Senin, 04 April 2016

Because I Born To Be Yours Part 1


Title             : Because I Born To Be Yours Part 1

Main Cast    : MyungYeon Couple
Other Cast   :
-          Park Hyojoon as Jiyeon appa
-          Han Jimin as Jiyeon eomma
-          Kim Sunggyu (Infinite) as Myungsoo appa
-          Song Jihyo as Myungsoo eomma
-          Nam Woohyun (Infinite) as Gyuri appa (Jiyeon appa)
-          Jung Eunji (Apink) as Gyuri eomma (Jiyeon eomma)
-          Nam Gyuri as Jiyeon’s friend and Jiyeon-i dongsaeng
-          Lee Joon (MBlaq) as Myungsoo’s asistent
-          JB / Im Jae Bum (GOT7) as Jiyeon’s friend
-          Hoya / Lee Hoya (Infinite) as Jiyeon’s friend
Genre          : Married Life, School Life, and other
Rate            : 17+
Length         : Part
Author         : Nam Ohyun

Jiyeon POV
             Annyeong haseyo. Jeoneun Park Jiyeon imnida. Usiaku saat ini 17 tahun. Disinilah aku tinggal. Di sebuah rumah kecil yang hanya berisi beberapa perabotan rumah tangga. Aku tinggal bersama eomma dan appa. Oh iya aku bersekolah di Kirin Art High School. Aku mendapatkan beasiswa untuk bersekolah disana. Aku juga bekerja paruh waktu untuk menghasilkan pendapatan tambahan untuk keluargaku.
             Setelah sarapan aku berpamitan kepada eommaku untuk pergi ke sekolah. “Eomma. Aku berangkat.” Pamitku. Aku hampir saja lupa. “Eomma. Ini bayaranku selama bekerja di bakery samping sekolah.” Ujarku seraya menyerahkan amplop berisi uang kepada eomma.
             “Jiyeon-a. Ini untukmu. Tabunglah uang ini untuk keperluan pribadimu.” Eomma memberiku beberapa lembar uang.
             “Appa tidak pulang semalam?” tanyaku ketika menyadari sandal appa tidak ada di depan pintu.
             “Molla. Mungkin appamu berjudi lagi.” Jawab eomma ketus. Perlahan aku melangkahkan kakiku pergi. “eomma aku berangkat. Annyeong.” Pamitku sekali lagi.
             Di depan rumah aku melihat seseorang berjaket tebal berwarna hitam sedang berjalan sempoyongan. “Appa!” teriakku kemudian. Eomma yang mendengar teriakan ku segera keluar dari dalam rumah.
             “Jiyeon-a. pergilah ke sekolah. Biar appamu eomma yang urus. Pergilah.” Perintah eomma. Aku segera pergi dari hadapan keduanya.

Kirin Art High School
Kali ini pikiranku kacau. Hutang appa yang kemarin masih belum lunas dan sekarang mungkin appa sudah berhutang lagi.
             “Jiyeon-a. Jiyeon!” bentak salah seorang temanku. “Kau kenapa?” tanyanya seraya memberiku sekaleng minuman padaku. Nam Gyuri. Dia satu-satunya teman yang dekat denganku. Dia adalah putri dari pemilik sekolah ini. Walaupun aku dari kelurga tidak mampu dia tetap bersikap baik padaku dan mau membantuku. Walaupun appaku seorang pemabuk dan suka berjudi dia tidak sedikitpun menjauhiku.
             “Gomawo. Aku…”
             “Appamu berhutang lagi?” tanyanya kemudian.
             “Eo. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku bekerja paruh waktu untuk belanja eomma. Aku tidak bisa melunasi hutang appa yang segitu banyaknya. Gyuri-a, apakah kau bisa membantuku?” ujarku memohon.
             “Akan  ku usahakan . Tapi aku tidak janji. Kau tau kan appaku seperti apa.”
             “eo.” Jawabku singkat.
             “Jangan sedih, senyum…” hibur Gyuri seraya menarik bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman. Beberapa detik kemudian aku ikut tersenyum.

Author POV
Woollim Group
             “Ada apa kau datang kesini Gyuri?” Tanya seorang pria tinggi dan tampan sambil melangkah mendekati sepupunya. Nam Gyuri. Pria itu adalah putra pemilik Woollim group sekaligus pemilik KMS Restaurant. Namanya Kim Myungsoo.
             “Oppa, apakah kau masih belum menemukan wanita yang cocok untukmu?” Myungsoo menaikkan alisnya mendengar pertanyaan Gyuri. Dua hari yang lalu, Myungsoo dipaksa bertunangan dengan seorang wanita pilihan eommanya. Dengan alasan orang tuanya ingin segera memiliki cucu. Dan menurut orangtua Myungsoo, pria itu sudah cukup umur untuk memiliki sebuah keluarga.
             “Wae? Kenapa tiba-tiba kau menanyakan  hal itu?”
             “Ani. Aku ingin kau membantu temanku dengan memanfaatkan itu. Jebalyo oppa.”
             “hahaha. Kau mau menjodohkanku dengan gadis kecil seusiamu?” Myungsoo tertawa lebar. Sedangkan Gyuri memajukan bibirnya dan melipat tangannya di depan dada melihat tingkah laku Myungsoo. “ehem, memangnya siapa namanya?”
             “Jiyeon. Park Jiyeon.”
             “Apa alasanmu ingin aku membantunya?” Tanya Myungsoo.
             “Haruskah aku menceritakan  secara detail?”
             “Intinya saja.” Jawab Myungsoo segera.
             “Jiyeon. Appanya terlilit hutang seratus juta won. Dan Jiyeon bekerja mati-matian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.”
             “Kau punya fotonya? Dan alamat rumahnya?”
             “Eo. Ini. Yang ini. Dan ini alamat rumahnya.” Gyuri menyerahkan selembar kertas yang berisi gambar Jiyeon dengan Gyuri disana. Myungsoo membalik gambar tersebut dan mendapati alamat rumah Jiyeon.
∞∞∞
Park Family’s House
             Pranggg!!! Brakk!!!
             “Ya! Kapan kau bayar hutangmu! Ini sudah dua bulan!” seorang pria bertubuh besar tampak sedang melempar barang-barang yang ada di rumah Jiyeon.
             “Appa!!!” Jiyeon yang berada di pintu depan berlari menuju appanya yang sudah terluka parah. “Appa gwaenchanha?” jiyeon memegang kedua pipi appanya.
             “Apa dia putrimu? Kenapa kau tidak mengatakan  kalau kau punya seorang putrii yang sangat cantik?” pria bertubuh besar itu mendekat kearah Jiyeon dan mengusap lembut pipi Jiyeon.
             “Jangan sentuh anakku!” teriak appa Jiyeon. Jiyeon melihat kearah appanya. Menatapnya tidak percaya. Ini baru pertama kalinya appanya memanggilnya dengan sebutan ‘anakku’. “Beri aku waktu seminggu lagi. Aku akan  melunasi semua hutangku.”
             “Ah, baiklah kalau begitu. Kalau kau tidak melunasi hutangmu… anakmu yang cantik ini akan  kujadikan istriku.” Pria itu akhirnya pergi dari rumah Jiyeon.
             Di luar Myungsoo mengintip kejadian yang menurutnya hal luar biasa yang terjadi di dalam rumah kecil milik keluarga Park. Beberapa saat kemudian, Myungsoo kembali kemobilnya dan memerintahkan sopirnya untuk kembali.
∞∞∞
Woollim Group
             “Appa, bisakah aku bicara denganmu sebentar?” Tanya Myungsoo yang baru datang dari rumah Jiyeon.
             “Bicaralah. Selagi appa ada waktu.” Kim Sunggyu masih asik dengan pekerjaannya.
             “Aku… aku sudah mempunyai calon istri. Aku ingin memutuskan pertunanganku dengan wanita pilihan eomma. Bae Suzy.” Ujar Myungsoo tegas. Seolah dia sudah mantap untuk menikahi wanita yang sama sekali belum ia kenal dan ia temui sebelumnya. Seakan  ia yakin hidupnya akan  bahagia bersama wanita pilihannya.
             “Siapa namanya?” Sunggyu mulai mengangkat kepala melihat Myungsoo.
             “Park Jiyeon.”
             “Baiklah. Tentukan tanggal pertemuannya.”
             “Ne appa.”

3 Days Later
Park Family’s house
Hari mulai pagi. Mentari mulai menampakkan sinarnya. Hari ini tepatnya hari minggu dimana semua siswa sedang menikmati hari libur dengan kegiatan yang mereka sukai. Namun tidak dengan Jiyeon. Wajahnya terlihat murung. Pikirannya hanya tertuju pada hari pertunangannya dengan Myungsoo yang akan  dilaksanakan  hari ini. Ia menatap dirinya di depan sebuah cermin besar yang ada di kamarnya.

Flashback
“Jiyeon-a kosongkan jadwalmu besok.” Ujar Jimin yang sedang asik bersih-bersih di ruang tamu.
“Memangnya kenapa eomma?” tanya Jiyeon heran. ‘tidak biasanya eomma menyuruhku untuk menghabiskan waktu dirumah selama liburan.’ Batin Jiyeon.
“Keluarga Tn. Kim akan mengadakan  lamaran di restoran milik putranya.”
‘Mwo? Tn. Kim? Bukankah dia pemilik perusahaan terbesar di Korea Selatan? Dan tunggu. Bukankah dia hanya memiliki satu putra? Kim Myungsoo? Dan umurnya pun berbeda jauh denganku. Bagaimana bisa mereka menjodohkan putra mereka dengan remaja berumur 17 tahun sepertiku?’ Gerutu batin Jiyeon. “Apakah itu artinya aku akan  menikah dengan calon pewaris Woollim group?” Tanya Jiyeon tidak yakin.
“Tentu saja. Dengan begitu secara tak langsung kau akan  menyelamatkan hidup appa dan eomma.” Jawab eomma Jiyeon.
“Apakah appa berhutang lagi pada mereka?” Tanya Jiyeon dengan mata yang berkaca-kaca.
“Molla. Ah sudahlah. Sebaiknya kau istirahat supaya tidak bangun kesiangan.” Usir Jimin. Tanpa sepatah katapun Jiyeon akhirnya segera pergi ke kamarnya.
Flashback end

             “Wah… Jiyeon-ku yang cantik. Ayo pergi.” Perintah Jimin sambil sedikit merapikan rambut Jiyeon.
             “Eomma… tak bisakah aku menolak lamaran ini? Aku masih belum siap menikah sekarang eomma.” Ujar Jiyeon lirih. Air matanya tidak bisa ia tahan lagi.
             “Jiyeon dengarkan eomma. Ini adalah jalan yang terbaik untuk keluarga kita. Bukankah Kim Myungsoo juga tampan? Sepertinya dia cocok denganmu.” Jimin mencoba menghibur putrinya Jiyeon.
             “Tapi eomma, bukankah sebuah hubungan membutuhkan cinta agar tidak mudah hancur? Aku belum siap untuk menerimanya eomma…”
             “Hapuslah air matamu Jiyeon. Percayalah pada Eomma dan Appa. Kau akan  bahagia bersamanya. Sudahlah ayo cepat keluar sebelum appamu marah.” Ujar Jimin sekali lagi. Beberapa detik kemudian Jiyeon menyusul eommanya dan berangkat menuju tempat pertemuan dengan keluarga Kim Sunggyu.

KMS High Restaurant
             “Annyeong haseyo. Apakah anda Tn. Park Hyojoon?” sapa seorang pria berjas hitam mendekati Park.
             “Ah, ne.” jawab Hyojoon singkat.
             “Silahkan lewat sini.” Pelayan itu mengantarkan Jiyeon dan orang tuanya menuju sebuah ruangan khusus yang sudah disiapkan oleh keluarga Kim.
             “Annyeong haseyo. Silahkan duduk.” Kim Myungsoo beserta dengan keluarganya berdiri memberi salam kepada Keluarga Jiyeon.
             “Appa. Perkenalkan, ini calon istriku. Park Jiyeon.” Myungsoo mulai membuka pembicaraan.
             “Annyeong haseyo. Park Jiyeon Imnida.” Sapa Jiyeon sambil sedikit menundukkan kepalanya. Ekspresinya datar tanpa sedikit senyuman untuk Myungsoo.
             “Jadi kau yang bernama Jiyeon?” Tanya Jihyo. Eomma Myungsoo.
             “Ne eomonim.”
             “Dia tidak lebih baik daripada Suzy.” Umpat Jihyo.
             “Eomma. Diamlah.”
             “Jadi kapan kira-kira pernikahan mereka akan dilaksanakan?” tanya Hyojoon.
             “Sepertinya akan lebih baik kalau kita menikahkan anak kita lebih cepat.” Jawab Sunggyu santai.
             “Kalau begitu bagaimana kalau minggu depan saja? Bagaimana Tn. Kim?” usul Jimin.
             “Saya terserah pada anda.” Jawab Jihyo kemudian.
             ‘Satu minggu? Apakah eomma dan appa benar-benar akan menikahkan kami? Perbedaan umur kami bahkan sangat jauh. Tapi jika ini yang bisa aku lakukan untuk eomma dan appa maka akan kulakukan. Aku pasrah padamu Tuhan…’
             “Baiklah kalau begitu mari kita bersulang untuk pertunangan Myungsoo dan Jiyeon.” Sunggyu berdiri dan mengangkat gelasnya. Beberapa detik kemudian disusul oleh Hyojoon dan lainnya.
             “Bersulang.” Semua orang tampak sangat bahagia kecuali Jiyeon dan Myungsoo. Keduanya merasa canggung.
             Disaat semua orang selesai makan Myungsoo mengajak Jiyeon pergi keluar. Sesampainya diluar Myungsoo menarik tangan Jiyeon dan membawanya ke tangga darurat. Sepi. Tak ada seorang pun yang lewat di tempat itu. Myungsoo menutup pintu dan memojokkan Jiyeon disana.
             “Ahjussi kau siapa? Apakah saya mengenal anda sebelumnya?” Jiyeon mulai berbicara. Myungsoo tidak menjawab. Ia hanya menatap lekat gadis yang ada dihadapannya. “Ahjussi. Jawablah pertanyaanku.” Paksa Jiyeon. Beberapa detik kemudian, Myungsoo memeluk Jiyeon dan meminta maaf.
             “Jiyeon-a.”
             “Ahjussi. Aku tau. Aku tau appaku menyerahkanku padamu untuk melunasi hutang appa. Aku rela melakukannya untuk appa. Aku rela melakukan apa saja untuk appa. Tidak peduli apa yang harus aku lakukan. Aku ingin appaku kembali seperti semula dan tidak terlilit hutang. Mulai sekarang, aku akan menyerahkan diriku kepadamu Tuan Kim Myungsoo.” Jiyeon sedikit menekan kata Kim Myungsoo. Bukan karena ia ingin mengancam ataupun menantang. Tapi karena ia sangat sulit untuk mengucapkan kata-kata itu.
             “Uljima. Aku berjanji tidak akan membuatmu menangis lagi.”
∞∞∞
Wedding Day
Jiyeon POV
             Beberapa menit lagi pernikahanku akan dilaksanakan. Dan sebentar lagi aku akan menjadi istri seorang pengusaha kaya bernama Kim Myungsoo. Perusahaan sudah diwariskan kepadanya sejak dua hari yang lalu.
             Tanganku gemetar, badanku terasa dingin. Sesekali aku meremas gaun putih yang ku kenakan  saat ini. Ingin sekali aku meneteskan air mataku. Tapi, mungkin itu akan sia-sia. Tidak ada yang memperdulikanku.
             “Jiyeon-a. Maafkan appa. Kau seperti ini karena appa. Maafkan appa.” Ucap appaku seraya memelukku erat. Seakan  tidak mengijinkanku untuk menikah.
             “Appa tidak perlu meminta maaf padaku. Setelah ini, setelah pernikahan ini selesai, aku harap appa tidak berjudi lagi dan berhutang lagi seperti dulu.”
             “Arasseo Jiyeon-a.” jawab appa disela-sela tangisnya.
             “Yakseokhae?” aku mengulurkan jari kelingkingku di depan appa.
             “Yakseokhae.” Jawab appa kemudian sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingkingku.
             “Ehem… Mempelai wanita, ini sudah saatnya untuk pergi.” Ujar seorang pria dari dekat pintu.
             “Ah, Jiyeon-a. ghaja.” ajak appa seraya mengulurkan tangannya. Aku menghapus air mataku dan meraih tangan appa. Perlahan kami menuju ke altar pernikahan.
             “Pintu masuk mempelai wanita” sedetik kemudian setelah suara itu di serukan pintu masuk terbuka lebar. Aku dan appa memasuki gedung penikahan yang Tn. Kim siapkan.
             “Kim Myungsoo… tolong jaga Jiyeon baik-baik.” Ujar appa pada Myungsoo.
             “Ne, abeonim.” Jawab Myungsoo kemudian. Perlahan appa mengarahkan tanganku di lengan Myungsoo. Didepanku ada seorang pendeta. Kami membaca janji suci. Dan akhirnya Kim Myungsoo memasangkan cincin pernikahan di jari manisku. Begitu juga denganku.

After The Wedding
             “Menantuku, bekerja keraslah malam ini untuk membuatkan kami cucu.” Ujar ibu mertuaku. Tiba-tiba tanganku gemetar. Aku gugup. Lebih gugup daripada sebelum prosesi pernikahan tadi.
             “Eomma, kami akan tinggal di rumahku mulai malam ini.” Sambung Myungsoo yang baru datang mengambil minuman. Entah kenapa seolah aku merasa Myungsoo tidak ingin aku mendengar hal semacam itu.
             “Oh Wae? Kenapa kalian tidak tinggal di rumah kami dulu?”
             “Aniyo eomma. Aku tidak ingin mengganggu eomma dan appa.”
             “Terserah kau saja. Yang penting kalian tidak lupa untuk membuat bayi untuk eomma dan appa.”
             “Eomma sudahlah.”
             “Ah, kalau begitu eomma pergi dulu.” Eomeonim pun akhirnya meninggalkan kami.
             “Aku haus. Aku akan mengambil minuman sebentar.” Pamitku. Sebenarnya aku tidak haus. Tapi aku terlalu gugup untuk bersama dengan Myungsoo. Saat aku mulai beranjak Myungsoo menarik tanganku hingga aku terduduk kembali.
             “Duduklah disini.” Ujarnya singkat. “Hyung. tolong ambilkan minuman untuk Nyonya kecil ini.” Perintah Myungsoo pada Lee Joon yang sedari tadi berada di sebelah kanan kami. Dengan segera Lee Joon berdiri dan berjalan mengambilkan minuman untukku.
             Sementara Lee Joon keluar. Diruangan ini hanya ada kami berdua. Aku dan Myungsoo. “ehem.” Myungsoo sedikit berdeham. “Kenapa kau hanya diam saja dari tadi?” tanyanya kemudian.
             “Aku… aku tidak tau harus bicara apa.” Jawabku sedikit gugup.
             “Kau istriku sekarang. Bisakah aku mengenalmu lebih dekat?” Tentu saja. Aku sudah sah menjadi istrimu sekarang ahjussi. Tapi masalahnya aku terlalu gugup untuk berbicara denganmu.
             Aku terdiam sesaat. Mengumpulkan semua nyaliku untuk berbicara dengan ahjussi yang sedang duduk didekatku. Tak lama kemudian Lee Joon datang membawa minum dan memberikannya padaku. Aku meraih minuman itu dan meminumnya sedikit.
             “Apakah semua tamu sudah pulang?” Tanya Myungsoo.
             “Ne. semuanya sudah pulang kecuali…”
             “Kecuali siapa?”
             “Suzy.”
             “Ish… apakah dia sudah gila? Pertunangan kami bahkan sudah berakhir. Kenapa dia masih menungguku?” Myungsoo berdiri dari tempat duduknya hendak pergi menemui Suzy eonni. Aku menahan tangannya. Aku melihat amarah dimatanya. Entah kenapa dia merasa sangat marah. Aku memohon padanya agar ia kembali duduk. “Suruh dia segera pergi.” Perintahnya pada Lee Joon.
             “Ne Sajangnim.” Lee Joon berpamitan kemudian pergi dari hadapan kami berdua.
             “Ahjussi. Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu? Tapi kau harus menjawabnya dengan jujur.”
             “Tanya saja. Aku tidak akan melarangmu untuk bertanya.”
             “Kenapa kau terlihat sangat membenci Suzy eonni?”
             “Itu karena dia yang membunuh halmeoni tiga tahun yang lalu.”

Flashback
Myungsoo POV
             “Halmeoni aku pulang!” aku baru pulang dari kantorku. Hari ini aku pulang lebih awal karena tidak banyak pekerjaan yang harus aku lakukan di kantor. Aku segera menuju kamar halmeoni. Setibanya di depan kamar halmeoni aku melihat seseorang yang tidak asing lagi di mataku sedang menutupi kepala halmeoni dengan bantal.
             “Suzy! Apa yang kau lakukan?!” teriakku dari pintu. Aku segera mendekati halmeoni yang sudah kehabisan napas dan menampar Suzy. “Mulai sekarang, kau bukan lagi tunanganku! Aku memutuskan hubunganku denganmu! Aku tidak ingin melihatmu lagi. Pergi! Pergiiii!” usirku kasar. Aku memeluk halmeoni. Memeiksa detak jantungnya. Tidak ada. Aku berteriak memanggil halmeoni sekali lagi sekeras-kerasnya. Air mataku tidak bisa ku tahan lagi.
Flashback end

Jiyeon POV
             “hari itu aku menangis untuk yang pertama kalinya. Halmeoni yang sangat aku sayang meninggal karena tunanganku sendiri.” Air mata Myungsoo mulai mengalir. Aku meraih sesuatu disampingku. Kain putih berinisial Jee. Aku memberikannya pada Myungsoo.
             “Uljima.” Hanya satu kata itu yang bisa aku ucapkan untuk membuatnya lebih tenang.

Myungsoo’s House
Author POV
             Sinar mentari pagi memasuki ruang kamar Myungsoo dan Jiyeon yang terlihat sangat berantakan. Pakaian yang mereka kenakan  semalam berserakan  dilantai. Perlahan Jiyeon tersadar dari mimpi indahnya. Ia mengedipkan matanya beberapa kali dan menggeliat pelan seolah tidak ingin membangunkan pria yang sedang tidur sambil memeluknya dari belakang. Perlahan Jiyeon meraih pakaian putih tebal yang ada di lantai dan pergi membersihkan dirinya. Tak lama, Jiyeon selesai membersihkan dirinya dan dia sudah terlihat sangat rapi dengan kaos pink panjang dan celana jeans hitam yang dikenakan nya. Hari ini Jiyeon cuti dari sekolahnya.

Dining room
             Jiyeon menghentikan langkahnya di tangga dekat kamarnya melihat seorang ahjumma sedang memasak banyak makan an. Beberapa pertanyaan terlintas dipikirannya saat ini.
“Anda sudah bangun?” Tanya ahjumma itu.
“Ne.” Jiyeon melanjutkan langkahnya mendekati ahjumma itu. “Ahjumma. Bisakah aku membantumu?”
“Tidak perlu Nyonya kecil. Silahkan duduk.” Ahjumma itu menarik sebuah kursi untuk Jiyeon.
“Kau sudah bangun?” sapa Jiyeon saat melihat suaminya berjalan mendekatinya di tangga. Pria itu hanya menjawab ‘um’ dan meraih sesuatu dari dalam kulkas.
“Silahkan.”
“ne Gomawo ahjumma.” Jawab Jiyeon. Jiyeon meraih sebuah pancake yang ada dihadapannya dan meletakkannya dipiring Myungsoo. “Makan lah.”
“Kau juga harus makan.” Ujar Myungsoo sambil meletakkan sebuah pancake dipiring Jiyeon. Sesungging senyuman terlukis diwajah Jiyeon saat Myungsoo meletakkan makanan dipiringnya.
“Ahjussi kau-”
“Jangan panggil aku ahjussi. Aku masih belum tua.” Potong Myungsoo cepat.
“Lalu aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?”
“Apa saja selain panggilan untuk orang yang sudah tua.” Jawab Myungsoo kemudian.
“Bagaimana kalau Oppa?”
“lalu aku akan  memanggilmu dengan sebutan Chagi” Jiyeon menaikkan alisnnya saat Myungsoo menyebutkan kata ‘Chagi’ padanya. “Wae?” Tanya Myungsoo saat mlihat ekspresi Jiyeon yang tampak kaget.
“Aniyo.”
“Ah baiklah. Kau ingin mengatakan  apa barusan?”
“Bolehkah aku meminjam ponselmu sebentar?” Tanya Jiyeon.
“Untuk apa?”
“Aku ingin menghubungi temanku disekolah.” Pantas saja kalau Jiyeon tidak punya ponsel. Uang hasilnya bekerja ia serahkan kepada eommanya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.
“Kau tidak punya handphone?” Tanya Myungsoo. Jiyeon menundukkan kepalanya dan menggeleng. Sesaat kemudian Myungsoo memanggil Lee Joon dan memerintahkannya untuk memberikan Jiyeon handphone yang baru.
             “ah tidak perlu ahjussi. Um maksudku oppa. Aku akan membeli handphone sendiri dengan uang jajan yang kau berikan padaku.” Cegah Jiyeon.
             “Chagi… uang jajan berbeda dengan uang untuk membeli kebutuhanmu.”
             “Tapi oppa-” kalimat Jiyeon terhenti ketika Myungsoo membungkam mulut Jiyeon dengan bibirnya. Sekilas. “baiklah.”
             “Barangnya akan tiba sebentar lagi sajangnim.”

Beberapa saat kemudian
Ting… tong…
             “Ahjumma tolong bukakan  pintunya.” Perintah Myungsoo.
             “Ne.” Ahjumma segera menuju ke pintu depan dan menerima sebuah paket. Lee Joon tidak membelinya sendiri. Tapi ia menyuruh karyawan Myungsoo untuk mengirimkan handphone itu ke rumah Myungsoo.
             “Ini untukmu. Bukalah.” Ujar Myungsoo seraya menyerahkan kotak yang diberikan oleh ahjumma barusan. Jiyeon membuka isi kotak tersebut dan segera meraihnya. Sebuah handphone yang mirip dengan handphone milik suaminya. Jiyeon menelan ludah.
             “Ini kan keluaran terbaru.”
             “Kau bisa menggunakan itu. Sini biar ku simpan nomorku.” Jiyeon mnenyerahkan ponselnya agar Myungsoo bisa menyimpan nomornya. “Sudah.” Setelah Myungsoo menyimpan nomornya sendiri, ia mengembalikan ponsel itu pada Jiyeon.
             “Gomawo…” ucap Jiyeon seraya mengecup bibir mungil suaminya. Bibir Myungsoo tertarik keatas membentuk sebuah senyuman.
             Dalam sehari mereka bisa sangat akrab. Bagaimana tidak? Keduanya memang sangat mudah beradaptasi.
∞∞∞
             Hari mulai gelap. Matahari kembali menyembunyikan sinarnya dan digantikan oleh sinar rembulan. Jiyeon sedang berdiri didepan jendela kamarnya dengan balutan kemeja hitam yang ukurannya cukup besar. Yah. Kemeja itu milik Myungsoo. Bukan tanpa alasan Jiyeon menggunakan  kemeja itu. Tapi karena Myungsoo yang menyuruhnya.
             “Kau belum tidur?” Tanya Myungsoo seraya memeluk istrinya dari belakang. “Kau merindukan eomma dan appamu?” Tanya Myungsoo sekali lagi. Jiyeon menundukkan kepalanya dan mengangguk pelan. “Kau ingin menemui mereka?” lagi-lagi Jiyeon hanya mengangguk.
             “dulu. Sebelum kau datang melamarku. Sebelum appaku berubah seperti sekarang. Aku selalu menunggunya di depan rumah. Dia selalu pulang dalam keadaan mabuk. Terkadang appa memukulku saat aku meminta uang padanya. Tapi ketika aku tau appa terlilit banyak hutang, aku berusaha mencari pekerjaan. Menjadi pelayan toko, membantu tetanggaku berjualan keliling, bahkan sampai aku menjual Koran keliling. Ibuku menjual ikan dipasar. Tapi aku tidak pernah malu dengan keadaanku yang seperti itu. Aku semakin semangat bersekolah. Walaupun teman-temanku mengejekku karena keadaan ekonomi kami yang sangat rendah.” Air mata Jiyeon tidak bisa ditahan lagi. Cairan bening itu mengalir deras dipipi Jiyeon. Myungsoo membalikkan tubuh Jiyeon dan memeluknya erat. Myungsoo mencoba meredakan  tangisan Jiyeon.
             “Mulai sekarang. Saat kamu senang, sedih, bahkan marah katakan semuanya padaku. Aku siap menjadi buku harianmu dan menjadi pelampiasan amarahmu.”
             Jiyeon mendongakkan wajahnya menatap Myungsoo. Begitupun Myungsoo. Ia menunduk menatap Jiyeon. Perlahan Myungsoo semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Jiyeon. Jiyeon memejamkan matanya saat bibir Myungsoo mendarat tepat di bibirnya. Bibir Myungsoo kini mulai bergerak menyapu kedua sisi bibir Jiyeon. Jiyeon masih terdiam. Tidak ada respon dari Jiyeon. Wanita itu seolah tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tidak ada penolakan dari Jiyeon. Seiring berjalannya waktu, Jiyeon mulai memberanikan diri membalas ciuman Myungsoo. Tangannya ia naikkan ke tengkuk Myungsoo.
             Sepuluh menit berlalu, Myungsoo melepaskan ciumannya. Perlahan kedua mata Jiyeon terbuka. Ia menurunkan tangannya dari tengkuk Myungsoo. Jiyeon menunduk malu, tidak menyangka bahwa ia akan melakukan hal seperti ini. Tapi bukankah kalian sudah melakukan hal yang lebih dari ini semalam? Itu wajar Jiyeon. Kau sudah punya suami. Apalagi mertuamu ingin segera mempunyai cucu.
             “Tidurlah. Ini sudah malam. Besok kau sudah mulai sekolah.” Ujar Myungsoo seraya menggendong Jiyeon dan menidurkannya diranjang besar milik mereka.
             “Jaljayo oppa.”
             “um jalja.”
∞∞∞
             Sinar mentari pagi yang sangat cerah menembus jendela kamar Myungsoo dan Jiyeon. Disana seorang wanita berseragam sekolah sedang merapihkan dasi prianya yang tidak lain adalah suaminya. Yah, hari ini mereka memulai aktifitas mereka kembali. Ada perbedaan dengan penampilan Jiyeon kali ini. Tas, sepatu, seragam, dan peralatan sekolah yang baru. Kemarin, Myungsoo yang membelikan peralatan sekolah itu bersama Lee Joon. Asisten pribadinya.
             “Kau mau aku yang mengantarmu atau Lee Joon yang mengantarmu?” Tanya Myungsoo saat Jiyeon selesai merapihkan dasi Myungsoo. Jiyeon tersenyum lebar dan mengarahkan telunjuknya pada Myungsoo. Pria itu kemudian tersenyum dan mengacak pelan rambut istrinya yang masih dibawah umur itu. “ayo sarapan.”
             Di meja makan sudah tersedia banyak makanan yang dimasakkan ahjumma untuk mereka. Tentu saja Jiyeon tidak hanya makan berdua dengan Myungsoo tapi disana juga sudah ada Lee Joon yang siap menyantap sarapan paginya.
             “Nyonya kecil. Hari ini kau ingin aku atau dia yang mengantarmu?” Tanya Lee Joon dengan mulutnya yang dipenuhi oleh makan annya.
             “Ya! Kalau makan jangan bicara. Sejak kapan aku mengajarimu seperti itu?” ujar Myungsoo dengan nada tinggi. Jiyeon melihat kearah Lee Joon dan menunjuk Kim Myungsoo dengan telunjuknya.
             “Arasseo.” Jawab Lee Joon kesal.
∞∞∞
Kirin Art High School
             Selesai makan Jiyeon pergi kesekolahnya yang diantar oleh Myungsoo. “Kau tidak meninggalkan ponselmu kan?” Tanya Myungsoo mengingatkan.
“Aniyo. Aku membawanya.”
“Baiklah pakai sabuk pengamanmu.” Myungsoo perlahan menyalakan  mobilnya dan melajukannya.
∞∞∞
Sesampainya disekolah, Myungsoo menahan tangan Jiyeon saat Jiyeon hendak membuka pintu mobilnya. Ia menempelkan bibirnya dengan bibir Jiyeon.
Beberapa detik kemudian, seseorang mengetuk pintu mobil Myungsoo. Reflex keduanya saling menjauhkan wajahnya masing-masing. Myungsoo membukakan jendela yang berada disebelah kanan Jiyeon.
“Ck dasar pengantin baru. Ini sekolah oppa!” Tegur gadis berwajah cantik seperti Barbie itu. Nam Gyuri. “Jiyeon ghaja. Lima menit lagi bel masuk.” Ujarnya lagi.
“Oppa, annyeong.” Pamit Jiyeon. Jiyeon pun turun dari mobil hitam milik Myungsoo itu.
“Oppa? Harusnya kau memanggilnya dengan sebutan chagi Jiyeon-i. ah, tapi itu tidak masalah. Ya sudah. Oppa, aku pinjam Jiyeonnya dulu ya. akan ku kembalikan nanti sepulang sekolah. Annyeong….”
Brakk!!!
Gyuri menutup pintu mobil itu dengan kasar.
“Ya!” teriak Myungsoo dari dalam mobil sebelum ia menjalankan mobilnya kembali.
Disisi lain seorang pria yang juga berseragam sekolah yang sama dengan seragam sekolah Jiyeon membulatkan matanya dan melihat Jiyeon dengan tatapan kesal. -JB- Tangan kanannya menggumpal dan memukul telapak tangan kirinya sendiri. “Awas saja nanti. Ahjussi itu, tidak akan aku biarkan dia hidup tenang. Berani-beraninya dia mencium Jiyeonku.” Ujarnya kesal.
“Ya! Memangnya kau berani melawan ahjussi itu? Dan pantas saja Jiyeon memilihnya. Dia itu tampan. Tidak sepertimu.” ejek Hoya seraya memukul kepala JB dari belakang dengan pukulan yang sedikit keras.
“Ya! Tidak bisakah kau tidak memukulku?!” teriak JB kesal dan pergi meninggalkan Hoya.
“Ya! JB-ssi. Kau marah? Ya… aku hanya bercanda…” goda Hoya sambil mengayunkan tubuh JB.
“Sudahlah… kau tidak pernah di pihakku.”
∞∞∞
             “Gyuri-a. Kau mengenal Myungsoo?” Tanya Jiyeon.
             “Jiyeon-ssi!” Teriak seorang siswa pada Jiyeon. Reflex Jiyeon dan Gyuri menoleh kearahnya. Betapa kagetnya Jiyeon saat mendapati siswa yang memanggilnya adalah pria terpopuler disekolah itu. Wajar saja Jiyeon kaget, ini baru pertama kalinya semenjak ia masuk ke sekolah ini dipanggil oleh namjachingunya. (teman laki-laki bukan pacar) -JB-
             “Wae?” Tanya Jiyeon heran.
             “Tadi itu… siapamu?” Jiyeon mengernyitkan dahinya. “Geu ahjussi…” lanjut JB. Jiyeon menoleh kearah Gyuri seolah meminta bantuan untuk menjawab. Tidak mungkin Jiyeon mengatakan yang sejujurnya pada chingudeulnya.
-TBC-

[Nappeun Namja Pt.2] Graduation School




Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol, Jung Yein
Genre   : School life, other
Length   : Chapter
Author   : Nuril Fania Farid Mahfud

Rasa sakit yang kau berikan, takkan pernah bisa aku lupakan. Kau adalah pria terjahat yang pernah aku kenal. -Lee Jinsol-

Jinsol berjalan menuju asramanya sambil menahan sakit di bagian selangkangannya sesekali ia meringis kesakitan. Asrama sudah sangat sepi. Karena ini sudah waktunya tidur. Asrama Jinsol sudah tak jauh dari tempatnya saat ini. Jinsol terus berjalan. Dengan langkah hati-hati ia membuka pintu asramanya. Ia memasuki kamarnya dan mengunci pintu. Jinsol segera menuju tempat tidurnya. Ia melihat Yein tidur tanpa selimut. Jinsol kemudian menaikkan selimut Yein hingga menutupi lehernya. ‘Yein maafkan aku. Ini salahku. Seharusnya aku tidak mendekatinya.’ Gumam batin Jinsol sambil mengusap kepala Yein pelan. Air mata Jinsol tak bisa dibendung lagi.

Nappeun namja Pt. 2

Hari sudah pagi. Semua siswa sudah siap untuk berangkat ke kelas. Bahkan ada yang sudah sampai sejak tadi. Jinsol dan Yein baru saja keluar dari asrama. Tak lupa mereka mengunci pintu sebelum pergi. Mereka melewati koridor sekolah. Dari jauh Jinsol melihat Jungkook berjalan dengan santai sambil mendengarkan musik. Penampilan yang biasa namun bisa membuat semua gadis disekolah itu tertarik padanya.

Jinsol dan Yein terus saja melangkah. Begitu juga dengan Jungkook. Hingga kini Jungkook semakin dekat dengan dirinya. Jinsol berharap Jungkook akan meminta maaf atas perbuatannya semalam. Namun semua tak berjalan seperti apa yang Jinsol harapkan. Jungkook melewatinya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jinsol. ‘Kau pria jahat Jungkook!’ rutuk Jinsol dalam hatinya.

Jam pelajaran sudah di mulai sejak 45 menit yang lalu. Jinsol dan Yein duduk bersebelahan. Hari ini mereka ada pelajaran melukis. Dengan tema wajah seseorang yang disukai. Yein melihat Jinsol sedang melamun. Perlahan Yein menyentuh lengan Jinsol.”Jinsol-a? kau akan menggambar wajah siapa? Aku akan menggambar wajah Jungkook. Yang keren, tampan, dan seperti malaikat.” Seru Yein sambil memuji Jungkook. Yah, Yein menyukai Jungkook. Sejak pertma kali ia masuk di sekolah ini. namun Yein tidak pernah merasa cemburu saat Jungkook berdekatan atau bahkan berpacaran dengan gadis lain. Yein tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Baginya, harga diri lebih penting dari pada perasaannya. “Hei Jinsol.” Panggil Yein sambil mencolek lengan Jinsol. Seketika Jinsol tersadar dari lamunannya.
“Eh iya? Maaf aku kurang sehat hari ini. Jadi aku kurang fokus. Maafkan aku.” Ujar Jinsol.
“Kau sakit? Kau baik-baik saja tadi pagi.”
“Tidak. Aku tidak apa-apa. Kau ini. aku hanya bercanda.” Jawab Jinsol sambil tertawa pelan.
“Jinsol, Yein! Apakah tugas kalian sudah selesai?” Tanya guru pengajar.
“Belum ssaem.” Jawab Jinsol dan Yein bersamaan. Mereka akhirnya mengerjakan tugas bersama.

Ini sudah dua minggu sejak kejadian antara Jungkook dan Jinsol malam itu. Jinsol sudah jarang menghubungi Taehyung. Dengan alasan ia ingin fokus pada ujian yang akan dihadapinya 2 minggu lagi. Jinsol sengaja menjauhi Taehyung karena ia tidak ingin Taehyung mengetahui kejadian buruk yang sudah dialaminya. Sedangkan Jungkook. Dia semakin dekat dengan Yein. Sahabatnya. Ia ingin menjauhkan Jungkook dari Yein karena ia tidak ingin kejadian yang dialaminya akan terjadi pada sahabatnya. Namun disisi lain, Jinsol tidak ingin merenggut kebahagiaan sahabatnya. Saat ini ia benar-benar bingung.

Jinsol baru saja keluar dari ruang latihan. Ia melihat Taehyung sedang menunggunya di depan ruang latihan. “Oppa? Kenapa kau disini?” Tanya Jinsol.
“Tidak. Aku hanya ingin melihat wajah cantik pacarku.” Ujar Taehyung sambil mengusap pipi Jinsol.
“Dasar.” Ujar Jinsol sambil mencubit pinggang Taehyung.
“Oh iya, aku membawakan makan siang untukmu.” Taehyung mengangkat rantang yang dibawanya. “Aku menyuruh eomma untuk memasakkan ini. Tapi aku tidak bilang kalau ini untukmu. Kau mau makan ini bersamaku dikantin?” sedetik kemudian Jinsol mengangguk dan pergi ke kantin bersama Taehyung.

Saat di perjalanan menuju kantin, Jinsol melihat Jungkook dari kejauhan. “Hyung!” panggil Jungkook. Taehyung segera berjalan mendekati Jungkook begitu juga dengan Jungkook. Namun tidak dengan Jinsol. Ia berjalan dengan sangat pelan. Senyumnya seketika luntur. Rasa takut kini sedang menghantui perasaannya. Kejadian malam itu terlintas kembali di pikirannya.
“Jinsol?” panggil Taehyung sambil menarik Jinsol. “Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat.” Taehyung kemudian menyentuh dahi gadis itu dengan punggung tangannya. “Kau sakit? Aku akan mengantarmu ke asrama.” Jinsol masih menunduk. Wajahnya menjadi pucat karena bayangan yang ada di pikirannya. “Jungkook, aku akan mengantar Jinsol dulu. Kau bisa menungguku di taman belakang.” Pamit Taehyung. Ia akhirnya mengantarkan Jinsol kembali keasramanya.

Sesampainya di asrama…
“Yein!” pangil Taehyung sambil mengetuk pintu asrama.
“Aku bisa masuk sendiri oppa. Yein mungkin sedang latihan.” Jinsol menyentuh lengan pria itu dan akhirnya Taehyung pergi meninggalkan Jinsol.
“Cepat sembuh ne. kau harus mengikuti ujian nanti.” Ujar Taehyung sambil memberikan kecupan di bibir Jinsol.
‘Mianhae oppa. Aku tidak bisa mengatakan yang sejujurnya padamu sekarang. Tapi suatu saat nanti aku akan membeitahumu yang sebenarnya terjadi. aku janji.’ Gumam batin Jinsol.
“Jinsol?” panggil Yein yang sedang berjalan menuju kearah Jinsol. “Tidak biasanya kau kembali lebih dulu. Kau kenapa? Apakah kau sakit? Wajahmu pucat.”
“Yein. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu di dalam.” Ujar Jinsol. Ia membuka kenop pintu dan masuk lebih dulu ke dalam asrama itu. Yein pun mengikutinya.
“Ada apa?” Yein mengunci pintu asramanya dan duduk di sebelah Jinsol.
“Yeiin…” Jinsol memeluk Yein dengan erat. Dan saat itu juga air matanya berjatuhan.
“Kenapa? Cerita padaku. Kau ada masalah dengan pacarmu?” Ujar Yein sambil mengusap pelan punggung Jinsol.
“Yein… Aku dan Jungkook… Aku… aku sudah tidak suci lagi.” Jinsol menangis dalam pelukan Yein. Ia takut. Ia takut jika Yein akan membencinya dan menjauhinya.
“Maksudmu, Jungkook memperkosa dirimu gitu?” Tanya Yein. Jinsol hanya mengangguk. “Bagaimana bisa itu terjadi? Apa Jungkook menyukaimu? Ini tidak bisa dibiarkan. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya padamu.” Ujar Yein. Dia segera beranjak dari tempat tidur Jinsol dan hendak pergi menemui Jungkook. Namun Jinsol menahan tangan Yein.
“Ku mohon. Jangan lakukan itu. Jika kau mengatakannya sekarang semua orang akan tau dan aku akan dikeluarkan dari sekolah.”
“Tapi aku tidak suka dia memperlakukanmu seperti ini Jinsol. Aku juga wanita sama sepertimu. Jika aku yang mengalami itu apa kau akan diam saja? Tidak kan? Aku tidak bisa membiarkan dia hidup tenang setelah dia membuatmu menderita Jinsol. Kau lebih penting untukku daripada perasaanku Jinsol. Biarpun aku menyukainya dan bahkan kami sudah mulai dekat sekarang, aku akan menjauhinya untukmu. Aku kecewa padanya. Dia murid yang pintar, tampan dan seperti malaikat. Tapi hatinya jauh dari kata baik.” Ujar Yein. Jinsol kemudian berlutut dihadapan Yein dan memohon padanya agar dia tidak mengatakan itu.
“Yein aku mohon padamu. Jangan katakan ini pada siapa pun. Aku tidak ingin dia marah Yein.”
“Kenapa harus dia yang marah? Harusnya kau yang marah bukan dia. Ini salah dia bukan salahmu.”
“Yein… berjanjilah padaku kau tidak akan mengatakan ini pada siapa pun. Hm?” Ujar Jinsol.
“Baiklah. Sekarang berdiri. Kau tidak boleh berlutut dihadapanku. Aku sahabatmu dan aku akan selalu memaafkan kesalahanmu. Aku akan selalu ada untukmu seperti kamu selalu ada untukku.” Yein membangunkan Jinsol dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
“Maafkan aku. Karenaku, kau jadi membenci Jungkook.”
“Aku lebih percaya padamu Jinsol. Dia sudah berbuat kesalahan yang sangat besar. Dia sudah menghancurkan masa depanmu. Untuk apa aku menyukai orang sepertinya? Sudahlah. Sebaiknya kita belajar saja. Aku ingin kita lulus dari sekolah ini dan membangun sebuah keluarga. Aku, kau dan calon anakmu jika kau hamil. Aku akan membantumu. Aku janji padamu.”

EXAM

Ujian akan di mulai hari ini. Itu artinya, aku akan segera lulus dari sekolah ini. gumam batin Jinsol sambil menatap dirinya yang terpantul di kaca.
“Jinsol, setelah kita lulus dari sekolah ini. aku ingin kita tinggal bersama. Appa bilang, dia sudah membelikan rumah untukku.” Ujar Yein sambil memegang bahu Jinsol.
“Ne. Terima kasih Yein.”
“Apa kau satu ruangan dengan Jungkook?” Tanya Yein. Jinsol hanya mengangguk. “Kau pasti bisa Jinsol. Aku akan selalu mendukungmu.” Ujar Yein sambil mengusap rambut Jinsol. “Ayo. Ujian akan segera dimulai.” Ajak Yein.

@Class

Ujian sudah dimulai sejak satu jam yang lalu. Jinsol mengerjakan soal ujian dengan lancar. Bahkan ia sudah hampir selesai. Tiba-tiba saja ia merasa pusing. Jinsol segera menyelesaikan soalnya. Dan ijin untuk pergi ke toilet. Saat ia tiba di ambang pintu, ia kehilangan kesadarannya. Jungkook yang melihat itu segera menghampiri Jinsol dan membawanya ke UKS. Guru pengawas sudah mengijinkan Jungkook untuk menemani Jinsol di UKS.
Beberapa saat kemudian, Jinsol mulai tersadar. “Kau… sudah bangun?” Tanya Jungkook. Jinsol hendak menjawab namun ia merasa mual. Jinsol segera berlari menuju toilet dan meninggalkan Jungkook. “Ada apa dengannya? Apa dia hamil? Secepat itukah?” gumam Jungkook. Ia kemudian menyusul Jinsol ke toilet. “Kau baik-baik saja?” Tanya Jungkook saat Jinsol keluar dari toilet. “Apakah kau hamil?” tanyanya lagi. Jinsol mengangguk. Ia kemudian menyerahkan test pack pada Jungkook. Ia menunduk. Tidak ada keberanian dari dalam dirinya untuk menatap pria itu. Jinsol hanya bisa menangis. “Maafkan aku. Setelah ini aku harus belajar ke luar negeri. Jadi sebaiknya kau gugurkan saja kandunganmu.”
Mendengar itu, seketika tubuh Jinsol bergetar. Dan sedetik kemudian pukulan yang cukup keras mendarat dipipi mulus Jungkook. “Semudah itukah kau mengatakannya? Ini benihmu dan kau dengan mudah mengatakan itu? Kau yang melakukannya. Kau harus bertanggung jawab atas anak ini Jungkook.” Air mata Jinsol menetes. Di depan pria itu dan mengemis untuk meminta pertanggung jawaban darinya. Sungguh harga dirinya telah jatuh saat ini.
“Cih. Aku bilang gugurkan saja anak itu Jinsol. Aku tidak akan menikahimu. Jika aku menikahimu, bagaimana dengan masa depanku nanti?” Ujar Jungkook penuh penekanan disetiap kata-katanya.
“Masa depanmu kau bilang? Lalu bagaimana denganku? Kau yang merusak masa depanku Jungkook! Inikah yang akan kau lakukan setelah aku menghubungimu bahwa aku hamil? Aku tidak menduga hal ini. aku benar-benar tidak menduga bahwa murid pandai sepertimu, ternyata kelakuannya seperti ini. Jika suatu saat nanti kau membutuhkanku, jangan pernah lagi datang padaku. Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi.”

Jinsol berjalan menuju asramanya. Dengan langkah yang terburu-buru sambil menghapus jejak air mata di wajahnya. “Jinsol? Kau dari mana? Aku dengar kau tadi pingsan di kelasmu. Aku mencarimu di UKS tapi aku tidak menemukanmu. Dan… kenapa kau menangis?” Tanya Yein.
Seketika Jinsol memeluk sahabatnya dengan erat. “Yein… aku… hamil.” Ujar Jinsol.
“Apa? Jinsol kau jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda Yein. Aku serius. Yeiin…” Jinsol menangis lagi dipelukan Yein.
“Kau sudah memberitahu Jungkook tentang ini?” Tanya Yein sambil memegang bahu Jinsol. Jinsol hanya mengangguk. “Lalu?” Tanya Yein lagi.
“Dia menyuruhku menggugurkan kandunganku. Tapi aku tidak mau melakukan itu.” jawab Jinsol sambil menunduk.
“Kenapa?”
“Yein, aku sudah salah melakukan itu dengannya. Dan apakah aku harus melenyapkan bayi tidak berdosa yang sedang ada di dalam kandunganku? Yein. Aku tidak ingin menjadi seorang pembunuh dengan melenyapkan anak ini. Minggu depan ada pengumuman kelulusan. Semoga saja Jungkook akan berubah pikiran dan bertanggung jawab atas anak ini.” Jelas Jinsol.
“Tuhaan… ujian apa yang kau berikan pada sahabatku? Ini bukan hanya ujian materi. Tapi Kau memberikannya ujian rohani juga. Jinsol. Semoga hidupmu selalu bahagia.” Yein memeluk Jinsol dengan penuh kasih sayang. “Aku berjanji akan membantumu. Aku berjanji akan selalu ada bersamamu. Kapan pun kau membutuhkanku datanglah padaku.” Ujar Yein disela-sela pelukannya.
“Aku juga Yein. Aku akan membantumu meraih mimpimu. Aku yakin, suatu saat nanti aku akan berhasil dan mencapai mimpiku menyusul kesuksesanmu.”

Hari demi hari berlalu begitu saja. Nafsu makan Jinsol meingkat karena kehamilannya. Ia juga sudah tidak mual lagi. Wajahnya tampak ceria. Sepertinya ia sudah melupakan masalahnya dengan Jungkook. Lalu bagaimana dengan Taehyung?

Dua hari setelah ujian selesai, Taehyung datang ke asrama Jinsol. Ia tidak bisa datang karena ia harus mengikuti casting untuk film baru. Dan yang pasti akan menghabiskan waktunya dengan syutingnya daripada dengan Jinsol. Jinsol masih diam dan tidak berani mengungkapkan kehamilannya pada Taehyung. Ia berencana akan memberitahu Taehyung setelah ia dinyatakan lulus dan keluar dari asrama.

“Jinsol!” Panggil Yein mengagetkan Jinsol. “Ayo cepat. Sebentar lagi acaranya akan dimulai.” Yein menarik tangan Jinsol agar ia berjalan lebih cepat.
“Yein aku tidak yakin kali ini.” Ujar Jinsol. Yein tidak mempedulikan perkataan Jinsol dan terus melajutkan langkahnya hingga ia tiba di sebuah ruangan yang sangat ramai. Ia menduduki sebuah kursi tepat disebelah ayah Yein. Jinsol sendiri tidak memiliki orang tua. Ia hanya memiliki seorang kakak laki-laki yang sudah menikah. Dan saat ini tidak memungkinkan untuk datang karena ia sedang ada pekerjaan di Amerika.
“Annyeong ahjussi.” Sapa Jinsol saat melihat ayah Yein.
“Jangan panggil aku ahjussi. Anggap saja aku appamu.” Ujar ayah Yein.
“Ah ne appa.” Jawab Jinsol dengan penuh senyum.

Acara sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu. Saat ini adalah pengumuman tentang juara sekolah yang akan dihadiahi dengan sbuah agency dan sejumlah uang dari sekolah.
“Ranking 1 pada hari ini. Diraih oleh seorang siswa yang sangat rajin dan terkenal di sekolah. Dan dia berencana untuk melanjutkan study-nya di Amerika. Mungkin siswa ini sudah tidak asing lagi di sekolah ini. Mari ucapkan selamat untuk Jeon Jungkook. Siswa yang selalu menduduki juara 1 disekolah.”
Jinsol bertepuk tangan malas sambil melihat wajah Jungkook. Air mata kini mengalir dari pelupuk matanya. Mengingat statusnya yang akan menjadi orang tua tunggal untuk anaknya. ‘Aku tidak akan menuntut apapun darimu Jungkook. Aku akan berdoa kepada Tuhan semoga kau selalu bahagia. Dan rasa sakit yang kau berikan, takkan pernah bisa aku lupakan. Kau adalah pria terjahat yang pernah aku kenal.’


-TBC-

Rabu, 09 Maret 2016

Love You Senior

Tittle     : Love You Senior (Saranghae Sunbaenim)
Cast     : Myungyeon couple, Suzy, Hyorin, Jungkook, Chanyeol.
Genre   : School Life
Author  : Nam Ohyun / Ms. Childish

Jiyeon. Seorang siswi baru yang sangat polos. Ia bersekolah di Anyang High School. Sekolah paling bergengsi di Korea Selatan. Hari itu, Jiyeon hendak meminta tanda tangan pada salah satu anggota OSIS yang sedang duduk di pinggir lapangan basket. “Kau mau tanda tanganku? Cium dulu kapten basket yang sedang bermain disana.” Ujar OSIS itu sambil menunjuk namja tinggi yang sedang bermain basket bersama ketiga temannya.
“Me-mencium? Apakah tidak bisa diganti dengan yang lain?” tawar Jiyeon. Ia sangat gugup. OSIS itu menggeleng cepat. Dengan pasrah, Jiyeon menghampiri namja yang dimaksud dan mencium pipinya.
“Kenapa kau menciumku?” Myungsoo kaget. Seketika ia menoleh ke arah Jiyeon dan mengerutkan dahinya.
“Tidak tahu. Sunbae yang menyuruhku.” Jiyeon mendongakkan kepalanya dan menatap Myungsoo.
“Aku menyuruhmu?” Myungsoo mengangkat alisnya sebelah.
“Maksud Jee, sunbae yang it-“ Jiyeon menunjuk kearah OSIS yang tadi menjaili Jiyeon, tapi mereka tiba-tiba menghilang.
Myungsoo tak sengaja melihat teman-temannya yang sedang menertawai Jiyeon. Myungsoo menggeleng pelan dan menatap Jiyeon lagi. “Mana Sunbae itu?” ujar Myungsoo sambil pura-pura melihat ke sekelilingnya.
“J-Jee tidak tahu…” Jiyeon menunduk. Gugup, takut, malu. Semua menjadi satu. Tiba-tiba pipi Jiyeon memerah. Ia melihat ke sekelilingnya lagi.
“Wah… gadis kecil itu cuku berani juga” ujar salah seorang teman Myungsoo bernama Chanyeol.
Myungsoo membalas melihat Chanyeol dan mengangguk. “Iya. Dia sangat berani.” Pandangan Myungsoo beralih lagi pada Jiyeon yang kini sedang menunduk karena takut. “Tidak ada siapapun kan disini?” Tanya Myungsoo.
“Umm… tapi sungguh Jee bukan sengaja menciummu oppa.” Jiyeon menahan rasa malunya karena ditertawakan oleh teman-teman Myungsoo. “Jee harus pergi.” Ujar Jiyeon singkar. Ia kemudian pergi. Namun Myungsoo menahan tangan Jiyeon agar tak pergi.
“Apakah kau marah padaku? Bukankah harusnya aku yang marah padamu?” ujar Myungsoo. Jiyeon bebalik dan menatap Myungsoo.
“Kalau begitu… marahlah. Jee tidak marah. Jee hanya malu.” Jiyeon kembali menunduk sambil melihat teman-teman Myungsoo takut.
Myungsoo menggeleng pelan dan mengacak pelan rambut Jiyeon. “Aku tidak akan marah. Maafkan teman-temanku yah. Sebaiknya kau kembali ke tempat teman-temanmu. Lain kali jangan minta tanda tangan sendirian.” Ujar Myungsoo mensehati.
“Oppa tidak marah? Kalau begitu, Jee kembali dulu. Maafkan soal kejadian tadi oppa.” Ujar Jiyeon penuh senyum. Ia kemudian berlari menuju kelasnya.
“Apa dia barusan memangggilmu oppa? Wah ternyata kalian sangat dekat.” Ujar Jungkook menggoda Myungsoo.
Myungsoo menggelang. “Tidak. Aku tidak mengenalnya sama sekali.” Myungsoo kembali melihat kearah bolanya. “Kaja main lagi.” Ujar Myungsoo.
∞∞∞
Jam istirahat telah tiba. Jiyeon pergi ke perpustakaan. Ia mengambil sebuah novel dan duduk di sebuah bangku yang ada dipojok ruangan.
“Kenapa kau tak menciumku juga?” Tanya salah seorang namja yang tiba-tiba menghampiri Jiyeon.
“Sejak kapan kau disini? Mana mungkin? Aku juga tidak mengenalmu. Aku tidak semurahan itu.”
“Oh benarkah? Tapi tadi dengan mudahnya kau mencium rekanku.” Ujarnya sambil mendekatkan wajahnya dengan Jiyeon.
“Menjauh Dariku!” Bentak Jiyeon sambil memukulkan buku tebal yang dipegangnya pada namja yang menggodanya itu. Jiyeon kemudian lari dari perpustakaan.
Myungsoo sedang berjalan dikoridor sekolah bersama teman-temannya. Ia hanya diam sambil mendengarkan temannya yang sedang bergurau dibelakangnya. Ia kemudian tersenyum dan menggeleng. “Bisakah kalian tidak bergurau? Ini koridor. Kekanak-kanakan sekali.
Jiyeon masih berlari dari arah perpus. Ia tidak melihat Myungsoo dan teman-temannya. Bukk!! Jiyeon tal sengaja menabrak Myungsoo hingga ia sendiri terjatuh. Myungsoo menghampiri Jiyeon terjatuh dan membantunya berdiri. “Gwaenchanha?” Myungsoo melihat kearah Jiyeon. “Eh? Kau lagi?” Myungsoo menikkan sebelah alisnya.
Jiyeon melirik kesamping. “Ah pabo. Ini kedua kalinya Jee berbuat salah padamu oppa. Gwaenchanhayo.” Jiyeon kemudian kembali berlari saat melihat teman Myungsoo keluar dari perpustakaan.
Myungsoo melihat temannya yang baru saja keluar dari perpustakaan. “Kau? Tumben sekali dari perpustakaan.” Myungsoo meaikkan sebelah alisnya “Apa yang kau lakukan dengannya?”
“Bukan urusanmu.” Jawab namja itu dan berjalan meninggalkan Myungsoo dan kawan-kawan.
‘Dia kenapa?’ pikir Myungsoo. Ia mengangkat bahunya dan jalan ke kantin skolah bersama teman-temannya.
∞∞∞
Jiyeon berjalan dikoridor sekolah. “huh, melelahkan sekali semua kejadian sial hari ini. gara-gara eonni-eonni (sunbae) itu.” Gerutu Jiyeon sambil berjalan menuju kelasnya.
“Kau sedang membicarakanku?” tiba-tiba Suzy datang menghampiri Jiyeon. “Sebentar lagi kau akan menjadi pusat cemoohan disekolah ini… kau tau siapa namja yang kau cium tadi? Kau kira orang-orang tak melihatmu menciumnya tadi hah?! Dasar anak kecil!” tiba-tiba sekawanan Suzy datang dan melempari Jiyeon dengan telur.
‘Sial! Kenapa Jee harus mengalami hal ini? pabo!’ rutuk Jiyeon dalam hati.
∞∞∞
Myungsoo masih duduk di kantin sambil menikmati minumannya. Tiba-tiba ia ia mendengar suara siswi lain. “Sepertinya ada keributan.” Ujar Jungkook.
“Lebih baik kita Tanya.” Sambung Chanyeol. Ia kemudian menghentikan salah satu siswi yang sedang lewat di dekat mereka.
“Kau tahu yeoja yang tadi menciummu? Dia sedang dibully sama Suzy dan teman-temannya.” Ujar Siswi tersebut. Ia kembali meneruskan langkahnya melihat keributan itu. Myungsoo seketika membulatkan matanya kaget.
“Lebih baik kita kesana.” Ujar Myungsoo. Ia pun pergi menghampiri Jiyeon.
Didepan koridor, Myungsoo melihat Jiyeon menunduk tak berkutik dan hanya meneteskan airmatanya.
“Lihatlah gadis kecil ini! sungguh menyedihkan.” ejek Suzy tepat di depan wajah Jiyeon.
“Apakah dia menangis?” Tanya Hyorin. “Simpanlah air matamu cantik. Tidak ada orang yang mengasihani gadis tidak tahu malu sepertimu! Berani-beraninya kau mencium namja yang kami sukai!” bentak Hyorin sambil memukul kepala Jiyeon.
“Tapi sun-” ucapan Jiyeon terpotong karena Suzy melempari wajah Jiyeon dengan telur dan sepatu fantofel yang dipakainya.
“Tutup mulutmu!” teriak Suzy.
Myungsoo tidak tahan hanya melihat Jiyeon. Ia segera berlari dan melewati kerumunan banyak siswa
“Hey Hentikan itu!” teriak Jungkook.
Myungsoo menghampiri Jiyeon dan membuka jasnya. Ia memakaikan jasnya di bahu Jiyeon. “Gwaenchanha?” Tanya Myungsoo khawatir. Jiyeon hanya menunduk sambil menangis. “Kenapa kalian mem-bully-nya!” teriak Myungsoo pada Suzy dan teman-temannya.
Suzy dan teman-temannya kaget dan menahan amarahnya karena Jiyeon ditolong oleh Myungsoo. Jiyeon kembali menunduk. “Tanyakan saja pada gadis murahan itu” jawab Hyorin ketus.
“Isshh” Myungsoo mendesah kesal. Ia merangkul tubuh Jiyeon dan membawanya pergi dari hadapan Suzy dan kawan-kawan. “Jha, bersihkan tubuhmu.” Ujar Myungsoo.
“Bukankah OSIS itu yang tadi menyuruhnya mencium Myungsoo? So, bukan salah Jiyeon kalau Jiyeon mencium Myungsoo.” Ujar Chanyeol.
“Sudahlah. Ayo pergi.” Ujar Myungsoo pada teman-temannya.
Setibanya di depan kamar mandi, Jiyeon bercermin di sebuah cermin yang tertempel di dinding. Bibirnya lecet dan mengeluarkan sedikit darah.
“Untuk yang ketiga kalinya aku merepotkanmu. Mianhae oppa.” Ujar Jiyeon merasa bersalah.
“Gwanchanha. Ini juga salahku.” Myungsoo mengusap sudut bibir Jiyeon yang terluka dengan sapu tangan yang dipegangnya. “Bersihkan tubuhmu.”
“Gomawo” ujar Jiyeon.
Myungsoo melihat baju Jiyeon yang sangat kotor “Apa kau bawa baju ganti?” Tanya Myungsoo. Jiyeon menggeleng.
“Aku tidak membawanya. Aku tidak tahu hari ini akan seperti ini.”
“ya sudah. Aku ambil baju gantiku. Kau dapat memakainya. Tapi aku hanya punya kemejanya saja. Dan mungkin, kemeja itu kebesaran untukmu.” Ujar Myungsoo sebelum ia pergi mengambil seragamnya dikelas.
“Itu sudah lebih dari cukup. Gomawo oppa.” Jiyeon tersenyum. ‘ternyata dia baik juga. Ku kira da sama seperti namja lainnya.’ Pikir Jiyeon. Ia memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Myungsoo mengambil bajunya diloker. Ia sempat melihat kearah teman-temannya. “Aku akan memberikan ini dulu pada Jiyeon. Setelah itu aku akan kembali.” Ujar Myungsoo.
Jiyeon sudah membersihkan dirinya. Jiyeon menunggu Myungsoo datang membawakan pakaian untuknya. Jiyeon mengeringkan rambutnya yang basah.
Myungsoo tiba didepan toilet. “seragamnya aku letakkan didepan pintu ya. Aku harus kembali ke kelas.” Ujar Myungsoo.
“Ne. Jeongmal gomawo oppa. Maaf sudah merepotkanmu.” Setelah Myungsoo pergi, Jiyeon mengambil seragam Myungsoo didepan pintu. Ia memakai kemeja kebesaran itu dan meminta ijin untuk pulang.
∞∞∞
Besok harinya, Jiyeon tidak masuk sekolah karena orang tuanya memindahkan Jiyeon ke sekolah biasa setelah kejadian kemarin. Sedangkan Myungsoo berjalan dikoridor dengan wajah datarnya. Ia pergi menuju kelasnya.
“L!” Teriak seseorang dari belakang Myungsoo. Dia terlihat sedang terburu-buru. “Hosh… hosh…” namja itu berlari dengan cepat kearah Myungsoo.
“Ada apa?” Tanya Myungsoo. Ekspresinya masih datar.
“Itu… Jiyeon…”
“Jiyeon?” Myungsoo mengerutkan dahinya tidak mengerti.
“Yeoja polos yang kemarin menciummu. Dia keluar dari sekolah. Orang tuanya memindahkannya kesekolah lain karena kejadian kemarin.” Ujar Jungkook sangat cepat dan tanpa bernapas.
“Jeongmalyo?” Ekspresi Myungsoo yang tadinya datar, kiri berubah seketika menjadi khawatir. “Kau tahu dia pindah kemana?” Tanya Myungsoo.
“Hyehwa High School for girl.” Jawab Jungkook. Myungsoo dengan cepat pergi meninggalkan sekolah. “L! Neo eodiga!” teriak Jungkook.
∞∞∞
Jiyeon sedang berjalan menuju kelasnya. Ia berharap akan menemukan ketenangan disekolah barunya kali ini. Saat ia berjalan di koridor kelas, seseorang tiba-tiba memanggilnya. “Jee!!!” suara yang tidak asing di telinga Jiyeon. Ia membalikkan badannya dan semua siswi melihat kearah namja itu. Benar saja. Dia orang yang kemarin sudah menolong Jiyeon di semua masalah yang dihadapi Jiyeon. ‘Ish… kenapa oppa itu ada disini? Ini kan sekolah khusus untuk yeoja. Kalau saem tau, dia bisa diusir.’ Gerutu Jiyeon dalam hati. Akhirnya Jiyeon memutuskan untuk menghampiri namja itu dan membawanya keluar.
“Oppa. Kenapa oppa ada disini? Kalo saem tahu-”
“Aku bisa di usir.” Potong Myungsoo. “Aku cuma mau minta sama kamu. Tolong kembali ke Anyang High School.” Myungsoo menggenggam tangan Jiyeon. Jiyeon menunduk. Ia meneteskan air matanya. Ia kembali teringat kejadian kemarin. “Uljima. Aku akan melindungimu. Aku janji padamu. Suzy tidak akan menjailimu lagi.” Jiyeon mendongakkan kepalanya menatap Myungsoo. “Saranghae Jee.”
‘apa dia bilang barusan? Apakah dia serius mengucapkannya?’ gumam batin Jiyeon. “Oppa…” ujar Jiyeon lirih.
“Saranghae Park Jiyeon.” Myungsoo mengulangi kalimatnya. Air mata Jiyeon kembali mengalir. Namun perasaannya kali ini berbeda. Jiyeon merasa sangat bahagia, terharu, dan rasanya ingin loncat-loncat. “Maukah kau menjadi yeoja chinguku?” deg! Jantung Jiyeon mulai berdebar kencang, wajahnya memerah, dan… tangannya mulai terasa dingin.
“Kenapa oppa mencintai yeoja polos dan tidak tahu malu seperti Jee?” Tanya Jiyeon.
“Aku suka yeoja polos dan bodoh sepertimu. Jee mau kan jadi pacar oppa?” Tanya Myungsoo sekali lagi. Sedetik kemudian sesungging senyuman terukir dengan sempurna di bibir manis Jiyeon. Jiyeon mengangguk cepat. Cup! Sebuah ciuman singkat tiba-tiba mendarat dengan mulus di bibir Jiyeon. Seketika senyuman Jiyeon memudar menjadi datar.
“Oppa… itu first kiss-ku.” Ujar Jiyeon dengan wajah polosnya. Senyuman Myungsoo ikut luntur.
“Mian.” Satu kata yang keluar dari bibir Myungsoo.
“Gwanchanha. Oppa, Jee masuk kelas dulu. Sebentar lagi bell masuk.” Ujar Jiyeon.
“Andwae. Sekolahmu bukan disini. Sekolahmu di Anyang High School. Kaja.” Myungsoo menarik tangan Jiyeon menuju ke mobilnya. “Sepertinya kita sudah terlambat. Bagaimana kalau kita bolos saja?” ujar Myungsoo.
“Yak! Oppa! Jee tidak mau bolos.” Teriak Jiyeon. Myungsoo melajukan mobilnya menuju sekolah.
∞∞∞
Sesampainya disekolah, Myungsoo dan Jiyeon dikejutkan dengan keadaan sekolah yang sangat ramai. “Apa hari ini ada acara?” Tanya Jiyeon pada Myungsoo. Myungsoo hanya mengangkat bahunya.
“L!” Chanyeol memanggil Myungsoo dari kejauhan. “Jiyeon? Kau disini juga?” Chanyeol menatap Jiyeon tidak percaya. Sahabatnya benar-benar hebat.
“Ada apa itu? Kenapa ramai sekali?” Tanya Myungsoo pada Chanyeol.
“Kau tahu? Suzy dan kawan-kawan sedang dihukum karena perbuatannya Pada Jiyeon kemarin. Lihat saja. Suzy sedang dihukum mengelilingin lapangan basket sebanyak 10 kali dengan papan nama yang tergantung di lehernya. Kau bisa baca kan? ‘Saya jelek.’ Kau tau siapa yang mengusulkan kata-kata itu?” Tanya Chanyeol. Jiyeon dan Myungsoo mengangkat bahu bersama-sama. “Tuh. Bestiemu yang satu itu.” Ujar Chanyeol sambil menunjuk Jungkook.
Jiyeon merasa kasihan pada Suzy. Ia tidak tega melihat sunbaenya dihukum. Jiyeon menghampiri Suzy dan memintanya untuk berhenti. “Sunbae berhenti!” teriak Jiyeon dari kerumunan siswa. Ia kemudian berjalan menembus kerumunan itu dan mendekati Suzy. “Saem, tolong hentikan ini.” Jiyeon memohon pada Jung saem. Agar menghentikan hukuman Suzy dan kawan-kawan.
“Jiyeon apa yang kau lakukan? Biarkan mereka menerima hukuman ini. Kau tidak lihat? Bibirmu berdarah kemarin dan sampai sekarang pun bibirmu masih luka.” Sambung Myungsoo sambil menunjuk bibir Jiyeon yang luka.
“Tapi ini hanya masalah kecil oppa.” Bentak Jiyeon. “Saem… jebal hentikan hukuman ini…” Jiyeon mulai merendahkan dirinya berlutut di depan saem agar ia mau menghentikan hukumannya pada Suzy. Jung saem yang tidak tega melihat Jiyeon berlutut seketika berteriak agar Suzy berhenti berlari lapangan. Suzy yang kelelahan pun akhirnya berhenti mengelilingi lapangan.
“Suzy, Hyorin. Kalian harus meminta maaf pada Jiyeon didepan semua siswi yang ada disini.” Ujar Jung saem. Jiyeon hanya diam. Suzy tampak sedang menahan amarahnya saat melihat Jiyeon. Tangannya mengepal.
“Suzy? Kau ingin memukul Jiyeon? Tidak cukup kau memukulnya dengan sepatu fantofle yang kemarin kau pakai hah?” Tanya Myungsoo saat melihat tangan Suzy yang mengepal sangat kuat. Perlahan tangan Suzy mulai melemas dan mengulurkan tangannya pada Jiyeon. Ia meminta maaf di depan semua siswi yang sedang menontonnya saat ini.
“Mianhae Park Jiyeon.” Ujar Suzy lirih.
“Ne. gwaenchanha eonni.” Jawab Jiyeon dengan polosnya.
∞∞∞
Jiyeon sedang duduk sendirian di pinggir lapangan sambil memperhatikan namja chingunya yang sedang bermain basket. Keringatnya bercucuran. Myungsoo menghentikan permainan dan duduk dengan kaki lurus ditengah-tengah lapangan. Jiyeon membawakan handuk dan sekaleng minuman untuk Myungsoo. “Untukmu sunbae.” Ujar Jiyeon sambil menyodorkan handuk dan minuman yang dibawanya.
“Bisakah kau bantu aku membersihkan keringatku?” ujar Myungsoo polos. Ia hanya menerima kaleng minuman yang Jiyeon bawa tapi tidak untuk handuknya. Dia ingin Jiyeon yang membersihkan keringatnya.
“Ish. Disini terlalu ramai. Malu dilihat teman-teman oppa.” Ujar Jiyeon malu-malu.
Myungsoo beranjak dari duduknya dan menarik tangan Jiyeon menuju taman sekolah yang sangat sepi. “Disini sepi. Jadi bersihkan keringatku sekarang ne.” ujar Myungsoo sambil memajukan wajahnya.
“Ishh…” Jiyeon mendengus kesal. Namun beberapa detik kemudian Jiyeon mulai membersihkan keringat Myungsoo dengan handuk tebal yang sedari tadi dibawanya. Jiyeon membersihkan keringat Myungsoo dengan penuh kasih sayang. Pelan dan sangat lembut. Jiyeon memperhatikan wajah tampan Myungsoo. Menatapnya tanpa berkedip. Semakin lama usapan Jiyeon semakin pelan dan wajahnya pun semakin dekat dengan wajah Myungsoo. Myungsoo dapat merasakan hembusan napas Jiyeon di wajahnya. Bibir Jiyeon akhirnya menempel sempurna tepat dibibir Myungsoo. Hanya menempel. Myungsoo membuka matanya dan melihat Jiyeon sedang menutup matanya.
Tak jauh dari tempat MyungYeon berada, seorang yeoja kini tengah berdiri dengan memegang ponselnya dan menghadapkannya ke arah MyungYeon. Ia tersenyum nakal melihat hasil fotonya.
Kembali ke MyungYeon. Jiyeon masih belum melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Myungsoo. Hingga tiba-tiba ponsel Myungsoo bergetar. Seketika Jiyeon menjauhkan wajahnya dan menunduk malu. “Waeyo Chagi?” Tanya Myungsoo saat melihat Jiyeon menundukkan kepalanya. Jiyeon mulai melangkah meninggalkan Myungsoo namun tangannya di tahan hingga ia terpaksa harus menghentikan langkahnya. “Eodiga? Kau belum selesai membersihkan keringatku.” Ujar Myungsoo.
“Bersihkan saja sendiri.” Jawab Jiyeon sambil menyerahkan handuk yang dipegangnya ke tangan Myungsoo. Jiyeon kemudian kembali menuju kelasnya.
“Dasar yeoja polos.” Gumam Myungsoo saat Jiyeon pergi.
∞∞∞
Jiyeon berjalan terburu-buru menuju kelasnya. “kenapa kelas sangat sepi? Kemana yang lain?” Gumam Jiyeon. Jiyeon kemudian pergi ke lapangan. Saat ia tiba di depan madding, ia melihat sekerumunan siswa. Tiba-tiba Suzy dan Hyorin datang menghampirinya. Hatinya mulai gelisah. “Kali ini kau akan benar-benar menjadi pusat perhatian semua siswa.” Bisik Hyorin tepat ditelinga Jiyeon.
“A-apa maksud eonni?” Tanya Jiyeon tidak mengerti. ‘permainan apa lagi ini?’ Tanya Jiyeon dalam hati. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya lagi. Ia kemudian memberanikan diri mendekati madding. Jiyeon membulatkan matanya saat melihat apa yang baru saja ia lihat. ‘itu aku di taman tadi.’ Gumam batin Jiyeon.
“Eh-eh itu namjanya…” ujar salah seorang siswa yang sukses membuat siswa lain menoleh ke arah Myungsoo yang sedang berjalan bersama Jungkook dan Chanyeol. Jiyeon mengikuti arah pandang siswi lain.
“Ya… kenapa semua orang menatapmu seperti itu?” Tanya Jungkook.
“Apakah jiyeon sedang dijaili lagi sama Suzy dan Hyorin?” Sambung Chanyeol.
Myungsoo tak sengaja melihat Jiyeon tepat didepan madding. Ia sedang menangis. Myungsoo menghampiri Jiyeon. “Ada apa? Kenapa kau menangis?” Tanya Myungsoo khawatir. Jiyeon menunduk dan menunjuk sebuah foto yang sedang terpajang di madding. Disana Myungsoo melihat adegan ciumannya dengan Jiyeon. Myungsoo kemudian membaca selembar kertas yang tertempel di bawah foto itu.
‘Chukkahae Kim Myungsoo dan Park Jiyeon. Semoga kalian bahagia. Mianhae. Suzy and Hyorin.’ Ia kemudian tersenyum ke arah Jiyeon. “Jadi kau menangis karena ini?” Tanya Myungsoo sambil menyodorkan selembar kertas yang barusan dibacanya. Jiyeon mengangguk pelan. “Kau mau lagi?” Tawar Myungsoo tanpa menghiraukan murid-murid di sekitanya.
“Ciieee…..!!!!” seru semua orang yang ada disana.
“Jha ke lapangan.” Ujar Myungsoo sambil merangkul Jiyeon.
“Eits. Tunggu dulu.” Hyorin menahan Myungsoo dan Jiyeon tak jauh dari madding.
“Boleh kami meminta pajak jadian kalian?” pinta Suzy sambil menadahkan tangannya. Hyorin kemudian tertawa pelan.
“Mianhae Park Jiyeon. Kami sudah merepotkanmu kemarin.” Ujar Hyorin.
“Gwaenchanha Eonni.” Jiyeon kemudian tersenyum.

-End-

[Nappeun Namja Pt. 1] What Are You Doing?


Cast     : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Lee Jinsol, Jung Yein
Genre   : NC, School life, other
Length   : Chapter
Author   : Ms. Childish

Sejak kapan dia menjadi sangat seksi? Haruskah aku berusaha memilikinya walaupun dia sudah dimiliki oleh orang lain? -Jeon Jungkook-

Taehyung Oppa! Saranghae! -Lee Jinsol-



School Of Performing Art (SOPA). Sebuah sekolah yang sangat terkenal dan berkualitas. Sekolah itu merupakan sekolah terbesar di Korea Selatan (anggap saja begitu). Dan terbukti beberapa siswa lulusan sekolah itu kini menjadi artis terkenal. Sekolah itu juga menyediakan asrama untuk para siswa. Setiap asrama terdiri dari 2 tempat tidur. Sedangkan semua siswa yang berasrama disana mencapai ratusan bahkan hampir seribu siswa. Sudah terbayang bagaimana besarnya asrama dan luasnya sekolah itu. Belum lagi kelas music, laboratorium, perpustakaan, kantin sekolah dan lain-lain. Seperti biasa pada malam minggu SOPA mengadakan event seperti untuk vocal, dance, rapp, dan masih banyak lagi yang lain. Hal itu bertujuan untuk melatih para siswa agar tidak gagal dalam ujian kelulusan. Tentang ketertiban di SOPA. Tidak ada larangan untuk berpacaran. Akan tetapi, sudah ada waktu dan batasan tersendiri untuk mereka.

Kelas akhir. Bagi sebagian orang kelas akhir adalah hal yang paling mendebarkan dan paling banyak menghabiskan waktu untuk belajar agar mendapatkan nilai yang maksimal. Namun berbeda dengan Jungkook. Dia tidak terlalu serius menghadapai kelas akhir. Seolah semuanya hanya candaan dan untuk hiburan. Namun saat melihat keadaannya saat ini, wajar saja jika dia menganggap kelas akhir ini sepele. Ujian seperti konser. Ujian dimana setiap siswa akan dinilai secara langsung penampilannya diatas panggung. Ujian yang bisa dibilang seperti ajang pencarian bakat. Ujian itu akan mereka hadapi bulan depan.

“Ya! Jeon Jungkook!” teriak Taehyung dari belakang. Jungkook yang sedari tadi asik dengan lagu favoritenya segera menoleh ke arah sumber suara. “Kau tidak katihan?” Tanya Taehyung. Taehyung adalah salah satu pelatih dance di SOPA bersama Suga dan Jimin.
“Aku sedang malas hyung. Kau tau sendiri. Aku tidak suka menghabiskan waktu untuk latihan. Lagi pula latihannya hanya itu-itu saja. Kau latihan sendiri saja. Aku masih banyak urusan.” Jungkook kembali memasang headset nya dan pergi meninggalkan Taehyung.
“Dasar anak kecil. Padahal dia sudah kelas akhir. Bagaimana jika dia tidak lulus ujian nanti? Apa dia tidak memikirkan itu? ckckck” Umpat Taehyung saat Jungkook sudah jauh meninggalkannya.

Jungkook terus berjalan sepanjang koridor sekolah. Ya, saat jam segini memang sekolah sangat sepi. Karena ini bukan jam sekolah. Langkah Jungkook tiba-tiba terhenti saat ia sampai di depan sebuah ruangan yang sangat luas. Pintu ruangan itu terbuka. Entah itu karena memang dibuka atau entahlah Jungkook tidak memikirkan itu. Yang ia perhatikan adalah seseorang yang sedang berada di dalam ruangan tersebut. -Jinsol-. Jungkook melihat gadis itu sedang latihan dance. ‘kenapa pacar V hyung bisa menjadi sangat cantik dan seksi saat ia berkeringat?’ gumam batin Jungkook. Gerakan Jinsol pun akhirnya terhenti. Ia beristirahat sejenak di sudut ruangan. Perlahan, Jungkook memasuki ruangan itu dan menutup pintu yang sedari tadi terbuka.
“Kau sudah datang Oppa?” Tanya Jinsol sambil terus mengelap keringatnya. Namun ia kaget saat yang disapanya bukanlah Taehyung. Melainkan Jungkook. “Eh? Sunbaenim? Ada apa kau kemari? Tidak biasanya kau ingin latihan dance. Biasanya kau selalu menghabiskan waktu untuk bernyanyi dan berpacaran. Apakah kau sudah berakhir dengan Tzuyu?” Tanya Jinsol.
“Tidak. Aku kesini ingin mengajakmu untuk dance bersamaku hari minggu nanti.” Ujar Jungkook sambil mendudukkan dirinya tepat disamping Jinsol.
“Eh? Tapi sunbaenim. Bukankah kau akan dance bersama Yeri?” Tanya Jinsol heran.
“Aku tidak ingin bersama Yeri. Dia terlalu kaku. Aku tidak suka jika haru mengajarkan gadis sepertinya.”
“Aah.. begitu. Baiklah kalau begitu. Aku akan mengatakannya pada V oppa agar dia bisa mengatur jadwal latihan kita nanti.” Ujar Jinsol.
“Bagaimana kalau sekarang saja? Supaya lebih cepat selesai koreografinya.”
“Umm… boleh juga sunbae.” Jawab Jinsol.
Beberapa saat kemudian, Taehyung datang ke ruang dance tempat Jinsol dan Jungkook saat ini. Taehyung mengerutkan alisnya heran. Ia melihat Jungkook dan Jinsol sudah latihan bersama. “Ya! Jeon Jungkook!” Taehyung mematikan music yang mengiringi gerakan Jinsol dan Jungkook. Seketika keduanya menoleh ke arah Taehyung. “Bukankah kau bilang tidak ingin latihan tadi?” Tanya Taehyung.
“Aku malas latihan. Tapi saat aku melihat gerakan Jinsol yang sangat bagus, aku jadi tertarik untuk latihan.” Jawab Jungkook.
“Oppa. Jungkook sunbaenim bilang dia ingin dance bersamaku. Apakah kau mengijinkanku?” Tanya Jinsol dengan wajah memohon.
“Baiklah aku mengijinkanmu. Tapi bagaimana dengan Yeri?”
“Aku sudah menyuruh Yeri mencari pasangan yang baru. Gerakannya begitu kaku. Aku tidak suka.” Jawab Jungkook.
“Ya sudah terserah kau saja.” Ujar V. ia pergi meninggalkan Jinsol dan Jungkook karena ia sudah tau koreografi yang Jungkook buat sudah pasti bagus.

Latihan pertama dan kedua Jungkook biasa saja menghadapi Jinsol. Begitu juga dengan latihan yang ketiga. Hingga latihan kelima. Jinsol dan Jungkook latihan berdua di ruangan yang sama seperti sebelumnya. Jinsol menggerakkan badannya sesuai dengan gerakan-geraan yang sudah direncakan. Tiba-tiba saja Jinsol kehilangan keseimbangannya saat berbalik menghadap Jungkook hingga ia terjatuh tepat diatas pria berbadan kekar itu. Jinsol memejamkan matanya kuat saat Jungkook mulai mendekatkan wajahnya. Seolah ia mengetahui apa yang akan Jungkook lakukan. ‘Oh shit! Kenapa harus sekarang?’ teriak batin Jungkook saat merasakan sesuatu yang aneh di balik celananya. Pria itu mencium bibir Jinsol dan menekan tengkuknya saat gadis di atasnya itu hendak menjauh. Jungkook melumat bibir gadis itu sambil menggesekkan bagian bawahnya dengan milik gadis itu. Jinsol yang merasakan hal itu segera mendorong pria itu kuat-kuat hingga ia terlepas dari ciuman panas yang baru saja mereka lakukan.
“Ma-maafkan aku sunbae.” Jinsol segera bangun dari atas Jungkook dan pergi meninggalkannya sendiri di ruangan yang dikelilingi oleh kaca itu.
Jungkook juga bangun dan duduk saat Jinsol pergi dan menutup pintu ruangan itu dengan kasar. “Arrgh! Sial! Sekarang aku harus menidurkannya sendiri.” Teriak Jungkook sambil mengacak rambutnya kasar. Jungkook memundurkan dirinya dan bersandar pada sebuah kaca yang menjadi dinding ruangan itu. Ia mengeluarkan juniornya yang sudah bangun dari dalam celananya. Jungkook mengocok juniornya sendiri sambil mendesahkan nama Jinsol. Hingga akhirnya cairan putih keluar dari saluran kencingnya. Jungkook mengambil sebuah tisu yang selalu ia bawa di kantong celananya untuk membersihkan cairan di juniornya.

Malam minggu sudah tiba. Seperti biasa, siswa kelas akhir akan mengikuti event mingguan yang diadakan oleh pihak sekolah serta asrama. Jungkook sedang berjalan menuju asrama Jinsol. Jungkook mengetuk pintu asrama yang ada di depannya dan beberapa saat kemudian pintu itu terbuka.
“S-sunbaenim? Ada apa?” Tanya seorang gadis yang membuka pintu asrama itu. -Yein-
“Apakah Jinsol ada di dalam?” Tanya Jungkook kembali.
“Jinsol baru saja pergi ke ruang latihan. Dia bilang, dia akan langsung pergi ke ruang make up untuk event nanti malam.” Jawab Yein.
“Oh baiklah kalau begitu. Terima kasih.” Jungkook segera pergi ke ruang latihan untuk menemui Jinsol. Saat ia tiba di ruang latihan, ia melihat Jinsol sedang duduk . Tak lama kemudian gadis itu beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu. Namun langkahya terhenti saat ia tiba di ambang pintu. “Kau sangat rajin. Semoga sukses untuk nanti.” Ujar Jungkook sambil mengangkat tangannya untuk menyemangati Jinsol.
“Ne. Kau juga. Semoga berhasil.” Jinsol juga mengangkat tangannya sambil tersenyum manis ke arah Jungkook. “Ya sudah kalau begitu. Aku akan bersiap dulu. Tiga puluh menit lagi kita sudah harus selesai.”
“Ne. Bagaimana kalau kita pergi bersama saja?” tawar Jungkook.
“Kedengarannya itu bagus. Baiklah. Ayo pergi bersama.”

30 Menit Kemudian

Jinsol dan Jungkook sudah selesai berias sejak tiga menit yang lalu. Sambil berias, Jungkook dan Jinsol latihan menyanyi.
“Jungkook Jinsol bersiaplah. Satu menit lagi giliran kalian.” Ujar seorang panitia. Jinsol dan Jungkook segera berjalan meninggalkan ruang make up itu. Jinsol menarik napas dalam-dalam dan pergi menaiki panggung yang biasa di gunakan untuk event.

Musik mulai berbunyi. Jungkook dan Jinsol juga mulai menggerakkan tubuhnya seperti gerakan-gerakan mereka saat latihan. Taehyung memperhatikan Jinsol dari salah satu bangku penonton yang berada di barisan paling depan.
Saat lagu sudah hampir selesai dan saat Jinsol berputar mengelilingi Jungkook tangannya tak sengaja menyentuh kejantanan Jungkook. Namun Jinsol tidak menyadarinya. Jungkook terus menggerakkan badannya seolah ia tidak merasakan apa-apa sampai akhirnya music pun terhenti.

“Kerja yang bagus Jinsol.” Ujar Yein saat Jinsol sudah sampai di ruang make up.
“Penampilanku memang selalu bagus. Kau baru menyadarinya?” Tanya Jinsol sambil tertawa kecil.
“Ya sudah. Aku mau ganti baju. Aku ngantuk. Kau cepatlah kembali ke asrama.” Ujar Yein.
“Ne. Arasseo. Tapi sepertinya aku akan menemui V oppa dulu sebelum kembali ke asrama.”
“Ish… kamu ini. ya sudahlah. Jangan sampai melebihi jam 12. Nilaimu akan dikurangi.”
“Iya iya aku mengerti Yein-ku sayang.” Jinsol mencubit pipi Yein gemas. Akhirnya Yein pun pergi meninggalkan Jinsol.

Event sudah selesai. Jinsol pun berpamitan pada V untuk pergi. Karena dirinya masih belum mengganti pakaiannya. “Oppa, aku pergi dulu. Jangan lupa tidur ne.” Pamit Jinsol sambil memberikan sebuah ciuman di bibir V. Hal yang sudah biasa namun selalu manis untuk V.
Ruang ganti sudah sangat sepi. Namun di luar masih banyak siswa yang lewat. Hanya ada Jinsol sendiri di dalam sana. Saat Jinsol sedang mengganti pakaiannya, Jungkook masuk ke ruangan yang dipenuhi kaca dan lampu itu. Jungkook mengunci pintu. Beberapa saat kemudian, Jinsol keluar dari ruang ganti dengan dress mini yang ia kenakan sebelum tampil di panggung. Jungkook berjalan mendekati Jinsol dan menyudutkannya diantara dinding yang bisa dibilang dingin.
“Akh!” Jinsol memekik saat merasakan dirinya menghantam dinding. “Su-sunbae. Apa yang kau lakukan?” Tanya Jinsol heran saat menyadari orang yang menyudutkannya adalah Jungkook.
“Kau sudah dua kali membuat adik kecilku bangun Jinsol. Dan sekarang, kau harus membuatnya tidur kembali.” Bisik Jungkook tepat di telinga Jinsol. Jungkook mulai menjilat telinga gadis itu. Beberapa saat kemudian Jungkook beralih mencium bibir mungil Jinsol. Jinsol meronta, meminta Jungkook agar menghentikan kegiatannya.
“S-sunbae… hentikan…” pinta Jinsol. Namun Jungkook tidak menghiraukannya. Jungkook malah mencium gadis itu lagi dan memperdalam ciumannya.
“Aku tidak bisa berlama-lama disini Jinsol-a.” Bisik Jungkook lagi. Ia kemudian mendudukkan Jinsol di lantai yang sangat dingin. Jungkook kembali mencium bibir gadis itu penuh nafsu. Tangannya menaikkan rok dan meminggirkan celana dalam Jinsol. Ia kemudian melepaskan ciumannya lagi dan menurunkan celana serta dalamannya. Hingga nampaklah juniornya yang sudah tegang. Jinsol memejamkan matanya kuat-kuat. Ia tidak memiliki keberanian untuk melihat apa yang akan terjadi. “Aku akan memulainya.” Ujar Jungkook sambil menarik Jinsol ke dalam pelukannya. Perlahan Jungkook memasukkan juniornya ke kewanitaan Jinsol.
“Aaakh!” Jinsol berteriak saat kepala junior Jungkook mulai memasuki dirinya. Ia meremas bahu pria itu kuat-kuat.
“Jangan berteriak. Kalau ada yang mendengar teriakanmu, kita akan dikeluarkan dari sekolah. Kau tidak ingin itu terjadi bukan?” Bisik Jungkook. Ia kemudian melanjutkan aksinya. Jungkook memasukkan juniornya semakin dalam. Namun Jinsol kembali berteriak. Hingga akhirnya Jungkook menghentakkan juniornya hingga menancap sempurna di miss v Jinsol.
“Aaahhh!!” Jinsol kembali berteriak saat junior Jungkook sudah masuk ke dalam dirinya. Ia merasakan sesuatu mengalir dari miss v nya. Masih gadis. Itu lah yang ada di pikiran Jungkook saat Jungkook juga merasakan darah yang mengalir keluar dari miss v Jinsol. Jungkook mulai menggerakkan pinggangnya hingga membuat Jinsol berteriak beberapa kali. namun teriakan itu perlahan berubah menjadi desahan yang membuat hasratnya untuk menyentuh gadis itu semakin naik. “Ahhh… su-sunbaeehh…” desah Jinsol sambil menikmati setiap perlakuan Jungkook.
“Desahkanhh namaku Jinsol.” Bisik Jungkook.
“J-ju Junghh kook… ahh… lebih cepathh mhh…” pinta Jinsol terbata-bata. Ia tidak bisa menahan desahannya. Jungkook pun mengiyakan permintaan Jinsol dan mempercepat genjotannya. Desahan demi desahan keluar dari mulut Jinsol. Hingga akhirnya Jinsol merasakan sesuatu ingin keluar dari dalam dirinya. “Ju Jung… Kook… mmhh… akuu ahhh… ada yang mau keluarr…” Suara Jinsol mulai bergetar.
“Aku juga Jinsol. Mmhh…” Jungkook mempercepat genjotannya. Ia merasakan juniornya semakin membesar dan berurat.
“Akuuh tidak tahan jungkook ahh.” Suaranya Jinsol semakin bergetar. Ia tidak bisa menahan sesuatu yang ingin keluar dari dalam dirinya. Cairan Jinsol mulai keluar.
“Bersamaa hh…” desah Jungkook. Jungkook akhirnya menyusul Jinsol. Ia mengeluarkan cairannya di dalam miss v Jinsol.
“Aaahhh…” desahan panjang mengakhiri kegiatan mereka saat itu. Jungkook menarik keluar juniornya dari kewanitaan Jinsol.
“Rapihkan penampilanmu. Jangan sampai ada yang mengetahui kejadian ini. dan hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu.” Ujar Jungkook sambil memasukkan kembali Juniornya ke dalam celananya. Ia akhirnya pergi meninggalkan Jinsol di ruangan itu.


TBC