau tahu? Suzy dan kawan-kawan sedang dihukum karena perbuatannya Pada Jiyeon kemarin. Lihat saja. Suzy sedang dihukum mengelilingin lapangan basket sebanyak 10 kali dengan papan nama yang tergantung di lehernya. Kau bisa baca kan? ‘Saya jelek.’ Kau tau siapa yang mengusulkan kata-kata itu?” Tanya Chanyeol. Jiyeon dan Myungsoo mengangkat bahu bersama-sama. “Tuh. Bestiemu yang satu itu.” Ujar Chanyeol sambil menunjuk Jungkook.
Jiyeon merasa kasihan pada Suzy. Ia tidak tega melihat sunbaenya dihukum. Jiyeon menghampiri Suzy dan memintanya untuk berhenti. “Sunbae berhenti!” teriak Jiyeon dari kerumunan siswa. Ia kemudian berjalan menembus kerumunan itu dan mendekati Suzy. “Saem, tolong hentikan ini.” Jiyeon memohon pada Jung saem. Agar menghentikan hukuman Suzy dan kawan-kawan.
“Jiyeon apa yang kau lakukan? Biarkan mereka menerima hukuman ini. Kau tidak lihat? Bibirmu berdarah kemarin dan sampai sekarang pun bibirmu masih luka.” Sambung Myungsoo sambil menunjuk bibir Jiyeon yang luka.
“Tapi ini hanya masalah kecil oppa.” Bentak Jiyeon. “Saem… jebal hentikan hukuman ini…” Jiyeon mulai merendahkan dirinya berlutut di depan saem agar ia mau menghentikan hukumannya pada Suzy. Jung saem yang tidak tega melihat Jiyeon berlutut seketika berteriak agar Suzy berhenti berlari lapangan. Suzy yang kelelahan pun akhirnya berhenti mengelilingi lapangan.
“Suzy, Hyorin. Kalian harus meminta maaf pada Jiyeon didepan semua siswi yang ada disini.” Ujar Jung saem. Jiyeon hanya diam. Suzy tampak sedang menahan amarahnya saat melihat Jiyeon. Tangannya mengepal.
“Suzy? Kau ingin memukul Jiyeon? Tidak cukup kau memukulnya dengan sepatu fantofle yang kemarin kau pakai hah?” Tanya Myungsoo saat melihat tangan Suzy yang mengepal sangat kuat. Perlahan tangan Suzy mulai melemas dan mengulurkan tangannya pada Jiyeon. Ia meminta maaf di depan semua siswi yang sedang menontonnya saat ini.
“Mianhae Park Jiyeon.” Ujar Suzy lirih.
“Ne. gwaenchanha eonni.” Jawab Jiyeon dengan polosnya.
∞∞∞
Jiyeon sedang duduk sendirian di pinggir lapangan sambil memperhatikan namja chingunya yang sedang bermain basket. Keringatnya bercucuran. Myungsoo menghentikan permainan dan duduk dengan kaki lurus ditengah-tengah lapangan. Jiyeon membawakan handuk dan sekaleng minuman untuk Myungsoo. “Untukmu sunbae.” Ujar Jiyeon sambil menyodorkan handuk dan minuman yang dibawanya.
“Bisakah kau bantu aku membersihkan keringatku?” ujar Myungsoo polos. Ia hanya menerima kaleng minuman yang Jiyeon bawa tapi tidak untuk handuknya. Dia ingin Jiyeon yang membersihkan keringatnya.
“Ish. Disini terlalu ramai. Malu dilihat teman-teman oppa.” Ujar Jiyeon malu-malu.
Myungsoo beranjak dari duduknya dan menarik tangan Jiyeon menuju taman sekolah yang sangat sepi. “Disini sepi. Jadi bersihkan keringatku sekarang ne.” ujar Myungsoo sambil memajukan wajahnya.
“Ishh…” Jiyeon mendengus kesal. Namun beberapa detik kemudian Jiyeon mulai membersihkan keringat Myungsoo dengan handuk tebal yang sedari tadi dibawanya. Jiyeon membersihkan keringat Myungsoo dengan penuh kasih sayang. Pelan dan sangat lembut. Jiyeon memperhatikan wajah tampan Myungsoo. Menatapnya tanpa berkedip. Semakin lama usapan Jiyeon semakin pelan dan wajahnya pun semakin dekat dengan wajah Myungsoo. Myungsoo dapat merasakan hembusan napas Jiyeon di wajahnya. Bibir Jiyeon akhirnya menempel sempurna tepat dibibir Myungsoo. Hanya menempel. Myungsoo membuka matanya dan melihat Jiyeon sedang menutup matanya.
Tak jauh dari tempat MyungYeon berada, seorang yeoja kini tengah berdiri dengan memegang ponselnya dan menghadapkannya ke arah MyungYeon. Ia tersenyum nakal melihat hasil fotonya.
Kembali ke MyungYeon. Jiyeon masih belum melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Myungsoo. Hingga tiba-tiba ponsel Myungsoo bergetar. Seketika Jiyeon menjauhkan wajahnya dan menunduk malu. “Waeyo Chagi?” Tanya Myungsoo saat melihat Jiyeon menundukkan kepalanya. Jiyeon mulai melangkah meninggalkan Myungsoo namun tangannya di tahan hingga ia terpaksa harus menghentikan langkahnya. “Eodiga? Kau belum selesai membersihkan keringatku.” Ujar Myungsoo.
“Bersihkan saja sendiri.” Jawab Jiyeon sambil menyerahkan handuk yang dipegangnya ke tangan Myungsoo. Jiyeon kemudian kembali menuju kelasnya.
“Dasar yeoja polos.” Gumam Myungsoo saat Jiyeon pergi.
∞∞∞
Jiyeon berjalan terburu-buru menuju kelasnya. “kenapa kelas sangat sepi? Kemana yang lain?” Gumam Jiyeon. Jiyeon kemudian pergi ke lapangan. Saat ia tiba di depan madding, ia melihat sekerumunan siswa. Tiba-tiba Suzy dan Hyorin datang menghampirinya. Hatinya mulai gelisah. “Kali ini kau akan benar-benar menjadi pusat perhatian semua siswa.” Bisik Hyorin tepat ditelinga Jiyeon.
“A-apa maksud eonni?” Tanya Jiyeon tidak mengerti. ‘permainan apa lagi ini?’ Tanya Jiyeon dalam hati. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya lagi. Ia kemudian memberanikan diri mendekati madding. Jiyeon membulatkan matanya saat melihat apa yang baru saja ia lihat. ‘itu aku di taman tadi.’ Gumam batin Jiyeon.
“Eh-eh itu namjanya…” ujar salah seorang siswa yang sukses membuat siswa lain menoleh ke arah Myungsoo yang sedang berjalan bersama Jungkook dan Chanyeol. Jiyeon mengikuti arah pandang siswi lain.
“Ya… kenapa semua orang menatapmu seperti itu?” Tanya Jungkook.
“Apakah jiyeon sedang dijaili lagi sama Suzy dan Hyorin?” Sambung Chanyeol.
Myungsoo tak sengaja melihat Jiyeon tepat didepan madding. Ia sedang menangis. Myungsoo menghampiri Jiyeon. “Ada apa? Kenapa kau menangis?” Tanya Myungsoo khawatir. Jiyeon menunduk dan menunjuk sebuah foto yang sedang terpajang di madding. Disana Myungsoo melihat adegan ciumannya dengan Jiyeon. Myungsoo kemudian membaca selembar kertas yang tertempel di bawah foto itu.
‘Chukkahae Kim Myungsoo dan Park Jiyeon. Semoga kalian bahagia. Mianhae. Suzy and Hyorin.’ Ia kemudian tersenyum ke arah Jiyeon. “Jadi kau menangis karena ini?” Tanya Myungsoo sambil menyodorkan selembar kertas yang barusan dibacanya. Jiyeon mengangguk pelan. “Kau mau lagi?” Tawar Myungsoo tanpa menghiraukan murid-murid di sekitanya.
“Ciieee…..!!!!” seru semua orang yang ada disana.
“Jha ke lapangan.” Ujar Myungsoo sambil merangkul Jiyeon.
“Eits. Tunggu dulu.” Hyorin menahan Myungsoo dan Jiyeon tak jauh dari madding.
“Boleh kami meminta pajak jadian kalian?” pinta Suzy sambil menadahkan tangannya. Hyorin kemudian tertawa pelan.
“Mianhae Park Jiyeon. Kami sudah merepotkanmu kemarin.” Ujar Hyorin.
“Gwaenchanha Eonni.” Jiyeon kemudian tersenyum.

-End-