Tampilkan postingan dengan label Chapter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chapter. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2016

[Nappeun Namja Pt.6] Marry You And Happy

Marry You and Happy

Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol
Genre   : NC, Married Life, etc.
Length   : Chapter­­
Author   : Ms. Childish



One Month Later

Jungkook datang menemui Jinsol di rumahnya. Ia menyempatkan diri walau ia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Ia harus membeli gaun pernikahan bersama Jinsol untuk minggu depan.

“Nuna. Aku ingin menemui Jinsol. Bolehkah aku mengajaknya jalan hari ini?” Tanya Jungkook saat istri Hoya menemui Jungkook.
“Baiklah. Silahkan masuk. Aku akan membangunkan Jinsol dulu. Dia tampak sangat lelah setelah kemarin dia syuting seharian.”

Jungkook berjalan melihat foto-foto Sungjong yang terpajang rapi di sekeliling ruang tamu itu. “Nuna. Apakah ini anakku? Benarkah dia anakku?” Tanya Jungkook sambil terus menatap foto Sungjong.
“Benar. Dia sebenarnya anak kandungmu. Jinsol tidak menggugurkannya. Kami pergi ke Amerika untuk menghindari pembicaraan tetangga. Dan kami baru kembali beberapa minggu yang lalu. Dan. Aku juga sudah tau ceritanya. Kau menyurh Jinsol menggugurkan kandungannya saat itu. kenapa?” Istri Hoya mendekati Jungkook dan menatap foto yang sama.
“Saat itu aku masih labil nuna. Aku hanya memikirkan pendidikanku. Dan jika orang tuaku tau bahwa aku mengamili anak orang amaka mereka tidak akan menyekolahkanku. Sekarang. Aku kembali untuknya. Untuk menikahinya. Tapi saat aku melihatnya datang bersama Jimin hyung dan melihatnya bahagia bersamanya, aku mulai putus asa dan menyerah. Aku tidak ingin mengganggunya lagi. Aku memutuskan untuk hidp sebagai orang asing baginya.” Jelas Jungkook.
“Jungkook? Eonni?” Jinsol baru saja turun setelah beberapa saat ia mempersiapkan diri.
Jungkook tercengang melihat penampilan Jinsol yang sangat berbeda dari sebelumnya. Entah apa yang membuatnya merasa berbeda.
“kenapa kau menatapku seperti itu? apa ada yang aneh denganku? Kau tidak menyukainya? Aku akan mengganti pakaianku.”
“jangan.” Jungkook menahan tangan Jinsol saat Jinsol hendak kembali ke kamarnya. “Kau sangat cantik. Aku menyukainya.” Pujinya sambil memeluk Jinsol.
“ehem… kalian. Sebaiknya kalian cepat pergi. Mencari apartemen dan gaun pengantin yang bagus dan nyaman untuk kalian.
“Eonni. Aku berangkat.”
“Iya. Jungkook jaga dia baik-baik. Dan jangan mengulangi kesalahan yang sama.”
“Arasseo nuna.”

Jungkook dan Jinsol sudah tiba di butik gaun pengantin. Jungkook benar-benar memilih yang terbaik untuk Jinsol. Ia mendatangi sebuah butik dari desainer terbaik di Korea. Jungkook melihat setiap gaun pengantin yang ada. Beberapa sudah Jinsol coba namun tak satupun yang membuatnya tertarik. Hingga akhirnya ia memilih sebuah gaun panjang dengan mutiara yang mengelilingi bagian pinggang gaun tersebut. Saat Jinsol mengenakannya Jungkook merasa dirinya benar-benar sedang menikah hari ini. ia beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Jinsol. “Kau sangat cantik saat mengenakan gaun ini.” pujinya. Apa lagi yang akan Jungkook katakan? Dia lebih suka memuji Jinsol. “Setelah ini aku harap kita akan hidup bahagia tanpa ada permasalahan lagi.” Jungkook menarik pinggang Jinsol untuk merapat. Ia mendekatkan kepalanya untuk mencium bibir Jinsol. “Wae?” Tanya Jungkook saat Jinsol menjauhkan kepalanya.
“Ti-tidak. Jangan lakukan itu disini.” Jawab Jinsol sambil menundukkan kepalanya.
“Kalau begitu ayo kita lakukan itu di tempat lain.” Jinsol semakin bergetar saat mendengar ucapan Jungkook barusan.

Hari sudah mulai gelap. Matahari sudah kembali membenamkan sinarnya. Jinsol terlihat sangat lelah setelah ia memilih apartemen dan gaun pengantinnya. Tidak hanya itu, Jungkook tadi mengajaknya bermain di taman.
“Jinsol? Kita sudah sampai.” Jungkook mengayunkan lengan Jinsol beberapa kali namun gadis itu belum juga bangun. Jungkook segera keluar dari mobilnya dan menggendong Jinsol -seperti pangantin- masuk kedalam rumah kakaknya.
“Hyung… Nunaa…” teriak Jungkook dari depan pintu. “Nunaa!!! Hyuuungg!!!” teriak Jungkook sekali lagi. Beberapa saat kemudian pintu rumah itu terbuka.
“Kau sudah pulang? Masuklah dan bawa dia ke kamarnya.” Ujar Hoya.
“Ne. Hyung.” Jungkook membawa Jinsol ke kamarnya. Ia membaringkan gadis itu di tempat tidurnya. Jungkook menatap wajah Jinsol yang sedang tertidur sambil sesekali ia tersenyum. “Maafkan aku karena sudah pernah meninggalkanmu. Aku mencintaimu.” Jungkook mencium pipi kanan Jinsol dan beranjak pergi dari kamar Jinsol.

“Kau mau pulang?” Tanya Hoya yang dibalas dengan anggukan oleh Jungkook. “Menginaplah untuk hari ini. Ini sudah larut. Dan tidurlah di kamar Jinsol.”
“Hyung…”
“Aku mengijinkanmu tidur dengannya. Kau calon suaminya. Kau tunangannya. Tolong jaga dia baik-baik. Jangan tinggalkan dia lagi.” Ujar Hoya. Ia memeluk Jungkook dan mengusap punggung pria itu.


7 Days later
Jinsol tampak sangat cantik dengan gaun pengantin yang ia kenakan hari ini. Di sini. Di sebuah ruangan yang penuhi bunga ia menunggu seseorang yang akan menuntunnya ke altar. Ia ditemani oleh Sungjong. Anak itu dipangkunya di pahanya. Jinsol memeluk anak itu sambil sesekali mencium ujung rambutnya.
“Apakah setelah ini kau akan membawanya bersamamu?” Tanya istri Hoya sambil terus menatap Jinsol.
“Aku dan Jungkook berencana membawanya untuk tinggal bersama. Waeyo?”
“Bisakah kau meninggalkannya bersamaku? Aku akan merawatnya dengan baik. Kau tau aku tidak bisa memiliki anak lagi. Jadi bisakah aku memilikinya?”
“Eonni. Aku tidak akan memaksamu untuk mengembalikannya padaku. Bagaimanapun, kau adalah ibu baginya. Eonni. Dia bukan hanya anakku. Dia juga anakmu. Baginya, aku hanya adik dari appanya.”
“Jinsol.” Hoya memanggil dari pintu. Ia mengulurkan tangannya. Isyarat bahwa Jinsol harus pergi ke altar bersamanya. Jinsol segera menyerahkan Sungjong pada istri Hoya.
“Eonni. Jagalah dia baik-baik.” Istri Hoya mengangguk dan menggendong Sungjong.

Hari mulai gelap. Jinsol dan Jungkook baru saja tiba di apartemen baru yang akan mereka tinggali bersama. “Jungkook tunggu.” Suara Jinsol menghentikan gerakan Jungkook yang hendak membuka pintu mobilnya. Jinsol menatap lurus ke depan. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jungkook. “Aku tidak tega membawa Sungjong bersama kita. Eonni tidak bisa memiliki anak. Dan yang Sungjong tau, ibunya adalah dia. Bukan aku. Bisakah kita meninggalkannya bersama oppa?” Tanya Jinsol.
“Kau ingin meninggalkan anak kita bersama oppamu? Jika itu yang kau inginkan, aku menyetujuinya. Kita akan memiliki anak yang baru setelah ini.” Jungkook mengusap rambut Jinsol sambil tersenyum. Mendengar itu, Jinsol seketika menoleh karah pria itu. Jungkook turun dan membukakan pintu di samping Jinsol. Pria itu menggendong Jinsol sampai di apartemennya.

Kini mereka sudah tiba di depan pintu apartemen. Jinsol membantu Jungkook membukakan pintu. Setelah pintu itu terbuka, Jungkook segera memasuki apartemennya dan membawa Jinsol masuk bersamanya. Jungkook membaringkan Jinsol di sebuah tempat tidur yang sudah ditaburi oleh bunga mawar diatasnya. Jinsol tampak sangat gugup. Walau ia sudah pernah melakukannya, tapi perasaannya masih sama seperti pertama kali ia melakukannya. Jungkook menindih tubuh mungil gadis itu. “Kau cantik. Sangat cantik. Apalagi disaat sepeti ini. Saat kau berbaring dibawahku. Apalagi saat kau mendesahkan namaku 6 tahun yang lalu.” Jungkook membelai rambut Jinsol yang berada di samping wajahnya.
‘Pria ini benar-benar membuatku malu.’ Rutuk Jinsol dalam hatinya saat ia merasakan pipinya mulai panas. ‘Benar-benar memalukan.’
“Malam ini kita akan mengulangnya kembali. Aku akan melakukannya sepanjang malam. Kau tahu? Waktu itu aku tidak ingin meninggalkanmu dan bermain secepat itu. Aku tidak bisa berlama-lama karena aku tidak ingin seorang pun tau apa yang kita lakukan. Jika aku bisa, aku akan bermain denganmu sepanjang malam. Dan malam ini, aku akan melakukannya bersama orang yang sama dengan status yang berbeda. Aku akan menghabiskan malam bersamamu. Aku mencintaimu. Jeon Jinsol.” Jungkook menurunkan kepalanya dan mencium leher Jinsol.
“ngghh..geli Kookhh...” Ujar Jinsol sambil mendorong dada bidang Jungkook. Namun dengan segera Jungkook memegangi lengan Jinsol agar Jinsol tidak bisa memberontak. Jungkook menciumi setiap inci tubuh gadis dibawahnya. Hingga kini ia berada di belahan dada Jinsol. Ia menciumi bagian itu. “Nghh… Kook…” sebuah desahan berhasil lolos dari bibir Jinsol.
“Kau ingin menggodaku sayang?” Jungkook mengangkat kepalanya dan menatap Jinsol. Ia memeluk Jinsol menciumi setiap bagian lehernya, tangannya berusaha membuka resleting baju pengantin yang masih digunakan Jinsol sejak tadi. Jinsol meremas rambut Jungkook untuk meluapkan perasaannya. Entah perasaan apa itu hanya dia yang tau.
Sreek~
Resleting itu dengan mudah Jungkook turunkan hingga full sampai bawah. Jungkook menurunkan pakaian Jinsol dan melemparnya begitu saja. “Kau masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Kau masih sama sexy-nya seperti sebelumnya.” Jinsol mengalihkan pandangannya. Ia tidak bisa menatap Jungkook. Ia terlalu malu untuk menatapnya. Tangan Jungkook meraih pengait bra Jinsol dan melepasnya begitu saja. Ia kemudian menghisap gundukan itu seperti bayi yang sedang kehausan. Tangan kirinya meremas payudara yang lain. Naluri Jungkook benar-benar sudah berada di tingkat paling atas. Adik kecilnya sudah bangkit sejak tadi. “nghh… Kookieehh…” Jinsol tidak berhenti mendesahkan nama Jungkook dari tadi. Kewanitaannya pun sudah mulai basah. Jungkook semakin liar diatas tubuh istrinya. Tangannya mulai nakal. Ia menurunkan celana dalam Jinsol dan mengusap pelan kewanitaan Jinsol. Perlahan ia memasukkan jari tengahnya ke dalam kewanitaan Jinsol yang terasa basah itu. Jinsol meringis kesakitan saat tangan itu mesuk. Pahanya ia rapatkan kembali untuk menahan sakitnya. Jungkook tidak berhenti menyesap gundukan milik Jinsol hingga menimbulkan bercak kemerahan disana. Jungkook benar-benar sudah gila. Ia mengeluar masukkan jarinya dari kewanitaan Jinsol ia bahkan memasukkan 3 jarinya membuat Jinsol meracau tidak jelas. Beberapa saat kemudian cairan hangat keluar dari bagian kewanitaan Jinsol. Jungkook pun menjauhkan kepalanya dari payudara Jinsol dan menghisap semua cairan di kewanitaan Jinsol hingga bersih. “Ahhh….” Jinsol mendesah saat Jungkook menghisap kuat kewanitaannya.
Jungkook beralih ke bibir Jinsol dan mencium gadis di bawahnya. Ia berbagi cairan dimulutnya dengan Jinsol. Jijik. Yah Jinsol tidak pernah berpikir Jungkook akan segila ini. Tak lama, Jinsol mendorong Jungkook hingga ciumannya terlepas. “Kau curang. Pakaianmu masih lengkap. Sedangkan pakaianku sudah kau tanggalkan.” Ujar Jinsol iri.
“Kau iri padaku? baiklah.” Jungkook segera melepas semua pakaiannya hingga mereka sama-sama naked. Jungkook kembali menunduk dan mencium bibir Jinsol. Juniornya yang tegang tidak sengaja bergesekan dengan kewanitaan Jinsol. Terus begitu. Jungkook melebarkan paha Jinsol dengan kakinya.
“Kau…siap?” Tanya Jungkook ragu. Jinsol mengangguk pelan sambil menatap pria diatasnya. Tangannya memegang lengan Jungkook. Perlahan ia merasakan sakit di bagian kewanitaannya.
“Aaaaahh……” Cengkeramannya semakin kuat seiring dengan jeritannya saat junior Jungkook tertanam sempurna di dalam kewanitaannya. Air matanya mengalir dari pelupuk matanya sambil menahan sakit. Ini memang bukan pertama kalinya ia melakukan hubungan intim. Tapi itu terjadi 5 tahun yang lalu. Saat ia masih SMA. Sekarang ia sudah lulus kuliah dan sudah bekerja. Tentu saja semuanya berbeda.
“Sakitkah?” Tanya Jungkook sambil menghapus jejak air mata Jinsol. “Aku akan memulainya.” Lanjutnya. Jungkook mulai menggerakkan pinggulnya. Mengeluar masukkan benda keras miliknya yang berada di dalam tubuh Jinsol. Rasa sakit yang Jinsol rasakan semakin lama berubah menjadi sebuah kenikmatan. Apalagi disaat junior Jungkook mengenai titik terdalam pada dirinya. Racauannya pun semakin menjadi.
“Ahh… Kookkieeehh… deeper..” Racauan Jinsol terdengar jelas di telinga Jungkook. Hal itu semakin membuat naluri Jungkook meningkat. Jungkook semakin mempercepat tumbukannya di kewanitaan Jinsol. “Ahh… mmhh….” Desahan Jinsol memenuhi ruangan itu. tumbukan Jungkok semakin cepat hingga menimbulkan decitan pada tempat tidurnya. Desahan Jinsol dan Jungkook saling bersahutan seolah menjadi melodi yang sangat indah bagi keduanya.
Jungkook merasakan juniornya dijepit kuat di dalam tubuh Jinsol saat ia semakin kuat menumbuk kewanitaan istrinya. Juniornya pun terasa semakin membesar. “Kookiieehhh… aku keluar…” suara Jinsol terdengar semakin bergetar.
“Togetherhh…” jawab Jungkook. Ia mempercepat gerakannya hingga ia merasakan cairannya menyembur di dalam rahim istrinya. Pria itu memeluk Jinsol dan mencium keningnya. “Aku mencintaimu. Aku berjanji padamu. Aku tidak akan pernah pergi lagi darimu. Aku akan menjagamu. Kita akan membesarkan anak kita bersama-sama nanti. Aku berjanji padamu.” Ujar Jungkook. Jinsol menangis mendengarnya. Ia terharu. Jungkook berbeda dengan sebelumnya. Terakhir kali ia bertemu dengan Jungkook sebelum akhirnya mereka pergi dengan kehidupan masing-masing, Jungkook terlihat seperti pria brengsek. Jahat. Tapi sekarang ia merasakan ada sebuah perasaan yang hanya bisa ia mengerti melalui ucapan Jungkook barusan. Pria itu mencintainya. Harapannya sudah dikabulkan. Ayah dari Sungjong sekarang bertanggung jawab atas kesalahannya di masa lalu. Ayah Sungjong menikahinya. Yang ia harapkan hanya sebuah pernikahan dan pengakuan atas Sungjong. Tapi saat ini bukan hanya itu. Jungkook menikahi Jinsol atas dasar cinta dan perasaan. Bukan hanya karena rasa bersalahnya.
“Terima kasih kau sudah kembali. Aku juga merindukanmu. Aku juga mencintaimu. Jangan tinggalkan aku lagi.” Jinsol membalas pelukan Jungkook. Jinsol masih menangis. Tangisan bahagia.
“Tidurlah. Aku akan menemanimu. Mulai saat ini kau tidak akan sendirian lagi. Ada aku di sini.” Jungkook mencium bibir Jisol sekilas dan berbaring disamping Jinsol tanpa melepaskan juniornya dari kewanitaan Jinsol.

Malam itu. Aku merasakan semuanya. Perasaan sakit yang pernah aku berikan padamu dulu. Aku merasakannya. Saat aku meninggalkanmu dalam keadaan hamil. Aku menyesal. Aku menyesal karena saat aku kembali aku tidak menemukanmu. Dan saat kau muncul dihadapanku, kau sudah menjalin hubungan dengan Jimin hyung. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan selalu menemanimu. Aku mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu. Jinsol. -Jungkook-

Aku bersyukur kau kembali. Maafkan aku karena aku bersikap kasar padamu saat itu. Aku masih belum bisa melupakan kejadian di sekolah malam itu. Kau seperti pria brengsek saat kau meninggalkanku dalam keadaan berantakan. Kau seperti pria brengsek saat kau meninggalkanku bersama bayi di rahimku saat itu. Tapi aku bersyukur saat aku tau kau kembali untukku. Untuk menebus semua kesalahanmu. Tapi aku lebih bahagia lagi karena kau menikahiku bukan hanya untuk bertanggung jawab. Tapi karena kau mencintaiku. -Jinsol-

Hiduplah bahagia. Jangan pernah menangis lagi. Aku ada di sini kapan pun kau membutuhkanku. Karena aku adalah sahabatmu. Sahabat kecilmu. Aku akan menemanimu saat kau merasa sendiri. Aku akan menjadi sahabat yang baik. Aku akan menyayangimu. Seperti Yein yang selalu ada untukmu. -Jimin-


END

Senin, 25 April 2016

[Nappeun Namja Pt.5] Truth

Nappeun Namja Pt.5
TRUTH

Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol, Lee Hoya
Genre   : Family, Happy (?), etc.
Length   : Chapter
Author   : Ms. Childish


Pagi ini para member BTS sedang bersiap menuju Daegu. Mereka akan mengadakan fanmeeting. Jungkook dan hyung-hyungnya terlihat sangat senang. Apalagi Jimin. menurutnya ini adalah kesempatan untuk bertemu dengan Jinsol.

Jinsol tampak sedang tidak senang. Sarapannya belum ia cicipi sejak tadi. Hoya memperhatikan ekspresi Jinsol yang tapak sedih. “Kau kenapa Jinsol? Kenapa kau tidak memakan makananmu? Apa kau ada masalah?” Tanya Hoya.
“Oppa. Setelah ini aku ini aku ingin berbicara dengan oppa.”
“baiklah kalau begitu.”

Jinsol sedang berdiri dihadapan Hoya. Ia memainkan jarinya karena kegelisahannya. “Kau kenapa? Apakah pekerjaanmu tidak cocok? Aku akan memindahkanmu ke kantorku jika kau tidak nyaman menjadi selebriti.” Ujar Hoya.
“Tidak oppa. Bukan itu. Ini… tentang Jungkook.”
“Jungkook? Ada apa dengannya? Apa dia mengganggumu lagi?” Tanya Hoya.
“Dia… kemarin dia datang menemuiku di lokasi syuting. Dan… dia bertanya tentang Sungjong. Sepertinya dia tau tentang Sungjong. Oppa. Aku sudah melupakannya tapi kenapa dia muncul lagi?” Tanya Jinsol. Butiran air mata berjatuhan dari pelupuk matanya.
“Jinsol. Aku mengerti perasaanmu. Sekarang. Jangan kau sia-siakan Jimin. Dia pria baik-baik. Berbeda dengan Jungkook. Aku juga tidak akan membiarkannya menyakitimu lagi.”

Drrtt… Drrtt…
“Jimin. aku akan menjawabnya dulu oppa.” Pamit Jinsol. Ia berjalan keluar dan menjawab panggilan dari Jimin.
“Ne oppa.”
“……”
“Ne? Jinjja? Arasseo. Aku segera kesana.” Jinsol segera kembali ke ruangan kakaknya dan meminta ijin untuk menyusul Jimin ke Daegu. Hoya mengiyakannya. Ia selalu mengijinkan adiknya itu untuk pergi kemana saja yang ia mau asalkan tidak untuk pergi minum bersama siapapun. Hoya melarang keras akan hal itu. ia tidak ingin kesalahan yang sama terjadi dua kali pada Jinsol.

“Oppa!” panggil Jinsol dari kejauhan. Jinsol segera berlari mendekati Jimin dan memeluk pria itu. “Apakah aku terlambat?” Tanya Jinsol sambil menormalkan nafasnya yang terengah-engah.
“Jinsol? Terima kasih kau sudah datang. Hari ini aku akan pergi ke Daegu. Dan aku akan kembali besok pagi. Tunggu aku dan jangan selingkuh. Aku akan merayakan hari pertunangan kita setelah aku pulang dari Daegu.”
“Aku tau itu. aku tidak akan selingkuh. Percayalah padaku oppa.” Jawab Jinsol.

Acara Fanmeet telah selesai. Semua member BTS telah meninggalkan tempatnya dan pergi ke hotel untuk istirahat. Jungkook. Seperti biasa ia menuliskan semua kejadian yang terjadi di buku merahnya. Jungkook tampak sangat lelah hingga tanpa sadar ia tertidur begitu saja. Tanpa menutup bukunya. Tanpa mengenakan selimut. Dan tanpa mengganti bajunya.
Jimin baru saja kembali setelah mengantar Jinsol sampai depan gerbang hotel. Ia memasuki kamar Jungkook. Memang dia satu kamar dengan Jimin. Saat Jimin hendak berbaring, ia melihat buku catatan harian Jungkook yang terbuka. Jimin merasa tertarik untuk membaa buku bersampul merah itu. Dimulai dari halaman pertama.

Senyumnya. Tariannya. Wajahnya. Masih aku ingat hingga saat ini. lima tahun sudah berlalu tapi kenapa aku semakin merindukannya?

Jimin tertawa kecil sambil membaca kalimat itu. “Kekanakan sekali.” Gumam Jimin. ia kemudian membalik halaman berikutnya.

Kenapa rasa bersalahku kini semakin besar? Perasaan itu semaki menghantuiku. Dimana kau? Aku mencarimu. Maafkan aku karena aku tidak sempat bertanggung jawab atas kesalahanku. Awalnya aku hanya ingin bersenang-senang denganmu. Tapi kenapa perasaan itu sekarang berubah? Tolong kembalilah.

“Kesalahan? Kesalahan apa yang dilakukan anak ini?” Jimin terus membalik lembaran-lembaran itu. Hingga ia tiba di sebuah halaman yang penuh dengan tulisan tangan Jungkook. Cerita yang cukup panjang.

Kau semakin cantik. Kau juga terlihat semakin dewasa. Kau menjadi wanita yang kuat. Membesarkan anak kita sebagai keponakan itu sulit. Aku menyesal telah meninggalkanmu di masa lalu. Kau terlihat sangat bahagia tadi. Bersama Jimin hyung. Kurasa aku harus menjauh darimu. Dan tetap menjadi orang asing bagimu. Aku tidak ingin menjadi pengacau hidupmu. Selamanya. Kau hanya mimpiku. Biarkan perasaan ini ku pendam sendiri. Walau terasa begitu sakit. Walau ada rasa kecewa di dalam hati. Walau sedih dan tangis mengiringi ingatanku denganmu di masa lalu. Aku. Hanya PENGACAU bagimu. Aku senang melihatmu tersenyum bersama Jimin hyung. Jinsol. Maafkan aku atas kesalahan terbesarku. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan mengganggumu bersama Jimin. Semoga kau bahagia.

“Apa ini?” tangan Jimin gemetar saat ia menemukan nama Jinsol dan namanya disana. Ia segera mengambil ponselnya dan mengambil gambar tulisan tangan Jungkook itu. ia ingin menyerahkannya pada Jinsol dan ia juga ingin mempersatukan Jungkook dengan Jinsol. “Apa ini yang membuat Jungkook sakit waktu itu? tapi bagaimana bisa ia menyembunyikan ini dariku? Dan Sungjong. Benarkah dia anak Jungkook? Aku akan menanyakan ini pada Jinsol.”
‘Jinsol. Temui aku besok di taman dekat rumahmu.’ Jimin baru saja mengirimi Jinsol pesan singkat. Ia berharap bahwa ia akan menemukan jawaban yang sebenarnya besok.

BTS sedang perjalanan kembali ke Seoul. Jimin terus saja memandangi layar ponselnya. Setelah beberapa jam, akhirnya mereka tiba di Seoul. Besok adalah hari pertunangannya dengan Jinsol. Bagaimana bisa ia menerima seorang wanita yang sudah pernah hamil? Tidak masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah karena Jinsol pernah mengandung anak Jungkook. Yang sekarang menjadi keponakannya. Sungjong.

Jinsol menunggu kehadiran Jimin di sebuah kursi panjang. Ia mencari sosok Jimin. Jinsol segera berlari saat ia menemukan Jimin sedang berjalan bersama teman-temannya. “Oppa.” Panggil Jinsol sambil tersenyum kearah Jimin.
“Jinsol? Hyung aku akan menemuinya dulu. Kalian kembalilah lebih dulu.” Ujar Jimin. ia berjalan menuju arah Jinsol.

Jimin dan Jinsol sedang berada di café dekat bandara. Mereka sedang menikmati kopi bersama. Romantic bukan? Di musim dingin ini mereka minum kopi berdua. “Bagaimana pekerjaanmu kemarin? Kau pasti sangat lelah. Oppa sebaiknya istirahat saja. Besok kan hari pertunangan kita.” Jinsol memulai permbicaraan.
“Jinsol. Aku ingin menanyaan sesuatu padamu.” Ujar Jimin dengan wajah seriusnya.
“Tanyakan saja oppa. Tidak biasanya oppa meminta ijin dulu padaku untuk bertanya.” Jawab Jinsol sambil tersenyum.
“Apakah benar kau pernah hamil sebelumnya?” Tanya Jimin.
Seketika Jinsol kaget dan menatap Jimin. senyumnya luntur. Hatinya terasa seperti ditusuk dengan jarum. Tidak. Lebih dari itu. Air bening sedang mengambang di matanya. “Kenapa kau menanyakan hal itu?” bukanlah sebuah jawaban yang Jinsol berikan. Namun sebuah pertanyaan.
“Jawab aku. Apa kau pernah memiliki hubungan dengan Jungkook?” Jimin berusaha mengontrol emosinya. Ia tidak ingin dirinya marah dan membuat Jinsol malu. “Jawab aku Jinsol.” Lagi. Jimin menuntut sebuah jawaban. Perlahan kepala Jinsol mengangguk. “Apakah kau mencintai pria itu?” Tanya Jimin lagi. “Apa benar Sungjong itu bukan keponakanmu melainkan anakmu?” lanjutnya.
“Oppa. Darimana oppa tau sedetail itu? apakah Jungkook yang memberitahunya padamu? Atau..” belum selesai Jinsol berbicara, Jimin memotongnya denga kalimatnya sendiri.
“Baca ini.” jimin menyerahkan ponselnya dan menunjukkan foto dari catatan harian Jungkook. Dari halaman terdepan hingga akhir. Air mata Jinsol mengalir. Lagi.
‘Kau menyesalinya? Jadi selama ini kau mencariku? Tapi kenapa? Waktu itu kau menyuruhku menggugurkan kandunganku. Kenapa kau baru menyesalinya sekarang?’ Tanya batin Jinsol.
“Menikahlah dengannya. Aku yakin kau akan lebih bahagia bersamanya. Dia bukanlah pria jahat seperti dulu. Di dorm, dia yang paling peduli pada semua member selain Taehyung. Dia juga pintar. Dan… ku mohon. Jika kau benar menyayangiku, menikahlah dengannya.” Jimin menggenggam tangan Jinsol dengan erat.

Next day

Hari ini hari pertunangan Jimin dan Jinsol. Semua orang menghadiri acara tersebut. Termasuk Jungkook dan member BTS yang lainnya. Acara pertunangan ini terlihat seperti acara pernikahan. Namun tidak ada pendeta di tempat itu.
Jinsol sedang menunggu diruang kamarnya. Ia menatap dirinya. Dengan wajah datar. Pikirannya tidak focus pada acara pertunangannya. Ingatannya pada masa lalunya kembali menghantui pikiran gadis itu. Saat Jungkook meninggalkannya diruang make up dengan penampilan kacau. Wajah Jungkook saat ia menyuruh gadis itu menggugurkan kandungannya.
Berbeda dengan Jinsol. Jimin sedang memikirkan tentang perasaan Jungkook. Jungkook selalu bersikap baik pada Jimin. member yang paling peduli dan menyayanginya. Setidaknya itu yang Jimin percaya. Bagaimana pun Jimin tidak bisa memisahkan Jungkook dengan anaknya. Walaupun tidak untuk Jinsol. Setidaknya Jungkook bisa bahagia karena bisa memiliki haknya sebagai ayah dari Sungjong.
“Jimin. Para tamu sudah menunggumu. Sebaiknya kau temui mereka.” Ujar leader pada Jimin.
“Ne hyung.” Jimin sudah menentukan apa yang ia lakukan hari ini.
Jimin berjalan dengan percaya dirinya diatas altar. Kemudian disusul oleh Jinsol. Saat tiba pertukaran cincin. Jimin menghentikan gerakannya. Ia menggenggam tangan Jinsol. Ia berbalik kearah para tamu. “Pertunangan ini. Aku tidak berhak untuk memiliki gadis cantik dan baik yang sedang berdiri di sampingku saat ini. Ada seseorang lagi yang lebih berhak dariku. Seseorang yang lebih mencintainya. Menyayanginya. Dan dia juga jauh lebih baik dariku. Pria itu adalah sahabatku sendiri. Adik para member BTS. Jungkook.”
“Oppa…” gumam Jinsol. Jimin tersenyum kearah Jinsol.
Semua orang kini memusatkan perhatiannya pada Jungkook. Jimin perlahan berjalan dan mendekati Jungkook. Menggenggam tangan pria itu dan membawanya berada di samping kiri Jimin. sedangnkan Jinsol dengan berdiri di sebelah kanan Jimin. “Aku ingin kalian menjadi pasangan yang bahagia.” ujar Jimin.
“Hyung… apa yang kau lakukan?” Tanya Jungkook pelan.
“Kumohon. Lakukan ini untukku Kook. Kau lebih berhak untuk memilikinya.” Jimin menyerahkan sebuah cincin ke tangan Jungkook. Meminta pria itu memasangkan cincin pada gadis dihadapannya. Jimin turun dan menduduki sebuah kursi tamu yang tadinya menjadi tempat Jungkook. ‘seperti inikah perasaanmu setiap kali aku bersama Jinsol? Dan seperti inikah perasaanmu saat kau melihatku bersama Jinsol disana tadi? Aku sudah merasakannya Jungkook. Aku harap kau akan bahagia bersamanya.’ Gumam batin Jimin.
“Kau hebat Jimin.” Ujar Taehyung sambil menepuk pundak Jimin.

Acara pertunangan itu sudah selesai. Jinsol berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang sangat cepat. Ia segera memasuki kamarnya dan menangis.
“Jinsol… kenapa kau menagis? Bukankah seharusnya kau bahagia karena Jungkook mau bertanggung jawab atas kejadian dimasa lalumu?” Tanya istri Hoya sambil mengusap rambut Jinsol. Jinsol bangun dan memeluk erat kakak iparnya.
“Aku memang menginginkannya unn. Tapi bukan sekarang. Aku sudah melupakannya. Tapi… Jimin. bagaimana dengannya? Dia pasti sakit.”
“Lalu bagaimana dengan perasaan Jungkook? Siapa yang tahu tentang perasaannya? Apakah Taehyung pernah menceritakan perasaan Jungkook padamu? Tidak kan? Apakah Jimin juga pernah menceritakan perasaan Jungkook padamu? Tidak kan? Tidak ada yang tau perasaannya Jinsol. Dan. Bukankah jika kau menikah dengannya kau akan bahagia dan hidup bersama dengan Sungjong?”
“eonni… aku tidak menginginkan pertunangan ini. Dia yang menghancurkan hidupku dulu. Dia juga yang membuatku terpuruk. Tapi Jimin. dia sahabat kecilku. Dia teman sekolahku. Dia juga orang yang sangat mengerti diriku.”

“Tapi dia hanya sahabatmu Jinsol. Jangan tempatkan cinta diatas persahabatan jika kau tidak ingin hubungan itu hancur. Cobalah untuk menerimanya. Dia pantas menikahimu. Ingatlah. Suatu hari nanti Sungjong akan mengetahui yang sebenarnya. Dan itu akan lebih baik jika kau memberitahu yang sebenarnya terjadi sejak saat ini.” Jinsol diam. Jinsol hanya mendengarkan nasihat kakak iparnya dan mengangguk. “Ya sudah. Gantilah bajumu dan temui Jungkook bersama teman-temannya di ruang makan.”

[Nappeun Namja Pt. 4] That's My Little Brother


Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol, Park Jimin
Genre   : Family, Happy (?), etc.
Length   : Chapter
Author   : Ms. Childish


Benarkah dia anakku? Aku merindukanmu Jinsol. Apakah ini anak kita? Dia sudah tumbuh besar dan sangat baik. Dia tampan sama sepertiku. Bisakah aku memilikimu suatu hari? Aku ingin menebus semua kesalahanku. –Jeon Jungkook-

“Hei lihat Jungkook. Dia mirip sepertimu.” Ujar J-Hope sambil mencubit gemas pipi Sungjong.
“Siapa nama anak ini?” Tanya Taehyung. “Dia sangat imut dan lucu.” Lanjut Taehyung sambil mencubit pelan pipi Sungjong.
“Dia keponakan pacarku. Namanya Sungjong. Jangan cubit dia Taehyung!” bentak Jimin saat melihat Taehyung mencubit Sungjong.
“Hyung. Bolehkah aku menggendongnya?” Tanya Jungkook.
“Tidak boleh! Dia anakku.” Larang Taehyung. Seketika semua member BTS yang ada disana tertawa melihat tingkah Taehyung.
“Mber. Aku ingin mengenalkan pacarku pada kalian.” Ujar Jimin. “Jinsol.”
‘Jinsol?’ tanya batin Jungkook saat Jimin menyebutkan nama Jinsol. Beberapa detik kemudian seorang gadis cantik masuk dan berdiri di sebelah Jimin. ‘Benarkah itu Jinsol temanku? Dia masih sama seperti dulu. Lalu apakah balita ini anakku? Anakku bahkan sudah sebesar ini.’ Gumam batin Jungkook.
“Annyeong. Oppadeul. Namaku Lee Jinsol.” Ujar Jinsol sambil menebarkan senyumannya.
“Jinsol. Kenalkan. Yang itu Jin hyung. Itu Rapmon hyung. Jihop hyung. Syuga hyung. Taehyung dan yang ituu…” Ujar Jimin sambil menunjuk satu persatu member BTS dan ucapannya terhenti pada Jungkook. “Yang itu… panggil saja Kookie.”
“Hyung. Aku titipkan Sungjong pada kalian ya. Aku akan pergi bersama Jinsol.” Pamit Jimin.
‘Dia tidak mengenalku? Apa dia sudah melupakanku? Atau perubahan wajahku sangat jauh dengan dulu? Ini aneh.’

Some Hour Later

Jimin dan Jinsol masih belum kembali sejak tadi. Sungjong menangis. sepertinya ia ingin tidur. Taehyung mencoba untuk membuat Sungjong tidur namun balita itu tetap saja menangis.
“Hyung. Biarkan aku yang menggendongnya.” Ujar Jungkook. Taehyung mengerti dengan perasaan Jungkook. Ia segera menyerahkan Sungjong kedalam gendongan Jungkook. Dan beberapa saat kemudian balita itu sudah berhenti menangis dan terlelap dalam gendongan Jungkook. “Hyung aku akan menemaninya di kamarku.” Pamit Jungkook.

‘Apakah kau anakku? Aku tidak tahu kau anakku atau memang benar keponakan Jinsol. Jika kau anakku. Maafkan aku nak. Aku berjanji padamu. Aku akan menebus semua kesalahan yang pernah aku lakukan pada kalian berdua. Aku akan bertanggung jawab atas dirimu dan ibumu.’ Jungkook bergumam dalam hatinya. Memang beberapa bulan terakhir, ia merasa bersalah pada Jinsol. Ia ingin mencari Jinsol dan menikahinya. Tapi saat ia melihat Jinsol tersenyum di samping Jimin, ia mengurungkan niatnya untuk menikahi Jinsol. Ia berpikir Jinsol akan membencinya jika gadis itu tau bahwa Kookie yang menjadi member kesayangan Jimin adalah seseorang yang nyaris merusak masa depan Jinsol.

“Hyung. Mana Sungjong?” Tanya Jimin saat ia baru saja sampai di dorm.
“Ah. Dia sedang bersama Kookie di kamarnya. Sepertinya anak itu menyukai Kookie. Dia langsung tertidur saat Kookie menggendongnya.” Jawab Namjoon.

Jimin tiba di depan pintu kamar Jungkook. Ia melihat Sungjong dan Jungkook sedang tidur bersebelahan. Jimin memperhatikan keduanya sambil tersenyum. ‘bagaimana bisa mereka begitu mirip? Apa mereka adalah saudara yang terpisah?’ beberapa pertanyaan tiba-tiba muncul begitu saja di pikiran Jimin. Jimin menggendong Sungjong dan membawanya kembali bersama Jinsol.
“Hyung. Aku akan mengantarnya pulang dulu.” Pamit Jimin.

Malam telah tiba. Jungkook sedang berdiri di balkon kamarnya. Menikmati keindahan langit, sambil merenungkan segala kesalahannya. Ia sedang memegang buku tulis dengan sampul warna merah. Buku yang baru ia beli bulan lalu. Ia menjadikannya sebagai buku hariannya. Semua isi hati yang tidak pernah bisa ia ungkapkan pada orang lain ia tulis disana. Termasuk semua ingatan tentang kesalahannya dimasa lalu.

Kau semakin cantik. Kau juga terlihat semakin dewasa. Kau menjadi wanita yang kuat. Membesarkan anak kita sebagai keponakan itu sulit. Aku menyesal telah meninggalkanmu di masa lalu. Kau terlihat sangat bahagia tadi. Bersama Jimin hyung. Kurasa aku harus menjauh darimu. Dan tetap menjadi orang asing bagimu. Aku tidak ingin menjadi pengacau hidupmu. Selamanya. Kau hanya mimpiku. Biarkan perasaan ini ku pendam sendiri. Walau terasa begitu sakit. Walau ada rasa kecewa di dalam hati. Walau sedih dan tangis mengiringi ingatanku denganmu di masa lalu. Aku. Hanya PENGACAU bagimu. Aku senang melihatmu tersenyum bersama Jimin hyung. Jinsol. Maafkan aku atas kesalahan terbesarku. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan mengganggumu bersama Jimin. Semoga kau bahagia.

“JUNGKOOK!” teriak Taehyung dari pintu kamarnya. Pria itu menghampiri Jungkook tatkala dirinya melihat orang yang dicarinya sedang berdiri di balkon.
Dengan segera Jungkook menutup bukunya dan meletakkannya di dalam bajunya. “Wae hyung?” Jungkook berbalik.
“Sedang apa kau?” Taehyung menepuk pundak Jungkook.
“Hyung.” Jungkook memeluk Taehyung dengan erat. “Hyung aku menyesal.” Air matanya mengalir. Satu-satunya orang yang mengetahui masa lalunya adalah Taehyung. Mantan kekasih Jinsol.
“Kau kenapa Kook? Apa ini karena Jinsol? Kau cemburu?” Tanya Taehyung.
“Aku menyesal hyung. Dia… dia anaknya. Bukan keponakannya. Aku tau itu. Hyung. Aku adalah pria terjahat di dunia ini. Aku tidak ingin meninggalkannya. Tapi, jika aku tidak pergi orang tuaku akan curiga dan… aku tidak bisa menjadi artis terkenal seperti sekarang. Hyung. Aku bekerja dan kembali untuknya. Aku ingin memilikinya. Tapi… dia sudah bahagia bersama Jimin hyung. Dan… bulan depan mereka akan bertunangan. Aku benar-benar menyesal hyung.” Masih banyak kalimat yang Jungkook ungkapkan pada Taehyung. Rasa menyesalnya. Semuanya. Taehyung menemani Jungkook hingga pria itu tertidur.

Seminggu telah berlalu begitu cepat. Kondisi Jungkook saat ini sedang tidak baik. Sejak hari itu nafsu makan Jungkook berkurang. Ia juga tidak focus pada latihannya di dorm hingga sang leader menegurnya beberapa kali.
Saat ini Jungkook sedang beristirahat di kamarnya. Leader dan member tertua menyuruhnya istirahat untuk sementara waktu hingga ia merasa tenang.
“Jungkook.” Panggil Taehyung. Jungkook hanya menoleh menatap Taehyung dengan matanya yang membengkak dan merah. “Sampai kapan kau seperti ini? Mana semangatmu? Katakan padanya jika kau memang benar-benar mencintainya. Katakan padanya jika kau menyesal. Jangan putus asa seperti ini. Ini. Aku sudah mendapatkan nomor ponsel Jinsol. Jangan Tanya aku mendapatkannya dari mana.” Taehyung menyerahkan secarik kertas yang berisi nomor ponsel Jinsol pada Jungkook. “Bicaralah dan ajak dia bertemu saat kau sudah sembuh. Sekarang kau harus istirahat.” Taehyung mengacak rambut Jungkook. Pria itu tersenyum. Semangatnya seolah telah kembali. Lagi-lagi Jungkook harus beristirahat.

Esoknya, Jungkook terlihat sudah membaik. Jungkook menatap kertas pemberian Taehyung kemarin. Jungkook meraih ponselnya dan menyimpan nomor ponsel Jinsol. Pria itu berjalan menuju suatu tempat. Sebuah taman di dekat tempat syuting Jinsol. Jungkook merogoh ponselnya. Dengan perasaan ragu, Jungkook menekan tombol panggil di ponselnya. Tuuuut… panggilannya telah tersambung.

Jinsol sedang beristirahat setelah syutingnya berakhir. Syuting film pertamanya. Jinsol menghentikan aktivitasnya saat ia mendengar getaran ponselnya.
“Hallo?” sapa Jinsol.
“Apa ini Jinsol?” Tanya Jungkook memulai pembicaraan.
“Iya. Saya sendiri. Kau siapa?”
“Ini aku. Jungkook.” Jinsol tampak kaget begitu pria itu menyebutkan dirinya kalau ia Jungkook.
“J-Jungkook? Ke-kenapa kau menghubungiku?” Jinsol mencoba untuk tidak menjatuhkan air matanya. Ia menutup mulutnya dengan tangan kiri.
“Temui aku di taman”
“Tapi…” belum selesai Jinsol berbicara Jungkook sudah mematikan sambungannya lebih dulu.
Dengan segera Jinsol berjalan menuju taman. Sebenarnya ia tidak yakin bahwa taman yang dimaksud adalah taman di dekat tempat syutingnya. Tapi ia tetap saja berjalan menuju tempat itu. Jinsol mencari-cari keberadaan Jungkook saat ia tiba di taman.
“Jinsol.” Panggil Jungkook dari belakang. Seketika Jinsol menoleh ke arah sumber suara. Pria itu membawa Jinsol ke tempat yang begitu sepi. Hingga tak seorang pun yang bisa melihatnya.
“Ko-kookie? Bukankah kau Kookie?”
“Ini aku Jungkook. Kau sudah lupa padaku?” Tanya Jungkook.
“Tidak. Ini tidak mungkin. Kenapa kau datang lagi? Apa maumu?” Tanya Jinsol.
“Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu. Ini tentang… anak kita.” Ujar Jungkook memulai pembicaraan.
“anak kita? Cih. Kau bilang anak kita? Anak kita sudah mati.” Jawab Jinsol penuh emosi.
“Tidak. Anak yang kau bawa ke dorm saat itu. Dia bukan keponakanmu. Dia anakku kan?”
“Apa maksudmu itu anakmu? Dia, keponakanku. Anak kita sudah mati! Bukankah kau sendiri yang menyuruhku menggugurkan kandunganku saat itu?! kau ingin pergi ke Amerika dan-” Ucapan Jinsol tiba-tiba terhenti saat Jungkook mendaratkan ciumannya di bibir Jinsol. Plakk! Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi mulus Jungkook saat pria itu melepaskan ciumannya. “Kau! Pria paling brengsek yang pernah aku temui!” Jinsol marah. Ia meninggalkan Jungkook sendirian di tempat itu.

Drrt… drrttt… ponsel Jinsol bergetar. Jinsol menatap nama pemanggil itu.
“Ne oppa. Aku sedang menuju kesana.”
“…”
“Ne.” Jinsol meletakkan kembali ponselnya di saku mantelnya.
“Jinsol! Aku menyesali semuanya. Aku ingin bertanggung jawab! Tapi jika kau ingin aku pergi, maka aku akan pergi! Semoga kau bahagia bersama Jimin hyung!” teriak Jungkook dari jauh. Jinsol mendengarnya dengan jelas. Ia menangis tapi ia tidak berbalik. Ia tidak memiliki niatan untuk berbalik.

Malam telah tiba. Jinsol berdiri menatap bintang melalui jendela kamarnya. “Kenapa kau kembali saat aku sudah aku melupakanmu? Dimana kau saat aku berharap kau mencariku? Kau bahkan tidak mempedulikan masa depanku. Kau hanya mempedulikan dirimu sendiri. Kenapa kau kembali ke dalam kehidupanku? Apa alasanmu menanyakan anakku? Kau ingin merebutnya? Semoga itu tidak terjadi. Aku tidak ingin itu semua terjadi.” Jinsol bergumam sambil terus menatap bintang di langit.
“Nuna~” panggil seorang anak kecil dari belakang Jinsol. Jinsol segera berbalik dan memeluk anak kecil itu.
“Ada apa Sungjong? Dimana ayah dan ibumu?” Tanya Jinsol.
“Aku tidak bisa tidur… aku ingin tidur bersama nuna.” jawab anak itu sambil terus memeluk mainannya.

“Baiklah. Nuna akan menemanimu tidur. Jha.” Jinsol menggendog Sungjong dan membaringkannya di samping dirinya. Beberapa saat kemudian Sungjong dan Jinsol terlelap bersama-sama.

Sabtu, 16 April 2016

[Nappeun Namja Pt.3] New Life

Nappeun Namja Pt.3
New Life

Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol, Jung Yein, Lee Hoya
Genre   : Family, Happy (?), etc.
Length   : Chapter
Author   : Ms. Childish



“Ranking 1 pada hari ini. Diraih oleh seorang siswa yang sangat rajin dan terkenal di sekolah. Dan dia berencana untuk melanjutkan study-nya di Amerika. Mungkin siswa ini sudah tidak asing lagi di sekolah ini. Mari ucapkan selamat untuk Jeon Jungkook. Siswa yang selalu menduduki juara 1 disekolah.”
Jinsol bertepuk tangan malas sambil melihat wajah Jungkook. Air mata kini mengalir dari pelupuk matanya. Mengingat statusnya yang akan menjadi orang tua tunggal untuk anaknya. ‘Aku tidak akan menuntut apapun darimu Jungkook. Aku akan berdoa kepada Tuhan semoga kau selalu bahagia. Dan rasa sakit yang kau berikan, takkan pernah bisa aku lupakan. Kau adalah pria terjahat yang pernah aku kenal.’
“Ranking 2 tahun ini. Diraih oleh seorang siswi yang berbakat. Dengan setiap gerakan dance nya yang memukau dan juga suaranya indah. Berilah tepuk tangan untuk siswi kita yang bernama Lee Jinsol.” Jinsol kaget saat mendengar namanya disebut. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri berharap kakaknya akan datang. Ia menarik napasnya dalam-dalam kemudian berdiri dan melangkah ke atas panggung. Ia menerima piala yang diberikan oleh kepala sekolah. Jinsol tersenyum tipis. Di hatinya ia tidak ingin melihat wajah Jungkook. Dengan ekspresi wajah yang datar dan dingin, Jinsol berdiri di sebelah Jungkook.

Acara sudah selesai beberapa menit yang lalu. Jinsol melangkah keluar dengan piala di tangannya. Dengan wajah yang tampak sedih. Namun sesosok pria yang sangat dirindukannya tiba di hadapannya. Membuat senyumnya kembali mengembang. “Oppa!” teriak Jinsol sambil menghambur pelukan pada pria itu. “Oppa, bagaimana bisa kau datang ke Korea? Mana kakak ipar?” Tanya Jinsol.
“Kakak iparmu ada di rumah. Dia tidak bisa ikut.” Jawabnya.
“Oppa, aku bisa meraih juara 2 tahun ini. apa hadiahmu untukku? Apakah kau akan membelikanku mobil baru?” seru Jinsol sambil menunjukkan pialanya.
“Tidak. Aku akan membawamu ke Amerika. Oppa tidak yakin bisa meninggalkanmu di Korea.” Ujar pria itu sambil mengacak rambut Jinsol pelan.
“Baiklah oppa.”
“Ayo pulang. Mana kopermu? Aku akan membawakannya.”
“Tunggu dulu ya oppa. Aku harus mengatakan sesuatu pada seseorang. Oppa pergilah lebih dulu. Aku akan menyusul.” Ujar Jinsol. “Ah iya. Ini tolong bawakan pialaku juga.” Lanjutnya.

Jinsol berjalan menuju ruang latihan. Ia pergi menemui Taehyung disana. Dengan wajah sedihnya ia berjalan memasuki ruangan itu. “Taehyung oppa.” Panggil Jinsol pelan.
“Aku sudah tau semuanya. Aku tau kenapa kau datang kesini. Jungkook sudah memberitahuku. Kenapa? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku sebelumnya?! Kenapa?!” Taehyung mengguncangkan tubuh Jinsol sambil berteriak. “Jelaskan padaku!!” bentak Taehyung.
“Aku… aku tidak tau hal itu akan terjadi. Dan, seharusnya kau memarahinya bukan memarahiku. Karena dia yang memulainya lebih dulu. Dan apakah oppa tau apa yang dikatakannya saat aku mengatakan padanya kalau aku hamil? Dia menyuruhku menggugurkan kandunganku. Oppa. Aku mengerti perasaanmu saat ini. Kau pasti merasa jijik melihatku. Kau pasti tidak ingin melihatku lagi. Setelah hari ini. Aku akan pergi dari sini. Dan menjalani semua yang akan terjadi. Apapun itu. Aku akan melahirkan anak ini walau tanpa ayahnya dan tanpa ada sebuah pernikahan. Mulai saat ini dan seterusnya. Anggaplah kau tidak pernah mengenalku oppa.” Perlahan Jinsol berjalan mundur dan pergi meninggalkan Taehyung yang masih mematung. Gadis itu tidak meluapkan emosinya. Taehyung merasa kasihan pada Jinsol. Ingin dia menikahinya dan bertanggung jawab. Tapi bagaimana jika suatu saat Jungkook datang dan tiba-tiba sadar akan perbuatannya? Pikiran Taehyung kacau. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain merelakan Jinsol pergi.

Meet You Again

Jinsol dan kakaknya sudah sampai di rumah besarnya. Rumah yang Jinsol tinggalkan sejak ia tinggal di asrama. Jinsol menghempaskan tubuhnya di sebuah ranjang putih yang ada di kamarnya. Ia menatap ponselnya sekilas. Jinsol membuka ponselnya dan mengganti wallpaper nya dengan fotonya sendiri.
Tok tok tok
Jinsol mendengar suara ketukan pintu dari luar. Jinsol beranjak dari kasurnya dan membukakan pintu untuk orang itu. “Ada apa eonni?” Tanya Jinsol saat melihat kakak iparnya di depan pintu.
“Aku hanya ingin mengantarkan ini untukmu.” Ujar wanita itu sambil memberikan nampan yang berisi makanan diatasnya pada Jinsol. “Aku tau kau terlalu lelah untuk turun dan makan siang. Sebaiknya kau makan lalu panggil aku kalau sudah selesai. Jangan lupa istirahat.”
“Terima kasih eonni. Aku akan menghabiskannya.”
“Baiklah kalau begitu. Eonni masih ada pekerjaan. Selamat menikmati.”
“Ne eonni.” Jinsol memasuki kembali kamarnya setelah kakak iparnya pergi dari hadapannya. “Anakku. Kau pasti lapar. Tenang saja. Eomma akan memberikanmu makan yang enak setiap hari.” Gumam Jinsol sambil mengelus perutnya yang rata.

Hari demi hari berlalu begitu saja. Sudah lima bulan ia resmi lulus dari SOPA. Perutnya semakin membesar. Ia selalu menggunakan korset untuk menutupi kehamilannya. Asa takut dalam dirinya semakin besar. Bagaimana jika kakaknya tau kala dia hamil? Apa yang akan kakaknya lakukan? Apakah kakaknya akan mengusirnya? Ia sendiri bingung. Terkadang ia berpikir untuk memberitahu yang sebenarnya pada kakaknya. Namun tidak ada keberanian dalam dirinya untuk mengungkapkan itu.
“Jinsol? Kenapa kau melamun?” Tanya Hoya saat menyadari Jinsol sedang melamun dan tidak memakan makanannya.
“Kenapa kau tidak memakan makananmu? Kau sakit?” Tanya istri Hoya.
“T-tidak oppa, eonni. Aku baik-baik saja.” Jawab Jinsol sambil tersenyum kecut.
“Kau yakin baik-baik saja?” Tanya Hoya memastikan. Jinsol mengangguk lagi.

“Bagaimana aku bisa memberitahu oppa? Harusnya aku menggugurkan anak ini. Tapi aku tidak bisamembunuh anakku sendiri. Appa, Eomma. Mianhae. Aku tidak bisa menjadi anak yang baik. Kalian pasti sangat sedih. Tapi aku tidak ingin membunuh anak ini. Aku bukan seorang pembunuh.” Gumam Jinsol sebelum ia tertidur lelap.

Matahari sudah menjulang tinggi. Jinsol masih belum bangun dari mimpi indahnya.
“Apakah Jinsol belum bangun?” Tanya Hoya pada istrinya yang sedang menata makanan di atas meja.
“Kurasa belum. Aku akan membangunkannya.”
“Jangan. Kau selesaikan saja dulu pekerjaanmu. Biar aku yang membangunkannya.” Ujar Hoya sambil mengacak pelan rambut istrinya.

Sesampainya dikamar Jinsol, Hoya dikagetkan dengan sesuatu yang ada dihadapannya. Ia melihat Jinsol sedang mengusap perutnya yang membesar.
“Oppa?” Jinsol juga kaget saat oppanya tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.
“Apa-apaan ini Jinsol?!” Tanya Hoya geram. Jinsol terlihat kebingungan.
“Oppa aku bisa jelaskan ini.” Jawab Jinsol sambil mendekati oppanya.
“Bayi siapa itu?!” teriak Hoya.
“Ini… oppa. Maafkan aku.”
“Katakan padaku anak siapa itu?!” Bentak Hoya lagi sambil mengguncangkan tubuh Jinsol.
“Ada apa chagi? Kenapa kau berteriak?” Tanya istri Hoya yang baru tiba di kamar Jinsol.
“Apa itu anak dari seseorang yang bernama Taehyung itu?” Tanya istri Hoya pelan.
“Bu-bukan. Ini anak Jungkook oppa. Maafkan aku. Ini bukan salahku. Aku dipaksa oppa.” Jelas Jinsol sambil menangis.
“Jungkook? Siswa juara satu yang sangat berbakat itu?” Tanya istri Hoya. Jinsol mengangguk pelan.
“Dia sekarang pergi ke luar negeri. Aku tidak tau dia akan pergi ke mana.” Jelas Jinsol dengan suara pelan.
“Ikutlah denganku.” Ujar Hoya sambil menarik tangan adiknya keluar dari kamar.
“Oppa… kau akan membawaku kemana?” Tanya Jinsol.
“Gugurkan kandunganmu agar kita tidak menanggung malu. Kau tidak berpikir apa yang akan orang katakan saat melihatmu melahirkan tanpa suami?”
“Tidak oppa. Aku tidak akan menggugurkannya. Sampai kapan pun. Dia anakku. Kau tidak bisa membunuhnya oppa.” Jinsol memeluk perutnya sambil menangis.
“Chagi… Jangan paksa dia menggugurkan kandungannya. Aku yang akan membesarkannya. Aku akan membesarkannya sebagai anakku. Jangan membunuhnya. Cukup aku saja yang pernah kehilangan bayiku. Jangan melenyapkan bayi tidak berdosa itu. ku mohon…” pinta istri Hoya.
“Kau yakin? Baiklah. Aku tidak ingin menjadi pembunuh. Kita tidak bisa seterusnya tinggal disini. Aku akan mengurus kepindahan kita ke Amerika. Dan kita akan kembali lagi setelah anak itu sudah cukup besar.” Ujar Hoya.

1 Year Later

6 bulan yang lalu, Jinsol melahirkan bayi pertamanya. Bayi yang laki-laki yang sangat lucu. Ia memberinya nama Lee Sungjong. Ia berharap anaknya akan menjadi anak yang baik dan tidak seperti Jungkook. Ayahnya. Banyak harapan Jinsol pada Sungjong. Tepat saat Jinsol usai melahirkan, Hoya menyuruh Jinsol melanjutkan sekolahnya. Ia berencana mendaftarkan Jinsol di Universitas yang berada tak jauh dari rumah yang Hoya tempati dengan keluarganya. Setidaknya Jinsol bisa menyelesaikan sekolahnya. Jinsol mengiyakan rencana kakaknya. Jinsol juga berharap, ia akan menjadi seorang penyanyi terkenal diseluruh dunia.

4 Years Later

Acara wisuda telah selesai. Jinsol, Sungjong, Hoya dan istrinya duduk dalam sebaris kursi. Jinsol tersenyum senang sambil memangku Sungjong. Senyum Jinsol mengembang saat namanya di sebut sebagai pemenang juara 2 di universitas internasional tempatnya kuliah. Sungguh sebuah keberuntungan baginya. Sungjong membuatnya semakin bersemangat untuk belajar dan meraih cita-citanya sebagai pemusik. Namun sekarang, dia tidak lagi ingin menjadi seorang pemusik. Ia ingin menjadi seorang penyanyi terkenal di seluruh jagad raya.
“Oppa, terima kasih sudah merawat Sungjong dengan baik. Dan maafkan aku tidak bisa menjadi adik yang baik untukmu.” Ujar Jinsol sambil memeluk kakaknya.
“Nunaa… aku juga mauu…” rengek Sungjong dengan wajah lucunya.

‘Welcome to Seoul’
Jinsol tersenyum senang saat ia tiba di tanah kelahirannya. Setelah 5 tahun ia berada di Amerika bersama dengan kakaknya. Di depan, sudah ada sebuah mobil mewah yang menunggunya dan keluarganya. Ia pulang dengan membawa piala kebanggannya di kopernya. Tak jauh dari tempatnya berada saat ini, Jinsol melihat seorang wanita melambaikan tangan ke arahnya. Jinsol menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas wajah wanita itu. “YEIN!!” teriak Jinsol seketika. Jinsol berlari dengan cepat dan memeluk Yein dengan erat. “Aku merindukanmu Yein…”
“Kau terlihat semakin cantik. Ah iya. Kau tau Park Jimin? Teman kecil kita sekaligus tetangga yang dulu pernah menyatakan cinta padamu. Kau ingat?” Tanya Yein.
“Jimin yang imut-imut itu? Tentu saja aku ingat. Kenapa?”
“Kau tau? Sekarang dia menjadi seorang member boyband terkenal di Korea. Bahkan International. Mungkin.” Jelas Yein.
“Aku sudah tau itu.” Seru Jinsol dengan wajah cerianya. “Ah tunggu sebentar.” Ujar Jinsol sambil merogoh sakunya dan mengambil ponsel pink miliknya yang sudah berdering sejak beberapa detik yang lalu. “Oppa, aku akan pulang dengan Yein. Oppa pulanglah lebih dulu. Aku sudah meletakkan koperku di mobil. Aku tidak akan pulang terambat hari ini. Aku pastikan jam 2 aku sudah tiba di rumah. See you oppa. Jinsol mencintai Jongie.” Ujar Jinsol dengan cepat dan mematikan ponselnya.
“Kau masih sama seperti dulu. Kita mau kemana?” Tanya Yein.
“Tunggu dulu. Seseorang akan datang sebentar lagi.” Jinsol menahan tangan Yein dan melihat ke sekitarnya mencari seseorang yang akan datang menjemputnya. “Jimin!!” teriak Jinsol sambil melampaikan tangannya pada seseorang berkaca mata hitam dan memakai masker. Tidak jelas wajahnya tapi Jinsol bisa mengenal pria itu dengan baik. Seketika semua orang melihat kearahnya saat ia menyebutkan nama Jimin. “Ups!” Jinsol menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Seketika Jinsol menarik tangan Yein mendekati Jimin. “Sebaiknya kita mencari tempat yang aman untukmu Jimin.” ujar Jinsol saat tiba di dekat Jimin.

Disinilah mereka. Di sebuah rumah makan yang berada di dekat kota Seoul. “Bagaimana kabarmu Jinsolku?” Tanya Jimin sambil meminum jus pesanannya.
“Seperti yang kau lihat Jiminku.” Jawab Jinsol.
“Jiminku? Jinsolku? Kalian berpacaran?” Tanya Yein.
“Ssst… iya. Kami berpacaran sejak 2 tahun yang lalu. Maaf aku tidak memberitahumu.” Jawab Jimin.
“Um… Jinsol. Aku harus pergi dulu. Aku tidak bisa berlama-lama disini. Nanti managerku akan marah. Jimin. Tolong kau antar dia pulang nanti. Sampai jumpa.” Pamit Yein. Ia pergi meninggalkan Jimin dan Jinsol.
“Ne. Hati-hati dijalan Yein.” Ujar Jinsol.
“Umm… Jinsol. Apa besok kau ada waktu kosong? Aku ingin membawamu ke Dorm. Aku akan mengenalkanmu pada member BTS yang lain.” Ujar Jimin.
“Kurasa besok aku free. Karena jadwal syutingku masih minggu depan. Aku akan ikut. Tapi… bolehkan aku membawa Sungjong?”
“Kau ingin membawa Sungjong? Lalu siapa yang akan menjaganya?” Tanya Jimin.
“Kurasa Taehyung oppa bisa menjaganya dengan baik. Dia kan suka anak kecil.” Jawab Jinsol sambil tersenyum.
“Kau masih menyukai Taehyung? Katakan saja kalau kau gagal move on darinya.” Jimin terlihat kesal saat Jinsol menyebutkan nama Taehyung di hadapan Jimin.
“Apa salahnya hanya menitipkan Sungjong pada Taehyung? Aku hanya mencintaimu kau tau? Jangan pernah berpikiran seperti itu lagi Jimin. aku hanya mencintaimu. Hanya kamu. Kamu. Dan kamu.” Jinsol menggenggam tangan Jimin sangat erat sambil menunjukkan senyum manisnya yang selalu membuat Jimin tersepona setiap kali melihatnya.

Next Day
Pagi ini Jinsol terlihat sangat cantik dengan dress pink selutut miliknya. Dengan sepatu berwarna putih dan dengan riasan wajah yang terlihat natural. Dari jendela kamarnya ia melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Jinsol segera meraih ponselnya dan mengirimi Jimin sebuah pesan agar Jimin meminta ijin pada oppanya. Beberapa saat kemudian kakak ipar Jinsol memanggilnya untuk turun menemui Jimin. Dengan wajah penuh senyuman Jinsol segera mendekati oppanya.
“Pergilah.” Ujar Hoya.
“Benarkah? Terima kasih oppaaa” Jinsol segera menghamburkan pelukannya pada Hoya. “Ayo Sungjong. Oppa aku berangkat.” Pamit Jinsol.

Dorm BTS
Beginilah suasana dorm. Ramai. Gaduh karena semua member sedang berkumpul. Ditambah lagi hari ini mereka bebas dari segala kegiatan. Jinsol sedang berjalan disamping Jimin sedangkan Sungjong sedang digendong oleh Jimin.
“Ini ruang latihan BTS. Kau akan bertemu dengan member BTS disini.” Ujar Jimin pada Sungjong. Perlahan Jimin membuka pintu itu dan nampaklah semua orang yang sedang bersenda gurau di dalamnya.
“Jimin datang.” Ujar salah satu member BTS.
“Anak keciiil!” Ujar taehyung sambil meraih Sungjong dari gendongan Jimin. Ia segera membawanya berkumpul bersama member yang lain. Jungkook terlihat sangat menyukai balita itu. Ia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa ia ungkapkan melalui kata-kata pada anak itu.
“Mber. Aku ingin mengenalkan pacarku pada kalian.” Ujar Jimin. “Jinsol.”
Mendengar nama ‘Jinsol’ Jungkook terhenti dengan kegiatannya. Ia berharap itu bukan Jinsol yang dulu pernah ia perkosa di sekolah.

Jinsol perlahan memasuki ruangan itu dan langkahnya terhenti saat ia melihat Jungkook. ‘Jungkook?’ ujar batin Jinsol.

Senin, 04 April 2016

Because I Born To Be Yours Part 6


Title             : Because I Born To Be Yours Part 6
Main Cast    : MyungYeon Couple
Other Cast   :
-          Park Hyojoon as Jiyeon appa
-          Han Jimin as Jiyeon eomma
-          Kim Sunggyu (Infinite) as Myungsoo appa
-          Song Jihyo as Myungsoo eomma
-          Nam Woohyun (Infinite) as Gyuri appa (Jiyeon appa)
-          Jung Eunji (Apink) as Gyuri eomma (Jiyeon eomma)
-          Nam Gyuri as Jiyeon’s friend and Jiyeon-i dongsaeng
-          Lee Joon (MBlaq) as Myungsoo’s asisten
-          JB / Im Jae Bum (GOT7) as Jiyeon’s friend
-          Henry Lau (Super Junior M) as Jiyeon’s friend
Genre          : Married Life, School Life, and other
Rate             : 17+
Length         : Part
Author         : Nam Ohyun

Kandungan Jiyeon sudah berusia 8 bulan. Satu bulan lagi dia akan melahirkan. Hari ini Jiyeon akan memeriksakan kandungannya ke rumah sakit. Ia mengajak Myungsoo, namun Myungsoo sedang sibuk. Jiyeon terus memaksa agar Myungsoo mau mengantarnya.
“Apakah pekerjaan itu lebih penting dariku dan calon anakku? Atau kau sudah tidak sayang lagi padaku dan anakku?”
“Mwo? Anakmu? Yak!! Itu anakku juga. Aku yang membuatnya. Kalau bukan karena aku kau tidak akan hamil.” Mendengar itu, mata Jiyeon menjadi berkaca-kaca dan akhirnya ia pergi meninggalkan ruangan Myungsoo sambil meneteskan air matanya. “Ya!! Chagi… Maksudku tidak seperti itu. Ya! Ya! Ya!” panggil Myungsoo sambil berteriak. “Lee Joon-a, tolong kau hentikan Jiyeon sekarang. Katakan aku akan mengantarnya.” Ujar Myungsoo melalui sambungan teleponnya. Ia berjalan tergesa-gesa menyusul Jiyeon. Myungsoo sedikit berlari sesampainya di parkiran. Ia melihat Jiyeon yang sedang menangis di dalam mobil. Myungsoo membuka pintu mobil dan mengambil alih kursi kemudi. “Chagi mianhae…” ujar Myungsoo sambil menggenggam tangan Jiyeon. Namun dengan segera Jiyeon menyingkirkan tangannya dari genggaman Myungsoo. “Chagi… aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Jangan marah ne…” ujar Myungsoo. Jiyeon mengalihkan pandangannya menghadap ke luar jendela.
∞∞∞
Mereka telah sampai di depan sebuah rumah sakit. Jiyeon masih marah dengan Myungsoo. Namun perlahan, saat Jiyeon mulai melangkah masuk ia tiba-tiba memeluk lengan Myungsoo. Entah ia hanya ingin terlihat seperti pasangan romantic atau memang itu keinginannya sendiri.
Kini nama Jiyeon telah di panggil. Jiyeon dan Myungsoo melangkah memasuki ruangan dokter yang memang dokter tersebut dulunya adalah teman kuliah Myungsoo. Selang beberapa menit kemudian Myungsoo dan Jiyeon akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit. “Kau mau pulang, atau pergi kerumah orang tuamu?” Tanya Myungsoo santai sambil melihat kearah Jiyeon sekilas.
“Kemana saja asal aku tidak kesepian disana.” Jawab Jiyeon.
“Baiklah, aku akan mengantarmu ke rumah orang tuamu. Disana ada Gyuri yang mau menemanimu.”
∞∞∞
Night
Jiyeon dan Myungsoo kini tengah tertidur. Tiba-tiba saja Jiyeon terbangun dan pergi ke dapur. Ia melangkah mendekati kulkas. Ia mencari sesuatu disana, namun sesuatu yang dicarinya tidak ada disana, dan tidak akan ada disana. Ia kemudian kembali ke kamarnya dan membangunkan Myungsoo. “Oppa… aku ingin Shushi…” ujar Jiyeon. Myungsoo hanya mengeluarkan sebuah lenguhan pelan, tanda bahwa ia baru tersadar dari tidurnya. “Oppa belikan aku shushi…” rengek Jiyeon lagi.
“Ini masih tengah malam chagi… besok saja yah…” Myungsoo mengusap pelan rambut Jiyeon.
“Tapi aku maunya sekarang.”
“Besok aku belikan kamu shushi yang banyak.”
“Ya sudah lah. Aku akan mencarinya sendiri.” Jiyeon berjalan mendekati lemari pakaiannya dan mengambil mantel cokelat. Myungsoo yang melihat itu segera bangun dan menahan tangan Jiyeon agar tidak pergi.
“Chagi, ini masih tengah malam. Besok aku akan membelikanmu shushi.”
“Lepaskan aku oppa. Kau memang tidak pernah sayang padaku dan anakku. Atau kau menikahiku kembali hanya karena kau kasihan padaku? kau hanya tidak ingin anak ini terlahir tanpa ayah. Dan kau-”
“Chagi!” bentak Myungsoo menghentikan ucapan Jiyeon. “Aku mencintaimu. Tulus. Aku menikahimu kembali karena aku masih mencintaimu.” Lanjut Myungsoo lembut. Ia menatap mata Jiyeon. “Aku akan membelikanmu shushi sekarang. Tunggulah hingga aku kembali.” Ujar Myungsoo. Ia mengambil mantel hitamnya dan menyambar kunci mobilnya.
∞∞∞
“Dimana ada orang menjual shushi? Lagi pula ini tengah malam. Ah iya. Tadi kan eomma bilang ia sedang membuat shushi. Sebaiknya aku menghubungi eomma agar aku tidak perlu mencari jauh-jauh.” Gumam Myungsoo sambil melajukan mobilnya menuju kediaman appanya.
“Eomma!!!” teriak Myungsoo dari luar pintu. Ia berteriak beberapa kali hingga akhirnya pintu itu terbuka.
“Tuan Myungsoo? Ada apa tengah malam begini datang kesini?” Tanya seseorang disana.
“Apakah shushi yang eomma buat tadi masih ada? Jiyeon sedang menginginkan shushi.” ucap Myungsoo.
“Ada. Sebentar saya ambilkan dulu.” Wanita itu berjalan menuju ke arah dapur dan mengambil semua shushi yang dibuat nyonyanya tadi. “Ini tuan. Semoga nyonya Jiyeon menukainya.” Ujar wanita itu sambil memberikan rantang berisi shushi. Myungsoo segera berpamitan dan kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, Myungsoo melihat Jiyeon sedang duduk memeluk lututnya.”Oppa? kenapa lama sekali?” tanyanya. Tampak sekali bahwa yeoja itu tengah khawatir.
“Kau kenapa hm? Aku membawakanmu shushi yang kau minta.” Jawab Myungsoo sambil mengangkat rantang yang dibawanya dari rumah orang tuanya. Myungsoo berjalan mendekati Jiyeon di kasurnya dan meletakkan rantang itu di nakas. Jiyeon segera memeluk Myungsoo saat Myungsoo sudah berada dekat dengannya. Jiyeon menangis dalam pelukan lembut suaminya itu. Myungsoo mengusap rambut dan penuh kasih sayang. “Kau kenapa hm? Kenapa menangis?” Tanya Myungsoo.
“Aku ingin berada di sampingmu oppa. Jangan tinggalkan aku lagi. Aku takut sendirian disini.”
“Kau tidak sendirian. Kan masih ada Lee Joon dan ahjumma.”
“Tapi aku ingin bersamamu.”
“Baiklah. Aku tidak akan pergi lagi. Sekarang kau tidur. Ini masih tengah malam.” Myungsoo membaringkan Jiyeon kemudian menaikkan selimutnya hingga menutupi dada Jiyeon.
∞∞∞
^6 Years Later^

“Daddy!” panggil kedua anak kembar sambil berlari menuju orang tuanya.
“Uuh… jagoan daddy. Bagaimana hari ini?” Tanya Myungsoo sambil menggendong anak laki-lakinya yang bernama Kim Taehyung itu.
“Tadi temanku memukul Taehee. Tapi aku melindunginya daddy.” Jawab anak itu dengan suara imutnya.
“Daddy tidak menanyaiku? Daddy tidak sayang padaku?” Tanya anak perempuan Myungsoo. Namanya Kim Taehee. Saudara kembar Taehyung. Myungsoo segera merendahkan dirinya dan menggendong Taehee di sebelah kirinya. “Princess daddy sepertinya sedang cemburu dengan kakaknya sendiri. Bagaimana sekolahmu hari ini?” Tanya Myungsoo pada Taehee.
“Aku tadi bernyanyi bersama V oppa di depan kelas. Ibu guru memberiku ini.” ujar Taehee sambil menunjukkan sebuah jepit rambut yang sangat indah pemberian gurunya.
“Anak-anak daddy mau pulang atau makan dulu?”
“Kami ingin pulang. Kami merindukan mommy.” Jawab kedua anak manis itu bersamaan.
“Baiklah, ayo kita pulang.” Myungsoo pergi menuju mobilnya dan membawa putra putrinya pulang.

“Mommy!” seru Taehee dan Taehyung bersamaan saat tiba di rumah.
“Waah anak-anak mommy sudah pulang? Kalian sudah makan?” Tanya Jiyeon sambil mengusap kedua ujung kepala anak-anaknya. Kedua anak itu menggeleng. “Kami ingin makan masakan mommy.” Jawab keduanya bersamaan. Anak kembar yang menggemaskan, imut, lucu, tampan dan cantik. “Baiklah kalau begitu. Kalian ganti baju dulu ya. Mommy akan menyiapkan makan siang untuk kalian.” Jiyeon tersenyum sambil menatap kepergian anak-anaknya yang sedang menuju ke kamarnya.
“Istri yang hebat. Terima kasih.” Ujar Myungsoo sambil mencium pipi istrinya.
“Aku akan menyiapkan makan siang untuk kalian.”

∞∞∞
             Malam telah tiba. Jiyeon sedang menemani Taehee dan Taehyung tidur. Myungsoo memasuki kamar putra putrinya untuk memastikan kalau Jiyeon tidak tidur bersama mereka. Myungsoo selalu saja cemburu jika Jiyeon tidur bersama putra putrinya. Jiyeon mengisyaratkan pada suaminya untuk tidak bersuara. Beberapa detik kemudian ia turun dari tempat tidur Taehee dan Taehyung. Saat Myungsoo dan Jiyeon tiba di luar, Myungsoo segera menggendong Jiyeon dan membawanya ke kamarnya.
“Terima kasih sudah memberikan aku putra dan putri yang cantik, tampan, imut dan lucu.” Ujar Myungsoo sambil membaringkan Jiyeon di tempat tidurnya.
“Sama-sama suamiku.” Jawab Jiyeon.
“Kau ingin membuatkanku dua anak kembar lagi?” Tanya Myungsoo. Sedetik kemudian ia mencium bibir Jiyeon dan menyentuh istrinya lebih dalam.

-END-