Tampilkan postingan dengan label Oneshoot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oneshoot. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2016

You Are My Wife

You Are My Wife

Cast      : Kim Jungyeon, Park Jimin.
Genre   : NC, Married Life
Length   : One shoot
Author   : Ms. Childish

Jungyeon POV

“Pakaian ini menyusahkanku.” Umpatku sambil berjalan menuju rumah baruku bersama seorang pria yang sudah sah menjadi suamiku sejak beberapa jam yang lalu. Usiaku memang masih muda. Bahkan terlalu muda untuk menikah. Yah, kalian pasti ingin tau kenapa menikah dengannya.

Beberapa tahun yang lalu saat usiaku masih balita, aku dijodohkan dengan putra dari sahabat ayahku. Aku mengetahui hal itu karena ayah yang menceritakannya padaku saat pertama kali ayah tau aku memiliki kekasih. Usia kami tidak berbeda jauh. Hanya berbeda 5 tahun. Dia sendiri saat ini sudah bekerja. Meneruskan perusahaan ayahnya sebagai presiden direktur. Dia sangat tampan, tinggi yaah walau tidak setinggi pria lainnya, dan… sexy. Kata yang cocok untuknya.

“Aku mau mandi dulu. Kau pasti lelah. Sebaiknya kau tidur duluan.” Ucapku sambil berjalan menuju kamar mandi. Namun beberapa detik kemudian dia menarik tanganku dan memelukku dengan sangat erat.
“Apa kau ingin melewati malam pertama kita? Mungkin kita bisa melakukanya setiap malam. Tapi malam pertama hanya terjadi sekali dalam sebuah pernikahan. Apa kau yakin akan melewati malam pertama ini denganku?” ujarnya. Ia masih memelukku dengan erat. Sungguh ini membuatku sangat risih. Aku tidak nyaman dengan perkataannya. Tapi ibu bilang aku tidak boleh menolak permintaan suamiku. Apapun yang ia minta aku harus menurutinya. Kenapa? “Yeon? Jawab aku.” Ujarnya memanggilku sambil mengusap punggungku pelan. Aku semakin risih.
“Ba-baiklah.” Jawabku terbata-bata. Sungguh aku sangat gugup. Badanku gemetar dan jantungku berdetak semakin cepat. Ini pertama kalinya bagiku.

Sebuah ciuman kini mendarat di bibirku. Bibir tebalnya menyapu bibirku. Aku dapat merasakan hisapan lembutnya terhadap bibir atasku. Ini benar-benar membuat jantungku terasa ingin lepas. Entah sejak kapan aku sudah berada dibawahnya dengan tanpa busana. Aku tidak menyadari semua yang terjadi. aku seakan terbuai dengan setiap perlakuannya. Beberapa saat kemudian aku merasakan bibirnya sudah tidak lagi menempel pada bibirku. Namun jaeak kami masih begitu dekat.
“Kau siap?” tanyanya meyakinkanku. Entah apa itu maksudnya aku tidak mengerti. Benar. Sejauh ini yang aku tau hanya sebatas ciuman. Aku tidak mengerti tentang hal ini.
“Akh!” aku menjerit saat merasakan ada sesuatu yang masuk bagian kewanitaanku. Ini benar-benar sakit. Aku merasakan ada sesuatu yang sobek di dalam sana. Entah apa itu, tapi ini benar-benar sakit. Air mataku mengalir, aku meringis kesakitan sambil memejamkan mataku kuat-kuat.
“Tahanlah Yeon. Ini hanya sesaat. Percayalah padaku kau akan menikmatinya setelah ini.” suara Jimin tidak terlalu jelas di telingaku. Aku hanya bisa menahan rasa sakit itu. Aku bahkan mencengkeram punggung suamiku untuk melampiaskan rasa sakitku. Ini sangat sakit. Suamiku mencoba meredam rasa sakitku dengan menciumku. Perlahan aku mersakan ia mulai menggerakkan pinggulnya pelan-pelan. Sakit. Sangat sakit. Namun seiring berjalannya waktu rasa sakit itu mulai berkurang dan berubah menjadi suatu kenikmatan yang mebuatku selalu menginginkannya. Hingga akhirnya kami mencapai puncak dari perminan ini. “Aku mencintaimu Yeon.” Dia mencium bibirku singkat dan menaikkan selimut untuk menutupi tubuh telanjang kami yang basah dengan keringat.
“Aku juga Jimin oppa.” Jawabku seraya memeluknya. Ini akan menjadi malam yang takkan terlupakan sepanjang hidupku.

Sinar matahari menembus kaca kamar pengantiku hingga membuatku silau. Aku menoleh kesamping kananku. Kosong. Aku mencari Jimin di sekeliling sudut tanpa menggerakkan tubuhku. “Akh!” aku memekik pelan saat aku merasakan sakit yang luar biasa di bagian bawah tubuhku. Aku bahkan lupa kalau saat ini tubuhku hanya ditutupi selimut tebal.
Ceklek
Aku dapat mendengarnya. Suara pintu terbuka dan menampakkan sosok pria tampan yang berotot dan… tampan.
“Kau sudah bangun? Aku membuatkan sarapan untukmu. Mandilah.” Aku tersenyum saat melihatnya mendekatiku. Sungguh ini seperti mimpi. Namun aku menggeleng saat ia menyuruhku mandi. Bagaimana bisa aku mandi? Berjalan pun rasanya aku tidak mampu. “Kenapa? Kau harus mandi.” Lagi-lagi aku menggeleng. Bagaimana aku mengatakannya? Aku malu. Tidak. Aku tidak boleh malu. Dia suamiku.
“Umm… itu… bekas semalam…” ujarku terputus-putus. Bagaimana aku mengatakannya?
“Oh… masih sakit kah? Baiklah. Aku akan membantumu ke kamar mandi.” Jimin menggendongku! Oh tidak! Pipiku terasa panas saat ia mulai mengangkatku dan membawaku ke toilet. “Panggil aku kalau kau sudah selesai.” Aku hanya mengangguk menurutinya.

Sudah seminggu kami menikah. Rasanya baru kemarin aku menikah. Dan sekarang sudah hari ke 7. Hari ini dia sudah kembali bekerja. Dan sepertinya waktuku dengannya akan semakin berkurang dan aku akan selalu merindukannya. “Aku berangkat dulu. Jaga dirimu baik-baik ya.” Pamitnya sambil mencium dahiku.
“Cepatlah pulang oppa. Jangan nakal.” Aku mencubit hidungnya. Sungguh menggemaskan. Aku tidak pernah berpikir akan mendapatkan jodoh sebaik dia.
“Aku tidak nakal. Ya sudah. Aku berangkat. Sampai jumpa.” Jimin pun pergi bekerja.

Hari ini adalah hari ke 30 kami menikah. Terasa begitu cepat. Siang ini aku berencana membawakannya makan siang khusus buatanku. Aku berharap dia akan menyukainya. Saat ini aku sudah berada di depan perusahaan suamiku. Aku mencoba menghubunginya sebelum aku sampai. Dia tidak mengangkat panggilanku. Berkali-kali aku menghubunginya namun tetap saja tidak dijawab. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk datang ke kantornya tanpa berpikir panjang. Sesampainya di depan ruangan Jimin aku melihat tempat sekretaris suamiku kosong. Mungkin dia sedang ada urusan di dalam. Aku mengetuk pintu kantor suamiku. Tidak ada jawaban dan tidak ada juga yang membuka pintu. Aku memutar kenop pintu itu. “Tidak dikunci. Kenapa aku mengetuknya? Aku bodoh.” Rutukku pada diriku sendiri. Aku segera masuk dan betapa kagetnya aku saat aku melihat pakaian wanita berserakan dilantai. Aku juga mendengar sesuatu. Seperti desahan seorang wanita. Dan… dia menyebut nama suamiku? Ada apa ini? Aku melangkah keluar dan membanting pintu. Ku harap Jimin akan mendengar suara pintu itu dan segera keluar. Aku meletakkan rantang yang kubawa di meja sekretaris dan segera pergi.

Aku pergi dari kantor itu. Entah mau kemana aku sekarang. Aku tidak ingin pulang. Aku tidak ingin pulang kemana pun. Tapi aku tidak bisa terus berada diluar rumah. Baiklah. Aku putuskan untuk pulang.

Sesampainya dirumah, aku segera menuju kamarku dan duduk dilantai bersandar pada tempat tidur serta memeluk lututku.
Drrrttt… Ddrrttt….
Ponselku bergetar. Aku mengambilnya dan melihat nama pemanggil. ‘suamiku’ cih. Apakah dia suamiku? Dia bahkan bercinta dengan sekretarisnya sendiri. Aku mengubah nama kontak suamiku menjadi ‘Jimin’ nama yang apa adanya. Aku meletakkan kembali ponselku dan membiarkannya bergetar. Aku menangis, tentu saja. Siapa yang tidak sakit hati jika melihat suaminya bercinta di hadapan istri sahnya? Atau selama ini aku hanya dianggap sebagai pemuas sexnya?

Jimin POV

Saat ini aku sedang menikmati tubuh sexy sekretarisku. Tapi sungguh. Tubuh istriku jauh lebih merangsangku daripada wanita ini.
Jedorr!!!
Suara pintu itu mengagetkanku. Siapa yang menggangguku saat aku sedang bercinta seperti ini? ah? Apakah pintu itu tidak terkunci sejak tadi? Bagaimana jika pegawaiku melihatku? Aku segera melepaskan kontak kami dan aku kembali berpakaian dan melemparkan pakaian sekretarisku. Aku berlari keluar dan menemukan sebuah rantang makanan. Aku segera membukanya. “Yeon? Apakah tadi itu dia? Tidak. Bagaimana bisa dia datang tanpa mengabariku?” gumamku. Aku segera mengambil ponselku dan melihat 10 panggilan tidak terjawab. Dan semuanya dari istriku. Aku mencoba menghubungi istriku. Tidak dijawab. Aku berjalan keluar dan mencari istriku. Mungkin saja ia masih diluar. Tapi tidak. Dia sudah tidak disana. Aku segera menuju perkiran dan mencarinya di rumah.
“Yeon!” teriakku sambil membuka setiap pintu ruangan di rumahku.
“Yeon!” aku membuka pintu kamarku dan disanalah dia berada. Memeluk lututnya dan memendam kepalanya diatara lututnya. Aku dapat mendengar tangisannya. “Yeon…” panggilku lembut.
“JANGAN SENTUH AKU! KAU BUKAN SUAMIKU! MULAI SEKARANG KAU BUKAN LAGI SUAMIKU!” bentaknya sambil menghempaskan tanganku yang barusan menyentuhnya.
“Yeon. Maafkan aku.”
“TIDAK! AKU TIDAK BISA MEMAAFKANMU! SELAMA INI AKU MEMANG BODOH! AKU HANYA KAU ANGGAP SEBAGAI PEMUAS SEXMU! AKU TIDAK PERNAH ADA DIHATIMU! MULAI SAAT INI KITA BUKAN LAGI SUAMI ISTRI! KITA AKAN SEGERA BERCERAI!”
“Yeon. Maafkan aku. Aku berjanji padamu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Aku hanya mencintaimu. Dan kau bukan hanya pemuas nafsuku. Kau istriku. Penghuni hatiku. Percayalah padaku.”
“JANGAN SENTUH AKU! SEKALI KAU MENYENTUHKU AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN DIRIKU HIDUP!!!” lagi-lagi dia berteriak. Aku mencoba untuk tidak terbawa dengan emosiku.
“Baiklah. Tidak ada maaf untukku. Aku menerima semuanya. Lakukanlah apapun yang kau inginkan. Ini memang salahku. Silahkan. Jika kau ingin selingkuh juga. Aku tidak akan melarangmu untuk melakukannya.” aku menunduk. Aku dapat mendengar tangisan Jungyeon yang semakin menjadi. Aku memang pria tidak berperasaan. Harusnya aku tidak melakukannya. Harusnya aku hanya melakukan hal itu dengan istriku. Aku salah. Maafkan aku Yeon.

SKIP

Sudah hampir seminggu Jungyeon tidak menyapaku. Tidak membuatkan sarapan. Tidak mencuci bajuku. Bahkan tidur pun terpisah. Aku sering melihatnya pulang tengah malam. Apa yang ia lakukan? Aku tidak bisa focus pada pekerjaanku. Sejak tadi aku hanya memikirkan Jungyeon. Memikirkan apa yang ia lakukan di luar sana. Pergi pagi dan pulang tengah malam. Haruskah aku mencari tau? Yah, mungkin itu perlu. Aku segera pergi dari kantorku. Pulang. Itu yang aku pikirkan sebelum aku memutuskan untuk pergi mencari Jungyeon.
“Sekretaris Han, hari ini aku ijin. Jika ada yang menanyaiku katakan saja aku sedang ada urusan pribadi.” Pamitku pada sekretaris baruku.
“Ne sajangnim.”

Aku baru saja sampai di depan rumah. Aku segera masuk dan aku melihat sepasang sepatu pria di depan pintu masuk. Aku mempercepat langkahku dan aku menemukan Jungyeon sedang berciuman dengan pria itu. Lancang sekali pria itu menyentuh istriku. Aku mengepalkan kedua tanganku dan segera menjauhkan pria itu dari Jungyeon. Aku memukulnya beberapa kali. “Beraninya kau mencium istriku!” aku memukulnya lagi. Emosiku benar-benar tidak bisa ku kendalikan lagi.
“Jimin?” aku dapat mendengar suara Jungyeon saat aku berhenti memukuli pria itu.
Aku melihat Jungyeon menghampiri pria itu dan membantunya berdiri.
“Bangunlah. Maafkan aku.” Ujarnya pada pria itu. “Aku akan mengobati lukamu di kamar.”
“JUNGYEON!!!” bentakku saat Jungyeon menuntun pria itu menuju ke kamarnya. Istriku mengabaikanku. Seperti inikah perasaannya saat ia melihatku berhubungan intim dengan sekretaris lamaku? Aku benar-benar bodoh.

Tak lama setelah kejadian tadi, Jungyeon dan laki-laki itu keluar dari kamar. Jungyeon mengantarnya hingga depan pintu. Aku menghampiri Jungyeon saat pria itu pergi dari rumahku. Aku menarik Jungyeon ke dalam pekukanku. “Maafkan aku.”
“LEPASKAN AKU!” bentaknya sambil menjauhkan dirinya dari pelukanku.
Aku memeluknya kembali dengan sangat erat. Aku dapat merasakan ia memberontak. Namun setiap kali ia berusaha melepaskan diri aku semakin mempererat pelukanku. “Jungyeon maafkan aku. Aku tau. Aku sudah merasakan semua rasa sakit yang kau rasakan saat itu. Sudah cukup jang dilanjutkan lagi. Sampai kapan kau akan marah padaku? sampai kapan kau akan menyakitiku? Aku sudah tidak berhubungan dengan sekretarisku. Aku bahkan memecat sekretarisku setelah kejadian itu. Maafkan aku. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu. Seperti saat kita masih belum menikah. Maafkan aku.”
“Oh begitu. Jadi jika aku tidak datang ke kantormu saat itu dan mengetahui semuanya kau masih akan terus berselingkuh dengan wanita lain? Kau brengsek Jimin. Jangan dekati aku lagi. Aku tidak ingin melihatmu lagi.” Kenapa ini begitu menyakitkan? Aku sudah meminta maaf padanya. Apakah aku harus melakukan hal yang lebih dari ini? mungkin jika aku melakukannya lagi dia akan bersikap baik padaku dan memaafkanku.
“Benarkah begitu? Apakah setelah ini kau masih tidak akan memaafkanku?” Ucapku sambil menggendongnya ke kamarku. Aku dapat melihatnya terkejut. Ia meronta tapi aku terus membawanya hingga sampai di kamarku. “Aku tidak akan pernah melepaskanmu Yeon.” Aku membaringkannya di kasurku dan menciumnya dengan kasar. Tidak butuh waktu lama. Ia pun membalas ciumanku. ‘Aku tau kau juga menginginkannya Yeon. Aku merindukanmu. Aku merindukan masakanmu dan semuanya.’

SKIP

“Huweek…” samar-samar aku mendengar suara seseorang sedang mual. Aku beranjak dari tidurku dan memakai pakaianku yang tersebar di kamarku. “Huweeek…” aku mendengarnya lagi. Ada apa dengan Jungyeon? Mungkinkah….
“Chagi…” aku memeluk Jungyeon dari belakang. “Aku sangat senang.”
“Apa maksudmu?” tanyanya. Ia sepertinya tidak megerti.
“Sepertinya kau hamil.” Jawabku sambil terus memeluknya.
“Ha-hamil? Be-benarkah itu?” Jungyeon terlihat seperti ketakutan.
“Itu hanya dugaanku. Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit saja dan memeriksakannya dengan benar.”

“Bagaimana keadaannya dokter?” tanyaku saat dokter itu selesai memeriksa istriku.
“Usia kandungannya sudah berjalan 3 minggu. Mual-mual saat awal kehamilan itu wajar. Dan jika istri anda akan meminta sesuatu tolong berikan saja.”
“Be-benarkah aku hamil?” Jungyeon menangis. Kenapa? Apakah dia bahagia? Atau dia belum siap menjadi seorang ibu?
“Iya nyonya Park. Anda harus memeriksakan perkambangan kandungan anda setiap bulan bersama Tuan Park.” Jelas dokter itu.
“Baiklah kalau begitu terima kasih dokter.” Aku berpamitan dan membawa Jungyeon pergi.
Sampai di mobil aku masih melihatnya menangis. aku memberanikan diri untuk bertanya padanya. “Kau kenapa?”
“Oppa. Aku tidak mau hamil.” Jawabnya.
“Wae? Kau belum siap menjadi ibu?” tanyaku lagi.
“Huum. Aku tidak mau menjadi gendut lalu kau mencari wanita lain. Hiks…” yaampun. Istriku benar-benar polos.

“Bagaimana bisa seperti itu? Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji. Lagi pula itu juga hasil perbuatanku sendiri. Aku berjanji padamu. Aku akan menghabiskan waktu bersamamu dan calon bayi kita. Aku mencintaimu Jungyeon.”

Lollipop

Lollipop

Cast      : Jinsol, Wonwoo, Kei, Tzuyu, Sinbi, Somi, Yerim, etc.
Genre   : School life, Friendship
Length   : Oneshoot
Author   : Ms. Childish

Cerita ini aku ambil berdasarkan pengalaman pribadiku. Tapi tidak di endingnya. Ku harap aku tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. Maaf kalau alurnya terlalu cepat dan feelnya kurang dapet. Happy reading -_^ -Author-

“Selamat pagii…” sapa seorang gadis mungil saat ia sampai di kelasnya. Gadis itu dikenal sebagai gadis yang sangat ceria dan kekanak-kanakan. Senyumnya tak pernah luntur. Siswi kelas 1 SMA itu bernama Jinsol. Seharusnya ia kelas 2 SMA tahun ini. Tapi karena ia berhenti dari sebuah sekolah berasrama sebelum ujian kenaikan kelas, ia harus mengulang semua dari awal. Dengan teman baru dan suasana yang baru. Stop. Kita lanjutkan ceritanya.

“Chagi. Ayo ke perpus.” ajak Jinsol kepada 3 sahabatnya. Tzuyu, Sinbi, dan Somi. Diantara ketiga sahabatnya, Jinsol sangat akrab dengan Tzuyu. Saat ada pekerjaan kelompok, mereka selalu bersama.
“Chagi. Tugas bahasa inggrisnya bagaimana? Kau ingin mengerjakannya di rumahku atau dimana?” Tanya Sinbi sambil terus berjalan menuju perpustakaan.
“Entahlah. Kau tau sendiri bukan? Orang tuaku tidak pernah mengijinkanku keluar.” Garis bawahi ini. Jinsol tidak pernah diijinkan keluar rumah dengan siapa pun kecuali orang tuanya. Menyedihkan bukan? Entah karena alasan apa orang tuanya tidak mengijinkannya keluar. Jangankan untuk bepergian. Ke rumah tetangganya pun ia tidak diijinkan.
“Baiklah. Kita kerjakan tugasnya di rumahmu saja.”
“Selamat pagi saem.” Sapa Jinsol saat ia memasuki ruang perpustakaan. Sepi. Selalu begitu. Karena perpustakaan dianggap sebagai tempat membosankan. Berbeda dengan Jinsol dan kawan-kawan. Bagi mereka, perpustakaan adalah tempat yang sangat nyaman untuk bersantai saat istirahat maupun saat jam kosong.
“Jinsol Jinsol!” seru Somi saat ia baru masuk ke dalam perpustakaan.
“Apasih Somi? Jangan menggangguku.” Jawab Jinsol kesal.
“Ikut aku.” Somi menarik lengan Jinsol dan membawanya keluar menemui seorang siswa kelas 3.
“Apa?” Tanya Jinsol sadis.
“Ini kan sunbae?” Tanya Somi. Sunbae itu mengangguk. Ia menyuruh Somi masuk dan meninggalkan Jinsol berdua dengannya. Namun tangan Jinsol menahan Somi untuk tetap bersamanya.
“Ada apa sunbae? Kenapa Somi harus pergi? Katakan saja apa yang ingin kau katakan.”
“Jinsol. Maukah kau menjadi pacarku?” Tanya Sunbae itu.
“Pa-pacar? Aku bahkan belum mengenalmu. Bagaimana bisa aku menerimamu begitu saja sunbae?” Jinsol memang seperti itu pada setiap pria yang berusaha mendekatinya. Tidak peduli, cuek, dingin, dan tidak peduli.
“Ah iya. Kenalkan. Aku Jeon Wonwoo dari kelas 12 Sains.” Jawab kakak kelas itu apa adanya.
“Ayo masuk Somi. Aku masih belum selesai membaca buku.”
“Sunbae. Aku akan membujuknya untuk menerimamu.” Ujar Somi sebelum ia masuk.

Next Day
Seperti biasa, jam 6.15 pagi Jinsol sudah tiba di kelasnya. Setiap pagi ia melihat salah satu teman sekelasnya berpacaran di kelas. Sahabat sunbae yang kemaren menyatakan perasaannya pada Jinsol.
“Jinsol.” Panggil Wonwoo dari arah pintu.
“Dia lagi.” Gumamnya. “Apa?” Jinsol berjalan menuju ke arah Wonwoo.
“Apa kau akan menerimaku?”
“Kau memaksa? Baiklah. Aku menerimamu.” Jawab Jinsol apa adanya. Ia benar-benar tidak ada niat untuk memiliki pacar. Orang tuanya pun tidak pernah mengijinkannya berpacaran. “Sudah? Aku masih ada tugas. Sebaiknya kau pergi.” Usir Jinsol. Benar-benar gadis keras kepala.
“Sunbae? Bagaimana?” Tanya Somi pada Wonwoo.
“Gomawo.”
“Cheonma.”

Seminggu telah berlalu. Wonwoo sering mengunjungi Jinsol saat istirahat tiba. Dia juga selalu membawakan permen lollipop untuk Jinsol. Setiap kali istirahat. Namun, 2 hari ini pria itu tidak menunjukkan batang hidungnya. “Mana Wonwoo sunbae?” Tanya Jinsol pada sahabat Wonwoo. Joshua.
“Aku tidak tau. Dia hanya menitipkan ini untukmu.” Ujarnya.
“Lolipop lagi? Baiklah. Terima kasih.” Ujar Jinsol. Jinsol tidak memakan lollipop itu sendiri. Ia membagikannya pada 3 sahabatnya. Selalu seperti itu. karena menurutnya, apa yang ia miliki itu juga milik sahabatnya. Kecuali pacar dan barang berharga lain miliknya.

1 Year Later
Sudah satu tahun. Entah hubungan Jinsol dengan Wonwoo bagaimana. Tidak ada kata putus. Wonwoo meninggalkannya begitu saja. Jinsol pun tidak peduli dengan pria itu. Saat ini ia sudah duduk di kelas 2 SMA. Berpisah dengan ketiga sahabatnya memang berat. Tapi setiap kali istirahat tidak pernah ia lewatkan untuk selalu bersama di perpustakaan. Sayangnya itu hanya terjadi beberapa minggu saja. Setelah 3 bulan ia berada di kelas 2, Somi tidak pernah menyapanya. Walaupun mereka saling berpapasan. Di kelas 2, Jinsol mendapatkan beberapa teman yang sama baiknya seperti Tzuyu dan Sinbi.
“Lollipop?” Tanya salah satu teman sekelasnya. Jinsol hanya memandang lollipop yang dijual di kanti sekolah.
“Aku jadi flashback saat melihat lollipop itu.” gumam Jinsol sambil meminum minumannya.
“Siapa? Mantanmu? Memangnya mantanmu siapa?” Tanya Yerim.
“Aku tau. Wonwoo sunbae kan?” Sambung Kei teman sekelasnya sejak kelas 1 SMA. Jinsol mengangguk.
“Sekolah disini? Kok bisa putus?” Tanya Yerim mulai mewawancara. Jinsol hanya tersenyum kecut.
“Iiih… kamu tidak tau Wonwoo sunbae? Itu loh temannya Joshua sunbae.” Jawab Kei lagi. Yah, dia tau semuanya tentang hubungan Wonwoo dan Jinsol.
“Kok bisa putus?” Tanya Yerim lagi.
“Entah. Tidak ada kata putus. Dia meninggalkanku begitu saja.” Jinsol mulai mengangkat bicara.
“Bukan gitu Jinsol. Kamu tau? Somi bilang sama dia kalau kamu tidak akan diijinkan keluar dengan Wonwoo. Dan saat itu juga Wonwoo meninggalkanmu. Apa kau tau apa yang terjadi? Somi mendekatinya.”
“Somi? Somi yang…” kalimat Yerim menggantung.
“Iya Somi yang itu.”
“Sahabat macam apa itu? sudah nanti kamu jangan deketin dia lagi. Masih banyak pria di luar sana. Lupakan masa lalu. Lupakan soal lollipop itu.” Sambung Yerim. Jinsol hanya tersenyum kecut sambil terus memandangi lollipop yang tadi.

2 Years Later

Jinsol sudah lulus dari SMA-nya. Ia meneruskan sekolah di Daekyung University. Hari pertamanya masuk kuliah. Ia menarik napas dalam-dalam dan melangkahkan kaki kanannya menuju kelasnya. Ia kaget saat seseorang menghentikan langkahnya dan memberikannya lollipop yang pernah Wonwoo berikan dulu. Dan benar saja, itu adalah Wonwoo. Wonwoo yang meninggalkannya 2 tahun lalu.
“sunbae?”
“Hai sayang. Kau masih mengingatku?” sapanya.
“Aku ada kelas. Minggirlah.”
“Tidak sebelum kau menjawab pertanyaanku.”
“Apa?” Jinsol masih sama seperti dulu. Dingin. Tidak ada yang berubah darinya.
“Maukah kau kembali padaku?”
“Untuk apa? Aku dan kamu tidak ada hubungan apa-apa lagi. Sejak saat itu, hubungan kita sudah berakhir. Kau meninggalkanku untuk Somi. Kau mendekatiku agar kau tidak sendirian jika pergi dengan teman-temanmu. Semua sudah jelas. Kei sudah menjelaskannya padaku.”
“Kau salah paham Jinsol.”
“Sudah. Aku ada kelas. Minggir sebelum aku berteriak.” Ancam Jinsol. Ia mendorong Wonwoo dan masuk ke kelasnya.

Benarkah itu? kau tidak bohong kan? Aku masih sayang padamu. Tapi jika kau menemuiku untuk menyakitiku lagi sebaiknya jangan kembali.

Kelas telah berakhir. Jinsol keluar untuk pergi ke kantin.
“Ehem.” Wonwoo duduk di sebelah Jinsol sambil memberikan segelas minuman ke hadapannya. Jinsol tidak mendengarnya. Tentu saja begitu. Ia sedang mendengarkan lagu favoritnya dengan headset. Wonwoo membuka sebelah headsetnya dan memasangnya ke telinganya sendiri.
“Su-sunbae? Sejak kapan kau ada disini?” Jinsol beranjak dari tempat duduknya. Namun Wonwoo menariknya agar ia duduk kembali.
“Bukankah ini menyenangkan?” Tanya Wonwoo sambil merangkul pinggang Jinsol.
“Sunbae singkirkan tanganmu.” Ujar Jinsol. Ia tampak risih dengan hal itu. ini pertama kalinya ia duduk bersama seorang pria dengan jarak yang saling berdekatan.
“Aku benar-benar tidak ada apa-apa dengan Somi. Somi yang menggodaku saat itu. mungkin benar dia mendekatiku. Tapi aku tidak pernah tergoda dengannya. Dan… aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku hanya focus pada ujian. Maafkan aku.”
“Be-benarkah itu?”
“Aku tidak berbohong. Aku serius. Aku hanya menguji seberapa baik Somi. Dan ternyata dia bukan teman yang baik untukmu. Maukah kau memaafkanku dan kembali padaku?” Tanya Wonwoo lagi.
“Aku memaafkanmu. Tapi jika untuk kembali, aku tidak bisa. Orang tuaku akan melaarangku kuliah jika mereka tau anaknya memiliki seorang pacar.”
“Jadi kau tidak diijinkan berpacaran?” Tanya Wonwoo kaget. Jinsol hanya mengangguk. “Baiklah. Kita akan menjadi sahabat. Aku akan membantumu saat kau ada tugas. Dan maukah kau tetap bersamaku setiap kelasmu berakhir?” Lagi-lagi Jinsol hanya mengangguk. “Terima kasih. Ini lollipop untukmu.” Jinsol menatap lollipop itu dan segera meraihnya. “Mulai sekarang, lollipop ini bukan tanda cintaku lagi. Tapi tanda persahabatan kita. Jangan pernah lupakan aku.” Ujar Wonwoo.
“Kau terlalu banyak bicaara sunbae.” Sekalinya Jinsol berbicara. Kalimatnya begitu menyakitkan hingga membuat Wonwoo salting.

Aku akan memendam perasaanku padamu. Dan mungkin aku salah dulu pernah meninggalkanmu. Tapi sekarang, aku akan melindungimu sebagai sahabatmu. -Wonwoo-


Jangan pernah bosan memberiku lollipop setiap kali kita bertemu. -Jinsol-

Rabu, 09 Maret 2016

Love You Senior

Tittle     : Love You Senior (Saranghae Sunbaenim)
Cast     : Myungyeon couple, Suzy, Hyorin, Jungkook, Chanyeol.
Genre   : School Life
Author  : Nam Ohyun / Ms. Childish

Jiyeon. Seorang siswi baru yang sangat polos. Ia bersekolah di Anyang High School. Sekolah paling bergengsi di Korea Selatan. Hari itu, Jiyeon hendak meminta tanda tangan pada salah satu anggota OSIS yang sedang duduk di pinggir lapangan basket. “Kau mau tanda tanganku? Cium dulu kapten basket yang sedang bermain disana.” Ujar OSIS itu sambil menunjuk namja tinggi yang sedang bermain basket bersama ketiga temannya.
“Me-mencium? Apakah tidak bisa diganti dengan yang lain?” tawar Jiyeon. Ia sangat gugup. OSIS itu menggeleng cepat. Dengan pasrah, Jiyeon menghampiri namja yang dimaksud dan mencium pipinya.
“Kenapa kau menciumku?” Myungsoo kaget. Seketika ia menoleh ke arah Jiyeon dan mengerutkan dahinya.
“Tidak tahu. Sunbae yang menyuruhku.” Jiyeon mendongakkan kepalanya dan menatap Myungsoo.
“Aku menyuruhmu?” Myungsoo mengangkat alisnya sebelah.
“Maksud Jee, sunbae yang it-“ Jiyeon menunjuk kearah OSIS yang tadi menjaili Jiyeon, tapi mereka tiba-tiba menghilang.
Myungsoo tak sengaja melihat teman-temannya yang sedang menertawai Jiyeon. Myungsoo menggeleng pelan dan menatap Jiyeon lagi. “Mana Sunbae itu?” ujar Myungsoo sambil pura-pura melihat ke sekelilingnya.
“J-Jee tidak tahu…” Jiyeon menunduk. Gugup, takut, malu. Semua menjadi satu. Tiba-tiba pipi Jiyeon memerah. Ia melihat ke sekelilingnya lagi.
“Wah… gadis kecil itu cuku berani juga” ujar salah seorang teman Myungsoo bernama Chanyeol.
Myungsoo membalas melihat Chanyeol dan mengangguk. “Iya. Dia sangat berani.” Pandangan Myungsoo beralih lagi pada Jiyeon yang kini sedang menunduk karena takut. “Tidak ada siapapun kan disini?” Tanya Myungsoo.
“Umm… tapi sungguh Jee bukan sengaja menciummu oppa.” Jiyeon menahan rasa malunya karena ditertawakan oleh teman-teman Myungsoo. “Jee harus pergi.” Ujar Jiyeon singkar. Ia kemudian pergi. Namun Myungsoo menahan tangan Jiyeon agar tak pergi.
“Apakah kau marah padaku? Bukankah harusnya aku yang marah padamu?” ujar Myungsoo. Jiyeon bebalik dan menatap Myungsoo.
“Kalau begitu… marahlah. Jee tidak marah. Jee hanya malu.” Jiyeon kembali menunduk sambil melihat teman-teman Myungsoo takut.
Myungsoo menggeleng pelan dan mengacak pelan rambut Jiyeon. “Aku tidak akan marah. Maafkan teman-temanku yah. Sebaiknya kau kembali ke tempat teman-temanmu. Lain kali jangan minta tanda tangan sendirian.” Ujar Myungsoo mensehati.
“Oppa tidak marah? Kalau begitu, Jee kembali dulu. Maafkan soal kejadian tadi oppa.” Ujar Jiyeon penuh senyum. Ia kemudian berlari menuju kelasnya.
“Apa dia barusan memangggilmu oppa? Wah ternyata kalian sangat dekat.” Ujar Jungkook menggoda Myungsoo.
Myungsoo menggelang. “Tidak. Aku tidak mengenalnya sama sekali.” Myungsoo kembali melihat kearah bolanya. “Kaja main lagi.” Ujar Myungsoo.
∞∞∞
Jam istirahat telah tiba. Jiyeon pergi ke perpustakaan. Ia mengambil sebuah novel dan duduk di sebuah bangku yang ada dipojok ruangan.
“Kenapa kau tak menciumku juga?” Tanya salah seorang namja yang tiba-tiba menghampiri Jiyeon.
“Sejak kapan kau disini? Mana mungkin? Aku juga tidak mengenalmu. Aku tidak semurahan itu.”
“Oh benarkah? Tapi tadi dengan mudahnya kau mencium rekanku.” Ujarnya sambil mendekatkan wajahnya dengan Jiyeon.
“Menjauh Dariku!” Bentak Jiyeon sambil memukulkan buku tebal yang dipegangnya pada namja yang menggodanya itu. Jiyeon kemudian lari dari perpustakaan.
Myungsoo sedang berjalan dikoridor sekolah bersama teman-temannya. Ia hanya diam sambil mendengarkan temannya yang sedang bergurau dibelakangnya. Ia kemudian tersenyum dan menggeleng. “Bisakah kalian tidak bergurau? Ini koridor. Kekanak-kanakan sekali.
Jiyeon masih berlari dari arah perpus. Ia tidak melihat Myungsoo dan teman-temannya. Bukk!! Jiyeon tal sengaja menabrak Myungsoo hingga ia sendiri terjatuh. Myungsoo menghampiri Jiyeon terjatuh dan membantunya berdiri. “Gwaenchanha?” Myungsoo melihat kearah Jiyeon. “Eh? Kau lagi?” Myungsoo menikkan sebelah alisnya.
Jiyeon melirik kesamping. “Ah pabo. Ini kedua kalinya Jee berbuat salah padamu oppa. Gwaenchanhayo.” Jiyeon kemudian kembali berlari saat melihat teman Myungsoo keluar dari perpustakaan.
Myungsoo melihat temannya yang baru saja keluar dari perpustakaan. “Kau? Tumben sekali dari perpustakaan.” Myungsoo meaikkan sebelah alisnya “Apa yang kau lakukan dengannya?”
“Bukan urusanmu.” Jawab namja itu dan berjalan meninggalkan Myungsoo dan kawan-kawan.
‘Dia kenapa?’ pikir Myungsoo. Ia mengangkat bahunya dan jalan ke kantin skolah bersama teman-temannya.
∞∞∞
Jiyeon berjalan dikoridor sekolah. “huh, melelahkan sekali semua kejadian sial hari ini. gara-gara eonni-eonni (sunbae) itu.” Gerutu Jiyeon sambil berjalan menuju kelasnya.
“Kau sedang membicarakanku?” tiba-tiba Suzy datang menghampiri Jiyeon. “Sebentar lagi kau akan menjadi pusat cemoohan disekolah ini… kau tau siapa namja yang kau cium tadi? Kau kira orang-orang tak melihatmu menciumnya tadi hah?! Dasar anak kecil!” tiba-tiba sekawanan Suzy datang dan melempari Jiyeon dengan telur.
‘Sial! Kenapa Jee harus mengalami hal ini? pabo!’ rutuk Jiyeon dalam hati.
∞∞∞
Myungsoo masih duduk di kantin sambil menikmati minumannya. Tiba-tiba ia ia mendengar suara siswi lain. “Sepertinya ada keributan.” Ujar Jungkook.
“Lebih baik kita Tanya.” Sambung Chanyeol. Ia kemudian menghentikan salah satu siswi yang sedang lewat di dekat mereka.
“Kau tahu yeoja yang tadi menciummu? Dia sedang dibully sama Suzy dan teman-temannya.” Ujar Siswi tersebut. Ia kembali meneruskan langkahnya melihat keributan itu. Myungsoo seketika membulatkan matanya kaget.
“Lebih baik kita kesana.” Ujar Myungsoo. Ia pun pergi menghampiri Jiyeon.
Didepan koridor, Myungsoo melihat Jiyeon menunduk tak berkutik dan hanya meneteskan airmatanya.
“Lihatlah gadis kecil ini! sungguh menyedihkan.” ejek Suzy tepat di depan wajah Jiyeon.
“Apakah dia menangis?” Tanya Hyorin. “Simpanlah air matamu cantik. Tidak ada orang yang mengasihani gadis tidak tahu malu sepertimu! Berani-beraninya kau mencium namja yang kami sukai!” bentak Hyorin sambil memukul kepala Jiyeon.
“Tapi sun-” ucapan Jiyeon terpotong karena Suzy melempari wajah Jiyeon dengan telur dan sepatu fantofel yang dipakainya.
“Tutup mulutmu!” teriak Suzy.
Myungsoo tidak tahan hanya melihat Jiyeon. Ia segera berlari dan melewati kerumunan banyak siswa
“Hey Hentikan itu!” teriak Jungkook.
Myungsoo menghampiri Jiyeon dan membuka jasnya. Ia memakaikan jasnya di bahu Jiyeon. “Gwaenchanha?” Tanya Myungsoo khawatir. Jiyeon hanya menunduk sambil menangis. “Kenapa kalian mem-bully-nya!” teriak Myungsoo pada Suzy dan teman-temannya.
Suzy dan teman-temannya kaget dan menahan amarahnya karena Jiyeon ditolong oleh Myungsoo. Jiyeon kembali menunduk. “Tanyakan saja pada gadis murahan itu” jawab Hyorin ketus.
“Isshh” Myungsoo mendesah kesal. Ia merangkul tubuh Jiyeon dan membawanya pergi dari hadapan Suzy dan kawan-kawan. “Jha, bersihkan tubuhmu.” Ujar Myungsoo.
“Bukankah OSIS itu yang tadi menyuruhnya mencium Myungsoo? So, bukan salah Jiyeon kalau Jiyeon mencium Myungsoo.” Ujar Chanyeol.
“Sudahlah. Ayo pergi.” Ujar Myungsoo pada teman-temannya.
Setibanya di depan kamar mandi, Jiyeon bercermin di sebuah cermin yang tertempel di dinding. Bibirnya lecet dan mengeluarkan sedikit darah.
“Untuk yang ketiga kalinya aku merepotkanmu. Mianhae oppa.” Ujar Jiyeon merasa bersalah.
“Gwanchanha. Ini juga salahku.” Myungsoo mengusap sudut bibir Jiyeon yang terluka dengan sapu tangan yang dipegangnya. “Bersihkan tubuhmu.”
“Gomawo” ujar Jiyeon.
Myungsoo melihat baju Jiyeon yang sangat kotor “Apa kau bawa baju ganti?” Tanya Myungsoo. Jiyeon menggeleng.
“Aku tidak membawanya. Aku tidak tahu hari ini akan seperti ini.”
“ya sudah. Aku ambil baju gantiku. Kau dapat memakainya. Tapi aku hanya punya kemejanya saja. Dan mungkin, kemeja itu kebesaran untukmu.” Ujar Myungsoo sebelum ia pergi mengambil seragamnya dikelas.
“Itu sudah lebih dari cukup. Gomawo oppa.” Jiyeon tersenyum. ‘ternyata dia baik juga. Ku kira da sama seperti namja lainnya.’ Pikir Jiyeon. Ia memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Myungsoo mengambil bajunya diloker. Ia sempat melihat kearah teman-temannya. “Aku akan memberikan ini dulu pada Jiyeon. Setelah itu aku akan kembali.” Ujar Myungsoo.
Jiyeon sudah membersihkan dirinya. Jiyeon menunggu Myungsoo datang membawakan pakaian untuknya. Jiyeon mengeringkan rambutnya yang basah.
Myungsoo tiba didepan toilet. “seragamnya aku letakkan didepan pintu ya. Aku harus kembali ke kelas.” Ujar Myungsoo.
“Ne. Jeongmal gomawo oppa. Maaf sudah merepotkanmu.” Setelah Myungsoo pergi, Jiyeon mengambil seragam Myungsoo didepan pintu. Ia memakai kemeja kebesaran itu dan meminta ijin untuk pulang.
∞∞∞
Besok harinya, Jiyeon tidak masuk sekolah karena orang tuanya memindahkan Jiyeon ke sekolah biasa setelah kejadian kemarin. Sedangkan Myungsoo berjalan dikoridor dengan wajah datarnya. Ia pergi menuju kelasnya.
“L!” Teriak seseorang dari belakang Myungsoo. Dia terlihat sedang terburu-buru. “Hosh… hosh…” namja itu berlari dengan cepat kearah Myungsoo.
“Ada apa?” Tanya Myungsoo. Ekspresinya masih datar.
“Itu… Jiyeon…”
“Jiyeon?” Myungsoo mengerutkan dahinya tidak mengerti.
“Yeoja polos yang kemarin menciummu. Dia keluar dari sekolah. Orang tuanya memindahkannya kesekolah lain karena kejadian kemarin.” Ujar Jungkook sangat cepat dan tanpa bernapas.
“Jeongmalyo?” Ekspresi Myungsoo yang tadinya datar, kiri berubah seketika menjadi khawatir. “Kau tahu dia pindah kemana?” Tanya Myungsoo.
“Hyehwa High School for girl.” Jawab Jungkook. Myungsoo dengan cepat pergi meninggalkan sekolah. “L! Neo eodiga!” teriak Jungkook.
∞∞∞
Jiyeon sedang berjalan menuju kelasnya. Ia berharap akan menemukan ketenangan disekolah barunya kali ini. Saat ia berjalan di koridor kelas, seseorang tiba-tiba memanggilnya. “Jee!!!” suara yang tidak asing di telinga Jiyeon. Ia membalikkan badannya dan semua siswi melihat kearah namja itu. Benar saja. Dia orang yang kemarin sudah menolong Jiyeon di semua masalah yang dihadapi Jiyeon. ‘Ish… kenapa oppa itu ada disini? Ini kan sekolah khusus untuk yeoja. Kalau saem tau, dia bisa diusir.’ Gerutu Jiyeon dalam hati. Akhirnya Jiyeon memutuskan untuk menghampiri namja itu dan membawanya keluar.
“Oppa. Kenapa oppa ada disini? Kalo saem tahu-”
“Aku bisa di usir.” Potong Myungsoo. “Aku cuma mau minta sama kamu. Tolong kembali ke Anyang High School.” Myungsoo menggenggam tangan Jiyeon. Jiyeon menunduk. Ia meneteskan air matanya. Ia kembali teringat kejadian kemarin. “Uljima. Aku akan melindungimu. Aku janji padamu. Suzy tidak akan menjailimu lagi.” Jiyeon mendongakkan kepalanya menatap Myungsoo. “Saranghae Jee.”
‘apa dia bilang barusan? Apakah dia serius mengucapkannya?’ gumam batin Jiyeon. “Oppa…” ujar Jiyeon lirih.
“Saranghae Park Jiyeon.” Myungsoo mengulangi kalimatnya. Air mata Jiyeon kembali mengalir. Namun perasaannya kali ini berbeda. Jiyeon merasa sangat bahagia, terharu, dan rasanya ingin loncat-loncat. “Maukah kau menjadi yeoja chinguku?” deg! Jantung Jiyeon mulai berdebar kencang, wajahnya memerah, dan… tangannya mulai terasa dingin.
“Kenapa oppa mencintai yeoja polos dan tidak tahu malu seperti Jee?” Tanya Jiyeon.
“Aku suka yeoja polos dan bodoh sepertimu. Jee mau kan jadi pacar oppa?” Tanya Myungsoo sekali lagi. Sedetik kemudian sesungging senyuman terukir dengan sempurna di bibir manis Jiyeon. Jiyeon mengangguk cepat. Cup! Sebuah ciuman singkat tiba-tiba mendarat dengan mulus di bibir Jiyeon. Seketika senyuman Jiyeon memudar menjadi datar.
“Oppa… itu first kiss-ku.” Ujar Jiyeon dengan wajah polosnya. Senyuman Myungsoo ikut luntur.
“Mian.” Satu kata yang keluar dari bibir Myungsoo.
“Gwanchanha. Oppa, Jee masuk kelas dulu. Sebentar lagi bell masuk.” Ujar Jiyeon.
“Andwae. Sekolahmu bukan disini. Sekolahmu di Anyang High School. Kaja.” Myungsoo menarik tangan Jiyeon menuju ke mobilnya. “Sepertinya kita sudah terlambat. Bagaimana kalau kita bolos saja?” ujar Myungsoo.
“Yak! Oppa! Jee tidak mau bolos.” Teriak Jiyeon. Myungsoo melajukan mobilnya menuju sekolah.
∞∞∞
Sesampainya disekolah, Myungsoo dan Jiyeon dikejutkan dengan keadaan sekolah yang sangat ramai. “Apa hari ini ada acara?” Tanya Jiyeon pada Myungsoo. Myungsoo hanya mengangkat bahunya.
“L!” Chanyeol memanggil Myungsoo dari kejauhan. “Jiyeon? Kau disini juga?” Chanyeol menatap Jiyeon tidak percaya. Sahabatnya benar-benar hebat.
“Ada apa itu? Kenapa ramai sekali?” Tanya Myungsoo pada Chanyeol.
“Kau tahu? Suzy dan kawan-kawan sedang dihukum karena perbuatannya Pada Jiyeon kemarin. Lihat saja. Suzy sedang dihukum mengelilingin lapangan basket sebanyak 10 kali dengan papan nama yang tergantung di lehernya. Kau bisa baca kan? ‘Saya jelek.’ Kau tau siapa yang mengusulkan kata-kata itu?” Tanya Chanyeol. Jiyeon dan Myungsoo mengangkat bahu bersama-sama. “Tuh. Bestiemu yang satu itu.” Ujar Chanyeol sambil menunjuk Jungkook.
Jiyeon merasa kasihan pada Suzy. Ia tidak tega melihat sunbaenya dihukum. Jiyeon menghampiri Suzy dan memintanya untuk berhenti. “Sunbae berhenti!” teriak Jiyeon dari kerumunan siswa. Ia kemudian berjalan menembus kerumunan itu dan mendekati Suzy. “Saem, tolong hentikan ini.” Jiyeon memohon pada Jung saem. Agar menghentikan hukuman Suzy dan kawan-kawan.
“Jiyeon apa yang kau lakukan? Biarkan mereka menerima hukuman ini. Kau tidak lihat? Bibirmu berdarah kemarin dan sampai sekarang pun bibirmu masih luka.” Sambung Myungsoo sambil menunjuk bibir Jiyeon yang luka.
“Tapi ini hanya masalah kecil oppa.” Bentak Jiyeon. “Saem… jebal hentikan hukuman ini…” Jiyeon mulai merendahkan dirinya berlutut di depan saem agar ia mau menghentikan hukumannya pada Suzy. Jung saem yang tidak tega melihat Jiyeon berlutut seketika berteriak agar Suzy berhenti berlari lapangan. Suzy yang kelelahan pun akhirnya berhenti mengelilingi lapangan.
“Suzy, Hyorin. Kalian harus meminta maaf pada Jiyeon didepan semua siswi yang ada disini.” Ujar Jung saem. Jiyeon hanya diam. Suzy tampak sedang menahan amarahnya saat melihat Jiyeon. Tangannya mengepal.
“Suzy? Kau ingin memukul Jiyeon? Tidak cukup kau memukulnya dengan sepatu fantofle yang kemarin kau pakai hah?” Tanya Myungsoo saat melihat tangan Suzy yang mengepal sangat kuat. Perlahan tangan Suzy mulai melemas dan mengulurkan tangannya pada Jiyeon. Ia meminta maaf di depan semua siswi yang sedang menontonnya saat ini.
“Mianhae Park Jiyeon.” Ujar Suzy lirih.
“Ne. gwaenchanha eonni.” Jawab Jiyeon dengan polosnya.
∞∞∞
Jiyeon sedang duduk sendirian di pinggir lapangan sambil memperhatikan namja chingunya yang sedang bermain basket. Keringatnya bercucuran. Myungsoo menghentikan permainan dan duduk dengan kaki lurus ditengah-tengah lapangan. Jiyeon membawakan handuk dan sekaleng minuman untuk Myungsoo. “Untukmu sunbae.” Ujar Jiyeon sambil menyodorkan handuk dan minuman yang dibawanya.
“Bisakah kau bantu aku membersihkan keringatku?” ujar Myungsoo polos. Ia hanya menerima kaleng minuman yang Jiyeon bawa tapi tidak untuk handuknya. Dia ingin Jiyeon yang membersihkan keringatnya.
“Ish. Disini terlalu ramai. Malu dilihat teman-teman oppa.” Ujar Jiyeon malu-malu.
Myungsoo beranjak dari duduknya dan menarik tangan Jiyeon menuju taman sekolah yang sangat sepi. “Disini sepi. Jadi bersihkan keringatku sekarang ne.” ujar Myungsoo sambil memajukan wajahnya.
“Ishh…” Jiyeon mendengus kesal. Namun beberapa detik kemudian Jiyeon mulai membersihkan keringat Myungsoo dengan handuk tebal yang sedari tadi dibawanya. Jiyeon membersihkan keringat Myungsoo dengan penuh kasih sayang. Pelan dan sangat lembut. Jiyeon memperhatikan wajah tampan Myungsoo. Menatapnya tanpa berkedip. Semakin lama usapan Jiyeon semakin pelan dan wajahnya pun semakin dekat dengan wajah Myungsoo. Myungsoo dapat merasakan hembusan napas Jiyeon di wajahnya. Bibir Jiyeon akhirnya menempel sempurna tepat dibibir Myungsoo. Hanya menempel. Myungsoo membuka matanya dan melihat Jiyeon sedang menutup matanya.
Tak jauh dari tempat MyungYeon berada, seorang yeoja kini tengah berdiri dengan memegang ponselnya dan menghadapkannya ke arah MyungYeon. Ia tersenyum nakal melihat hasil fotonya.
Kembali ke MyungYeon. Jiyeon masih belum melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Myungsoo. Hingga tiba-tiba ponsel Myungsoo bergetar. Seketika Jiyeon menjauhkan wajahnya dan menunduk malu. “Waeyo Chagi?” Tanya Myungsoo saat melihat Jiyeon menundukkan kepalanya. Jiyeon mulai melangkah meninggalkan Myungsoo namun tangannya di tahan hingga ia terpaksa harus menghentikan langkahnya. “Eodiga? Kau belum selesai membersihkan keringatku.” Ujar Myungsoo.
“Bersihkan saja sendiri.” Jawab Jiyeon sambil menyerahkan handuk yang dipegangnya ke tangan Myungsoo. Jiyeon kemudian kembali menuju kelasnya.
“Dasar yeoja polos.” Gumam Myungsoo saat Jiyeon pergi.
∞∞∞
Jiyeon berjalan terburu-buru menuju kelasnya. “kenapa kelas sangat sepi? Kemana yang lain?” Gumam Jiyeon. Jiyeon kemudian pergi ke lapangan. Saat ia tiba di depan madding, ia melihat sekerumunan siswa. Tiba-tiba Suzy dan Hyorin datang menghampirinya. Hatinya mulai gelisah. “Kali ini kau akan benar-benar menjadi pusat perhatian semua siswa.” Bisik Hyorin tepat ditelinga Jiyeon.
“A-apa maksud eonni?” Tanya Jiyeon tidak mengerti. ‘permainan apa lagi ini?’ Tanya Jiyeon dalam hati. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya lagi. Ia kemudian memberanikan diri mendekati madding. Jiyeon membulatkan matanya saat melihat apa yang baru saja ia lihat. ‘itu aku di taman tadi.’ Gumam batin Jiyeon.
“Eh-eh itu namjanya…” ujar salah seorang siswa yang sukses membuat siswa lain menoleh ke arah Myungsoo yang sedang berjalan bersama Jungkook dan Chanyeol. Jiyeon mengikuti arah pandang siswi lain.
“Ya… kenapa semua orang menatapmu seperti itu?” Tanya Jungkook.
“Apakah jiyeon sedang dijaili lagi sama Suzy dan Hyorin?” Sambung Chanyeol.
Myungsoo tak sengaja melihat Jiyeon tepat didepan madding. Ia sedang menangis. Myungsoo menghampiri Jiyeon. “Ada apa? Kenapa kau menangis?” Tanya Myungsoo khawatir. Jiyeon menunduk dan menunjuk sebuah foto yang sedang terpajang di madding. Disana Myungsoo melihat adegan ciumannya dengan Jiyeon. Myungsoo kemudian membaca selembar kertas yang tertempel di bawah foto itu.
‘Chukkahae Kim Myungsoo dan Park Jiyeon. Semoga kalian bahagia. Mianhae. Suzy and Hyorin.’ Ia kemudian tersenyum ke arah Jiyeon. “Jadi kau menangis karena ini?” Tanya Myungsoo sambil menyodorkan selembar kertas yang barusan dibacanya. Jiyeon mengangguk pelan. “Kau mau lagi?” Tawar Myungsoo tanpa menghiraukan murid-murid di sekitanya.
“Ciieee…..!!!!” seru semua orang yang ada disana.
“Jha ke lapangan.” Ujar Myungsoo sambil merangkul Jiyeon.
“Eits. Tunggu dulu.” Hyorin menahan Myungsoo dan Jiyeon tak jauh dari madding.
“Boleh kami meminta pajak jadian kalian?” pinta Suzy sambil menadahkan tangannya. Hyorin kemudian tertawa pelan.
“Mianhae Park Jiyeon. Kami sudah merepotkanmu kemarin.” Ujar Hyorin.
“Gwaenchanha Eonni.” Jiyeon kemudian tersenyum.

-End-

Jumat, 08 Mei 2015

She Is Suzy


Title             :She Is Suzy
Cast             : Myungsoo, Woohyun, Sunggyu, Suzy.
Other Cast   : IU
Genre          : School Life, friendship.
Length         : Oneshoot
Rating          : PG-17

Myungsoo POV
Sudah berapa lama aku menatapnya berdiri mematung di depan papan nama sekolah ini? Aku mengernyit heran. Apa yang ia cari di papan tua itu? Seperti ada yang aneh dengan nama sekolah ini atau entahlah.kulihat dia mengenakan ransel biru dengan seragam yang sangat rapi. Sepertinya dia anak baru.

“Ya! Myungsoo-ya! Ngelamunin apa sih?” Woohyun, sahabatku sejak kelas satu di SMA ini berhasil mengagetkanku. Kontan aku tersentak kaget dan melepas pandanganku ari arah yeoja tadi.

“Aniyo. Dwaesseo. Eh, kemana Sunggyu? Biasanya dia sama kamu.” Tanyaku mengalihkan pembicaraan. Untuk sementara aku meninggalkan yeoja dengan tatapan kosong itu.

“Dia sibuk mencatat tugas MTK dikelas.”
“Oh, kamu sudah ngerjain?” dia Cuma menggelang nyengir, sambil lalu menyeruput teh hangat yang ku pesan tadi di kantin depan sekolah.

“Kan sudah ada Sunggyu. Sebentar lagi copy paste saja.”

Ting ting ting ting.... #suaraBel
“Sudah bel. Gaja kembali ke kelas.” Ajak Woohyun. Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkah Woohyun setelah menghabiskan segelas teh hangat. Saat menyeberang jalan menuju ke sekolah, aku melihat yeoja itu masih dengan tatapan kosong menatap papan nama sekolah ini. Ada apa? Tanyaku heran. Ternyata benar. Yeoja itu siswi baru di sekolah ini. Tadi jam pertama dia memasuki kelasku bersama seonsengnim. Itu berarti sejak hari ini dia sekelas denganku. Di memilih duduk di deretan depan bersama IU. Yang jelas jauh dari tempat dudukku saat ini yang terletak di pojok kanan kelas dekat jendela.

“Gaja Myung! Ikut ke kantin gak?” suara Hoya, teman sebangkuku mengagetkanku. Aku melihat ke arah yeoja itu, dia masih stand by di tempat duduknya. Lalu kuplih jawaban gelengan untuk Hoya. Untung temanku ini tidak begitu peduli dengan ketidak ikut sertaanku ke kantin. Dia langsung berlalu pergi. Aku menarik nafas lega, dan beranjak berdiri mencoba mendekati yeoja itu. Saat akan mendekatinya, dia berdiri dan berjalan keluar kelas. Aku mengikutinya dari belakang, dan kulihat dia memilih duduk di kursi panjang depan kelas. Tangannya memegang sebuah novel berjudul “Autumn Melody”. Sedikit ragu, aku duduk di sampingnya.

“Jeogiyo. Jeoneun Kim Myungsoo Imnida” sapaku pelan. Dia hanya menoleh sebentar, menorehkan senyum dan pandangannya kembali tertuju pada novel yang dipegangnya. “Aku duduk di sebelah belakang. Hari ini kita akan menjadi teman sekelas...” aku kembali berbicara. Meski agak terdengar kaku. Tapi, aku berhasil membuatnya menutup novelnya dan mulai menatapku.

“Ne. Semoga hari-hariku di sekolah ini akan menyenangkan.” Sahutnya datar tanpa ekspresi. Berbicara dengannya dan mencoba latihan berbicara ala presiden di depan boneka salju. Tapi, aku tetap berusaha mengakrabkan suasana.

“Of course. Kamu akan menjalani hari-hari yang menyenangkan di sekolah ini. Apalagi ada aku.” *dih PD nya Kim Myungsoo*
Sekarang nada bicaraku menjadi sok lebay. Aku bercekikik dalam hati. Tidak tahu lagi bagaimana caranya berbicara dengan putri salju satu ini. Dia benar-benar dingin. Selanjutnya percakapan kita hanya diisi dengan cerita basa basiku dan ucapan “Oh”, “Gitu ya?” atau “emm...” dari mulutnya. Sesekali aku juga terpesona dengan lentik matanya, dan juga bola mata coklat tuanya yang asli tanpa bubuhan soft line atau semacamnya. Natural girl. Dia sangat menarik, itu menurutku.

7Days Later
Hari ini adalah hari ke tujuh setelah kedatangnnya di sekolah ini. Dan prediksiku benar, dia menjadi pusat perhatian, walaupun ku yakini dia tidak pernah mau dan merasa risih. Untuk sementara, dia terkenal sebagai yeoja baru yang cueknya minta ampun. Dan tentu gelar itu tidak berlaku untukku. Karena setiap hari aku tidak pernah absen menyapanya, yang segera di balas dengan lontaran senyum manis. Sekarang aku sedang bersama Woohyun dan Sunggyu di salah satu kursi kantin dekat jendela. Di sini tempat paling nyaman untuk menghabiskan waktu istirahat dengan semangkok mie dan segelas es jeruk di tambah pemandangan anggota team cheerleaders yang sibuk latihan dibibir lapangan basket.

“Kalian tahu siswi baru di sekolah kita?” Sunggyu memulai pertanyaan yang jelas membuatku tersedak. Es jeruk yang baru saja ku teguk hampir muncrat.

“Yang sering pake mantel coklat itu kan?” timpal Woohyun lalu melirik ke arahku.

“Waeyo? Kesellek?” aku menggeleng.

“Yeoja itu sekelas dengaku.” Sahutku kemudian.

“O..” WooGyu ber”O” (?) panjang. Setelah satu menit  berlalu dengan diam, Sunggyu kembali melontarkan pertanyaan.

“Dari sekolah mana?” aku mengangkat bahu.

“Alamat?” aku kembali bergidik.

“Namanya kamu pasti tahu kan Myung?”

“Namanya Suzy...” jawabku singkat.

“Suzy?”

“Eo. Suzy. Hanya itu yang aku tentangnya. Selebihnya, aku tidak tahu apa-apa”

“Hahahaha” iba-tiba saja suara gelak tawa WooGyu terdengar menggema di seantero kantin, mengundang puluhan mata tergoda untuk menatap kita. Menyadari hal itu, WooGyu segera membekap mulutnya masing-masing. Aku ikut tertawa geli, pasti mereka berdua kaget mendengar nama yeoja itu. Seperti reaksiku semunggu yang lalu, pas dia memperkenalkan diri didepan kelas. Tapi sekarang aku mulai mengakui dia memang cantik.

“Jadi nama yeoja belagu itu, Suzy?”

“Kok belagu sih? Tau dari mana kamu kalau dia belagu?” aku berusaha membela Suzy.

“dia belagu banget kan Myung! Sok jual mahal. Kemarin aku nyapa dai pas pulang sekolah, eh malah dicuekin. Terus aku kejar dia, eh aku malah kena gampar bukunya, nyebellin kan?”

Sunggyu bercerita dengan ekspresi mukanya yang membara. Kini giliran aku yang tertawa, apalagi melihat posisi Sunggyu sebagai namja terpopuler di sekolah ini. Pasti dia malu banget.

“Benar tuh Sunggyu, aku juga kena gampar tadi pagi. Terus aku jadi bahan sorakan anak-anak di koridor. Keterlaluan kan yeoja itu!” lagi-lagi aku tertawa.

“makanya jangan macam-macam sama yeoja itu. Katanya nih ya, dia itu termasuk salah satu keturunan orang minak jinggo.” Jawabku asal.

“Yang benar kamu Myung?”

“Ah paling juga ngaco. Myung kan emang suka gitu.”

“Di bilangin tidak percaya. Makanya, jangan coba-coba deketin apalagi ganggu dia. Aku saja teman sekelasnya tidak pernah dekat-dekat sama yeoja itu.” Ujarku lagi sok serius. Padahal sedari tadi hatiku berkikik-kikik. Apalagi melihat tampang 2 chin-guku ini yang mulai sedikit percaya dengan ucapanku barusan. Mereka tampak khawatir.

“Alah kamu Hyun... percaya banget sama mitos-mitos seperti itu. Sudah, woles saja.” Sunggyu menetralisir keadaan. Dan detik selanjutnya dia membekap suasana di meja makan kita. Tidak ada yang memulai pembicaraan duluan. Kami bertiga sama-sama sibuk menghabiskan makanan dan minuman kami masing-masing. Sesekali aku hanya mengaduk es jeruk yang ada dihadapanku sambil mengiringi adukan pikiran yang tengah berlangsung di otakku. Wajah putih dengan mata yang sangat indah itu kembali terngiang dan menari di pelupuk mata. Ah! Aku mnggerutu, kenapa sampai saat ini aku masih belum bisa mendekatinya?

Keadaan itu terus berlangsung hingga bel anda masuk kelas berbunyi. Kami bertiga segera berpisah dan memasuki kelas Jurusan masing-masing.

Sunggyu POV
Sepulang sekolah, aku melihat dia berjalan beriringan dengan teman-temannya. Kuamati, Suzy sedang mendominasi percakapan diantara mereka. Sesekali empat yeoja disampingnya tertawa atau hanya sekedar mengulas senyum simpul. Mereka terlihat sangat akrab.belum pernah aku melihat dia seceria itu. Yang aku tahu dia itu sosok arogan, sok jual mahal, dan don’t care banget sama orang-orang sekitar. Aku jadi inget kejadian tiga hari yang lalu, pas ketika aku mendekatinya, eh malah kena gampar bukunya yang tebelnya minta ampun. Suer! Baru kali ini aku dipermalukan sama seorang yeoja tak terkenal yang baru aja masuk ke dalam daftar siswi SMA International Seoul (?). bukannya sombong nih ya, biasanya yeoja-yeoja di sekolah ini yang hobby banget ngejar-ngejar aku. Sampai-sampai aku harus punya tempat persembunyian untuk lari dari kejaran mereka. Lah, sekoarang ok jadi aku yang ngejar-ngejar dia? Aneh banget kan? Apa karna dia belum mengenalku? Atau jangan-jangan ada benarnya juga perkataan Myung tadi, bahwa dia masih ada hubungan darah sama minak jinggo? Ah! Maldo andwae. Aku sadari dia punya daya tarik tersendiri sebagai seorang yeoja. Jadi, mustahil dia mengandalkan ilmu mandra guna atau manta-mantra aneh semacamnya untuk menarik perhatianku. Suzy.... Suzy.... kamu semakin membuatku semakin penasaran. Taeyeon, yeoja yang terkenal imut dan cantik itu, care banget kok sama namja. Lah kamu?

“Eh, Sunggyu. ngapain kamu disini? Lagi ngikutin Suzy ya?” kampret kamu Hyun! Dia mergokin aku ngikutin Suzy. Spontan, lima yeoja yang sedari tadi jalan dihadapanku menoleh ke belakang. Kearah wajahku.

“MALDO ANDWAE KALAU AKU NGIKUTIN YEOJA BELAGU ITU!!! NAM WOO HYUN SSI!!!” aku menjawab sekeras-kerasnya, biar Suzy dengar dan sekaligus meminimalisir warna merah di wajahku, gara-gara maluku dikoridor. Aku melihat Suzy masih tetap memasangwajah datarnya dan kembali menatap ke arah depan. Aku menghela nafas sebentar. Kelihatannya dia tersinggung.

“Ya! Sunggyu ssi... kamu ngikutin kita?” si cerewet Krystal berlagak sok kePDan. Cih!
            
“Aku mau pulang. Jalan menuju parkiran itu Cuma satu, ya koridor ini. Jadi tidak ada alasan kalau aku mengikutikalian.” Sahutku beralasan. Krystal hanya ber”O”, lalu kulihat lengannya di tarik pelan oleh Suzy. Dia memberi isyarat untuk mempercepat laju mereka. Sepuluh detik kemudian, sosok mereka hilang ditelan belokan koridor. Baiklah, untuk hari ini aku akhiri sampai disini dulu. Kan, besok-besok aku masih bisa melihat Suzy lagi di sekolah ini.

“Cie... cie... kamu beneran ngikutin dia?” Woohyun kembali melontarkan pertanyaan tololnya yang sempat membuat hatiku melompat barusan.

“Aniyo Woohyun ssi. Nih aku mau pulang. Kamu mau nebeng lagi?”

“Sirheo! Takut nabrak pohon! Soalnya kamu sedang tidak konsen nyetir. Dan sibuk mikirin si dia... hahaha.....” seperti biasa, sikap sok tau Woohyun kembali muncul. Dan lagi-lagi aku yang jadi korban.

“Ya! Kamu jangan sok baca pikiran orang. Aku tidak ada perasaan apa-apa sama cucu minak jinggo itu.”

“Ish... geureohjima... nih buktinya.” Woohyun menyerahkan selembar kertas kucel ketanganku., lalu beranjak perge setelah berteriak.

“Kapan-kapan cerita ke aku saja ya Gyu!!!”

Dasar! Sahabat aneh! Aku segeramembaca coretan kecil yang aku sadari sebagai tulisanku sendiri.

Kamu adalah jiwa baru yang datang menemui kerontang jiwaku.
Kamu adalah yeoja dari dimensi lain yang tengah menyapa kering hatiku.
Terima kasih atas oase yang kau bawa entah dari mana.
Bagaimanapun mendapatkanmu adalah impian terbesarku hari ini.
Suzy. Kau memang cantik.
Wait me in your heart.

Eomeo! Ini kan curhatanku tadi pas pelajaran matematika. Aku lupa membereskan dan membiarkannya keleleran gitu saja. Dan Woohyun sudah tau semuanya....

Myungsoo POV
Sempat kaget juga sih. Ternyata aku dan sahabatku, Sunggyu, punya perasaan yang sama pada Suzy. Tadi pulang sekolah, Woohyun memperlihatkan sebuah kertas berisi curhatan Sunggyu.. Aku tidak menyangka, padahal tadi pagi di kantin, Sunggyu terlihat sangat membenci Suzy. Atau dia pura-pura berlagak menyimpan dendam sama Suzy, biar aku dan Woohyun tidak tau tentang perasaannya. Agar, imagenya juga tidak turun, karena dia sangat populer di sekolah. Selain cerdas, dia juga punya tampang menarik. Dan aku akui itu.

Aku menatap langit-langit kamar. Perasaan aneh pada Suzy semakin bertambah setiap hari. Semua berasal dari rasa penasaran. sejak aku melihatnya dengan tatapan kosong di depan papan nama sekolah, seminggu yang lalu. Kurasakan mataku hangat oleh genangan air mata. rasa rindu itu membuncah lagi malam ini. Ingin rasanya cepat-cepat bertemu dengannya hari besok, kembali menatap mata cokelatnya dan melihat senyum lembutnya. Suzy...

Suzy POV
Baiklah cukup setengah bulan aku ada di SMA itu. SMA International Seoul, yang berisi makhluk-makhluk tidak tahu aturan. Seharusnya aku bertugas untuk mengingatkan mereka tentang buruknya keluyuran malam-malam, yadongan, tentang sopan santun dan tertib aturan, tentang ough... terlalu banyak ilmu-ilmu aturan yang mereka lewatkan. Aku tidak kuat berada diantara mereka. Aku masih remaja. Usiaku baru 17 tahun. Takut tidak kuat nafsu, kalau aku memaksakan diri berada diantara mereka. Bukannya mereka yang mengikutiku, nanti malah aku yang mengikuti kebiasaan buruk mereka. Orang-orangnya juga menyebalkan, apalagi yang namja. Aku kan paling anti dekat sama namja. Tidak apa-apalah dibilang ice princess, di sorakin sok jual mahal, aku tidak perduli. Yang penting aku tidak dekat-dekat dengan mereka. Apalagi Sunggyu. aduh malas banget menghadapi namja seperti dia. Menyebalkannya setiap hari. Tapi untung saja aku bisa cuek. Katanya, dia namja terpopuler di sekolah. Aduh! Apanya yang populer coba, sopan santun saja tidak punya. Ganteng sih ganteng. Tapi mendingan Kim Myungsoo daripada Sunggyu. dia baik, sopan, dan tidak seperti Sunggyu. Hehe, ada sedikit rasa juga sih sama namja itu. Uh kan, baru 2 minggu udah suka sama namja. Aigoo. Hm... lelah juga sih bersikap pura-pura lembut dihadapan mereka, tapi setidaknya aku tidak merusak nama baik yeoja sopan dengan cara jalanku yang urakan dan tidak beraturan dan juga cara bicaraku yang ceplas ceplos. Aku jadi kangen teman-teman asrama, disana aku hidup lebih aman, lebih leluasa dan setiap detik waktuku lebih bermanfaat. Untuk mengingatkan mereka, kapan-kapan saja. Saat ini aku mau memperdalam ilmu kesopananku dulu. Aku segera menghubungi Eommaku di Busan.

“Yeoboseyo, Eomma... aku tidak jadi sekolah dikota. Aku boleh kan kembali ke Busan?” eomma langsung mengiyakan kemauanku. Aku menghela nafas lega. My village..... I’m Coming....!!

Sunggyu POV
Argh!!!
Hari ini aku dapat berita gempar. Berita yang berhasil menggemparkan seisi sekolah dan juga isi hatiku. Suzy memutuskan berhenti dari sekolah. Dan memilih melanjutkan sekolah di Busan. Ini benar-benar berita gempar. Aku bingung, mau diapakan peasaan ini setelah dia pergi. Kalau boleh jujur, baru kali ini aku merasakan suka pada yeoja terlalu dalam. Gara-gara, Suzy berbeda dengan yeoja-yeoja lain di sekolah ini. Bukan hanya wajahnya saja yang good looking, tapi sikapnya yang selalu menjaga diri dari namja, itu yang aku suka.  Pertama aku sempat heran dan merasa aneh dengan sikapnya selama ini. Bahkan pertama kali melihatnya, aku sempat merasa jijik dan benci. Akhir-akhir ini aku sadar, ternyata dialah yeoja idamanku. Aku salut, aku kagum. Rasa kagumku berujung pada sebuah perasaan yang sampai saat ini belum sempat kuberi nama. Perasaan yang selalu membuatku bersemangat pergi ke sekolah, sebuah perasaan yang setiap malam membuatku beranga tentangnya, sebuah perasaan yang selama ini membuatku terpuruk, karena pemilik hati itu akan pergi. Ah! Aku tidak mengerti,kenapa harus se mellow ini? Aku jadi menyesal, kenapa dari kemarin selalu mengganggunya? Bukannya melindunginya. Aku jadi menyesal tidak baik-baik padanya. Karena dengan cara baik-baik padanya, karena selalu membuatnya marah dan kesal itulah, caraku memperhatikannya.

“Sudahlah Sunggyu... sebuah perasaan tidak baik ditangisi. Sekarang lebih baik kamu minta maaf padanya, agar tidak ada kesan buruk tentangmu.” Myungsoo menasehatiku. Akuhanya mengangguk mengiyakan. Dan segera beranjak berdiri, tapi Myung mencekal lenganku. “Aku butuh senyummu setelah ini Gyu. Kita punya perasaan yang sama ke yeoja itu. Tapi aku yakin, setelah ini kita bisa menghadapi semuanya...” aku kaget. Lalu tertawa kecil, baru menyadari sahabatku satu ini juga suka sama ice princess itu. Dia kemudian menepuk pundakku.

“Move On!” bisiknya pelan. Aku tersenyum dan segera berlari menuju Suzy. Meminta maaf, dan mengucapkan salam perpisahan. Dia mengangguk lalu tersenyum manis, senyum yang aku lihat untuk terakhir kalinya.

***

Benar-benar perasaan dengan pertemuan yang sangat singkat. Jinjja!!! Baru kali ini aku spesies ice princess. Benar-benar menggetirkan. Haha... baru kali ini juga, aku mellow tentang perasaan, tapi baiklah, hari ini saatnya MOVE ON! Annyeonghi gaseyo Suzy-a...
-Sunggyu

Tidak ada lagi senyuman manis dan pemandangan bola mata coklat tua di pagi hari, yah... aku berharap semoga aku tetap semangat mengikuti pelajaran dikelas walau tanpa dia. *ehem... eciee....* ah, sudahlah. Relakan kepergannya. Kata Sungjong “Cinta sejati itu melepaskan...”
-Myungsoo

Huft!!! Akhirnya out juga! Annyeonghi gaseyo Myungsoo-ssi. Dan selamat! Kamu sudah berhasil membuat hatiku berbunga-bunga. Tapi perasaan ini tidak akan ku biarkan untuk terus tumbuh. Good bye all. Busan!!! I’m Coming!!!
-Suzy

Sejak kehadiran Suzy, teman-temanku jadi gila semua. Sunggyu pura-pura benci tapi sebenarnya suka, dan Myungsoo yang terang-terangan menampakkan rasa sukanya ke Suzy. Untung aku selamat dari perasaan itu. Hahaha.....
-Woohyun

-End-